Judul Cerpen Jangan Khianati Aku
Namaku Nadine. Aku tinggal di Komplek Aster, bersama orangtuaku. Aku punya tetangga, sekaligus sahabat terbaikku sejak kami masih TK. Nama sahabatku itu Mila. Mila ini sekelas denganku. Kami masih SMP kelas dua, di SMP Camellia. Sebenarnya, aku ini baru saja pindah ke rumah baru kami di sini, Komplek Aster.
Dahulu, aku tinggal jauh sekali dari sini. Dulu, Mila juga tinggal sebagai tetangga denganku di perumahan cluster bernama Dragon Residence. Aku pindah lebih dahulu. Tapi, tidak kusangka, Mila akan pindah ke Komplek Aster. Mulai sejak itu, kami akrab kembali seperti waktu TK dulu.
Wuah, senangnya bisa bertemu dengannya lagi, apalagi, kami sekelas. Mila sangat akrab denganku. Sampai-sampai, kami berdua sering ditanyai oleh guru. Pasti pertanyaan dari guru-guru itu selalu sama setiap harinya.
“Kalian ini saudara atau sahabat? Kok, kelihatannya akrab banget?” tanya guru-guru setiap harinya.
“Ah, nggak, kok. Kami ini hanya sahabat biasa. Ibu dan bapak guru tahu sendiri, kan, kalau sahabat itu harus saling menyayangi satu sama lain. Saya berkata jujur,” jawabku dan Mila. Setiap kami mengucapkan kata-kata itu, rasanya, kami semakin akrab, persahabatan semakin erat.
Tapi, pada suatu hari, Mila bertemu dengan seorang anak baru di kelas ini. Namanya Farah. Farah ini orangnya sombong dan jutek. Menyebalkan, deh, pokoknya. Mila sangat terpengaruh dengan Farah yang berasal dari keluarga milyuner. Perlahan-lahan, Mila jadi akrab dengannya dan sifatnya berubah.
Farah selalu memberikan apa saja yang Mila inginkan, termasuk tablet dan sepeda gunung. Farah berjanji, bahwa ia akan memberikan Mila motor gede alias moge kepada Mila dengan uang tabungan di bank miliknya. Farah juga akan mengizinkannya mengendarai mobil Lamborghini milik keluarganya.
Rasa kesalku memuncak. Aku benci sekali dengan anak itu. Aku tidak melarang Mila untuk berteman dengan yang lain. Tapi, tidak yang seperti itu sampai membuatku mengalami keterpurukan dan dikhianati. Aku ditinggalkan, dan Mila seperti menyombongkan diri kepadaku.
Farah pernah memberikannya uang yang banyak karena menang lomba menyanyi di sekolah mengalahkanku. Tapi, Mila yang terlalu akrab dengan Farah sampai mengkhianati aku itu tidak tahu, bahwa aku punya penyakit yang sudah akut. Penyakit yang membuat Mila sangat sakit hati dan menyesal jika kukatakan apa sebenarnnya penyakitku.
Aku mengidap kanker darah atau leukemia yang sudah parah. Entah stadium berapa. Aku sering mimisan, mengantuk, dan pingsan tiba-tiba. Sementara Mila dan Farah mengendarai Lamborghini, aku berobat ke dokter diam-diam. Di sana, dokter berkata.
“Ya ampun, Nadine. Leukemiamu sudah mencapai stadium akhir. Saya tidak mau mengatakan ini. Saya tidak mau kamu sakit hati. Tidak mau!” kata pak dokter itu.
“Benarkah, dok?” tanyaku.
“Ya, benar. Sabarlah. Mungkin nyawamu tidak akan selamat. Lain kali, kamu harus pergi ke rumah sakit, ya, Nadine” kata dokter itu.
“Ya, terima kasih pak dokter. Saya akan tetap bersabar, dengan ketabahan hati seorang Nadine yang tidak pernah menyerah dengan cobaan!” kataku menyemangati diriku. Kemudian, aku ke luar dari ruangan itu. Sebenarnya, aku sangat sedih. Aku mungkin tidak akan melihat mamaku, papaku dan bahkan Mila.
Sementara itu, Mila sudah mahir mengemudikan moge pemberian Farah. Malam itu, aku mimisan dan pingsan. Mama dan papa membawaku ke rumah sakit. Begitu siuman, aku melihat diriku yang terbaring di atas kasur rumah sakit. Lalu, mama menerima telepon dari mamanya Mila.
Mamanya Mila bertanya tentang keadaanku. Beliau tahu aku terkena leukemia. Tapi, putrinya tidak tahu karena sudah tidak peduli lagi padaku. Bahkan, dia berkhianat. Seketika itu juga, mamanya Mila menyuruh Mila agar pergi ke rumah sakit. Mila langsung menyetir mogenya menuju rumah sakit.
Saat itu, aku melihat Mila dengan samar-samar.
“Mila, mungkin aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Untuk pertama kalinya kamu berkhianat padaku. Jangan lakukkan itu lagi. Jangan khianati aku. Selamat tinggal, Mila… Ahhhh…” kataku. Kemudian, nafasku berhenti dan aku menutup mataku.
“NADINE! Jangan tinggalkan aku! Maafkan aku, Nadine! Maafkan aku! NADINE! Jangan pergi! Aku sudah berkhianat padamu! Maafkan aku! NADINE! NADINE!” teriak Mila meratapiku. Dia sangat menyesal. Kini, yang bisa dia katakan hanyalah permohonan maaf yang sudah tidak berguna lagi.
Air matanya menetes, mengalir di wajahku. Lalu, Mila memelukku.
“Aku menyesal telah meninggalkanmu! Aku menyesal telah berteman dengan Farah!” katanya lagi.
Keesokan harinya, di pemakaman, selesai dikuburkan, Mila berlari ke depan dan langsung memeluk nisan bertuliskan “Nadine Aulia” dengan berlinangan air mata. Rasa sesalnya tiada tara.
Dia hanya bisa menyesali perbuatannya karena dia telah mengkhianati sang Nadine yang sudah berteman dengannya sejak kecil.
Cerpen Karangan: Sukmaning Tami Oetari Nugroho
Facebook: sukmaningtamioetari[-at-]yahoo.co.id
Namaku Nadine. Aku tinggal di Komplek Aster, bersama orangtuaku. Aku punya tetangga, sekaligus sahabat terbaikku sejak kami masih TK. Nama sahabatku itu Mila. Mila ini sekelas denganku. Kami masih SMP kelas dua, di SMP Camellia. Sebenarnya, aku ini baru saja pindah ke rumah baru kami di sini, Komplek Aster.
Dahulu, aku tinggal jauh sekali dari sini. Dulu, Mila juga tinggal sebagai tetangga denganku di perumahan cluster bernama Dragon Residence. Aku pindah lebih dahulu. Tapi, tidak kusangka, Mila akan pindah ke Komplek Aster. Mulai sejak itu, kami akrab kembali seperti waktu TK dulu.
Wuah, senangnya bisa bertemu dengannya lagi, apalagi, kami sekelas. Mila sangat akrab denganku. Sampai-sampai, kami berdua sering ditanyai oleh guru. Pasti pertanyaan dari guru-guru itu selalu sama setiap harinya.
“Kalian ini saudara atau sahabat? Kok, kelihatannya akrab banget?” tanya guru-guru setiap harinya.
“Ah, nggak, kok. Kami ini hanya sahabat biasa. Ibu dan bapak guru tahu sendiri, kan, kalau sahabat itu harus saling menyayangi satu sama lain. Saya berkata jujur,” jawabku dan Mila. Setiap kami mengucapkan kata-kata itu, rasanya, kami semakin akrab, persahabatan semakin erat.
Tapi, pada suatu hari, Mila bertemu dengan seorang anak baru di kelas ini. Namanya Farah. Farah ini orangnya sombong dan jutek. Menyebalkan, deh, pokoknya. Mila sangat terpengaruh dengan Farah yang berasal dari keluarga milyuner. Perlahan-lahan, Mila jadi akrab dengannya dan sifatnya berubah.
Farah selalu memberikan apa saja yang Mila inginkan, termasuk tablet dan sepeda gunung. Farah berjanji, bahwa ia akan memberikan Mila motor gede alias moge kepada Mila dengan uang tabungan di bank miliknya. Farah juga akan mengizinkannya mengendarai mobil Lamborghini milik keluarganya.
Rasa kesalku memuncak. Aku benci sekali dengan anak itu. Aku tidak melarang Mila untuk berteman dengan yang lain. Tapi, tidak yang seperti itu sampai membuatku mengalami keterpurukan dan dikhianati. Aku ditinggalkan, dan Mila seperti menyombongkan diri kepadaku.
Farah pernah memberikannya uang yang banyak karena menang lomba menyanyi di sekolah mengalahkanku. Tapi, Mila yang terlalu akrab dengan Farah sampai mengkhianati aku itu tidak tahu, bahwa aku punya penyakit yang sudah akut. Penyakit yang membuat Mila sangat sakit hati dan menyesal jika kukatakan apa sebenarnnya penyakitku.
Aku mengidap kanker darah atau leukemia yang sudah parah. Entah stadium berapa. Aku sering mimisan, mengantuk, dan pingsan tiba-tiba. Sementara Mila dan Farah mengendarai Lamborghini, aku berobat ke dokter diam-diam. Di sana, dokter berkata.
“Ya ampun, Nadine. Leukemiamu sudah mencapai stadium akhir. Saya tidak mau mengatakan ini. Saya tidak mau kamu sakit hati. Tidak mau!” kata pak dokter itu.
“Benarkah, dok?” tanyaku.
“Ya, benar. Sabarlah. Mungkin nyawamu tidak akan selamat. Lain kali, kamu harus pergi ke rumah sakit, ya, Nadine” kata dokter itu.
“Ya, terima kasih pak dokter. Saya akan tetap bersabar, dengan ketabahan hati seorang Nadine yang tidak pernah menyerah dengan cobaan!” kataku menyemangati diriku. Kemudian, aku ke luar dari ruangan itu. Sebenarnya, aku sangat sedih. Aku mungkin tidak akan melihat mamaku, papaku dan bahkan Mila.
Sementara itu, Mila sudah mahir mengemudikan moge pemberian Farah. Malam itu, aku mimisan dan pingsan. Mama dan papa membawaku ke rumah sakit. Begitu siuman, aku melihat diriku yang terbaring di atas kasur rumah sakit. Lalu, mama menerima telepon dari mamanya Mila.
Mamanya Mila bertanya tentang keadaanku. Beliau tahu aku terkena leukemia. Tapi, putrinya tidak tahu karena sudah tidak peduli lagi padaku. Bahkan, dia berkhianat. Seketika itu juga, mamanya Mila menyuruh Mila agar pergi ke rumah sakit. Mila langsung menyetir mogenya menuju rumah sakit.
Saat itu, aku melihat Mila dengan samar-samar.
“Mila, mungkin aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Untuk pertama kalinya kamu berkhianat padaku. Jangan lakukkan itu lagi. Jangan khianati aku. Selamat tinggal, Mila… Ahhhh…” kataku. Kemudian, nafasku berhenti dan aku menutup mataku.
“NADINE! Jangan tinggalkan aku! Maafkan aku, Nadine! Maafkan aku! NADINE! Jangan pergi! Aku sudah berkhianat padamu! Maafkan aku! NADINE! NADINE!” teriak Mila meratapiku. Dia sangat menyesal. Kini, yang bisa dia katakan hanyalah permohonan maaf yang sudah tidak berguna lagi.
Air matanya menetes, mengalir di wajahku. Lalu, Mila memelukku.
“Aku menyesal telah meninggalkanmu! Aku menyesal telah berteman dengan Farah!” katanya lagi.
Keesokan harinya, di pemakaman, selesai dikuburkan, Mila berlari ke depan dan langsung memeluk nisan bertuliskan “Nadine Aulia” dengan berlinangan air mata. Rasa sesalnya tiada tara.
Dia hanya bisa menyesali perbuatannya karena dia telah mengkhianati sang Nadine yang sudah berteman dengannya sejak kecil.
Cerpen Karangan: Sukmaning Tami Oetari Nugroho
Facebook: sukmaningtamioetari[-at-]yahoo.co.id
Jangan Khianati Aku
4/
5
Oleh
Unknown
