Judul Cerpen Yang Takkan Pernah Ada
Hembusan angin dan rinai hujan mengiringi langkahku berjalan pada waktu pagi itu, dengan jiwa yang semangat untuk membuka lembaran baru dalam hidupku dan senyuman yang lepas kepada setiap insan manusia yang kulewati. Tertegun langkahku sejenak saat aku melihat sosok seseorang yang wajahnya tak kukenal sedikit pun, mataku yang tak lepas memandang sosok pria yang berdiri di perempatan jalan. Hatiku bertanya siapakah dia? Dengan berjuta tanda Tanya di hati dan fikiranku.
Disaat sinar mentari mulai malu-malu untuk menunjukkan keindahannya kepada mahkluk. Aku yang baru saja mengakhiri pencarian ilmuku pada hari itu berdiri di gerbang sekolah untuk menunggu angkutan umum. Disaat itu pula sosok pria yang kulihat tadi pagi lewat dengan membawa motor berwarna hijau. Hatiku pun berubah tak menentu, aku tak tau apakah arti dari persaanku ini apakah ini pertanda baik atau malah sebaliknya. Aku dengan jiwa yang mudaku berusaha mencari tahu siapakah sosok pria itu, melalui berbagai cara telah aku upayakan hampir enam bulan aku mencari tahu sosok pria itu. Salah seorang dari temanku memberikan berita tentang pria itu meskipun itu baru nama panggilannya. Namanya adalah fauzan, dan aku tak berhenti sampai disitu aku berusaha mencari dia di sosmed tapi aku tak pernah menemukan dia. Tapi aku masih mempunyai sahabat yang selalu membantuku untuk mencari identitas pria itu dan akhirnya dalam waktu kurang lebih dua minggu dari kami menemukan nama panggilannya, kami menemukan nama panjangnya yaitu muhamad fauzan. dan aku langsung mencari namanya di sosmed berkat usahaku yang kurang lebih enam bulan ini dalam waktu 2 hari aku sudah bisa mengetahui identitasnya. Hatiku yang sudah lama tak pernah mengenal arti cinta kembali muncul untuk mengisi hatiku dengan berharap berjuta kebahagian.
Aku bukanlah tipe cewek yang mau chating cowok terlebih dahulu, tapi pada saat itu aku memberanikan diri untuk memulai chatingan dengan dia. Tapi tidak sampai seminggu aku pun mengakhiri obrolan kami, setelah aku mengetahui bahwa dia sudah mempunyai pasangan. Disaat itu aku merasakan yang namanya kekecewaan, tapi anehnya prasaanku padanya tak pernah berubah meski pun akalku tak bisa menerima ini, di saat itu aku merasakan hati dan akalku tak bersahabat lagi. Disaat aku membuka sosmed jariku tak pernah letih untuk mencari namanya, meskipun itu hanya melihat fotonya. Aku yang selalu mengikuti perkembangan percintaannya sampai akhirnya mereka putus aku mengetahui semua itu. Tapi apalah dayaku, aku tak bisa mengatakan semua isi hatiku padanya, tapi aku selalu mengutarakan isi hatiku kepada yang bisa mendengar isi hatiku tanpa aku mengatakan sedikitpun kepadannya yaitu allah swt. Aku tak pernah berhenti di dalam doa dan aku tak pernah bosan untuk menyebut namanya di dalam doaku dan berharap semua keingianannya tercapai termasuk untuk menjadi atlet volley ball yang sukses. Saat itu aku tak penah berharap dia untuk bisa mengenal diriku.
Sekarang umurku sudah mau memasuki 18 tahun tak kusangka perasaanku masih sama kepadanya saat aku mulai menyimpan rasa kepadanya pada saat itu umurku baru 16 tahun. Aku tak pernah berniat untuk mencari yang lain, aku tak pernah bisa move on darinya. Aku berusaha untuk memberanikan diri menanyakan kepada temannya apakah saat sekarang ini dia sudah mempunyai pasangan atau tidak, temannya mengatakan “semanjak dia putus dengan pacarnya yang dulu dia tak pernah menjalin hubungan dengan yang lain”, Mendengar berita itu aku merasa sangat bahagia. Dan aku mencari jalan untuk mendekatinya yaitu aku membuat akun facebook tapi tidak menggunakan nama asliku melainkan aku memakai nama samaran adalah faizah. Aku mulai memamiankan misiku, chating pertama tak pernah dibalasnya, tapi aku tak pernah berhenti segitu saja, aku memberanikan diri mengirim pesan dengan mengatakan “selamat ya telah masuk popda untuk mewakilkan agam dengan no punggung 05” semenjak itu dia mau membalas chatku.
Berjalan 2 minggu kami cahtingan aku berani untuk menanyakan “teman dengar-dengarnya sekarang lagi PDKT sama nurul ya” dia menjawab “hmm.. susah deketinya”. mendengar jawabannya hatiku jadi berubah, tapi aku sadar aku bakan siapa-siapa dan aku selalu memberi semangat kepadanya untuk bisa mendapatkan hati nurul.
Setelah beberapa hari kami kehilangan kabar, aku menanyakan kembali “sudah berapa persen PDKT nya” dia membalas “baru 0,05 persen teman” di sisi lain hatiku senang di sisi lain hatiku tak tega membacanya. Sudah hampir 2 bulan kami chatingan dia mulai menayakan siapakah diriku sebenarnya dan kenapa aku tak pernah mengaploud fotoku di sosmed. Aku hanya bisa menjawab nanti waktunya akan tiba, semenjak aku mengirim pesan itu kepadanya dia tak pernah lagi membalas chatingku. Aku merasa mungkin ini adalah hukuman kepada diriku atas kebohongan yang kulakukan kepadanya. Dan aku memutuskan untuk menghapus semua chatingan kami meskipun di dalamnya banyak kenangan, kenangan saat aku yang selalu memberikan semangat dan perhatian kepadanya apabila setiap dia ingin mengikuti pertandingan ataupun turnamen volley, kenangan saat aku memberikan perhatian saat dia sakit, dan itu hilang dengan cepatnya saat aku menekan tombol delete.
1 minggu aku berusaha move on darinya, akhirnya aku mulai bisa meskipun sedikit kenangan itu masih tersimpan di memoriku. Pada hari juma’at itu sudah sebulan aku move on darinya, dengan semangat baru dan hati yang baru aku berjalan menyusuri jalan yang selalu kudatangi untuk menuju ke sekolah. Entah hari apakah itu bagi diriku apakah itu hari keberuntungan ataukah itu hari kesialan bagi diriku, karena pada saat itu aku melihatnya dimana saat diriku melihat dia pertama kali yaitu di perempatan jalan awalnya hatiku senang karena sudah sebulan aku tak pernah menjalin komunikasi Tapi mungkin hari ini memang tak hari baik bagi diriku, karena itu pertama kalinya aku melihatnya membonceng seorang perempuan. Perempuan itu adalah nurul, cewek yang telah berhasil dia dapatkan hatinya, cewek yang susah banget dia dekatin.
Sekarang tanggal 09 agustus 2016, ini adalah tanggal kelahiran Fauzan, aku yang tak aakn pernah lupa akan tanggal itu masih berusaha untuk memberikan ucapan selamat kepadanya. Meskipun aku bukan orang yang pertama ngucapinnya sih, dan itu merupakan penutup terakhir bagiku. karena pada 13 09 2016, 6:00 wib aku mendapat kabar mengenai Fauzan bahwasanya dia sudah pergi untuk selamnya, pada saat mendengar kabar itu aku mengganggap bahwa itu hanyalah leluconan aku benar-benar tidak mempercayai itu, aku merasa itu hanya mimpi. Pada saaat itu aku benar-benar tidak mempercayai kabar itu, sesampaiku di sekolah semua orang membicarakan dia, aku yang mendengar itu merasa terguncang merasa belum yakin sepenuhnya. Karena pada hari sebelumnya aku mesih melihatnya, dan pada malamnya aku bermimpi denganya meskipun di dalam mimpi itu dia tak berkata sedikitpun. Orang banyak mengatakan dia meninggal karena kecelakaan pada saat ingin pulang dari pertandingan volly pada hari jumaat sore.
Hanya satu yang aku sesali aku tak pernah jujur akan perasaanku kepadanya yang kurang lebih 3 tahun aku pendam, tanpa dia mengetahui sedikitpun persaanku padanya. Sekarang tidak akan ada lagi aku lihat senyumnya, wajahnya dan aksinya saat bermain volly. Semua itu hanya akan menjadi kenangan tersendiri di dalam hidupku, mungkin aku tidak akan suka lagi dengan namanya volly. Sekarang aku hanya bisa melihat fotonya sebagai pengobat rinduku padanya, dan aku berdoa semaoga dia tenang di alam sana dan semua amalannya diterima allah swt. 09 08 1999 -12 09 2016 (17 tahun), satu keinginanku aku hanya ingin melihat makamnya, meskipun itu jauh SOREK, RIAU.
Cerpen Karangan: Debby
Facebook: Debby Musrinia Utami
Hembusan angin dan rinai hujan mengiringi langkahku berjalan pada waktu pagi itu, dengan jiwa yang semangat untuk membuka lembaran baru dalam hidupku dan senyuman yang lepas kepada setiap insan manusia yang kulewati. Tertegun langkahku sejenak saat aku melihat sosok seseorang yang wajahnya tak kukenal sedikit pun, mataku yang tak lepas memandang sosok pria yang berdiri di perempatan jalan. Hatiku bertanya siapakah dia? Dengan berjuta tanda Tanya di hati dan fikiranku.
Disaat sinar mentari mulai malu-malu untuk menunjukkan keindahannya kepada mahkluk. Aku yang baru saja mengakhiri pencarian ilmuku pada hari itu berdiri di gerbang sekolah untuk menunggu angkutan umum. Disaat itu pula sosok pria yang kulihat tadi pagi lewat dengan membawa motor berwarna hijau. Hatiku pun berubah tak menentu, aku tak tau apakah arti dari persaanku ini apakah ini pertanda baik atau malah sebaliknya. Aku dengan jiwa yang mudaku berusaha mencari tahu siapakah sosok pria itu, melalui berbagai cara telah aku upayakan hampir enam bulan aku mencari tahu sosok pria itu. Salah seorang dari temanku memberikan berita tentang pria itu meskipun itu baru nama panggilannya. Namanya adalah fauzan, dan aku tak berhenti sampai disitu aku berusaha mencari dia di sosmed tapi aku tak pernah menemukan dia. Tapi aku masih mempunyai sahabat yang selalu membantuku untuk mencari identitas pria itu dan akhirnya dalam waktu kurang lebih dua minggu dari kami menemukan nama panggilannya, kami menemukan nama panjangnya yaitu muhamad fauzan. dan aku langsung mencari namanya di sosmed berkat usahaku yang kurang lebih enam bulan ini dalam waktu 2 hari aku sudah bisa mengetahui identitasnya. Hatiku yang sudah lama tak pernah mengenal arti cinta kembali muncul untuk mengisi hatiku dengan berharap berjuta kebahagian.
Aku bukanlah tipe cewek yang mau chating cowok terlebih dahulu, tapi pada saat itu aku memberanikan diri untuk memulai chatingan dengan dia. Tapi tidak sampai seminggu aku pun mengakhiri obrolan kami, setelah aku mengetahui bahwa dia sudah mempunyai pasangan. Disaat itu aku merasakan yang namanya kekecewaan, tapi anehnya prasaanku padanya tak pernah berubah meski pun akalku tak bisa menerima ini, di saat itu aku merasakan hati dan akalku tak bersahabat lagi. Disaat aku membuka sosmed jariku tak pernah letih untuk mencari namanya, meskipun itu hanya melihat fotonya. Aku yang selalu mengikuti perkembangan percintaannya sampai akhirnya mereka putus aku mengetahui semua itu. Tapi apalah dayaku, aku tak bisa mengatakan semua isi hatiku padanya, tapi aku selalu mengutarakan isi hatiku kepada yang bisa mendengar isi hatiku tanpa aku mengatakan sedikitpun kepadannya yaitu allah swt. Aku tak pernah berhenti di dalam doa dan aku tak pernah bosan untuk menyebut namanya di dalam doaku dan berharap semua keingianannya tercapai termasuk untuk menjadi atlet volley ball yang sukses. Saat itu aku tak penah berharap dia untuk bisa mengenal diriku.
Sekarang umurku sudah mau memasuki 18 tahun tak kusangka perasaanku masih sama kepadanya saat aku mulai menyimpan rasa kepadanya pada saat itu umurku baru 16 tahun. Aku tak pernah berniat untuk mencari yang lain, aku tak pernah bisa move on darinya. Aku berusaha untuk memberanikan diri menanyakan kepada temannya apakah saat sekarang ini dia sudah mempunyai pasangan atau tidak, temannya mengatakan “semanjak dia putus dengan pacarnya yang dulu dia tak pernah menjalin hubungan dengan yang lain”, Mendengar berita itu aku merasa sangat bahagia. Dan aku mencari jalan untuk mendekatinya yaitu aku membuat akun facebook tapi tidak menggunakan nama asliku melainkan aku memakai nama samaran adalah faizah. Aku mulai memamiankan misiku, chating pertama tak pernah dibalasnya, tapi aku tak pernah berhenti segitu saja, aku memberanikan diri mengirim pesan dengan mengatakan “selamat ya telah masuk popda untuk mewakilkan agam dengan no punggung 05” semenjak itu dia mau membalas chatku.
Berjalan 2 minggu kami cahtingan aku berani untuk menanyakan “teman dengar-dengarnya sekarang lagi PDKT sama nurul ya” dia menjawab “hmm.. susah deketinya”. mendengar jawabannya hatiku jadi berubah, tapi aku sadar aku bakan siapa-siapa dan aku selalu memberi semangat kepadanya untuk bisa mendapatkan hati nurul.
Setelah beberapa hari kami kehilangan kabar, aku menanyakan kembali “sudah berapa persen PDKT nya” dia membalas “baru 0,05 persen teman” di sisi lain hatiku senang di sisi lain hatiku tak tega membacanya. Sudah hampir 2 bulan kami chatingan dia mulai menayakan siapakah diriku sebenarnya dan kenapa aku tak pernah mengaploud fotoku di sosmed. Aku hanya bisa menjawab nanti waktunya akan tiba, semenjak aku mengirim pesan itu kepadanya dia tak pernah lagi membalas chatingku. Aku merasa mungkin ini adalah hukuman kepada diriku atas kebohongan yang kulakukan kepadanya. Dan aku memutuskan untuk menghapus semua chatingan kami meskipun di dalamnya banyak kenangan, kenangan saat aku yang selalu memberikan semangat dan perhatian kepadanya apabila setiap dia ingin mengikuti pertandingan ataupun turnamen volley, kenangan saat aku memberikan perhatian saat dia sakit, dan itu hilang dengan cepatnya saat aku menekan tombol delete.
1 minggu aku berusaha move on darinya, akhirnya aku mulai bisa meskipun sedikit kenangan itu masih tersimpan di memoriku. Pada hari juma’at itu sudah sebulan aku move on darinya, dengan semangat baru dan hati yang baru aku berjalan menyusuri jalan yang selalu kudatangi untuk menuju ke sekolah. Entah hari apakah itu bagi diriku apakah itu hari keberuntungan ataukah itu hari kesialan bagi diriku, karena pada saat itu aku melihatnya dimana saat diriku melihat dia pertama kali yaitu di perempatan jalan awalnya hatiku senang karena sudah sebulan aku tak pernah menjalin komunikasi Tapi mungkin hari ini memang tak hari baik bagi diriku, karena itu pertama kalinya aku melihatnya membonceng seorang perempuan. Perempuan itu adalah nurul, cewek yang telah berhasil dia dapatkan hatinya, cewek yang susah banget dia dekatin.
Sekarang tanggal 09 agustus 2016, ini adalah tanggal kelahiran Fauzan, aku yang tak aakn pernah lupa akan tanggal itu masih berusaha untuk memberikan ucapan selamat kepadanya. Meskipun aku bukan orang yang pertama ngucapinnya sih, dan itu merupakan penutup terakhir bagiku. karena pada 13 09 2016, 6:00 wib aku mendapat kabar mengenai Fauzan bahwasanya dia sudah pergi untuk selamnya, pada saat mendengar kabar itu aku mengganggap bahwa itu hanyalah leluconan aku benar-benar tidak mempercayai itu, aku merasa itu hanya mimpi. Pada saaat itu aku benar-benar tidak mempercayai kabar itu, sesampaiku di sekolah semua orang membicarakan dia, aku yang mendengar itu merasa terguncang merasa belum yakin sepenuhnya. Karena pada hari sebelumnya aku mesih melihatnya, dan pada malamnya aku bermimpi denganya meskipun di dalam mimpi itu dia tak berkata sedikitpun. Orang banyak mengatakan dia meninggal karena kecelakaan pada saat ingin pulang dari pertandingan volly pada hari jumaat sore.
Hanya satu yang aku sesali aku tak pernah jujur akan perasaanku kepadanya yang kurang lebih 3 tahun aku pendam, tanpa dia mengetahui sedikitpun persaanku padanya. Sekarang tidak akan ada lagi aku lihat senyumnya, wajahnya dan aksinya saat bermain volly. Semua itu hanya akan menjadi kenangan tersendiri di dalam hidupku, mungkin aku tidak akan suka lagi dengan namanya volly. Sekarang aku hanya bisa melihat fotonya sebagai pengobat rinduku padanya, dan aku berdoa semaoga dia tenang di alam sana dan semua amalannya diterima allah swt. 09 08 1999 -12 09 2016 (17 tahun), satu keinginanku aku hanya ingin melihat makamnya, meskipun itu jauh SOREK, RIAU.
Cerpen Karangan: Debby
Facebook: Debby Musrinia Utami
Yang Takkan Pernah Ada
4/
5
Oleh
Unknown
