Showing posts with label Cerpen Horor (Hantu). Show all posts
Showing posts with label Cerpen Horor (Hantu). Show all posts
Misteri Suara Tangisan Di Tengah Danau

Misteri Suara Tangisan Di Tengah Danau

Judul Cerpen Misteri Suara Tangisan Di Tengah Danau

Danau di dekat rumah Dony terkenal angker. Banyak orang tak berani ke danau itu. Karena, dulu ada seorang gadis kecil yang tenggelam di danau itu saat menaiki perahu dan mayatnya belum ditemukan sampai sekarang. Kerap terdengar suara tangisan, dan suara tertawa.

Suatu sore pada pukul 16.00, Dony akan sepedaan bersama 2 temannya yang bernama Sasya dan Anton. “Yuk berangkat!” “Ayuk!!!” mereka bersepeda keliling kampung. 3 teman itu sempat melewati dan beristirahat di danau angker itu.

“Eh kita kok jadi istirahat di sini ya?” Sasya ketakutan. “Eh gak papa kali, emang ada apa?” tanya Anton, sok pemberani. “Kamu gak tau, Ton? Danau ini tuh angker!!!” jelas Sasya panik. “Halah ini tu masih sore, ngapain takut? Kalau ada hantunya kita tinggal pergi” kata Anton santai. Sedangkan, Dony hanya diam saja melihat perdebatan Sasya dan Anton.

Tiba tiba, mereka mendengar suara tangisan. “huhuhuhu, tolong akuuu… huhuhu” mereka bertiga bergidik ngeri. “kalian denger gak?” “De.. denger!!” Lalu, Sasya dan Anton pun siap siap mengayuh sepeda. Sedangkan, Dony menoleh ke danau itu, ia melihat seorang gadis kecil sedang berjongkok di atas perahu dengan kulit yang pucat dan wajahnya tertutup rambut. Gadis kecil itu mengenakan gaun hitam selutut.

Malam hari, di dalam mimpi Dony, arwah gadis kecil yang tadi Dony lihat di danau, berkata kepada Dony. “Dony, tolong carikan mayatku di dalam danau dan kuburkanlah dengan layak, dengan begitu, aku tidak akan mengganggu kalian lagi dan danau itu akan menjadi danau yang indah” Dony pun terbangun. “Ini sebuah petunjuk!” gumam Dony. Dony pun tertidur kembali.

Hari Minggu…
Para warga sudah dijelaskan dan diceritakan oleh Dony tentang mimpinya semalam dan kejadiannya di danau dengan Sasya dan Anton. Dengan kerja sama, para warga pun mencari mayat gadis kecil di danau. 3 jam kemudian, mereka menemukan tulang belulang gadis cilik itu. Lalu, mengurus dan menguburkannya di makam desa itu.

“Syukurlah, sekarang kita tak perlu takut lagi untuk bermain di danau ini dan harus hati hati” pesan pak RT. Sekelibat, Dony melihat arwah gadis cilik itu tersenyum pada Dony dengan wajah yang cantik dan melambaikan tangan. Seketika arwah gadis cilik itu hilang menuju surga.

Tamat

Cerpen Karangan: Yacinta Artha Prasanti
Blog / Facebook: santi artha
Jari Yang Cantik

Jari Yang Cantik

Judul Cerpen Jari Yang Cantik

“Bruugghh …”
Seorang perempuan terjatuh dengan beberapa kantung kresek belanjaannya yang berserakan di tanah. Malam itu sungguh sepi hanya ada beberapa kendaraan saja yang melintas. Perempuan itu mencoba memunguti barang-barangnya kembali. Rendi yang tak sengaja melintas melihat perempuan malang itu lalu menghampiri.

“Apa boleh kubantu?” tanya Rendi pada perempuan itu sambil sedikit membungkukan badannya.
“Tentu, terima kasih,” jawab perempuan itu sambil tersenyum, “Jalanan begitu licin bila sesudah hujan … aku jadi terjatuh,” tuturnya lagi.
“Yah, apalagi jika membawa barang sebanyak ini. Mungkin aku bisa membawakannya untukmu sampai rumah?” tawar Rendi untuk menolong perempuan itu.
“Aaahh … terima kasih, aku jadi merepotkanmu,”
“Tidak apa-apa, lagian perempuan berjalan sendirian itu berbahaya,” jawab Rendi sambil tersenyum, “Oh iyah, aku Rendi siapa namamu?”
“Namaku, Purwanti,” jawabnya sambil membalas senyuman Rendi

Mereka pun berjalan sambil berbicara tentang mereka masing-masing, dengan sedikit cahaya bulan yang menyinari mereka di balik awan. Setelah mereka berjalan yang agak cukup jauh, akhirnya merekapun sampai.

“Aaaahh, akhirnya sampai juga. Kalau begitu, aku pamit,” ucap Rendi sambil menurunkan kantung kresek di depan pintu.
“Iyah, terimakasih sudah membantu,” jawab Purwanti sambil tersenyum. Rendipun membalas senyumnya dan melangkah pergi.
“Rendi?” Rendi kembali membalikan badannya, “Mau mampir dulu? Aku mempunyai beberapa kopi saset,” Rendi mengangguk sambil tersenyum karena melihat tingkah Purwanti yang agak sedikit pemalu.

Rendi duduk di ruang tamu menunggu Purwanti menyeduhkan kopi untuknya. Rendi melihat ke sekeliling, begitu sepi. Ternyata hanya Purwanti seorang di rumah. Tak lama kemudian Purwanti pun datang dengan dua gelas cangkir kopi yang hangat.

“Di mana keluargamu?” tanya Rendi sambil meminum kopi yang Purwanti suguhkan.
“Mereka di Desa. Aku baru setahun pindah ke sini untuk bekerja,” jawab Purwanti
“Pasti keluargamu sangat kaya, karna bisa membeli rumah di tempat ini. Karena kudengar harga rumah di sini begitu mahal,”
“Tidak orangtuaku tidak begitu kayak. Aku hanya membeli rumah ini karena tidak terlalu jauh dari tempatku bekerja,” tutur Purwanti, “Dan rumah ini pun memiliki basement yang cukup besar, yang bisa aku pakai untuk menyimpan koleksiku,” sambungnya.
“Ohh, apa yang kau koleksi?” tanya Rendi tidak menyangka bahwa ternyata perempuan yang terlihat pemalu ini adalah seorang kolektor.
“Aku mengeoleksi banyak hal. Seperti tangan, kepala dan kaki. Bahkan aku banyak mengoleksi tubuh anak kecil,”
“Tubuh anak kecil?” Rendi mengerutkan dahinya. Namun tak lama kepalanya merasa sakit dan berat, yang akhirnya Rendi tak sadarkan diri.

Sedikit demi sedikit kesadaran Rendi mulai membaik. Tercium dengan jelas bau amis yang menyengat di sekitarnya. Rendi terkejut melihat dinding begitu banyak potongan-potongan tubuh manusia dan di depannya terletak sebuah meja yang penuh dengan pisau, matanya membulat karena seperti melihat tempat pejagalan bagi manusia.

Seseorang terdengar sedang membuka pintu. Rendi berusaha untuk berdiri. Tapi tubuhnya telah terikat pada kursi dengan kawat. Walaupun dia tidak tahu siapa yang berada di pintu, tapi dia yakin bahwa orang itulah yang melakukan semua ini.

“Purwanti?” Rendi terkejut setalah mengetahui bahwa itu adalah Purwanti, seorang yang dia tolong kemarin karena barang belanjaannya yang jatuh.
“Aaaahh, kau sudah bangun, Ren?” tanya Purwanti sambil tersenyum, “Sudah satu hari kau tertidur lelap di kursi itu,”
“Purwanti, apa yang kau lakukan?” Rendi meronta-ronta dari kursi melihat Purwanti mengambil pisau di meja itu.
“Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang sebelum menambah koleksiku,” jawab Purwanti sambil mengasah-ngasah pisau itu di depan muka Rendi.
“Kau gila!”
“Hahahah! Kau benar aku gila!” Purwanti tertawa.

“Toloongg … toloongg!”
“Percumah kau akan berteriak sekeras apapun. Ruangan ini kedap pada suara dan ditambah lagi di luar sana sedang hujan deras,” Rendi kini benar-benar ketakutan.

“Arrggghhhh,”
Purwanti menyayat dada Rendi hingga kulitnya terlihat seperti sobek sepanjang dada. Lalu kemudian Purwanti kembali dan membawa garam dari meja. Dia taburkan garam itu di sekitar sayatan yang tadi dia buat. Mata rendi membulat
menahan rasa sakit dan perih yang luar biasa. Purwanti terus melakukan itu di sekujur tubuh lainnya. Rendi menjerit-jerit meminta ampun dan memohon.

“Hahahaha, kenapa kau menjerit seperti itu? Bukannya kau adalah lelaki yang kuat? Yang mampu menolong seorang perempuan karena belanjaan sialan itu?” Purwanti tertawa melihat Rendi kesakitan.
“Ampuni aku … kumohon!” Rendi memohon sambil menahan sakit. Bahkan dia terlihat mengucurkan air mata karena benar-benar ketakutan.
“Jangan memohon seperti itu, bukannya kau datang untuk bersenang senang, huh?” ucap Purwanti sambil tersenyum pada rendi. Senyuman yang begitu menakutkan.

Purwanti menari-nari mengelilingi Rendi. Kini Rendi tak bisa lagi menutup ketakutannya, dia menangis tersedu-sedu meminta ampun. Tapi, Purwanti hanya tertawa sambil berjalan menuju meja yang berada di depan kursi Rendi. Purwanti mengambil sebuah mesin bor dan menyalakannya. Purwanti berjalan pelan menuju Rendi dengan tatapan yang mengerikan.

“A-aku mohon, ampuni ak …” ucap Rendi terputus, merasakan bor itu telah menembus perut Rendi. Rendi menatap ke arah perutnya yang terus dibor hingga semua isinya berhamburan keluar. Purwanti terus saja mengebor perut Rendi meskipun Rendi sudah tak sadarkan diri. Merasa tak puas ia mencabut bor itu dan beralih pada kepala Rendi.

“Hahaha … bukankah ini menyenangkan, Rendi?” Purwanti tertawa dengan pucratan darah kental di wajahnya.
“Ah … kau memiliki jari kaki yang cantik untuk mengisi toplesku yang kosong,” gumamnya sambil memotong jari kaki Rendi satu-persatu.

Cerpen Karangan: Cepi Rahmat
Facebook: facebook.com/cepi.rahmat.107
Detective of Nuantara University

Detective of Nuantara University

Judul Cerpen Detective of Nuantara University

Sudah lima hari, Riska tak sadarkan diri sejak dia dan teman-temannya melakukan uji nyali di sebuah gudang yang berada di belakang kampus. Selama lima hari Riska tak kunjung sadarkan diri. Entah apa yang terjadi, keluarganya sangat cemas dengan keadaannya.
Karena itulah, aku berusaha untuk menolongnya agar Riska dapat sembuh seperti semula. Lalu ada yang menyarankan agar aku menemui orang yang paling hebat dan jenius di kampus. Namanya adalah Dei Putra Brawijaya, dia merupakan ketua dari klub penelitian ilmu mistis dan fenomena alam gaib.
Atas saran teman satu jurusan denganku itu, aku menemui orang yang bernama Dei itu, setelah jam kuliahku selesai.

Di tempat biasanya dia menyendiri dan berkumpul bersama anggota-anggotanya yaitu markas klubnya yang letaknya tidak begitu jauh dari gedung utama Nuantara University.
Kesan pertamaku bertemu dengannya adalah Dei ini orang yang misterius, dan menyebalkan dengan setiap perkataan yang dia keluarkan selalu mengandung nada sinis padaku. Ya walaupun malas mengakuinya dia adalah pria yang tampan, dengan didukung dengan ciri-ciri fisik yang ‘sedikit’ membuatku tertarik kepadanya. Sosoknya yang berperawakan tinggi dengan badan yang atletis. Berambut hitam dengan gaya jabrik acak-acakan. Dengan mata berwarna hitam yang sekelam malam. Dan kulit yang berwana putih. Selalu menggunakan setelan kemeja dan celana jeans berwarna hitam yang menambahkan kesan misterius kepadanya dan tak lupa sepatu flat shoes berwarna cokelat yang selalu setia membungkus kakinya. Dia juga termasuk tipe orang yang santai, cuek, dan selalu bertindak cepat saat menyelesaikan masalahnya, termasuk masalah Riska yang kuceritakan kepadanya. Tapi yang sangat menyebalkan darinya, ialah dia itu tipe orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, contohnya saja ketika dia memintah bayaran tinggi atas usahanya dalam menolong Riska, Huft dasar orang yang selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Ternyata Dei ini memiliki sebuah kelainan di bagian matanya. Yaitu kedua matanya berbeda warna, mata sebelah kirinya berwarna merah sedangkan mata kanannya berwarna hitam. Mata kirinya yang berwarna merah itulah yang memiliki sebuah kekuatan khusus untuk melihat penampakan arwah dan hal-hal mistis lainnya. Kerena perbedaan warna itulah Dei selalu menggunakan lensa berwarna hitam di mata kirinya hal ini dilakukan oleh Dei agar tak diketahui oleh orang banyak.

Perbedaan mata Dei itu juga baru kuketahui setelah dia bertemu dengan Riska, dia mengatakan bahwa Riska dirasuki oleh sesosok roh yang baru saja meninggal dunia. Sosok roh itu bernama lengkap Dina Lestari. Dia mati karena kehabisan nafas dalam ruang kedap suara dan juga kedap udara yakni di ruang bawah tanah sebuah gudang tua di belakang gedung Nuantara University. Dia dibuang di ruang bawah tanah itu karena dia dikira telah mati, namun ternyata Dina hanya pingsan akibat sebuah pukulan keras di bagian belakang kepalanya. Setelah itu, dia sadar dan berusaha mati-matian untuk keluar dari ruang bawah tanah yang gelap itu. Tapi, usahanya itu sia-sia karena gelapnya ruangan itu sekaligus tenaga yang dimilikinya dan juga oksigen yang berada di sekitarnya mulai habis secara perlahan-lahan sehingga membuat Dina harus meninggal dunia dengan kehabisan oksigen di ruang bawah tanah itu.

Semua fakta tentang kematian Dina, baru kami ketahui. Setelah kami mengalami hal yang berbahaya saat memeriksa gedung tua di belakang kampus. Gedung tua yang menjadi akar dari semua masalah sehingga menyebabkan Riska jatuh sakit. Di gedung tua itu seseorang memukul Dei ketika dia mencoba untuk melindungiku. Sehingga menyebabkan Dei mengalami luka di bagian pelipis kirinya yang cukup parah. Tapi, untungnya kami dapat kabur dari gudang tua tersebut setelah Dei menendang si pelaku sehingga kami bisa keluar dari gudang itu. Setelah kejadian yang kami alami, Dei semakin gencar untuk menyelidiki gedung tua itu. Sedangkan aku sendiri mencari informasi mengenai Dina Lestari dengan bertanya dengan penghuni kampus. Kebetulan aku dan Dina seangkatan, bahkan juga satu jurusan. Dan juga aku sedikit mengenalnya.

Dalam usahaku untuk mengungkap kasus pembunuhan terhadap Dina, mengantarkanku kepada jurang bahaya ketika aku diajak oleh Dosenku yang bernama Wandy Pratama. Saat itu juga Wandy mencoba untuk membunuhku, karena aku dan juga Dei berusaha untuk mengungkap kasus pembunuhan ini.

Dan ternyata Wandy ini menyukai Dina. Maka dia mengajak Dina pergi ke gedung tua itu. Dina dipukul saat memberontak karena akan diperkosa oleh Wandy. Wandy pun lepas kendali sehingga memukul Dina dengan sangat keras hingga membuat Dina tak sadarkan diri. Melihat Dina yang tak sadarkan diri, Wandy pun panik dan menyangkah Dina mati. Lalu ia membuang Dina ke gedung tua di belakang kampus guna menghilangkan jejak Dina untuk sementara Waktu. Seperti itulah kronologis kejadian yang diceritakan oleh Wandy saat dia hendak menjatuhkanku dari atas gedung kampus.
Tapi, untungnya Dei datang dan menyelamatkanku karena ia diberitahukan oleh arwah kakakku yang telah meninggalkanku untuk selamanya karena sebuah kecelakaan saat dia berumur 17 tahun.

Ya aku merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Tapi, kakakku meninggal saat dia menyelamatkanku dari sebuah kecelakaan dengan mendorongku sehingga dirinyalah yang tertabrak oleh mobil menggantikanku dan membuatnya meninggal di tempat. Sejak kejadian itu aku selalu menyalahkan diriku atas kematian kakakku. Padahal aku berharap kakak tak melakukan hal itu dan aku yang mengalami kecelakaan itu. Tapi, aku sadar itu sama saja aku melawan takdir yang telah dituliskan oleh yang maha kuasa. Namun mau bagaimana lagi aku benar-benar terpukul sejak kematian kakak. Aku merasa hidupku sudah tak berarti lagi saat itu.

Berkat kakak, aku selamat dari kejahatan Wandy. Bahkan Dei sudah merekam pengakuan Wandy itu dengan ponsel miliknya, saat Wandy ingin melenyapkanku. Untuknya aku selamat bahkan setelah dia meninggal, dia masih melindungiku.
Pada akhirnya, Wandy ditangkap oleh polisi dan mengakui semuanya kejahatannya di kantor polisi. Arwah Dina sudah tenang di alam sana sejak mayatnya ditemukan tak jauh dari gudang tua itu. Maka Dina dimakamkan secara layak oleh keluarganya. Lalu Riska pun sadar dan dinyatakan sehat oleh dokter. Tak lama kemudian, Riska sudah boleh pulang dan menjalankan aktifitasnya seperti biasa.

Sejak saat itu, hubunganku dengan Dei semakin dekat. Apalagi aku selalu menyeret Dei ke dalam masalah orang lain jika aku tidak sengaja mengetahuinya. Well, bisa dibilang aku adalah orang yang selalu ikut campur tentang masalah orang lain. Hingga menyeret Dei dalam membantu menyelesaikan masalah orang itu. Apalagi masalah itu menyangkut tentang penampakan arwah. Jadi, kurasa hanya Dei saja yang dapat menyelesaikan kasus-kasus yang berhubungan dengan penampakan arwah.

Seperti sekarang ini, Dei sedang berbincang-bincang dengan Yudistira Pratama, kepala kepolisian kota Srijaya. Setelah Dei membantu pihak kepolisian dalam menangani kasus pembunuhan terhadap tetanggaku, Sinta. Aku yang berada di tempat kejadian hanya dapat melihat dari kejauhan. Setelah berbincang dengan kepala kepolisian kulihat Dei dihampiri oleh salah satu anak buah dari Yudistira yang kuketahui bernama Reza, nampaknya mereka seperti membicarakanku karena mereka berbicara sambil melihatku entahlah aku tak tau apa yang mereka bicarakan. Dan tak lama kemudian Reza pergi meninggalkan Dei lalu kulihat Dei masih berdiam diri di sana.

“Dei!” panggilku.
Merasa namanya dipanggil olehku. Dei lalu menoleh kearahku dan menghampiriku. Setelah dia sampai di tempatku Dei pun berkata kepadaku “Aku cinta kamu, Insannia.” aku yang mendengarnya tentu saja kaget. Kedua mataku membulat secara sempurna. Mulutku ternganga lebar.
Hening.
Koridor apartemen itu sungguh sunyi. Tidak ada seorang pun yang terlihat, selain aku dan Dei.
Dan entah kenapa aku menjawab ungkapan Dei tadi dengan terbata-bata.
“A-Apa? Ka-Kamu cinta padaku, Dei?”
Kulihat Dei terdiam sejenak. Ia menatapku dengan datar.
“Sudah jelas, kan? Kamu sudah dengar apa yang aku katakan tadi. Aku tidak akan mengulanginya untuk kedua kalinya. Jadi, aku mau pulang dulu. Sampai jumpa, Insannia.”
Dan dengan senak jidatnya si Dei itu langsung pergi begitu saja dari hadapanku dan meninggalkanku yang masih terdiam karena perkataannya tadi.
“Eh, DEI! TUNGGU!” teriakku sekeras mungkin. “AKU JUGA CINTA SAMA KAMU, TAU!”
Kulihat langkah Dei terhenti setelah mendengar suaraku yang lantang dan menggema di koridor itu. Lalu Dei menolehkan pandangannya di sudut bahu kirinya.
Aku tersenyum. Rona merah tipis hinggap di kedua pipiku. Kemudian aku berlari kecil dan langsung memeluk pinggang Dei secara langsung.
Grep!
Tindakanku ini sontak membuat Dei kaget. Kedua matanya membulat. Dapat kulihat rona merah tipis muncul di kedua pipinya.

“Eh, Insannia?”
“Terima kasih, Dei”
“Untuk apa?”
“Terima kasih untuk semua pertolonganmu selama ini. Kamu sudah menjadi orang yang sangat berarti bagiku. Kamu selalu ada buatku. Terima kasih, Dei. Aku sungguh sangat beruntung bisa bertemu denganmu.”
Kulihat Dei tersenyum simpul sambil membalas pelukanku.
“Sama-sama, Insannia. Itu memang sudah menjadi tugasku.”

Kami pun berpelukan dengan erat di tempat itu. Kami saling meluapkan segala perasaan kami yang saling menyatu setelah menyelesaikan kasus kematian tetanggaku, Sinta. Dan entah kenapa aku mendengarkan suara kakak yang berkata “Terima kasih, dan sekarang aku bisa dengan tenang meninggalkan adik bodohku ini kepadamu.”. lalu kulihat Dei, dia seperti melihat seseorang dan mengangguk. “Terima kasih kak, sudah menjagaku selama ini, dan sekarang aku telah menemukan tujuan hidupku.” Ucapku dengan suara pelan berharap kakak dapat mendengarnya. Lalu kudekap Dei dengan erat dan kutenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. Berharap hal yang terjadi dulu kepada kakak tak akan terulang lagi, dan Dei tak akan meninggalkanku sampai waktu yang memisahkan kami. Amin.

Cerpen Karangan: Adha Wahyudi
Blog / Facebook: Muhammad Adha Wahyudi
Baby Sister Pembunuh

Baby Sister Pembunuh

Judul Cerpen Baby Sister Pembunuh

“Eh denger denger katanya ada baby sister pembunuh lho!” gosip gosip baru terdengar di telinga Clara. “Iya, ia sempat lepas dari tahanan dan sekarang sedang dalam kasus pencarian” Hah? Mana ada baby sister pembunuh? Yang benar saja!, pikir Clara.

Perkenalkan, namaku Clara Martianta Gladisa dan akrab disapa Clara. Aku berumur 13 tahun dan sudah menginjak bangku SMP kelas 2. Sifatku jutek, dingin dan cuek. ‘Gosip’ adalah sesuatu yang tak kusukai, apalagi menggosip.

Malam harinya, Clara sempat mendengar pembicaraan orangtuanya. Sedengarnya, orangtua Clara akan memberikan dan mencarikan baby sister untuk kedua adik Clara yang masih kecil. Namanya Cesa dan Ciko.

Keesokan harinya ketika Clara pulang sekolah, ia seperti melihat orang baru di rumahnya. “siapa sih?” gumam Clara. “Clara sayang, ini mbak Tatik, baby sisternya Cesa sama Ciko” kata mama sambil senyum. “Ohhh ya” Clara pun masuk kamar tanpa peduli.

Di kamarnya, ia bersantai di ranjang lalu membuka HP nya dan mengechat Haris, sahabatnya.
Aku: Eh, ciri ciri baby sister pembunuh itu kayak mana sih?
Haris: ealahhh tumben nanyain??
Aku: ih, gak papa, penasaran aja
Haris: tingginya sekamu, agak tinggi 1 cm lagi, kurus, sawo matang, rambutnya sebahu
Aku: thanks!!!

Clara pun keluar kamar dan tiduran di sofa ruang tamu sambil membaca novel. Ia melihat mbak Tatik sedang menyuapi Cesa. Sedangkan, Ciko main. “kok sama dengan ciri ciri yang Haris kasih?” Clara mulai curiga.

Hari hari pun berlalu. Tak ada yang aneh dengan mbak Tatik. Tapi, pada suatu hari…
Malam menunjukan pukul 10.45. Dan, orangtua Clara belum juga pulang karena masih ada rapat di kantor mereka dan masih mengurus pekerjaan. Cessa dan Ciko belum tidur. Cessa bermain boneka, sedangkan Ciko bermain mobil mobilan. Clara sendiri bermain HP di kamarnya. Saat itu, hujan juga turun dengan lebat dan kilat menyambar nyambar. Membuat suasana semakin mencengkam.

Tiba tiba “AHHHHH!!!” terdengar suara jeritan dari luar kamar Clara. Clara pun kaget dan deg degan. Lalu, Clara keluar kamar mengendap endap. Dari belakang dinding, ia melihat kedua adiknya sudah terbaring dengan bersimbah darah dan pisau menancap di lehernya. “mbak tatikk!!!” Clara pun ketakutan dan segera keluar melewati pintu belakang.

Dalam hujan, Clara berlari lari mencari pertolongan. Mbak Tatik mengejar dari belakang sambil membawa sebilah pisau dapur yang sangat lancip dan tajam. Clara semakin panik tanpa memperhatikan jalan.

Tiba tiba… “TINNNN TINNNN TINNNNNNN!!!!!! BRAKKK!!!” sebuah truk menabrak tubuh kecil Clara. Clara terjatuh dan terlindas truk itu.

Tamat

Cerpen Karangan: Yacinta Artha Prasanti
Blog / Facebook: Santi Artha
Perempuan yang Berlari dengan Sikunya

Perempuan yang Berlari dengan Sikunya

Judul Cerpen Perempuan yang Berlari dengan Sikunya

Tak ada yang lebih menyebalkan selain berjalan sendirian menuju rumah sepulang bekerja. Jalan setapak yang kulalui ini selalu saja sepi. Padahal jam masih menunjukkan pukul 8 malam. Seharusnya jalan ini masih ramai dilalui kendaraan seperti malam-malam sebelumnya. Tapi belakangan ini, isu-isu tidak mengenakkan mulai merebak ke telinga penduduk. Sehingga mereka lebih memilih berdiam diri di rumah, daripada harus keluyuran usai maghrib bertandang.

Jalan setapak ini basah, hujan membuat beberapa lubang di jalan itu tergenang air. Hawa dingin menyergap, membuatku segera merapatkan jaket. Malam gelap yang dingin membuat suasana jalan setapak ini terasa begitu mencekam. Aku berjalan menunduk, sampai tiba-tiba sudut mataku melihat sekelebat bayangan. Aku sigap menoleh, ah.. sial, gubuk kecil di bawah pohon besar itu selalu saja berhasil membuat bulu kudukku meremang. Gubuk yang tidak diketahui milik siapa itu, selalu mampu membuat aku takut melintas di jalan ini. Tapi mau bagaimana lagi, jalan ini adalah jalan yang paling singkat dan cepat menuju rumah.

Aku memperhatikan gubuk tua itu sambil berjalan perlahan. Mataku menelanjangi seluruh bagian dari gubuk yang tidak jauh dari jalan setapak ini. Gubuk tua yang masih kokoh berdiri itu berada tepat di belakang sebuah pohon besar tak jauh dari jalan. Selalu menarik perhatian karena hanya gubuk itulah satu-satunya yang ada di sekitar jalan setapak ini. Retinaku menangkap bayangan seseorang yang mulai terlihat dari jendela gubuk. Seorang perempuan yang kutaksir seusia denganku, tengah membersihkan sesuatu. Hanya sebagian dari tubuhnya yang kelihatan dari jendela itu. Sesudah melakukan tugasnya, perempuan itu segera menutup jendela tanpa tahu aku sedang memperhatikannya sejak tadi.

Pikiranku mulai berdiskusi, menanya dan menjawab sendiri. Siapa perempuan cantik itu? Bukankah selama ini gubuk itu hanya dipakai untuk warga yang tengah menjaga kebunnya di sekitar sini? Atau aku yang tidak tahu-menahu soal kedatangan penduduk baru yang menempati gubuk di jalan itu? Ah, entahlah.. barangkali aku mulai tidak acuh pada hal-hal di sekitarku karena beban pekerjaan yang selalu mengejar deadline. Pikiranku benar-benar tersita dengan pekerjaan, bahkan kekasihku pun ikut uring-uringan jika aku lebih menomorsatukan pekerjaan dibanding dirinya.

Aku tiba di rumah dengan suguhan teh buatan ibu. Meski telah sampai di rumah, pikiranku masih tertuju pada apa yang aku lihat di gubuk tua jalan setapak itu. Penasaran, kutanya ibu yang tengah menjahit seragam sekolah Beni. “Ibu tahu gubuk kecil yang ada di tengah jalan setapak menuju rumah kita?” tanyaku memandang ibu. “Gubuk tua di lahan Pak Karno maksudmu, Zal?” ibu bertanya balik padaku. Aku mengiyakan, “Kenapa memangnya?” tanya ibu lagi. Aku mendekat ke arah ibu, “Ketika melewati gubuk itu tadi, Zal melihat ada seorang perempuan cantik di sana, Bu. Ibu tahu dia siapa?” tanyaku antusias.
Ibu yang masih sibuk menjahit, dengan cepat menggeleng. “Barangkali keponakan Pak Karno, Zal.” Jawab ibu santai. Aku mengangguk perlahan, tapi pertanyaan di hatiku seolah belum terpuaskan oleh jawaban ibu. Aku melirik jam dan segera bergegas menuju kamar. Tapi kemudian, Beni datang dengan terengah-engah, membuka pintu dengan dengan sedikit mendobrak. Aku memelototinya, bikin kaget saja, batinku. “Ada pembunuhan, Bu,” cepat Beni memberi tahu. Kantukku serta merta hilang, berganti rasa penasaran dengan cerita yang baru saja dibawa Beni. “Pembunuhan di mana?” tanyaku ingin tahu. “Siapa yang dibunuh?” ibu tak kalah menyerbu.
“Nggak tahu namanya, Bu. Tapi yang jelas, pemuda yang sering membantu Pak Karno di kebunnya. Ada bekas sayatan di lehernya, panjang sekali. Hiii..” Beni bergidik ngeri. Aku menelan ludah, “Kapan kejadiannya?” tanyaku lagi. “Barusan, Bang. Di ujung jalan setapak itu. Pak Rahman yang tadi hendak ke masjid, menemukan mayat pemuda itu, sebab ada darah yang tercecer di sepanjang jalan,” Beni mengusap wajahnya. “Tega sekali…” ucap ibu berbisik.

Aku terdiam, mengapa tiba-tiba aku jadi merasa takut? Baru saja aku melewati jalan setapak itu, dan aku tidak melihat ada tanda-tanda bahaya di sana. Mengapa selang beberapa jam aku di rumah, ada kejadian mengerikan seperti itu? Bukankah tadi jalanan itu sepi sekali? Dan memang biasanya sangat sepi? Aku pamit pada ibu untuk masuk ke kamar, jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Besok masih ada pekerjaan penting yang harus kuselesaikan.

Aku baru akan berangkat kerja, ketika kulihat Beni tengah berkumpul di teras rumah dengan teman-teman sekolahnya. “Bang Hadi penjaga kebun Pak Karno itu, ternyata mati karena dibunuh hantu.” ucap salah seorang teman Beni. “Iya, padahal cerita itu sudah lama, ya. Hantu wanita yang pernah jatuh didorong seseorang tak dikenal di rel kereta api simpang jalan itu. Dan badannya terlindas hingga terbelah dua di bagian pinggang. Konon katanya ia selalu membawa sabit besar yang tajam dan berjalan mencari korban untuk balas dendam.” teman yang lain menimpali. Kulihat Beni hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan teman-temannya. Aku hanya mendengus sebal mendengar ucapan mereka. Dasar anak sekolah! Bisanya menggosip dan mengada-ada cerita saja. Aku menyalami ibu dan beranjak pergi bekerja, setelah sebelumnya melempar senyum kepada teman-teman Beni.

Aku merentangkan kedua tanganku. Berjam-jam menatap layar persegi empat ini, ternyata membuat mataku lelah. Aku mengucek mata dan melirik jam tanganku, pukul 9 malam. Ya ampun, ternyata kekasihku benar. Aku terlalu maniak dalam bekerja, hingga terkadang lupa waktu. Kubereskan semuanya dan aku beranjak meninggalkan ruang kerja. Beberapa teman masih sibuk menyelesaikan bahan untuk pertemuan besok. Aku pamit dan segera berlalu, mencari bus tercepat untuk bisa segera tiba di rumah. Tiba-tiba aku menjadi sangat rindu dengan teh buatan ibu.

Bus berhenti tepat ketika aku tiba di simpang jalan setapak. Aku turun sambil merapatkan jaket pemberian ibu. Usiaku 24 tahun, dan aku masih sangat menyukai semua barang yang dibelikan ibu. Dan kuakui, aku terkadang lebih manja dari adikku. Angin bertiup agak kencang, awan hitam mulai kelihatan menutup langit. Sepertinya hujan akan segera datang. Aku berjalan lebih cepat dari biasanya. Ah, kenapa aku harus pulang selarut ini? Aku mengutuk diriku sendiri, teringat kejadian malam kemarin soal pembunuhan Bang Hadi di ujung jalan. Juga terngiang percakapan ngaco Beni dengan teman-temannya pagi tadi. Padahal sejak tadi, aku sama sekali tidak memikirkan hal itu.

Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Dan semakin bertambah tidak enak saat aku sadar bahwa aku harus melintasi gubuk tua di pertengahan jalan setapak ini. Dengan keberanian yang kubesar-besarkan, aku membaca bismillah dan berusaha menyeret kakiku untuk bisa segera tiba di rumah. Kubuang pikiran burukku jauh-jauh. Aku berjalan sambil bersenandung kecil, berusaha meminimalisir rasa takut. Jalan ini masih saja sepi, aku berdoa agar ada satu-dua orang yang melintas. Tapi nihil, jalan ini kosong melompong seperti pekuburan.

Tiba-tiba aku tersentak ketika mendengar suara aneh menyentuh gendang telingaku. Seperti suara seretan kaki yang dipaksa. Tapi aku tidak tahu suara itu berasal dari mana. Suara itu semakin jelas terdengar, ketika aku mulai mendekati gubuk tua itu. Aku menelan ludah, suara itu semakin menakutiku. Tiba-tiba, kakiku gemetar hebat ketika aku tak kuasa menerima apa yang telah aku lihat. Di bawah pohon besar yang menghadap utara itu, aku melihat seorang perempuan tanpa kaki tengah membersihkan sesuatu.

Wujud perempuan yang tak asing di mataku itu terlihat begitu mengerikan. Dengan tubuh yang hanya sebatas pinggang, tanpa kaki yang melengkapi. Kulihat dia memegang sabit tajam yang berlumuran darah. Dan astaga.. apa itu? Di belakang pohon besar yang terlihat retinaku, menjorok keluar kepala perempuan dengan rambut sebahu. Perempuan itu sudah tak bernyawa. Darahku berdesir hebat, merasa tak terima atas apa yang baru saja kusaksikan.

Perempuan yang memegang sabit itu adalah perempuan cantik yang malam kemarin kulihat di gubuk tua pertengahan jalan. Bulu kudukku sudah berdiri sejak tadi, tapi kakiku seakan tak bisa diajak kompromi untuk berlari. Aku menepi dan bersembunyi di balik pohon untuk melihat semuanya. Perempuan mengerikan itu berjalan menggunakan kedua sikunya sebagai penopang. Berjalan terseok-seok kesusahan untuk menyingkirkan mayat wanita yang telah dibunuhnya. Aku hampir gila melihatnya, betapa aku tidak mempercayai hal-hal mistik semacam itu. Tapi bagaimana mungkin aku bisa menyangkal lagi, jika sekarang kedua mataku menyaksikan hal semenyeramkan ini.

Tubuhku gemetar hebat, seumur hidup aku tidak pernah bermimpi dan berkeinginan melihat hal semacam ini. Ternyata apa yang diperbincangkan Beni dan teman-temannya pagi tadi adalah benar. Perempuan itu menggelindingkan jasad wanita yang berlumuran darah itu ke sudut jalan. Aku menahan napas, berusaha mengatur detak jantungku yang bertengkar. Lihat, wajah pucat miliknya terasa begitu menyeramkan. Dengan luka di pelipis kirinya yang dalam, membuatnya semakin tampak mengerikan. Usai menyelesaikan dendamnya, hantu perempuan yang memiliki tubuh sepinggang itu, menyeringai dingin.

Dia berlari menuju gubuk tuanya. Dia berlari dengan sikunya, terseok-seok menyeret dirinya untuk kembali bersembunyi. Sementara aku, berbalik arah dan berlari sekencang mungkin. Dengan degup jantung yang tak karuan, aku memilih berbalik dan melewati jalan lain. Aku tidak cukup berani melanjutkan langkah melewati gubuk tua itu. Keringat dingin masih membanjiri tubuhku hingga aku tiba di rumah. Ketika ibu membuka pintu, aku tersenyum dengan wajah yang aku yakin lebih pucat dari orang sakit. Sedetik berikutnya, aku limbung, tersungkur, dan kudengar teriakan ibu memanggil Beni. Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.

Cerpen Karangan: Nanda Dyani Amilla
Blog / Facebook: Nanda Dyani Amilla
Kereta Tanpa Bayi

Kereta Tanpa Bayi

Judul Cerpen Kereta Tanpa Bayi

Namaku Dinda umurku 13 tahun, aku punya sahabat yang namanya Dessy umurnya juga 13 tahun. Waktu itu aku nginap di rumahnya Dessy kita lagi cerita tentang hantu, Dessy nyeritain ke aku tentang KERETA TANPA BAYI.

“pada suatu hari ada sepasang suami istri, sang Istri sedang hamil dan sang suami lagi kerja. Sang istri lagi hamil 8 bulan yang waktu itu sang istri mau melahirkan, lalu sang istri menelepon sang suami yang katanya, “halo mas, mas bisa gak pulang hari ini soalnya aku kayaknya mau melahirkan” kata sang istri, lalu sang suami menjawab “iya iya aku akan segera pulang”, lalu sang istri menjawab “ya udah segera ya mas aku sudah gak tahan lagi”.

1 bulan kemudian, sepasang suami istri itu sangat bahagia karena mereka memiliki 2 bayi kembar, mereka sangat senang sekali, seminggu kemudian sang suami mengajak sang istri piknik, mereka akan piknik ke malang, yang di malang itu ada sebuah villa, villa itu punya keluarga sang suami. 3 jam kemudian mereka sampai di villa. Saat itu sudah pukul 21:30 pastinya semua sudah ngantuk.

Tengah malam pukul 24:00 terdengar ada suara sang bayi lalu sang istri terbangun dan langsung mengajak 2 bayi kembar itu ke kereta dorong, dan mengajak sang bayi ke luar villa, lalu tiba-tiba ada mobil di belakang mereka dan langsung menabrak mereka “aaaaa…!!!” teriak sang istri. Tetapi sang suami tidak kedengaran, sang suami yang tertidur lelap tidak menyadari bahwa istri dan kedua anaknya itu tertabrak dan sudah tewas.

Lalu keesokan harinya di depan villa ada keramaian, lalu sang suami bertanya kepada orang, “permisi ini ada apa ya…?” lalu sang orang itu menjawab “oh ini ada kecelakaan, ibu dan kedua anaknya”. Lalu sang suami menghampiri sang korban ternyata benar itu adalah istri dan kedua anaknya. Istri dan kedua anaknya itu tewas mengenaskan, akan tetapi anehnya kereta dorong si bayi tidak ada di situ. Lalu ada orang yang berteriak “aaaa…!!!, tolong!!! ada kereta bayi jalan sendiri tapi gak ada bayi nya”. Lalu sang suami menghampiri kereta dorong itu, ternyata itu adalah kereta dorong sang anak.

“Semenjak hari itu orang-orang berdatangan ke villa sang suami membawa setangkai bunga untuk menghargai jasad istri dan kedua anaknya, dan semenjak hari itu villa itu ditutup”.

“Oooh jadi gitu cerita nya serem juga ya”. Kataku, “ya udah ayo kita tidur” kata Dessy. Lalu aku dan Dessy pun tertidur.

Keesokkan hari nya aku pulang tetapi di tengah perjalanan aku terdengar ada suara kereta dorong bayi di belakangku tapi aku tidak menghiraukannya, lalu suara itu semakin jelas aku sangat takut bulu kudukku berdiri semua, lalu aku lari dan sampai di depan komplek rumahku di sana sepi banget lalu aku menyeberang dan tiba-tiba “duarrr…!!!” aku tertabrak mobil dan aku meninggal.

Cerpen Karangan: Nasywah Azzuhrah Islamiyah
Misteri Jalan Angker

Misteri Jalan Angker

Judul Cerpen Misteri Jalan Angker

“Fita fita lo udah denger berita tadi gak?”
“berita apa mai?”
“itu loh firman”
“firman kenapa?”
“dia tadi kesurupan waktu lewat jalan angker itu”
“ooh”

“fir gimana kalo kita nanti selidikin jalan itu? mau nggak?
“boleh juga sih mai, lagian orang orang yang lewat dari jalan itu sering liat penampakan gjtu, kayak orang bawa obor lah, ngerokok di atas pohon lah, ibu ibu jalan tengah malam, aah pokoknya banyak deh”
“oke fix aku nanti ngajak dito, lukman, cita, dedy buat teman kita berdua gimana setuju?”
“oke mai kita berangkat pukul 21.00 oke?”
“oke fir”

Singkat cerita kami sudah kumpul di depan rumahku. kami pun segera pergi. Sewaktu jalan bulu kuduk kami merinding karena ada dengar suara jeritan minta tolong.
“woi kalian liat itu gak?”
“liat apa cit?” seruku
“itu fir itu kan ada anak anak lagi nangis, kita tolongin yah kasian.” ucap cita
“ha? anak anak? perasaan di situ kan rumput ilalang yang gak mau mati itu cit, apa jangan jangan?”
“huss udah udah kita selidiki lagi yok” ujarku


Beberapa menit kemudian dedy tertinggal di belakang sewaktu kita mau lihat dia dia gak ada lagi, bulu kuduk kami kembali merinding.

Esoknya kami pergi ke jalan itu lagi jam 13.00, kami mencium bau gak sedap, setelah kani selidiki ternyata dedy. ya kami meninggalkan dedy karena kami cari cari gak ketemu. Dedy mati mengenaskan matanya tercongkel mulutnya mengeluarkan belatung, memang siapapun yang melewati jalan itu akan mati mengenaskan.

Cerpen Karangan: Amoy Nainggolan
Blog / Facebook: Moy Amoy Amoy