Judul Cerpen Secangkir Kopi (Kopi 1)
Ingatan tentang hujan di Kedai Arch membuahkan rasa yang aku sebut cinta.
“Ini kopimu!” Tangan besar menyuguhkan aku secangkir kopi pesanan. Aku mengira kamu adalah pelayan langganan. Ternyata sosok lama yang bertemu kembali.
“Rajin banget, jangan sok sibuk deh.” Lanjutmu, sembari duduk di depanku. Kebiasaan lama yang selalu aku benci. Merusak suasana dengan merendahkan pekerjaan seseorang.
“Harusnya kamu datang saat aku sedang makan, bukan nulis.” Dan kamu tertawa terbahak melihat raut wajah sebalku. Seperti masa yang telah lalu. Kamu yang menyebalkan namun menyenangkan dan selalu membawa rindu.
“Kamu nggak berubah ya? Masih suka kopi dan masih rajin menggalau.” Untuk kali ini aku tidak bisa marah. Sebagai penulis, aku tidak bisa menulis sembari diajak ngobrol. Jemariku terhenti dan aku tatap wajah lama bergurat tua, usianya terpaut enam tahun denganku.
“Perasaanku juga masih sama, kenapa kamu nggak menebak itu?” Tanyaku dalam senyum sinis merubah suasana menjadi lebih serius. Wajah itu tampak berpikir dan mengorek kenangan masa lalu. Saat aku masih memiliki rasa namun dalam status sebagai mahasiswinya di kampus.
“Pertemuan kita di sini, yang menandakan perasaanku sudah berubah.” Dan matamu menacapkan kebahagiaan di balik aroma kopi panas.
—
Tiga tahun setelah acara wisuda, tiga tahun setelah aku memutuskan untuk mengabaikan perasaanku kepada sosokmu sebagai dosen. Kini, pertemuan yang mengingatkan betapa perjuanganku memberanikan diri mengharapkanmu membuahkan hasil. Aroma kopi menjadikan aku lebih tahu, ada waktu yang tepat untuk menyatukan perbedaan.
“Siap?” pertanyaan bodoh yang kamu lontarkan membuat jemariku tidak berkutik. Tatapan beku penuh tanda tanya. Keringat yang mengalir dingin secara perlahan, tidak tertinggal pula darah yang mendesir hebat.
“Saat itu kita hanya butuh waktu untuk memantapkan. Ini adalah saatnya, saat kebiasaanmu tidak berubah, saat perasaanmu tidak berubah namun perasaanku berubah. Saat aku tahu, kamu telah berani mengharapkan perasaanku yang lebih.”
Aku biarkan aroma kopi menyelami kata-kata sosok hebat dalam hidupku selama lima tahun belakangan. Sosok yang pernah hampir aku lupakan karena ketidaksiapan waktu. Kini, saat waktu telah siap. Pertanyaan itu berubah. Bagaimana bisa aroma kopi menjadikan perasaan kita sama?
Cerpen Karangan: Putri Al Fatih
Blog: putrialfatih.blogspot.co.id
Ingatan tentang hujan di Kedai Arch membuahkan rasa yang aku sebut cinta.
“Ini kopimu!” Tangan besar menyuguhkan aku secangkir kopi pesanan. Aku mengira kamu adalah pelayan langganan. Ternyata sosok lama yang bertemu kembali.
“Rajin banget, jangan sok sibuk deh.” Lanjutmu, sembari duduk di depanku. Kebiasaan lama yang selalu aku benci. Merusak suasana dengan merendahkan pekerjaan seseorang.
“Harusnya kamu datang saat aku sedang makan, bukan nulis.” Dan kamu tertawa terbahak melihat raut wajah sebalku. Seperti masa yang telah lalu. Kamu yang menyebalkan namun menyenangkan dan selalu membawa rindu.
“Kamu nggak berubah ya? Masih suka kopi dan masih rajin menggalau.” Untuk kali ini aku tidak bisa marah. Sebagai penulis, aku tidak bisa menulis sembari diajak ngobrol. Jemariku terhenti dan aku tatap wajah lama bergurat tua, usianya terpaut enam tahun denganku.
“Perasaanku juga masih sama, kenapa kamu nggak menebak itu?” Tanyaku dalam senyum sinis merubah suasana menjadi lebih serius. Wajah itu tampak berpikir dan mengorek kenangan masa lalu. Saat aku masih memiliki rasa namun dalam status sebagai mahasiswinya di kampus.
“Pertemuan kita di sini, yang menandakan perasaanku sudah berubah.” Dan matamu menacapkan kebahagiaan di balik aroma kopi panas.
—
Tiga tahun setelah acara wisuda, tiga tahun setelah aku memutuskan untuk mengabaikan perasaanku kepada sosokmu sebagai dosen. Kini, pertemuan yang mengingatkan betapa perjuanganku memberanikan diri mengharapkanmu membuahkan hasil. Aroma kopi menjadikan aku lebih tahu, ada waktu yang tepat untuk menyatukan perbedaan.
“Siap?” pertanyaan bodoh yang kamu lontarkan membuat jemariku tidak berkutik. Tatapan beku penuh tanda tanya. Keringat yang mengalir dingin secara perlahan, tidak tertinggal pula darah yang mendesir hebat.
“Saat itu kita hanya butuh waktu untuk memantapkan. Ini adalah saatnya, saat kebiasaanmu tidak berubah, saat perasaanmu tidak berubah namun perasaanku berubah. Saat aku tahu, kamu telah berani mengharapkan perasaanku yang lebih.”
Aku biarkan aroma kopi menyelami kata-kata sosok hebat dalam hidupku selama lima tahun belakangan. Sosok yang pernah hampir aku lupakan karena ketidaksiapan waktu. Kini, saat waktu telah siap. Pertanyaan itu berubah. Bagaimana bisa aroma kopi menjadikan perasaan kita sama?
Cerpen Karangan: Putri Al Fatih
Blog: putrialfatih.blogspot.co.id
Secangkir Kopi (Kopi 1)
4/
5
Oleh
Unknown
