Judul Cerpen Bahasa Mulut
Pagi itu aku sudah bersiap-siap menuju sekolah, hari ini adalah hari pertamaku sekolah di SMP Mutiara 2.
Hari hari berlalu, tak terasa aku sudah 1 minggu bersekolah disini.
Kulihat seorang anak laki laki menatapku, “hey” sapanya “hey” balasku, anak itu tersenyum dan menggerakkan bibirnya tanpa suara “apa?” Tanyaku “apa?” Dia menirukan logat bicaraku “uh dasar!” Ujarku seraya memalingkan mata “eh kamu kok kecil sih?” Tanyanya padaku, tubuhku memang kecil mungil, wajahku juga tidak menampakkan kedewasaan. “Ya nggak tau, keturunan lah” jawabku, dia hanya tertawa kecil.
Keesokkan harinya dia menyapaku, aku pun balas menyapanya. Sekarang adalah waktunya PJOK/olahraga, gurunya tidak datang saat jam terakhir, jadi anak anak banyak yang membawa tas. “Heh anak kecil!” Seru anak itu lagi “iih aku bukan anak kecil!” Balasku berteriak, teman teman yang melihat tertawa termasuk Andie, anak laki laki itu.
Keesokkan harinya, aku bercerita pada teman temanku bahwa julukanku itu Minnie, jadi aku dipanggil Minnie, temasuk Andie.
“Stt stt minnie!” Panggil Andie yang ada di bangkunya “apaan?” Tanyaku sambil menatap sekeliling, takut guru melihatku, ia berbicara, tapi tak jelas di telingaku “nanti aja” ujarku pelan, dia mengangguk.
Sekarang aku memasuki hari ke 10 sekolah, saat itu baru masuk kelas, dan aku balik ke luar untuk membuang sampah. Saat aku kembali ke kelas 2 anak memanggilku, dia Andie dan Dila yang bangkunya berseberangan, “minnie” panggil Andi sambil menarik tanganku (bagian siku) tapi untung saja kututupi dengan kerudung, Dila pun menarik tanganku yang sebelah dan menghantamkanku ke pangkuannya. Belum sempat Dila berbicara, Andie memotong “minnie, mana tanganmu yang sebelah?” Tanyanya “ini loh ini!” Jawab Dila sambil mengangkat kedua tanganku, Andie mengangguk.
Aku menuju bangkuku yang berada di belakang Dila “eh bolpoinmu diambil sama Taufik” kata Rika teman sebangkuku, langsung kucabut bolpoin itu dari genggaman tangan nakal.
“Makanya jangan taruh bolpoin sembarangan” ujar Rika yang sebelumnya ngambek padaku “ciee udah gak marah nih ye” godaku, Rika segera memalingkan mata dan menahan senyumnya.
Sekarang guru telah ada di kelas. “St st minnie” panggil Andie pelan agar tak terdengar guru “apa?” Tanyaku, ia menggerakkan mulutnya tapi tak bersuara, aku jadi bingung “apa sih?” Tanyaku lagi, ia memalingkan muka.
Beberapa minggu telah berlalu, aku juga semakin akrab dengan Andie, sampai dia mengatakan perasaannya padaku, tapi tentu saja kutolak “maaf nggak bisa Ndie, kita masih duduk di bangku sekolah, kita teman saja. Kumohon mengertilah” tolakku halus “ya, aku mengerti, tapi kita masih teman kan?” Tanyanya “tentu” jawabku sambil menyambar jari jentiknya.
Tamat
Cerpen Karangan: Rani Tri Ageng Supadi
Facebook: rani minnie
Pagi itu aku sudah bersiap-siap menuju sekolah, hari ini adalah hari pertamaku sekolah di SMP Mutiara 2.
Hari hari berlalu, tak terasa aku sudah 1 minggu bersekolah disini.
Kulihat seorang anak laki laki menatapku, “hey” sapanya “hey” balasku, anak itu tersenyum dan menggerakkan bibirnya tanpa suara “apa?” Tanyaku “apa?” Dia menirukan logat bicaraku “uh dasar!” Ujarku seraya memalingkan mata “eh kamu kok kecil sih?” Tanyanya padaku, tubuhku memang kecil mungil, wajahku juga tidak menampakkan kedewasaan. “Ya nggak tau, keturunan lah” jawabku, dia hanya tertawa kecil.
Keesokkan harinya dia menyapaku, aku pun balas menyapanya. Sekarang adalah waktunya PJOK/olahraga, gurunya tidak datang saat jam terakhir, jadi anak anak banyak yang membawa tas. “Heh anak kecil!” Seru anak itu lagi “iih aku bukan anak kecil!” Balasku berteriak, teman teman yang melihat tertawa termasuk Andie, anak laki laki itu.
Keesokkan harinya, aku bercerita pada teman temanku bahwa julukanku itu Minnie, jadi aku dipanggil Minnie, temasuk Andie.
“Stt stt minnie!” Panggil Andie yang ada di bangkunya “apaan?” Tanyaku sambil menatap sekeliling, takut guru melihatku, ia berbicara, tapi tak jelas di telingaku “nanti aja” ujarku pelan, dia mengangguk.
Sekarang aku memasuki hari ke 10 sekolah, saat itu baru masuk kelas, dan aku balik ke luar untuk membuang sampah. Saat aku kembali ke kelas 2 anak memanggilku, dia Andie dan Dila yang bangkunya berseberangan, “minnie” panggil Andi sambil menarik tanganku (bagian siku) tapi untung saja kututupi dengan kerudung, Dila pun menarik tanganku yang sebelah dan menghantamkanku ke pangkuannya. Belum sempat Dila berbicara, Andie memotong “minnie, mana tanganmu yang sebelah?” Tanyanya “ini loh ini!” Jawab Dila sambil mengangkat kedua tanganku, Andie mengangguk.
Aku menuju bangkuku yang berada di belakang Dila “eh bolpoinmu diambil sama Taufik” kata Rika teman sebangkuku, langsung kucabut bolpoin itu dari genggaman tangan nakal.
“Makanya jangan taruh bolpoin sembarangan” ujar Rika yang sebelumnya ngambek padaku “ciee udah gak marah nih ye” godaku, Rika segera memalingkan mata dan menahan senyumnya.
Sekarang guru telah ada di kelas. “St st minnie” panggil Andie pelan agar tak terdengar guru “apa?” Tanyaku, ia menggerakkan mulutnya tapi tak bersuara, aku jadi bingung “apa sih?” Tanyaku lagi, ia memalingkan muka.
Beberapa minggu telah berlalu, aku juga semakin akrab dengan Andie, sampai dia mengatakan perasaannya padaku, tapi tentu saja kutolak “maaf nggak bisa Ndie, kita masih duduk di bangku sekolah, kita teman saja. Kumohon mengertilah” tolakku halus “ya, aku mengerti, tapi kita masih teman kan?” Tanyanya “tentu” jawabku sambil menyambar jari jentiknya.
Tamat
Cerpen Karangan: Rani Tri Ageng Supadi
Facebook: rani minnie
Bahasa Mulut
4/
5
Oleh
Unknown
