Judul Cerpen Air Terjun
Banyak hal yang tak bisa kita sangka akan terjadi di masa depan. Hal atau kejadian yang jauh dari angan dan harapan, dan kini aku telah membuktikan betapa sang pencipta telah merencanakan yang terbaik untuk kita. Dulu aku pikir kejadian meninggalnya ibu adalah awal dari kehancuran masa depanku, karena setelah beberapa bulan ibu meninggal ayah menikah lagi dan meninggalkan aku dan menitipkanku dan kakakku di rumah nenek dan kakek di xxxxx. Saat itu kami berdua terancam putus sekolah, kalau saja kakakku wahyu tidak mencari beasiswa di SMK di kota kecil, kabupaten xxxxx.
Aku dan kakakku berselang 6 tahun, saat ia SMK kelas 10 aku kelas 5 SD. Kakakku sekolah sambil bekerja, ia membantu kakek menjadi buruh di sawah dan di kebun-kebun warga. Terkadang aku menangis saat ia pulang dalam keadaan lelah, saat ia sakit itu sangat menyakitkan bagiku. Dan sebuah kenyataan membuatku tambah sakit hati, yaitu kenyataan bahwa kakakku wahyu bukan anak kandung dari ayah dan ibu. Ia anak yatim piatu yang diadopsi ayah dan ibuku dari panti asuhan di Jakarta. Aku sangat terpukul saat itu, aku berlari melawati sawah-sawah, lalu berlari ke gunung desaku. Aku berhenti di air terjun yang sangat tinggi dan indah, menangis sejadi-jadinya sampai kudengar kak wahyu menyusulku dan menjelaskan semuanya.
“maafkan kakak dek…, kakak baru cerita sekarang. Tapi kamu jangan marah, kakak akan selalu ada untuk kamu. walau kakak bukan kakak kandung tiara, bukan berarti kita tidak bisa jadi kakak adik… kakak akan jadi kakak tiara selamanya dan nggak akan ninggalin tiara, okeh?” ia mengelus rambutku sambil memelukku.
Entah apa yang membuatku nyaman di pelukan kak wahyu dari dulu, pelukannya mirip dengan pelukan ibu. Pelukan tulus yang mampu meredam kemarahan dan mampu menghentikan waktu, membuat siapapun seperti terhipnotis untuk beberapa menit.
“maafkan tiara juga ya kak? Tiara seharusnya nggak boleh lari-lari sejauh ini, buat kak wahyu jadi capek. Tapi kak… tiara nggak kuat pulangnya, kita sudah jauh sekali dari rumah…” aku memasang wajah memelas.
“ya udah… kakak gendong sampai rumah yah?” aku langsung mengangguk cepat.
Sudah mulai magrib dan kak wahyu masih kuat menggendongku melewati jalan kecil sawah, ia terus bercerita saat aku masih balita dulu, itu membuatku sangat malu.
“tapi kak…, kenapa kakak sayang banget sama tiara? Padahal kan, kakak bukan kakak kandung tiara…” aku bicara tepat di telinganya.
“karena kakak nggak peduli tentang tiara dan kakak bukan adik dan kakak kandung, yang jelas! Kakak sayang banget sama tiara. Jadi… tiara jangan pernah sedih, karena kakak akan selalu ada untuk tiara…” aku tersenyum, dan mengeratkan pelukanku di leher kak wahyu.
Hari demi hari kami lalui bersama, kak wahyu dan aku semakin tambah umur dan semakin naik kelas. Sampai akhirnya kak wahyu kerja di jepang, menjadi perakit mobil di salah satu perusahaan di sana. Aku sangat sedih, kenapa aku harus ditinggal lagi, sekarang aku masih kelas 9 SMP. Walau ekonomi kami mulai stabil, tanpa kehadiran kak wahyu membuatku tak bisa bersemangat dalam melewati hari-hari. Entah kenapa aku jadi sangat tergantung terhadap kak wahyu, nenek juga pernah bilang padaku.
“jika suatu saat wahyu sudah menikah, dia akan fokus kepada keluarganya dan kamu harus bisa mandiri. Kamu nggak boleh terus-terusan tergantung padanya, jadilah seperti kakakmu yang gigih dan baik hati. Ia sangat menyayangimu, dan menyayangi kakek dan nenek. Kamu juga harus seperti dia yang sangat pandai dalam pelajaran dan dalam menyayangi keluarga…” Aku hanya daim merenungkan setiap kata-kata nenek. Benar juga sih, tapi rasanya aku tak ingin ditinggal kak wahyu, apa lagi setelah kak wahyu menikah.
Sekarang aku telah lulus SMA aku ingin jadi dokter, tapi aku berfikir ulang. Kalau saja aku jadi dokter pasti akan membuat kak wahyu lebih lama di jepang. Akhirnya aku mengambil kuliah di jurusan kebidanan di Jakarta, tepatnya di UI. Berkat nilaiku, aku jadi bisa kuliah dengan setengah harga. Lagi-lagi kak wahyu adalah inspiratorku.
“kak wahyu, aku senang sekali bisa diterima di UI. Tapi aku agak berat meninggalkan nenek dan kakek di xxxxx…, seandainya kakak pulang pasti mereka ada yang menemani…” Aku curhat dengan kak wahyu lewat telepon.
“hem…, insha allah 4 bulan lagi dek, kalau kakak dah gajian…, sama nunggu modal kumpul, biar kakak sambil usaha di sana. Sabar yah?” suara lembutnya masih sama.
“okeh kak? Do’ain yah biar aku kuliahnya berhasil dan bisa jadi bidan…!” ucapku riang, disambut tawa kecil darinya.
“iya adikku sayang! Yang bener makannya kuliahnya, jangan ngawur… okeh?”
“okeh kakakku sayang…, pokoknya kalau besok kakak pulang, kakak harus jemput aku dulu biar aku ikut pulang. Yah?”
“iya… iyah…, ya udah kakak mau kerja lagi. Wassalamu’allikum!”
“wa’allaikumsalam kak!”
Ya allah perasaan apa ini? kenapa akhir-akhir ini aku merindukan kak wahyu, bukan selayaknya adik kakak, tapi seperti ada getaran lain yang membuatku candu akan suara lembutnya. Apakah benar, aku mencintai kak wahyu sebagai lelaki? Bukan sebagai kakak? Aku bingung, aku selalu mencoba cari jawaban namun hasilnya nihil.
4 bulan berlalu, kak wahyu menjemputku untuk pulang bersama, kebetulan aku juga sedang libur beberapa minggu. Aku juga izin dengan bos café tempat aku bekerja partime untuk libur beberapa minggu. Saat kami sampai rumah, kakek dan nenek sangat senang menyambut kami, nenek langsung heboh membeli berbagai macam makanan untuk kami. Dan yang paling menyenangkan adalah cemilan lanting kesukaanku. Dan kebiasaan juga, kalau aku sedang ngemil, pasti kak wahyu mengataiku.
“nanti gemuk loh!” aku mendengus kesal mendengarnya.
“biarin, kan kalau gemuk artinya subur… wleeee!” balasku sambil menjulurkan lidah.
Ia hanya tersenyum sambil memakan pecel buatan nenek, ia memang sangat hobi makan pecel apa lagi buatan nenek. Pecel buatan nenek adalah yang paling popular di desaku, makannya nenek dan kakek jadi ada penghasilan sampingan, sehingga mereka tak terlalu kesulitan soal makan.
“pecel buatan nenek nggak berubah, masih kaya dulu. Paling top deh” puji kak wahyu mengacungkan jempol ke arah nenek.
Membuat nenek tersipu malu dipuji seperti itu oleh kak wahyu, aku hanya tertawa dengan kakek.
“ehem… bagaimana rencanamu selanjutnya wahyu?” tanya kakek diawali deheman.
Yang ditanya sedikit berfikir, lalu tersenyum khasnya.
“wahyu mau usaha bengkel di sini…, awalnya sih aku masih mau memperpanjang kontrak di jepang. Tapi…, aku lebih nyaman di Negara sendiri di dekat kakek dan nenek. Lagi pula, tiara kan sudah kuliah… kakek dan nenek nggak ada yang menemani…” kak wahyu menoleh ke arahku sebentar.
Kakek dan nenek terlihat sangat bahagia, aku ikut tersenyum lebar melihatnya.
“Alhamdulillah kalau begitu…, kakek senang mendengarnya…” kakek tersenyum lagi, menampakan keriput di wajah tuanya.
Nenek pun ikut tersenyum, aku jadi teringat ibu. Ibu mirip sekali dengan nenek, apa lagi senyum mereka yang terlihat sangat tulus. Andai ayah dan ibu ada di tengah-tengah kebahagiaan ini, aku pasti sangat senang.
“lalu masalah wanita? Apakah sudah ada yang membuatmu yakin wahyu?” pertanyaan nenek membuat kak wahyu seperti agak grogi.
Semuanya penasaran, termasuk aku.
“hem… masalah itu… belakangan aja nek. Aku belum siap untuk membina keluarga. Aku masih ingin fokus buat nyekolahin tiara…, kalau dia sudah memiliki gelar sarjana dan bekerja, aku baru akan memikirkan hal itu…” ia menoleh ke arahku lagi, lalu menatap kakek nenek dengan serius.
Aku jadi tak enak dengan kak wahyu, ia harus menunda percintaannya hanya karena untuk menyekolahkan aku. ia sudah cukup berjuang selama ini untukku, dan kini ia juga harus mengorbankan perasaannya untuk fokus kepada kuliahku. Jawaban kak wahyu, membuat keadaan hening sejenak. Aku yang tak bisa membendung kegelisahanku, lalu pergi dari pembicaraan itu. ke luar mencari udara segar pedesaan. Melewati sawah-sawah, aku juga bertemu para tetangga dan bersalaman. Juga para orang-orang yang sedang di sawah. Mereka menyambutku
“baru pulang ya tiara?”
“iya bu! Tadi baru aja… 3 jam yang lalu. Ini pengen jalan-jalan dulu…, monggo bu! Pak!”
“monggo… duk!”
“matur nuwun pak! Bu! Monggo!”
Mereka mengangguk, mempersilahkan aku berjalan lagi. Lagi-lagi kakiku membawaku ke tempat di mana aku merasa nyaman di sana AIR TERJUN, selama lulus sma aku jadi jarang berkunjung ke sini, kangen rasanya. Hanya ada suara gercikan air dan tiupan angin dan suara alam di sini. Aku terbawa suasana, memejamkan mata agar mendapatkan kesunyian yang menenangkan.
“seger yah? Suasananya nggak berubah dari 5 tahun yang lalu…” Itu suara kak wahyu, lagi-lagi ia menyusul.
Pasti ia mengetahui perasaanku yang sedang gundah gulana, setiap aku sedang seperti ini, hanya dialah yang pengertian kepadaku.
“hem…, yah… begitulah. Masih sama, menenangkan dan segar…” sahutku membuka mata tanpa menoleh ke arahnya.
“kamu kenapa?” tanyanya membuatku menoleh, dan mendapatinya sedang menatapku sendu.
“aku hanya merasa…, menjadi beban bagi hidup kakak. Dari kecil sampai sekarang, aku adalah penghalang kebahagiaan kak wahyu…, kira-kira mau sampai kapan aku sepeti ini yah, kak?” jawabku dengan pertanyaan balik, sambil mengalihkan pandangan kepada air terjun di depan kami.
“siapa bilang seperti itu? kakak seneng kok, melakukan semua hal untuk kamu. Kamu bukan penghalang kebahagiaan kakak, justru kamu adalah sumber kebahagiaan kakak. Tanpa kamu… entahlah apakah kakak masih hidup atau tidak. Karena hidup kakak hanya untuk membuatmu lebih baik dari kakak, pendidikan apa lagi. Kamu harus lebih tinggi dari kakak…” ia masih menatapku, aku tau dari sudut mataku ia sungguh-sungguh dalam berucap.
“tapi bukan berarti kakak harus memfokuskan semuanya padaku, kakak punya masa depan sendiri dan kakak juga punya perasaan untuk lawan jenis. Jangan karena pendidikanku, kakak jadi terobsesi dan menyembunyikan cita-cita dan keinginan kakak…, aku juga ingin melihat kakak bahagia…” ucapku mulai emosi dengan keputusan kak wahyu yang menurutku terlalu terobsesi kepada pendidikanku.
“tapi kebahagiaan kakak adalah kamu tiara! Kakak tidak pernah memiliki perasaan kepada lawan jenis yang lebih. Karena kamu adalah yang membuat kakak seperti ini…” ucapan itu mulai kucerna, dan membuatku terkejut setengah mati.
“apa maksud kakak? Lalu bagaimana dengan masa depan kakak sendiri? Kita tidak selamanya akan bersama, suatu saat kita akan berpisah untuk masa depan kita masing-masing, kan?” aku mendekatinya dengan air mata yang tak bisa ditahan.
“tidak tiara… kakak tak akan berpisah denganmu. Kita akan bersama selamanya, karena kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di hati kakak dan kakak tidak mau melepaskanmu!” balasnya tegas.
Aku membelalakan mata, mendengar semua ini. apa maksud kak wahyu?
“apa maksud kak wahyu? Jadi… selama ini kakak wahyu menyayangiku bukan karena aku adik kak wahyu?” tanyaku mulai memelankan suara.
“yah…, kakak sadar itu gila. Tapi itulah kenyataan, bahwa kakak mencintaimu bukan sebagai adik kakak. Kakak mencintaimu sebagai wanita idaman…, sejak kecil kakak tak ingin jauh darimu. Kakak tak salah kan? Kakak tak dosa kan? Kita tak ada ikatan darah, walau status kita kakak adik! Tak peduli kata orang nantinya…” Kak wahyu menatapku dalam, membuatku cepat mengerti setiap kosa kata yang ia keluarkan.
Kakiku tak mampu menopang berat badanku, membuatku berlutut di atas bebatuan kecil. Di hadapannya, aku menangis.
“kenapa kakak senekat ini? kenapa kakak juga memiliki perasaan yang sama denganku kak? Lalu bagaimana perasaan nenek dan kakek jika semua ini dilanjutkan?” ucapku lemah.
Ia berjongkok menatap mataku dalam.
“kita jujur, mereka pasti akan mengerti, asalkan kita menjelaskannya dengan baik-baik… tak ada yang perlu ditakuti selama semua ini bukan kesalahan. Kamu harus yakin… kakek nenek akan mengerti…” ia mengusap air mata di pipi kananku.
“lalu bagaiman pandangan orang?” ucapku menghindari tatapan matanya.
“aku akan jelaskan semua kenyataan kepada semua orang, bahwa kita bukan kakak adik kandung. Jadi… semua itu tak bisa menghalangi hubungan kita…”
Yah…, kak wahyu telah yakin. Tapi aku sendiri yang ragu dengan semua hubungan ini.
Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi keadaan menjadi canggung, setelah mengetahui perasaan terdalam kita masing-masing. Aku berjalan di depan dan kak wahyu di belakang, ia masih sama dari dulu selalu berada di belakangku untuk menjagaku. Aku jadi mulai berfikir, di mana lagi aku bisa mencari lelaki seperti kak wahyu?
Makan malam tiba. Di tengah-tengah obrolan kami, kakek mengatakan
“wahyu…, itu putrinya pak kiai maulana, si nduk aisyah menanyakan kabarmu. Dia sepertinya menyukaimu…, selama kamu di jepang. Ia sering ke sini dan mengantarkan makanan untuk kakek dan nenek sambil menanyakanmu…, temui dia sesekali. Hitung-hitung pendekatan…, dia anak yang baik dan tentunya solehah…” nenek tersenyum mendengar hal itu.
Sementara aku seperti setengah sedih dan bahagia, aku memaksakan bibirku tersenyum. Kak wahyu melirikku dengan tatapan sedih, ia meletakan sendok makannya lalu menatap kakek nenek bergantian.
“em… kek! Nek! Mungkin ini saatnya aku jujur…” ekspresi bahagia kakek nenek berubah menjadi penasaran.
“jujur tentang hal apa wahyu?” nenek menatapku sejenak, mungkin karena dari tadi aku diam dan menunduk murung.
“tentang kebenaran dan perasaanku…, kakek dan nenek tau kan? Aku dan tiara bukan sedarah?” kakek seperti gelisan menunggu kalimat selanjutnya.
“iyah…” kakek dan nenek bergantian mengucapkannya.
Aku melirik kak wahyu yang sedang fokus menatap nenek dan kakek.
“jujur… aku… mencintai tiara bukan sebagai adikku, tapi sebagai wanita pendamping hidupku… kek! nek!…” kata-kata kak wahyu terhenti saat kakek menggebrak meja.
Brak…!!! Nenek menatap kak wahyu dengan terkejut, sementara aku menunduk takut dan cemas. Kakek sangat marah kali ini, baru pertama kali aku melihatnya seperti ini, aku tak kauasa menahan air mata.
“hentikan wahyu!!! Kamu sudah tidak waras apa?!!!” bentak kakek menatap kak wahyu tajam.
Kak wahyu mendekati kakek dengan menunduk, ia lalu berlutut di hadapannya yang masih duduk dengan kemarahan.
“aku mengatakan ini menggunakan akal sehat kek! Ini bukan sebuah dosa kan? Aku dan tiara bukan sedarah, jadi… tak ada hukum yang melarang kita bersatu kek…” ucapnya pelang, sambil menangis.
Nenek menangis, melihat semua itu. aku mulai terisak. Senekat itu kak wahyu dengan ucapannya.
“tapi sejak lahir… kalian adalah kakak beradik…, jadi mana mungkin bisa bersatu wahyu!” kakek geram dan mulai meninju meja makan lagi.
“kek kumohon…, itu hanya sebuah status dan kenyataannya kami bisa bersatu. Kami punya perasaan dan bukan salah kami merasakan hal ini kek…” kak wahyu masih berlutut di depan kakek.
Sementara kakek sendiri menghela nafas panjang, ia mulai mencoba mengendalikan diri. Nenek menatapku tak percaya, aku masih menunduk tak berani mengangkat kepala.
Kakek, melepas pegangan kak wahyu dari kakinya lalu pergi begitu sajan, menahan marah dan sesak di dada.
“maaf nek, aku… tak ingin merasakan ini. Tapi… itulah fakta yang sekarang ada di hatiku… hiks… hiks… hiks. Maaf telah mengecewakan nenek, tapi aku akan berusaha menghilangkannya… nek! aku janji. Karena kutau ini salah… salah besar yang seharusnya mendapat sanksi hukuman…”
Kak wahyu menatapku tak menyangka,
“nenek tak bisa berbuat banyak tiara, kamu harus berusaha dengan itu. kamu juga wahyu…, nenek tau kalian bukan adik kakak kandung, namun dari kecil… kalian dibesarkan bersama yaitu untuk menjadi seorang yang memiliki ikatan persaudaraan yang baik. Jika rasa itu datang, memang bukan salah kalian, tetapi wajib bagi kalian untuk menghapusnya. Kalian mengerti?” tanya nenek serius, menahan tangis.
Aku mengangguk, juga kak wahyu yang akhirnya meninggalkan meja makan dengan kesedihan mendalam. Malam itu, aku menghampiri kakek dan kak wahyu yang sedang berbincang serius di belakang rumah.
“kakek…! kak wahyu…! Maaf atas semua kejadian ini…” ucapku menyesal.
“kakek tidak marah, kalian tidak salah. Wahyu sudah menjelaskan tadi, dan ia bersedia untuk menghilangkan perasaan itu…” kak wahyu mengangguk setuju.
Sejak saat itu juga, aku dan kak wahyu jadi tak akrab kami tak pernah menegur sapa dan berbincang kecuali hal penting. Sampai-sampai aku berangkat sendiri ke jogja untuk menimba ilmu. Aku tenang sih, kami jadi mulai bisa mengendalikan rasa masing-memasing dan mulai bisa melupakan rasa itu.
5 Tahun berlalu, dan aku bekerja di pukesmas desaku. Kak wahyu kini sudah menikah dengan mbak aisyah sejak 8 bulan yang lalu. Aku ikut bahagia atas hal itu, walau ada rasa mengganjal dalam diriku yang membuatku harus berfikir panjang, dengan adanya calon anak kak wahyu, aku bisa ikut bahagia atas mereka. Kak aisyah sudah hamil 3 bulan, ia sering kontrol denganku. Aku senang memiliki kakak ipar sepertinya, yang baik dan solehah. Ia guru ngaji di desaku, makannya ia sosok yang paling cocok untuk pengusaha bengkel seperti kak wahyu. Masalah aku…, aku belum menemukan pemilik hati ini. tapi keyakinanku semakin kuat, saat aku bertemu lagi dengan kakak kelasku di SD, seorang dokter yang sekarang sedang dipindah tugaskan di kecamatan, ia juga sering berada di puskesmas. Aku memang mengaguminya dulu, ia adalah anak yang pintar dan dari keluarga kaya. Sikap dinginnya membuat teman-temanku selalu mengejar-ngejarnya kecuali aku, aku dulu menyukainya dalam diam dan hanya diam menatapnya dari kejauhan.
“setelah pasien ini, kamu bisa temani saya ke rumah pak jahid?” tanyanya sambil mencari sesuatu di buku tebalnya.
Laca mata tebalnya, membuatku tak bisa memastikan bagaimana sifatnya.
“bisa pak…, kebetulan jam kerja saya hari ini memang sampai jam 11…” Aku merapikan tasku.
Ia memberikan resep kepada ibu-ibu di depannya, dengan senyum manisnya. Senyum yang membuat siapa saja yang melihat terpikat, menghiasi wajah tampan jeniusnya.
Kami menuju rumah pak jahid dengan menggunakan sepeda, aku menggunakan sepedaku dan dia juga punyanya sendiri.
“kamu apa kabar tiara?” ia membuka percakapan, di atas sepeda.
“Alhamdulillah baik. Bagaimana dengan anda?” tanyaku gugup.
“baik juga. Nggak usah pake anda-andaan…, aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Setelah kamu pindah dari Jakarta…, aku jadi lega… bisa mengungkapkan isi hatiku kali ini…”
“maksudnya?”
“penantian yang panjang, aku menyukaimu dari dulu… dan hatiku selama ini nggak berubah…”
“pak dokter bercandanya nggak lucu…!” Aku mengencangkan laju sepedaku.
Ia mengejarku, “aku serius. Maukah kamu menjalin hubngan yang lebih serius lagi? Aku tau rumahmu dan bolehkah aku besok ke rumahmu? Melamarmu…”
Aku menghentikan laju sepedaku mendadak, jantungku berdetak kencang. Ia juga ikut berhenti dan menarik sepedaku dan aku ke air terjun favoritku.
“aku serius…, aku cinta kamu! Aku menyukaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu…, jangan buat penantianku sia-sia… kumohon.” Aku menatapnya penuh bahagia dan tetesan haru.
“terima kasih… kamu mau mencintaiku! Dan aku juga mencintaimu…” Jawabku, saat dia menatap air terjun indah di hadapannya.
“jadi…, kamu mau menikah denganku?” aku mengangguk cepat, ia menatapku tajam.
“terima kasih…!” Hampir saja ia memeluku, kalau saja aku tak menahannya.
“oh… maaf, belum waktunya yah?” ia tersenyum malu menatapku.
Aku juga ingin tersenyum bahagia dengan tidak melukai, memalukan, dan membebani siapapun, termasuk kakek dan nenek. Bagai air terjun yang indah, aku ingin jalan cerita hidupku ke depan bisa seindah aliran air terjun yang penuh semangat.
SELESAI
Cerpen Karangan: Febi Faliha
Facebook: Febi faliha
Banyak hal yang tak bisa kita sangka akan terjadi di masa depan. Hal atau kejadian yang jauh dari angan dan harapan, dan kini aku telah membuktikan betapa sang pencipta telah merencanakan yang terbaik untuk kita. Dulu aku pikir kejadian meninggalnya ibu adalah awal dari kehancuran masa depanku, karena setelah beberapa bulan ibu meninggal ayah menikah lagi dan meninggalkan aku dan menitipkanku dan kakakku di rumah nenek dan kakek di xxxxx. Saat itu kami berdua terancam putus sekolah, kalau saja kakakku wahyu tidak mencari beasiswa di SMK di kota kecil, kabupaten xxxxx.
Aku dan kakakku berselang 6 tahun, saat ia SMK kelas 10 aku kelas 5 SD. Kakakku sekolah sambil bekerja, ia membantu kakek menjadi buruh di sawah dan di kebun-kebun warga. Terkadang aku menangis saat ia pulang dalam keadaan lelah, saat ia sakit itu sangat menyakitkan bagiku. Dan sebuah kenyataan membuatku tambah sakit hati, yaitu kenyataan bahwa kakakku wahyu bukan anak kandung dari ayah dan ibu. Ia anak yatim piatu yang diadopsi ayah dan ibuku dari panti asuhan di Jakarta. Aku sangat terpukul saat itu, aku berlari melawati sawah-sawah, lalu berlari ke gunung desaku. Aku berhenti di air terjun yang sangat tinggi dan indah, menangis sejadi-jadinya sampai kudengar kak wahyu menyusulku dan menjelaskan semuanya.
“maafkan kakak dek…, kakak baru cerita sekarang. Tapi kamu jangan marah, kakak akan selalu ada untuk kamu. walau kakak bukan kakak kandung tiara, bukan berarti kita tidak bisa jadi kakak adik… kakak akan jadi kakak tiara selamanya dan nggak akan ninggalin tiara, okeh?” ia mengelus rambutku sambil memelukku.
Entah apa yang membuatku nyaman di pelukan kak wahyu dari dulu, pelukannya mirip dengan pelukan ibu. Pelukan tulus yang mampu meredam kemarahan dan mampu menghentikan waktu, membuat siapapun seperti terhipnotis untuk beberapa menit.
“maafkan tiara juga ya kak? Tiara seharusnya nggak boleh lari-lari sejauh ini, buat kak wahyu jadi capek. Tapi kak… tiara nggak kuat pulangnya, kita sudah jauh sekali dari rumah…” aku memasang wajah memelas.
“ya udah… kakak gendong sampai rumah yah?” aku langsung mengangguk cepat.
Sudah mulai magrib dan kak wahyu masih kuat menggendongku melewati jalan kecil sawah, ia terus bercerita saat aku masih balita dulu, itu membuatku sangat malu.
“tapi kak…, kenapa kakak sayang banget sama tiara? Padahal kan, kakak bukan kakak kandung tiara…” aku bicara tepat di telinganya.
“karena kakak nggak peduli tentang tiara dan kakak bukan adik dan kakak kandung, yang jelas! Kakak sayang banget sama tiara. Jadi… tiara jangan pernah sedih, karena kakak akan selalu ada untuk tiara…” aku tersenyum, dan mengeratkan pelukanku di leher kak wahyu.
Hari demi hari kami lalui bersama, kak wahyu dan aku semakin tambah umur dan semakin naik kelas. Sampai akhirnya kak wahyu kerja di jepang, menjadi perakit mobil di salah satu perusahaan di sana. Aku sangat sedih, kenapa aku harus ditinggal lagi, sekarang aku masih kelas 9 SMP. Walau ekonomi kami mulai stabil, tanpa kehadiran kak wahyu membuatku tak bisa bersemangat dalam melewati hari-hari. Entah kenapa aku jadi sangat tergantung terhadap kak wahyu, nenek juga pernah bilang padaku.
“jika suatu saat wahyu sudah menikah, dia akan fokus kepada keluarganya dan kamu harus bisa mandiri. Kamu nggak boleh terus-terusan tergantung padanya, jadilah seperti kakakmu yang gigih dan baik hati. Ia sangat menyayangimu, dan menyayangi kakek dan nenek. Kamu juga harus seperti dia yang sangat pandai dalam pelajaran dan dalam menyayangi keluarga…” Aku hanya daim merenungkan setiap kata-kata nenek. Benar juga sih, tapi rasanya aku tak ingin ditinggal kak wahyu, apa lagi setelah kak wahyu menikah.
Sekarang aku telah lulus SMA aku ingin jadi dokter, tapi aku berfikir ulang. Kalau saja aku jadi dokter pasti akan membuat kak wahyu lebih lama di jepang. Akhirnya aku mengambil kuliah di jurusan kebidanan di Jakarta, tepatnya di UI. Berkat nilaiku, aku jadi bisa kuliah dengan setengah harga. Lagi-lagi kak wahyu adalah inspiratorku.
“kak wahyu, aku senang sekali bisa diterima di UI. Tapi aku agak berat meninggalkan nenek dan kakek di xxxxx…, seandainya kakak pulang pasti mereka ada yang menemani…” Aku curhat dengan kak wahyu lewat telepon.
“hem…, insha allah 4 bulan lagi dek, kalau kakak dah gajian…, sama nunggu modal kumpul, biar kakak sambil usaha di sana. Sabar yah?” suara lembutnya masih sama.
“okeh kak? Do’ain yah biar aku kuliahnya berhasil dan bisa jadi bidan…!” ucapku riang, disambut tawa kecil darinya.
“iya adikku sayang! Yang bener makannya kuliahnya, jangan ngawur… okeh?”
“okeh kakakku sayang…, pokoknya kalau besok kakak pulang, kakak harus jemput aku dulu biar aku ikut pulang. Yah?”
“iya… iyah…, ya udah kakak mau kerja lagi. Wassalamu’allikum!”
“wa’allaikumsalam kak!”
Ya allah perasaan apa ini? kenapa akhir-akhir ini aku merindukan kak wahyu, bukan selayaknya adik kakak, tapi seperti ada getaran lain yang membuatku candu akan suara lembutnya. Apakah benar, aku mencintai kak wahyu sebagai lelaki? Bukan sebagai kakak? Aku bingung, aku selalu mencoba cari jawaban namun hasilnya nihil.
4 bulan berlalu, kak wahyu menjemputku untuk pulang bersama, kebetulan aku juga sedang libur beberapa minggu. Aku juga izin dengan bos café tempat aku bekerja partime untuk libur beberapa minggu. Saat kami sampai rumah, kakek dan nenek sangat senang menyambut kami, nenek langsung heboh membeli berbagai macam makanan untuk kami. Dan yang paling menyenangkan adalah cemilan lanting kesukaanku. Dan kebiasaan juga, kalau aku sedang ngemil, pasti kak wahyu mengataiku.
“nanti gemuk loh!” aku mendengus kesal mendengarnya.
“biarin, kan kalau gemuk artinya subur… wleeee!” balasku sambil menjulurkan lidah.
Ia hanya tersenyum sambil memakan pecel buatan nenek, ia memang sangat hobi makan pecel apa lagi buatan nenek. Pecel buatan nenek adalah yang paling popular di desaku, makannya nenek dan kakek jadi ada penghasilan sampingan, sehingga mereka tak terlalu kesulitan soal makan.
“pecel buatan nenek nggak berubah, masih kaya dulu. Paling top deh” puji kak wahyu mengacungkan jempol ke arah nenek.
Membuat nenek tersipu malu dipuji seperti itu oleh kak wahyu, aku hanya tertawa dengan kakek.
“ehem… bagaimana rencanamu selanjutnya wahyu?” tanya kakek diawali deheman.
Yang ditanya sedikit berfikir, lalu tersenyum khasnya.
“wahyu mau usaha bengkel di sini…, awalnya sih aku masih mau memperpanjang kontrak di jepang. Tapi…, aku lebih nyaman di Negara sendiri di dekat kakek dan nenek. Lagi pula, tiara kan sudah kuliah… kakek dan nenek nggak ada yang menemani…” kak wahyu menoleh ke arahku sebentar.
Kakek dan nenek terlihat sangat bahagia, aku ikut tersenyum lebar melihatnya.
“Alhamdulillah kalau begitu…, kakek senang mendengarnya…” kakek tersenyum lagi, menampakan keriput di wajah tuanya.
Nenek pun ikut tersenyum, aku jadi teringat ibu. Ibu mirip sekali dengan nenek, apa lagi senyum mereka yang terlihat sangat tulus. Andai ayah dan ibu ada di tengah-tengah kebahagiaan ini, aku pasti sangat senang.
“lalu masalah wanita? Apakah sudah ada yang membuatmu yakin wahyu?” pertanyaan nenek membuat kak wahyu seperti agak grogi.
Semuanya penasaran, termasuk aku.
“hem… masalah itu… belakangan aja nek. Aku belum siap untuk membina keluarga. Aku masih ingin fokus buat nyekolahin tiara…, kalau dia sudah memiliki gelar sarjana dan bekerja, aku baru akan memikirkan hal itu…” ia menoleh ke arahku lagi, lalu menatap kakek nenek dengan serius.
Aku jadi tak enak dengan kak wahyu, ia harus menunda percintaannya hanya karena untuk menyekolahkan aku. ia sudah cukup berjuang selama ini untukku, dan kini ia juga harus mengorbankan perasaannya untuk fokus kepada kuliahku. Jawaban kak wahyu, membuat keadaan hening sejenak. Aku yang tak bisa membendung kegelisahanku, lalu pergi dari pembicaraan itu. ke luar mencari udara segar pedesaan. Melewati sawah-sawah, aku juga bertemu para tetangga dan bersalaman. Juga para orang-orang yang sedang di sawah. Mereka menyambutku
“baru pulang ya tiara?”
“iya bu! Tadi baru aja… 3 jam yang lalu. Ini pengen jalan-jalan dulu…, monggo bu! Pak!”
“monggo… duk!”
“matur nuwun pak! Bu! Monggo!”
Mereka mengangguk, mempersilahkan aku berjalan lagi. Lagi-lagi kakiku membawaku ke tempat di mana aku merasa nyaman di sana AIR TERJUN, selama lulus sma aku jadi jarang berkunjung ke sini, kangen rasanya. Hanya ada suara gercikan air dan tiupan angin dan suara alam di sini. Aku terbawa suasana, memejamkan mata agar mendapatkan kesunyian yang menenangkan.
“seger yah? Suasananya nggak berubah dari 5 tahun yang lalu…” Itu suara kak wahyu, lagi-lagi ia menyusul.
Pasti ia mengetahui perasaanku yang sedang gundah gulana, setiap aku sedang seperti ini, hanya dialah yang pengertian kepadaku.
“hem…, yah… begitulah. Masih sama, menenangkan dan segar…” sahutku membuka mata tanpa menoleh ke arahnya.
“kamu kenapa?” tanyanya membuatku menoleh, dan mendapatinya sedang menatapku sendu.
“aku hanya merasa…, menjadi beban bagi hidup kakak. Dari kecil sampai sekarang, aku adalah penghalang kebahagiaan kak wahyu…, kira-kira mau sampai kapan aku sepeti ini yah, kak?” jawabku dengan pertanyaan balik, sambil mengalihkan pandangan kepada air terjun di depan kami.
“siapa bilang seperti itu? kakak seneng kok, melakukan semua hal untuk kamu. Kamu bukan penghalang kebahagiaan kakak, justru kamu adalah sumber kebahagiaan kakak. Tanpa kamu… entahlah apakah kakak masih hidup atau tidak. Karena hidup kakak hanya untuk membuatmu lebih baik dari kakak, pendidikan apa lagi. Kamu harus lebih tinggi dari kakak…” ia masih menatapku, aku tau dari sudut mataku ia sungguh-sungguh dalam berucap.
“tapi bukan berarti kakak harus memfokuskan semuanya padaku, kakak punya masa depan sendiri dan kakak juga punya perasaan untuk lawan jenis. Jangan karena pendidikanku, kakak jadi terobsesi dan menyembunyikan cita-cita dan keinginan kakak…, aku juga ingin melihat kakak bahagia…” ucapku mulai emosi dengan keputusan kak wahyu yang menurutku terlalu terobsesi kepada pendidikanku.
“tapi kebahagiaan kakak adalah kamu tiara! Kakak tidak pernah memiliki perasaan kepada lawan jenis yang lebih. Karena kamu adalah yang membuat kakak seperti ini…” ucapan itu mulai kucerna, dan membuatku terkejut setengah mati.
“apa maksud kakak? Lalu bagaimana dengan masa depan kakak sendiri? Kita tidak selamanya akan bersama, suatu saat kita akan berpisah untuk masa depan kita masing-masing, kan?” aku mendekatinya dengan air mata yang tak bisa ditahan.
“tidak tiara… kakak tak akan berpisah denganmu. Kita akan bersama selamanya, karena kamu adalah satu-satunya wanita yang ada di hati kakak dan kakak tidak mau melepaskanmu!” balasnya tegas.
Aku membelalakan mata, mendengar semua ini. apa maksud kak wahyu?
“apa maksud kak wahyu? Jadi… selama ini kakak wahyu menyayangiku bukan karena aku adik kak wahyu?” tanyaku mulai memelankan suara.
“yah…, kakak sadar itu gila. Tapi itulah kenyataan, bahwa kakak mencintaimu bukan sebagai adik kakak. Kakak mencintaimu sebagai wanita idaman…, sejak kecil kakak tak ingin jauh darimu. Kakak tak salah kan? Kakak tak dosa kan? Kita tak ada ikatan darah, walau status kita kakak adik! Tak peduli kata orang nantinya…” Kak wahyu menatapku dalam, membuatku cepat mengerti setiap kosa kata yang ia keluarkan.
Kakiku tak mampu menopang berat badanku, membuatku berlutut di atas bebatuan kecil. Di hadapannya, aku menangis.
“kenapa kakak senekat ini? kenapa kakak juga memiliki perasaan yang sama denganku kak? Lalu bagaimana perasaan nenek dan kakek jika semua ini dilanjutkan?” ucapku lemah.
Ia berjongkok menatap mataku dalam.
“kita jujur, mereka pasti akan mengerti, asalkan kita menjelaskannya dengan baik-baik… tak ada yang perlu ditakuti selama semua ini bukan kesalahan. Kamu harus yakin… kakek nenek akan mengerti…” ia mengusap air mata di pipi kananku.
“lalu bagaiman pandangan orang?” ucapku menghindari tatapan matanya.
“aku akan jelaskan semua kenyataan kepada semua orang, bahwa kita bukan kakak adik kandung. Jadi… semua itu tak bisa menghalangi hubungan kita…”
Yah…, kak wahyu telah yakin. Tapi aku sendiri yang ragu dengan semua hubungan ini.
Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah, kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi keadaan menjadi canggung, setelah mengetahui perasaan terdalam kita masing-masing. Aku berjalan di depan dan kak wahyu di belakang, ia masih sama dari dulu selalu berada di belakangku untuk menjagaku. Aku jadi mulai berfikir, di mana lagi aku bisa mencari lelaki seperti kak wahyu?
Makan malam tiba. Di tengah-tengah obrolan kami, kakek mengatakan
“wahyu…, itu putrinya pak kiai maulana, si nduk aisyah menanyakan kabarmu. Dia sepertinya menyukaimu…, selama kamu di jepang. Ia sering ke sini dan mengantarkan makanan untuk kakek dan nenek sambil menanyakanmu…, temui dia sesekali. Hitung-hitung pendekatan…, dia anak yang baik dan tentunya solehah…” nenek tersenyum mendengar hal itu.
Sementara aku seperti setengah sedih dan bahagia, aku memaksakan bibirku tersenyum. Kak wahyu melirikku dengan tatapan sedih, ia meletakan sendok makannya lalu menatap kakek nenek bergantian.
“em… kek! Nek! Mungkin ini saatnya aku jujur…” ekspresi bahagia kakek nenek berubah menjadi penasaran.
“jujur tentang hal apa wahyu?” nenek menatapku sejenak, mungkin karena dari tadi aku diam dan menunduk murung.
“tentang kebenaran dan perasaanku…, kakek dan nenek tau kan? Aku dan tiara bukan sedarah?” kakek seperti gelisan menunggu kalimat selanjutnya.
“iyah…” kakek dan nenek bergantian mengucapkannya.
Aku melirik kak wahyu yang sedang fokus menatap nenek dan kakek.
“jujur… aku… mencintai tiara bukan sebagai adikku, tapi sebagai wanita pendamping hidupku… kek! nek!…” kata-kata kak wahyu terhenti saat kakek menggebrak meja.
Brak…!!! Nenek menatap kak wahyu dengan terkejut, sementara aku menunduk takut dan cemas. Kakek sangat marah kali ini, baru pertama kali aku melihatnya seperti ini, aku tak kauasa menahan air mata.
“hentikan wahyu!!! Kamu sudah tidak waras apa?!!!” bentak kakek menatap kak wahyu tajam.
Kak wahyu mendekati kakek dengan menunduk, ia lalu berlutut di hadapannya yang masih duduk dengan kemarahan.
“aku mengatakan ini menggunakan akal sehat kek! Ini bukan sebuah dosa kan? Aku dan tiara bukan sedarah, jadi… tak ada hukum yang melarang kita bersatu kek…” ucapnya pelang, sambil menangis.
Nenek menangis, melihat semua itu. aku mulai terisak. Senekat itu kak wahyu dengan ucapannya.
“tapi sejak lahir… kalian adalah kakak beradik…, jadi mana mungkin bisa bersatu wahyu!” kakek geram dan mulai meninju meja makan lagi.
“kek kumohon…, itu hanya sebuah status dan kenyataannya kami bisa bersatu. Kami punya perasaan dan bukan salah kami merasakan hal ini kek…” kak wahyu masih berlutut di depan kakek.
Sementara kakek sendiri menghela nafas panjang, ia mulai mencoba mengendalikan diri. Nenek menatapku tak percaya, aku masih menunduk tak berani mengangkat kepala.
Kakek, melepas pegangan kak wahyu dari kakinya lalu pergi begitu sajan, menahan marah dan sesak di dada.
“maaf nek, aku… tak ingin merasakan ini. Tapi… itulah fakta yang sekarang ada di hatiku… hiks… hiks… hiks. Maaf telah mengecewakan nenek, tapi aku akan berusaha menghilangkannya… nek! aku janji. Karena kutau ini salah… salah besar yang seharusnya mendapat sanksi hukuman…”
Kak wahyu menatapku tak menyangka,
“nenek tak bisa berbuat banyak tiara, kamu harus berusaha dengan itu. kamu juga wahyu…, nenek tau kalian bukan adik kakak kandung, namun dari kecil… kalian dibesarkan bersama yaitu untuk menjadi seorang yang memiliki ikatan persaudaraan yang baik. Jika rasa itu datang, memang bukan salah kalian, tetapi wajib bagi kalian untuk menghapusnya. Kalian mengerti?” tanya nenek serius, menahan tangis.
Aku mengangguk, juga kak wahyu yang akhirnya meninggalkan meja makan dengan kesedihan mendalam. Malam itu, aku menghampiri kakek dan kak wahyu yang sedang berbincang serius di belakang rumah.
“kakek…! kak wahyu…! Maaf atas semua kejadian ini…” ucapku menyesal.
“kakek tidak marah, kalian tidak salah. Wahyu sudah menjelaskan tadi, dan ia bersedia untuk menghilangkan perasaan itu…” kak wahyu mengangguk setuju.
Sejak saat itu juga, aku dan kak wahyu jadi tak akrab kami tak pernah menegur sapa dan berbincang kecuali hal penting. Sampai-sampai aku berangkat sendiri ke jogja untuk menimba ilmu. Aku tenang sih, kami jadi mulai bisa mengendalikan rasa masing-memasing dan mulai bisa melupakan rasa itu.
5 Tahun berlalu, dan aku bekerja di pukesmas desaku. Kak wahyu kini sudah menikah dengan mbak aisyah sejak 8 bulan yang lalu. Aku ikut bahagia atas hal itu, walau ada rasa mengganjal dalam diriku yang membuatku harus berfikir panjang, dengan adanya calon anak kak wahyu, aku bisa ikut bahagia atas mereka. Kak aisyah sudah hamil 3 bulan, ia sering kontrol denganku. Aku senang memiliki kakak ipar sepertinya, yang baik dan solehah. Ia guru ngaji di desaku, makannya ia sosok yang paling cocok untuk pengusaha bengkel seperti kak wahyu. Masalah aku…, aku belum menemukan pemilik hati ini. tapi keyakinanku semakin kuat, saat aku bertemu lagi dengan kakak kelasku di SD, seorang dokter yang sekarang sedang dipindah tugaskan di kecamatan, ia juga sering berada di puskesmas. Aku memang mengaguminya dulu, ia adalah anak yang pintar dan dari keluarga kaya. Sikap dinginnya membuat teman-temanku selalu mengejar-ngejarnya kecuali aku, aku dulu menyukainya dalam diam dan hanya diam menatapnya dari kejauhan.
“setelah pasien ini, kamu bisa temani saya ke rumah pak jahid?” tanyanya sambil mencari sesuatu di buku tebalnya.
Laca mata tebalnya, membuatku tak bisa memastikan bagaimana sifatnya.
“bisa pak…, kebetulan jam kerja saya hari ini memang sampai jam 11…” Aku merapikan tasku.
Ia memberikan resep kepada ibu-ibu di depannya, dengan senyum manisnya. Senyum yang membuat siapa saja yang melihat terpikat, menghiasi wajah tampan jeniusnya.
Kami menuju rumah pak jahid dengan menggunakan sepeda, aku menggunakan sepedaku dan dia juga punyanya sendiri.
“kamu apa kabar tiara?” ia membuka percakapan, di atas sepeda.
“Alhamdulillah baik. Bagaimana dengan anda?” tanyaku gugup.
“baik juga. Nggak usah pake anda-andaan…, aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Setelah kamu pindah dari Jakarta…, aku jadi lega… bisa mengungkapkan isi hatiku kali ini…”
“maksudnya?”
“penantian yang panjang, aku menyukaimu dari dulu… dan hatiku selama ini nggak berubah…”
“pak dokter bercandanya nggak lucu…!” Aku mengencangkan laju sepedaku.
Ia mengejarku, “aku serius. Maukah kamu menjalin hubngan yang lebih serius lagi? Aku tau rumahmu dan bolehkah aku besok ke rumahmu? Melamarmu…”
Aku menghentikan laju sepedaku mendadak, jantungku berdetak kencang. Ia juga ikut berhenti dan menarik sepedaku dan aku ke air terjun favoritku.
“aku serius…, aku cinta kamu! Aku menyukaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanmu…, jangan buat penantianku sia-sia… kumohon.” Aku menatapnya penuh bahagia dan tetesan haru.
“terima kasih… kamu mau mencintaiku! Dan aku juga mencintaimu…” Jawabku, saat dia menatap air terjun indah di hadapannya.
“jadi…, kamu mau menikah denganku?” aku mengangguk cepat, ia menatapku tajam.
“terima kasih…!” Hampir saja ia memeluku, kalau saja aku tak menahannya.
“oh… maaf, belum waktunya yah?” ia tersenyum malu menatapku.
Aku juga ingin tersenyum bahagia dengan tidak melukai, memalukan, dan membebani siapapun, termasuk kakek dan nenek. Bagai air terjun yang indah, aku ingin jalan cerita hidupku ke depan bisa seindah aliran air terjun yang penuh semangat.
SELESAI
Cerpen Karangan: Febi Faliha
Facebook: Febi faliha
Air Terjun
4/
5
Oleh
Unknown
