Siswi Hilang

Baca Juga :
    Judul Cerpen Siswi Hilang

    Namaku Valencia, orang memanggilku Cia (Sia).
    Aku berumur 16 tahun, mudah terharu, sedih dan marah. Tapi aku juga jago bela diri. Sejak umur 9 tahun, aku masuk kursus Karate.

    Pagi ini aku pergi ke sekolah bersama sahabatku, Hikma, atau akrab disapa Ima

    “Ima, kasian banget ya, Feli.” Kataku tiba tiba. “Ya, sudahlah Cia, pasti dia gak papa. Guru udah menelepon polisi, kasus sudah sementara ditangani, tenang aja, Cia.” Jawabnya dengan wajah santai. Ya, sahabatku Felicia Grisel pergi entah kemana. Ia terakhir kali berada di kamar mandi sekolah saat sesudah ia meminta izin pada guru kami, Bu Siti.

    Anehnya, siswa di kelas kami pun hilang selama 5 hari. Namun, kami tak pernah curiga padanya. ‘Ah sudahlah, tak mungkin, tak mungkin Ia yang menculiknya. Hufft’ pikirku dalam hati.

    Sampai di kelas, semua siswa maupun siswi berkumpul di dekat satu keramik yang bertanda spidol merah permanen. “Ada apa nih?” Tanyaku pada salah seorang temanku, Putri. “Ada yang aneh nih, Cia. Ada tanda spidol merah disitu, anehnya, cipratan darah pun ada. Kami jadi takut, tapi, kami malahan berkumpul di sana. Entah ngapain ya lihat lihat aja.” Jawabnya panjang lebar. “Ohh, makasih ya”

    Siangnya, setelah melapor ke polisi, seorang detektif, inspektur, dan 10 anggota polisi pergi ke kelas kami.
    Mereka membebaskan kelas kami setelah 3 jam menyelidiki. Kami cukup bosan, namun juga senang karena bisa makan, minum, bermain bahkan pulang untuk beberapa saat lebih awal dari kelas lain.

    Seorang detektif tiba tiba bertanya. “Apakah ada orang yang mengenal ‘Felicia Grisel’?” Maka, semua pun langsung mengangkat tangan. “Hanya untuk sahabatnya saja. Orang orang terdekat harap masuk.” Yang masuk adalah aku, Ima, dan Putri. Kami berempat satu geng, salah satu geng paling terhormat di sekolah ini. “Maaf, kami benar benar meminta maaf. Sahabat kalian, yang dikenal sebagai Amora Felicia Grisel, telah kembali kepada yang maha kuasa, maha esa.” Kata inspektur dengan wajah sedih.

    Tangisku pecah, aku berteriak tak jelas, orang orang di luar pun langsung berkumpul, berusaha membuatku tenang. “Sudah, sudah Cia. Feli gak bakal senang lihat kamu nangis. Kamu ingat kan? Saat kamu nangis karena diputusin Mario?” Bujuk Ima.

    FLASHBACK
    “Valencia Willy Riya, hubungan kita cukup di sini. Aku sudah muak kau mengabaikan ku terus dengan segala tugas tugas itu.” Ucapnya, meninggalkanku. Sedih, pedih, tangisku pecah, benar benar pecah. Untung keadaan sekolah sepi, Ima, Feli, dan Putri membujukku. Mengajakku ke taman “Sudah, Cia. Gak papa. Aku gak suka lho, kamu nangis, kalau kamu nangis, aku juga nangis.” Bujuk Feli. Tak tega ia juga menangis, aku pun diam.
    FLASHBACK OFF

    Aku diam, mengingat kejadian itu, saat pria sialan itu memutuskan hubungan kami. Tiba tiba terdengar suara “Huhuhuhuhu..” itulah suara tangisan tersebut.
    (A/N : Oh Ya, kalian mungkin penasaran, darimana mereka mendapat mayat Feli? Entar ya!)
    “Da-da, darimana suara itu?” Tanyaku. “Dari lubang ini, nona.” Jawab detektif itu. Ternyata mereka menggali lubang di keramik mengerikan itu. “Ia berkata bahwa kalau aku menangis, ia juga menangis.” Kataku dengan isakan isakan. “Ia belum tenang, maafkan aku, Feli. Aku tak bermaksud. Istirahatlah dengan tenang.” Maka mayat pun diam. Semua orang ngeri dengan kejadian itu, sebagian pingsan, sebagian pula meninggalkan ruangan

    “Pelaku membawa mayat korban dari kamar mandi, ia tidak melap darah yang menetes di sekitar lapangan. Di kamar mandi pun penuh darah, Saat sekitar sore kemarin. Buktinya, darah sudah kering. Mengapa darah tidak menetes di keramik lain? Karena, ini.” Sang detektif menjelaskan. Menunjukkan saputangan berdarah milik tersangka. “Apakah ada yang tahu saputangan siapa ini?” Tanyanya. “Itu… saputangan Mario.” Tak mungkin, kupikir. Kuteriakkan nama itu, “MARIO, KAU MEMANG SIALAAAAAN!!!” “Tenang nona, kasus ini akan segera terungkap. Silahkan lanjutkan, tuan detektif” kata sang inspektur.

    “Ia menggunakan saputangan ini untuk melap darah darah di keramik. Kami juga menemukan darah kering di satu meja panjang itu.” Katanya sambil menunjuk salah satu meja panjang yang mempunyai laci, ya. Itu milik siswa. “Ia meletakkan mayat disitu sementara melap darah. Kemudian menggali lubang. Dan menaruh mayat disana. Namun, ternyata tersangka ceroboh juga. Ia meninggalkan semua barang barangnya. Saputangan ini ditemukan di bawah meja yang sama, kami juga menemukan sekop yang ia taruh di belakang pintu, tentu tidak ada yang menyadarinya. Ia juga langsung menutup keramik setelah tanah ditaruh kembali, namun sisa sisa tanah masih ada. Juga spidol merah permanen. Ia lupa melap darah yang cipratannya menetes karena, saat itu ia menggendong korban dengan tangan sebelah dimana tepat di bawahnya adalah keramik tersebut, ia menggendongnya dengan gaya begitu ketika selesai melap, tangan satunya menaruh saputangan di pinggir meja, namun sayang jatuh. Karena, saat itu kipas menyala, kami sudah bertanya pada petugas piket kemarin. Lalu, ia pergi.” Jelas sang detektif.

    Kulihat Mario, berkeringat dingin, ia ditanya oleh sang detektif, mengapa ia membunuh korban? “Itu karena, ia.. ia… ia membujuk Cia saat aku memutuskan hubungan kita. Itu, itu membuat Cia lebih melupakanku. Walaupun sudah putus, aku masih menyayanginya, aku sangat menyukai senyumnya. Bagaikan senyum bidadari yang jatuh dari surga. Aku masih ingin berteman, Valencia Willy Riya, gadis pujaan hatiku” katanya sambil menangis.
    “Kalau begitu kau harusnya lebih sabar padaku” jawabku singkat, Mario pun ditangkap dan sekolah berjalan seperti semula.

    “Senang Yaaa!! Pembunuh Feli sudah ketemuu!!” Seruku keesokan harinya, pada Ima dan Putri.

    FINISHED

    Cerpen Karangan: Pearl Nafeesa
    Facebook: Pearl Nafeesa

    Artikel Terkait

    Siswi Hilang
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email