Secangkir Kopi (Rindu)

Baca Juga :
    Judul Cerpen Secangkir Kopi (Rindu)

    “Ngapain?” Sosok raksasa penjaga pintu itu menyapaku dari balik pintu ruang seminar.
    “Nonton seminar.” Jawabku dengan wajah tidak ramah dan suara pelan, karena ini ruang seminar. Raksasa penjaga pintu itu duduk tepat di sampingku, dengan ciri khas yang selalu saja membuat aku penasaran.
    “Em, besok saya ke Jakarta.” Pernyataan yang hampir saja membuatku berteriak ‘HAH?’ beruntung aku segera tahu apa alasan raksasa penjaga pintu itu terbang menuju Ibu Kota Jakarta.
    “Ngurus prodi baru?” Tanyaku, basa basi dengan nada tidak tahu meski sebenarnya aku sudah tahu.
    “Iya.” Jawabnya dengan nada khas yang kembali membuatku terkagum.
    “Okay, Good Luck.”
    “Hanya itu?” Jawabnya lagi. Ada apa? Salah jika aku hanya menyemangatinya dengan kalimat seperti itu? Ada batasan jika aku harus mengatakan apa yang sebenarnya ingin aku katakan.

    Ini ruang seminar, tidak hanya aku dan raksasa penjaga pintu yang sedang berada di sini. Ada banyak manusia lainnya yang sejak tadi memperhatikan keakraban ini. Aku tidak menyalahkan tindakannya mengatakan hal tersebut, namun aku harus tahu diri. Aku hanyalah seorang mahasiswi yang tertarik dengan sosok raksasa penjaga pintu yang setiap detiknya memberikan aku semangat dalam secangkir kopi.

    “Mr. Mau lebih?” Tanyaku dengan nada yang sebenarnya memaksanya untuk tidak berbicara denganku.
    “Tidak, cukup.” Jawabnya dengan nada mengerti.
    “Jangan lupa sholat, agar perjuangannya tidak sia-sia.” Tambahku kemudian pergi meninggalkan ruangan seminar. Ada sesak yang tidak bisa aku jelaskan. Sebelum akhirnya ucapan terimakasih terdengar seperti ucapan selamat tinggal dari sosok penjaga pintu yang selalu mengisi secangkir kopi inspirasiku.
    “Terimakasih, telah mengingatkan.”
    “Okay.”



    Inikah rasa rindu itu, yang menyiksa dalam dingin serta kepulan asap dari secangkir kopi. Tidak ada tatapan lain selain menatap monitor laptop dengan judul baru dari naskah yang sedang aku selesaikan.
    “Ah, baru juga sehari.” Gumamku dalam jentikan jemari yang sepertinya mulai mengerti bagaimana mengatasi rindu yang enggan berlalu.
    “Hei, pasti ngelamunin Mr. ya?” Sahabat yang selalu menemaniku menulis mengejutkan lamunanku dalam rindu serta aroma kopi yang menggebu.
    “Apaan sih.” Jawabku dengan nada cuek. Ya, aku memang sedang tidak mood untuk membicarakan sosok raksasa penjaga pintu yang sedang mengikat rinduku.
    “Kalian itu dua manusia yang mengisi drama aneh kampus biru.” Pernyataan yang membuatku tertawa.
    Drama aneh? Iya, aku memang aneh tapi tidak dengan dia. Sosok raksasa penjaga pintu itu lebih dari sekedar aneh. Itu sebabnya aku suka dan aku penasaran.
    “Aku yang aneh bukan dia.” Jawabku dengan terus mengetik huruf menjadi sebuah klausa menuju frasa yang indah.
    “Kalau kalian jodoh, bagaimana?”
    Ah, pertanyaan yang kembali memaksa aku untuk mengingat semua do’a yang telah aku sampaikan pada Tuhan. Dalam hati memang menginginkan kebersamaan. Namun, tidak ada yang tahu kenyataan selanjutnya. Aku memang cinta, tetapi ada batas yang tidak bisa aku lampui. Bahkan dalam hubungan yang selalu aku ceritakan kepada Tuhan, aku masih tidak bisa melihat ada jalan jodoh di sana.
    “Alhamdulillah.”
    “Kalau dia sama yang lain?”
    “Ikhlasin saja, berarti dia bukan yang terbaik untuk seorang Princess sepertiku.”

    Iya, ada hati yang harus ikhlas. Ada cinta yang tetap kuat. Dan ada jiwa yang harus tetap bertahan dalam do’a. Pengharapan itu tidak salah, yang salah adalah ketika ketika mengharap pada manusia itu sendiri. Karena hati kita, perasaan kita seluruhnya milik Tuhan. Bicarakan kepadaNya apa yang kita rasakan. Masalah dikabulkan atau tidak itu urusan nanti. Karena do’a adalah ucapan cinta dan rindu yang pasti sampai tanpa perlu berbicara dan menuliskan kata-kata.
    “Hahaha, dasar.”

    Kemudian setelah rindu dan percakapan sederhana di ruang seminar. Aku dalam do’a yang kembali aku haturkan kepada Tuhan, bisakah rasa ini bertahan dalam jarak dan waktu?

    Cerpen Karangan: Putri Al Fatih
    Blog: putrialfatih.blogspot.co.id

    Artikel Terkait

    Secangkir Kopi (Rindu)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email