Judul Cerpen Cinta The Geniuses
Masa-masa Smp adalah awal mula aku berkembang menjadi dewasa. Di smp banyak hal yang kudapatkan. Salah satunya adalah “Cinta”. Jujur aku tidak tahu apa itu cinta? dan kapan cinta itu hadir? tapi yang aku tahu cinta tidak bisa dirasakan oleh indra peraba, tetapi hanya bisa dirasakan oleh hati. Sungguh indahnya hidup ini karena pernah merasakan cinta.
Perkenalkan namaku Marwan Santosa pernah bersekolah di smpn 1 karanganyar. Di smp aku murid yang disukai banyak siswa, karena aku pintar, baik dan multitalenta. Ketika suatu hari aku berniat untuk beristirahat, ada seorang cewek yang melewatiku. Dia cantik, baik dan terlebih dia pintar kata temen-temenku. Aku duduk dan membeli bakso seperti biasa di langgananku, dan cewek yang lewat tadi ternyata ada di sampingaku. Akhirnya aku berkenalan dengannya.
“Hai” kataku
“Juga” dia menjawab
“Boleh kenalan?”
“Kenapa gak?”
“Nama kamu siapa?”
“Nama aku Endang Ayu Sulistiawati” tuturnya
“Namaku Marwan Santosa”
“Iyah tau!”
“Kamu kelas mana endang?”
“Kelas 7d”
“Oh 7d”
“Iyah”
“Ya udah duluan ya dang!”
“Iya, marwan”
Bel berbunyi tanda jam istirahat telah selesai, aku segera masuk kelas. Kring kring kring bel kembali berbunyi tanda semua pelajaran telah selesai. Aku langsung beranjak dari kursiku dan pergi meninggalkan kelas. Perlahan ku berjalan meninggalkan sekolah, saat di jalan ku melihatnya kembali, dia langsung mengajakku ngobrol.
“Hai, marwan” sapa endang
“Hai endang, apa kabar?”
“Baik, baru pulang?” Tanya endang
“Iya endang.”
“Oh..”
“Ya udah dang aku duluan ya.. ada angakot udah nungguin gak enak.”
“Iya, see you Marwan”
“See you Endang”
Keesokan harinya aku kembali datang ke sekolah, kali ini aku datang lumayan pagi karena piket. Aku menyapu lantai dan membersihan kaca. Ketika ku membersihkan kaca, ku melihat kembali endang ayu sulistiawati yang sedang duduk di depan kelasku. Aku menghampirinya
“Hai, lagi ngapain?” Tanyaku
“Lagi duduk duduk aja”
“Oh. ”
“Kok kamu datangnya pagi banget?” dia bertanya
“Ini lagi piket”
“Hmmm”
“Ya udah aku piket dulu ya!”
“Ya udah sana!”
Aku pun ke kelas dan belajar bersama guru dan teman teman. Seru sekali pelajaran kali ini, apalagi pelajaranya adalah pelajaran yang ku sukai yaitu pelajaran “IPA”. Suasana hikuk pikuk pun terjadi, karena yang mengajar adalah guru yang lucu dan menghibur. Dua jam kemudian pelajaran selesai, aku bersama teman-teman langsung pergi ke kantin untuk beristirahat. Di perjalanan menuju kantin, aku kembali bertemu dengan endang. Aku mengajaknya ke kantin bersama-sama.
“Hmm ketemu lagi” kataku
“Iya” saut endang
“Gimana tadi di kelas” tanyaku
“Ya.. gitu deh”
“Oh.. mau makan apa?”
“Gak ah lagi males makan!”
“Terus mau apa dong?” Tanyaku
“Gorengan aja”.
“Ok”
Tidak lama kemudian bel berbunyi, aku mengajaknya masuk ke kelas.
“Ke kelas yu!” Ajakku
“Yuk”
Kami pun ke kelas bersama-sama, lama kelamaan aku bersama endang mulai akrab. Kami sering bercanda dan bersenda gurau.
“Kok masih di luar? Belum masuk kelas mar?”
“Belum..”
“Kenapa?”
“Masih ingin sama kamu endang”
“Hmmm, jadi baper”
“I am just kidding”
“Ya udah aku masuk kelas dulu ya mar!”
“Ok”
Isak tawa mewarnai kehidupanku bersamanya. Hampir setiap saat aku bertemu dengannya, sepertinya aku menyimpan rasa kepadanya dan dia juga menyimpan rasa kepadaku. Aku berniat untuk menembaknya, tetapi aku tidak pernah lakukan itu. Karena sahabatku bernama “Aceng” juga menyukainya. Dia selalu bilang kalau dia suka sama endang, dia juga berniat sebentar lagi dia akan menembak endang.
“Mar..”
“Iya ceng, kenapa?”
“Menurut kamu aku pantes gak sama si endang” tanya aceng
“Pantes kok”
“Bagaimana kalo besok aku nembak si endang gimana mar?” Dia bertanya
“Ya udah tembak aja.”
“Ok”
Bel sekolah berbunyi, istirahat telah selesai, aku dan sahabatku aceng ke kelas dan belajar. Kemudian bel kembali berbunyi pelajaran telah diakhiri, di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan ucapan aceng. Dari belakang ada orang yang menutup mataku
“Siapa sih ini?” Tanyaku
“Siapa ya…”
“Ih perih tau..” Kataku
“Iya maaf-maaf” ternyata endang
“Iya gak papa.”
“Kenapa sih kamu jalanya kayak gitu? lagi mikirin apa? Mikirin aku ya…?” Tanya endang
“Hmmmm. endang kalo ada yang suka sama kamu bagaimana?” Tanyaku
“Ya, gak gimana-gimana. kenapa sih kamu tanya gitu?” Dia kembali bertanya
“Sebenarnya si aceng suka sama kamu dan dia mau nembak kamu besok.” Ucapku
“Ah masa? jangan bercanda ah!”
“Iya, endang aku serius.”
“Gimana dong?” Tanya endang
“Ya udah kamu jalani aja. aku gak papa kok, lagian dia sahabat aku.”
“Gimana ya.. segimana nanti ajalah.” Tutur endang.
“Ya udah aku duluan ya dang.”
“Iya marwan, see you”
“See you endang”
Keesokan harinya aku diajak si aceng ke sebuah tempat
“Mar antar aku yuk!” Ajaknya
“Mau kemana?” Tanyaku
“Ke belakang kelas.”
“Ih mau ngapain coba?” Aku bertanya lagi
“Aku mau nembak si endang, kamu tunggu di sini ok mar.”
“Ok deh”
Si aceng mencari dan mencari endang, akhirnya ketemu juga. Aceng langsung membawa endang ke belakang kelas.
“Endang.” Kata aceng
“Iya ceng!”
“Aku suka sama kamu”
Endang terdiam dan bingung
“Kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya aceng.
“Endang menganggukan kepala”
“yes..” Tangan aceng mengepal dan mengayunkan ke atas “Makasih dang”
“iya” jawab endang
Aceng langsung pergi meninggalkan endang dan menemuiku.
“Asik, aku udah jadian sama si endang” kata aceng
“Bagus dong” kataku meski hati sakit melihat aceng pacaran dengan endang, orang yang aku suka
“Kamu mau apa mar?” Tanya aceng
“Apa ya? gak taulah!”
“Udah mau apa aja tar aku beliin, anggap aka PJ (pajak jadian)”
“Ya udah makan bakso aja deh.” Kataku
“Ok”
Di sekolah aceng ditakuti oleh semua orang, orang-orang takut sama si aceng karena dia jago beladiri. Dan tidak ada seorang pun yang berani mendekati si endang kecuali temannya itu pun perempuan, jika laki laki aceng langsung mendatanginya. Suatu ketika ada seorang cowok yang mendekati si endang, dia bernama Rufai. Rufai bermaksud untuk meminjamkan pulpennya ke si endang dan mereka berdua bercanda. Aceng langsung menghampiri si Rufai dan menonjoknya.
“Maksud kamu apaan deketin si endang?” aceng marah
“Aku cuma minjemin si endang pulpen itu doang, aku gak bermaksud apa-apa.” Jelas Rufai
“Iya ceng si Fai cuma meminjamkan aku pulpen.” Kata endang
“Awas kamu fai kalo macem-macem sama pacar aku.” Geram aceng
“gak tenang aja.” Fai menjawab dengan gugup.
Tak terasa, sudah setahun berlalu mereka berpacaran, Endang mulai gak nyaman lagi sama si aceng. Dia selalu curhat kepadaku
“Marwan”
“Kenapa dang?”
“Aku udah gak nyaman lagi sama si aceng.”
“Gak nyaman kenapa?”
“Aku gak nyaman karena sikap dia yang cemburuan.”
“Bukanya itu bagus ya dang? itu berarti si aceng sayang banget sama kamu dang.”
“Iya aku tau, tapi dia keterlaluan mar.”
“Terus”
“Aku mau putus aja sama dia”
“Ya terserah kamu”
Akhirnya endang dan aceng putus, endang kembali deket sama aku, kita masih bercanda dari dulu sampai saat ini. Tiga minggu lagi smp ulangan, aku harus serius belajar dan tidak ada waktu untuk berleha-leha. Aku jarang ketemu sama endang semenjak mau ulangan, karena aku harus fokus belajar demi meraih cita-citaku. Sekian lama, ulangan pun selesai dan rapor kami dibagikan. aku bertemu lagi sama endang di jalan.
“Marwan”
“Iya Endang?”
“Apa kabar?”
“Baik, kamu gimana dang?”
“Baik juga, gimana dengan rapot kamu? masih dapat ranking mar?”
“Ya alhamdulillah aku masih Ranking pertama.”
“Wiiih.. ranking pertama mulu dari dulu.”
“Yaa.. gitu deh, kebetulan aja kali. gimana dengan rapot kamu?”
“Alhamdulillah aku juga masih ranking pertama.”
“Wish… keren kamu dang!”
“Kamu juga marwan.”
“By the way kamu udah punya pacar belum?” Tanyaku
“Belum.”
“Kenapa belum?”
“Lagi nyari orang yang pas sama aku”. Matanya meliriku
“Oh…”
“Kamu udah punya pacar belum mar?”
“Belum”
“Kok belum?” Tanya endang
“Males pacaran. “Kataku padahal aku berharap sama kamu
“Yaudahlah aku pulang dulu dang sampai ketemu lagi.”
Libur panjang telah tiba, aku bersama keluargaku rekreasi ke taman mini indonesia indah. Kujelajahi setiap tempat yang ada, ada rumah-rumah adat, ada benda-benda peninggalan jaman dulu, sampai kutemukan kereta gantung disana. Karena capek aku berhenti di sebuah trotoar dan duduk beristirahat. Disela istirahatku, entah mengapa terlintas di pikiranku endang ayu sulistiawati. Kunjungan demi kunjungan telah kulakukan, aku bersama keluarga berniat untuk pulang beristirahat dan mempersiapkan keperluan-keperluan sekolah yang beberapa hari lagi.
Masa liburan telah berakhir, Aku berangkat pagi-pagi agar aku mendapat kursi paling depan. Aku duduk dengan “Arif” siswa yang super bandel di kelas. Dia suka jailin temen-temenya, berantem sama temennya, sampe dia berani jailin guru-guru. Tapi dia berjanji jika dia duduk bersamaku, dia akan berubah.
“Arif”. Kataku
“Apa?” Kata arif
“Kamu harus janji kalo duduk sama aku kami harus baik, jangan nakal, awas kalo buat masalah.”
“Iya mar, tenang aja aku janji”
“Ok, aku pegang janjimu”.
“Ok ok”
Setelah ngobrol-ngobrol dengan Arif aku ke luar kelas, pas ku buka pintu di depan ada endang.
“Eh Marwan”
“Iya endang. apa kabar kamu?”
“Baik”.
“Endang kamu liburan kemana?”
“Di rumah aja mar. kamu kemana?”
“Ke taman mini indonesia indah.”
“Wiih, iya sih.”
“Oh iya dang, pas aku liburan gak tau kenapa aku inget kamu lho.”
“Ah masa sih?”
“Iya”
“Zzz”
Kami terus berduaan sampai kelas tiga, tapi aku gak pernah ngungakapin perasaanku kepadanya, aku takut persahabatan kami jadi hancur.
Hari demi hari berlalu, aku terus bersama endang, hingga pada akhirnya ulangan tiba, ulanganku kali ini begitu terasa indah karena di setiap saatku, selalu ditemani endang ayu sulistiawati. Senang sekali rasanya bisa terus bersamanya, semoga aku bisa terus bersamanya selamanya. Setelah ulangan selesai, smp kami biasanya mengadakan “class meeting”.
Biasanya di class meeting ini banyak perlombaan-perlomban di adakan, jadi jam KBM di bebaskan. Di class meeting ini aku tidak mengikuti perlombaan apapun, karena aku malas untuk mengikutinya. Setiap hari aku terus bersama endang, pagi bersamanyanya istirahat juga bersamanya sampai pulang aku terus bersamanya. Dia sering bilang kepada teman-temanya kalo dia suka sama aku. Aku juga sebenarnya suka banget sama dia tapi aku masih belum berani untuk menyampaikan perasaanku kepadanya. Untuk ke sekian kalinya aku terus menerus bersamanya, hingga akhirnya ujian nasional tiba. Ini saatnya aku untuk serius belajar dan mendapat nilai terbaik. Aku belajar setiap malam sendiri di kamarku.
Hari pertama ulangan, aku bangun pagi-pagi sekali. Aku langsung mandi, membereskan tempat tidurku, sarapan dan berangakat. Aku tiba di sekolah pukul 06.45, aku melihat endang sedang duduk sendiri di pinggir lapangan. Perlahan aku mendekatinya.
“Hmmm” kataku
Endang nengok ke arahku
“Lagi ngapain dang?”
“Lagi duduk-duduk aja.”
“Oh. oh iya dang aku boleh nanya gak?” Tanyaku
“Mau nanya apa?”
“Yang ini gimana sih caranya?”
“Oh itu gampang, sini aku ajarin”. kata endang
“Ini dang.” Seruku
Beberapa menit kemudian selesai
“Udah ni. ”
“Oh ya makasih dang. ”
“Iya sama-sama. ”
“Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum sih?” aku kembali bertanya
“Belum” kata endang
“Asiik…”
“Kok asik?” Tanya endang
“Ya gapapa.”
“Endang kamu cantik banget sih!”
“Yang bener?”
“Iya dang, apalagi kalo kamu bantuin aku ngerjain tugas-tugas dari bu sri!” Seruku
“Ah emang dasar kamu mar.” Tangan endang menggelitiku
“Ampun-ampun cuma bercanda kali.”
“Ya udah untuk kali ini aku ampuni.”
“Makasih.” Aku tersenyum
“Kenapa senyam-senyum?” tanya endang.
“Gak papa”
Aku menggelitiki endang dan tak sengaja aku memeluknya.
“Maaf dang aku gak sengaja.”
“Iya” endang tersenyum
Di belakang teman-teman berteriak “ehmm”. tapi aku cuekin saja. sampai teman-teman melempari aku sama endang pakai batu. Meski begitu aku tetap fokus sama endang. lama-kelamaan aku juga merasa malu karena diliatin seluruh kelas 9, aku pun pergi.
“Ya udah dang aku duluan ke kelas ya..!”
“Iya marwan”.
Aku langsung lari menemui teman-temanku, sekalian ngobrol bersama mereka.
“Udah mar tembak nunggu apalagi?” Kata Aan temen sekelasku juga tetangga endang
“Jangan ngarang deh.” Kataku
“Ngarang gimana mar. jelas-jelas dia suka sama kamu.”
“Udah-udah, aku ke kelas dulu.” Aku pergi meninggalkan teman-temanku
Jam pertama selesai waktunya istirahat, secepatnya aku meninggalkan kelas. lagi-lagi aku kembali bertemu endang. Istirahat selesai aku kembali ke kelas mengikuti mata pelajaran yang kedua. net… net.. net bel berbunyi waktunya untukku pulang, aku pulang bersama endang seperti biasa. nyaman banget rasanya bisa bersamanya. Sayangnya sebentar lagi kenaikan kelas, sampai sekarang aku belum bisa nembak dia, Sebentar lagi ujian nasional berakhir, untuk terakhir kalinya aku bersama endang ikut perlombaan. Waktu itu kami ikut lomba “HARDIKNAS” hari pendidikan nasional. Rencananya aku akan nembak dia setelah kami mengikuti lomba tersebut. Lagi-lagi aku tidak jadi menembaknya karena banyak orang dan aku merasa malu. setahun berlalu, akhirnya kami perpisahan.
“Tak terasa kita perpisahan lagi aja.” Kata endang
“Iya endang.”
“Oh iya dang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Mau ngomong apa?” Tanya endang
“Sekian lama kita jalani kehidupan bersama, aku bahagia bisa bersamamu dang. kamuuu.. mau…. gak… hmm…” Di belakang temanku langsung menepuk pundaku
“Mar apa kabar kamu?” Tanya wawan teman sd sekaligus teman se-smpku.
“Alhamdulillah baik wan.”
Akhirnya aku bersama wawan ngobrol-ngobrol dan endang pergi
“Aku ke kelas duluan ya mar!”
“Aku berpikir sejenak ya udah dang.”
Hingga pada akhirnya kami berdua berpisah dan memilih sekolah kita masing-masing, aku masuk smkn 1 rangakasbitung sedangakan endang masuk sman 3 rangakasbitung. Sekian lama kami berpisah, kami bertemu kembali setelah rapor di sekolah kami dibagikan. Aku sengaja menghubunginya dan mengajaknya bertemu.
“Hai endang”
“Juga”
“Besok kita bisa bertemu?” Tanyaku
“Kenapa tidak?” Kata endang
“Besok kita ketemu di smp ya!”
“Jam berapa mar?” Tanya endang
“kira-kira jam 2an.”
“Ya udah.”
“Jangan lupa datang ya dang!.” Seruku
“Insya ALLAH”
Keesokan harinya aku bertemu dengannya, tetapi dia lagi asik bermain voli bersama teman-temanya di smp. Aku mengajaknya ke sebuah tempat
“Endang”
“Iya”
“Ikut yuk!”
“Mau kemana sih?” Tanya endang
“Ikut aja ya!”
“Gak mau ah males, kamu gak liat aku lagi seru sama teman-teman.”
“Ya udah.”
Aku pergi meninggalkanya, aku duduk di trotoar depan kelas 9B. Aku menulis sebuah surat untuknya, yang isinya:
“Endang sebenarnya aku suka sama kamu, aku sayang sama, aku cinta sama. Aku tidak berani nembak kamu karena aku takut persahabatan kita hancur, aku takut kehilangan kamu endang, aku sayang banget sama kamu. Ini untuk terakhir kalinya, semoga kita bertemu lagi dimasa depan. I LOVE YOU ENDANG AYU SULISTIAWATi”
Setelah kutulis surat itu, aku tak lagi bertemu dengannya sampai saat ini.
Cerpen Karangan: Marwan Santosa
Facebook: Marwan Santosa
E- Mail: Marwansantosa24[-at-]yahoo.com
No Hp: 089643744486
Masa-masa Smp adalah awal mula aku berkembang menjadi dewasa. Di smp banyak hal yang kudapatkan. Salah satunya adalah “Cinta”. Jujur aku tidak tahu apa itu cinta? dan kapan cinta itu hadir? tapi yang aku tahu cinta tidak bisa dirasakan oleh indra peraba, tetapi hanya bisa dirasakan oleh hati. Sungguh indahnya hidup ini karena pernah merasakan cinta.
Perkenalkan namaku Marwan Santosa pernah bersekolah di smpn 1 karanganyar. Di smp aku murid yang disukai banyak siswa, karena aku pintar, baik dan multitalenta. Ketika suatu hari aku berniat untuk beristirahat, ada seorang cewek yang melewatiku. Dia cantik, baik dan terlebih dia pintar kata temen-temenku. Aku duduk dan membeli bakso seperti biasa di langgananku, dan cewek yang lewat tadi ternyata ada di sampingaku. Akhirnya aku berkenalan dengannya.
“Hai” kataku
“Juga” dia menjawab
“Boleh kenalan?”
“Kenapa gak?”
“Nama kamu siapa?”
“Nama aku Endang Ayu Sulistiawati” tuturnya
“Namaku Marwan Santosa”
“Iyah tau!”
“Kamu kelas mana endang?”
“Kelas 7d”
“Oh 7d”
“Iyah”
“Ya udah duluan ya dang!”
“Iya, marwan”
Bel berbunyi tanda jam istirahat telah selesai, aku segera masuk kelas. Kring kring kring bel kembali berbunyi tanda semua pelajaran telah selesai. Aku langsung beranjak dari kursiku dan pergi meninggalkan kelas. Perlahan ku berjalan meninggalkan sekolah, saat di jalan ku melihatnya kembali, dia langsung mengajakku ngobrol.
“Hai, marwan” sapa endang
“Hai endang, apa kabar?”
“Baik, baru pulang?” Tanya endang
“Iya endang.”
“Oh..”
“Ya udah dang aku duluan ya.. ada angakot udah nungguin gak enak.”
“Iya, see you Marwan”
“See you Endang”
Keesokan harinya aku kembali datang ke sekolah, kali ini aku datang lumayan pagi karena piket. Aku menyapu lantai dan membersihan kaca. Ketika ku membersihkan kaca, ku melihat kembali endang ayu sulistiawati yang sedang duduk di depan kelasku. Aku menghampirinya
“Hai, lagi ngapain?” Tanyaku
“Lagi duduk duduk aja”
“Oh. ”
“Kok kamu datangnya pagi banget?” dia bertanya
“Ini lagi piket”
“Hmmm”
“Ya udah aku piket dulu ya!”
“Ya udah sana!”
Aku pun ke kelas dan belajar bersama guru dan teman teman. Seru sekali pelajaran kali ini, apalagi pelajaranya adalah pelajaran yang ku sukai yaitu pelajaran “IPA”. Suasana hikuk pikuk pun terjadi, karena yang mengajar adalah guru yang lucu dan menghibur. Dua jam kemudian pelajaran selesai, aku bersama teman-teman langsung pergi ke kantin untuk beristirahat. Di perjalanan menuju kantin, aku kembali bertemu dengan endang. Aku mengajaknya ke kantin bersama-sama.
“Hmm ketemu lagi” kataku
“Iya” saut endang
“Gimana tadi di kelas” tanyaku
“Ya.. gitu deh”
“Oh.. mau makan apa?”
“Gak ah lagi males makan!”
“Terus mau apa dong?” Tanyaku
“Gorengan aja”.
“Ok”
Tidak lama kemudian bel berbunyi, aku mengajaknya masuk ke kelas.
“Ke kelas yu!” Ajakku
“Yuk”
Kami pun ke kelas bersama-sama, lama kelamaan aku bersama endang mulai akrab. Kami sering bercanda dan bersenda gurau.
“Kok masih di luar? Belum masuk kelas mar?”
“Belum..”
“Kenapa?”
“Masih ingin sama kamu endang”
“Hmmm, jadi baper”
“I am just kidding”
“Ya udah aku masuk kelas dulu ya mar!”
“Ok”
Isak tawa mewarnai kehidupanku bersamanya. Hampir setiap saat aku bertemu dengannya, sepertinya aku menyimpan rasa kepadanya dan dia juga menyimpan rasa kepadaku. Aku berniat untuk menembaknya, tetapi aku tidak pernah lakukan itu. Karena sahabatku bernama “Aceng” juga menyukainya. Dia selalu bilang kalau dia suka sama endang, dia juga berniat sebentar lagi dia akan menembak endang.
“Mar..”
“Iya ceng, kenapa?”
“Menurut kamu aku pantes gak sama si endang” tanya aceng
“Pantes kok”
“Bagaimana kalo besok aku nembak si endang gimana mar?” Dia bertanya
“Ya udah tembak aja.”
“Ok”
Bel sekolah berbunyi, istirahat telah selesai, aku dan sahabatku aceng ke kelas dan belajar. Kemudian bel kembali berbunyi pelajaran telah diakhiri, di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan ucapan aceng. Dari belakang ada orang yang menutup mataku
“Siapa sih ini?” Tanyaku
“Siapa ya…”
“Ih perih tau..” Kataku
“Iya maaf-maaf” ternyata endang
“Iya gak papa.”
“Kenapa sih kamu jalanya kayak gitu? lagi mikirin apa? Mikirin aku ya…?” Tanya endang
“Hmmmm. endang kalo ada yang suka sama kamu bagaimana?” Tanyaku
“Ya, gak gimana-gimana. kenapa sih kamu tanya gitu?” Dia kembali bertanya
“Sebenarnya si aceng suka sama kamu dan dia mau nembak kamu besok.” Ucapku
“Ah masa? jangan bercanda ah!”
“Iya, endang aku serius.”
“Gimana dong?” Tanya endang
“Ya udah kamu jalani aja. aku gak papa kok, lagian dia sahabat aku.”
“Gimana ya.. segimana nanti ajalah.” Tutur endang.
“Ya udah aku duluan ya dang.”
“Iya marwan, see you”
“See you endang”
Keesokan harinya aku diajak si aceng ke sebuah tempat
“Mar antar aku yuk!” Ajaknya
“Mau kemana?” Tanyaku
“Ke belakang kelas.”
“Ih mau ngapain coba?” Aku bertanya lagi
“Aku mau nembak si endang, kamu tunggu di sini ok mar.”
“Ok deh”
Si aceng mencari dan mencari endang, akhirnya ketemu juga. Aceng langsung membawa endang ke belakang kelas.
“Endang.” Kata aceng
“Iya ceng!”
“Aku suka sama kamu”
Endang terdiam dan bingung
“Kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya aceng.
“Endang menganggukan kepala”
“yes..” Tangan aceng mengepal dan mengayunkan ke atas “Makasih dang”
“iya” jawab endang
Aceng langsung pergi meninggalkan endang dan menemuiku.
“Asik, aku udah jadian sama si endang” kata aceng
“Bagus dong” kataku meski hati sakit melihat aceng pacaran dengan endang, orang yang aku suka
“Kamu mau apa mar?” Tanya aceng
“Apa ya? gak taulah!”
“Udah mau apa aja tar aku beliin, anggap aka PJ (pajak jadian)”
“Ya udah makan bakso aja deh.” Kataku
“Ok”
Di sekolah aceng ditakuti oleh semua orang, orang-orang takut sama si aceng karena dia jago beladiri. Dan tidak ada seorang pun yang berani mendekati si endang kecuali temannya itu pun perempuan, jika laki laki aceng langsung mendatanginya. Suatu ketika ada seorang cowok yang mendekati si endang, dia bernama Rufai. Rufai bermaksud untuk meminjamkan pulpennya ke si endang dan mereka berdua bercanda. Aceng langsung menghampiri si Rufai dan menonjoknya.
“Maksud kamu apaan deketin si endang?” aceng marah
“Aku cuma minjemin si endang pulpen itu doang, aku gak bermaksud apa-apa.” Jelas Rufai
“Iya ceng si Fai cuma meminjamkan aku pulpen.” Kata endang
“Awas kamu fai kalo macem-macem sama pacar aku.” Geram aceng
“gak tenang aja.” Fai menjawab dengan gugup.
Tak terasa, sudah setahun berlalu mereka berpacaran, Endang mulai gak nyaman lagi sama si aceng. Dia selalu curhat kepadaku
“Marwan”
“Kenapa dang?”
“Aku udah gak nyaman lagi sama si aceng.”
“Gak nyaman kenapa?”
“Aku gak nyaman karena sikap dia yang cemburuan.”
“Bukanya itu bagus ya dang? itu berarti si aceng sayang banget sama kamu dang.”
“Iya aku tau, tapi dia keterlaluan mar.”
“Terus”
“Aku mau putus aja sama dia”
“Ya terserah kamu”
Akhirnya endang dan aceng putus, endang kembali deket sama aku, kita masih bercanda dari dulu sampai saat ini. Tiga minggu lagi smp ulangan, aku harus serius belajar dan tidak ada waktu untuk berleha-leha. Aku jarang ketemu sama endang semenjak mau ulangan, karena aku harus fokus belajar demi meraih cita-citaku. Sekian lama, ulangan pun selesai dan rapor kami dibagikan. aku bertemu lagi sama endang di jalan.
“Marwan”
“Iya Endang?”
“Apa kabar?”
“Baik, kamu gimana dang?”
“Baik juga, gimana dengan rapot kamu? masih dapat ranking mar?”
“Ya alhamdulillah aku masih Ranking pertama.”
“Wiiih.. ranking pertama mulu dari dulu.”
“Yaa.. gitu deh, kebetulan aja kali. gimana dengan rapot kamu?”
“Alhamdulillah aku juga masih ranking pertama.”
“Wish… keren kamu dang!”
“Kamu juga marwan.”
“By the way kamu udah punya pacar belum?” Tanyaku
“Belum.”
“Kenapa belum?”
“Lagi nyari orang yang pas sama aku”. Matanya meliriku
“Oh…”
“Kamu udah punya pacar belum mar?”
“Belum”
“Kok belum?” Tanya endang
“Males pacaran. “Kataku padahal aku berharap sama kamu
“Yaudahlah aku pulang dulu dang sampai ketemu lagi.”
Libur panjang telah tiba, aku bersama keluargaku rekreasi ke taman mini indonesia indah. Kujelajahi setiap tempat yang ada, ada rumah-rumah adat, ada benda-benda peninggalan jaman dulu, sampai kutemukan kereta gantung disana. Karena capek aku berhenti di sebuah trotoar dan duduk beristirahat. Disela istirahatku, entah mengapa terlintas di pikiranku endang ayu sulistiawati. Kunjungan demi kunjungan telah kulakukan, aku bersama keluarga berniat untuk pulang beristirahat dan mempersiapkan keperluan-keperluan sekolah yang beberapa hari lagi.
Masa liburan telah berakhir, Aku berangkat pagi-pagi agar aku mendapat kursi paling depan. Aku duduk dengan “Arif” siswa yang super bandel di kelas. Dia suka jailin temen-temenya, berantem sama temennya, sampe dia berani jailin guru-guru. Tapi dia berjanji jika dia duduk bersamaku, dia akan berubah.
“Arif”. Kataku
“Apa?” Kata arif
“Kamu harus janji kalo duduk sama aku kami harus baik, jangan nakal, awas kalo buat masalah.”
“Iya mar, tenang aja aku janji”
“Ok, aku pegang janjimu”.
“Ok ok”
Setelah ngobrol-ngobrol dengan Arif aku ke luar kelas, pas ku buka pintu di depan ada endang.
“Eh Marwan”
“Iya endang. apa kabar kamu?”
“Baik”.
“Endang kamu liburan kemana?”
“Di rumah aja mar. kamu kemana?”
“Ke taman mini indonesia indah.”
“Wiih, iya sih.”
“Oh iya dang, pas aku liburan gak tau kenapa aku inget kamu lho.”
“Ah masa sih?”
“Iya”
“Zzz”
Kami terus berduaan sampai kelas tiga, tapi aku gak pernah ngungakapin perasaanku kepadanya, aku takut persahabatan kami jadi hancur.
Hari demi hari berlalu, aku terus bersama endang, hingga pada akhirnya ulangan tiba, ulanganku kali ini begitu terasa indah karena di setiap saatku, selalu ditemani endang ayu sulistiawati. Senang sekali rasanya bisa terus bersamanya, semoga aku bisa terus bersamanya selamanya. Setelah ulangan selesai, smp kami biasanya mengadakan “class meeting”.
Biasanya di class meeting ini banyak perlombaan-perlomban di adakan, jadi jam KBM di bebaskan. Di class meeting ini aku tidak mengikuti perlombaan apapun, karena aku malas untuk mengikutinya. Setiap hari aku terus bersama endang, pagi bersamanyanya istirahat juga bersamanya sampai pulang aku terus bersamanya. Dia sering bilang kepada teman-temanya kalo dia suka sama aku. Aku juga sebenarnya suka banget sama dia tapi aku masih belum berani untuk menyampaikan perasaanku kepadanya. Untuk ke sekian kalinya aku terus menerus bersamanya, hingga akhirnya ujian nasional tiba. Ini saatnya aku untuk serius belajar dan mendapat nilai terbaik. Aku belajar setiap malam sendiri di kamarku.
Hari pertama ulangan, aku bangun pagi-pagi sekali. Aku langsung mandi, membereskan tempat tidurku, sarapan dan berangakat. Aku tiba di sekolah pukul 06.45, aku melihat endang sedang duduk sendiri di pinggir lapangan. Perlahan aku mendekatinya.
“Hmmm” kataku
Endang nengok ke arahku
“Lagi ngapain dang?”
“Lagi duduk-duduk aja.”
“Oh. oh iya dang aku boleh nanya gak?” Tanyaku
“Mau nanya apa?”
“Yang ini gimana sih caranya?”
“Oh itu gampang, sini aku ajarin”. kata endang
“Ini dang.” Seruku
Beberapa menit kemudian selesai
“Udah ni. ”
“Oh ya makasih dang. ”
“Iya sama-sama. ”
“Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum sih?” aku kembali bertanya
“Belum” kata endang
“Asiik…”
“Kok asik?” Tanya endang
“Ya gapapa.”
“Endang kamu cantik banget sih!”
“Yang bener?”
“Iya dang, apalagi kalo kamu bantuin aku ngerjain tugas-tugas dari bu sri!” Seruku
“Ah emang dasar kamu mar.” Tangan endang menggelitiku
“Ampun-ampun cuma bercanda kali.”
“Ya udah untuk kali ini aku ampuni.”
“Makasih.” Aku tersenyum
“Kenapa senyam-senyum?” tanya endang.
“Gak papa”
Aku menggelitiki endang dan tak sengaja aku memeluknya.
“Maaf dang aku gak sengaja.”
“Iya” endang tersenyum
Di belakang teman-teman berteriak “ehmm”. tapi aku cuekin saja. sampai teman-teman melempari aku sama endang pakai batu. Meski begitu aku tetap fokus sama endang. lama-kelamaan aku juga merasa malu karena diliatin seluruh kelas 9, aku pun pergi.
“Ya udah dang aku duluan ke kelas ya..!”
“Iya marwan”.
Aku langsung lari menemui teman-temanku, sekalian ngobrol bersama mereka.
“Udah mar tembak nunggu apalagi?” Kata Aan temen sekelasku juga tetangga endang
“Jangan ngarang deh.” Kataku
“Ngarang gimana mar. jelas-jelas dia suka sama kamu.”
“Udah-udah, aku ke kelas dulu.” Aku pergi meninggalkan teman-temanku
Jam pertama selesai waktunya istirahat, secepatnya aku meninggalkan kelas. lagi-lagi aku kembali bertemu endang. Istirahat selesai aku kembali ke kelas mengikuti mata pelajaran yang kedua. net… net.. net bel berbunyi waktunya untukku pulang, aku pulang bersama endang seperti biasa. nyaman banget rasanya bisa bersamanya. Sayangnya sebentar lagi kenaikan kelas, sampai sekarang aku belum bisa nembak dia, Sebentar lagi ujian nasional berakhir, untuk terakhir kalinya aku bersama endang ikut perlombaan. Waktu itu kami ikut lomba “HARDIKNAS” hari pendidikan nasional. Rencananya aku akan nembak dia setelah kami mengikuti lomba tersebut. Lagi-lagi aku tidak jadi menembaknya karena banyak orang dan aku merasa malu. setahun berlalu, akhirnya kami perpisahan.
“Tak terasa kita perpisahan lagi aja.” Kata endang
“Iya endang.”
“Oh iya dang, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Mau ngomong apa?” Tanya endang
“Sekian lama kita jalani kehidupan bersama, aku bahagia bisa bersamamu dang. kamuuu.. mau…. gak… hmm…” Di belakang temanku langsung menepuk pundaku
“Mar apa kabar kamu?” Tanya wawan teman sd sekaligus teman se-smpku.
“Alhamdulillah baik wan.”
Akhirnya aku bersama wawan ngobrol-ngobrol dan endang pergi
“Aku ke kelas duluan ya mar!”
“Aku berpikir sejenak ya udah dang.”
Hingga pada akhirnya kami berdua berpisah dan memilih sekolah kita masing-masing, aku masuk smkn 1 rangakasbitung sedangakan endang masuk sman 3 rangakasbitung. Sekian lama kami berpisah, kami bertemu kembali setelah rapor di sekolah kami dibagikan. Aku sengaja menghubunginya dan mengajaknya bertemu.
“Hai endang”
“Juga”
“Besok kita bisa bertemu?” Tanyaku
“Kenapa tidak?” Kata endang
“Besok kita ketemu di smp ya!”
“Jam berapa mar?” Tanya endang
“kira-kira jam 2an.”
“Ya udah.”
“Jangan lupa datang ya dang!.” Seruku
“Insya ALLAH”
Keesokan harinya aku bertemu dengannya, tetapi dia lagi asik bermain voli bersama teman-temanya di smp. Aku mengajaknya ke sebuah tempat
“Endang”
“Iya”
“Ikut yuk!”
“Mau kemana sih?” Tanya endang
“Ikut aja ya!”
“Gak mau ah males, kamu gak liat aku lagi seru sama teman-teman.”
“Ya udah.”
Aku pergi meninggalkanya, aku duduk di trotoar depan kelas 9B. Aku menulis sebuah surat untuknya, yang isinya:
“Endang sebenarnya aku suka sama kamu, aku sayang sama, aku cinta sama. Aku tidak berani nembak kamu karena aku takut persahabatan kita hancur, aku takut kehilangan kamu endang, aku sayang banget sama kamu. Ini untuk terakhir kalinya, semoga kita bertemu lagi dimasa depan. I LOVE YOU ENDANG AYU SULISTIAWATi”
Setelah kutulis surat itu, aku tak lagi bertemu dengannya sampai saat ini.
Cerpen Karangan: Marwan Santosa
Facebook: Marwan Santosa
E- Mail: Marwansantosa24[-at-]yahoo.com
No Hp: 089643744486
Cinta The Geniuses
4/
5
Oleh
Unknown
