Secangkir Kopi (Alone 1)

Baca Juga :
    Judul Cerpen Secangkir Kopi (Alone 1)

    “Mas?”

    Percuma. Iya, sangat percuma aku memanggilnya. Menyebut namanya dalam pesan singkat yang entah sudah berapa kali aku kirim. Ada sesak yang tidak terbayangkan. Sakit, sangat pedih dan aku terluka. Kecewa dalam kesendirian.

    Aku pulang tetapi tidak ada sambutan. Ketika kepergianku diiringi tangis haru, harapan kedatanganku membawa kebahagiaan ternyata sia-sia. Kamu ke mana? Dan langkahku lunglai ke luar dari lobi bandara. Menuju mobil yang telah menantiku sejak satu jam lalu.

    “Bawa aku ke rumah di dekat kampus.” Mataku sendu. Kecewa dengan sikap diammu, meninggalkan aku sendirian. Tanpa penyambutan. Aku sangat kecewa.

    Mengarahkan jalan menuju rumah di samping kampus. Rumah yang dahulu mengenang kita Mas. Saat kamu menjadi imam sholat dzuhur, kemudian aku memasak makan siang. Ah, kenangan yang menambah sakitnya kekecewaan.

    Satu hari berikutnya, saat hati mulai bisa menerima kecewa…
    “Kamu di mana? Aku pulang ke Jogja.” Suara berat itu. Bodoh pikirku, lalu untuk apa aku terbang tengah malam menuju Pontianak jika manusia yang aku kejar berada di Jogja.
    “Oh, aku lagi di rumah.” Singkat, aku tidak ingin menunjukan rasa kecewaku. Setidaknya aku sudah berusaha menghindari perkelahian. Aku ingin semuanya baik-baik saja. Meski sangat sulit untuk menerima keadaan yang sebenarnya tidak baik-baik saja.
    “Besok aku pulang. Kamu jangan pesan ticket dulu.” Menghela nafas, semuanya berubah? Tidak bukan berubah. Ini adalah hal baru dari sekian keseriusan setelah terbukanya gerbang keberanian mengharapkan. Ini yang aku harapkan bukan? Diharapkan dan dikecewakan.
    “Iya Mas.” Telephone tertutup. Ada tuntutan untukku tetap tegar. Dan aku kembali sendiri. Entah untuk apa dia ada di Jogja. Aku selalu berpikir positif. Tidak ada hal yang salah, selagi itu tidak membuat aku dan dia yang aku panggil Mas, berpisah.

    Sendiri. Kembali sepi dalam lamunan menuju malam berikutnya. Aku selalu tidak yakin dia akan tepat waktu. Kebiasaannya adalah membiarkan aku menunggu. Membiarkan aku berada di luar ruangan kehidupannya. Aku sudah sangat terbiasa dengan itu, meski sakit. Semua aku terima dengan senyuman. Karena rasa yang aku perjuangan telah membuahkan hasil, meski pada akhirnya aku harus lebih menerima bagaimana di-sendiri-kan oleh sosok yang selalu aku panggil Mas.

    Cerpen Karangan: Putri Al Fatih
    Blog: putrialfatih.blogspot.co.id

    Artikel Terkait

    Secangkir Kopi (Alone 1)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email