Perjalanan Cinta Alena (Part 2)

Baca Juga :
    Judul Cerpen Perjalanan Cinta Alena (Part 2)

    Tiga tahun lamanya setelah peristiwa itu, kini mereka sudah lulus. Nilai mereka pun sangat memuaskan. Alena bisa masuk ke universitas dan fakultas yang dia impikan, Dhea menjadi model yang sedang naik daun karena kesempurnaannya dalam berkerja, sedangkan Aldi dia kuliah di universitas terbaik di New York mengambil jurusan managemen. Hidup mereka sudah kembali tertata rapi sesuai dengan yang mereka mau. Suatu malam ketika Alena pulang kuliah, dia menemukan suatu amplop undangan. Mata Alena membulat seketika saat melihat kata yang tersusun di dalam amplop itu. “Undangan Reuni SMA Brantawijaya angkatan 62” sebuah undangan yang langsung membawa Alena kembali ke masa lalu. Ke masa-masa sekolahnya yang penuh suka dan duka. Alena setengah tersenyum saat mengingat kenangan-kenangan itu. Sampai saat dia jujur akan perasaannya di depan Aldi, dan jika disuruh berkata dengan jujur sampai saat ini dia masih menggenggam erat perasaan itu. Perasaan itu yang selalu menemani Alena disaat-saat yang membuatnya kesusahan. Perasaan itu menjadi motivasi nyata yang tersimpan selalu diotak Alena. Alena bimbang akan datang atau tidak, sebenarnya dia tidak terlalu sibuk pada hari itu tapi menyadari bahwa ada kemungkinan Aldi datang membuat Alena sedikit mengurungkan niatnya.
    “Halo Ale sayang, ikut reuni kan? Harus ya. Besok jam 5 aku jemput, bye.” sebuah pesan masuk ke ponsel Alena membuat Alena tersenyum-senyum sendiri. Kemudian segera mengetik pesan balasan “Okay sayang. Besok aku tunggu jemputnya ya, bye:*” begitulah sekiranya balasan yang Alena ketik kemudian Alena mengirimkan pesan itu.
    Kembali lah semangatnya yang tadi mulai mengendur, dia akan datang ke undangan itu. Toh kalau Aldi ada juga tidak apa-apa, Alena belum tahu kalau Aldi kuliah di luar negeri.

    Pukul lima tepat Alena sudah selesai berdandan, dia tidak mau membuat seseorang menunggunya terlalu lama. Dia cukup mengenakan dress selutut berwarna soft pink, dipadukan dengan memoleskan make up yang natural juga rambut panjangnya yang digerai, Alena tampak lebih memukau malam ini.
    “Alena sayang, aku masuk ya.” seru seseorang dari balik pintu.
    ‘Itu dia’ batin Alena. Lalu munculah sesosok perempuan cantik mengenakan dress selutut berwarna hitam, hampir sama dengan punya Alena hanya saja lebih glamour. Rambut panjangnya yang diberi warna dark brown itu dikepang sangat rapi dan elegan. Dhea.
    “Ale ya ampun, cantik banget sayang.” pekik Dhea yang terdengar sangat histeris
    “Ya ampun, Dhe udah deh. Kamu juga cantik banget kok, serius.” puji Alena yang berhasil membuat Dhea tersenyum simpul.
    “Yuk berangkat. Udah jam segini, nanti telat loh.” ajak Dhea kemudian menarik tangan Alena pelan hanya dibalas dengan anggukan dari Alena.
    Mereka menghabiskan waktu di mobil dengan bercerita dan bernostalgia.

    “Eh tau nggak sih, Al? Aldi sekarang kuliah di New York loh, jadi mungkin dia nggak akan datang.” ucap Dhea kehilangan kontrol akan arah pembicaraannya. Alena hanya terdiam dia tidak tahu berita itu, tidak ada yang memberitahunya kalau Aldi ternyata kuliah di luar negeri. Hatinya merasa lega sekaligus kecewa. Melihat Alena yang hanya terdiam membuat Dhea sadar kalau itu adalah pembicaraan yang harus dihindari.
    “Eh maaf Al, udah lah nggak usah dipikirin lagi.” ucap Dhea mencoba memecahkan keheningan
    “Santai, Dhe. Nggak apa-apa kok.” sahut Alena kemudian tersenyum kecut. Selanjutnya dalam perjalanan sampai ke tujuan, mereka hanya diam. Larut dalan pemikiran masing-masing.
    “Udah sampai, Al. Yuk turun.” ajak Dhea yang sudah ke luar mobil duluan kemudian disusul Alena
    “Wah kok meriah banget ya, Dhe.” ujar Alena takjub. Dhea terkekeh kemudian mengajak Alena masuk.
    Sampai didalam, Alena berpisah dengan Dhea. Dhea pamit ingin bertemu seseorang dan Alena ditinggalkan sendirian. Alena hanya berdiri mematung mengulas semua kenangan yang pernah tercipta dimasa itu.
    “Hei.” sapa seorang yang langsung membuyarkan lamunan Alena.
    “Oh hai, Dani?” tanya Alena lambat-lambat karena takut salah.
    “Udah nggak ngenalin aja nih. Baru juga berapa tahun.” sindir Dani sambil tersenyum kecut, Alena tertawa melihat ekspresi Dani.
    “Maaf maaf, Dan. Kamu sih berubah banget gini, jadi nggak bisa diidentifikasi deh.” jawaban Alena malah semakin membuat Dani menekuk mukanya, melihat Dani yang semakin menampilkan ekspresi lucu tawa Alena semakin lepas. Sejenak mereka ngobrol dan mengenang masa SMA sampai Reya selaku pembawa acara membuka acara itu.

    “Ya pertama-tama aku ngucapin terimakasih ke temen-temen semuanya untuk kedatangannya. Terutama nih buat yang bela-belain dateng dari belahan dunia seberang nih.” ucap Reya dengan gembira, Alena masih belum sadar siapakah yang di maksud oleh Reya.
    “Hai teman-teman.” suara bariton seseorang yang terdengar sangat familiar di telinga Alena membuat Alena membeku, ini suara dia. Tapi Alena mengabaikannya karena menurut Alena tidak mungkin seseorang yang ada di New York tiba-tiba berada di Indonesia. Tidak mungkin. Karena letak Alena yang membelakangi panggung membuat Alena tidak melihat siapa orang yang sedang berbicara di panggung.
    “Ya dibalas dong sapaan dari cowok ganteng yang lagi berdiri di depan.” pinta Reya
    “Halo, Aldi.” sapa semua orang serempak membuat Alena langsung membalikkan badannya. Terlihat disana seseorang yang sangat dia kenal sedang berbisik kepada Reya dengan melihat ke arah Alena. Melihat Aldi berdiri disana ada perasaan cemburu, kangen, kesal semuanya bercampur menjadi satu.
    Perasaan Alena menjadi tidak enak apalagi setelah Reya juga ikut melihat ke arah Alena.
    “Ini ada permintaan khusus dari Aldi nih,” ucap Reya dengan riang, Aldi hanya tersenyum yang membuat perasaan Alena semakin merasa aneh.
    “Aldi ingin mendengarkan seseorang bernyanyi.” jantung Alena semakin bekerja tidak normal
    “Sambutlah penyanyi kita, Alena Alicia Putri.”
    Tuh kan.

    Alena merasa jantungnya berhenti bekerja saat itu juga. Dan jika kalian pernah melihat tampang seseorang yang lambungnya diambil, seperti itulah kira-kira ekspresi yang ditampilkan Alena. Mukanya pucat, dia tidak pernah merasa percaya diri untuk bernyanyi walaupun dia sering melakukannya, dengan catatan dia bernyanyi di kamar mandi.
    Alena selalu merasa kecil jika disuruh bernyanyi dan sekarang dia harus menyanyi didepan semua anak angkatannya ada Aldi pula. Reya kurang asem, umpat Alena dalam hati.

    “Ayo naik ke atas panggung, Al. Lagunya sudah diputuskan, dan aku yakin kamu bisa menyanyikannya.” ucap Reya yakin
    “Re, ya ampun, aku nggak bisa nyanyi.” jawab Alena pasrah saat sudah diatas panggung.
    “Ini permintaan khusus dari Aldi loh.” jawab Reya enteng.
    Melihat banyak orang yang melihat dan menjadikannya pusat perhatian membuat badan Alena menjadi panas dingin tidak karuan.
    “Ayo Alena, hitung-hitung buat latihan percaya diri.” batin Alena menyemangatinya. Setelah mengehela nafas berkali-kali akhirnya Alena memutuskan untuk menerima uluran microphone dari Reya. Dan dengan menyebalkannya, Aldi berdiri tepat di barisan terdepan. Tapi anehnya bukannya membuat Alena salah tingkah seperti dulu, tetapi malah membuat Alena lebih tenang. Dan lagu When We Were Young milik Adele sudah mengalun dengan indahnya dari bibir mungil Alena.

    “I was so scared to face my fears. Cause nobody told me that you’d be here. And I swore you moves overseas. That’s what you said when you left me.” beberapa baris lagu memang berhasil menyindir Alena, seakan lagu itu memang seharusnya dinyanyikan oleh Alena.
    Alena berhasil menyanyikan lagu itu dengan indah dan sukses membuat pendengarnya tersentuh.
    “When we were young.” lirik terakhir dari lagu tersebut dinyanyikan oleh Alena lambat lambat.
    Perlahan, tepuk tangan mulai menggemuruh memenuhi telinga Alena, semua mata memandang ke arah Alena terpesona tapi seorang Alena hanya akan memandang ke satu arah, Aldi. Aldi tersenyum simpul yang dibalas senyuman juga oleh Alena.
    “Wow, suaramu sangat indah, Al.” puji Reya
    “Ah kamu bisa saja, Re.” pipi Alena merona karena pujian yang dilontarkan Reya. Tapi saat melihat ke arah Aldi, sudah tidak ada Aldi disana,
    “Oh iya sepertinya tadi kamu menghayati sekali. Memang itu lagu berkesan buat kamu?” tanya Reya
    “Iya iya enggak sih, Re. Tapi udah ah, aku turun ya.” pamit Alena yang kemudian terlonjak kaget saat mendapati Aldi di belakangnya membawa se bucket bunga mawar putih.

    “Buat kamu, Al.” ucap Aldi lembut, Alena yang masih tidak percaya dengan apa yang Aldi lakukan hanya bisa mengambil alih bunga itu dari tangan Aldi.
    Kemudian Aldi mulai berlutut dengan sebelah kakinya, dan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya
    “Al, jangan potong ucapanku dan dengarkan saja. Okay?” tanya Aldi dibalas dengan anggukan dari Alena
    “Sudah 6 tahun yang lalu, saat aku pertama kali melihatmu masuk sekolah. Pertama kali aku merasa jantungku bekerja tidak normal, melihat kamu yang duduk di pojok ruangan dan tertawa dengan teman-teman yang lain. Alena, sejak dulu aku menyukaimu, bahkan mencintaimu. Perasaan bersalah karena membuat persahabatanmu dan Dhea berantakan menghantuiku, karena itu aku mencoba kuliah diluar negeri, keberadaanku yang jauh bukan berarti aku bisa menghapuskan perasaanku malah membuatnya semakin besar. Aku mencintaimu Alena, setiap hari. Maukah kau menjadi pacarku?” ucap Aldi dengan mengulurkan cincin bermata berlian yang sangat indah. Alena terkejut, ternyata selama ini Aldi juga mempunyai perasaan yang sama kepadanya, dia senang akan hal itu. Tapi di sisi lain, Alena merasa ragu karena takut Dhea masih memiliki perasaan pada Aldi. Alena bimbang dan hanya bisa menatap mata Aldi yang sialnya tidak ada tanda-tanda kebohongan didalamnya. Sorot matanya masih setajam dulu, hanya saja sekarang terlihat sangat meneduhkan.
    Pelan Alena merasa ada yang menepuk bahunya
    “Cepat, Al dijawab. Kasihan Aldinya posisi gitu nggak enak loh.” ucap Dhea bersemangat
    “Dhe…”
    “Udah, itu masa lalu. Aku tahu kamu sahabat yang baik dan sekarang aku minta kekamu, berbahagialah Al. Kebahagiaanmu sudah menunggu. Jangan pernah ragu apalagi menyerah, terus berjuang meskipun sulit. Aku akan selalu mendukungmu, sebagai teman, sahabat, saudara, dan orang yang melihat perjalanan hidupmu selama ini.” Dhea berhasil mengungkapkan kata hatinya dengan lancar tanpa ada gangguan. Dia ingin Alena berbahagia dengan Aldi.
    Melihat Dhea yang bersungguh-sungguh, Alena akhirnya menyerah juga. Dia menatap Aldi dan mengangguk.
    “Iya, Di. Aku mau.” ucap Alena kemudian

    Aldi yang mendengar jawaban Alena sama seperti yang dia inginkan merasa sangat senang. Langsung direngkuhlah Alena menuju kepelukannya. Kini cinta antara mereka tidak akan mereka batasi, apalagi mereka paksa untuk mati. Karena sejatinya, cinta tidak akan menuju orang yang salah, setiap cinta yang diberikan pasti memiliki alasan. Dan persahabatan antara Dhea dan Alena tetap berjalan seperti yang seharusnya tanpa adanya halangan lagi.

    Cerpen Karangan: Rima Wijayanti

    Artikel Terkait

    Perjalanan Cinta Alena (Part 2)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email