Abstrak

Baca Juga :
    Judul Cerpen Abstrak

    Kriing!!! Kriiing!!! Kriiing!!!
    Suara bel 3 kali menandakan berakhirnya jam pelajaran. Bunyi itu bagaikan nyanyian bidadari dari surga. Oh.. indahnya. Tak heran jika aku menganggap suara itu sangat indah. Bagaimana tidak, bayangkan saja, dalam sehari aku menghadapi 3 ulangan. Itu juga aku tidur semalam pukul 01.00 malam dan bangun pukul 04.30 pagi. Hitung saja berapa jam yang aku gunakan untuk tidur. Aku memang sangat butuh istirahat. Jadi, tanpa buang buang waktu, langsung ku mengajak temanku untuk pergi ke parkiran motor dan pulang.

    Selama ku mengendarai motor maticku yang sangat mungil ini, tak henti hantinya aku memikirkan laki laki itu. Aku sering melihatnya, tetapi tidak pernah aku sampai memikirkannya seperti ini. Rambutnya yang agak panjang dengan kacamata minus yang sangat cocok dipakainya, membuatku semakin penasaran dengan namanya. Ya, memang benar aku sering melihatnya. Kalau tidak salah dia adalah kakak kelasku. Kelasnya berada tepat di seberang lapangan dari kelasku, kelas XI IPS 3. Dan kelasnya XII IPS 1. Kenapa aku sampai memikirkannya seperti ini? Ya, ini bermula saat..



    “Fat, tolongin dong. Motor gue kejepit nih..” teriak Fera dari kejauhan.
    “Eh, iya bentar. Gue nyari motor gue dulu,” jawabku sambil celingukan mencari motor matic biru merk beat. “nah, ketemu. Bentar bentar, gue ke situ..” aku menghampiri Fera.

    Aku pun dengan sekuat tenaga memindahkan motor gede -entah punya siapa, tapi apa dayaku yang bertubuh kecil ini, motor itu tidak pindah 1 centi pun. Aku pun memanggil Astri yang tubuhnya agak lebih besar dariku. “Mbak Astri, tolongin kita dong!”
    Akhirnya Astri pun bersedia membantu kita. “Yes, akhirnya bisa!” ok, motor Fera pun bisa keluar. Dan tanpa kusadari ternyata saat kami sibuk memindahkan motor gede itu, ada sesosok laki laki yang sedang menunggu kami mengeluarkan motor Fera. Aku sempat berfikir. “Ini cowok udah terlalu tua kali, ya, sampe sampe gak mampu buat bantuin kita ngeluarin motor. Anj*it!” dan perlu kalian tau, cowok itu adalah Cecep (nama samaran). Dia adalah laki laki yang pernah kukagumi sejak SMP kelas 2. Dia adalah kakak kelasku sewaktu SMP dan tanpa sengaja bertemu di SMA yang sama. Dan dia juga kelas XII IPS 1. Karena sifatku yang terlalu kaku dengan laki laki, maka kata berpacaran dalam hidupku tidak akan ada, karena itu merupakan prinsipku juga. Namun, dari waktu ke waktu aku sudah tidak mengaguminya. Bukan hanya dia sering berganti ganti pacar, tetapi dia juga termasuk anak yang ikut ke dalam genk yang dilarang di sekolah, kalau tidak salah namanya SO*S. Dan alasanku tidak mengaguminya yang paling kuat adalah sudah jelas kalau dia bukan cowok sejati. Nolongin pacarnya ngeluarin motor aja gak dipeduliin. “Emang Ban*i tuh cowok” hatiku ngedumel terus. Tapi, pacarnya bukan Fera, ini pacarnya namanya Mawar (nama samaran), yang kesusahan mengeluarkan motornya. Mau gak mau, ya aku pun membantunya.

    Saking semangatnya membantu Fera dalam mengeluarkan motornya, sampai kelupaan dengan kabar motorku di belakang sendiri. Yaps, motorku juga terjepit, diapit 2 motor gede pula. Aku berteriak ke Fera, Astri, dan teman lainnya untuk membantuku, “eh malah udah pergi,”. Apa boleh buat, karena tidak ada salah satu temanku yang mau membantu, akhirnya aku berusaha menggunakan sisa tenagaku untuk bisa keluar dari cobaan ini. Saking semangatnya aku menggeser 2 motor gede ini, tanpa disadari ada seorang Pangeran tampan yang entah berasal dari negeri mana menghampiriku.
    “Motornya gak bisa keluar ya, dek?” tanyanya yang sedikit mengagetkanku.
    “Eh, iya nih mas,” jawabku singkat.
    Tanpa basa basi, Pangeran itu membantu seorang Putri cantik jelita yang sedang sengsara ini. “Sini, biar gue bantu..” dengan gagah berani Pangeran tampan mengerahakan seluruh kekuatannya agar bisa menyelamatkan sang putri. *sorry alay
    “makasih, mas..” ucapku sambil melemparkan senyuman yang berarti.
    “iya, sama-sama. Gue balik duluan. Hati hati, ya.” Lelaki itu pergi sambil melambaikan tangan tanda perpisahan. Aku mengangguk perlahan.



    Sesampainya di rumah, kuucapkan salam kepada penghuni rumah. Ternyata ada ibuku di tokonya, adikku yang entah sedang memainkan bukunya atau justru mempelajarinya, dan budeku yang sedang menunggu nenekku agar tidak kabur dari rumah. Kucium tangan ibuku sambil cengar cengir tidak jelas. Ibuku heran. Apalagi adikku yang sampai mengiraku stress gara gara ulangan tadi di sekolah yang aku ceritakan padanya semalam. Aku tak menanggapi itu dengan serius. Aku langsung pergi ke kamarku dan mengambil Tab warna putihku satu satunya. Aku langsung mencari tau siapa pangeran penolongku itu. Mulai dari fb, twitter, ask.fm, dan akhirnya aku menemukan akun instagramnya. Ternyata namanya Agus (nama samaran). Seharian aku asyik stalking ig nya. Aku baru tau kalau ia juga seorang fotografer. Foto foto yang ia publikasikan kebanyakan foto pemandangan. Jarang sekali ia menampilkan foto selfie. Hanya ada satu dua saja yang kutemui. Dan sepertinya dia tidak sering berganti pasangan. Terlihat dari instagramnya jarang terlihat foto foto yang berbau “pacar”. Hatiku semakin berbunga bunga. Dengan melihat akun sosial medianya saja, aku menjadi semakin mengaguminya. Tiba tiba saja aku ingin mengubah prinsipku, “sukses dulu, pacar kemudian” menjadi “pacaran aja dulu, suksesnya pasti juga ngikut”. Semenjak peristiwa itu, aku pun sering mengamatinya dari kejauhan.

    Disaat istirahat, aku duduk sendiri di meja bundar depan kelasku sambil mengamati pangeranku. Dia terlihat sedang duduk sendiri di bangku berwarna coklat di depan kelasnya sambil memperhatikan hpnya. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Benar saja, tiba tiba datang mbak Melati (nama samaran) yang mendekati pangeranku. Dan tanpa kuduga mereka berpelukan! Aku kaget. Tangan si cowok merangkul pundak si cewek. Ini merupakan pemandangan yang sangat buruk. Yah, penonton kecewa. Ternyata dia adalah pacarnya. Aku mengetahui itu saat aku men-stalking instagram mbak Melati itu. Cinta ku kandas sudah.

    Hari berikutnya aku pergi ke toko buku untuk mencari sebuah novel yang sangat cocok dengan suasana hatiku saat ini. Abstrak. Judul novel yang menarik saat pertama kali melihatnya. Saat kubaca bagian belakang novel tersebut, isinya sangat sesuai dengan suasana hatiku. Entah kenapa penulis novel ini tidak tercantum. Saat aku membayar buku novel ini, tanpa sengaja aku melihat mantan pangeranku bergandengan dengan mesra dengan seorang perempuan. Pertama kalinya aku mengira kalau itu adalah mbak Melati. Tapi, setelah kucermati ternyata itu bukan mbak Melati, ternyata ia bersama perempuan lain. Itu artinya ia selingkuh. Wow. Padahal mbak Melati itu sangat cantik menurutku. Entahlah. yang jelas laki laki itu memang “Abstrak!”

    Cerpen Karangan: Fatika F
    Facebook: facebook.com/fatika.febriyanti

    Artikel Terkait

    Abstrak
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email