Serpihan Sastra Dari Alceo

Baca Juga :
    Judul Cerpen Serpihan Sastra Dari Alceo

    Jakarta, 9 Juli 2007
    Tahun ajaran baru kelas XI. Cowok asing itu? Mungkin dia murid baru. Rambutnya gondrong dan penampilannya tak rapi seperti tipikal cowok berandal. Tampak beberapa gelang tali yang melingkar di tangannya. Ganteng sih. Alis tebal dan sorot matanya. Pasti otaknya kosong. ‘Alceo Chandra’ namanya. Wajahnya seperti perpaduan Indo-Jerman.

    12 Juli 2007
    “Hutan Tropis terletak di antara garis lintang 23 1/2 derajat LU dan 23 1/2 derajat LS, Banyak dijumpai di wilayah Amerika tengah, bla.. bla.. bla..” Alceo menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang diberikan Pak Roy, Guru Geografi. Padahal, dia tidur di kelas. Tapi, kok bisa jawab ya? Ternyata dugaanku salah. Otak Alceo benar-benar Brilian. Sepertinya ia sangat mengerti tentang ilmu bumi.

    14 Juli 2007
    “Teett.. teett..” “Oke, sampai disini materi kita hari ini.”
    “Kok hujan sih?” “Berengsek.” Celutukku nyaring tanpa seorang pun yang menghiraukan.

    “Hai?” sapa seseorang yang menghampiriku saat berteduh di warung dekat sekolah.
    “Hai juga.. Alceo kan namamu?”
    “Iya.” Jawab pria itu sambil menggoreskan senyum manisnya. Kulitnya gak terlalu putih. Hidungnya mancung, warisan Jerman sepertinya. Satu kata yang melambangkan Alceo: SEMPURNA.

    “Pulang naik apa?” Tanya pemuda itu.
    “mmm… naik bus kota? Kamu naik apa?”
    “Gak suka hujan ya?”
    “Iya, karena hujan itu menghalangi aktivitas.” Jawabku.
    “Oo, aku pulang setiap hari jalan kaki. Dan, aku senang kalau hujan. Berjalan di tengah hujan, memberiku banyak inspirasi.” Kata pemuda tampan bernama Alceo itu.
    “Oh, perpaduan Indo-Jerman ya?”
    “Enggak ah. Ayah saya suku Jawa dan Ibu saya Makassar.”

    19 Juli 2007
    Alceo semakin akrab denganku dan mengajakku untuk sekedar bermain ke rumahnya. Dia punya seorang kakak lelaki yang tak jauh beda usia dengannya. Sedikit pun tak mirip. Yaa, kalau dikira-kira masih kalah tampan lah dengan Alceo. Ayah dan ibunya? Juga tak mirip dengan Alceo. Mungkin karena Alceo terlalu spesial.

    25 Juli 2007
    Danau ini? Entah apa namanya. Yang pasti danaunya sangat indah. Danau yang menjadi tempatku dan Alceo berbagi cerita, menulis cerpen dan juga puisi. Alceo seperti angin. Dia menyejukkan. Aku selalu terhanyut dengan segala diksi yang diucapkannya. Alceo memang penyuka sastra. Satu hal yang baru aku tahu tentangnya: Protanophia. Ia tak dapat melihat warna merah. Dia berkata bahwa “Darah itu melambangkan duka, karena darah itu berwarna hitam.” Itulah menurut pandangan Alceo karena Protanophia yang dideritanya.

    12 Februari 2008
    ‘Tess.. tess..’ tetesan darah yang ke luar dari hidung Alceo mengenai kertas ujian Geografinya. Riki, ketua kesehatan langsung membawa Alceo ke UKS. Alceo mulai kembali ke kelas saat keadaannya mulai pulih.
    “Reina, aku tahu darah itu melambangkan duka. Dan, sepertinya aku sudah dekat dengan duka.” Kata Alceo sambil memegang kepalanya yang pusing.
    “Hei Alceo, jangan berkata seperti itu. Darah itu sebenarnya berwarna merah. Sudahlah, jangan berpikir yang enggak-enggak.”

    Aku tahu penyebab Alceo pusing dan hidungnya mengeluarkan darah. Yaitu tentang masalah pertengkarannya dengan kakak lelakinya tadi malam. Dia mencurahkan segalanya kepadaku tadi pagi. Dan, satu hal yang membuat Alceo shock yaitu, kakak lelakinya mengatakan bahwa ia adalah anak pungutan. Kedua orangtua Alceo tak segan-segan mengatakan “Iya, kau memang anak pungutan.”
    Alceo juga merasakan perbedaan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

    15 Februari 2008
    Alceo sudah koma selama 2 hari di rumah sakit. Dia terserang penyakit tumor otak stadium terakhir. Tak ada yang menemaninya. Hanya bibinya yang mengantarkan makanan kemudian pulang. Hidup Alceo memilukan. Namun, ia mampu menutupi segalanya dengan senyum manisnya.

    16 Februari 2008
    Alceo mulai membuka matanya dan sedikit kata-kata terlontar dari mulutnya. “Sampai Jumpa Reina.” Alceo menghembuskan napas terakhirnya.

    17 Februari 2008
    Aku berjalan menuju tempat peristirahatan Alceo, orang spesial yang pernah mengisi hari-hariku. Kini ia sudah dijeput oleh duka. Alceo benar. Dia merasakan duka itu sudah dekat dengannya. Aku menyapanya dengan sedikit lantunan doa dan menaburkan beberapa bunga di pusarannya. Kemudian aku menuliskan kata ‘SAMPAI JUMPA’ di nisan Alceo, seperti Alceo yang tak pernah mengucapkan kata ‘Selamat Tinggal’ kepadaku. Aku sangat mengingat segala kata yang dilontarkan oleh bibir manis Alceo. Tapi, Alceo tak pernah mengatakan kata ‘I LOVE YOU’ ataupun gombal lainnya kepadaku. Dia hanya mengatakan “Orang yang paling aku cintai adalah orang yang menjaga segala rahasiaku.” Tak lain kata-kata sederhana itu hanya ditujukan Alceo untukku. Kisah kami hanya berlangsung selama 7 bulan. Aku masih menunda kata ‘CINTA’ ini untuk Alceo. Kini Alceo telah pergi. Namun, aku percaya bahwa ia ada dalam setiap serpihan sastra yang ditinggalkannya.

    “Jiwamu ada dalam setiap serpihan sastra yang kau tinggal pergi.” – Reina.

    SAMPAI JUMPA ALCEO!

    Cerpen Karangan: Anggita Mardika
    Facebook: anggita mardika
    Instagram: anggita_mardika

    Artikel Terkait

    Serpihan Sastra Dari Alceo
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email