Hamba Berita

Baca Juga :
    Judul Cerpen Hamba Berita

    Pagi? Berita. Siang? Berita. Sore? Berita. Malamnya? Berita. Begitu seterusnya pemandangan di ruang keluarga itu.
    Dunia berita menjadi dunianya juga. Mendarah daging. Wajar saja, pemahamannya soal dunia luar memang luar biasa. Sangat update! Tidak kudet seperti kami-kami ini.
    Menguasai tentang peristiwa sehari-hari di negara sendiri saja, cukup membuat kami menggelengkan kepala takjub. Apalagi, berbagai belahan dunia. Menggelengkan kepala pun tak sanggup lagi selain menganga kagum dan tak bisa berkedip.
    Hampir tak didapati celotehan tidak bermutu bagi orang seumurannya. Semua bermanfaat dan bermutu didengar. Kecuali, orang berotak udang yang menganggap itu celotehan bodoh.

    “Tidak tahu ya kamu? Wah! Tv mu untuk menonton apa sih? Sinema elektronik yang bernilai jual murah itu? Selera kampungan itu? Ataukah FTv? Penuh drama belaka? Sudah, sudah! Kalau kamu seperti itu terus ya… Good bye! Hidupmu seperti drama tak berguna.”
    Begitulah terdengar suara Falexa, teman kelas kami yang selalu memegang peringkat 1 dan menjadi idola guru maupun murid. Falexa dijuluki Si Penguasa Alam Berita. Kami tak heran dengan julukan seperti itu, dan sepantasnya demikian.
    Beberapa diantara kami suka dengan gaya bicaranya yang angkuh jika memperingati orang yang salah. Mengena, tajam dan melukai. Sehingga, kerapkali orang yang sudah ditegurnya, malu bukan main dan sebisa mungkin mengubahnya. Entah mengubah dirinya menjadi manusia berakhlak atau manusia penghuni kuburan. Lidahnya tajam seperti otaknya. Langkahnya hampir tak pernah meleset ke hal-hal buruk yang seumurannya biasa alami.

    “Falexa, kalau sudah besar nanti mau jadi apa?” Tanya Bu Celvin padanya didepan teman-teman kelas lain.
    “Simpel saja. Reporter. Pembawa acara yang berwibawa, berwawasan luas, dan cakap berbicara.”
    Jawabannya disambut tepuk tangan teman-teman yang mendukungnya seperti Carla, Delvina, Coline. Yang lain terdiam dan tercengang melihat ia dengan gagah berani menunjukkan impiannya itu.
    Falexa menatap ke seluruh teman kelasnya dan tersenyum sinis.
    “Kalian yang masih merancang mimpi di bibir saja, layaknya hidupmu ingin berlari tapi masih saja terdiam. Kau akan kalah!”
    Coline bertepuk tangan mendengar Falexa berkata demikian.
    “Falexa! Hebat kau! Lanjutkan!”
    Tak ada yang berani membalas perkataannya itu. Bu Celvin tersenyum dan melanjutkan mengajar untuk menghempas ketegangan di kelas saat itu.
    Falexa memang soal belajar hampir tak pernah didapati oleh kami dia membaca buku pelajaran. Hanyalah menyaksikan berita di Tv. Bahkan jika ada surat kabar melintas di depan matanya, dari halaman pertama koran itu ia sudah tahu seluruh isinya tentang apa. Singkat saja, dari berita.

    Masa-masa remaja telah mengenal yang namanya cinta. Falexa, memang banyak jadi incaran teman perempuannya. Sayangnya, mengharapkan Falexa bagaikan mengharapkan batu bisa menari. Sia-sia. Bahkan, mungkin tak terlintas di pikirannya tentang perempuan dan cinta. Jangankan perempuan lah. Orangtuanya jika menerima raport Falexa kerap mengeluhkan sikap anaknya di rumah. Jarang sekali ia membuka mulutnya untuk mengobrol dengan keluarga yang membesarkannya. Bangun ya bangun. Makan ya makan. Mandi ya mandi. Tidur ya tidur. Memang, soal nilai raport tak tertandingi dan sangat membanggakan. Anehnya, sikapnya di sekolah yang pendiam, realistis dan kritis itu diidolakan oleh kalangan guru-guru. Sehingga, wali kelasnya dan guru-guru lain yang mendengar soal keluhan orangtua Falexa terhadap anaknya kerapkali hanya disambut gelengan kepala karena tak percaya.

    “Selamat, Falexa.”
    “Terimakasih, Bu. Seperti biasa?”
    “Iya. Hebat.”
    Falexa tersenyum dan melanjutkan konsentrasinya pada berita.

    Berita memang penting untuk diikuti dan menambah wawasan, tetapi jika menjadi kegemaran melewati batas wajar, tentu saja cukup menyebalkan. Adiknya Falexa, Grandy, jarang sekali pulang ke rumah. Rumahnya bagaikan warung makan saja. Sekedar numpang mampir untuk makan lalu pergi. Terkadang, kamar dan ranjangnya masih bersih, rapi, tak tersentuh pemiliknya. Konon, Grandy tak punya hiburan di rumah di usia-usianya seperti ini. Kartun tak pernah bisa ia tonton untuk menghibur masa kecilnya. Masakah kecil-kecil diberi santapan berita? Bagaikan bayi dikasih makan nasi. Belum cukup umur lah. Masa muda Grandy lebih cenderung hidup diluar didikan orangtuanya. Tak heran, sikapnya sungguh berlawanan dengan Falexa.

    “Hei kau pelanggan! Kenapa kemari? Tidak punya ingatan atau?”
    “Ini kan juga rumahku.”
    “Disini, hanyalah orang yang berstatus keluarga lah yang layak mengakui ini rumahnya. Kau? Kau kan pelanggan. Mengapa seenaknya memijak kaki dan mengaku-ngaku?”
    “Bukankah kita dilahirkan dari rahim ibu yang sama?”
    “Memang, tapi dididik dengan tangan ibu yang berbeda. Dan, hanya orang-orang yang bermutu tinggi lah yang layak mengakui dirinya sebagai keluarga di rumah ini. Kau? Hanya sejengkal dari kakimu berdiri pun kau tak tahu apa-apa. Apalagi tentang dunia luar. Sangat bodoh!”
    Grandy terdiam menatap kakaknya. Matanya berkaca-kaca dan berlari dari hadapan kakaknya, Falexa.

    Sejak saat itu, Grandy dikabarkan hilang jejaknya. Ibu dan ayah serta kerabat lain pusing bukan kepalang memikirkan bocah itu. Sudah berandalan, hilang pula badannya. Rumah demi rumah yang seringkali menjadi persinggahan Grandy hanya menggelengkan kepala dengan berbagai pertanyaan mengenai hilangnya dia. Falexa bungkam seribu bahasa tentang itu. Ia tahu, terakhir ia muncul di depannya dan ia mengata-ngatainya tatkala ia hendak makan di rumah. Kabar hilangnya Grandy pun sampai masuk berita Tv. Falexa terperangah.

    Ia berjalan ke sekitar rumah ketika berita yang ia tonton masih jeda iklan. Ia melewati kamar Grandy yang terbuka pintunya. Ia menengok ke dalam dan mendapati kamarnya bersih, sprai ranjangnya pun tak didapatinya lipatan-lipatan. Sangat rapi. Tak tersentuh. Dan atmosfernya terasa sangat dingin. Berbeda dengan ruangan-ruangan di rumah. Falexa menatap ke arah foto keluarga. Tak didapatinya tubuh Grandy berdiri bersama seluruh anggota keluarganya. Ia pun kembali menyaksikan berita di tengah berkabungnya keluarga itu.

    “Tidak adakah pekerjaan lain selain menangisi orang tak berjasa seperti Grandy?”
    Perkabungan berhenti sejenak. Semua mata tertuju pada Falexa.
    “Falexa! Jaga mulutmu! Dia adikmu juga! Adik kandungmu!”
    “Iya, memang, secara akta dan fakta dia adalah adikku. Tetapi, secara hati nurani? Hmm jauh dari kata keluarga, apalagi adik.”
    “Falexa! Kau boleh menguasai dunia dengan kecerdasanmu yang makin bertambah. Tetapi, jangan sampai kecerdasan menguasai dirimu dengan keangkuhan dan permusuhan yang kian bertambah.”
    “Iya, aku paham. Tapi, kalau cuma mengandalkan diri yang baik dan berakhlak tapi otak tak mengerti soal dunia, ya hanya jadi jalan yang diinjak-injak saja. Baik? Iya Bodoh? Iya. Kecerdasan kan patut dibanggakan. Omonganku kan bermutu dan bisa dibuktikan dengan kebenaran.”
    Semua tercengang dan menyerah membalas Falexa.
    “Sudah sepantasnya ia kembali kepada Sang Tuhan. Sebab, hidupnya tak dipakai dengan bijak dan seharusnya. Malahan menyusahkan banyak orang. Yang Kuasa pasti malu dan marah. Apalagi keluarga yang hanyalah manusia biasa.” Lanjut Falexa.

    Berita terus lanjut berceloteh. Falexa terus duduk terpaku di sofa depan Tv. Seisi rumah telah berkabung terungkap bahwa Grandy meninggal karena bunuh diri. Ditemukan mayatnya mengambang di sungai. Grandy memang dikenal tak bisa berenang.
    Mendengar itu, Falexa menggeleng-gelengkan kepala di depan jenazah Grandy.
    “Sebelum mati, cobalah berpikir cara mati yang benar dan tenteram. Bukannya, melakukan cara mati yang tidak bisa kau nikmati. Menceburkan diri ke sungai? Kau lupa ya kalau kau tidak bisa berenang?” Bisik Falexa di telinga jenazah yang telah pucat dan terbujur kaku di peti itu.
    Orang-orang yang melihatnya berbisik-bisik tak sedap mengenai Falexa. Falexa mendengarnya dan memutuskan menyalakan Tv, dengan volume sangat keras memenuhi ruangan.
    “Daripada mendengarkan celotehan mulut-mulut sampah, lebih baik mendengarkan ucapan pengetahuan dari berita. Jelas berguna.”

    Umur demi umur semakin bertambah bagi Falexa. Impiannya terwujud sebagai seorang reporter. Ia ingat betul ketika tes menjadi reporter, dirinya menjadi yang terbaik diantara ratusan pelamar yang menjadi saingannya. Ia dibanggakan dalam pekerjaannya. Berita semakin menjadi hidup dan matinya.
    Jika ditanya mengenai pasangan hidup, ia tertawa dan menggelengkan kepala.
    “Tidak, Tidak. Saya rasa itu hanya merepotkan diri saya saja. Saya harus membagi perhatian terhadap istri, anak-anak, urusan rumah tangga, oh! Buruk sekali! Saya kenal diri saya secara persis. Jika saya tak mampu dan yakin itu menghancurkan, lebih baik saya tidak melanjutkannya daripada merusak semuanya.”

    Ia hidup seorang diri di rumah mewah mungilnya. Dikaruniai Tv berlayar datar dan modern di zamannya adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Semakin usianya bertambah, semakin fisiknya lemah dan tak mendukung dalam pekerjaannya. Namun demikian, kegigihannya untuk tetap menguasai dunia berita tidaklah ambruk sampai disitu. Di masa tuanya ia tetap bersahabat dengan dunia berita. Sayangnya, ketika ia sakit dan akhirnya meninggal, berita yang ia jadikan tuhan dalam dunianya tak sedikitpun menyinggung kematiannya. Tetangga, dan teman-teman hidupnya pun banyak yang enggan memasang mata dan telinga pada kematian Falexa.

    Kota Solo,
    Selasa, 12 Juli 2016.

    Cerpen Karangan: Jessica Desideria Tanya
    Facebook: Jessica Desideria Tanya

    Artikel Terkait

    Hamba Berita
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email