Judul Cerpen Ulang Tahun Teristimewa
Dzztt.. Dzztt.. Kuangkat Hp yang berdering itu, tertera sebuah nama di layarnya. Nama yang sangat tak asing.
“Halo.. Oh begitu? Ya udah, terserah kamu. Aku mah ngikut aja. Iya.” ucapku pada seseorang di telepon itu yang bernama Melvi. Ia memberitahu mengenai tempat dan waktu pertemuan kami esok hari. Kembali kutaruh Hp itu di atas meja belajar. Kakiku kini melangkah ke luar, berniat menyalakan televisi untuk menonton film kesukaanku.
Ruangan begitu sepi. Kulihat pintu kamar itu telah tertutup, berarti ayah dan ibu telah tertidur. Sebelum kubiarkan tanganku ini menyentuh tombol untuk menyalakan televisi, tiba-tiba saja aku ingin pergi ke kamar mandi. Langkah ini terhenti, tepat sebelum berada di depan kamar mandi. Kufokuskan pandanganku pada sesuatu di atas meja itu, aku tidak salah melihat, sebuah kue. Kakiku kini bergerak mendekati kue itu. Aku hanya menduga, pasti kue itu untukku, sebab besok adalah hari ulang tahunku. Aku tahu, kue itu bukanlah kue ulang tahun yang dibeli dengan harga begitu mahal. Tetapi kue itu adalah kue biasa yang dibuat asli oleh kedua tangan ibuku yang jauh lebih terpercaya dari segala macam seginya. Aku tersenyum, kembali kutinggalkan kue itu seorang diri, sebab aku tak ingin merusaknya.
Tut tut.. Tut tut.. Tut tut.. Begitulah bunyi suara alarm yang tengah asyik membangunkanku pagi ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi, tetapi mataku masih sulit dibuka. Kuambil alarm itu, mencari tombol off di sekitarnya. Tiba-tiba, terdengar suara ibuku sedang membangunkan kakakku. Kupasang telinga ini baik-baik, mencoba mendengarkannya.
“Chan! Chandra bangun! Adikmu hari ini ulang tahun”. Mungkin ibu mengira aku tak mendengar, sebab lampu kamarku yang masih redup, adalah pertanda bahwa aku belum bangun. Jika biasanya aku yang paling sibuk mempersiapkan kejutan untuk siapapun orang yang berulang tahun di rumah ini, kini kubiarkan mereka mempersiapkannya untukku. Aku tak ingin ke luar kamar, dan menghancurkan semua usaha mereka untuk membuat kejutan itu. Hingga akhirnya, terdengar suara ibu membangunkanku. Dengan muka yang kubuat-buat begitu mirip seperti orang baru bangun tidur, aku membuka pintu kamar. Dan.. Surprise!!! Lagu Happy Birthday itu mengalun dari mulut ibu, ayah, dan kakakku. Kedua tangan ibu terlihat memegangi kue itu, yang telah begitu cantik dengan berbagai hiasan dan lilin yang tertancap di atasnya. Aku tersenyum. Meski sederhana, setidaknya mereka masih ingat hari ulang tahunku.
Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Puspita Elfa
Dzztt.. Dzztt.. Kuangkat Hp yang berdering itu, tertera sebuah nama di layarnya. Nama yang sangat tak asing.
“Halo.. Oh begitu? Ya udah, terserah kamu. Aku mah ngikut aja. Iya.” ucapku pada seseorang di telepon itu yang bernama Melvi. Ia memberitahu mengenai tempat dan waktu pertemuan kami esok hari. Kembali kutaruh Hp itu di atas meja belajar. Kakiku kini melangkah ke luar, berniat menyalakan televisi untuk menonton film kesukaanku.
Ruangan begitu sepi. Kulihat pintu kamar itu telah tertutup, berarti ayah dan ibu telah tertidur. Sebelum kubiarkan tanganku ini menyentuh tombol untuk menyalakan televisi, tiba-tiba saja aku ingin pergi ke kamar mandi. Langkah ini terhenti, tepat sebelum berada di depan kamar mandi. Kufokuskan pandanganku pada sesuatu di atas meja itu, aku tidak salah melihat, sebuah kue. Kakiku kini bergerak mendekati kue itu. Aku hanya menduga, pasti kue itu untukku, sebab besok adalah hari ulang tahunku. Aku tahu, kue itu bukanlah kue ulang tahun yang dibeli dengan harga begitu mahal. Tetapi kue itu adalah kue biasa yang dibuat asli oleh kedua tangan ibuku yang jauh lebih terpercaya dari segala macam seginya. Aku tersenyum, kembali kutinggalkan kue itu seorang diri, sebab aku tak ingin merusaknya.
Tut tut.. Tut tut.. Tut tut.. Begitulah bunyi suara alarm yang tengah asyik membangunkanku pagi ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi, tetapi mataku masih sulit dibuka. Kuambil alarm itu, mencari tombol off di sekitarnya. Tiba-tiba, terdengar suara ibuku sedang membangunkan kakakku. Kupasang telinga ini baik-baik, mencoba mendengarkannya.
“Chan! Chandra bangun! Adikmu hari ini ulang tahun”. Mungkin ibu mengira aku tak mendengar, sebab lampu kamarku yang masih redup, adalah pertanda bahwa aku belum bangun. Jika biasanya aku yang paling sibuk mempersiapkan kejutan untuk siapapun orang yang berulang tahun di rumah ini, kini kubiarkan mereka mempersiapkannya untukku. Aku tak ingin ke luar kamar, dan menghancurkan semua usaha mereka untuk membuat kejutan itu. Hingga akhirnya, terdengar suara ibu membangunkanku. Dengan muka yang kubuat-buat begitu mirip seperti orang baru bangun tidur, aku membuka pintu kamar. Dan.. Surprise!!! Lagu Happy Birthday itu mengalun dari mulut ibu, ayah, dan kakakku. Kedua tangan ibu terlihat memegangi kue itu, yang telah begitu cantik dengan berbagai hiasan dan lilin yang tertancap di atasnya. Aku tersenyum. Meski sederhana, setidaknya mereka masih ingat hari ulang tahunku.
Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Puspita Elfa
Ulang Tahun Teristimewa
4/
5
Oleh
Unknown
