Judul Cerpen Apakah Aku Sebagai Teman Sementara?
Aku di sekolah dulunya punya tiga orang teman yaitu, Rahma, Puja dan Afifah. Kami dulunya berteman akrab. Kemana-mana pun kami selalu bersama. Dan kami juga kompak banget. Dari kami kelas 4 SD, sampai kelas 6 SD, kami tetap bersama. Dulu aku memang baik banget sama mereka bertiga. Bahkan apa yang aku miliki, rela aku kasih ke mereka, biar mereka nggak pernah bosan denganku.
Setelah lama kami berteman, dan lulus kelas enam, kami pun melanjutkan sekolah ke SMP yang sama. Walaupun beda-beda kelas. Dan di SMP kami masih berteman baik. Tapi cuma sebentar. Setelah itu mereka bertiga tidak ada satu pun yang menyapaku lagi. Karena dia tidak menyapaku lagi, aku yang duluan menyapanya. Tapi itu cuma sia-sia, sapaanku tidak mereka respon. Aku pun menjadi bingung, kenapa mereka menjadi diam? Kenapa mereka tidak menyapaku lagi?
Dan aku pun mencari tau apa yang terjadi, Dan aku menanyakan kepada salah satu teman laki-lakiku dulu yang satu kelas dengan mereka. Dan teman laki-lakiku itu menjawab, ia tidak mengetahuinya. Dan aku pun tidak tinggal diam, aku tetap mencari tau.
Dan keesokkan harinya, aku lewat di depan kelas salah satu teman SDku itu. Yaitu kelasnya rahma. Pas jalan, gak sengaja aku melihat rahma dan seorang teman laki-laki satu sekolah denganku namanya irfan. Mereka sedang membicarakan diriku, aku pun mendengarkanya
“hei rahma!” kata irfan
“kenapa kamu tidak bertema dengan zahara lagi?” tambah irfan,
“dia kan udah punya teman Ngapain temenan sama dia lagi? ogah gua! Lagian dia udah dapat kelas yang bagus, unggul dan mungkin sudah memiliki teman yang sederajat dengan dia. Asal lo tau Fan, gua sejak dulu berteman sama si Zahra cuma buat jadi alat pintar gua aja. Gua cuma manfaatin dia doang. Lagian dia serba ada, dia punya orangtua yang baik, dia yang pintar, cantik dan dia juga punya banyak penggemar cowok. Lo pikir cuma gua yang nggak mau temenan sama dia lagi? Ni, lo denger baik-baik! Puja, gua, Fifah, sepakat buat ngak temenan sama dia lagi soalnya gua iri dan benci banget sama dia. Dan ini juga udah lama kami sepakati. Tapi baru kini kami lakuin. Soalnya kalo kami lakuin pas SD, kami nggak bakal bisa lagi deh, manfaatin dia lagi. Makanya baru sekarang kami lakuin” ungkap Rahma. “Lo jahat banget, tega banget lu sama temen sendiri!” kata Irfan.
Setelah mendengar itu, aku pun langsung lari ke kelasku. Karena bagiku itu perkataan yang sangat menyakitkan. Aku pun merasa sedih. Meski aku ada rasa penyesalan karena telah salah memilih teman. Dan aku pun merasa aku hanya teman sementara. Sekarang, aku berhati-hati dalam memilih teman. Dan aku ngak sembarangan lagi milih teman. Karena aku sudah benar-benar tersakiti.
Cerpen Karangan: Zahara Katifa
Facebook: Zahara Latifa
Aku di sekolah dulunya punya tiga orang teman yaitu, Rahma, Puja dan Afifah. Kami dulunya berteman akrab. Kemana-mana pun kami selalu bersama. Dan kami juga kompak banget. Dari kami kelas 4 SD, sampai kelas 6 SD, kami tetap bersama. Dulu aku memang baik banget sama mereka bertiga. Bahkan apa yang aku miliki, rela aku kasih ke mereka, biar mereka nggak pernah bosan denganku.
Setelah lama kami berteman, dan lulus kelas enam, kami pun melanjutkan sekolah ke SMP yang sama. Walaupun beda-beda kelas. Dan di SMP kami masih berteman baik. Tapi cuma sebentar. Setelah itu mereka bertiga tidak ada satu pun yang menyapaku lagi. Karena dia tidak menyapaku lagi, aku yang duluan menyapanya. Tapi itu cuma sia-sia, sapaanku tidak mereka respon. Aku pun menjadi bingung, kenapa mereka menjadi diam? Kenapa mereka tidak menyapaku lagi?
Dan aku pun mencari tau apa yang terjadi, Dan aku menanyakan kepada salah satu teman laki-lakiku dulu yang satu kelas dengan mereka. Dan teman laki-lakiku itu menjawab, ia tidak mengetahuinya. Dan aku pun tidak tinggal diam, aku tetap mencari tau.
Dan keesokkan harinya, aku lewat di depan kelas salah satu teman SDku itu. Yaitu kelasnya rahma. Pas jalan, gak sengaja aku melihat rahma dan seorang teman laki-laki satu sekolah denganku namanya irfan. Mereka sedang membicarakan diriku, aku pun mendengarkanya
“hei rahma!” kata irfan
“kenapa kamu tidak bertema dengan zahara lagi?” tambah irfan,
“dia kan udah punya teman Ngapain temenan sama dia lagi? ogah gua! Lagian dia udah dapat kelas yang bagus, unggul dan mungkin sudah memiliki teman yang sederajat dengan dia. Asal lo tau Fan, gua sejak dulu berteman sama si Zahra cuma buat jadi alat pintar gua aja. Gua cuma manfaatin dia doang. Lagian dia serba ada, dia punya orangtua yang baik, dia yang pintar, cantik dan dia juga punya banyak penggemar cowok. Lo pikir cuma gua yang nggak mau temenan sama dia lagi? Ni, lo denger baik-baik! Puja, gua, Fifah, sepakat buat ngak temenan sama dia lagi soalnya gua iri dan benci banget sama dia. Dan ini juga udah lama kami sepakati. Tapi baru kini kami lakuin. Soalnya kalo kami lakuin pas SD, kami nggak bakal bisa lagi deh, manfaatin dia lagi. Makanya baru sekarang kami lakuin” ungkap Rahma. “Lo jahat banget, tega banget lu sama temen sendiri!” kata Irfan.
Setelah mendengar itu, aku pun langsung lari ke kelasku. Karena bagiku itu perkataan yang sangat menyakitkan. Aku pun merasa sedih. Meski aku ada rasa penyesalan karena telah salah memilih teman. Dan aku pun merasa aku hanya teman sementara. Sekarang, aku berhati-hati dalam memilih teman. Dan aku ngak sembarangan lagi milih teman. Karena aku sudah benar-benar tersakiti.
Cerpen Karangan: Zahara Katifa
Facebook: Zahara Latifa
Apakah Aku Sebagai Teman Sementara?
4/
5
Oleh
Unknown
