Judul Cerpen Bukan Berarti Tak Satu Pun Dari Mereka Tak Kusukai (Part 2)
Pandanganku mengitari langit-langit kamar dengan lampu di tengahnya. Kalau Radit itu lampu, aku ada di posisi apa ya? Kukebut-kebutkan kipas tradisional Jepang hadiah dari ayah sewaktu pulang dari workshop di sekitar pipi dan mataku sampai akhirnya aku lepas.
Sebulan itu rasanya begitu lama.
Bila dikalkulasikan, ada sekitar tiga puluh hari kami bakalan tanpa Radit. Aku heran apakah kawan-kawan memikirkan hal yang sama. Saat aku kuliah, hal itulah yang selalu terlintas. “Ren, foto-foto bareng sana. Sudah seminggu lo kamu begini. Tidak biasanya kamu lebih memilih sendiri,” tegur Reza menasihati. Reza menembakku di atas rumah pohon di daerah Pujon Sabtu sore. Kami cukup akrab. Hanya dia yang sudi membantuku mengatasi masa-masa sulit untuk mengatur kelas selama posisi ketua kelas kosong. Bagiku Reza cukup manis dan ramah, membuatku lebih terbuka untuk minta bantuan di saat-saat tertekan. Sayang, dia telah keliru mengartikan kedekatan kami. Tapi aku selalu tenang. Kesalahpahaman seperti ini sudah
sangat sering kualami. Dengan sopan aku mengajaknya untuk berteman saja. Syukur deh, dia mengerti. Bukan karena aku yang pada akhirnya berhasil semakin dekat dengan Yudha atau sedang mungkin merindukan…
“Aku kangen seseorang Za, makasih ya sudah baik.” Aku membuang senyum ke muka Reza yang aku baru tahu ternyata sangat dekat dengan pipiku. Aku pergi ke toilet wanita. Memandangi kaca dan menarik sekantong penuh cairan bening di belakang kedua bola mataku yang sudah tak lagi mampu kusembunyikan. Ego. Ini hanyalah egoku saja! Aku menepuki dadaku dan merintih seperti bayi. Membungkuk dan terengah-engah. “Tak apa, orang lain pun tak akan ada yang dengar.”
Dua bulan yang menyebalkan berakhir. Tentu saja hanya ada seorang yang terus mengawan di pikiranku. Harapan yang belum putus.
“Dari Radit,
Pagi Ren, apa kabar?
Ketemu yuk _^) ”
Aku begitu girangnya saat menghabiskan sekotak susu fermentasi dan membuka ponsel untuk pertama kalinya di hari ini, pesan itulah yang kubaca. Pesan yang sengaja kubuka paling dulu (dari yang lainnya). Aku segera kabur dari obrolan teman-teman dan mengeliar begitu saja. Tergopoh-gopoh berlarian seperti anak SD sedang bermain polisi-polisian. Tapi bedanya aku senang bukannya tegang karena takut ketahuan. Aku justru ingin dia segera tahu potongan rambut cokelatku yang baru dan mencubit pipinya sekeras mungkin. Ha, aku tidak sabar…
Dua orang berdiri saling berjajar…
Aku lihat Yudha dan Radit ± 15 meter di hadapanku kemudian aku segera bersembunyi di balik dua tong sampah di area fakultas ekonomi. Sedang membicarakan apa mereka? Keduanya benar-benar mempesona di mataku, tentu saja membuatku penasaran. Aku mengatur nafas supaya normal kembali. Merogoh saku tas dan meraih-raih selembar tisu untuk menyingkirkan keringat yang sudah membanjiri kening dan pelipisku. Eh, jatuh! HP-ku meluncur menghantam ukiran batu di samping sepatuku. Secara tak sengaja layar HP terbuka dan langsung nampak tampilan percakapan di aplikasi WhatsApp. Baru sadar ternyata ada tujuh kiriman dari Yudha yang belum terbaca. Meskipun demikian sepenggal kalimat berderet di samping display picturenya dengan jelas tertulis, “Dia pasti ikut senang juga..” Aku terlalu penasaran. Seluruh pesan dari Yudha pun langsung kubaca dan ternyata dari sebelum berangkat kuliah dia telah mengajakku untuk bertemu di dekat tempat di mana aku juga akan menemui Radit. Apa-apaan ini!
Aku berdiri. Teralih fokus ke arah kedua lelaki itu.
Yang mana dulu akan kusapa?
Radit menyenyumiku terlebih dulu tapi barengan itu, Yudha pun langsung menyapa dan menarik lenganku hingga aku tertarik mendekati Yudha (yang artinya aku lebih jauh dari Radit).
“Dit, ini gadis yang kuceritakan padamu. Harusnya sih kamu masih ingat. Gadis ini pernah meninggalkan CD padamu sewaktu PKPT, bagaimana?” Yudha mendekap bahuku dengan sangat hangat dan menyamankan. Semula aku gembira namun..
“Dia lumayan kok,” kata Radit sambil tersenyum. Aku jadi canggung. Dan salah tingkah!
“Dit, maaf sebenarnya aku mau tunjukkan ke kamu, bahwa hari ini..” Yudha melepaskan dekapannya dan bersilih menghadapiku.
“Ren, apakah kamu bisa menerimaku untuk menjadi salah satu lelaki yang dapat menjagamu…dengan sepenuh hatiku?”
Apa? INI TEMBAKAN?! Di depan Radit begini. Aku spontan menoleh ke arah Radit. Kekhawatiran jelas tergambar di seluruh relief kepala dan wajahku. Kulihat Radit perlahan menegakkan caranya berdiri dan sesekali mengepalkan tangan kirinya untuk menutupi bibirnya. Membuat hidung dan sebagian matanya ikut tertutup. Wajahnya menunduk. Membuatku tak lagi dapat melihat lehernya secara jelas. Aku tak boleh begini. Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang kulakukan. Lagipula aku juga yakin Radit akan senang melihatku telah mencapai impianku. Tak boleh! Jangan abaikan Yudha. Segera kembalilah ke hadapannya! “Ren..” panggil Yudha.
“Yud, aku telah menyukaimu semenjak lama. Tentu saja aku mengijinkanmu untuk itu.” Ya ampun aku telah.. menerimanya! Sekarang kami adalah.. pasangan! Yudha adalah orang yang sangat sopan. Selama kami PDKT sekalipun ia belum pernah menyentuh kulitku. Sama halnya seperti siang itu. Dia tak lantas memeluk atau menciumku seperti yang sering kutonton di layar kaca. Dengan lembut Yudha berkata, “Baiklah, Ren aku ada kelas, nanti aku teks lagi ya,” Yudha mengusap-usap rambutku dan mencubit pipiku kemudian berlalu. Aku tahu aku beruntung dapat menyaksikan betapa manisnya Yudha.
Namun..
Setelah Yudha cukup jauh meninggalkan tempat itu Radit menarikku pelan.
“Ren, ayo ikut aku,” ajak Radit. Aku terbangun dari lamunanku mengagumi ekspresi Yudha dan kembali memikirkan Radit. Saat dia berjalan membelakangiku aku melihat punggung dan jaket yang dikenakannya. Aku jelas akan merindukan itu semua! Tangan Radit masih menggenggam tanganku. Aku mengeratkan kepalan tangannya. Sepertinya Radit mengetahuinya tetapi lebih memilih diam. Baik aku atau dia pasti akan senantiasa menyayangi hari ini. Mataku terasa basah.
Hari ini adalah alasan ke-tiga. Kukira memang inilah akhirnya.
Dia teman baikku, sama dengan yang lainnya?. Mengapa tiap kali kuutarakan hal tersebut hatiku perih. Beberapa hari terakhir aku selalu berharap bahwa kami akan dapat bertemu kembali dalam cuaca yang nyaris selalu sepadan seperti biasanya.
Kecuali ini,
hujan sedang mewakilkan sesuatu..
Dalam hati kutemukan sederet pertanyaan,
“Apakah ada sedikit keberanian yang pantas kugunakan untuk mengatakannya? Ya, atau tidak?”
Aku tahu hatiku ini kurang emosional untuk meluapkannya.
Nampaknya yang berhak kudapatkan hanya keberanian membuka mata dengan jarak pandang yang bisa saja menjauh sewaktu-waktu.
Hari ini kami bersenang-senang hanya berdua.
Aku sadar.
Kupikir, apa dia berhasil?
Membuatku menggapainya dan menemukan jalanku sendiri untuk memilih?
Soal siapa yang akan aku pilih, hal itu bukan lagi urusannya.
Aku tak ditugaskan untuk meragukan, pemikiranku itu.
Hei, mengapa gelisah begitu? Hah. “Ren?” sekejap suara itu membangunkan kembali kedua kelopak mataku yang basah, yang sempat tertutup sementara waktu setelah beberapa waktu asyik memandangi Radit.
“Ren, apa tidak apa-apa basah kuyup seperti ini, sebaiknya terima saja tawaranku untuk menginap di rumah temanku dulu?” ucap Radit kelihatannya khawatir.
“Ren? Gimana, terima tawaranku atau tidak? Kasihan kamu lo, aku sih tidak apa-apa kebasahan seperti ini. Cowok sudah biasa kok main air,” celetus Radit bercampur gelak tawa ringan yang kedengaran spesial di telingaku. Hal yang pada hari ini menyadarkanku bahwa kami sedang pandang-memandang dalam posisi duduk dan menidurkan kepala di atas bangku Pak Wagimin. Pulang main dari waterpark di Selecta, hujan tiba-tiba menumpahkan amarahnya dan kami pun berjuang untuk berlarian ke tempat parkir mobil yang sangat jauh dari lokasi tanpa payung atau sejenisnya. Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh di warung kecil ini. Tak terasa hari sudah semakin gelap. Namun rasanya baik aku maupun Radit menyukai posisi ini.
Radit mengangkat kepalanya perlahan, dan tak lama kemudian diikuti oleh bahunya yang kekar dan senyum seadanya yang mulai terlukis di sekitar sudut matanya. Tapi aku tak lekas bangun. Tak satu pun pertanyaan Radit yang telah coba kujawab. Ada yang mengganjal namun tak sempat kusingkirkan sebelum Radit sadar bahwa kami sudah cukup lama tertidur.
“Satu jam tiga puluh dua menit. Lama juga ya hujannya?” Kataku memulai percakapan. Radit membalikkan posisi duduknya menghadap langit gelap berawan tebal dan meletakkan kedua sikutnya ke belakang, di atas bangku. Aku juga menirunya. Tetapi kedua tanganku kubiarkan lunglai sedemikian rupa hingga menyentuh kedua lututku. Aku menoleh ke arah Radit. Sepertinya dia sedang menikmati suara rintikan hujan, atau lebih memberitahuku bahwa hujan akan reda. Memang tinggal gerimis saja, aku yakin akan cepat berakhir.
“Kamu tidak lupa kan hari ini, mungkin adalah hari terakhir kita main bareng?” tanya Radit dengan suara tertahan.
“Ya.” Aku mengerutkan kedua alisku seperti hendak menangis namun kutahan juga. Radit memejamkan mata ke arah langit dan aku bergerak mendekatinya. Tanpa keraguan aku mendekap lengan kanannya. “Rad, aku… kedinginan,” kataku sambil mendekap erat-erat. Radit menjingkat kaget, namun lekas kembali tenang dan balas menempelkan dagunya di atas kepalaku dengan posisi tangan kirinya mendekap lenganku. Aku merasa sangat damai. Tapi aku tak dapat berlama-lama. Hujan reda dan besok Radit harus benar-benar pergi.
Kami berjalan pulang. Di dalam mobil, aku melepaskan sabuk pengaman dan duduk mendekat dengan Radit lalu bersandar. Radit mengizinkanku untuk itu. Sejauh ini semua baik-baik saja. Radit pun tak mengatakan sesuatu. Tapi jauh di dasar, apakah ini benar?
“Semester pertama awal adalah hari-hari di mana aku mengenal seorang teman yang sangat unik,” ujarnya sambil nyetir. “Ha?” aku heran sekaligus memberikan kode agar Radit meneruskan pembicaraannya.
“Aku mengerti dia menyukai teman baikku, dan aku oke dengan hal tersebut. Aku sengaja tak memberitahumu waktu datang ke rumah karena ada Yudha waktu itu, dan kamu terlihat lebih tertarik dengannya,”
“Rad, pernah patah hati enggak?” tanyaku memotong.
“Sekali saja. Kupikir aku bisa menemukan orang lain di sini..”
“Dan?”
“Dan mungkin aku menemukannya, tapi dia tak pernah melihatku. Aku terus membantunya karena berada di dekatnya pun aku sudah senang. Bagiku dengan membuatnya senang saja sudah menjadikan kepuasan bagiku.” Terangnya. Tiba-tiba dalam buku-buku pikiranku, terbuka kembali baris-baris kenangan yang sudah berlalu di mana aku dan teman-teman khususnya Radit berada.
“Aku menjadi tahu benar, kalau ada gadis yang berkepribadian laki-laki namun tetap manis pada semua orang,” sambungnya kemudian menoleh ke kaca spion untuk mengecek sesuatu di belakang. Aku sungguh mendengarkannya namun juga penasaran mengapa dia seperti ketakutan. “Ada apa?” tanyaku pada Radit.
“Seperti mobil Yudha Ren,”
“Oh ya, biar saja.” Sahutku.
“Apa? Jangan sembarangan, kamu bisa dalam bahaya!”
“Serius gak apa-apa Rad, teruskan kata-katamu. Akan kudengar, lagian hari ini akan menjadi kenangan terakhir,” kataku sambil kembali bersandar di bahu Radit dan menata kembali selimut hangat milik Radit.
“Terimakasih. Aku senang kamu memanggilku dengan suku kata pertama nama panggilanku sementara selama ini belum pernah ada yang memanggilku seimut itu,” hatiku bergejolak…
“Iren memanggil orang-orang yang mungkin spesial di dalam hidupnya dengan suku kata pertamanya. Mir, Yud, dan Rad. Ren maaf jika kelewatan, aku ingin mengatakan ini sejak lama tapi Iren tak pernah melihatku. Aku tahu siapa yang Iren suka. Dan karena bagi Iren semua cowok mungkin sama, sebagai teman, jadi aku lebih memilih untuk diam. Memperhatikan Iren dari kejauhan dan bersama-sama
memperjuangkan apa yang diimpikan oleh Iren.” Lorong hatiku serasa tersumbat. Hidungku tak lagi tahu bisa mengeluarkan lendir karena menangis atau tidak. Aku melepaskan tangis dengan mulut terkunci rapat dan memeluk erat Radit. Kenapa, tak kauucapkan semenjak dahulu Rad, aku rasa sudah terlambat bagiku untuk menyadari. Aku juga menyukaimu. Malam itu aku meluapkan segala emosi yang menjadi pertanyaanku selama ini. Tak henti-hentinya gambaran foto-foto Radit mengitari otakku. Aku tak ingin Radit pergi.
“Ren, sudah sampai rumah pakdhemu. Ren..” kata Radit membangunkanku. Ia terus mengusap pipiku dan mengoyak lirih tubuhku yang ternyata sudah lebih hangat dari saat kehujanan lalu. Samar-samar mataku terbuka. Kudapati aku tengah memeluk tubuh Radit. Segudang pertanyaan lewat di depan mataku. Apa saja yang telah kulakukan. Sebelum pada akhirnya pikiranku kembali mendapati memori-memori indah tentang saat-saat terakhir kami. Radit sudah turun namun aku masih membatu di tempatku semula. Radit mengulurkan tangan dan menarikku keluar.
“Akhirnya selesai juga,” ucap Radit sambil terus medorongku berjalan mundur mendekati gerbang depan rumah. Aku masih memeluk erat selimut tebal milik Radit. Rambutku yang sudah acak-acakan tak karuan itu dirapikan oleh Radit. Kemudian dia menepuk-nepuk kepalaku. Aku tersipu.
“Mumpung masih sempat, haha,” ia meringis tertawa membuat wajah tampannya keluar di permukaan. Tak berapa lama akhirnya dia diam. Kami diam.
Aku melangkah maju menjatuhkan kepala di atas dada Radit. Radit hanya diam kaku dengan jari tangan yang terus mengepal keras. Aku tahu karena aku melihatnya. Aku menangis terseret-seret, keras, lebih keras lagi hingga akhirnya kuputuskan untuk memukuli dada Radit sampai dia sempat melangkah mundur. Tapi Radit kemudian membalasku dengan memasukkanku ke dalam pelukannya. Pelukan yang ingin kubenci saja supaya tak terus teringat-ingat akan hal dalam dirinya. Tapi yang justru terjadi adalah aku semakin tak ingin melepaskan pelukan itu.
“Memeluklah dengan benar,” bisiknya lembut. Aku pun akhirnya membetulkan posisiku supaya dapat memeluknya dengan lega, untuk mungkin yang terakhir kalinya.
“Apa benar kau tidak akan pernah kembali lagi?”
“Iya. Lagipula setelah studiku usai, aku akan menyusul kedua orangtuaku di Singapura Ren.” Aku terus menangis.
“Mengapa kau menangis Ren?”
“Apa kamu pernah menyukaiku?”
“Mungkin. Kupikir aku pernah. Jangan seperti ini Ren. Kamu hanya akan membuat kepergianku tidak tenang,” bisik Radit dengan nada setengah menangis.
“Lalu kenapa tidak pernah kauutarakan ha? Apa yang kautakutkan? Belum pernah ada kata terlambat Rad!” Teriakku menyesalkan.
“Sudah terlambat Ren, maafkan aku. Iren hanya menyukai sahabatku. Aku tidak mungkin menghianati persahabatan kita,” jawabnya terisak.
“Tetap saja salah. Andai kauutarakan, aku bisa menolakmu dengan jelas atau justru…” aku mengeratkan pelukanku pada Radit. Berteriak sesakit mungkin menggigiti jaket Radit. Membenamkan segala gelisah yang akhirnya terjawab sudah. Menyadari bahwa kami sudah di luar terlalu lama, Radit pun melepaskan pelukannya. Aku tahu dia memandangiku namun aku membiarkan kedua mataku terpejam, tak mau melihatnya. Radit menghela napas panjang dan mengeluarkannya.
Sambil mendekatkan wajahnya kepadaku ia berbisik, “CD itu adalah punyaku, itu rekaman saat aku jalan-jalan bersama keluarga di Malang. Maaf tapi sepertinya CD-mu akan terus kubawa sampai kapanpun.” (CD-ku berisi rekaman saat aku jalan-jalan bersama keluarga di Jakarta, namun ayah melarangku pergi ke kota itu lagi untuk alasan yang belum pernah beliau ceritakan.)
Hari ini berakhir sudah. Sosok lelaki itu pun pergi meninggalkan bekas kecupan di pipiku sebelum pada akhirnya aku menegarkan diri untuk berani menyaksikannya menghidupkan mesin mobil. Selamat jalan!
Saat lampu kota Radit sedikit demi sedikit memudar, sebuah cahaya yang tak kalah terang menyoroti jalan dan tubuhku dari belakang. Rasanya cahaya itu lebih terang dari milik Radit. Akan terlalu konyol bila berpikir Radit kembali. Seorang lelaki tampan yang lain turun dari mobil hitam sehitam malam.
“Ren?” sapa Yudha sembari terus berjalan mendekatiku.
Bersambung.
Cerpen Karangan: Nur Ma’izzatul Akmal
Facebook: Nur Maizza
Pandanganku mengitari langit-langit kamar dengan lampu di tengahnya. Kalau Radit itu lampu, aku ada di posisi apa ya? Kukebut-kebutkan kipas tradisional Jepang hadiah dari ayah sewaktu pulang dari workshop di sekitar pipi dan mataku sampai akhirnya aku lepas.
Sebulan itu rasanya begitu lama.
Bila dikalkulasikan, ada sekitar tiga puluh hari kami bakalan tanpa Radit. Aku heran apakah kawan-kawan memikirkan hal yang sama. Saat aku kuliah, hal itulah yang selalu terlintas. “Ren, foto-foto bareng sana. Sudah seminggu lo kamu begini. Tidak biasanya kamu lebih memilih sendiri,” tegur Reza menasihati. Reza menembakku di atas rumah pohon di daerah Pujon Sabtu sore. Kami cukup akrab. Hanya dia yang sudi membantuku mengatasi masa-masa sulit untuk mengatur kelas selama posisi ketua kelas kosong. Bagiku Reza cukup manis dan ramah, membuatku lebih terbuka untuk minta bantuan di saat-saat tertekan. Sayang, dia telah keliru mengartikan kedekatan kami. Tapi aku selalu tenang. Kesalahpahaman seperti ini sudah
sangat sering kualami. Dengan sopan aku mengajaknya untuk berteman saja. Syukur deh, dia mengerti. Bukan karena aku yang pada akhirnya berhasil semakin dekat dengan Yudha atau sedang mungkin merindukan…
“Aku kangen seseorang Za, makasih ya sudah baik.” Aku membuang senyum ke muka Reza yang aku baru tahu ternyata sangat dekat dengan pipiku. Aku pergi ke toilet wanita. Memandangi kaca dan menarik sekantong penuh cairan bening di belakang kedua bola mataku yang sudah tak lagi mampu kusembunyikan. Ego. Ini hanyalah egoku saja! Aku menepuki dadaku dan merintih seperti bayi. Membungkuk dan terengah-engah. “Tak apa, orang lain pun tak akan ada yang dengar.”
Dua bulan yang menyebalkan berakhir. Tentu saja hanya ada seorang yang terus mengawan di pikiranku. Harapan yang belum putus.
“Dari Radit,
Pagi Ren, apa kabar?
Ketemu yuk _^) ”
Aku begitu girangnya saat menghabiskan sekotak susu fermentasi dan membuka ponsel untuk pertama kalinya di hari ini, pesan itulah yang kubaca. Pesan yang sengaja kubuka paling dulu (dari yang lainnya). Aku segera kabur dari obrolan teman-teman dan mengeliar begitu saja. Tergopoh-gopoh berlarian seperti anak SD sedang bermain polisi-polisian. Tapi bedanya aku senang bukannya tegang karena takut ketahuan. Aku justru ingin dia segera tahu potongan rambut cokelatku yang baru dan mencubit pipinya sekeras mungkin. Ha, aku tidak sabar…
Dua orang berdiri saling berjajar…
Aku lihat Yudha dan Radit ± 15 meter di hadapanku kemudian aku segera bersembunyi di balik dua tong sampah di area fakultas ekonomi. Sedang membicarakan apa mereka? Keduanya benar-benar mempesona di mataku, tentu saja membuatku penasaran. Aku mengatur nafas supaya normal kembali. Merogoh saku tas dan meraih-raih selembar tisu untuk menyingkirkan keringat yang sudah membanjiri kening dan pelipisku. Eh, jatuh! HP-ku meluncur menghantam ukiran batu di samping sepatuku. Secara tak sengaja layar HP terbuka dan langsung nampak tampilan percakapan di aplikasi WhatsApp. Baru sadar ternyata ada tujuh kiriman dari Yudha yang belum terbaca. Meskipun demikian sepenggal kalimat berderet di samping display picturenya dengan jelas tertulis, “Dia pasti ikut senang juga..” Aku terlalu penasaran. Seluruh pesan dari Yudha pun langsung kubaca dan ternyata dari sebelum berangkat kuliah dia telah mengajakku untuk bertemu di dekat tempat di mana aku juga akan menemui Radit. Apa-apaan ini!
Aku berdiri. Teralih fokus ke arah kedua lelaki itu.
Yang mana dulu akan kusapa?
Radit menyenyumiku terlebih dulu tapi barengan itu, Yudha pun langsung menyapa dan menarik lenganku hingga aku tertarik mendekati Yudha (yang artinya aku lebih jauh dari Radit).
“Dit, ini gadis yang kuceritakan padamu. Harusnya sih kamu masih ingat. Gadis ini pernah meninggalkan CD padamu sewaktu PKPT, bagaimana?” Yudha mendekap bahuku dengan sangat hangat dan menyamankan. Semula aku gembira namun..
“Dia lumayan kok,” kata Radit sambil tersenyum. Aku jadi canggung. Dan salah tingkah!
“Dit, maaf sebenarnya aku mau tunjukkan ke kamu, bahwa hari ini..” Yudha melepaskan dekapannya dan bersilih menghadapiku.
“Ren, apakah kamu bisa menerimaku untuk menjadi salah satu lelaki yang dapat menjagamu…dengan sepenuh hatiku?”
Apa? INI TEMBAKAN?! Di depan Radit begini. Aku spontan menoleh ke arah Radit. Kekhawatiran jelas tergambar di seluruh relief kepala dan wajahku. Kulihat Radit perlahan menegakkan caranya berdiri dan sesekali mengepalkan tangan kirinya untuk menutupi bibirnya. Membuat hidung dan sebagian matanya ikut tertutup. Wajahnya menunduk. Membuatku tak lagi dapat melihat lehernya secara jelas. Aku tak boleh begini. Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang kulakukan. Lagipula aku juga yakin Radit akan senang melihatku telah mencapai impianku. Tak boleh! Jangan abaikan Yudha. Segera kembalilah ke hadapannya! “Ren..” panggil Yudha.
“Yud, aku telah menyukaimu semenjak lama. Tentu saja aku mengijinkanmu untuk itu.” Ya ampun aku telah.. menerimanya! Sekarang kami adalah.. pasangan! Yudha adalah orang yang sangat sopan. Selama kami PDKT sekalipun ia belum pernah menyentuh kulitku. Sama halnya seperti siang itu. Dia tak lantas memeluk atau menciumku seperti yang sering kutonton di layar kaca. Dengan lembut Yudha berkata, “Baiklah, Ren aku ada kelas, nanti aku teks lagi ya,” Yudha mengusap-usap rambutku dan mencubit pipiku kemudian berlalu. Aku tahu aku beruntung dapat menyaksikan betapa manisnya Yudha.
Namun..
Setelah Yudha cukup jauh meninggalkan tempat itu Radit menarikku pelan.
“Ren, ayo ikut aku,” ajak Radit. Aku terbangun dari lamunanku mengagumi ekspresi Yudha dan kembali memikirkan Radit. Saat dia berjalan membelakangiku aku melihat punggung dan jaket yang dikenakannya. Aku jelas akan merindukan itu semua! Tangan Radit masih menggenggam tanganku. Aku mengeratkan kepalan tangannya. Sepertinya Radit mengetahuinya tetapi lebih memilih diam. Baik aku atau dia pasti akan senantiasa menyayangi hari ini. Mataku terasa basah.
Hari ini adalah alasan ke-tiga. Kukira memang inilah akhirnya.
Dia teman baikku, sama dengan yang lainnya?. Mengapa tiap kali kuutarakan hal tersebut hatiku perih. Beberapa hari terakhir aku selalu berharap bahwa kami akan dapat bertemu kembali dalam cuaca yang nyaris selalu sepadan seperti biasanya.
Kecuali ini,
hujan sedang mewakilkan sesuatu..
Dalam hati kutemukan sederet pertanyaan,
“Apakah ada sedikit keberanian yang pantas kugunakan untuk mengatakannya? Ya, atau tidak?”
Aku tahu hatiku ini kurang emosional untuk meluapkannya.
Nampaknya yang berhak kudapatkan hanya keberanian membuka mata dengan jarak pandang yang bisa saja menjauh sewaktu-waktu.
Hari ini kami bersenang-senang hanya berdua.
Aku sadar.
Kupikir, apa dia berhasil?
Membuatku menggapainya dan menemukan jalanku sendiri untuk memilih?
Soal siapa yang akan aku pilih, hal itu bukan lagi urusannya.
Aku tak ditugaskan untuk meragukan, pemikiranku itu.
Hei, mengapa gelisah begitu? Hah. “Ren?” sekejap suara itu membangunkan kembali kedua kelopak mataku yang basah, yang sempat tertutup sementara waktu setelah beberapa waktu asyik memandangi Radit.
“Ren, apa tidak apa-apa basah kuyup seperti ini, sebaiknya terima saja tawaranku untuk menginap di rumah temanku dulu?” ucap Radit kelihatannya khawatir.
“Ren? Gimana, terima tawaranku atau tidak? Kasihan kamu lo, aku sih tidak apa-apa kebasahan seperti ini. Cowok sudah biasa kok main air,” celetus Radit bercampur gelak tawa ringan yang kedengaran spesial di telingaku. Hal yang pada hari ini menyadarkanku bahwa kami sedang pandang-memandang dalam posisi duduk dan menidurkan kepala di atas bangku Pak Wagimin. Pulang main dari waterpark di Selecta, hujan tiba-tiba menumpahkan amarahnya dan kami pun berjuang untuk berlarian ke tempat parkir mobil yang sangat jauh dari lokasi tanpa payung atau sejenisnya. Akhirnya kami memutuskan untuk berteduh di warung kecil ini. Tak terasa hari sudah semakin gelap. Namun rasanya baik aku maupun Radit menyukai posisi ini.
Radit mengangkat kepalanya perlahan, dan tak lama kemudian diikuti oleh bahunya yang kekar dan senyum seadanya yang mulai terlukis di sekitar sudut matanya. Tapi aku tak lekas bangun. Tak satu pun pertanyaan Radit yang telah coba kujawab. Ada yang mengganjal namun tak sempat kusingkirkan sebelum Radit sadar bahwa kami sudah cukup lama tertidur.
“Satu jam tiga puluh dua menit. Lama juga ya hujannya?” Kataku memulai percakapan. Radit membalikkan posisi duduknya menghadap langit gelap berawan tebal dan meletakkan kedua sikutnya ke belakang, di atas bangku. Aku juga menirunya. Tetapi kedua tanganku kubiarkan lunglai sedemikian rupa hingga menyentuh kedua lututku. Aku menoleh ke arah Radit. Sepertinya dia sedang menikmati suara rintikan hujan, atau lebih memberitahuku bahwa hujan akan reda. Memang tinggal gerimis saja, aku yakin akan cepat berakhir.
“Kamu tidak lupa kan hari ini, mungkin adalah hari terakhir kita main bareng?” tanya Radit dengan suara tertahan.
“Ya.” Aku mengerutkan kedua alisku seperti hendak menangis namun kutahan juga. Radit memejamkan mata ke arah langit dan aku bergerak mendekatinya. Tanpa keraguan aku mendekap lengan kanannya. “Rad, aku… kedinginan,” kataku sambil mendekap erat-erat. Radit menjingkat kaget, namun lekas kembali tenang dan balas menempelkan dagunya di atas kepalaku dengan posisi tangan kirinya mendekap lenganku. Aku merasa sangat damai. Tapi aku tak dapat berlama-lama. Hujan reda dan besok Radit harus benar-benar pergi.
Kami berjalan pulang. Di dalam mobil, aku melepaskan sabuk pengaman dan duduk mendekat dengan Radit lalu bersandar. Radit mengizinkanku untuk itu. Sejauh ini semua baik-baik saja. Radit pun tak mengatakan sesuatu. Tapi jauh di dasar, apakah ini benar?
“Semester pertama awal adalah hari-hari di mana aku mengenal seorang teman yang sangat unik,” ujarnya sambil nyetir. “Ha?” aku heran sekaligus memberikan kode agar Radit meneruskan pembicaraannya.
“Aku mengerti dia menyukai teman baikku, dan aku oke dengan hal tersebut. Aku sengaja tak memberitahumu waktu datang ke rumah karena ada Yudha waktu itu, dan kamu terlihat lebih tertarik dengannya,”
“Rad, pernah patah hati enggak?” tanyaku memotong.
“Sekali saja. Kupikir aku bisa menemukan orang lain di sini..”
“Dan?”
“Dan mungkin aku menemukannya, tapi dia tak pernah melihatku. Aku terus membantunya karena berada di dekatnya pun aku sudah senang. Bagiku dengan membuatnya senang saja sudah menjadikan kepuasan bagiku.” Terangnya. Tiba-tiba dalam buku-buku pikiranku, terbuka kembali baris-baris kenangan yang sudah berlalu di mana aku dan teman-teman khususnya Radit berada.
“Aku menjadi tahu benar, kalau ada gadis yang berkepribadian laki-laki namun tetap manis pada semua orang,” sambungnya kemudian menoleh ke kaca spion untuk mengecek sesuatu di belakang. Aku sungguh mendengarkannya namun juga penasaran mengapa dia seperti ketakutan. “Ada apa?” tanyaku pada Radit.
“Seperti mobil Yudha Ren,”
“Oh ya, biar saja.” Sahutku.
“Apa? Jangan sembarangan, kamu bisa dalam bahaya!”
“Serius gak apa-apa Rad, teruskan kata-katamu. Akan kudengar, lagian hari ini akan menjadi kenangan terakhir,” kataku sambil kembali bersandar di bahu Radit dan menata kembali selimut hangat milik Radit.
“Terimakasih. Aku senang kamu memanggilku dengan suku kata pertama nama panggilanku sementara selama ini belum pernah ada yang memanggilku seimut itu,” hatiku bergejolak…
“Iren memanggil orang-orang yang mungkin spesial di dalam hidupnya dengan suku kata pertamanya. Mir, Yud, dan Rad. Ren maaf jika kelewatan, aku ingin mengatakan ini sejak lama tapi Iren tak pernah melihatku. Aku tahu siapa yang Iren suka. Dan karena bagi Iren semua cowok mungkin sama, sebagai teman, jadi aku lebih memilih untuk diam. Memperhatikan Iren dari kejauhan dan bersama-sama
memperjuangkan apa yang diimpikan oleh Iren.” Lorong hatiku serasa tersumbat. Hidungku tak lagi tahu bisa mengeluarkan lendir karena menangis atau tidak. Aku melepaskan tangis dengan mulut terkunci rapat dan memeluk erat Radit. Kenapa, tak kauucapkan semenjak dahulu Rad, aku rasa sudah terlambat bagiku untuk menyadari. Aku juga menyukaimu. Malam itu aku meluapkan segala emosi yang menjadi pertanyaanku selama ini. Tak henti-hentinya gambaran foto-foto Radit mengitari otakku. Aku tak ingin Radit pergi.
“Ren, sudah sampai rumah pakdhemu. Ren..” kata Radit membangunkanku. Ia terus mengusap pipiku dan mengoyak lirih tubuhku yang ternyata sudah lebih hangat dari saat kehujanan lalu. Samar-samar mataku terbuka. Kudapati aku tengah memeluk tubuh Radit. Segudang pertanyaan lewat di depan mataku. Apa saja yang telah kulakukan. Sebelum pada akhirnya pikiranku kembali mendapati memori-memori indah tentang saat-saat terakhir kami. Radit sudah turun namun aku masih membatu di tempatku semula. Radit mengulurkan tangan dan menarikku keluar.
“Akhirnya selesai juga,” ucap Radit sambil terus medorongku berjalan mundur mendekati gerbang depan rumah. Aku masih memeluk erat selimut tebal milik Radit. Rambutku yang sudah acak-acakan tak karuan itu dirapikan oleh Radit. Kemudian dia menepuk-nepuk kepalaku. Aku tersipu.
“Mumpung masih sempat, haha,” ia meringis tertawa membuat wajah tampannya keluar di permukaan. Tak berapa lama akhirnya dia diam. Kami diam.
Aku melangkah maju menjatuhkan kepala di atas dada Radit. Radit hanya diam kaku dengan jari tangan yang terus mengepal keras. Aku tahu karena aku melihatnya. Aku menangis terseret-seret, keras, lebih keras lagi hingga akhirnya kuputuskan untuk memukuli dada Radit sampai dia sempat melangkah mundur. Tapi Radit kemudian membalasku dengan memasukkanku ke dalam pelukannya. Pelukan yang ingin kubenci saja supaya tak terus teringat-ingat akan hal dalam dirinya. Tapi yang justru terjadi adalah aku semakin tak ingin melepaskan pelukan itu.
“Memeluklah dengan benar,” bisiknya lembut. Aku pun akhirnya membetulkan posisiku supaya dapat memeluknya dengan lega, untuk mungkin yang terakhir kalinya.
“Apa benar kau tidak akan pernah kembali lagi?”
“Iya. Lagipula setelah studiku usai, aku akan menyusul kedua orangtuaku di Singapura Ren.” Aku terus menangis.
“Mengapa kau menangis Ren?”
“Apa kamu pernah menyukaiku?”
“Mungkin. Kupikir aku pernah. Jangan seperti ini Ren. Kamu hanya akan membuat kepergianku tidak tenang,” bisik Radit dengan nada setengah menangis.
“Lalu kenapa tidak pernah kauutarakan ha? Apa yang kautakutkan? Belum pernah ada kata terlambat Rad!” Teriakku menyesalkan.
“Sudah terlambat Ren, maafkan aku. Iren hanya menyukai sahabatku. Aku tidak mungkin menghianati persahabatan kita,” jawabnya terisak.
“Tetap saja salah. Andai kauutarakan, aku bisa menolakmu dengan jelas atau justru…” aku mengeratkan pelukanku pada Radit. Berteriak sesakit mungkin menggigiti jaket Radit. Membenamkan segala gelisah yang akhirnya terjawab sudah. Menyadari bahwa kami sudah di luar terlalu lama, Radit pun melepaskan pelukannya. Aku tahu dia memandangiku namun aku membiarkan kedua mataku terpejam, tak mau melihatnya. Radit menghela napas panjang dan mengeluarkannya.
Sambil mendekatkan wajahnya kepadaku ia berbisik, “CD itu adalah punyaku, itu rekaman saat aku jalan-jalan bersama keluarga di Malang. Maaf tapi sepertinya CD-mu akan terus kubawa sampai kapanpun.” (CD-ku berisi rekaman saat aku jalan-jalan bersama keluarga di Jakarta, namun ayah melarangku pergi ke kota itu lagi untuk alasan yang belum pernah beliau ceritakan.)
Hari ini berakhir sudah. Sosok lelaki itu pun pergi meninggalkan bekas kecupan di pipiku sebelum pada akhirnya aku menegarkan diri untuk berani menyaksikannya menghidupkan mesin mobil. Selamat jalan!
Saat lampu kota Radit sedikit demi sedikit memudar, sebuah cahaya yang tak kalah terang menyoroti jalan dan tubuhku dari belakang. Rasanya cahaya itu lebih terang dari milik Radit. Akan terlalu konyol bila berpikir Radit kembali. Seorang lelaki tampan yang lain turun dari mobil hitam sehitam malam.
“Ren?” sapa Yudha sembari terus berjalan mendekatiku.
Bersambung.
Cerpen Karangan: Nur Ma’izzatul Akmal
Facebook: Nur Maizza
Bukan Berarti Tak Satu Pun Dari Mereka Tak Kusukai (Part 2)
4/
5
Oleh
Unknown
