Judul Cerpen Kau Lupa?
“Tunggu!” Aku menahan tangannya.
Ia berbalik. Tanpa jawab. Dengan jelas raut wajahnya dapat kubaca, apa lagi?
“Tak bisakah kau sedikit memutar waktu kebelakang?”
“Tidak, aku terlalu sibuk untuk mengerjakan hal itu.”
“Sudah hilangkah dari ingatanmu kejadian satu-dua tahun lalu?”
“Tentu, sebulan kejadian itu berakhir, aku sudah melupakannya.” Dia menjawab pertanyaanku begitu cepat. Bak kilat menerangi langit, hanya butuh waktu singkat.
Pernyataan bodoh macam apa itu, sayang?
“Ah, aku masih ingat secara mendetail kejadian itu. Aku yakin kau tak terjangkit amnesia, alzheimer, atau penyakit yang membunuh memorimu.”
Diam seketika.
“Kau masih tak ingat?”
Hanya anggukan.
Kejam sekali kau telah melupakan hal itu.
“Perlukah aku memberimu beberapa klu untuk mengingat hal manis itu?”
Tak ada respon. Hanya dua bola mata yang balik menatapku dengan malas.
Aku tak suka ekspresi itu, sayang.
“Baiklah, akan kuberi beberapa klu agar kau ingat hal manis itu.”
“Aku tak yakin jika hal itu manis.” Sangkalnya.
Aku melempar pandang padanya.
Kau tak yakin jika hal itu manis? Bukankah kita berbagi bahagia dulu? Kau bercinta rela berkorban dulu, sayang. Selupa itukah kau?
“Beri aku waktu untuk memaparkan. Kau harus dengar.”
Ia melengah.
Aku tahu kau tak suka membahas hal ini. Mengertilah untuk saat ini. Aku membutuhkanmu, sayang.
“Gerbang depan sekolah, depan lobi, lomba debat dan tanggal delapan belas. Kau lupa?”
“Iya.” Dengan cepat ia membalas kataku.
“Semua chattingan kita, masalah mantanmu, dan semua curhatanku.”
“Apa itu?” Mukanya mulai masam.
Pertanyaan bodoh apa itu, sayang?
“Bagaimana dengan ice cream, hari perayaan itu, kado, dan tentang gelang yang kau pinjamkan?”
“Yang mana?”
“Piket palang merah remaja, ruang UKS, rapat osis, dan acara paduan suara.” Aku tak menghiraukan tanyanya. Kulanjutkan klu-ku, berharap ia mengangguk ingat saat kutanya nanti.
Ia diam, sedang mataku mulai menggenang air.
“Masih tak ingat?” Aku meyakinkan
“Tentu.” Masam mukanya bertambah tambah.
Kau pasti muak dengan semua ini, sayang. Baiklah.
“Kau sudah lupa ternyata. Tak apa, itu wajar saja. Aku yang terlalu bodoh karena secara berulang memanggil kejadian itu. Aku yang terlalu bodoh karena secara terus-menerus memutar kembali kejadian itu.” Aku menahan buliran bening di pelupuk mata. Ia menarik tanganku agar mendekatnya. Jarak kami sekitar lima puluh senti meter sekarang. Cengkramannya kuat. Aku tahu ia sedang menahan kesalnya nan dibakar amarah itu. Tapi tetap, ia tak harus melupakan hal berarti itu.
Kau kejam jika tak ingat satupun tentang itu.
“Tak bisakah kau mengingatnya walau sedikit?”
“Tidak untuk sedikitpun.” Cengkramannya lepas, nemimbulkan jejak merah di pergelangan tanganku. Begitu kuat.
“Hari Sabtu, tanggal 18 Oktober itu, kau tak ingat?”
Air mata ini, ah aku tak tahan!
Gelengan lagi.
Buat dia ingat, Tuhan. Aku tak mau kehilangannya lagi.
“Tak bisa kau ingat hal itu? Ingatlah.”
Ya, ingatlah sayang. Buat diriku kembali berarti untuk saat ini saja.
“Maaf, aku sudah melupakannya.”
Kau kejam, sayang!
“Semuanya? Kau yakin?” Air bening itu telah jatuh setetes.
“Aku yakin, aku sudah melupakannya.”
Jawaban jenis apa lagi itu, sayang?
“Terima kasih, karena kau begitu cepat melupakannya. Aku hanya sedikit bernostalgia. Aku hanya sedikit mengulang goresan manis yang telah hilang itu tadi.” Aku terhenti. Suaraku mulai berubah.
Tuhan, aku mencintainya. Aku tak bisa lupa akan dirinya. Buatlah dia mengerti aku kali ini.
Ia tak berkata. Ia Hanya menatapku diam.
Tak bisakah kami berulang? Tuhan, buat dia merasa teramat bersalah telah melupakan hal itu. Aku mohon.
Ia masih tanpa kata. Lagi-lagi ia hanya menatapku diam.
“Terima kasih telah melupakannya.” Aku menyeka air mata, berusaha tegar. Isakanku berpengaruh pada kelancaran bicaraku.
Ia melakukan hal yang sama, hanya menatapku dalam diam.
Lakukanlah sesuatu untukku! Kali ini saja, sayang.
Sial! Dia hanya diam.
Sesakit inikah rasanya? Setelah kau memutuskan hubungan kita, lantas melupakannya dengan cepat.
“Terima kasih!” Aku tak tahan, tangisku pecah. Terisak, hingga suaraku parau dibuatnya.
“Sekarang, aku sudah melupakannya. Ya, aku sudah sedikit melupakannya.” Aku yakin kalian tahu kalau kalimat tadi hanya penegar. Aku menyeka air bening yang silih berganti turun. Sedikitpun aku tak pernah lupa kenangan akan dirinya.
Ia masih menatapku diam.
Apa yang harus kulakukan? Setahun berpisah telah mengubah kau dalam banyak hal.
“Berbuatlah sedikit untukku!” Aku masih menangis. Aku meninju-ninju dadanya, lantas mengguncang-guncang badannya, agar ia tak hanya diam seperti ini.
Ia masih diam. Aku berhenti. Harapan untuk mengubah kata ‘kau dan aku’ menjadi ‘kita’ terasa mustahil.
“Bagaimana dengan kau, aku, dia, dan kita? Kau lupa semuanya?” Aku bersumpah, ini pertanyaan terakhir. Aku akan pergi jika kau tak ingat.
Dia tak berbuat sedikitpun.
Baiklah, aku akan ikhlas.
“Terima kasih telah melupakannya, karena sesegera mungkin aku juga akan melupakan hal itu. Melupakan seperti yang kau lakukan.”
Aku pergi. Aku masih membawa butiran bening itu. Butiran bening nan tak henti nenyusuri pipi.
“Tunggu!” Suaranya membelah jagad raya, memuntahkan lava, menghempaskan tsunami. Pelan, lembut, namun menggema di telingaku. Suaranya, darah dalam tubuh bagiku.
Aku berbalik. Mataku basah parah.
Ia mendekat. Semakin dekat. Kami terlalu dekat.
“Kau tak perlu melupakannya! Kau tak perlu berbuat seperti tadi.” Gengamannya terasa mulai menguatkanku. Mulai membangun fondasi hatiku lagi. Aku percaya apa itu keajaiban sekarang!
Rintik hujan mulai terjun. Aku dalam dekapannya dalam detik ini. Malam yang dingin sekaligus hangat. Wajahku masih mampu mengubah warna jaket yang dikenakannya. Wajahku terjejaki ratusan tetesan air mata sedari tadi.
Nyaman.
Ini nyata?
“Aku tak lupa. Aku tak perah lupa. Aku tak pernah melupakan sedikitpun tentang kita. Aku menyukai cerita kita itu. Aku menyukai alur ceritanya. Aku menyukai goresan manis itu.” Ia mengusap buliran demi buliran nan jatuh saat mendengar perkataannya.
“Aku bersumpah untuk tak akan lupa. Maaf, aku telah mengundang tangismu.”
Aku mengurai air mata dalam peluknya. Hujan mulai memambah frekwensinya. Dingin, namun dekapannya menghangatkan.
Ia kembali bertutur, “Hari ini hujan. Kau ingat kejadian itu?”
“Yang mana?” Aku membuang cairan kental dari hidungku. Tentunya, aku menggunakan tisu untuk hal ini. Dan tisu itu pemberian darinya!
“Saat hujan, aku kembali ingat tentang engkau. Tentang engkau, taman, hujan, dan sebotol air mineral yang kau berikan padaku. Kau lupa?” Tanyanya.
“Maaf, aku lupa.”
“Tidak, aku tidak akan kembali hanya untuk mengingat hal itu. Sekali kau merajuk, bahkan merayu, tegak prinsipku tak akan goyang. Esok-lusa aku tak akan berbuat hal bodoh seperti ini lagi.”
“Baru saja aku dalam dekapmu. Kau mau pergi sekarang? Jangan, kau tak harus pergi selekas ini.” Protesku yang tak ingin kehilangannya.
Kami saling tatap.
Jangan beralih dariku!
“Tapi, hati tak bisa kulawan. Tetap dan hanya kaulah yang terpatri dalam doaku.”
Mataku tak tahan mendengarnya. Untaian-untaian haru memaksaku untuk mengeluarkan derai air mata.
“Kau tak boleh menangis. Setetes air matamu bagai tetesan sum-sum tulang belakang bagiku.” Ia mengusap air mataku. Persis yang ia lakukan seperti satu-dua tahun lalu saat aku menangis.
Terima kasih.
“Sum-sum tulang belakang?” Aku menaikan alis sebelah. “Maksudmu?”
“Kau tahu, sum-sum tulang belakang hanya terbentuk satu tetes dalam setahun di tubuh manusia. Sum-sum itu sangat berharga. Jika tak ada sum-sum itu, kau tak akan bisa berjalan, tegak berdiri saja kakimu tak kan kuat menopang. Semakin banyak kau menangis, semakin banyak sum-sum tulang belakangku yang hilang. Aku akan sangat menderita akan atas perlakuanmu itu. Setiap kau menanggung derita, setiap itu pula aku menanggungnya.”
Buliran itu kembali banjir di mukaku. Rasa haru nan tak terbendung.
“Ini tangis untukmu. Sekalipun kau membuatku menderita, aku tak akan membencimu.” Suaraku memberat.
Ini yang namanya tangis bahagia. Ini yang namanya tangis terharu.
Ia kembali menarikku dalam peluknya.
“Kau harus jadi milikku lagi, sayang!”
“Lupakah kau, sayang? Sekali lagi kutanya, kau lupa?”
“Tidak, selamanya tak akan lupa.”
Di tengah jutaan rintik yang tak diundang ini terjun, aku dan kau kembai berubah menjadi ‘kita’.
Cerpen Karangan: Muthyarana Darosha
Facebook: Muthy Darosha
“Tunggu!” Aku menahan tangannya.
Ia berbalik. Tanpa jawab. Dengan jelas raut wajahnya dapat kubaca, apa lagi?
“Tak bisakah kau sedikit memutar waktu kebelakang?”
“Tidak, aku terlalu sibuk untuk mengerjakan hal itu.”
“Sudah hilangkah dari ingatanmu kejadian satu-dua tahun lalu?”
“Tentu, sebulan kejadian itu berakhir, aku sudah melupakannya.” Dia menjawab pertanyaanku begitu cepat. Bak kilat menerangi langit, hanya butuh waktu singkat.
Pernyataan bodoh macam apa itu, sayang?
“Ah, aku masih ingat secara mendetail kejadian itu. Aku yakin kau tak terjangkit amnesia, alzheimer, atau penyakit yang membunuh memorimu.”
Diam seketika.
“Kau masih tak ingat?”
Hanya anggukan.
Kejam sekali kau telah melupakan hal itu.
“Perlukah aku memberimu beberapa klu untuk mengingat hal manis itu?”
Tak ada respon. Hanya dua bola mata yang balik menatapku dengan malas.
Aku tak suka ekspresi itu, sayang.
“Baiklah, akan kuberi beberapa klu agar kau ingat hal manis itu.”
“Aku tak yakin jika hal itu manis.” Sangkalnya.
Aku melempar pandang padanya.
Kau tak yakin jika hal itu manis? Bukankah kita berbagi bahagia dulu? Kau bercinta rela berkorban dulu, sayang. Selupa itukah kau?
“Beri aku waktu untuk memaparkan. Kau harus dengar.”
Ia melengah.
Aku tahu kau tak suka membahas hal ini. Mengertilah untuk saat ini. Aku membutuhkanmu, sayang.
“Gerbang depan sekolah, depan lobi, lomba debat dan tanggal delapan belas. Kau lupa?”
“Iya.” Dengan cepat ia membalas kataku.
“Semua chattingan kita, masalah mantanmu, dan semua curhatanku.”
“Apa itu?” Mukanya mulai masam.
Pertanyaan bodoh apa itu, sayang?
“Bagaimana dengan ice cream, hari perayaan itu, kado, dan tentang gelang yang kau pinjamkan?”
“Yang mana?”
“Piket palang merah remaja, ruang UKS, rapat osis, dan acara paduan suara.” Aku tak menghiraukan tanyanya. Kulanjutkan klu-ku, berharap ia mengangguk ingat saat kutanya nanti.
Ia diam, sedang mataku mulai menggenang air.
“Masih tak ingat?” Aku meyakinkan
“Tentu.” Masam mukanya bertambah tambah.
Kau pasti muak dengan semua ini, sayang. Baiklah.
“Kau sudah lupa ternyata. Tak apa, itu wajar saja. Aku yang terlalu bodoh karena secara berulang memanggil kejadian itu. Aku yang terlalu bodoh karena secara terus-menerus memutar kembali kejadian itu.” Aku menahan buliran bening di pelupuk mata. Ia menarik tanganku agar mendekatnya. Jarak kami sekitar lima puluh senti meter sekarang. Cengkramannya kuat. Aku tahu ia sedang menahan kesalnya nan dibakar amarah itu. Tapi tetap, ia tak harus melupakan hal berarti itu.
Kau kejam jika tak ingat satupun tentang itu.
“Tak bisakah kau mengingatnya walau sedikit?”
“Tidak untuk sedikitpun.” Cengkramannya lepas, nemimbulkan jejak merah di pergelangan tanganku. Begitu kuat.
“Hari Sabtu, tanggal 18 Oktober itu, kau tak ingat?”
Air mata ini, ah aku tak tahan!
Gelengan lagi.
Buat dia ingat, Tuhan. Aku tak mau kehilangannya lagi.
“Tak bisa kau ingat hal itu? Ingatlah.”
Ya, ingatlah sayang. Buat diriku kembali berarti untuk saat ini saja.
“Maaf, aku sudah melupakannya.”
Kau kejam, sayang!
“Semuanya? Kau yakin?” Air bening itu telah jatuh setetes.
“Aku yakin, aku sudah melupakannya.”
Jawaban jenis apa lagi itu, sayang?
“Terima kasih, karena kau begitu cepat melupakannya. Aku hanya sedikit bernostalgia. Aku hanya sedikit mengulang goresan manis yang telah hilang itu tadi.” Aku terhenti. Suaraku mulai berubah.
Tuhan, aku mencintainya. Aku tak bisa lupa akan dirinya. Buatlah dia mengerti aku kali ini.
Ia tak berkata. Ia Hanya menatapku diam.
Tak bisakah kami berulang? Tuhan, buat dia merasa teramat bersalah telah melupakan hal itu. Aku mohon.
Ia masih tanpa kata. Lagi-lagi ia hanya menatapku diam.
“Terima kasih telah melupakannya.” Aku menyeka air mata, berusaha tegar. Isakanku berpengaruh pada kelancaran bicaraku.
Ia melakukan hal yang sama, hanya menatapku dalam diam.
Lakukanlah sesuatu untukku! Kali ini saja, sayang.
Sial! Dia hanya diam.
Sesakit inikah rasanya? Setelah kau memutuskan hubungan kita, lantas melupakannya dengan cepat.
“Terima kasih!” Aku tak tahan, tangisku pecah. Terisak, hingga suaraku parau dibuatnya.
“Sekarang, aku sudah melupakannya. Ya, aku sudah sedikit melupakannya.” Aku yakin kalian tahu kalau kalimat tadi hanya penegar. Aku menyeka air bening yang silih berganti turun. Sedikitpun aku tak pernah lupa kenangan akan dirinya.
Ia masih menatapku diam.
Apa yang harus kulakukan? Setahun berpisah telah mengubah kau dalam banyak hal.
“Berbuatlah sedikit untukku!” Aku masih menangis. Aku meninju-ninju dadanya, lantas mengguncang-guncang badannya, agar ia tak hanya diam seperti ini.
Ia masih diam. Aku berhenti. Harapan untuk mengubah kata ‘kau dan aku’ menjadi ‘kita’ terasa mustahil.
“Bagaimana dengan kau, aku, dia, dan kita? Kau lupa semuanya?” Aku bersumpah, ini pertanyaan terakhir. Aku akan pergi jika kau tak ingat.
Dia tak berbuat sedikitpun.
Baiklah, aku akan ikhlas.
“Terima kasih telah melupakannya, karena sesegera mungkin aku juga akan melupakan hal itu. Melupakan seperti yang kau lakukan.”
Aku pergi. Aku masih membawa butiran bening itu. Butiran bening nan tak henti nenyusuri pipi.
“Tunggu!” Suaranya membelah jagad raya, memuntahkan lava, menghempaskan tsunami. Pelan, lembut, namun menggema di telingaku. Suaranya, darah dalam tubuh bagiku.
Aku berbalik. Mataku basah parah.
Ia mendekat. Semakin dekat. Kami terlalu dekat.
“Kau tak perlu melupakannya! Kau tak perlu berbuat seperti tadi.” Gengamannya terasa mulai menguatkanku. Mulai membangun fondasi hatiku lagi. Aku percaya apa itu keajaiban sekarang!
Rintik hujan mulai terjun. Aku dalam dekapannya dalam detik ini. Malam yang dingin sekaligus hangat. Wajahku masih mampu mengubah warna jaket yang dikenakannya. Wajahku terjejaki ratusan tetesan air mata sedari tadi.
Nyaman.
Ini nyata?
“Aku tak lupa. Aku tak perah lupa. Aku tak pernah melupakan sedikitpun tentang kita. Aku menyukai cerita kita itu. Aku menyukai alur ceritanya. Aku menyukai goresan manis itu.” Ia mengusap buliran demi buliran nan jatuh saat mendengar perkataannya.
“Aku bersumpah untuk tak akan lupa. Maaf, aku telah mengundang tangismu.”
Aku mengurai air mata dalam peluknya. Hujan mulai memambah frekwensinya. Dingin, namun dekapannya menghangatkan.
Ia kembali bertutur, “Hari ini hujan. Kau ingat kejadian itu?”
“Yang mana?” Aku membuang cairan kental dari hidungku. Tentunya, aku menggunakan tisu untuk hal ini. Dan tisu itu pemberian darinya!
“Saat hujan, aku kembali ingat tentang engkau. Tentang engkau, taman, hujan, dan sebotol air mineral yang kau berikan padaku. Kau lupa?” Tanyanya.
“Maaf, aku lupa.”
“Tidak, aku tidak akan kembali hanya untuk mengingat hal itu. Sekali kau merajuk, bahkan merayu, tegak prinsipku tak akan goyang. Esok-lusa aku tak akan berbuat hal bodoh seperti ini lagi.”
“Baru saja aku dalam dekapmu. Kau mau pergi sekarang? Jangan, kau tak harus pergi selekas ini.” Protesku yang tak ingin kehilangannya.
Kami saling tatap.
Jangan beralih dariku!
“Tapi, hati tak bisa kulawan. Tetap dan hanya kaulah yang terpatri dalam doaku.”
Mataku tak tahan mendengarnya. Untaian-untaian haru memaksaku untuk mengeluarkan derai air mata.
“Kau tak boleh menangis. Setetes air matamu bagai tetesan sum-sum tulang belakang bagiku.” Ia mengusap air mataku. Persis yang ia lakukan seperti satu-dua tahun lalu saat aku menangis.
Terima kasih.
“Sum-sum tulang belakang?” Aku menaikan alis sebelah. “Maksudmu?”
“Kau tahu, sum-sum tulang belakang hanya terbentuk satu tetes dalam setahun di tubuh manusia. Sum-sum itu sangat berharga. Jika tak ada sum-sum itu, kau tak akan bisa berjalan, tegak berdiri saja kakimu tak kan kuat menopang. Semakin banyak kau menangis, semakin banyak sum-sum tulang belakangku yang hilang. Aku akan sangat menderita akan atas perlakuanmu itu. Setiap kau menanggung derita, setiap itu pula aku menanggungnya.”
Buliran itu kembali banjir di mukaku. Rasa haru nan tak terbendung.
“Ini tangis untukmu. Sekalipun kau membuatku menderita, aku tak akan membencimu.” Suaraku memberat.
Ini yang namanya tangis bahagia. Ini yang namanya tangis terharu.
Ia kembali menarikku dalam peluknya.
“Kau harus jadi milikku lagi, sayang!”
“Lupakah kau, sayang? Sekali lagi kutanya, kau lupa?”
“Tidak, selamanya tak akan lupa.”
Di tengah jutaan rintik yang tak diundang ini terjun, aku dan kau kembai berubah menjadi ‘kita’.
Cerpen Karangan: Muthyarana Darosha
Facebook: Muthy Darosha
Kau Lupa?
4/
5
Oleh
Unknown
