Judul Cerpen Cintaku Mempunyai Cerita
“Hey… Kamu lagi apa?” Sakti menyapa Nina yang sedang sendiri.
“Enggak ada, cuma lagi duduk aja”. Balas Nina, cuek.
“Oh, Aku gak ganggu kamu kan?” Tanya Sakti.
“Enggak kok”. Jawab Nina sambil melirik lawan bicaranya.
Tiba-tiba teman Nina pun datang untuk mengajaknya ke kantin.
“Nin, ayo ke kantin”. Ajak Kiya teman Nina.
“Ayo, mau beli Apa ya?”. Tanya ibuk kantin
“Hmmm, aku mau bakso aja deh”. sahut Kiya.
Tanpa sengaja Sakti memegang tangan Nina yang dikirain botol air mineral, dan Nina pun langsung marah.
“Eh lo! apaan sih pegang-pegang tangan gue, lo gak punya sopan santun ya pegang-pegang tangan gue”.
“Maaf saya tidak sengaja, saya kira itu botol air mineral karena, saya ingin membeli minuman, maafkan saya, jujur tidak ada unsur kesengajaan apa-apa, sehingga membuat kamu marah seperti ini”. Jawab Sakti dengan wajah yang ketakutan.
Dan Nina pun langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Sakti.
“Eh Nin, lo kenapa sih kok begitu marahnya sama Sakti, dia kan gak sengaja dan lagian pun dia sudah minta maaf sama lo”. tegur Kiya kepada Nina.
“Udah deh Kiya, jangan bahas dia lagi”. balas Nina dengan ketus.
“Ok sorry, oh ya BTW lo pulang sama siapa?” Tanya Kiya kepada Nina.
“Gue pulang sendiri, seperti biasa”. Jawab Nina dengan menaikkan alis kirinya.
“Ok deh, hati-hati ya”.
“Iya bye”.
Pada saat Nina ingin menuju pintu gerbang, tiba-tiba Sakti menghampiri Nina dan mengajaknya pulang bareng.
“Nina, kamu pulang sendiri?” Sakti bertanya kepada Nina yang ingin bergegas pulang.
“Yah iyalah, lo lihat gimana”. dengan nada bicara yang sedikit keras.
“Kamu masih marah ya, gara-gara yang di kantin tadi. ok kalau gitu kamu kasi aku tantangan atau apa gitu, yang bisa buat kamu gak marah lagi sama aku”.
“Gak usah, gak perlu”. dengan wajah yang cemberut dan suara yang membentak.
“Kok gak perlu sih, emang kenapa?” Tanya Sakti heran.
“Udah deh… Lo gak usah sok baik dengan gue, lebih baik lo pulang sana, nanti orang tua lo nyariin. lo kan anak manja”.
“Loh kok gitu sih”. dengan wajah kesal.
Disaat mereke bertengkar di depan gerbang, tiba-tiba hujan turun lebat, dengan keadaan sekolah yang sepi, hanya mereka berdua.
“Tuh kan, hujan lebat. gara-gara lo sih ngajak gue berdebat disini”.
“Bagus”. jawab Sakti dengan suara yang pelan.
“Apa lo bilang”
“Aku bilang bagus”.
“Lo tu ya, eeegh buat gue gerem tau gak”. sambil nyubit Sakti yang nyebelin.
“Hahaha.. Gerem karena imut kan”. sambil menertawakan apa yang dikatakan Nina barusan.
“Ish, najis gue akuin lo imut”.
“Ok, karena kamu gak mau kasi aku tantangan, sekarang aku kasi tantangan ke kamu”.
“Jadi lo nantang gue”. dengan wajah yang sinis.
“Bukan, gue cuma ngetes lo kok”.
“Ngetes-ngetes, apaan emang?” Balasnya dengan menanyakan tantangan apa yang akan diberikan Sakti kepadanya.
“Gue tinggal lo disini”. jawab Sakti dengan sangat lantang.
“Eh lo gila ya, lo pikir gue satpam disini semalaman”. balas Nina dengan wajah marah.
“Terus kamu mau apa?” Dengan sedikit kesal.
“Yah.. yah.. Lo ikut disini lah”. Nina mengatakannya dengan sedikit gugup.
“Tapi kamu kan masih marah”
“Ok, gue gak akan marah lagi kecuali lo disini, sampai hujan reda”
“Ok” sambil menyunggingkan senyum kepada Nina.
Akhirnya hujan pun reda.
“Hujan dah reda ni, gue pulang ya? Tapi.. lo pulang sama siapa sudah malam kayak gini”. terbersit kekhawatiran di fikiran Sakti kepada Nina.
“Entah, gue gak tau”. balas Nina cemas.
“Ya udah, naik sini biar gue antar pulang ke rumah lo, karena kan gak baik anak perempuan pulang sendirian malam-malam”.
“Ok, Ni cowok perhatian juga ya”. sahut dalam hati Nina, sambil menyunggingkan senyum kepada Sakti.
Setibanya di rumah Nina, Sakti tidak melihat siapapun yang berada di dalamnya.
“Eh rumahmu kok sepi banget. Orangtua kamu mana?” Tanya Sakti kepada Nina.
“Orangtua gue udah meninggal 2 tahun yang lalu”. jawab Nina dengan sedih.
“Maaf, gue gak maksud ngingatin kamu sama orangtua kamu kok, aku gak tau kalau orangtua kamu sudah tiada”.
“Gak papa kok, gue ngerti, lo kan anak baru di sekolah”.
“Terus, kamu tinggal sama siapa disini?” Tanya Sakti penasaran.
“Sendiri” balas Nina tenang.
“Haaa.. Sendiri, kamu kan anak perempuan apa gak takut?” Terkejut dengan jawaban yang Nina berikan.
“Enggak, karena gue gak hidup dengan jasad tetapi, dengan cinta orang-orang yang berada di dekat gue dan orang yang telah pergi meninggalkan gue tetapi meninggalkan cintanya untukku. ya udah lo pulang deh sana, sudah malam”. sambil menuju pintu masuk rumah.
“Ok, sampai jumpa besok”.
“Iya hati-hati”. dengan memberikan senyum manisnya kepada Sakti.
Dan sampai setibanya di rumah, Sakti pun memikirkan apa yang telah terjadi 1 harian ini.
Mungkin aku sudah berfikiran yang salah tentang Nina, dan seharusnya aku bangga terhadap dia karena, dia seorang perempuan Mandiri, Pintar, Bertanggung jawab, udah itu pemberani dan menjaga dirinya dengan sangat baik walaupun kedua orangtuanya telah tiada. aaagh fikiran macam apaan ini, jangan sampai aku oooh tidak. Dengan menjerit dan menggeplak-geplak kepalaku sendiri.
Keesokan Harinya…
“Hai Nina, bagaimana kabar kamu?” Sakti bertanya agar lebih dekat.
“Alhamdulillah, gue baik. ohya terima kasih ya untuk semalam, sorry gue lupa ucapinnya..” Sambil malu-malu.
“Iya gak papaa kok, ohya saya boleh bertanya?”
“Boleh, apaan emang?”
“Saya masih belum mengerti dengan apa yang kamu bilang semalam”.
“Yang mana?” Sambil menatap Sakti.
“Yang kamu bilang, kamu hidup dengan cinta bukan dengan jasad. Maksudnya apa Nina? Boleh dijelasin”. Tanya Sakti dengan perasaan sedikit takut.
“Oh yang itu… Ni ya gue jelasin”.
“Kebanyakan semua orang itu keseringan bilang jika orang tua, pacar dan sahabat itu tidak ada, pasti gue gak bisa hidup dan gak bisa jalani hidup ini. Bahwasannya mereka salah, karena apakah semasa hidup orang tua, pacar, dan sahabat mereka, mereka tidak merasakan cinta, apakah mereka hanya ingin kesempurnaan wajah atau kekayaan. tetapi tidak memiliki cinta, ingat bahwasannya kita hidup karena punya tuhan yang memberi kita nyawa dan tuhan tidak pernah meminta wajah dan kekayaan kita. kan dia yang memberi semua itu. Dan kita disuruh mencintai dia. ingat mencintai manusia bukan berarti menyembahnya. Dan gue slalu hidup dengan cinta yang berasal dari hati bukan nafsu”.
Sakti pun terbengong mendengarkan penjelasan Nina, dan sejak saat itu mereka berdua mulai lebih dekat.
Dan pada suatu hari Sakti mengirimkan sebuah surat yang menyatakan.
“Kita manusia yang mencintai dan dicintai, saya sekarang mengerti kenapa kamu sngt marah pada saat tangan kamu tersentuh dengan tangan saya, jujur saya tidak sengaja dan saya bangga sekali terhadap kamu, karena kamu mewakili perempuan di dunia apa arti cinta yang sesungguhnya, dan kamu juga sangat menjaga kehormatan tubuh kamu agar tidak disentuh lelaki manapun, karena kebanyakan perempuan sekarang menyerahkan tubuhnya kesembarang orang, apalagi, hidup sendiri tanpa orangtua seperti kamu. You First Love For Me Nina.”
Sehabis membaca surat itu Nina langsung bertanya-tanya apa maksud dari surat itu yang akhirnya bertuliskan you first love for me.
Keesokan harinya Nina menanyakan perihal surat itu kepada sakti.
“Sakti, boleh minta waktu kamu sebentar”. panggil Nina kepada Sakti yang sedang berbicara.
“Boleh, ayo duduk disitu saja”. sambil menunjukkan bangku taman.
“Aku ingin menanyakan surat ini, apa maksudnya?”. dengan menunjukkan surat yang Sakti beri.
“Hmmm, maksudnya itu. kalau boleh jujur aku suka dan sayang terhadap kamu, aku ingin menjadi orang yang di dekat kamu dan orang yang meninggalkan kamu dengan sangat kamu cintai. tetapi aku ingin mencintai kamu dan kamu cintai tapi tidak ingi meninggalkan kamu. jika kamu mau dan mengizinkan aku ingin menjadi pengisi hatimu untuk selamanya tanpa pacaran”.
“Terus kayak mana kita jalin hubungan tanpa berpacaran?” Potong Nina.
“Jika kamu gak keberatan setelah tamat sekolah bulan depan, aku akan lanjut study ke luar negeri untuk menggapai cita-citaku menjadi seorang dokter”.
Setelah beberapa tahun kemudian, Sakti kembali dengan membawa gelar dokternya, dan sesuai janji kepada Nina. dia akan menjadi pengisi hatinya untuk selamanya. dan Sakti pun datang ke rumah Nina bersama keluarganya yang berniat untuk melamar Nina. dan akhirnya pun lamaran keluarga Sakti pun diterima oleh keluarga dari Nina. dan jelang beberapa kemudian mereka menikah dengan komitmen “cinta itu diatas kesetiaan dan tidak disembah”
END
Cerpen Karangan: Novi Ardana
Facebook: Novi Ardana Azhari
“Hey… Kamu lagi apa?” Sakti menyapa Nina yang sedang sendiri.
“Enggak ada, cuma lagi duduk aja”. Balas Nina, cuek.
“Oh, Aku gak ganggu kamu kan?” Tanya Sakti.
“Enggak kok”. Jawab Nina sambil melirik lawan bicaranya.
Tiba-tiba teman Nina pun datang untuk mengajaknya ke kantin.
“Nin, ayo ke kantin”. Ajak Kiya teman Nina.
“Ayo, mau beli Apa ya?”. Tanya ibuk kantin
“Hmmm, aku mau bakso aja deh”. sahut Kiya.
Tanpa sengaja Sakti memegang tangan Nina yang dikirain botol air mineral, dan Nina pun langsung marah.
“Eh lo! apaan sih pegang-pegang tangan gue, lo gak punya sopan santun ya pegang-pegang tangan gue”.
“Maaf saya tidak sengaja, saya kira itu botol air mineral karena, saya ingin membeli minuman, maafkan saya, jujur tidak ada unsur kesengajaan apa-apa, sehingga membuat kamu marah seperti ini”. Jawab Sakti dengan wajah yang ketakutan.
Dan Nina pun langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Sakti.
“Eh Nin, lo kenapa sih kok begitu marahnya sama Sakti, dia kan gak sengaja dan lagian pun dia sudah minta maaf sama lo”. tegur Kiya kepada Nina.
“Udah deh Kiya, jangan bahas dia lagi”. balas Nina dengan ketus.
“Ok sorry, oh ya BTW lo pulang sama siapa?” Tanya Kiya kepada Nina.
“Gue pulang sendiri, seperti biasa”. Jawab Nina dengan menaikkan alis kirinya.
“Ok deh, hati-hati ya”.
“Iya bye”.
Pada saat Nina ingin menuju pintu gerbang, tiba-tiba Sakti menghampiri Nina dan mengajaknya pulang bareng.
“Nina, kamu pulang sendiri?” Sakti bertanya kepada Nina yang ingin bergegas pulang.
“Yah iyalah, lo lihat gimana”. dengan nada bicara yang sedikit keras.
“Kamu masih marah ya, gara-gara yang di kantin tadi. ok kalau gitu kamu kasi aku tantangan atau apa gitu, yang bisa buat kamu gak marah lagi sama aku”.
“Gak usah, gak perlu”. dengan wajah yang cemberut dan suara yang membentak.
“Kok gak perlu sih, emang kenapa?” Tanya Sakti heran.
“Udah deh… Lo gak usah sok baik dengan gue, lebih baik lo pulang sana, nanti orang tua lo nyariin. lo kan anak manja”.
“Loh kok gitu sih”. dengan wajah kesal.
Disaat mereke bertengkar di depan gerbang, tiba-tiba hujan turun lebat, dengan keadaan sekolah yang sepi, hanya mereka berdua.
“Tuh kan, hujan lebat. gara-gara lo sih ngajak gue berdebat disini”.
“Bagus”. jawab Sakti dengan suara yang pelan.
“Apa lo bilang”
“Aku bilang bagus”.
“Lo tu ya, eeegh buat gue gerem tau gak”. sambil nyubit Sakti yang nyebelin.
“Hahaha.. Gerem karena imut kan”. sambil menertawakan apa yang dikatakan Nina barusan.
“Ish, najis gue akuin lo imut”.
“Ok, karena kamu gak mau kasi aku tantangan, sekarang aku kasi tantangan ke kamu”.
“Jadi lo nantang gue”. dengan wajah yang sinis.
“Bukan, gue cuma ngetes lo kok”.
“Ngetes-ngetes, apaan emang?” Balasnya dengan menanyakan tantangan apa yang akan diberikan Sakti kepadanya.
“Gue tinggal lo disini”. jawab Sakti dengan sangat lantang.
“Eh lo gila ya, lo pikir gue satpam disini semalaman”. balas Nina dengan wajah marah.
“Terus kamu mau apa?” Dengan sedikit kesal.
“Yah.. yah.. Lo ikut disini lah”. Nina mengatakannya dengan sedikit gugup.
“Tapi kamu kan masih marah”
“Ok, gue gak akan marah lagi kecuali lo disini, sampai hujan reda”
“Ok” sambil menyunggingkan senyum kepada Nina.
Akhirnya hujan pun reda.
“Hujan dah reda ni, gue pulang ya? Tapi.. lo pulang sama siapa sudah malam kayak gini”. terbersit kekhawatiran di fikiran Sakti kepada Nina.
“Entah, gue gak tau”. balas Nina cemas.
“Ya udah, naik sini biar gue antar pulang ke rumah lo, karena kan gak baik anak perempuan pulang sendirian malam-malam”.
“Ok, Ni cowok perhatian juga ya”. sahut dalam hati Nina, sambil menyunggingkan senyum kepada Sakti.
Setibanya di rumah Nina, Sakti tidak melihat siapapun yang berada di dalamnya.
“Eh rumahmu kok sepi banget. Orangtua kamu mana?” Tanya Sakti kepada Nina.
“Orangtua gue udah meninggal 2 tahun yang lalu”. jawab Nina dengan sedih.
“Maaf, gue gak maksud ngingatin kamu sama orangtua kamu kok, aku gak tau kalau orangtua kamu sudah tiada”.
“Gak papa kok, gue ngerti, lo kan anak baru di sekolah”.
“Terus, kamu tinggal sama siapa disini?” Tanya Sakti penasaran.
“Sendiri” balas Nina tenang.
“Haaa.. Sendiri, kamu kan anak perempuan apa gak takut?” Terkejut dengan jawaban yang Nina berikan.
“Enggak, karena gue gak hidup dengan jasad tetapi, dengan cinta orang-orang yang berada di dekat gue dan orang yang telah pergi meninggalkan gue tetapi meninggalkan cintanya untukku. ya udah lo pulang deh sana, sudah malam”. sambil menuju pintu masuk rumah.
“Ok, sampai jumpa besok”.
“Iya hati-hati”. dengan memberikan senyum manisnya kepada Sakti.
Dan sampai setibanya di rumah, Sakti pun memikirkan apa yang telah terjadi 1 harian ini.
Mungkin aku sudah berfikiran yang salah tentang Nina, dan seharusnya aku bangga terhadap dia karena, dia seorang perempuan Mandiri, Pintar, Bertanggung jawab, udah itu pemberani dan menjaga dirinya dengan sangat baik walaupun kedua orangtuanya telah tiada. aaagh fikiran macam apaan ini, jangan sampai aku oooh tidak. Dengan menjerit dan menggeplak-geplak kepalaku sendiri.
Keesokan Harinya…
“Hai Nina, bagaimana kabar kamu?” Sakti bertanya agar lebih dekat.
“Alhamdulillah, gue baik. ohya terima kasih ya untuk semalam, sorry gue lupa ucapinnya..” Sambil malu-malu.
“Iya gak papaa kok, ohya saya boleh bertanya?”
“Boleh, apaan emang?”
“Saya masih belum mengerti dengan apa yang kamu bilang semalam”.
“Yang mana?” Sambil menatap Sakti.
“Yang kamu bilang, kamu hidup dengan cinta bukan dengan jasad. Maksudnya apa Nina? Boleh dijelasin”. Tanya Sakti dengan perasaan sedikit takut.
“Oh yang itu… Ni ya gue jelasin”.
“Kebanyakan semua orang itu keseringan bilang jika orang tua, pacar dan sahabat itu tidak ada, pasti gue gak bisa hidup dan gak bisa jalani hidup ini. Bahwasannya mereka salah, karena apakah semasa hidup orang tua, pacar, dan sahabat mereka, mereka tidak merasakan cinta, apakah mereka hanya ingin kesempurnaan wajah atau kekayaan. tetapi tidak memiliki cinta, ingat bahwasannya kita hidup karena punya tuhan yang memberi kita nyawa dan tuhan tidak pernah meminta wajah dan kekayaan kita. kan dia yang memberi semua itu. Dan kita disuruh mencintai dia. ingat mencintai manusia bukan berarti menyembahnya. Dan gue slalu hidup dengan cinta yang berasal dari hati bukan nafsu”.
Sakti pun terbengong mendengarkan penjelasan Nina, dan sejak saat itu mereka berdua mulai lebih dekat.
Dan pada suatu hari Sakti mengirimkan sebuah surat yang menyatakan.
“Kita manusia yang mencintai dan dicintai, saya sekarang mengerti kenapa kamu sngt marah pada saat tangan kamu tersentuh dengan tangan saya, jujur saya tidak sengaja dan saya bangga sekali terhadap kamu, karena kamu mewakili perempuan di dunia apa arti cinta yang sesungguhnya, dan kamu juga sangat menjaga kehormatan tubuh kamu agar tidak disentuh lelaki manapun, karena kebanyakan perempuan sekarang menyerahkan tubuhnya kesembarang orang, apalagi, hidup sendiri tanpa orangtua seperti kamu. You First Love For Me Nina.”
Sehabis membaca surat itu Nina langsung bertanya-tanya apa maksud dari surat itu yang akhirnya bertuliskan you first love for me.
Keesokan harinya Nina menanyakan perihal surat itu kepada sakti.
“Sakti, boleh minta waktu kamu sebentar”. panggil Nina kepada Sakti yang sedang berbicara.
“Boleh, ayo duduk disitu saja”. sambil menunjukkan bangku taman.
“Aku ingin menanyakan surat ini, apa maksudnya?”. dengan menunjukkan surat yang Sakti beri.
“Hmmm, maksudnya itu. kalau boleh jujur aku suka dan sayang terhadap kamu, aku ingin menjadi orang yang di dekat kamu dan orang yang meninggalkan kamu dengan sangat kamu cintai. tetapi aku ingin mencintai kamu dan kamu cintai tapi tidak ingi meninggalkan kamu. jika kamu mau dan mengizinkan aku ingin menjadi pengisi hatimu untuk selamanya tanpa pacaran”.
“Terus kayak mana kita jalin hubungan tanpa berpacaran?” Potong Nina.
“Jika kamu gak keberatan setelah tamat sekolah bulan depan, aku akan lanjut study ke luar negeri untuk menggapai cita-citaku menjadi seorang dokter”.
Setelah beberapa tahun kemudian, Sakti kembali dengan membawa gelar dokternya, dan sesuai janji kepada Nina. dia akan menjadi pengisi hatinya untuk selamanya. dan Sakti pun datang ke rumah Nina bersama keluarganya yang berniat untuk melamar Nina. dan akhirnya pun lamaran keluarga Sakti pun diterima oleh keluarga dari Nina. dan jelang beberapa kemudian mereka menikah dengan komitmen “cinta itu diatas kesetiaan dan tidak disembah”
END
Cerpen Karangan: Novi Ardana
Facebook: Novi Ardana Azhari
Cintaku Mempunyai Cerita
4/
5
Oleh
Unknown
