Judul Cerpen Perjalanan Cinta Alena (Part 1)
Dan lagi, air mata Alena mengalir deras di malam ini. Kembali otaknya memutar apa saja hal yang sudah dia lakukan dan semua itu terbuang sia-sia.
“Hentikan. Aku harus bisa. Ayolah Al, kamu pasti bisa. Hanya segitu. Hanya berubah. Merubah hati kan tidak sulit.” berbagai rangkaian kata dia ucapkan untuk mengobati sedikit luka hatinya. Dengan percaya diri Alena menghapus air matanya, mencoba tersenyum. Tapi, tanpa disuruh otaknya kembali memutar kejadian beberapa tahun lalu saat dia melihat seorang cowok datang ke kelasnya, kemudian dia memenangkan suara saat pemilihan ketua kelas. Tanpa dia sadari, dia juga sudah memenangkan hati Alena saat pertama kali dia menginjakkan kakinya di kelas X-6.
Dia Aldiano Rahardian. Cowok jangkung dengan kulit putih dan lesung pipit yang membuatnya semakin terlihat tampan. Ditambah lagi dengan satu tahi lalat di bawah mata kirinya yang semakin meningkatkan pesonanya. Bukan hanya Alena saja yang terpesona, hampir semua murid perempuan SMA Brantawijaya mengidolakan Aldi. Kemudian otaknya beralih memutar kejadian beberapa jam yang lalu saat dia melihat Aldi berpelukan dengan Dhea, sahabat dekatnya. Ingatan yang terakhir itu membuat air mata Alena kembali turun, bahkan mengalir sangat deras.
“Al, kemarin kenapa pulang cepat? Sakit?” tanya Dhea sahabat Alena. Memang setelah kejadian Aldi berpelukan dengan Dhea, Alena langsung pamit pulang cepat.
“Ah enggak, Dhe. Kemarin ada acara aja.” Alena memaksakan senyumnya.
“Oh aku kira sakit. Eh Al, tau nggak? Aku kemarin jadian sama Aldi. Oh My God, aku nggak nyangka aku bakalan bisa jadian sama Aldi. Bayangin Al, ya ampun.” cerocos Dhea panjang lebar, tanpa dia sadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya sangat melukai Alena. Mati-matian Alena menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Oh ya? Ya ampun selamat ya, Dhe. Aku ikut seneng deh.” ucap Alena dengan suara yang sedikit serak menahan tangis.
“Kemarin Aldi juga meluk aku, Al. Rasanya tu kayak dicintai banget gitu.” ungkap Dhea lagi.
“Ya Aldi so sweet banget ya.” sahut Alena pelan. Air matanya siap tumpah kapan saja.
“Oh iya aku ke toilet dulu ya, Dhe.” pamit Alena
Sampai di toilet, tangis Alena pecah. Tidak semudah itu menghilangkan perasaannya pada Aldi. Tidak semudah itu merelakan orang yang dia cintai untuk sahabatnya. Tidak semudah itu menerima kenyataan dengan lapang dada. Alena menangis memeluk dirinya. Seandainya, dia segera mengungkapkan perasaannya ke Aldi. Seandainya, dia lebih dekat dengan Aldi. Seandainya Aldi tidak pacaran dengan Dhea. Seandainya bukan Dhea. Seandainya dia tidak memendam perasaannya. Segala kemungkinan Alena mainkan di dalam otaknya. Kepalanya penuh dengan kata, seandainya. Sudah hampir setengah jam Alena mengurung dirinya di toilet. Sudah terlalu lama untuk ukuran seorang yang pamit ke toilet, akhirnya dia menyudahi kegiatannya menangisi kebodohannya. Tak lupa Alena memoleskan sedikit make up tipis untuk menyamarkan bekas sembab di matanya.
“Eh, Al lama banget di toiletnya. Dicariin Dhea tuh.” ucap Dina yang tidak sengaja lewat di dekat toilet.
“Iya? Tau dimana Dhea sekarang?” tanya Alena
“Iya tau. Tadi sih duduk di dekat kelas 12 IPA 6. Samperin aja kesana.” jawab Dina
“Okay deh. Makasih ya, Din.” ucap Alena sambil memamerkan senyum manisnya.
Sekarang dia sudah kelas 12 jadi awal semua kesedihannya adalah 2 tahun yang lalu. Alena kemudian menghampiri Dhea ke depan kelas 12 IPA 6. Dhea tidak sendiri disana. Ada seorang yang sangat Alena kenal, baik dari penglihatan Alena ataupun dari hati Alena dia sangat mengenal seorang itu. ALDIANO RAHARDIAN. Melihat ada Aldi disana membuat langkah Alena terhenti sejenak. Ragu akan meneruskan langkahnya atau berbalik untuk pulang.
“Harus dihadapi kan. Toh kalau bukan sekarang pasti juga besok-besok terjadi. Nggak mungkin bisa lari terus.” pikir Alena. Kalimat itu terus dia tanamkan di pikiran maupun hatinya. Akhirnya kakinya meneruskan langkahnya.
“Hai, Al.” sapa Aldi ramah
“Hai, Di. Dhea mana?” tanya Alena
“Tadi baru beli makanan sama Lisa. Nggak tau sih beli dimana. Tapi lama banget.” keluh Aldi
Alena terdiam. Seperti inikah perhatian seorang Aldi? Tanpa dia sadari, matanya menelusuri lekuk wajah Aldi. Dari rambutnya yang berwarna hitam legam sangat kontras dengan kulit putihnya. Menuju ke dahinya yang rata. Turun ke matanya yang berwarna coklat. Mata yang selalu menatap dalam seakan bisa masuk dan melihat ke dalam mata lawan bicaranya. Kemudian tahi lalat di bawah mata Aldi, Alena paling suka dengan tahi lalat itu. Lalu hidung Aldi yang tidak begitu mancung tapi bagi Alena itu indah. Dan bibir Aldi yang selalu tersenyum dan akan memperlihatkan lesung pipitnya. Hampir sempurna, karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini.
“Hei, Al. Hoi!” panggil Aldi seraya menepuk pipi Alena pelan.
“Eh apa, Di?” jawab Alena tergagap menanggapi perlakuan Aldi tadi
“Aku tanya, kamu mau masuk mana besok kuliah? Udah nentuin jurusan kan? Apa cita-citamu?” tanya Aldi
“Udah. Tapi masih ragu.” jawab Alena pelan
“Apa?”
“Kedokteran Umum.” ‘kamu tau perasaanku ke kamu, itu mimpiku, Di.’ 2 kalimat berbeda yang Alena jawab. Yang satu keluar dari mulutnya dan yang satunya hanya di hatinya.
“Wah. Terus ngapain ragu? Kejar impianmu dong, Al. Jangan ragu, oke? Kamu pasti bisa.” ucap Aldi menyemangati Alena
“Begitu ya? Aku harus berjuang untuk mengejar mimpiku? Tapi apa masih bisa?” tanya Alena entah ditujukan untuk Aldi atau dirinya sendiri.
“Apa masih bisa apa? Kamu pasti bisa lah, Al. Percaya deh sama aku.” jawab Aldi yakin
“Apa masih bisa aku meraih mimpiku? Apa masih ada tempat untukku?” tanya Alena lagi-lagi dengan angan yang melayang jauh
“Pasti, Al. Kamu kan pinter. Kamu pasti bisa lah. Tempat buat kamu pasti masih tersedia.”
“Tapi itu salah satu yang jadi favorit. Salah satu yang disukai orang banyak. Salah satu yang akan dipilih banyak orang.” ucap Alena pesimis. Untuk jurusan juga perasaannya.
“Percaya deh sama aku. Kalau kamu berusaha keras pasti kamu bisa meraih cita-cita dan mimpimu.” sahut Aldi meyakinkan Alena.
“Eh Di, aku pulang dulu ya. Ada jadwal les. Bye, Di.”
Tidak tahan dengan segala sandiwara hatinya, Alena memutuskan untuk pamit pulang. Les? Tidak. Tidak ada jadwal les hari ini, Alena hanya beralasan pada Aldi. Baginya, berlama-lama dekat Aldi membuat jantungnya sangat tidak normal. Bukan hanya jantungnya, hatinya pun juga sangat terluka saat ingat siapa yang ada di depannya.
Setelah kejadian ngobrol dengan Aldi beberapa hari yang lalu, Alena tetap menjaga dirinya agar tidak berurusan lagi dengan Aldi. Untuk seorang Alena, berurusan dengan Aldi adalah mimpi buruk yang sangat menyakitkan. Alena sangat menarik dirinya dari hadapan orang-orang bahkan dari Dhea, sahabatnya. Seperti yang sedang dia lakukan sekarang. Mengurung diri di perpustakaan sekolah dengan bertameng tugas dari Bu Ida.
“Alena!” seru Dani dari arah pintu yang berhasil mendapat perhatian, bukan hanya Alena saja tapi semua yang sedang ada di perpustakaan.
“Ih apaan sih, Dan. Jangan teriak-teriak bisa kali.” sindir Alena dengan berbisik
“Hehe ya gimana kamu udah aku panggil dari tadi tapi nggak jawab-jawab sih. Dasar bolot.” elak Dani
“Sekarang menghina lagi. Udah lah. Mau ngapain kesini?” tanya Alena malas
“Dicari Dhea sama Aldi tuh.” untuk kalimat Dani yang terakhir ini benar-benar membuat tubuh Alena menegang. Bagaimana tidak, mati-matian Alena menghindar dari pasangan itu, tapi malah sekarang mereka mencarinya.
“Aku lagi sibuk ngerjain tugas dari Bu Ida.” jawab Alena pelan sambil melirik ke arah Dani
“Tapi, Len….”
“Bisa pergi nggak sih, Dan? Aku harus ngumpulin tugas ini sekarang.” potong Alena yang kembali terfokus ke coretan-coretan tangannya.
“Tugas apa? Tugas memikirkan Aldi seharian dan mengurung diri di perpustakaan?” sindir Dani
“D-darimana kamu tahu kalau…”
“Menurutmu selama ini aku nggak perhatiin kamu, Len? Setiap gerak-gerik kamu setiap sama Aldi. Tatapan kamu ke Aldi. Ucapanmu yang sangat lembut ke Aldi. Menurutmu aku nggak tahu semua itu?” tanya Dani yang sudah tersulut emosi.
“Terus kenapa? Nggak ada hubungannya sama kamu.” ucap Alena kemudian meninggalkan Dani dan ke luar dari perpustakaan. Dani pun menyusul Alena segera.
“Len. Tunggu.” panggil Dani. Alena berhenti dan berbalik.
“Dan berhenti panggil aku ‘Len’.” ucap Alena menegaskan. Emosinya juga sudah memuncak. Dia tidak suka panggilan itu. Dia muak dengan panggilan itu.
“Kenapa? Kenapa aku nggak boleh panggil kamu Len? Karena Aldi manggil kamu Al? Biar kamu sama Aldi sama-sama bisa dipanggil Al? Cih.” Dani melemparkan tatapan jijik ke arah Alena. Sedikitpun tidak, bukan alasan itu yang menyebabkan Alena tidak suka dipanggil Len. Bahkan dia tidak terpikirkan alasan Dani itu.
“Itu semua bukan urusanmu.” ucap Alena terisak, air matanya turun deras. Sudah hampir seminggu dia mempertahankan agar tidak ada air mata lagi yang tumpah. Kini, detik ini, karena panggilan yang memuakkan itu, karena Dani, pertahanan Alena runtuh. Semua rasa sakit yang dia rasakan, yang dia tahan selama ini larut bersama air matanya.
“Eh. Bukan itu maksud aku, Len.” Dani melunak, bukan hanya melunak lagi perasaan bersalah kini menggantikan semua emosinya. Emosi yang menggebu tadi terganti oleh perasaan bersalah dan kesakitan melihat perempuan yang dia sayang menangis.
“Maaf. Aku minta maaf.” ucap Dani sungguh-sungguh.
“Kamu jahat, Dan. Menurutmu selama ini aku serendah itu? Semua karena Aldi? Bahkan panggilan, kebiasaan, semua itu karena Aldi? Enggak Dan bukan itu. Mama aku, sebelum dia pergi dia selalu manggil aku Len. Dan sekarang mama pergi, memilih hidup dengan orang lain. Karena itu aku benci panggilan itu. Aku muak dengernya.” ungkap Alena. Dia sangat sangat sangat sedih saat ini. Entah apa yang di pikirannya. Dia bahkan memendam cerita ini dalam-dalam. Bukan hanya pada orang lain, sahabatnya pun tidak tahu menahu tentang mama Alena. Tapi saat ini dia menceritakan semuanya pada Dani, seorang yang hanya dia anggap sebagai teman.
“Maaf, Len eh Al.” ucap Dani merasa bersalah. Alena masih menangis. Dan Danu memberanikan diri untuk mendekati Alena, memeluk perempuan itu erat-erat. Ingin menunjukkan seberapa sayang dan bersalahnya dia saat ini.
“Oke. Udah nggak papa. Kamu toh kan nggak tahu tentang itu.” ucap Alena seraya menghapus air matanya dan berusaha tersenyum kemudian melepaskan diri dari pelukan hangat Dani.
“Tapi tetep aja, maafin aku karena udah kasar sama kamu tadi.” ucap Dani menundukkan pandangannya.
“Hei hei. Nggak apa apa, Dan. Serius deh.” ucap Alena kemudian tersenyum manis, dia merasa seakan setengah dari bebannya terangkat
“Tapi tadi kok kamu langsung meluk-meluk sih? Dasar.” nyinyir Alena
“Eh itu…” Dani terdiam sebentar bingung apa yang harus dia jawab kemudian akhirnya menyahut lagi
“Refleks.” singkat, padat, dan jelas. Alena hanya mendengus geli
“Udah deh ayo anterin aku pulang karena kamu udah buat aku nangis tadi. Itu hukuman ya, Dan. Jangan melarikan diri” ancam Alena. Dani terkekeh. Bahkan walaupun itu hukuman tapi terasa seperti hadiah bagi Dani.
“Mari pulang, tuan puteri.” ajak Dani bergaya bak sang pangeran dari negeri dongeng. Alena tertawa melihat Dani dan Dani pun ikut tersenyum melihat Alena tertawa. Mereka kemudian pulang. Tanpa mereka sadari, dibalik tembok ada seorang yang bersembunyi dan terkejut dengan apa yang baru saja dia dengarkan. Kemudian seorang itu tertawa sinis. Segala rencana jahat sudah dia siapkan untuk membuat Alena menderita.
Pagi hari di sekolah, saat Alena sampai di sekolah, semua yang ia lihat diperjalanan menatapnya dengan berbagai arti. Jijik, iba, merendahkan, dan yang lainnya. Alena merasa aneh dengan semua yang terjadi. Sampai di kelas,
“Dasar murahan!”
“Dasar penghianat!”
“Munafik!”
Segala teriakan lainnya yang menyambut Alena saat memasuki kelas membuat Alena terkejut. Dia mematung di depan pintu saat melihat teman-temannya memandangnya dengan pandangan bermusuhan. ‘Apa yang terjadi?’ hanya pertanyaan itu yang ada di otak Alena sekarang.
“Heh penghianat, udah deh jangan sok alim lagi. Pacar sahabat sendiri diembat. Iuh banget nggak sih.” begitulah kira-kira kalimat pedas yang dilontarkan seisi kelas. Semua memandang Alena seperti kotoran yang harus dimusnahkan saat ini juga. Telinga Alena berhenti menjalankan fungsinya. Hanya ada 3 kata yang meresap sampai di otaknya. Penghianat. Sahabat. Pacar. Apa maksud semua itu?
Krrriiiggg…
Bel masuk berbunyi menyadarkan Alena bahwa sebentar lagi hidupnya akan berubah. Tidak akan setenang dulu.
“Untung ada bel. Selamat deh hidupmu.” ucap salah seorang perempuan bernama Helen.
Kemudian seorang guru memasuki kelas. Alena duduk di bangkunya biasa. Palajaran terasa sangat mengerikan bagi Alena. Tapi lebih mengerikan lagi saat tidak ada guru di kelas. Kemudian tanpa dia duga, Rani, mendekatinya.
“Al, kamu gila banget.” ucap Rani
“Gila apa sih, Ran? Aku nggak ngerti kenapa temen-temen jadi kayak gini.” sahut Alena jujur.
“Kamu nggak tahu? Ada rekaman pembicaraanmu sama seorang cowok. Intinya kamu suka sama Aldi padahal Aldi itu pacar Dhea, sahabatmu sendiri.” ucapan Rani seakan memberikan pukulan di dada Alena. ‘Siapa yang merekam? Seorang cowok? Apa itu Dani?’ pertanyaan demi pertanyaan muncul di otak Alena.
Melihat Alena yang hanya terdiam akhirnya Rani meninggalkan Alena. Setidaknya Rani sudah memberitahu apa yang ingin Alena ketahui.
Jam pelajaran berlangsung sangat lama bagi Alena, sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Disaat ingin berberes buru kemudian pulang, Alena merasa sakit di bagian belakang kepalanya. Rambutnya dijambak oleh Seira, dengan senyum kemenangan Seira terus memaki Alena.
“Ini pembalasan bagi penghianat.” ucap Seira sinis.
“Seira stop!” suara familiar segera masuk ke telinga Alena. Suara dia. Orang yang ingin dia hindari. Saat Alena lihat, memang benar dia ada disana, dengan pacarnya tentu saja. Aldi.
“Apa sih, Di. Lihat nih, aku lagi ngasih pembalasan ke orang yang mau ngerusak hubungan kalian.” Seira jengkel karena kesenangannya baru saja diganggu. Sedangkan Dhea, dia menghampiri Alena. Saat sampai didepan Alena, dia diam sejenak.
PLAAAKKKK
Tamparan Dhea sukses mengenai pipi Alena. Mata Alena kebas, ingin segera mengeluarkan air matanya. Tamparan itu seakan membuktikan seberapa tidak pantasnya dia dan seberapa buruknya dia di hadapan orang lain. Tamparan dari sahabatnya sendiri.
“Dhea!” tegur Aldi
“Kamu tu sahabat aku, Al. Kamu tega ngelakuin itu ke aku, sahabatmu sendiri? Atau kamu emang nggak pernah nganggep aku sebagai sahabatmu?” Dhea terisak
“Bukan gitu, Dhe. Aku nganggap kamu sahabat aku, bahkan udah kayak keluarga.” jawab Alena
“Kamu mau ngerebut Aldi dari aku? Tidak akan bisa! Aldi milikku.” terang Dhea yang membuat hati Alena melilit. Alena tahu fakta itu, tapi diucapkan secara gamblang oleh Dhea membuat Alena semakin menciut.
“Kamu salah, Dhe!” suara bariton seorang memecah semua emosi yang tercipta.
“Dani.” gumam Alena
“Apa maksud kamu, Dan?” tanya Dhea bingung
“Kamu salah, Dhe. Dalam hal ini, kamu yang salah. Kamu yang merebut Aldi dari Alena.” semua ketidakadilan yang dialami Alena diucapkan oleh Dani
“Ma-maksud kamu?” tanya Dhea ragu
“Sejak awal, Aldi memang sudah dekat dengan Alena. Kamu tahu, sejak awal pun Alena juga sudah menyukai Aldi. Kamu yang tiba-tiba datang dan mendekati Aldi. Mengambil semua harapan yang Alena punya. Itu fakta yang selama ini tidak kamu lihat.” ungkap Dani dengan emosi saat harus menjelaskan secara rinci apa saja yang Alena alami. Sedangkan Dhea, dia menegang. Tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan. Dan yang dirasakan Aldi adalah penyesalan, ketakutan, dan harapan yang menguap. Perasaan yang selama ini dia pendam ternyata terbalaskan. Seandainya saja dia lebih bisa bersabar. Seandainya saja dia lebih bisa mengerti dan terus mengharapkan Alena. Mungkin semua ini tidak akan terjadi.
“Sekarang kamu bisa berpikir, Dhe. Siapa yang menjadi tokoh antagonis di dalam cerita ini. Alena bahkan tidak pernah sedikitpun menuntut agar Aldi membalas perasaannya. Dia hanya memendam, yang dilakukannya selama ini hanya memendam perasaannya dalam-dalam dan menekannya sebisa mungkin. Karena dia tahu, Aldi itu milikmu!” Dani menjelaskan semuanya dengan lebih tenang. Bukan hanya Dhea yang meresapi kata-kata Dani, tapi Dani pun juga begitu. Menegaskan pada dirinya sendiri bahwa Alena bukan miliknya dan tidak pernah menjadi miliknya.
“Tapi kenapa Alena tidak mengatakannya padaku?” tanya Dhea yang masih saja mengelak kenyataan
“Sadar, Dhe. Ini semua buat kamu. Karena Alena tidak mau kamu tersakiti, dia tidak mau kamu menangis karena cinta. Dia merelakan cintanya untuk sahabatnya. Dia membuang jauh perasaannya untuk sahabatnya.” Dani menekankan kata demi kata agar Dhea sadar, disini bukan hanya Dhea yang tersakiti. Alena pun lebih tersakiti.
“Sejak kapan kamu suka sama dia?” tanya Dhea yang ditujukan ke Alena. Dhea masih menunduk, seakan takut untuk melihat Alena.
Melihat Alena yang bungkam, Dani mengambil alih pertanyaan itu
“Apa kamu mau aku yang jawab, Al?” tanya Dani
“Tidak. Biar aku yang jawab.”
Setelah Alena menghela nafas dan yakin bahwa dirinya siap, kemudian rentetan kata demi kata kejujuran keluar dari Alena
“Sejak pertama kali masuk kelas 10. Eh bukan, bahkan sebelum itu. Waktu kelas 9, temanku berbicara tentang seorang cowok yang menjadi THE MOST WANTED di sekolahnya. Orangnya tinggi, semua olahraga dia mampu, dengan fisik yang hampir sempurna. Aldiano Rahardian. Sebelum masuk SMA aku sudah tahu seorang yang bernama Aldiano Rahardian. Tanpa pernah terpikirkan, dia masuk kekelas dimana aku juga ada didalamnya. Saat dia memperkenalkan diri, aku ingat apa yang dikatakan temanku lalu aku bertanya dalam hati ‘oh jadi ini yang bernama Aldi.’. Aku juga tidak pernah meminta untuk diberikan perasaan ke Aldi. Perasaan itu datang dengan sendirinya. Saat kita dekat, aku merasa sangat nyaman. Aku minta maaf, Dhe. Tapi aku harus mengakhiri semuanya. Dan saat kamu memberitahuku kalau kamu juga menyukainya, bisa kamu bayangkan perasaanku? Tapi aku tidak mau menjadi egois, melihat Aldi bahagia dari jauh saja sudah cukup untukku. Tidak perlu sampai dia balik menyukaiku. Dan ternyata dia juga menyukaimu bahkan sekarang kalian sampai berpacaran. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku meminta maaf karena aku tidak jujur ke kamu, Dhe. Dan maaf aku sudah membuatmu sakit, Dhe. Maaf. Tapi aku benar-benar baik sekarang setelah mengatakan semuanya. Jadi kalian bisa berpacaran seperti biasa dan kita bisa berteman seperti biasa.” Alena menjelaskan semuanya ke Dhea. Alena menundukkan kepalanya. Air matanya sudah menetes dari tadi, tapi dia tetap mencoba tersenyum.
“Kenapa kamu meminta maaf?” tanya Dhea pelan. Alena hanya menggelengkan kepalanya, air mata terus turun dari mata indahnya.
“Aku yang salah, Al. Aku yang egois, aku nggak sadar apa yang udah kamu lalui. Aku yang hanya peduli dengan urusanku sendiri.” tangis Dhea pecah saat itu juga.
“Enggak, Dhe. Kamu nggak salah kok. Maafin aku ya, Dhe.” kemudian mereka saling memeluk, menyampaikan rasa bersalah mereka masing-masing. Aldi? Dia masih bungkam melihat Dhea dan Alena. Dani? Dia lega karena dia tidak harus melihat penderitaan Alena lagi. Sudah cukup beberapa tahun ini saja.
Setelah kejadian saling berpelukan dan meminta maaf, Alena dan Dhea kembali merajut hubungan mereka yang sempat retak. Memperbaiki hubungan agar tercipta persahabatan yang lebih erat lagi. Dhea sudah berhenti berpacaran dengan Aldi, tanpa dipaksa pun Aldi juga sudah menyetujuinya. Karena memang pada dasarnya Alena lah cinta pertamanya yang kemudian datanglah Dhea sebagai pengganti Alena, meski sekarang Aldi sadar Dhea bukanlah pengganti Alena. Dhea ya hanyalah Dhea, sahabatnya yang dia sukai. Bukan dalam artian yang lebih dalam. Alena? Dia lah yang tetap menjadi pemilik hati Aldi. Sejak saat itu, semua menjadi berbeda, memang tidak semua anak yang berteman dengan Alena bahkan beberapa anak masih mengusiknya. Tapi, Alena merasa sudah lebih dari cukup, diberikan sahabatnya kembali saja sudah cukup apalagi dia sudah mengungkapkan semuanya ke Aldi. Serasa semua beban yang Alena tanggung selama ini hilang. Alena tetap seperti biasa, hanya saja Aldi yang menjauh. Aldi merasa bersalah, karena dia hubungan Alena dan Dhea menjadi tidak baik, dia selalu menghindari hal-hal yang berbau Alena apalagi Dhea. Karena perasaan dia sadar ternyata perasaannya pada Dhea bukan seperti yang dia pikirkan.
Cerpen Karangan: Rima Wijayanti
Dan lagi, air mata Alena mengalir deras di malam ini. Kembali otaknya memutar apa saja hal yang sudah dia lakukan dan semua itu terbuang sia-sia.
“Hentikan. Aku harus bisa. Ayolah Al, kamu pasti bisa. Hanya segitu. Hanya berubah. Merubah hati kan tidak sulit.” berbagai rangkaian kata dia ucapkan untuk mengobati sedikit luka hatinya. Dengan percaya diri Alena menghapus air matanya, mencoba tersenyum. Tapi, tanpa disuruh otaknya kembali memutar kejadian beberapa tahun lalu saat dia melihat seorang cowok datang ke kelasnya, kemudian dia memenangkan suara saat pemilihan ketua kelas. Tanpa dia sadari, dia juga sudah memenangkan hati Alena saat pertama kali dia menginjakkan kakinya di kelas X-6.
Dia Aldiano Rahardian. Cowok jangkung dengan kulit putih dan lesung pipit yang membuatnya semakin terlihat tampan. Ditambah lagi dengan satu tahi lalat di bawah mata kirinya yang semakin meningkatkan pesonanya. Bukan hanya Alena saja yang terpesona, hampir semua murid perempuan SMA Brantawijaya mengidolakan Aldi. Kemudian otaknya beralih memutar kejadian beberapa jam yang lalu saat dia melihat Aldi berpelukan dengan Dhea, sahabat dekatnya. Ingatan yang terakhir itu membuat air mata Alena kembali turun, bahkan mengalir sangat deras.
“Al, kemarin kenapa pulang cepat? Sakit?” tanya Dhea sahabat Alena. Memang setelah kejadian Aldi berpelukan dengan Dhea, Alena langsung pamit pulang cepat.
“Ah enggak, Dhe. Kemarin ada acara aja.” Alena memaksakan senyumnya.
“Oh aku kira sakit. Eh Al, tau nggak? Aku kemarin jadian sama Aldi. Oh My God, aku nggak nyangka aku bakalan bisa jadian sama Aldi. Bayangin Al, ya ampun.” cerocos Dhea panjang lebar, tanpa dia sadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya sangat melukai Alena. Mati-matian Alena menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Oh ya? Ya ampun selamat ya, Dhe. Aku ikut seneng deh.” ucap Alena dengan suara yang sedikit serak menahan tangis.
“Kemarin Aldi juga meluk aku, Al. Rasanya tu kayak dicintai banget gitu.” ungkap Dhea lagi.
“Ya Aldi so sweet banget ya.” sahut Alena pelan. Air matanya siap tumpah kapan saja.
“Oh iya aku ke toilet dulu ya, Dhe.” pamit Alena
Sampai di toilet, tangis Alena pecah. Tidak semudah itu menghilangkan perasaannya pada Aldi. Tidak semudah itu merelakan orang yang dia cintai untuk sahabatnya. Tidak semudah itu menerima kenyataan dengan lapang dada. Alena menangis memeluk dirinya. Seandainya, dia segera mengungkapkan perasaannya ke Aldi. Seandainya, dia lebih dekat dengan Aldi. Seandainya Aldi tidak pacaran dengan Dhea. Seandainya bukan Dhea. Seandainya dia tidak memendam perasaannya. Segala kemungkinan Alena mainkan di dalam otaknya. Kepalanya penuh dengan kata, seandainya. Sudah hampir setengah jam Alena mengurung dirinya di toilet. Sudah terlalu lama untuk ukuran seorang yang pamit ke toilet, akhirnya dia menyudahi kegiatannya menangisi kebodohannya. Tak lupa Alena memoleskan sedikit make up tipis untuk menyamarkan bekas sembab di matanya.
“Eh, Al lama banget di toiletnya. Dicariin Dhea tuh.” ucap Dina yang tidak sengaja lewat di dekat toilet.
“Iya? Tau dimana Dhea sekarang?” tanya Alena
“Iya tau. Tadi sih duduk di dekat kelas 12 IPA 6. Samperin aja kesana.” jawab Dina
“Okay deh. Makasih ya, Din.” ucap Alena sambil memamerkan senyum manisnya.
Sekarang dia sudah kelas 12 jadi awal semua kesedihannya adalah 2 tahun yang lalu. Alena kemudian menghampiri Dhea ke depan kelas 12 IPA 6. Dhea tidak sendiri disana. Ada seorang yang sangat Alena kenal, baik dari penglihatan Alena ataupun dari hati Alena dia sangat mengenal seorang itu. ALDIANO RAHARDIAN. Melihat ada Aldi disana membuat langkah Alena terhenti sejenak. Ragu akan meneruskan langkahnya atau berbalik untuk pulang.
“Harus dihadapi kan. Toh kalau bukan sekarang pasti juga besok-besok terjadi. Nggak mungkin bisa lari terus.” pikir Alena. Kalimat itu terus dia tanamkan di pikiran maupun hatinya. Akhirnya kakinya meneruskan langkahnya.
“Hai, Al.” sapa Aldi ramah
“Hai, Di. Dhea mana?” tanya Alena
“Tadi baru beli makanan sama Lisa. Nggak tau sih beli dimana. Tapi lama banget.” keluh Aldi
Alena terdiam. Seperti inikah perhatian seorang Aldi? Tanpa dia sadari, matanya menelusuri lekuk wajah Aldi. Dari rambutnya yang berwarna hitam legam sangat kontras dengan kulit putihnya. Menuju ke dahinya yang rata. Turun ke matanya yang berwarna coklat. Mata yang selalu menatap dalam seakan bisa masuk dan melihat ke dalam mata lawan bicaranya. Kemudian tahi lalat di bawah mata Aldi, Alena paling suka dengan tahi lalat itu. Lalu hidung Aldi yang tidak begitu mancung tapi bagi Alena itu indah. Dan bibir Aldi yang selalu tersenyum dan akan memperlihatkan lesung pipitnya. Hampir sempurna, karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini.
“Hei, Al. Hoi!” panggil Aldi seraya menepuk pipi Alena pelan.
“Eh apa, Di?” jawab Alena tergagap menanggapi perlakuan Aldi tadi
“Aku tanya, kamu mau masuk mana besok kuliah? Udah nentuin jurusan kan? Apa cita-citamu?” tanya Aldi
“Udah. Tapi masih ragu.” jawab Alena pelan
“Apa?”
“Kedokteran Umum.” ‘kamu tau perasaanku ke kamu, itu mimpiku, Di.’ 2 kalimat berbeda yang Alena jawab. Yang satu keluar dari mulutnya dan yang satunya hanya di hatinya.
“Wah. Terus ngapain ragu? Kejar impianmu dong, Al. Jangan ragu, oke? Kamu pasti bisa.” ucap Aldi menyemangati Alena
“Begitu ya? Aku harus berjuang untuk mengejar mimpiku? Tapi apa masih bisa?” tanya Alena entah ditujukan untuk Aldi atau dirinya sendiri.
“Apa masih bisa apa? Kamu pasti bisa lah, Al. Percaya deh sama aku.” jawab Aldi yakin
“Apa masih bisa aku meraih mimpiku? Apa masih ada tempat untukku?” tanya Alena lagi-lagi dengan angan yang melayang jauh
“Pasti, Al. Kamu kan pinter. Kamu pasti bisa lah. Tempat buat kamu pasti masih tersedia.”
“Tapi itu salah satu yang jadi favorit. Salah satu yang disukai orang banyak. Salah satu yang akan dipilih banyak orang.” ucap Alena pesimis. Untuk jurusan juga perasaannya.
“Percaya deh sama aku. Kalau kamu berusaha keras pasti kamu bisa meraih cita-cita dan mimpimu.” sahut Aldi meyakinkan Alena.
“Eh Di, aku pulang dulu ya. Ada jadwal les. Bye, Di.”
Tidak tahan dengan segala sandiwara hatinya, Alena memutuskan untuk pamit pulang. Les? Tidak. Tidak ada jadwal les hari ini, Alena hanya beralasan pada Aldi. Baginya, berlama-lama dekat Aldi membuat jantungnya sangat tidak normal. Bukan hanya jantungnya, hatinya pun juga sangat terluka saat ingat siapa yang ada di depannya.
Setelah kejadian ngobrol dengan Aldi beberapa hari yang lalu, Alena tetap menjaga dirinya agar tidak berurusan lagi dengan Aldi. Untuk seorang Alena, berurusan dengan Aldi adalah mimpi buruk yang sangat menyakitkan. Alena sangat menarik dirinya dari hadapan orang-orang bahkan dari Dhea, sahabatnya. Seperti yang sedang dia lakukan sekarang. Mengurung diri di perpustakaan sekolah dengan bertameng tugas dari Bu Ida.
“Alena!” seru Dani dari arah pintu yang berhasil mendapat perhatian, bukan hanya Alena saja tapi semua yang sedang ada di perpustakaan.
“Ih apaan sih, Dan. Jangan teriak-teriak bisa kali.” sindir Alena dengan berbisik
“Hehe ya gimana kamu udah aku panggil dari tadi tapi nggak jawab-jawab sih. Dasar bolot.” elak Dani
“Sekarang menghina lagi. Udah lah. Mau ngapain kesini?” tanya Alena malas
“Dicari Dhea sama Aldi tuh.” untuk kalimat Dani yang terakhir ini benar-benar membuat tubuh Alena menegang. Bagaimana tidak, mati-matian Alena menghindar dari pasangan itu, tapi malah sekarang mereka mencarinya.
“Aku lagi sibuk ngerjain tugas dari Bu Ida.” jawab Alena pelan sambil melirik ke arah Dani
“Tapi, Len….”
“Bisa pergi nggak sih, Dan? Aku harus ngumpulin tugas ini sekarang.” potong Alena yang kembali terfokus ke coretan-coretan tangannya.
“Tugas apa? Tugas memikirkan Aldi seharian dan mengurung diri di perpustakaan?” sindir Dani
“D-darimana kamu tahu kalau…”
“Menurutmu selama ini aku nggak perhatiin kamu, Len? Setiap gerak-gerik kamu setiap sama Aldi. Tatapan kamu ke Aldi. Ucapanmu yang sangat lembut ke Aldi. Menurutmu aku nggak tahu semua itu?” tanya Dani yang sudah tersulut emosi.
“Terus kenapa? Nggak ada hubungannya sama kamu.” ucap Alena kemudian meninggalkan Dani dan ke luar dari perpustakaan. Dani pun menyusul Alena segera.
“Len. Tunggu.” panggil Dani. Alena berhenti dan berbalik.
“Dan berhenti panggil aku ‘Len’.” ucap Alena menegaskan. Emosinya juga sudah memuncak. Dia tidak suka panggilan itu. Dia muak dengan panggilan itu.
“Kenapa? Kenapa aku nggak boleh panggil kamu Len? Karena Aldi manggil kamu Al? Biar kamu sama Aldi sama-sama bisa dipanggil Al? Cih.” Dani melemparkan tatapan jijik ke arah Alena. Sedikitpun tidak, bukan alasan itu yang menyebabkan Alena tidak suka dipanggil Len. Bahkan dia tidak terpikirkan alasan Dani itu.
“Itu semua bukan urusanmu.” ucap Alena terisak, air matanya turun deras. Sudah hampir seminggu dia mempertahankan agar tidak ada air mata lagi yang tumpah. Kini, detik ini, karena panggilan yang memuakkan itu, karena Dani, pertahanan Alena runtuh. Semua rasa sakit yang dia rasakan, yang dia tahan selama ini larut bersama air matanya.
“Eh. Bukan itu maksud aku, Len.” Dani melunak, bukan hanya melunak lagi perasaan bersalah kini menggantikan semua emosinya. Emosi yang menggebu tadi terganti oleh perasaan bersalah dan kesakitan melihat perempuan yang dia sayang menangis.
“Maaf. Aku minta maaf.” ucap Dani sungguh-sungguh.
“Kamu jahat, Dan. Menurutmu selama ini aku serendah itu? Semua karena Aldi? Bahkan panggilan, kebiasaan, semua itu karena Aldi? Enggak Dan bukan itu. Mama aku, sebelum dia pergi dia selalu manggil aku Len. Dan sekarang mama pergi, memilih hidup dengan orang lain. Karena itu aku benci panggilan itu. Aku muak dengernya.” ungkap Alena. Dia sangat sangat sangat sedih saat ini. Entah apa yang di pikirannya. Dia bahkan memendam cerita ini dalam-dalam. Bukan hanya pada orang lain, sahabatnya pun tidak tahu menahu tentang mama Alena. Tapi saat ini dia menceritakan semuanya pada Dani, seorang yang hanya dia anggap sebagai teman.
“Maaf, Len eh Al.” ucap Dani merasa bersalah. Alena masih menangis. Dan Danu memberanikan diri untuk mendekati Alena, memeluk perempuan itu erat-erat. Ingin menunjukkan seberapa sayang dan bersalahnya dia saat ini.
“Oke. Udah nggak papa. Kamu toh kan nggak tahu tentang itu.” ucap Alena seraya menghapus air matanya dan berusaha tersenyum kemudian melepaskan diri dari pelukan hangat Dani.
“Tapi tetep aja, maafin aku karena udah kasar sama kamu tadi.” ucap Dani menundukkan pandangannya.
“Hei hei. Nggak apa apa, Dan. Serius deh.” ucap Alena kemudian tersenyum manis, dia merasa seakan setengah dari bebannya terangkat
“Tapi tadi kok kamu langsung meluk-meluk sih? Dasar.” nyinyir Alena
“Eh itu…” Dani terdiam sebentar bingung apa yang harus dia jawab kemudian akhirnya menyahut lagi
“Refleks.” singkat, padat, dan jelas. Alena hanya mendengus geli
“Udah deh ayo anterin aku pulang karena kamu udah buat aku nangis tadi. Itu hukuman ya, Dan. Jangan melarikan diri” ancam Alena. Dani terkekeh. Bahkan walaupun itu hukuman tapi terasa seperti hadiah bagi Dani.
“Mari pulang, tuan puteri.” ajak Dani bergaya bak sang pangeran dari negeri dongeng. Alena tertawa melihat Dani dan Dani pun ikut tersenyum melihat Alena tertawa. Mereka kemudian pulang. Tanpa mereka sadari, dibalik tembok ada seorang yang bersembunyi dan terkejut dengan apa yang baru saja dia dengarkan. Kemudian seorang itu tertawa sinis. Segala rencana jahat sudah dia siapkan untuk membuat Alena menderita.
Pagi hari di sekolah, saat Alena sampai di sekolah, semua yang ia lihat diperjalanan menatapnya dengan berbagai arti. Jijik, iba, merendahkan, dan yang lainnya. Alena merasa aneh dengan semua yang terjadi. Sampai di kelas,
“Dasar murahan!”
“Dasar penghianat!”
“Munafik!”
Segala teriakan lainnya yang menyambut Alena saat memasuki kelas membuat Alena terkejut. Dia mematung di depan pintu saat melihat teman-temannya memandangnya dengan pandangan bermusuhan. ‘Apa yang terjadi?’ hanya pertanyaan itu yang ada di otak Alena sekarang.
“Heh penghianat, udah deh jangan sok alim lagi. Pacar sahabat sendiri diembat. Iuh banget nggak sih.” begitulah kira-kira kalimat pedas yang dilontarkan seisi kelas. Semua memandang Alena seperti kotoran yang harus dimusnahkan saat ini juga. Telinga Alena berhenti menjalankan fungsinya. Hanya ada 3 kata yang meresap sampai di otaknya. Penghianat. Sahabat. Pacar. Apa maksud semua itu?
Krrriiiggg…
Bel masuk berbunyi menyadarkan Alena bahwa sebentar lagi hidupnya akan berubah. Tidak akan setenang dulu.
“Untung ada bel. Selamat deh hidupmu.” ucap salah seorang perempuan bernama Helen.
Kemudian seorang guru memasuki kelas. Alena duduk di bangkunya biasa. Palajaran terasa sangat mengerikan bagi Alena. Tapi lebih mengerikan lagi saat tidak ada guru di kelas. Kemudian tanpa dia duga, Rani, mendekatinya.
“Al, kamu gila banget.” ucap Rani
“Gila apa sih, Ran? Aku nggak ngerti kenapa temen-temen jadi kayak gini.” sahut Alena jujur.
“Kamu nggak tahu? Ada rekaman pembicaraanmu sama seorang cowok. Intinya kamu suka sama Aldi padahal Aldi itu pacar Dhea, sahabatmu sendiri.” ucapan Rani seakan memberikan pukulan di dada Alena. ‘Siapa yang merekam? Seorang cowok? Apa itu Dani?’ pertanyaan demi pertanyaan muncul di otak Alena.
Melihat Alena yang hanya terdiam akhirnya Rani meninggalkan Alena. Setidaknya Rani sudah memberitahu apa yang ingin Alena ketahui.
Jam pelajaran berlangsung sangat lama bagi Alena, sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Disaat ingin berberes buru kemudian pulang, Alena merasa sakit di bagian belakang kepalanya. Rambutnya dijambak oleh Seira, dengan senyum kemenangan Seira terus memaki Alena.
“Ini pembalasan bagi penghianat.” ucap Seira sinis.
“Seira stop!” suara familiar segera masuk ke telinga Alena. Suara dia. Orang yang ingin dia hindari. Saat Alena lihat, memang benar dia ada disana, dengan pacarnya tentu saja. Aldi.
“Apa sih, Di. Lihat nih, aku lagi ngasih pembalasan ke orang yang mau ngerusak hubungan kalian.” Seira jengkel karena kesenangannya baru saja diganggu. Sedangkan Dhea, dia menghampiri Alena. Saat sampai didepan Alena, dia diam sejenak.
PLAAAKKKK
Tamparan Dhea sukses mengenai pipi Alena. Mata Alena kebas, ingin segera mengeluarkan air matanya. Tamparan itu seakan membuktikan seberapa tidak pantasnya dia dan seberapa buruknya dia di hadapan orang lain. Tamparan dari sahabatnya sendiri.
“Dhea!” tegur Aldi
“Kamu tu sahabat aku, Al. Kamu tega ngelakuin itu ke aku, sahabatmu sendiri? Atau kamu emang nggak pernah nganggep aku sebagai sahabatmu?” Dhea terisak
“Bukan gitu, Dhe. Aku nganggap kamu sahabat aku, bahkan udah kayak keluarga.” jawab Alena
“Kamu mau ngerebut Aldi dari aku? Tidak akan bisa! Aldi milikku.” terang Dhea yang membuat hati Alena melilit. Alena tahu fakta itu, tapi diucapkan secara gamblang oleh Dhea membuat Alena semakin menciut.
“Kamu salah, Dhe!” suara bariton seorang memecah semua emosi yang tercipta.
“Dani.” gumam Alena
“Apa maksud kamu, Dan?” tanya Dhea bingung
“Kamu salah, Dhe. Dalam hal ini, kamu yang salah. Kamu yang merebut Aldi dari Alena.” semua ketidakadilan yang dialami Alena diucapkan oleh Dani
“Ma-maksud kamu?” tanya Dhea ragu
“Sejak awal, Aldi memang sudah dekat dengan Alena. Kamu tahu, sejak awal pun Alena juga sudah menyukai Aldi. Kamu yang tiba-tiba datang dan mendekati Aldi. Mengambil semua harapan yang Alena punya. Itu fakta yang selama ini tidak kamu lihat.” ungkap Dani dengan emosi saat harus menjelaskan secara rinci apa saja yang Alena alami. Sedangkan Dhea, dia menegang. Tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan. Dan yang dirasakan Aldi adalah penyesalan, ketakutan, dan harapan yang menguap. Perasaan yang selama ini dia pendam ternyata terbalaskan. Seandainya saja dia lebih bisa bersabar. Seandainya saja dia lebih bisa mengerti dan terus mengharapkan Alena. Mungkin semua ini tidak akan terjadi.
“Sekarang kamu bisa berpikir, Dhe. Siapa yang menjadi tokoh antagonis di dalam cerita ini. Alena bahkan tidak pernah sedikitpun menuntut agar Aldi membalas perasaannya. Dia hanya memendam, yang dilakukannya selama ini hanya memendam perasaannya dalam-dalam dan menekannya sebisa mungkin. Karena dia tahu, Aldi itu milikmu!” Dani menjelaskan semuanya dengan lebih tenang. Bukan hanya Dhea yang meresapi kata-kata Dani, tapi Dani pun juga begitu. Menegaskan pada dirinya sendiri bahwa Alena bukan miliknya dan tidak pernah menjadi miliknya.
“Tapi kenapa Alena tidak mengatakannya padaku?” tanya Dhea yang masih saja mengelak kenyataan
“Sadar, Dhe. Ini semua buat kamu. Karena Alena tidak mau kamu tersakiti, dia tidak mau kamu menangis karena cinta. Dia merelakan cintanya untuk sahabatnya. Dia membuang jauh perasaannya untuk sahabatnya.” Dani menekankan kata demi kata agar Dhea sadar, disini bukan hanya Dhea yang tersakiti. Alena pun lebih tersakiti.
“Sejak kapan kamu suka sama dia?” tanya Dhea yang ditujukan ke Alena. Dhea masih menunduk, seakan takut untuk melihat Alena.
Melihat Alena yang bungkam, Dani mengambil alih pertanyaan itu
“Apa kamu mau aku yang jawab, Al?” tanya Dani
“Tidak. Biar aku yang jawab.”
Setelah Alena menghela nafas dan yakin bahwa dirinya siap, kemudian rentetan kata demi kata kejujuran keluar dari Alena
“Sejak pertama kali masuk kelas 10. Eh bukan, bahkan sebelum itu. Waktu kelas 9, temanku berbicara tentang seorang cowok yang menjadi THE MOST WANTED di sekolahnya. Orangnya tinggi, semua olahraga dia mampu, dengan fisik yang hampir sempurna. Aldiano Rahardian. Sebelum masuk SMA aku sudah tahu seorang yang bernama Aldiano Rahardian. Tanpa pernah terpikirkan, dia masuk kekelas dimana aku juga ada didalamnya. Saat dia memperkenalkan diri, aku ingat apa yang dikatakan temanku lalu aku bertanya dalam hati ‘oh jadi ini yang bernama Aldi.’. Aku juga tidak pernah meminta untuk diberikan perasaan ke Aldi. Perasaan itu datang dengan sendirinya. Saat kita dekat, aku merasa sangat nyaman. Aku minta maaf, Dhe. Tapi aku harus mengakhiri semuanya. Dan saat kamu memberitahuku kalau kamu juga menyukainya, bisa kamu bayangkan perasaanku? Tapi aku tidak mau menjadi egois, melihat Aldi bahagia dari jauh saja sudah cukup untukku. Tidak perlu sampai dia balik menyukaiku. Dan ternyata dia juga menyukaimu bahkan sekarang kalian sampai berpacaran. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku meminta maaf karena aku tidak jujur ke kamu, Dhe. Dan maaf aku sudah membuatmu sakit, Dhe. Maaf. Tapi aku benar-benar baik sekarang setelah mengatakan semuanya. Jadi kalian bisa berpacaran seperti biasa dan kita bisa berteman seperti biasa.” Alena menjelaskan semuanya ke Dhea. Alena menundukkan kepalanya. Air matanya sudah menetes dari tadi, tapi dia tetap mencoba tersenyum.
“Kenapa kamu meminta maaf?” tanya Dhea pelan. Alena hanya menggelengkan kepalanya, air mata terus turun dari mata indahnya.
“Aku yang salah, Al. Aku yang egois, aku nggak sadar apa yang udah kamu lalui. Aku yang hanya peduli dengan urusanku sendiri.” tangis Dhea pecah saat itu juga.
“Enggak, Dhe. Kamu nggak salah kok. Maafin aku ya, Dhe.” kemudian mereka saling memeluk, menyampaikan rasa bersalah mereka masing-masing. Aldi? Dia masih bungkam melihat Dhea dan Alena. Dani? Dia lega karena dia tidak harus melihat penderitaan Alena lagi. Sudah cukup beberapa tahun ini saja.
Setelah kejadian saling berpelukan dan meminta maaf, Alena dan Dhea kembali merajut hubungan mereka yang sempat retak. Memperbaiki hubungan agar tercipta persahabatan yang lebih erat lagi. Dhea sudah berhenti berpacaran dengan Aldi, tanpa dipaksa pun Aldi juga sudah menyetujuinya. Karena memang pada dasarnya Alena lah cinta pertamanya yang kemudian datanglah Dhea sebagai pengganti Alena, meski sekarang Aldi sadar Dhea bukanlah pengganti Alena. Dhea ya hanyalah Dhea, sahabatnya yang dia sukai. Bukan dalam artian yang lebih dalam. Alena? Dia lah yang tetap menjadi pemilik hati Aldi. Sejak saat itu, semua menjadi berbeda, memang tidak semua anak yang berteman dengan Alena bahkan beberapa anak masih mengusiknya. Tapi, Alena merasa sudah lebih dari cukup, diberikan sahabatnya kembali saja sudah cukup apalagi dia sudah mengungkapkan semuanya ke Aldi. Serasa semua beban yang Alena tanggung selama ini hilang. Alena tetap seperti biasa, hanya saja Aldi yang menjauh. Aldi merasa bersalah, karena dia hubungan Alena dan Dhea menjadi tidak baik, dia selalu menghindari hal-hal yang berbau Alena apalagi Dhea. Karena perasaan dia sadar ternyata perasaannya pada Dhea bukan seperti yang dia pikirkan.
Cerpen Karangan: Rima Wijayanti
Perjalanan Cinta Alena (Part 1)
4/
5
Oleh
Unknown
