Judul Cerpen About Seventeens
Cuaca hari ini sangat mendukung kegiatan Fian untuk menjelajah hobinya. Saat ini ia telah sampai puncak bukit, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia memang sering menghabiskan waktu liburannya untuk memotret atau sekedar refreshing. Ia terkenal anak yang pendiam dan penyendiri.
“Hmm… Indah banget pemandangannya, sampai-sampai memori cameraku tidak cukup.” Canda Fian.
Saat Fian tengah asyik memotret, ia melihat seorang gadis yang tengah duduk melamun. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu, yang jelas itu membuat otak Fian penuh pertanyaan. Fian ingin menghampiri gadis itu, namun ia tak memiliki cukup nyali untuk sekedar menyapa. Gadis itu duduk membelakangi Fian, sehingga Fian tidak mengetahui siapakah gadis tersebut.
Hari Senin, siapa yang tidak tahu hari itu? Semua pasti tahu, hari dimana semua dimulai kembali setelah liburan sehari. Hari ini adalah hari yang menyebalkan bagi Ochi, karena dia menerima beberapa kesialan tadi pagi. Pertama dia bangun kesiangan, kedua ia harus jalan kaki karena ayahnya bertengkar dengan bundanya, ketiga ia terlambat masuk gerbang alhasil ia dihukum mengelilingi lapangan 10 kali, keempat ia lupa mengerjakan PR. Hal yang sungguh menyedihkan baginya.
Bel istirahat telah berbunyi, hampir 90 persen siswa keluar meninggalkan kelas. Tapi bagi Ochi itu hanya membuang waktu saja. Baginya waktu istirahat yang hanya 15 menit, itu hanya cukup untuk memesan makanan saja.
Ochi lebih senang berada di kelas, sebenarnya dia anak yang ceria hanya saja setelah orangtuanya sering bertengkar ia lebih sering menyendiri dan melamun. Nida, Ifa, dan Ovit lah sahabat Ochi, yang selalu menemani Ochi saat sedih maupun senang. Nida seorang pemain basket dan aktif di kegiatan pramuka, Ifa seorang kutu buku yang pandai menyanyi, dan Ovit seorang lelaki yang pandai menulis cerpen.
“Ovittt!!!” panggil Fian.
“Iya? Ada apa An?” Tanya Ovit.
“Nanti temenin aku ke toko komik ya? Soalnya ada komik terbaru yang lagi booming Vit.”
“Oh… Ok aku nanti juga mau kesitu, tapi aku ajak Ochi sekalian ya.”
“Ochi??? Oh… temen sekelas kita yang penuh misteri itu ya?”
“Penuh misteri? Enggak tuh, ada-ada aja kamu.”
“Iya dia penuh misteri dulu dia ceria dan periang banget, sekarang dia agak beda gitu. Mungkin aku yang gak pernah merhatiin dia aja jadinya aku gak tau yang sebenarnya. Hahaha…”
“Hahaha.. iya kamu kan jarang merhatiin cewek hahaha… becanda, ok nanti sepulang sekolah.”
“Ok”
Sepulang sekolah, Ovit dan Fian becanda gurau sedangkan Ochi, dia hanya tersenyum melihat tingkah konyol temannya. Akhirnya mereka sampai juga. Ovit menuju lantai 2 karena buku yang ia cari berada disana. Sedangkan Ochi dan Fian, mereka di lantai 1 untuk mencari komik yang lagi booming. Setelah menemukan komiknya mereka langsung menuju kasir dan menunggu Ovit di luar toko.
Fian ingin memulai pembicaraan namun ia malu karena ia jarang berbicara dengan Ochi. Sampai akhirnya Ochi memulai pembicaraan, karena bagi Ochi berdiam selama berjam-jam itu tidak ada bedanya dengan yoga.
Ochi melontarkan pertanyaan yang ringan dan tidak membutuhkan pemikiran yang keras. Dan jawabannya pasti juga cuma “Ya” atau “Tidak”.
Setelah 30 menit kemudian, Ovit ke luar dari toko dan mengajak mereka berdua untuk pulang.
Ochi tiba di rumah disambut dengan pertengkaran kedua orangtuanya. Itu membuat Ochi kesal dan bosen. Ia menuju kamar dan menutup kamarnya dengan keras.
Ovit menelepon Ochi secara tiba-tiba, Ovit memang sering menelepon Ochi saat ia ada masalah. Ochi juga bingung kenapa Ovit mengetahui itu, mungkin oleh Allah lah yang memberi tahunya. Ovit mengakhiri pembicaraan sampai pukul 11 malam.
Ochi memang sudah menganggap Ovit seperti kakaknya, karena kakaknya Ochi telah tiada setelah merasa kecewa dengan kelakuan orangtuanya. Namanya Ocha, ia bunuh diri dengan mengendarai sepeda kecepatan 80km/jam di jalan yang strategis. Dan itu membuat Ochi tambah kecewa kepada ayah dan bundanya. Mereka tidak pernah bisa berdamai, hanya sesaat perdamaian, tetapi sesaat kemudian pertengkaran berjam-jam, berhari-hari, dan berbulan-bulan.
Ifa bukan saja gadis yang cantik tapi juga cantik suaranya. Dan itu membuat Fian jatuh cinta. Ifa dan Fian memang sudah dekat sejak pertama kali masuk SMA. Hanya saja Fian tidak begitu berani mengungkapkan itu semua.
Pagi ini Fian dan Ifa duduk dan bercanda di kantin sekolah. Tetapi sesaat kemudian Ovit dan Nida tiba di kantin dan langsung duduk di depan mereka berdua.
Mereka bercanda bersama-sama, namun bagi Ovit ada sesuatu yang membuat dia terkekang dalam bercanda bersama. Iya… dia ingat, Ochi belum datang. Dan Ovit belum bisa tertawa lepas jika Ochi belum muncul. Sebenarnya Ovit sangat mencintai Ochi lebih dari sekedar sahabat, namun dia belum siap untuk mengungkapkan itu semua.
“Ehem… kenapa kamu diem Vit?” Tanya Nida.
“Oh. Eh.. Enggak Nid, ini aku cuma khawatir sama Ochi. Soalnya dia belum datang gak kayak biasanya.” Jawab Ovit sedikit gugup.
“Ciee… bilang aja kamu kangen sama dia Vit.” Canda Ifa.
“Apaan sih…” sangkal Ovit dengan wajahnya yang memerah.
“Hahahaha.” Mereka bertiga tertawa melihat Ovit yang tersipu malu.
Firasat Ovit benar, hari ini Ochi tidak masuk karena demam mendadak. Dan setelah sepulang sekolah Fian berencana akan mengutarakan perasaannya kepada Ifa di bukit dekat rumahnya.
Fian mengajak Ovit, Ochi, Nida untuk menjadi saksi atas cintanya kepada Ifa. Ovit pun menjemput Ochi, awalnya Ovit ragu karena ia takut Ochi masih belum sehat. Namun Ochi bersikeras ingin ikut dan melihat kejadian langka tersebut.
Setelah semuanya sudah tiba, Fian mulai berpuisi gak jelas ke Ifa. Sampai akhirnya…
“Fa, aku tahu aku anak yang pendiam, penyendiri, dan gak tenar kayak cowok-cowok lain. Tapi… aku tidak bisa terus-terusan menyimpan perasaan ini, karena semakin kusimpan semakin kuingin memilikimu. Jadi … Apakah kamu mau menjadi kekasihku Fa?” Tanya Fian, dan itu membuat sahabatnya heran dan kaget ternyata Fian bisa melakukan hal seromantis ini.
“Em… Maaf Fian, aku gak bisa aku sudah punya, dia Fahmi.” Jawab Ifa
“Fa… Fahmi? Kelas MIPA 2? Gitaris sekolah kita?” Tanya Fian tak yakin.
“Iya… Kami sudah berpacaran selama 6 bulan, maaf ya aku tidak memberitahu kalian semua dan terima kasih sudah mencintaiku Fian.” Jawab Ifa dan meninggalkan sahabatnya yang sedang terdiam.
“Sabar ya An, mungkin dia belum jodohmu” Tenang Ovit.
“Iya An masih banyak cewek lain di dunia ini lagian dia juga sahabat kita.” Sambung Nida.
“Yaudah ayo kita pulang, kukira bakal jadi ending yang bahagia. Ovit, tolong anterin aku ya.” Ajak Ochi.
“Iya Chi, yaudah aku pulang dulu ya.” Pamit Ovit.
“Iya hati-hati teman” Pesan Nida. Dan Fian masih berdiam, mungkin dia syok dengan kejadian tadi.
Akhirnya setelah sekian lama duduk di kelas 1 SMA, mereka naik ke kelas 2. Dan mereka sekelas lagi, ditambah Fahmi yang 1 kelas juga dengan mereka berlima. Dan itu membuat Fian semakin panas dengan kemesraan Fahmi dan Ifa.
Semenjak kelas 2, Ochi sering sakit-sakitan. Ia juga pernah dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu. Itu membuat sahabatnya sangat sedih setiap hari.
Tapi setelah kedua orangtuanya jarang bertengkar, keadaan Ochi sedikit membaik. Dia juga jarang masuk rumah sakit lagi, tetapi dia harus check kesehatannya sebulan sekali.
Sahabatnya sangat senang Ochi kembali bersama mereka lagi. Apalagi Ovit, dia sangat sangat bahagia karena dia sangat merindukan kedatangan orang yang ia sayangi.
Sampai suatu ketika Fian mengalami kecelakaan dan mengalami pendarahan yang cukup serius. Ayah Fian mengusirnya karena saat itu ayahnya lebih percaya kepada istri barunya ketimbang Fian. Kejadian itu membuat Fian drop dan kecewa. Ia lari mengendarai motornya, karena dengan perasaan yang tak karuan ia tak fokus berkendara. Dan ia pun terlempar jauh dari motornya.
Sahabatnya sangat khawatir, mereka juga bingung karena Fian kekurangan banyak darah. Stok darah di rumah sakit tersebut telah habis dan yang cukup sulitnya lagi, Fian berdarah O.
Dengan segala keberanian dan kebaikannya, Ochi mendonorkan darahnya. Padahal saat itu Ochi tengah mengalami anemia. Ia bersujud sampai menangis agar dokter Farhan (Dokter yang melakukan check up, terhadap kesehatan Ochi selama ini.) mau mengambil darahnya untuk didonorkan kepada Fian.
Dengan berat hati ia memperbolehkan Ochi, namun dr. Farhan memberikan syarat. Yaitu setelah Ochi mendonorkan darah, Ochi harus mampu menjaga dirinya dan mempertahankan hidupnya, dan tentunya Ochi juga harus rajin berdoa dan berbakti. Dokter Farhan juga berjanji tidak akan memberitahukan ini semua ke orangtuanya.
Sebulan kemudian, Fian telah kembali ke sekolah. Begitu juga Ochi, namun keadaan Ochi semakin hari semakin memburuk. Dan itu membuat orang-orang yang menyayanginya khawatir. Fian merasa sedikit bersalah karena semua itu salah dia, Ochi jadi seperti ini.
“Ochi… apa kamu baik-baik saja” Tanya Ovit.
“Aku ba..baik-baik kok. Saat me… melihat ka..kalian bahagi..a aku juga ikut me..merasa bahagia” Jawab Ochi terbata.
Sepulang sekolah Ochi check up ditemani ayahnya. Dan keputusan dr. Farhan sangat mengecewakan Ochi.
“Ochi… hmmm… dokter Farhan bingung mau mengatakannya. Langsung aja ya. Kondisi kamu semakin hari memburuk maaf, dokter menyarankan kamu home schooling aja dulu. Soalnya jika kamu tetap sekolah, dokter khawatir keadaan kamu tidak segera membaik.” Jelas dokter Farhan.
“Dok… lakukan sesuatu terhadap anak saya dok, dokter tahu kan Ochi anak yang saya cintai dok. Saya akan bayar berapapun asal saya bisa melihat anak saya sukses dan bahagia di masa depan. Dokter juga tau kan anak saya pasti akan menolak jika saya mengadakan home schooling.” Ochi hanya terdiam melihat ayahnya menangis. Ia merasa bahwa ayahnya sangat menyayanginya, ia ingin bangkit dari sifat lemahnya ini.
“Saya selalu melakukan yang terbaik untuk anak bapak, tapi semua itu hanya Allah yang mampu mengabulkan dan menentukan itu semua pak. Dan sebenarnya semua itu juga demi kebaikan Ochi pak. Saya doakan Ochi kembali sehat seperti dulu, Amin.”
“Iya dok Amin terima kasih atas doanya, saya permisi dulu.”
“Iya pak silahkan.”
Di sekolah Ochi menceritakan semuanya kepada sahabat-sahabatnya. Bagaimanapun kondisinya Ochi akan tetap bersekolah dan tidak mengambil home schooling. Meski sebenarnya fisik Ochi sangat lemah saat ini.
Setelah kejadian tersebut, Fian memiliki perasaan kepada Ochi. Oh iya setelah diusir Fian tinggal bersama Ovit. Namun ia belum berani, ia takut cintanya ditolak seperti Ifa.
Dan seminggu kemudian, sesuatu telah terjadi Ovit menyatakan perasaannya kepada Ochi. Namun Ochi menolaknya karena bagi dirinya, Ovit seperti kakaknya sendiri. Dan jawaban yang mengejutkan lagi adalah…
“Maaf Vit, hidupku juga gak akan lama lagi. Jujur kondisiku semakin hari memburuk. Aku tak tahu, aku sudah berdoa kepada Allah. Dan aku juga pasrah jika nanti aku telah meninggalkan kalian semua…”
Jawaban Ochi membuat Ovit menangis. Ovit memeluk tubuh Ochi dengan erat. Nida, Ifa, Fahmi, dan Farhan yang sedari tadi mengintip, mereka menghampiri Ochi dan menangis seperti Ovit.
Beberapa bulan kemudian, Ochi pindah sekolah karena dia akan ke Singapore untuk pengobatannya. Itu membuat terpukul hati sahabatnya. Namun itu semua juga untuk kebaikan Ochi.
Semenjak Ochi pindah sekolah keadaan sahabatnya berubah. Ovit menjadi cuek dan malas mengerjakan PR, Fian menjadi pribadi yang sombong dan kasar, Nida menjadi pribadi yang lemah bahkan ia hampir dikeluarkan dari tim basket karena tidak bersemangat, Ifa dan Fahmi tidak begitu peduli dengan sahabatnya karena mereka merasa dunia seakan milik berdua.
Keadaan Ochi di Singapore telah membaik dan dia akan dipulangkan ke Indonesia. Namun Ochi tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah umum, dia akan mengikuti home schooling. Karena ayahnya tidak ingin Ochi kenapa kenapa.
Kabar itu telah sampai ke sahabat-sahabatnya, dan mereka semua berencana akan mengunjungi Ochi. Namun saat mereka ke rumahnya, Ochi tidak berada disana. Ochi telah pindah rumah bersama keluarganya. Karena saat itu ayahnya telah terlilit hutang yang cukup banyak untuk pengobatan Ochi. Ayah Ochi harus bekerja keras dan rela untuk menjual rumahnya.
Sahabatnya pun merasa kecewa dengan itu semua. Mereka sangat merindukan sosok Ochi yang sulit ditebak dan apa adanya. Mereka juga rindu saat Ochi tidur di kelas, memenangkan game online, jail ke teman yang lain, dan lain sebagainya. Bagi mereka Ochi adalah sosok sahabat yang sulit untuk digantikan.
5 Tahun kemudian. Ovit, Fian, dan Nida berada di Universitas yang sama. Namun jurusan mereka berbeda. Ovit lebih memilih jurusan Sastra dan Bahasa, Fian memilih jurusan Arkeolog, dan Nida memilih jurusan Pendidikan dan Jasmani. Saat ini mereka telah menyelesaikan S1 dan akan melanjutkan ke S2.
Lain cerita, Ifa dan Fahmi berada di Universitas yang sama dan jurusan yang sama pula yaitu, Seni Musik.
Meski mereka sibuk dengan jam kuliahnya, mereka tetap tidak mau menyusahkan orangtuanya. Mereka bekerja sambilan di sebuah coffee. ‘Coffee Break and Relax’ adalah tempat mereka berlima bekerja dan sekaligus tempat mereka bertemu kembali.
Suatu hari saat mereka tengah bekerja, mereka melihat Ochi berjalan memasuki sebuah tempat rehabilitasi yang baru dibuat. Karena penasaran mereka berencana besok akan memasuki tempat tersebut, karena kuliah mereka libur dan kebetulan kafe tempat mereka bekerja juga tutup.
Esok harinya mereka menuju tempat tersebut, dan ternyata memang benar Ochi berada disana. Mereka memeluk Ochi erat, begitu pula Ochi. Lalu Ochi menceritakan semuanya, dia juga menceritakan kalau sebenarnya tempat ini adalah Ochi yang membangun. Karena dari dulu Ochi sangat prihatin dengan kondisi penderita narkoba dan HIV Aids.
Setelah pertemuan tersebut sahabat Ochi sering mengunjungi tempat itu dan tidak segan-segannya mereka juga membantu Ochi.
Namun suatu ketika, Gerda (penderita HIV) telah memiliki rencana jahat untuk Ochi. Dulu Gerda adalah teman Ochi waktu SMP, Gerda juga pernah menyatakan cintanya kepada Ochi. Namun Ochi menolak cintanya. Dan yang membuat Gerda ingin berbuat jahat kepada Ochi, adalah karena cinta Gerda ditolak untuk yang kedua kalinya.
Gerda mengambil saputangan milik Ochi, saat itu Gerda adalah pasien yang masih menjalankan rehabilitasi karena Gerda belum sepenuhnya bebas dari AIDS. Ia menggunakan saputangan Ochi sebagai perantara untuk menularkan virus HIV.
Setelah beberapa hari Ochi merasa ada yang aneh dengan dirinya, ia bertanya kepada dr. Chiko yang saat itu menjadi dokter untuk menangani penderita Narkoba dan AIDS. Kata dr. Chiko saat ini Ochi telah positif menderita AIDS.
Kabar itu telah didengar oleh sahabatnya, dr. Chiko menyarankan agar orang terdekat Ochi agak memberi jarak saat bersama Ochi. Dikhawatirkan AIDS tersebut menular ke sahabat dan keluarganya. Ovit dan dr. Chiko yang diserahi oleh Ochi untuk merawat dan menjaga pasien rehabilitasi sampai Ochi sembuh dan terbebas dari HIV.
Suatu hari, Ovit bilang ke Fian kalau Ochi sangat mencintainya setulus hati. Karena Ovit tidak tega jika melihat Ochi yang mengagumi Fian dari jauh. Namun jawaban Fian sangat kejam dan saat itu Ochi, Ifa dan Fahmi juga berada disitu.
“Aku gak bisa mencintai Ochi… kamu tau kan Vit!!! Aku mencintai Ifa!! Biarpun Ifa punya pacar dan dia nolak aku, tapi tetep aku menyayanginya!!!”
“An… hargai cinta Ochi sedikittt aja kenapa sih?… dia udah rela ngelakuin apa aja buat kamu, dia juga rela donorin darah padahal saat itu dia lemah. Apa kamu gak mau ngehargain dia?! Ha?!”
“Aku mau ngehargain dia… tapi kamu tau kan!!! Dia terkena HIV AIDS!!! DAN ITU TANDANYA DIA UDAH PERNAH NGELAKUIAN S*KS BEBAS!!! Kamu paham gak sih!!! Ha?!!! Dia ngelakuin itu ke gue karena mungkin aja dia ingin gue mengakui anak yang dia kandung!!! Biarpun dia sahabat kita kalau udah kayak gitu!!! Gue jijik TAU!!!”
“JAGA MULUT KAMU!!!! Emang HIV menular gara-gara seks bebas doang?! enggak!!! Lo bener-bener keterlaluan tau!!! Bisa-bisanya sahabat lo, lo bilang ngelakuin gituan. Perkataan lo bener-bener kasar dan gak beradab!!! Lo bukan FIAN YANG GUE KENAL TAU!!!”
Ovit meninggalkan Fian yang tengah berdiam diri. Sedangkan Ochi tengah menangis ditemani Ifa dan Fahmi. Semenjak kejadian itu, setelah Ochi sembuh Ochi pergi ke Singapore. Hanya Nida saat itu yang diberitahu oleh Ochi, Ochi pergi ke Singapore karena dia telah menderita penyakit Alzhemeir (atau penyakit menurunnya ingatan otak).
Namun hal tersebut ia ceritakan ke sahabat-sahabatnya yang lain. Saat itu tanggung jawab tempat rehabilitasi tersebut sepenuhnya diserahkan ke dr. Chiko dan sahabat-sahabatnya, sampai ia kembali ke Indonesia.
Dan Gerda telah mengaku akan kejahatannya kepada Ochi. Ia sangat menyesali perbuatannya. Fian dan Ovit sangat marah padanya namun sahabat yang lain mencegah mereka berdua untuk tidak melukai Gerda. Ovit dan Fian juga sudah bersahabat kembali. Fian juga menyesali sudah melukai hati Ochi.
Sampai akhirnya Nida memberitahukan ke teman-temannya kalau Ochi telah tiada. Berita itu membuat mereka semua drop, terutama Fian dan Ovit. Karena sebenarnya Fian juga menyayangi Ochi. Sedangkan Ovit, meski ditolak berapa kalipun oleh Ochi ia tidak bisa menghilangkan rasa cinta ini untuk Ochi.
Sejujurnya saat Ovit menangis dan mengatakan bahwa cintanya kepada Ochi sulit untuk dihilangkan, telah membuat hati Nida teriris. Karena Nida mencintai Ovit sejak dulu, hanya saja dia gak pernah PD, dia juga gak yakin bisa mendapatkan hati Ovit sedangkan dirinya tomboy seperti cowok.
Umur 25 tahun, Ifa dan Fahmi menikah dan mengundang sahabat-sahabatnya. Di pernikahan mereka berdua, Nida dan Ovit mengakui kepada sahabatnya kalau sebenarnya mereka juga akan menikah.
Setelah itu mereka semua berbincang-bincang dan menikmati hidangan yang ada. Di sisi lain Fian tengah termenung menatap matahari di ujung laut, yang kebetulan saat itu pantai menjadi salah satu tempat yang dipakai untuk resepsi pernikahan Ifa dan Fahmi.
“Hei!!! Masih ingat ini?” tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah komik anime ‘GUARDIAN ANGEL’ -komik yang pernah ia pinjamkan untuk Ochi-.
Seketika itu Fian menoleh dan mendapati Ochi dengan penampilannya yang telah memakai hijab.
“Chi… I..ni be…be…neran kamu?”
“Iya ini aku. Masa’ kamu lupa”
“Ta..tapi ka… mu… kan dah meninggal?”
Belum sempat Ochi berbicara, Nida menceritakan kejadian yan sebenarnya. Kalau sebenarnya Ochi belum meninggal, saat itu Ochi sudah sembuh namun Ochi pesimis jika ia kembali ke Indonesia saat itu, Fian juga tetap gak akan pernah ngehargain dia atau bahkan Fian akan membenci Ochi. Ochi trauma dengan kejadian saat Fian mengatakan kalau Ochi melakukan s*ks bebas. Perkataan Fian sangat melukainya saat itu.
Fian pun meminta maaf dan mengatakan kalau sebenarnya dia sangat menyayangi Ochi. Ochi memang gadis yang baik dia memaafkan Fian begitu saja.
“Aku memaafkanmu Fian, aku juga masih mencintaimu, dan terima kasih atas komik yang kamu pinjamkan ini, karena aku jadi tau perjuangan itu memang terkadang tidak dihargai namun saat kita ikhlas dengan itu semua, semuanya akan berbuah manis. Kayak cerita Kei Himeno yang rela kesakitan hanya untuk mendapatkan cinta Toya Kashiwagi, bahkan ia juga rela menghabiskan harta dan kekayaannya. Begitu pula cintaku ke kamu Fian.”
Fian memeluk tubuh Ochi erat, dan semua orang yang melihat kejadian tersebut merasa terharu. Dan akhirnya mereka hidup bahagia dengan petualangan baru dan hidup baru mereka.
THE END
Dan sesungguhnya persahabatan itu tak memandang fisik, kekayaan, atau materi. Bagaimanapun kondisi sahabat kita jangan jauhi dia, tapi peluklah dia dan bantulah dia melewati itu semua. Thanks to Allah, my parents, my lovely, and my friends. Dan terima kasih buat warga yang telah membantu para penderita AIDS dan Narkoba. Penderita AIDS dan narkoba bukan untuk ditakuti namun bantulah mereka semampu kalian.
Cerpen Karangan: Lilin A. Sasmia
Facebook: Lilin Ajeng S
Cuaca hari ini sangat mendukung kegiatan Fian untuk menjelajah hobinya. Saat ini ia telah sampai puncak bukit, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia memang sering menghabiskan waktu liburannya untuk memotret atau sekedar refreshing. Ia terkenal anak yang pendiam dan penyendiri.
“Hmm… Indah banget pemandangannya, sampai-sampai memori cameraku tidak cukup.” Canda Fian.
Saat Fian tengah asyik memotret, ia melihat seorang gadis yang tengah duduk melamun. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu, yang jelas itu membuat otak Fian penuh pertanyaan. Fian ingin menghampiri gadis itu, namun ia tak memiliki cukup nyali untuk sekedar menyapa. Gadis itu duduk membelakangi Fian, sehingga Fian tidak mengetahui siapakah gadis tersebut.
Hari Senin, siapa yang tidak tahu hari itu? Semua pasti tahu, hari dimana semua dimulai kembali setelah liburan sehari. Hari ini adalah hari yang menyebalkan bagi Ochi, karena dia menerima beberapa kesialan tadi pagi. Pertama dia bangun kesiangan, kedua ia harus jalan kaki karena ayahnya bertengkar dengan bundanya, ketiga ia terlambat masuk gerbang alhasil ia dihukum mengelilingi lapangan 10 kali, keempat ia lupa mengerjakan PR. Hal yang sungguh menyedihkan baginya.
Bel istirahat telah berbunyi, hampir 90 persen siswa keluar meninggalkan kelas. Tapi bagi Ochi itu hanya membuang waktu saja. Baginya waktu istirahat yang hanya 15 menit, itu hanya cukup untuk memesan makanan saja.
Ochi lebih senang berada di kelas, sebenarnya dia anak yang ceria hanya saja setelah orangtuanya sering bertengkar ia lebih sering menyendiri dan melamun. Nida, Ifa, dan Ovit lah sahabat Ochi, yang selalu menemani Ochi saat sedih maupun senang. Nida seorang pemain basket dan aktif di kegiatan pramuka, Ifa seorang kutu buku yang pandai menyanyi, dan Ovit seorang lelaki yang pandai menulis cerpen.
“Ovittt!!!” panggil Fian.
“Iya? Ada apa An?” Tanya Ovit.
“Nanti temenin aku ke toko komik ya? Soalnya ada komik terbaru yang lagi booming Vit.”
“Oh… Ok aku nanti juga mau kesitu, tapi aku ajak Ochi sekalian ya.”
“Ochi??? Oh… temen sekelas kita yang penuh misteri itu ya?”
“Penuh misteri? Enggak tuh, ada-ada aja kamu.”
“Iya dia penuh misteri dulu dia ceria dan periang banget, sekarang dia agak beda gitu. Mungkin aku yang gak pernah merhatiin dia aja jadinya aku gak tau yang sebenarnya. Hahaha…”
“Hahaha.. iya kamu kan jarang merhatiin cewek hahaha… becanda, ok nanti sepulang sekolah.”
“Ok”
Sepulang sekolah, Ovit dan Fian becanda gurau sedangkan Ochi, dia hanya tersenyum melihat tingkah konyol temannya. Akhirnya mereka sampai juga. Ovit menuju lantai 2 karena buku yang ia cari berada disana. Sedangkan Ochi dan Fian, mereka di lantai 1 untuk mencari komik yang lagi booming. Setelah menemukan komiknya mereka langsung menuju kasir dan menunggu Ovit di luar toko.
Fian ingin memulai pembicaraan namun ia malu karena ia jarang berbicara dengan Ochi. Sampai akhirnya Ochi memulai pembicaraan, karena bagi Ochi berdiam selama berjam-jam itu tidak ada bedanya dengan yoga.
Ochi melontarkan pertanyaan yang ringan dan tidak membutuhkan pemikiran yang keras. Dan jawabannya pasti juga cuma “Ya” atau “Tidak”.
Setelah 30 menit kemudian, Ovit ke luar dari toko dan mengajak mereka berdua untuk pulang.
Ochi tiba di rumah disambut dengan pertengkaran kedua orangtuanya. Itu membuat Ochi kesal dan bosen. Ia menuju kamar dan menutup kamarnya dengan keras.
Ovit menelepon Ochi secara tiba-tiba, Ovit memang sering menelepon Ochi saat ia ada masalah. Ochi juga bingung kenapa Ovit mengetahui itu, mungkin oleh Allah lah yang memberi tahunya. Ovit mengakhiri pembicaraan sampai pukul 11 malam.
Ochi memang sudah menganggap Ovit seperti kakaknya, karena kakaknya Ochi telah tiada setelah merasa kecewa dengan kelakuan orangtuanya. Namanya Ocha, ia bunuh diri dengan mengendarai sepeda kecepatan 80km/jam di jalan yang strategis. Dan itu membuat Ochi tambah kecewa kepada ayah dan bundanya. Mereka tidak pernah bisa berdamai, hanya sesaat perdamaian, tetapi sesaat kemudian pertengkaran berjam-jam, berhari-hari, dan berbulan-bulan.
Ifa bukan saja gadis yang cantik tapi juga cantik suaranya. Dan itu membuat Fian jatuh cinta. Ifa dan Fian memang sudah dekat sejak pertama kali masuk SMA. Hanya saja Fian tidak begitu berani mengungkapkan itu semua.
Pagi ini Fian dan Ifa duduk dan bercanda di kantin sekolah. Tetapi sesaat kemudian Ovit dan Nida tiba di kantin dan langsung duduk di depan mereka berdua.
Mereka bercanda bersama-sama, namun bagi Ovit ada sesuatu yang membuat dia terkekang dalam bercanda bersama. Iya… dia ingat, Ochi belum datang. Dan Ovit belum bisa tertawa lepas jika Ochi belum muncul. Sebenarnya Ovit sangat mencintai Ochi lebih dari sekedar sahabat, namun dia belum siap untuk mengungkapkan itu semua.
“Ehem… kenapa kamu diem Vit?” Tanya Nida.
“Oh. Eh.. Enggak Nid, ini aku cuma khawatir sama Ochi. Soalnya dia belum datang gak kayak biasanya.” Jawab Ovit sedikit gugup.
“Ciee… bilang aja kamu kangen sama dia Vit.” Canda Ifa.
“Apaan sih…” sangkal Ovit dengan wajahnya yang memerah.
“Hahahaha.” Mereka bertiga tertawa melihat Ovit yang tersipu malu.
Firasat Ovit benar, hari ini Ochi tidak masuk karena demam mendadak. Dan setelah sepulang sekolah Fian berencana akan mengutarakan perasaannya kepada Ifa di bukit dekat rumahnya.
Fian mengajak Ovit, Ochi, Nida untuk menjadi saksi atas cintanya kepada Ifa. Ovit pun menjemput Ochi, awalnya Ovit ragu karena ia takut Ochi masih belum sehat. Namun Ochi bersikeras ingin ikut dan melihat kejadian langka tersebut.
Setelah semuanya sudah tiba, Fian mulai berpuisi gak jelas ke Ifa. Sampai akhirnya…
“Fa, aku tahu aku anak yang pendiam, penyendiri, dan gak tenar kayak cowok-cowok lain. Tapi… aku tidak bisa terus-terusan menyimpan perasaan ini, karena semakin kusimpan semakin kuingin memilikimu. Jadi … Apakah kamu mau menjadi kekasihku Fa?” Tanya Fian, dan itu membuat sahabatnya heran dan kaget ternyata Fian bisa melakukan hal seromantis ini.
“Em… Maaf Fian, aku gak bisa aku sudah punya, dia Fahmi.” Jawab Ifa
“Fa… Fahmi? Kelas MIPA 2? Gitaris sekolah kita?” Tanya Fian tak yakin.
“Iya… Kami sudah berpacaran selama 6 bulan, maaf ya aku tidak memberitahu kalian semua dan terima kasih sudah mencintaiku Fian.” Jawab Ifa dan meninggalkan sahabatnya yang sedang terdiam.
“Sabar ya An, mungkin dia belum jodohmu” Tenang Ovit.
“Iya An masih banyak cewek lain di dunia ini lagian dia juga sahabat kita.” Sambung Nida.
“Yaudah ayo kita pulang, kukira bakal jadi ending yang bahagia. Ovit, tolong anterin aku ya.” Ajak Ochi.
“Iya Chi, yaudah aku pulang dulu ya.” Pamit Ovit.
“Iya hati-hati teman” Pesan Nida. Dan Fian masih berdiam, mungkin dia syok dengan kejadian tadi.
Akhirnya setelah sekian lama duduk di kelas 1 SMA, mereka naik ke kelas 2. Dan mereka sekelas lagi, ditambah Fahmi yang 1 kelas juga dengan mereka berlima. Dan itu membuat Fian semakin panas dengan kemesraan Fahmi dan Ifa.
Semenjak kelas 2, Ochi sering sakit-sakitan. Ia juga pernah dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu. Itu membuat sahabatnya sangat sedih setiap hari.
Tapi setelah kedua orangtuanya jarang bertengkar, keadaan Ochi sedikit membaik. Dia juga jarang masuk rumah sakit lagi, tetapi dia harus check kesehatannya sebulan sekali.
Sahabatnya sangat senang Ochi kembali bersama mereka lagi. Apalagi Ovit, dia sangat sangat bahagia karena dia sangat merindukan kedatangan orang yang ia sayangi.
Sampai suatu ketika Fian mengalami kecelakaan dan mengalami pendarahan yang cukup serius. Ayah Fian mengusirnya karena saat itu ayahnya lebih percaya kepada istri barunya ketimbang Fian. Kejadian itu membuat Fian drop dan kecewa. Ia lari mengendarai motornya, karena dengan perasaan yang tak karuan ia tak fokus berkendara. Dan ia pun terlempar jauh dari motornya.
Sahabatnya sangat khawatir, mereka juga bingung karena Fian kekurangan banyak darah. Stok darah di rumah sakit tersebut telah habis dan yang cukup sulitnya lagi, Fian berdarah O.
Dengan segala keberanian dan kebaikannya, Ochi mendonorkan darahnya. Padahal saat itu Ochi tengah mengalami anemia. Ia bersujud sampai menangis agar dokter Farhan (Dokter yang melakukan check up, terhadap kesehatan Ochi selama ini.) mau mengambil darahnya untuk didonorkan kepada Fian.
Dengan berat hati ia memperbolehkan Ochi, namun dr. Farhan memberikan syarat. Yaitu setelah Ochi mendonorkan darah, Ochi harus mampu menjaga dirinya dan mempertahankan hidupnya, dan tentunya Ochi juga harus rajin berdoa dan berbakti. Dokter Farhan juga berjanji tidak akan memberitahukan ini semua ke orangtuanya.
Sebulan kemudian, Fian telah kembali ke sekolah. Begitu juga Ochi, namun keadaan Ochi semakin hari semakin memburuk. Dan itu membuat orang-orang yang menyayanginya khawatir. Fian merasa sedikit bersalah karena semua itu salah dia, Ochi jadi seperti ini.
“Ochi… apa kamu baik-baik saja” Tanya Ovit.
“Aku ba..baik-baik kok. Saat me… melihat ka..kalian bahagi..a aku juga ikut me..merasa bahagia” Jawab Ochi terbata.
Sepulang sekolah Ochi check up ditemani ayahnya. Dan keputusan dr. Farhan sangat mengecewakan Ochi.
“Ochi… hmmm… dokter Farhan bingung mau mengatakannya. Langsung aja ya. Kondisi kamu semakin hari memburuk maaf, dokter menyarankan kamu home schooling aja dulu. Soalnya jika kamu tetap sekolah, dokter khawatir keadaan kamu tidak segera membaik.” Jelas dokter Farhan.
“Dok… lakukan sesuatu terhadap anak saya dok, dokter tahu kan Ochi anak yang saya cintai dok. Saya akan bayar berapapun asal saya bisa melihat anak saya sukses dan bahagia di masa depan. Dokter juga tau kan anak saya pasti akan menolak jika saya mengadakan home schooling.” Ochi hanya terdiam melihat ayahnya menangis. Ia merasa bahwa ayahnya sangat menyayanginya, ia ingin bangkit dari sifat lemahnya ini.
“Saya selalu melakukan yang terbaik untuk anak bapak, tapi semua itu hanya Allah yang mampu mengabulkan dan menentukan itu semua pak. Dan sebenarnya semua itu juga demi kebaikan Ochi pak. Saya doakan Ochi kembali sehat seperti dulu, Amin.”
“Iya dok Amin terima kasih atas doanya, saya permisi dulu.”
“Iya pak silahkan.”
Di sekolah Ochi menceritakan semuanya kepada sahabat-sahabatnya. Bagaimanapun kondisinya Ochi akan tetap bersekolah dan tidak mengambil home schooling. Meski sebenarnya fisik Ochi sangat lemah saat ini.
Setelah kejadian tersebut, Fian memiliki perasaan kepada Ochi. Oh iya setelah diusir Fian tinggal bersama Ovit. Namun ia belum berani, ia takut cintanya ditolak seperti Ifa.
Dan seminggu kemudian, sesuatu telah terjadi Ovit menyatakan perasaannya kepada Ochi. Namun Ochi menolaknya karena bagi dirinya, Ovit seperti kakaknya sendiri. Dan jawaban yang mengejutkan lagi adalah…
“Maaf Vit, hidupku juga gak akan lama lagi. Jujur kondisiku semakin hari memburuk. Aku tak tahu, aku sudah berdoa kepada Allah. Dan aku juga pasrah jika nanti aku telah meninggalkan kalian semua…”
Jawaban Ochi membuat Ovit menangis. Ovit memeluk tubuh Ochi dengan erat. Nida, Ifa, Fahmi, dan Farhan yang sedari tadi mengintip, mereka menghampiri Ochi dan menangis seperti Ovit.
Beberapa bulan kemudian, Ochi pindah sekolah karena dia akan ke Singapore untuk pengobatannya. Itu membuat terpukul hati sahabatnya. Namun itu semua juga untuk kebaikan Ochi.
Semenjak Ochi pindah sekolah keadaan sahabatnya berubah. Ovit menjadi cuek dan malas mengerjakan PR, Fian menjadi pribadi yang sombong dan kasar, Nida menjadi pribadi yang lemah bahkan ia hampir dikeluarkan dari tim basket karena tidak bersemangat, Ifa dan Fahmi tidak begitu peduli dengan sahabatnya karena mereka merasa dunia seakan milik berdua.
Keadaan Ochi di Singapore telah membaik dan dia akan dipulangkan ke Indonesia. Namun Ochi tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah umum, dia akan mengikuti home schooling. Karena ayahnya tidak ingin Ochi kenapa kenapa.
Kabar itu telah sampai ke sahabat-sahabatnya, dan mereka semua berencana akan mengunjungi Ochi. Namun saat mereka ke rumahnya, Ochi tidak berada disana. Ochi telah pindah rumah bersama keluarganya. Karena saat itu ayahnya telah terlilit hutang yang cukup banyak untuk pengobatan Ochi. Ayah Ochi harus bekerja keras dan rela untuk menjual rumahnya.
Sahabatnya pun merasa kecewa dengan itu semua. Mereka sangat merindukan sosok Ochi yang sulit ditebak dan apa adanya. Mereka juga rindu saat Ochi tidur di kelas, memenangkan game online, jail ke teman yang lain, dan lain sebagainya. Bagi mereka Ochi adalah sosok sahabat yang sulit untuk digantikan.
5 Tahun kemudian. Ovit, Fian, dan Nida berada di Universitas yang sama. Namun jurusan mereka berbeda. Ovit lebih memilih jurusan Sastra dan Bahasa, Fian memilih jurusan Arkeolog, dan Nida memilih jurusan Pendidikan dan Jasmani. Saat ini mereka telah menyelesaikan S1 dan akan melanjutkan ke S2.
Lain cerita, Ifa dan Fahmi berada di Universitas yang sama dan jurusan yang sama pula yaitu, Seni Musik.
Meski mereka sibuk dengan jam kuliahnya, mereka tetap tidak mau menyusahkan orangtuanya. Mereka bekerja sambilan di sebuah coffee. ‘Coffee Break and Relax’ adalah tempat mereka berlima bekerja dan sekaligus tempat mereka bertemu kembali.
Suatu hari saat mereka tengah bekerja, mereka melihat Ochi berjalan memasuki sebuah tempat rehabilitasi yang baru dibuat. Karena penasaran mereka berencana besok akan memasuki tempat tersebut, karena kuliah mereka libur dan kebetulan kafe tempat mereka bekerja juga tutup.
Esok harinya mereka menuju tempat tersebut, dan ternyata memang benar Ochi berada disana. Mereka memeluk Ochi erat, begitu pula Ochi. Lalu Ochi menceritakan semuanya, dia juga menceritakan kalau sebenarnya tempat ini adalah Ochi yang membangun. Karena dari dulu Ochi sangat prihatin dengan kondisi penderita narkoba dan HIV Aids.
Setelah pertemuan tersebut sahabat Ochi sering mengunjungi tempat itu dan tidak segan-segannya mereka juga membantu Ochi.
Namun suatu ketika, Gerda (penderita HIV) telah memiliki rencana jahat untuk Ochi. Dulu Gerda adalah teman Ochi waktu SMP, Gerda juga pernah menyatakan cintanya kepada Ochi. Namun Ochi menolak cintanya. Dan yang membuat Gerda ingin berbuat jahat kepada Ochi, adalah karena cinta Gerda ditolak untuk yang kedua kalinya.
Gerda mengambil saputangan milik Ochi, saat itu Gerda adalah pasien yang masih menjalankan rehabilitasi karena Gerda belum sepenuhnya bebas dari AIDS. Ia menggunakan saputangan Ochi sebagai perantara untuk menularkan virus HIV.
Setelah beberapa hari Ochi merasa ada yang aneh dengan dirinya, ia bertanya kepada dr. Chiko yang saat itu menjadi dokter untuk menangani penderita Narkoba dan AIDS. Kata dr. Chiko saat ini Ochi telah positif menderita AIDS.
Kabar itu telah didengar oleh sahabatnya, dr. Chiko menyarankan agar orang terdekat Ochi agak memberi jarak saat bersama Ochi. Dikhawatirkan AIDS tersebut menular ke sahabat dan keluarganya. Ovit dan dr. Chiko yang diserahi oleh Ochi untuk merawat dan menjaga pasien rehabilitasi sampai Ochi sembuh dan terbebas dari HIV.
Suatu hari, Ovit bilang ke Fian kalau Ochi sangat mencintainya setulus hati. Karena Ovit tidak tega jika melihat Ochi yang mengagumi Fian dari jauh. Namun jawaban Fian sangat kejam dan saat itu Ochi, Ifa dan Fahmi juga berada disitu.
“Aku gak bisa mencintai Ochi… kamu tau kan Vit!!! Aku mencintai Ifa!! Biarpun Ifa punya pacar dan dia nolak aku, tapi tetep aku menyayanginya!!!”
“An… hargai cinta Ochi sedikittt aja kenapa sih?… dia udah rela ngelakuin apa aja buat kamu, dia juga rela donorin darah padahal saat itu dia lemah. Apa kamu gak mau ngehargain dia?! Ha?!”
“Aku mau ngehargain dia… tapi kamu tau kan!!! Dia terkena HIV AIDS!!! DAN ITU TANDANYA DIA UDAH PERNAH NGELAKUIAN S*KS BEBAS!!! Kamu paham gak sih!!! Ha?!!! Dia ngelakuin itu ke gue karena mungkin aja dia ingin gue mengakui anak yang dia kandung!!! Biarpun dia sahabat kita kalau udah kayak gitu!!! Gue jijik TAU!!!”
“JAGA MULUT KAMU!!!! Emang HIV menular gara-gara seks bebas doang?! enggak!!! Lo bener-bener keterlaluan tau!!! Bisa-bisanya sahabat lo, lo bilang ngelakuin gituan. Perkataan lo bener-bener kasar dan gak beradab!!! Lo bukan FIAN YANG GUE KENAL TAU!!!”
Ovit meninggalkan Fian yang tengah berdiam diri. Sedangkan Ochi tengah menangis ditemani Ifa dan Fahmi. Semenjak kejadian itu, setelah Ochi sembuh Ochi pergi ke Singapore. Hanya Nida saat itu yang diberitahu oleh Ochi, Ochi pergi ke Singapore karena dia telah menderita penyakit Alzhemeir (atau penyakit menurunnya ingatan otak).
Namun hal tersebut ia ceritakan ke sahabat-sahabatnya yang lain. Saat itu tanggung jawab tempat rehabilitasi tersebut sepenuhnya diserahkan ke dr. Chiko dan sahabat-sahabatnya, sampai ia kembali ke Indonesia.
Dan Gerda telah mengaku akan kejahatannya kepada Ochi. Ia sangat menyesali perbuatannya. Fian dan Ovit sangat marah padanya namun sahabat yang lain mencegah mereka berdua untuk tidak melukai Gerda. Ovit dan Fian juga sudah bersahabat kembali. Fian juga menyesali sudah melukai hati Ochi.
Sampai akhirnya Nida memberitahukan ke teman-temannya kalau Ochi telah tiada. Berita itu membuat mereka semua drop, terutama Fian dan Ovit. Karena sebenarnya Fian juga menyayangi Ochi. Sedangkan Ovit, meski ditolak berapa kalipun oleh Ochi ia tidak bisa menghilangkan rasa cinta ini untuk Ochi.
Sejujurnya saat Ovit menangis dan mengatakan bahwa cintanya kepada Ochi sulit untuk dihilangkan, telah membuat hati Nida teriris. Karena Nida mencintai Ovit sejak dulu, hanya saja dia gak pernah PD, dia juga gak yakin bisa mendapatkan hati Ovit sedangkan dirinya tomboy seperti cowok.
Umur 25 tahun, Ifa dan Fahmi menikah dan mengundang sahabat-sahabatnya. Di pernikahan mereka berdua, Nida dan Ovit mengakui kepada sahabatnya kalau sebenarnya mereka juga akan menikah.
Setelah itu mereka semua berbincang-bincang dan menikmati hidangan yang ada. Di sisi lain Fian tengah termenung menatap matahari di ujung laut, yang kebetulan saat itu pantai menjadi salah satu tempat yang dipakai untuk resepsi pernikahan Ifa dan Fahmi.
“Hei!!! Masih ingat ini?” tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah komik anime ‘GUARDIAN ANGEL’ -komik yang pernah ia pinjamkan untuk Ochi-.
Seketika itu Fian menoleh dan mendapati Ochi dengan penampilannya yang telah memakai hijab.
“Chi… I..ni be…be…neran kamu?”
“Iya ini aku. Masa’ kamu lupa”
“Ta..tapi ka… mu… kan dah meninggal?”
Belum sempat Ochi berbicara, Nida menceritakan kejadian yan sebenarnya. Kalau sebenarnya Ochi belum meninggal, saat itu Ochi sudah sembuh namun Ochi pesimis jika ia kembali ke Indonesia saat itu, Fian juga tetap gak akan pernah ngehargain dia atau bahkan Fian akan membenci Ochi. Ochi trauma dengan kejadian saat Fian mengatakan kalau Ochi melakukan s*ks bebas. Perkataan Fian sangat melukainya saat itu.
Fian pun meminta maaf dan mengatakan kalau sebenarnya dia sangat menyayangi Ochi. Ochi memang gadis yang baik dia memaafkan Fian begitu saja.
“Aku memaafkanmu Fian, aku juga masih mencintaimu, dan terima kasih atas komik yang kamu pinjamkan ini, karena aku jadi tau perjuangan itu memang terkadang tidak dihargai namun saat kita ikhlas dengan itu semua, semuanya akan berbuah manis. Kayak cerita Kei Himeno yang rela kesakitan hanya untuk mendapatkan cinta Toya Kashiwagi, bahkan ia juga rela menghabiskan harta dan kekayaannya. Begitu pula cintaku ke kamu Fian.”
Fian memeluk tubuh Ochi erat, dan semua orang yang melihat kejadian tersebut merasa terharu. Dan akhirnya mereka hidup bahagia dengan petualangan baru dan hidup baru mereka.
THE END
Dan sesungguhnya persahabatan itu tak memandang fisik, kekayaan, atau materi. Bagaimanapun kondisi sahabat kita jangan jauhi dia, tapi peluklah dia dan bantulah dia melewati itu semua. Thanks to Allah, my parents, my lovely, and my friends. Dan terima kasih buat warga yang telah membantu para penderita AIDS dan Narkoba. Penderita AIDS dan narkoba bukan untuk ditakuti namun bantulah mereka semampu kalian.
Cerpen Karangan: Lilin A. Sasmia
Facebook: Lilin Ajeng S
About Seventeens
4/
5
Oleh
Unknown

1 komentar:
Salam kenal mohon kritik dan sarannya
Reply