Judul Cerpen Dan Ini Jawabannya
Senja itu langit menumpahkan hartanya pada bongkahan bulat berisi manusia. Seakan balas dendam dengan datangnya panas berkepanjangan di musim lalu. Duduk termenung mengawasi titik demi titik air, bernostalgia tentang sesuatu hal. Yang kulihat hanya guyuran benda cair dan sekumpulan makhluk hidup berwarna hijau yang basah dirundung duka bak diriku. Mereka hanya dapat terlihat lewat benda bening di sudut ruangan tempatku sering duduk memikirkan yang ingin kufikirkan. Terus melihatinya bicara dalam hati apakah diri ini seperti mereka?. Pena sembari mencoret-coret kertas putih menyusun rangkaian kata tak bermakna seakan banyak yang ingin tercurah namun terhalang oleh hujan di atas pipi. Inginnya kembali namun tak kembali, entah hilang kemana. Satu kata yang sering terlintas, rindu. Selalu teringat akan peristiwa dimana pertama kali ditemukan bak sedekat nadi. Di hadapan mata kecil dia memberi sepenggal doa mungkin untuk hadiah akan bertemunya denganku. Yang pernah jadi malaikatku, mengajariku berbagai hal, meskipun hanya cerita orang. Tak tau jelasnya. Belum sempat mata ini melihatnya kembali dalam waktu yang lebih banyak, mulut pemberi doa itu hilang. Hilang entah kemana. Tak ku mengerti apa maksud ini semua. Berbagai pertanyaan tak terjawab. Kutanya langit kutanya hujan kutanya rumput, dimana jawabannya?.
Tiba-tiba pintu terbunyi oleh tangan halus. “Mir, ayo makan”. Kaki kulangkahkan meninggalkan khayalanku yang penuh tanda tanya. “Apa yang kau fikirkan, Mir?” tanyanya. “Tidak bu” jawabku. Aku meneruskan makanku ditemani si pemilik tangan halus. inginku bercerita namun ku takut, akhirnya kuurungkan niatku. setelah itu aku bergegas mengambil wudhu karena adzan maghrib telah memanggil. Hari ini aku absen untuk ke masjid karena hujan yang seperti tumpahan air dari langit. Dalam sholatku kupanjatkan doa, sebagai pelipur laraku. Berilah jawaban ya Rabb. Rindu selalu menggebu disetiap malam menjelang tidurku.
Gelap di luar hening di dalam. Dingin semakin dingin. Aku benci saat-saat seperti ini. Aku seperti tak bisa mengendalikan diri. Semakin membenci pemberi doa itu. Dia pergi, seenaknya. Meninggalkan gading yang dikiranya kuat namun ternyata retak. Ingin mencarinya namun kemana diri kecil ini akan berjelajah. Diri ini tak tau arah, dan akan percuma bak mencari kutu dalam ijuk. Tak ada yang mau menjelaskan kemana perginya, seakan tak ada yang kasihan denganku memikirkan hal yang tak pasti. Yang aku tahu dia berubah, tak seperti mata yang kutemukan dahulu kala. Meski saat itu aku belum mengerti namun aku telah merasa.
Kembali pintu diketuk “Mir, ibu boleh masuk?” Tanyanya. Dia pasti si pemilik tangan halus. “Iya bu” jawabku. Kubuka gagang pintu yang tak terkunci dengan memasang wajah ceria seperti tak ingin menunjukan sesuatu hal dalam hatiku. “Ada apa mir? Ceritalah kepada ibumu.” Pintanya seperti melihat kisah dalam hatiku. Memang benar seorang ibu tak bisa dibohongi. Akhirnya dengan sedikit malu aku bercerita “Aku rindu seseorang bu, dia yang dulu kau perkenalkan. Yang dulu kata orang sangat menyayangiku, yang dulu kata orang mengajariku apapun yang dia tahu.” Ceritaku singkat. Ibu tersenyum, semakin membuatku malu. “Mira, dia pasti kembali. Kamu belum mengerti, tenang saja” jelas ibu seperti menganggap ringan kerinduanku. “Sekarang tidurlah nak”, “Iya bu”. Dikecup keningku, lampu kamar diganti dengan lampu kecil. “Semakin membingungkan” gumamku.
Suatu pagi yang cerah matahari masuk menembus benda bening kaca jendela langsung ke wajahku membuatku terbangun, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 05:30, cepat kuambil handuk berlari menuju antrean kamar mandi yang di dalamnya sudah terisi adikku dulu. “Yah, telat” keluhku sambil mengucek mata yang masih mengantuk. “Makanya bangun lebih awal Mir, keduluan adikmu kan?” saran ibuku sambil tangannya dengan lihai mengusap piring-piring dengan sponge berbusa. Kupandang bebek di belakang rumah terlihat bahagia dengan orang yang disayang berebut makanan bersama tanpa ada masalah. Ah aku tak mau lagi memikirkan dia. Dengan semangat aku berangkat sekolah, kecup tangan ibuku menjadi pelepasku pergi. “Bu, Mira berangkat, Assalamualaikum” teriakku sambil mengayuh sepedaku diiringi lambaian tangan halusnya. “Iya Waalaikumussalam, hati-hati nak”. Di sekolah aku mendapat 1 pelajaran, ‘jika kau menginginkan sesuatu maka berusaha dan berdoalah’. Kembali kuteringat dia si pemberi doa. Apa sebenarnya tujuan dia menghilang berubah sikap berubah segalanya dariku. Apa dia marah denganku.
Awal mei sepucuk surat tiba di beranda, kuambil dan kubaca. Isi surat itu menunjukkan bahwa dia juga rindu padaku. namun tak ada kejelasan dimana dia berada. Aku bermain game saja bersama kawan karibku, Rani. Aku merengek kepada adik laki-lakiku agar dia meminjami video gamenya, “Kakak janji hanya untuk 2 hari saja, nanti aku beliin es krim deh”. Dengan muka kesalnya akhirnya dia meminjamiku. “yeyeye, akhirnya” sorakku.
Setelah mataku lelah dengan gambar bergerak itu aku ke luar menikmati hembusan angin, sedangkan Rani masih asyik dengan gamenya. Aku ajak dia membeli jajan di luar “Ran, beli es krim yuk”. Tapi dia tak mau menemaniku dia asyik dengan gamenya. Ya akhirnya aku berangkat sendiri menuju toko swalayan di sudut desaku. Memilih salah satu merk es krim yang kusuka. Tak lupa untuk Rani dan adikku. Lalu aku pulang berjalan pelan pelan menikmati hijaunya sawah-sawah. Ketika ku berjalan aku melihat mobil mewah hitam pekat melintas dan dia melihatku seakan mengenaliku. Tanpa kusadari aku seperti mengenal mata itu. Tapi aku tak berfikir panjang, dalam hatiku berkata ‘ah itu mungkin keluarga tetangga, wajahnya pun aku tak mengenalinya’. Kulanjutkan berjalan dengan menjilat eskrim di tanganku sedikit demi sedikit. Es krim cepat mencair karena hembusan angin yang cukup membuat rok panjangku berkibas. Mobil itu semakin membuatku penasaran karena ia berbelok ke arah rumahku. Tapi sampai di rumah tak ada seorang pun apalagi mobil hitam. Berbagai pertanyaan berputar-putar di atas kepalaku. Tak ambil pusing aku pulang.
Malam tiba waktunya aku tidur. Aku berbaring sebenarnya belum tertidur. Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan tegap berbaju hitam berkulit sawo matang seperti diriku datang dan menghidupkan lampu kamarku. Perasaan takut gelisah bercampur, siapa orang itu. Pertama kufikir dia rampok. Lalu dia berkata “aku tahu kau belum tidur” dengan senyum. Aku bergetar dan berusaha menjawab “Siapa? Kok tau?” jawabku terbata. Dia mendekat, jantungku semakin berdebar tak karuan. Membuka selimutku seraya berkata “Mana mungkin aku tak tahu belahan jiwaku” senyumnya merekah. Aku semakin terkaget. Apakah ini mimpi atau tidak. Apa ini jawabannya? Apa dia yang selama ini aku rindu nyata ada di depanku?. Dia memelukku erat. Dan berkata “ini ayah nak, maafkan ayah meninggalkanmu tanpa izinmu”, airmata sedikit mengalir namun cepat diusapnya. Sedangkan aku tak kuat menahan tangis rindu pada sosok gagah sandaran lukaku. Malam ini telah menjadi hari bahagiaku. Namun kali ini aku hanya takut. Takut tawa jenaka itu akan hilang dan berakhir lagi.
Esok hari ibu menjelaskan kenapa ayah pergi saat aku masih dalam gendongan, kenapa aku tak bisa melihat mata itu dalam waktu yang lebih banyak. Ayah pergi untuk diriku. Ayah pergi untuk hidupku. Dia rela untuk pergi meninggalkan kami itu pun untuk kami. Sekarang aku mengerti. Dan ini jawabannya. Dia yang selama ini aku duga tak sayang padaku, yang aku duga tak peduli denganku. Ternyata dia pergi bukan tanpa alasan. Ternyata aku salah menilai seseorang dengan pemikiran kanak-kanakku. Dia mengajakku duduk di samping danau dekat rumahku, dia mengatakan tak akan lagi pergi meninggalkan aku dan ibu. “Mira, maafkan ayah. Ayah pergi dimasa kamu membutuhkan ayah. Ayah janji tak akan pergi lagi. Ayah akan disini, menemanimu dan ibumu”. Dan dia memelukku. Saat itu hati ini rasanya tak lagi seperti daun-daun yang diguyur hujan lebat, basah kuyup diterpa angin, dirundung kegelisahan. Sekarang hati ini tak lagi merasa kosong dengan 1 ruangan yang tak terisi. Dia yang dulu kukira tak kembali dan takkan kembali, akhirnya ada di sampingku dan memelukku. Prasangkaku dulu sangat salah. Dan aku malu pada anak-anak burung yang tetap setia dan yakin di sangkarnya karena dia yakin ibunya akan pulang membawa sejuta harapan yang diimpikannya. Dan ini jawabannya.
Cerpen Karangan: Febrian Melinda
Facebook: Febrian Melinda
Senja itu langit menumpahkan hartanya pada bongkahan bulat berisi manusia. Seakan balas dendam dengan datangnya panas berkepanjangan di musim lalu. Duduk termenung mengawasi titik demi titik air, bernostalgia tentang sesuatu hal. Yang kulihat hanya guyuran benda cair dan sekumpulan makhluk hidup berwarna hijau yang basah dirundung duka bak diriku. Mereka hanya dapat terlihat lewat benda bening di sudut ruangan tempatku sering duduk memikirkan yang ingin kufikirkan. Terus melihatinya bicara dalam hati apakah diri ini seperti mereka?. Pena sembari mencoret-coret kertas putih menyusun rangkaian kata tak bermakna seakan banyak yang ingin tercurah namun terhalang oleh hujan di atas pipi. Inginnya kembali namun tak kembali, entah hilang kemana. Satu kata yang sering terlintas, rindu. Selalu teringat akan peristiwa dimana pertama kali ditemukan bak sedekat nadi. Di hadapan mata kecil dia memberi sepenggal doa mungkin untuk hadiah akan bertemunya denganku. Yang pernah jadi malaikatku, mengajariku berbagai hal, meskipun hanya cerita orang. Tak tau jelasnya. Belum sempat mata ini melihatnya kembali dalam waktu yang lebih banyak, mulut pemberi doa itu hilang. Hilang entah kemana. Tak ku mengerti apa maksud ini semua. Berbagai pertanyaan tak terjawab. Kutanya langit kutanya hujan kutanya rumput, dimana jawabannya?.
Tiba-tiba pintu terbunyi oleh tangan halus. “Mir, ayo makan”. Kaki kulangkahkan meninggalkan khayalanku yang penuh tanda tanya. “Apa yang kau fikirkan, Mir?” tanyanya. “Tidak bu” jawabku. Aku meneruskan makanku ditemani si pemilik tangan halus. inginku bercerita namun ku takut, akhirnya kuurungkan niatku. setelah itu aku bergegas mengambil wudhu karena adzan maghrib telah memanggil. Hari ini aku absen untuk ke masjid karena hujan yang seperti tumpahan air dari langit. Dalam sholatku kupanjatkan doa, sebagai pelipur laraku. Berilah jawaban ya Rabb. Rindu selalu menggebu disetiap malam menjelang tidurku.
Gelap di luar hening di dalam. Dingin semakin dingin. Aku benci saat-saat seperti ini. Aku seperti tak bisa mengendalikan diri. Semakin membenci pemberi doa itu. Dia pergi, seenaknya. Meninggalkan gading yang dikiranya kuat namun ternyata retak. Ingin mencarinya namun kemana diri kecil ini akan berjelajah. Diri ini tak tau arah, dan akan percuma bak mencari kutu dalam ijuk. Tak ada yang mau menjelaskan kemana perginya, seakan tak ada yang kasihan denganku memikirkan hal yang tak pasti. Yang aku tahu dia berubah, tak seperti mata yang kutemukan dahulu kala. Meski saat itu aku belum mengerti namun aku telah merasa.
Kembali pintu diketuk “Mir, ibu boleh masuk?” Tanyanya. Dia pasti si pemilik tangan halus. “Iya bu” jawabku. Kubuka gagang pintu yang tak terkunci dengan memasang wajah ceria seperti tak ingin menunjukan sesuatu hal dalam hatiku. “Ada apa mir? Ceritalah kepada ibumu.” Pintanya seperti melihat kisah dalam hatiku. Memang benar seorang ibu tak bisa dibohongi. Akhirnya dengan sedikit malu aku bercerita “Aku rindu seseorang bu, dia yang dulu kau perkenalkan. Yang dulu kata orang sangat menyayangiku, yang dulu kata orang mengajariku apapun yang dia tahu.” Ceritaku singkat. Ibu tersenyum, semakin membuatku malu. “Mira, dia pasti kembali. Kamu belum mengerti, tenang saja” jelas ibu seperti menganggap ringan kerinduanku. “Sekarang tidurlah nak”, “Iya bu”. Dikecup keningku, lampu kamar diganti dengan lampu kecil. “Semakin membingungkan” gumamku.
Suatu pagi yang cerah matahari masuk menembus benda bening kaca jendela langsung ke wajahku membuatku terbangun, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 05:30, cepat kuambil handuk berlari menuju antrean kamar mandi yang di dalamnya sudah terisi adikku dulu. “Yah, telat” keluhku sambil mengucek mata yang masih mengantuk. “Makanya bangun lebih awal Mir, keduluan adikmu kan?” saran ibuku sambil tangannya dengan lihai mengusap piring-piring dengan sponge berbusa. Kupandang bebek di belakang rumah terlihat bahagia dengan orang yang disayang berebut makanan bersama tanpa ada masalah. Ah aku tak mau lagi memikirkan dia. Dengan semangat aku berangkat sekolah, kecup tangan ibuku menjadi pelepasku pergi. “Bu, Mira berangkat, Assalamualaikum” teriakku sambil mengayuh sepedaku diiringi lambaian tangan halusnya. “Iya Waalaikumussalam, hati-hati nak”. Di sekolah aku mendapat 1 pelajaran, ‘jika kau menginginkan sesuatu maka berusaha dan berdoalah’. Kembali kuteringat dia si pemberi doa. Apa sebenarnya tujuan dia menghilang berubah sikap berubah segalanya dariku. Apa dia marah denganku.
Awal mei sepucuk surat tiba di beranda, kuambil dan kubaca. Isi surat itu menunjukkan bahwa dia juga rindu padaku. namun tak ada kejelasan dimana dia berada. Aku bermain game saja bersama kawan karibku, Rani. Aku merengek kepada adik laki-lakiku agar dia meminjami video gamenya, “Kakak janji hanya untuk 2 hari saja, nanti aku beliin es krim deh”. Dengan muka kesalnya akhirnya dia meminjamiku. “yeyeye, akhirnya” sorakku.
Setelah mataku lelah dengan gambar bergerak itu aku ke luar menikmati hembusan angin, sedangkan Rani masih asyik dengan gamenya. Aku ajak dia membeli jajan di luar “Ran, beli es krim yuk”. Tapi dia tak mau menemaniku dia asyik dengan gamenya. Ya akhirnya aku berangkat sendiri menuju toko swalayan di sudut desaku. Memilih salah satu merk es krim yang kusuka. Tak lupa untuk Rani dan adikku. Lalu aku pulang berjalan pelan pelan menikmati hijaunya sawah-sawah. Ketika ku berjalan aku melihat mobil mewah hitam pekat melintas dan dia melihatku seakan mengenaliku. Tanpa kusadari aku seperti mengenal mata itu. Tapi aku tak berfikir panjang, dalam hatiku berkata ‘ah itu mungkin keluarga tetangga, wajahnya pun aku tak mengenalinya’. Kulanjutkan berjalan dengan menjilat eskrim di tanganku sedikit demi sedikit. Es krim cepat mencair karena hembusan angin yang cukup membuat rok panjangku berkibas. Mobil itu semakin membuatku penasaran karena ia berbelok ke arah rumahku. Tapi sampai di rumah tak ada seorang pun apalagi mobil hitam. Berbagai pertanyaan berputar-putar di atas kepalaku. Tak ambil pusing aku pulang.
Malam tiba waktunya aku tidur. Aku berbaring sebenarnya belum tertidur. Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan tegap berbaju hitam berkulit sawo matang seperti diriku datang dan menghidupkan lampu kamarku. Perasaan takut gelisah bercampur, siapa orang itu. Pertama kufikir dia rampok. Lalu dia berkata “aku tahu kau belum tidur” dengan senyum. Aku bergetar dan berusaha menjawab “Siapa? Kok tau?” jawabku terbata. Dia mendekat, jantungku semakin berdebar tak karuan. Membuka selimutku seraya berkata “Mana mungkin aku tak tahu belahan jiwaku” senyumnya merekah. Aku semakin terkaget. Apakah ini mimpi atau tidak. Apa ini jawabannya? Apa dia yang selama ini aku rindu nyata ada di depanku?. Dia memelukku erat. Dan berkata “ini ayah nak, maafkan ayah meninggalkanmu tanpa izinmu”, airmata sedikit mengalir namun cepat diusapnya. Sedangkan aku tak kuat menahan tangis rindu pada sosok gagah sandaran lukaku. Malam ini telah menjadi hari bahagiaku. Namun kali ini aku hanya takut. Takut tawa jenaka itu akan hilang dan berakhir lagi.
Esok hari ibu menjelaskan kenapa ayah pergi saat aku masih dalam gendongan, kenapa aku tak bisa melihat mata itu dalam waktu yang lebih banyak. Ayah pergi untuk diriku. Ayah pergi untuk hidupku. Dia rela untuk pergi meninggalkan kami itu pun untuk kami. Sekarang aku mengerti. Dan ini jawabannya. Dia yang selama ini aku duga tak sayang padaku, yang aku duga tak peduli denganku. Ternyata dia pergi bukan tanpa alasan. Ternyata aku salah menilai seseorang dengan pemikiran kanak-kanakku. Dia mengajakku duduk di samping danau dekat rumahku, dia mengatakan tak akan lagi pergi meninggalkan aku dan ibu. “Mira, maafkan ayah. Ayah pergi dimasa kamu membutuhkan ayah. Ayah janji tak akan pergi lagi. Ayah akan disini, menemanimu dan ibumu”. Dan dia memelukku. Saat itu hati ini rasanya tak lagi seperti daun-daun yang diguyur hujan lebat, basah kuyup diterpa angin, dirundung kegelisahan. Sekarang hati ini tak lagi merasa kosong dengan 1 ruangan yang tak terisi. Dia yang dulu kukira tak kembali dan takkan kembali, akhirnya ada di sampingku dan memelukku. Prasangkaku dulu sangat salah. Dan aku malu pada anak-anak burung yang tetap setia dan yakin di sangkarnya karena dia yakin ibunya akan pulang membawa sejuta harapan yang diimpikannya. Dan ini jawabannya.
Cerpen Karangan: Febrian Melinda
Facebook: Febrian Melinda
Dan Ini Jawabannya
4/
5
Oleh
Unknown
