Judul Cerpen Sahabat Terbaikku Pergi
“Barr kata pak Joni senin lusa kita ujian kenaikan kelas ya?” tanya Hendri.
Ternyata memang benar setelah aku tanya ketua osis untuk nanti sepulang sekolah akan diadakan rapat. “Bener hen, jadwalnya juga akan ditempel hari sabtu nanti. Beritahu sahabat sahabat kita yang lain untuk segera melunasi uang pembayaran supaya dapat kartu ujian.” tanggapku.
Ujian kenaikan kelas pun akan segera dimulai aku dan teman teman yang kala itu duduk di bangku kelas 8 SMP akan segera naik tingkat ke kelas 9. Ujian demi ujian, soal demi soal akan kami kerjakan dengan teliti yahh walaupun ada yang menyontek.
Sebelumnya perkenalkan dulu saya Albar dan tiga sahabat saya Hendri, Ahmad dan Hasnah Oktyananda. Pelajaran pengembangan diri atau ekstrakulikuler sudah selesai, aku diberitahu temanku yang sesama pengurus osis untuk rapat bersama pengurus osis lainnya dan ketua osis serta beberapa guru lainnya.
“Eh bar, barusan saya dari kantin ketemu si fauzan ketua osis kita untuk nanti setelah pulang sekolah akan diadakan rapat. Tolong segera beritahu pengurus osis lainnya.” ujar Siska. “baik setelah selesai main futsal ini aku beritahu yang lain.” ujarku yang sembari istirahat meregangkan otot. “thanks ya, kamu nambah ganteng aja main futsal gitu.” canda siska. “dasar cewek ngeliat yang ganteng dikit digombalin!” ledekku kembali.
Akhirnya kami semua pun rapat tentang pembahasan ujian dan selesai jam 3 sore, aku pun pulang.
Tiba saatnya Ujian, hari demi hari, soal demi soal sudah kami kerjakan. Tiba saatnya menunggu pembagian rapor. biasanya dibagikan hari sabtu depan setelah ujian hari terakhir selesai.
“Hen, Mad, Albar kita kan udah selesai ujian, demi menunggu rapor dibagikan selama seminggu ini kita enaknya ngapain ya?” tanya hasnah salah satu sahabatku. yang bisa dibilang pacar juga. “Mending kita adain lomba futsal aja” celetuk hendri. “kurang seru, voli dong biar rame” tambah ahmad. “oh ya kamu orang berdua kan osis coba adain lomba apa gitu yang bisa bikin semangat, seru dan menarik” ujar hendri didukung ahmad. “Kalo aku sih setuju kalo diadain lomba futsal, voli, kebersihan dan kerapian kelas dan catur. Gimana menurut kamu nah?” tanyaku. “aku setuju tuh..! nanti kita rembukin ke pengurus osis yang lain beserta ketua dan pihak guru.” tambah hasnah. “oke oke si cantik ini emang pinter.” seru ahmad.
Akhirnya kami semua beserta dewan guru sepakat untuk mengadakan lomba itu dan hadiah akan dibagikan hari jumat sebelum bagi rapor. Seperti dugaanku dan hasnah, acara class meeting cukup berjalan meriah dan seru. Banyak murid murid yang mengikuti lombanya. Pemenang demi pemenang sudah ditentukan saatnya pembagian hadiah.
Tapi tak kulihat 2 sahabatku Hendri dan Ahmad, aku tanya teman temannya tak ada yang tau sama sekali.
Akhirnya aku bertemu Rian, “Rian.. riann.. kamu tau hendri sama ahmad?” tanyaku tergesa gesa. “tadi sih aku lihat mereka di kantin ujung lagi ngerencanain sesuatu gitu entah apa.” ujar rian. “oke thanks ya.” ujarku.
Aku langsung mencari mereka dan ternyata benar mereka berada di kantin ujung sekolah sedang merencanakan sesuatu. “Ahmad.. Hendri.. ngapain kalian disini? apa gak mau ikut kumpul ngeliat pembagian hadiah lomba?” tanyaku pada mereka berdua. “Enggak lah barr, lagi gak semangat aku sama Ahmad. gerah, capek badan rasanya.” ujar Hendri. “Gimana kalo kita renang aja di danau deket rumah kita itu?” ajak Ahmad. Padahal danau itu angker aku langsung menolaknya, “enggak lah gila aja kamu, itu danau angker ntar terjadi apa apa lagi sama kita.” jawabku “ayolah barr masa penakut gitu, nembak hasnah di depan umum aja berani masa berenang disitu gak berani.” ejek Hendri. “Sialan itu mah beda cerita, enggak lah gak mau saya. lagian nanti pulang sekolah saya ada perlu mau ke samsat.” jawabku. “jadi kamu gak mau ikut nih? ya udah saya sama hendri aja yang kesana.” jawab Ahmad. “oke hati hati.” ujarku.
Aku pun pergi ke samsat untuk mengambil sim milik teman ayah, maklum ayahku kan biro jasa jadi selagi beliau sibuk dengan pekerjaannya aku yang menggantikan beliau.
Setelah pulang dari samsat pukul 6 sore aku pun mandi dan nonton tv, tiba tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Aku kaget setelah aku buka, “malem barr, ibu mau nanya kamu ngeliat Ahmad sama Hendri enggak? dari pulang sekolah tadi ibu gak ngeliat lagi. Ibu tanya Hasnah dia gak tau.” tanya ibunya ahmad. “loh bu masa iya mereka berdua belum pulang, udah sesore ini pula. tadi sih di sekolah mereka sempet ngajak saya untuk maen ke danau yang deket rumah itu tapi saya gak mau.” jawabku. “apa mungkin mereka masih disana ya barr? coba ibu suruh bapaknya untuk nyari kesana.” ujar ibu ahmad. “iya bu coba dicari disana.” jawabku.
Setelah itu kepalaku sakit sekali, pusing bukan main. Tiba tiba aku dengar orang di depan rumah rame sedang berbincang bincang, “ada apa mbak kok rame banget?” tanyaku salah satu orang. “ini barr si Ahmad sama Hendri meninggal di danau, badannya terbujur kaku.” ujar mbak tadi.
Badanku pun langsung lemas, baru tadi siang di sekolah aku bilang untuk jangan kesana karena disana itu angker. Andai mereka mendengarkan perkataanku mungkin gak akan jadi seperti ini.
Esoknya hari sabtu tepat pembagian rapor. Pas berangkat sekolah aku lihat siska menangis mungkin karena dia sudah tau beritanya, karena yang aku tau dia suka sama si Hendri. Bel masuk sekolah berbunyi kami semua dikumpulkan di aula sekolah. “Anak anak kita turut berduka cita atas meninggalnya teman kita…” ujar salah satu guru menggunakan mic. Belum sempat mendengarkan semua ucapan dari guru air mata ini menetes, “Tak terasa air mata ini menetes, rasanya baru kemarin aku tertawa bercanda ria bersama mereka tapi sekarang mereka sudah pergi. Rasanya baru kemarin aku bermain futsal dan voli dengan mereka. Andai waktu bisa berputar.” ucapku dalam hati.
Kami semua dibubarkan dan kembali ke dalam kelas untuk pembagian rapor. Setelah semua kelas 8 selesai dibagikan rapornya mereka semua pergi ke rumah Ahmad dan Hendri untuk berkabung dan berduka cita. Aku sempat membuka kain kafan Hendri sahabat terbaikku karena memang gak ada yang berani membukanya. Benar saja darah dan busa keluar dari dalam hidung dan mulutnya, aku lihat di sampingku ada siska yang menangis, “Hendri bangun… bangun.. bangun Hendri..!!!” semua suasana tangis dan haru yang ada di ruangan itu. Aku pun bersama Hasnah ikut meneteskan air mata terutama saat aku buka kain penutup wajahnya itu. Sesekali aku peluk Hasnah untuk meredakan tangisnya karena kehilangan sahabat kami.
Sampai di acara pemakaman, yang tersisa hanya Aku, Hasnah dan teman teman sekelas Hendri dan Ahmad dan keluarga mereka yang menghadiri acara pemakaman itu.
Sampai di acara penguburan jasad sahabat kami Hasnah pun semakin menangis sesekali aku peluk dan bilang, “jangan nangis terus, semua sudah terjadi. kita ikhlasin aja semoga amal ibadah sahabat kita diterima Allah dan Ruhnya ditempatkan di sisi Allah SWT.”
Tamat.
Cerpen Karangan: Anggi Setiawan
Facebook: Anggi Setiawan
“Barr kata pak Joni senin lusa kita ujian kenaikan kelas ya?” tanya Hendri.
Ternyata memang benar setelah aku tanya ketua osis untuk nanti sepulang sekolah akan diadakan rapat. “Bener hen, jadwalnya juga akan ditempel hari sabtu nanti. Beritahu sahabat sahabat kita yang lain untuk segera melunasi uang pembayaran supaya dapat kartu ujian.” tanggapku.
Ujian kenaikan kelas pun akan segera dimulai aku dan teman teman yang kala itu duduk di bangku kelas 8 SMP akan segera naik tingkat ke kelas 9. Ujian demi ujian, soal demi soal akan kami kerjakan dengan teliti yahh walaupun ada yang menyontek.
Sebelumnya perkenalkan dulu saya Albar dan tiga sahabat saya Hendri, Ahmad dan Hasnah Oktyananda. Pelajaran pengembangan diri atau ekstrakulikuler sudah selesai, aku diberitahu temanku yang sesama pengurus osis untuk rapat bersama pengurus osis lainnya dan ketua osis serta beberapa guru lainnya.
“Eh bar, barusan saya dari kantin ketemu si fauzan ketua osis kita untuk nanti setelah pulang sekolah akan diadakan rapat. Tolong segera beritahu pengurus osis lainnya.” ujar Siska. “baik setelah selesai main futsal ini aku beritahu yang lain.” ujarku yang sembari istirahat meregangkan otot. “thanks ya, kamu nambah ganteng aja main futsal gitu.” canda siska. “dasar cewek ngeliat yang ganteng dikit digombalin!” ledekku kembali.
Akhirnya kami semua pun rapat tentang pembahasan ujian dan selesai jam 3 sore, aku pun pulang.
Tiba saatnya Ujian, hari demi hari, soal demi soal sudah kami kerjakan. Tiba saatnya menunggu pembagian rapor. biasanya dibagikan hari sabtu depan setelah ujian hari terakhir selesai.
“Hen, Mad, Albar kita kan udah selesai ujian, demi menunggu rapor dibagikan selama seminggu ini kita enaknya ngapain ya?” tanya hasnah salah satu sahabatku. yang bisa dibilang pacar juga. “Mending kita adain lomba futsal aja” celetuk hendri. “kurang seru, voli dong biar rame” tambah ahmad. “oh ya kamu orang berdua kan osis coba adain lomba apa gitu yang bisa bikin semangat, seru dan menarik” ujar hendri didukung ahmad. “Kalo aku sih setuju kalo diadain lomba futsal, voli, kebersihan dan kerapian kelas dan catur. Gimana menurut kamu nah?” tanyaku. “aku setuju tuh..! nanti kita rembukin ke pengurus osis yang lain beserta ketua dan pihak guru.” tambah hasnah. “oke oke si cantik ini emang pinter.” seru ahmad.
Akhirnya kami semua beserta dewan guru sepakat untuk mengadakan lomba itu dan hadiah akan dibagikan hari jumat sebelum bagi rapor. Seperti dugaanku dan hasnah, acara class meeting cukup berjalan meriah dan seru. Banyak murid murid yang mengikuti lombanya. Pemenang demi pemenang sudah ditentukan saatnya pembagian hadiah.
Tapi tak kulihat 2 sahabatku Hendri dan Ahmad, aku tanya teman temannya tak ada yang tau sama sekali.
Akhirnya aku bertemu Rian, “Rian.. riann.. kamu tau hendri sama ahmad?” tanyaku tergesa gesa. “tadi sih aku lihat mereka di kantin ujung lagi ngerencanain sesuatu gitu entah apa.” ujar rian. “oke thanks ya.” ujarku.
Aku langsung mencari mereka dan ternyata benar mereka berada di kantin ujung sekolah sedang merencanakan sesuatu. “Ahmad.. Hendri.. ngapain kalian disini? apa gak mau ikut kumpul ngeliat pembagian hadiah lomba?” tanyaku pada mereka berdua. “Enggak lah barr, lagi gak semangat aku sama Ahmad. gerah, capek badan rasanya.” ujar Hendri. “Gimana kalo kita renang aja di danau deket rumah kita itu?” ajak Ahmad. Padahal danau itu angker aku langsung menolaknya, “enggak lah gila aja kamu, itu danau angker ntar terjadi apa apa lagi sama kita.” jawabku “ayolah barr masa penakut gitu, nembak hasnah di depan umum aja berani masa berenang disitu gak berani.” ejek Hendri. “Sialan itu mah beda cerita, enggak lah gak mau saya. lagian nanti pulang sekolah saya ada perlu mau ke samsat.” jawabku. “jadi kamu gak mau ikut nih? ya udah saya sama hendri aja yang kesana.” jawab Ahmad. “oke hati hati.” ujarku.
Aku pun pergi ke samsat untuk mengambil sim milik teman ayah, maklum ayahku kan biro jasa jadi selagi beliau sibuk dengan pekerjaannya aku yang menggantikan beliau.
Setelah pulang dari samsat pukul 6 sore aku pun mandi dan nonton tv, tiba tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Aku kaget setelah aku buka, “malem barr, ibu mau nanya kamu ngeliat Ahmad sama Hendri enggak? dari pulang sekolah tadi ibu gak ngeliat lagi. Ibu tanya Hasnah dia gak tau.” tanya ibunya ahmad. “loh bu masa iya mereka berdua belum pulang, udah sesore ini pula. tadi sih di sekolah mereka sempet ngajak saya untuk maen ke danau yang deket rumah itu tapi saya gak mau.” jawabku. “apa mungkin mereka masih disana ya barr? coba ibu suruh bapaknya untuk nyari kesana.” ujar ibu ahmad. “iya bu coba dicari disana.” jawabku.
Setelah itu kepalaku sakit sekali, pusing bukan main. Tiba tiba aku dengar orang di depan rumah rame sedang berbincang bincang, “ada apa mbak kok rame banget?” tanyaku salah satu orang. “ini barr si Ahmad sama Hendri meninggal di danau, badannya terbujur kaku.” ujar mbak tadi.
Badanku pun langsung lemas, baru tadi siang di sekolah aku bilang untuk jangan kesana karena disana itu angker. Andai mereka mendengarkan perkataanku mungkin gak akan jadi seperti ini.
Esoknya hari sabtu tepat pembagian rapor. Pas berangkat sekolah aku lihat siska menangis mungkin karena dia sudah tau beritanya, karena yang aku tau dia suka sama si Hendri. Bel masuk sekolah berbunyi kami semua dikumpulkan di aula sekolah. “Anak anak kita turut berduka cita atas meninggalnya teman kita…” ujar salah satu guru menggunakan mic. Belum sempat mendengarkan semua ucapan dari guru air mata ini menetes, “Tak terasa air mata ini menetes, rasanya baru kemarin aku tertawa bercanda ria bersama mereka tapi sekarang mereka sudah pergi. Rasanya baru kemarin aku bermain futsal dan voli dengan mereka. Andai waktu bisa berputar.” ucapku dalam hati.
Kami semua dibubarkan dan kembali ke dalam kelas untuk pembagian rapor. Setelah semua kelas 8 selesai dibagikan rapornya mereka semua pergi ke rumah Ahmad dan Hendri untuk berkabung dan berduka cita. Aku sempat membuka kain kafan Hendri sahabat terbaikku karena memang gak ada yang berani membukanya. Benar saja darah dan busa keluar dari dalam hidung dan mulutnya, aku lihat di sampingku ada siska yang menangis, “Hendri bangun… bangun.. bangun Hendri..!!!” semua suasana tangis dan haru yang ada di ruangan itu. Aku pun bersama Hasnah ikut meneteskan air mata terutama saat aku buka kain penutup wajahnya itu. Sesekali aku peluk Hasnah untuk meredakan tangisnya karena kehilangan sahabat kami.
Sampai di acara pemakaman, yang tersisa hanya Aku, Hasnah dan teman teman sekelas Hendri dan Ahmad dan keluarga mereka yang menghadiri acara pemakaman itu.
Sampai di acara penguburan jasad sahabat kami Hasnah pun semakin menangis sesekali aku peluk dan bilang, “jangan nangis terus, semua sudah terjadi. kita ikhlasin aja semoga amal ibadah sahabat kita diterima Allah dan Ruhnya ditempatkan di sisi Allah SWT.”
Tamat.
Cerpen Karangan: Anggi Setiawan
Facebook: Anggi Setiawan
Sahabat Terbaikku Pergi
4/
5
Oleh
Unknown
