Biarkan Aku Bahagia di Pelukan Tuhan

Baca Juga :
    Judul Cerpen Biarkan Aku Bahagia di Pelukan Tuhan

    “Bruukk” tiba-tiba tubuhku terkulai lemah di depan kelas, setelah itu aku tidak sadar sama sesekali. “Nila… nilaa… aku mendengar seseorang memanggil namaku, aku membuka mataku perlahan. Aku melihat teman-temanku yang memandang cemas ke arahku. “Kamu tidak apa-apa la?” Sinta menanyakan keadaanku. “Ya, aku baik-baik saja”. aku pun bergegas ke luar dari ruang UKS.

    Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa jam sekolah pun berakhir, dengan segera aku menyandang tas dan bersiap-siap untuk pulang. Hari ini aku sengaja tidak ingin dijemput mama. Aku menyusuri koridor sekolah sambil sesekali aku bersenandung kecil. “Nil… nilaaa!!” aku memutar tubuhku ke arah belakang, sekaligus ingin mencari tau siapa yang memanggilku. “Oh. dika… ada apa kamu memanggilku?” “Aku dengar tadi kamu pingsan? Bener itu kamu?” aku mengangguk pelan. “kamu sakit la?” Dika memandang cemas ke arahku. “enggak kok, aku cuma sedikit kecapean, sekaligus butuh istirahat yang cukup”. “tapi kamu bener-bener gak papa kan?” Dika bertanya lagi kepadaku. “ihh… apaan sih lo dik, aku baik-baik aja kok, kamu gak usah cemas gitu sama aku”, ucapku sambil pergi meninggalkan dika sendirian.

    Aku satu angkatan dengan dika sayangnya kita beda kelas tapi hampir setiap hari kita ketemu di sekolah. Oiya, ngomong-ngomong sekarang aku sudah duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama.
    Tok… tokk.. tok… “Ma… aku pulang nih” ujarku dengan nada datar. Mama menghampiriku. “Gimana sekolahmu hari ini?” Mama berkata pelan. “Aku pingsan lagi ma”. “Kamu harus menjalani proses kemoterapi nil, mama nggak mau kamu tambah sakit, kamu harus dengerin apa kata mama nak, mama cuma mau yang terbaik buat kamu”, aku tau mama sedih. “Ma… aku nggak mau dikemo, rasanya tu sakit, lagian cepat atau lambat aku bakal meninggal ma, biarkan aku nikmati sisa hidupku tanpa obat-obatan ma”, aku tidak mampu lagi menahan tangisanku. “Ma, kenapa kanker ini harus ada di tubuh aku? Kenapa ma? Kenapa? Aku salah apa ma? Aku capek harus menanggungnya sendirian, aku terlalu kecil untuk untuk melawan kanker ini ma” tangisku pun pecah di pelukan mama. “Sayang, sayang, kamu harus dengerin mama ya nak, mulai besok kita harus ke rumah sakit, kamu harus kemo, biar kamu bisa sembuh”, mama berusaha meyakinku. “Baik ma”, aku mengangguk pelan.

    Kicauan burung di pagi hari membangunkan tidur panjangku, perlahan aku membuka mata, ada secercah harapan terbentang luas untukku pagi ini, dengan bergegas aku mandi lalu dengan segera mengenakan seragam sekolahku, mama menungguku untuk sarapan.

    “Pagi sayang”. Mama tersenyum manis padaku. “Pagi ma…” “Loh kok kamu pakai seragam? Kamu lupa ya, kan kita mau ke rumah sakit hari ini?”. “yah… ma, aku ke sekolah dulu deh, nanti pulang dari sekolah kita langsung kesana, aku janji deh ma, ya ma…” aku memohon ke mama. Mama mengecup keningku lalu memeluk tubuhku. “ya udah, kamu hati-hati, jangan sampai kecapean lagi, mama nggak mau anak mama yang cantik ini sampai kenapa-kenapa”. Mama mulai menggodaku. “ihh… mama, apaan sih”, aku tersipu malu dipuji.

    Belum sempat aku meninggalkan mama di meja, tiba-tiba pandanganku berubah menjadi gelap sangat gelap, ya untuk yang kesekian kalinya aku tidak sadarkan diri. Cahaya ruangan begitu menyilaukan mataku, perlahan-lahan kelopak mataku terbuka, aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, aku melihat mama menangis sambil menggenggam erat tanganku.
    “Ma” ucapku dengan lirih. “Kamu sudah bangun nak, syukurlah, terima kasih Tuhan”, mama segera memelukku sambil menangis. “iya ma… maafin aku ya ma, aku belum bisa buat mama bangga, tapi setidaknya aku tidak akan menjadi beban lagi buat mama” air mataku mengalir perlahan dari sudut mata. “Kamu jangan nyerah sayang, kamu pasti kuat nak, mama percaya sama kamu, kamu pasti sembuh nak”, mama menangis sambil terus memandangku yang sudah terkulai tak berdaya.
    “Aku lelah ma, nyatanya Tuhan lebih sayang aku, maafin nila ma, biarkan nila di pelukan Tuhan”. Perlahan-lahan mataku tertutup rapat untuk selama-lamanya. Aku pergi meninggalkan mama yang masih saja menangis sambil terus memelukku, sampai seorang suster menutup tubuhku dengan kain putih.

    Cerpen Karangan: Liviana Karina
    Facebook: Liviana karina

    Artikel Terkait

    Biarkan Aku Bahagia di Pelukan Tuhan
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email