Bidadari Kecilku

Baca Juga :
    Judul Cerpen Bidadari Kecilku

    Cahaya terang di balik jendela mengusik indra penglihatanku. Aku tahu hari telah beranjak siang, tapi rasanya malas sekali, alih-alih beranjak bangun aku justru makin menggulung diri dalam selimut, kulirik di sebelah suamiku pun masih terlelap. Tapi tak lama kemudian dia menggeliat. Melirikku.
    “Kamu sudah bangun sayang” bisik suamiku sembari mengucek matanya
    “hmmmm” jawabku. Dia pun beranjak bangun, dan ke luar kamar.
    Aku tahu sesungguhnya suamiku tak terbiasa dengan pekerjaan baru ini di setiap pagi. Ya, semenjak operasi caesar yang aku jalani 5 hari yang lalu, maka segala pekerjaanku diambil alih oleh suamiku, mulai urusan dapur dari masak sampai mencuci.

    Cklek, suara kompor dinyalakan, suamiku mulai sibuk di dapur mempersiapkan segalanya.
    Di kamar aku berusaha untuk bangun dari tempat tidur, walau masih terasa nyeri jahitan di perutku tapi aku paksa untuk dapat duduk dengan nyaman.
    Operasi caesar yang aku jalani harusnya membawa kebahagiaan akan kehadiran anggota baru dalam keluarga kecilku. Tapi Tuhan berkehendak lain, bidadari kecilku harus pulang lebih awal tanpa sempat aku melihat wajah mungilnya, apa lagi memeluknya
    Tak terasa airmataku menetes, membayangkan betapa kami sangat menginginkan kehadirannya, betapa kami sangat menunggunya.
    “Oh Tuhan, apa salahku hingga tak Kau ijinkan aku untuk memeluknya” ratapku, dalam isak tangis

    Suamiku masuk, mungkin karena mendengar isakanku, dia terdiam sesaat, lalu mendekatiku dan memelukku.
    “Sabar sayang, mungkin memang ini yang terbaik untuk kita saat ini, ikhlaskanlah jangan menangis lagi” hiburnya.
    Aku tatap wajahnya, dia memang tak menangis tapi aku tahu hatinya juga hancur.
    “ayo mandi air hangatnya sudah siap” ucapnya mengalihkan pembicaraan.
    Aku mengangguk, dengan dibantunya aku berdiri dan bersiap mandi.

    Seminggu berlalu, tapi terasa berbulan-bulan bagiku. Bosan rasanya setiap hari dengan rutinitas yang sama, tanpa bisa berbuat banyak hal. Aku bosan jadi orang lemah, aku bosan sakit.

    “Besok kita cek ke dokter ya, untuk melihat lukamu” ucap suamiku pada suatu sore.
    “Iya, tapi sepulang dari dokter besok kita mampir ziarah ke makam putri kita ya?” jawabku
    “Boleh, tapi janji ya dimakam nanti gak boleh nangis” pinta suamiku
    “iiih, ya gak tahu laah” gerutuku
    “kalo nangis berarti gak jadi ke makam” ledeknya
    “iiihhh, kok jahat gitu seh” jawabku sambil cemberut
    “Makanya janji dulu” jawabnya sambil menunjukan jari kelingkingnya mengajakku berjanji.
    “iya deh” tukasku dengan terpaksa.

    Keesokan paginya, kami pun bersiap pergi ke dokter. Setelah mengantre lama dan melewati banyak prosedur akhirnya pemeriksaan pun selesai. Kami pun beranjak pulang.
    “kita mampir beli bunga dulu ya” kataku, ditengah perjalanan.
    “iya” jawab suamiku singkat
    Akhirnya kami pun berhenti di depan penjual bunga. Membeli beberapa mawar dan kenanga.

    Tak berapa lama, kami pun sampai di depan komplek pemakaman. Dengan mengucap salam kami masuk dan mencari makam bidadariku.
    Tertegun aku memandangnya, kuburan mungil kecil itu, ada jasad bidadariku di dalamnya. Air mataku mengambang di pelupuk mata, hingga aku tersadar oleh tepukan halus di pundakku.
    “Ayo, duduk sayang, kita do’akan putri kecil kita” kata suamiku. Aku pun hanya menurut mengikuti perintahnya.
    Dalam hati kecilku berdo’a, semoga Tuhan menjagamu di sana, dan mempertemukan kita di surga-Nya nanti. Kau bidadariku, malaikat kecilku.

    Cerpen Karangan: Putri Levote
    Facebook: Praone Ashley Levote

    Artikel Terkait

    Bidadari Kecilku
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email