Judul Cerpen Pelangi Sehari
Kegelapan menyelimuti angkasa pada langit hari itu. Tak luput awan hitam turut hadir melengkapi kemuramannya, sedikit mendung pula rupanya. Namun, tak satupun rintik air mata langit menetes tanda hujan. Hanya mendung. Sampai akhirnya fajar pun tiba dengan semburat oranye kekuningan memecah ujung cakrawala pengelihatan. Cerah pun muncul pada langit sang ibukota negeri raksasa nan kuat, Jakarta. Lampu-lampu di pinggiran jalan dan di taman-taman kota mulai meredup malu hingga mati, karena merasa tergantikan oleh lampu alam. Bagai semangat baru yang memecah pagi dengan riangnya.
Bagi sebagian manusia di kota besar seperti itu, waktu pagi bagaikan membuka lembar baru, antusias baru. Mungkin cocok bila memulai aktivitas dengan membaca berita-berita baik di selembar koran yang diambil dari sangkutan pagar rumah, meresapi secangkir kopi hitam buatan orang tersayang dan menghisap rok*k kretek lokal. Serta sembari mendengarkan lagu Banda Neira –Berjalan Lebih Jauh dengan earphone di dalam bus kota yang penuh coretan nakal berandal sekolah, mungkin. Terang, sumringah, semangat. Namun, euforia itu tidak begitu terasa bagi sebagian orang, contohnya Sabiq.
Hari-hari remajanya terlewat begitu saja tanpa kesan. Hanya berlalu lalang dalam rentang umurnya yang terbilang muda, hasil kuadrat dari empat. Bagai déjà vu yang membosankan. Dipaksa tidur lebih awal agar bangun lebih dini. Terkadang mandi, terkadang hanya cuci muka, gosok gigi dan memakai deodoran. Pamit cium Ibundanya dan langsung berangkat, atau cekcok dahulu dengan Ayahnya karena perbincangan masalah akademis. Memanaskan mesin mobil hitam semi-jeepnya yang masih menggunakan perseneling manual. Lewati jalan tol, yang sekedar namanya saja bebas hambatan namun aslinya penuh hambatan, yang sama setiap hari. Dengan diiringi musik classic rock tahun 70an yang terdengar jarang untuk telinga remaja zaman itu, dan perjalanan pun berakhir di parkiran menumpang sebuah kampus negeri sebelah SMA tempat ia menempuh pendidikan.
“Mending jalan dikit daripada gua susah desek-desekan di parkiran sekolah”
Kelas pun masih sepi. Terlalu dini, mungkin. Petugas kebersihan masih menyapu lantai, membersihkan sampah-sampah laci yang ditinggalkan murid-murid jorok nan malas, tanpa ia mengeluh tentang hidupnya. Sabiq pun lalu mengaitkan tas selempang ala paperboy di kursi kayu meja pojok paling belakang yang masih kosong. Chairmatenya belum datang, Ilham Si Lemas. Tiba-tiba rasa kantuk sisa semalam muncul kembali di kelopak mata. Kacamata lensa minus Rodenstock dengan model aviator lama miliknya dipinggirkan ke tepian meja dan gundukan jaket denim hitam yang tak pernah ia cuci itu pun menjadi bantalan yang dipaksakan empuk untuk menemani si pria lawas tertidur singkat di meja kayu.
Belum sempat bermimpi, Sabiq terbangun oleh dentuman tas Ilham yang dijatuhkan tepat di atas meja.
“Woi bangun, as* tenan. Bentar lagi apel lari pagi. Gua mau ganti baju olahraga di WC, mau ikut gak? Keburu Pak Dudun dateng. Lu inget ini hari Jumat kan? Udah mandi junub belom lu?”
“Duluan aja, masih mager”
Sabiq termenung sebentar dengan mata yang masih sipit kantuk dan wajah yang bergaris-garis karena tercetak lipatan jaket saat tertidur barusan.
“Sialan, gua pikir gak jadi lari gegara tadi Subuh mendung mau ujan”
Di benaknya tak sengaja tertekan tombol play pada short movie tentang ingatan betapa letih dan tidak menyenangkannya beramai-ramai lari pagi keliling wilayah Rawamangun bersama angkatan yang tidak kompak, kakak kelas yang gila hormat, dan adik kelas yang culun dan botak-botak bekas perploncoan. Benar saja, anak itu akhirnya memantapkan hati untuk mangkir dari kegiatan itu. Namun sekarang bukan waktu yang tepat. Karena para siswi kelas itu akan berganti baju bersama di dalam kelas, yang artinya Sabiq wajib berpura-pura kembali tertidur di meja agar bisa menyaksikan tontonan vulgar kegemaran anak laki-laki yang masih dalam tahap pubertas secara gratis. Namun para wanita tidaklah bodoh, Sabiq dihardik habis-habisan dan tetap terusir dari kelas.
Ia pun duduk berpangku tangan di atas tembok koridor depan kelasnya, yang berlokasi di lantai 3 gedung kelas 11. Disana, manusia lain berlalu lalang tanpa menyapanya, atau bahkan sekedar melihatnya. Serasa pas sekali dengan Baim ft. Gugun And The Blues Shelter –Me, Myself, And I bila dimainkan. Sedikit yang mengenal dirinya. Hanya mengetahui nama, tapi terlalu gengsi untuk berteman dengannya. Mereka lebih memilih berbincang dengan anak-anak yang ‘gaul’, goodlooking, atau yang memiliki dompet tebal dan ATM gendut pemberian orangtua, untuk sekedar menaikkan status pribadi, untuk menambah follower di media sosial, mungkin. Yang jelas, bukan pertemanan yang sejati. Sedangkan si pria lawas tidak masuk level manapun dari ketiga kriteria tersebut. Jadi bagi mereka, Sabiq hanyalah sampah. Tak sedikit yang memiliki persepsi bahwa Sabiq terlalu badung untuk dijadikan teman. Tak sedikit pula yang mencibir dan menghujat keganjilannya. Atau bahkan membencinya tanpa sebab yang jelas.
Tapi tak apa, Sabiq memilih untuk diam, karena ia tahu, dalam urusan berkelahi para pencemooh itu tidaklah sebanding dengan kemampuannya, hanya bermulut besar, malah kasihan nantinya. Dan juga Sabiq terlalu gengsi untuk memulai percakapan dengan mereka, karena ia juga memandang anak-anak manusia macam itu adalah t*hi, lebih rendah kastanya dari sampah, yang artinya, cara Sabiq memandang mereka: lebih rendah dari cara mereka memandang Sabiq. Bahkan, andai sepasukan pimpinan dewa Romawi kuno dengan senjata petir mistiknya memerintahkan Sabiq untuk bergaul dengan anak-anak manusia itu, dijamin, responnya hanyalah menggelengkan kepala dengan angkuh. Hingar-bingar dunia gemerlap penuh hedonisme yang sering digeluti anak-anak manusia untuk sosialisasi itu terlalu hina untuk sekedar melintas di benak Sabiq. Ia lebih suka membaca buku sastra karya Chairil Anwar, Eka Kurniawan, Cak Nun, dan pujangga lainnya, atau minum alkohol murah di bar live music bersama komunitas, atau melukis di kamar kecil apartemennya di bilangan Tanjung Barat, atau bermain band dengan aliran uniknya, atau bahkan hanya sekedar mendiskusikan apakah g*nja sepatutnya legal atau tidak, dibanding ikut anak-anak manusia itu.
Kebodoamatannya akan dunia sekitar itu buyar saat para siswi selesai ganti pakaian dan kocar-kacir keluar dari kelas untuk siap berolahraga. Bukan buyar karena semua wanita memakai pakaian olahraga ketat yang menonjolkan bagian-bagian indah dari tubuh mereka, namun lebih karena satu wanita. Hanya satu. Wajah tersenyum manis, kulit eksotis, rambut indah sebahu lebih, bibir merah menawan dan badan yang aduhai. Sophie, namanya. Sekilas momen pengelihatan itu seperti diberi efek bunga-bunga berjatuhan pada frame di filmnya, dan aneh adalah ketika aroma parfum vanilla Sophie tercium sungguh tajam pada hidungnya yang ‘mampet’ akibat flu. Terbesit pula lagu Joe Cocker –You Are So Beautiful pada part manapun karena liriknya memang itu-itu saja, diulang-ulang. Lamunannya pada wanita itu seketika berubah jadi panik karena yang lain sudah meninggalkan gedung kelas mengenakan baju olahraga menuju gimnasium, dan ia masih berbusana seragam muslim lengkap dengan celana abu-abu, sungguh mencolok. Sedangkan suara hentakan langkah guru olahraga kejam yang ingin memeriksa kelas sudah merasuki telinganya.
Sabiq tak bosan-bosannya kembali ke tempat pelariannya selama ini, atap di samping gedung kelas 12. Agak riskan memang, namun disana sepi, hening, damai. Hanya beratapkan langit dan beralaskan ubin semen dan puing-puing bangunan. Sebatang rok*k pun ia nyalakan dengan pemantik zippo miliknya. Mata yang diselimuti kacamata ‘jadul’ lensa lebar frame tipis, ala vokalis band hardrock era lawas The Budgie, yang merefleksikan awan dan langit cerah itu, sedang menerawang. Baginya, kejadian tadi seperti efek ekstasi dalam satu kedipan mata. Sungguh indah namun mengherankan. Tak terhitung berapa jumlah kepulan asap yang ia keluarkan dari mulut dan hidungnya. Yang jelas, asap yang sekalinya benda mati pun tahu, bahwa ia sedang jatuh cinta.
“Cara yang nomer 7 gimana dah? gak ngerti gua”
“Iye njir nyontek dong, gua kasih BJ dah”
Sabiq tegak dari tundukan kepalanya dan lantas melihat dua pria yang bertanya, yang duduk di meja persis depannya itu, sambil menggigit-gigit pulpen hasil pinjaman dari Ilham hingga ujungnya bengkok. Otaknya sedang menganalisa siapa yang bisa ia mintai informasi tentang pujaan hatinya. Fajar Si Kekar, pria gundul tinggi besar dengan badan berotot itu pasti bisa memberi banyak nasehat karena pengalamannya dengan berbagai wanita. Namun Sabiq bukanlah tipe manusia yang suka digurui, ia ngeyel dan mempunyai kepala sekeras batu. Arogansinya terhadap teori semesta dan filsafat amatir menyebabkan ia tak memilih Fajar. Tetapi Kris si Gemuk. Pria pendek dengan mata sipit perawakan oriental dan tubuh gempal itu terkenal sebagai tempat curhat banyak wanita di kelas. Sepertinya banyak yang tertipu hingga percaya pada wajah childish dengan pipi yang menggemaskan, tanpa ingat bahwa ia pemilik mulut terember sejagad.
“Gua aja dari tadi nyorat-nyoret gambar di buku doang, lu ngerti Ham?”
“Kagak, gak begitu merhatiin gua, lemes banget abis lari tadi”
Merasa tak mendapat solusi, si pria lawas kembali bosan dan memainkan lubang sobekan di celana seragamnya yang sengaja tak ia tambal, dan tentunya kembali menggigit-gigit pulpen yang bukan miliknya itu. Ilham si pemilik pulpen bukannya tak tahu, tapi pasrah.
Ilmu yang diterangkan guru silih berganti tak ada yang masuk ke benak Sabiq. Pasti karena ia sedang salah fokus. Bukan. Tapi memang setiap hari seperti itu. Pikirannya selalu carut-marut. Ditambah sekarang ada seseorang dari kaum Hawa yang meracuni pikiran dengan indahnya. Karena lokasi duduk yang agak dekat, sayup-sayup ia dapat menguping pembicaraan Sophie dengan chairmatenya, Janet Si Centil. Bukan mendengar hal yang baik, malah perbincangan tentang seorang lelaki yang sepertinya sudah lebih dulu mendekati Sophie. Sabiq agaknya sedikit geram mengetahui hal ini, namun siapa gerangan yang bisa disalahkan. Jika melihat isi handphonenya, progres Sabiq masih 0% karena chatnya dengan Sophie masih sekedar minta foto contekan PR. Mungkin perasaan yang begitu telat inilah yang lebih disesalinya. Namun tak apa, pikirnya, mungkin hanya anak kampung dari SMA lain yang kedepannya akan sulit bertemu dan bisa ia tikung dengan mudah.
Di sela penjelasan mengenai kromosom manusia, muncul tangan yang membawa majalah mingguan karya jurnalis sekolah dari balik pintu kelas seperti biasa. Semuanya mendapat satu dari hasil oper sana-sini, tak terkecuali Sabiq. Bersiulanlah ia sambil melihat-lihat kolom seni dan musik. Meski setelah membaca ia selalu bergumam bahwa musik zaman sekarang tak mempunyai nilai seni sama sekali, hanya mementingkan profit. Ditutuplah majalah tersebut dan tak sengaja matanya tertuju pada sebuah iklan di sampul depan. Sophie Paris. Tak ada yang aneh baginya. Benar. Hanya iklan belaka.
Konyolnya, sedetik setelah Sabiq berpikir demikian, terjadi percakapan berbau flirting antara sang pujaan dan manusia berjakun yang duduk persis depan meja Fajar dan Kris, yakni Faridz Si Genit. Bagai tersambar geledek, si pria lawas pun geram mengingat nama dagang di iklan majalah barusan. Sophie Faridz. Kenapa bisa sangat pas. Ingin sekali ia tusuk mata genit Faridz yang sedang berpandang ria pada Sophie dengan pulpen pinjaman yang ia pegang, lalu mengg*rok lehernya tanpa belas kasih atau mengk*liti kulit dagunya yang heroic ala Buzz Lightyear, masih dengan pulpen pinjaman itu. Atau melakukan hal-hal sadis lain seperti yang ia saksikan di Texas Chainsaw: Massacre. Tak ingin mendengar lebih lanjut dan kehabisan fantasi, Sabiq lantas menyumpal telinganya dengan earphone dan mendengarkan Cannibal Corpse – F*cking With A Knife hingga akhir kelas.
“Bangs*t”
Hanya itu yang bisa Sabiq katakan dalam hati.
Fadil Si Psycho tertawa tak karuan ketika Fajar memasukan nasi dan beberapa bulir sayur serta lauk tak jelas yang ada di piring, alias sisa makanannya, ke dalam celah pantat Kris yang celananya terbuka sedikit di kantin, begitupun Ilham. Raizi Si Pembalap cekikikan sambil menyeruput minuman botolan dan Ali Si Jerawat hanya terlihat diam, begitupun Sabiq. Hanya saja Sabiq tak bersuara seribu bahasa karena masih terpukul peristiwa di kelas biologi, sedangkan Ali karena sibuk menyaksikan anime dari situs tak berbayar di handphonenya.
“Yang gua tau sih kalau kata Janet, si Faridz emang lagi deketin, tapi gak jelas Sophienya ngerespon atau enggak. Yang jelas sih Sophie emang lagi gak ada pacar kalo sekarang”
Demikianlah informasi singkat yang didapat Sabiq dari Kris dikala yang lain pergi shalat sehabis makan, sedangkan dua manusia ini keluar sekolah bersama Fajar untuk merok*k dengan alibi fotokopi di kampus samping. Ia tahu kedua sobatnya bisa diandalkan dan menjaga rahasia. Dan berbekal wawasan dari teman negeri tirai bambunya itu, Sabiq tahu, ia masih bisa maju ke depan.
Ternyata, rasa percaya dirinya berjungkir balik 180 derajat saat ia dan Fajar masuk kelas lebih dulu, meninggalkan Kris yang sedang buang air besar di toilet akibat makan siang dengan porsi berlebih. Pemandangan yang tak terelakkan pun tak sengaja terekam indera pengelihatan Sabiq: Sophie dan Faridz sedang duduk berdua berbincang mesra dengan kuku tangan Sophie sedang dipotong halus oleh Faridz yang tentu sengaja memanfaatkan momen ini untuk memegang tangannya. Sedangkan persis di belakang dua sejoli itu, tampak tersenyum sorak gembira tanda dukungan bak cheerleader yang sedang menjadi supporter lomba dari Janet dan dua teman anehnya, Rizky Si Gemulai dan Andi Si Bengong. Si pria lawas bagai terkena tendangan telak pada testisnya. Sungguh, ‘ngilu’nya sampai perut. Fajar menghela nafas menepuk bahu temannya yang pendek dan kurus dengan nasib menyedihkan itu dengan penuh arti sambil berlalu dan duduk berbincang dengan temannya yang lain, layaknya tak mengetahui satu perkara pun.
Tercekat dan tak tahu harus apa, Sabiq lenyap tandang ke luar kelas. Tanpa suara. Tanpa bayangan. Kris yang sedang membetulkan baju yang keluar tak rapi, sempat berpapasan. Tentu wajahnya mengeluarkan ekspresi penuh tanya. Namun Sabiq bungkam. Hanya mata memerah tajam menatap. Kacamata kebesarannya merosot kendor karena wajah berkeringat dingin. Alis tebalnya menukik curam, tanda kesal. Diusaplah wajahnya dengan air cucuran wastafel kamar mandi agar sedikit lega. Tak ada di dunia akhirat yang bisa mengganggu kemuramdurjaannya. Kecuali aroma tak sedap dari WC bekas pakai Kris. Segeranya ditutup penutup kloset dan ia duduk di atasnya. rok*k ia bakar di bilik toilet dengan desain ventilasi menghadap luar gedung. Asap mengebul di antara kumis dan janggutnya yang masih mengkilap karena basuhan air tadi. Terdengar lantunan Evanescence -Hello yang ‘melow’ di kepalanya. Pening dia.
Sumpah serapah dalam hatinya terhenti saat getaran handphone terasa di kantung celana.
“Jangan-jangan dari Sophie”
Sabiq mulai ‘ngawur’. Tak ada yang tak mungkin, mungkin. Kotak optimis di sudut kepalanya masih bekerja.
Benar saja, hanya chat dari Ilham yang menunjukkan kepanikan atas bangku kosong di samping tempat duduknya yang mulai ditanyai guru. Sabiq bergegas mematikan rok*k, berkumur, dan mencuci tangan agar hilang lah si aroma tembakau. Terkena masalah akibat ‘cabut’ kelas bukanlah opsi yang baik dikala masalah hidup yang lain sedang menghampiri. Untungnya ia memiliki senjata pamungkas paling mutahir untuk urusan ditegur guru karena menghilang dari kelas: ke UKS karena sakit ‘mencret’.
Lolos atas tuduhan, si pria lawas kembali ke mejanya atas perintah sang pahlawan tanpa tanda jasa, untuk melanjutkan belajar. Ia lantas merenung. Tarikan nafasnya dalam. Kelopak matanya terpejam. Indera lainnya berjalan saling menguatkan. Seolah sebuah wangsit mengilhami dirinya, suatu pencerahan pun turun. Sabiq tiba-tiba masuk ke dalam perjalanan menjelajahi ruang-waktu. Digambarkanlah jutaan penduduk negara miskin di benua Afrika sedang mencari air, kelaparan dan kehausan. Serta anak jalanan di ibukota yang masih terbengkalai, dekil, bodoh, kumuh, menyusuri lika-liku rel kereta untuk mencari rejeki dari pungutan limbah orang kaya. Dan lagi saudara seagamanya di Timur Tengah berkutat, setiap hari, setiap malam, antara hidup dan mati di negeri sendiri, tak ada penolong, tak ada pahlawan, malah dihujani tuduhan-tuduhan tanpa bukti dari dunia barat yang mengisyaratkan kepada si pemasok senjata terbesar, sang negara adidaya, untuk membunuh mereka seolah semua penjahat, seolah agama yang salah. Atau bahkan orangutan, yang bukan manusia, pun banyak yang mati hangus terbakar karena pembalakan liar di hutan-hutan negeri yang katanya raksasa nan kuat ini, ‘katanya’.
“Jadi berhentilah Sabiq, stop. Berhentilah mengkasihani diri sendiri. Masalahmu amatlah ringan dibanding mereka di luar sana. Berhentilah menjadi orang bodoh karena emosi belaka. Jangan norak. Hidup ini bukanlah seperti sinetron murahan khas televisi lokal yang memuat adegan cerita yang seolah tak ada hal yang lebih penting saja selain cinta. Atau cerita-cerita di novel-novel roman yang plotnya klise. Isinya tentang cinta semua. Begitu pula musik. Lagu di negeri ini isinya tentang cinta semua. Coba saja kau download Efek Rumah Kaca –Cinta Melulu. Pahami liriknya. Semua sudah tak seperti lagu-lagu Iwan Fals era lama. Tentang para penguasa bajingan dan politik tahi babi. Semuanya t*hi, lebih hina dari sampah. Kau ingin ikutan jadi tahi, Sabiq? Tentu tidak. Berubahlah sebelum dunia yang penuh komersil dan tipu daya media serta politik ini merubahmu. Bahkan, Ozzy Osbourne pun akan percaya kau pasti bisa”
Lagu Sigmun –Long Haul yang aneh bagai berputar-putar di benaknya. Tak ada yang tahu persis siapa yang berbicara itu. Apakah itu Tuhan atau Morgan Freeman, tak ada yang tahu persis. Namun yang pasti, lamunan aneh Sabiq terhenti karena sebuah tepukan halus pada rambut pompadour semi pendeknya itu.
“Hmmm Biq, bisa ajarin gue ini gak?”
Sabiq siuman. Sebuah lembar kertas cokelat khas buku LKS bertuliskan ‘Matematika’ disodorkan oleh yang tak lain adalah seseorang yang indah. Pandangannya tertuju pada buku tersebut. Lalu naik ke tangan halus dengan kuku yang dicat merah jambu. Lalu naik ke baju seragam putih yang kekecilan khas siswi SMA dengan logo OSIS di kantung yang menyembul akibat tonjolan organ untuk menyusui. Lalu naik lagi ke sebuah wajah yang bersinar. Bukan malaikat. Bukan buraq kendaraan sang Nabi. Bukan pula lailatul qadr. Tapi seorang wanita yang akhirnya membuat hari ini menjadi lebih berkesan dibanding hari-hari lain dalam hidup si pria lawas. Janet tersenyum tanda pengetahuan ‘gosip’ barunya dari kejauhan, dan Kris tentu ada di sampingnya.
“Anj*ng, dasar ember”
Tapi kata-kata yang tertuju pada Kris itu hanya terucap dalam hati. Seolah jutaan kosakata kotor yang biasa terlontar dari bibir Sabiq hilang begitu saja dihadapan Sophie.
Matematika adalah satu-satunya pelajaran yang dikuasainya, kebetulan. Dimulailah kegiatan guru-menggurui dalam bidang angka tersebut. Terkadang penuh canda tawa, terkadang penuh cerita. Tak sedikit pula yang diluar konteks: tambah kurang kali bagi kuadrat epsilon integral pangkat akar, sehingga Sabiq benar-benar menikmati setiap huruf dalam percakapan yang ia impikan ini. Queen –Crazy Little Thing Called Love mengiringi percakapan mereka. Bukan ‘mereka’ mungkin, lebih tepatnya Sabiq pribadi. Sampai akhirnya bel sekolah pun berbunyi, dan ia senantiasa mengantar Sophie hingga gerbang sekolah yang diakhiri dengan dijemputnya sang ratu dengan kereta kuda kencana putihnya, alias ibunya dengan mobil putih jenis MPV.
Sabiq dengan cepat mencoba melihat plat nomornya, namun terhalang bajaj-bajaj yang ‘ngetem’. Dan selagi mobilnya pergi berlalu, yang ia lihat malah Kris yang mengacungkan jempol sembari masih tersungging senyuman seolah minta diberi jabatan terimakasih. Dari kejauhan, Sabiq membalas ibu jari Kris dengan jari tengah karena kesal telah membocorkan rahasianya, dan pergi menuju mobilnya yang berdebu, menyelempangi tasnya, sambil sedikit tersenyum dan berterimakasih dalam hati pada bocah gendut itu.
“Begitu cewek tu tau kalo kita suka sama dia, kadang dia emang suka ngasih harapan ny*t, tapi cuman buat becandaan doang! Kan kont*l”
“Iya sih Biq kadang emang begitu. Ntar kasusnya sama aja kayak gebetan lu sebelom ini, yang anak mana tuh, yang SMA di Pasar Minggu yang arah pertigaan? Lupa gua”
Seruputan pahitnya kopi hitam ditemani hisapan asap pada cangklong kayu yang dibakar rok*k kretek manis di ujungnya menghiasi percakapan hampir semua orang di warung kopi kumuh daerah Cijantung itu. Sabiq menyisir poninya belah pinggir, menambahkan sedikit pomade yang mulai luntur karena hari, sambil mendengarkan celotehan teman-teman ‘tongkrongan’nya yang kebetulan hanya segelintir yang hadir pada malam itu. Bot Si Pendek memainkan Led Zeppelin –Since I’ve Been Loving You di pengeras suara handphonenya, Pare Si Keji menyantap mie instan ketiganya, Agit Si Kekinian mencari parfum di tas olahraganya yang berisi pakaian dan sepatu basket bekas latihan, dan Fauji Si Bloon yang merespon kisah Sabiq hari ini dengan membuatnya jadi bahan lelucon yang sedikit membuat kesal karena tak lucu, namun Pare segera memukul kepalanya untuk mengingatkan.
Agaknya, si pria lawas sedikit termakan ucapan teman-temannya. Dia pun menghela nafas, dan membuka jaket hitamnya tanda udara sekeliling mulai panas. Mengingat tiap detail kejadian di akhir jam sekolah hari ini, namun juga sedikit menghapus harapan agar tidak berfantasi terlalu jauh untuk dapat bersama Sophie. Kejadian sekali tak akan berarti apapun bagi wanita cantik seperti dia, pikirnya.
Sabiq pun kembali masuk ke percakapan dan mulai tertawa lepas kembali dengan teman-teman akrabnya. Tak peduli jam tangan kulit besar berwarna cokelat di tangan kirinya menunjukan pukul berapa. Sampai akhirnya handphone di celananya kembali bergetar seperti tadi siang. Ada chat masuk. Sophie. Tak mungkin, pikirnya. Benar saja, notifikasi di layar menunjukan chat yang masuk hanyalah dari official account yang sedang mempromosikan sebuah produk online, atau semacamnya. Sabiq tersenyum menandakan adanya perasaan antara kecewa dan memaklumi kenyataan, dan ia pun menghela nafas lagi. Tangan kurus itu hampir mengembalikan benda elektronik tersebut ke kantung celana, sebelum mata tajamnya melihat tanda panah yang berarti ada chat lain di layar sentuh tersebut. Jari kurusnya segera menekan tanda panah tersebut. Benar. Ada chat dari seorang manusia yang merubah senyuman putus asa Sabiq menjadi mulut yang terbuka lebar khas orang terkejut, perasaan hati yang tak bisa diungkapkan namun meledak-ledak, dan yang jelas, chat dari seorang manusia yang akan merubah hari-hari kelamnya menjadi lebih cerah, layaknya malam yang gelap mendung berganti menjadi riangnya pagi.
Cerpen Karangan: Syabikancut
Kegelapan menyelimuti angkasa pada langit hari itu. Tak luput awan hitam turut hadir melengkapi kemuramannya, sedikit mendung pula rupanya. Namun, tak satupun rintik air mata langit menetes tanda hujan. Hanya mendung. Sampai akhirnya fajar pun tiba dengan semburat oranye kekuningan memecah ujung cakrawala pengelihatan. Cerah pun muncul pada langit sang ibukota negeri raksasa nan kuat, Jakarta. Lampu-lampu di pinggiran jalan dan di taman-taman kota mulai meredup malu hingga mati, karena merasa tergantikan oleh lampu alam. Bagai semangat baru yang memecah pagi dengan riangnya.
Bagi sebagian manusia di kota besar seperti itu, waktu pagi bagaikan membuka lembar baru, antusias baru. Mungkin cocok bila memulai aktivitas dengan membaca berita-berita baik di selembar koran yang diambil dari sangkutan pagar rumah, meresapi secangkir kopi hitam buatan orang tersayang dan menghisap rok*k kretek lokal. Serta sembari mendengarkan lagu Banda Neira –Berjalan Lebih Jauh dengan earphone di dalam bus kota yang penuh coretan nakal berandal sekolah, mungkin. Terang, sumringah, semangat. Namun, euforia itu tidak begitu terasa bagi sebagian orang, contohnya Sabiq.
Hari-hari remajanya terlewat begitu saja tanpa kesan. Hanya berlalu lalang dalam rentang umurnya yang terbilang muda, hasil kuadrat dari empat. Bagai déjà vu yang membosankan. Dipaksa tidur lebih awal agar bangun lebih dini. Terkadang mandi, terkadang hanya cuci muka, gosok gigi dan memakai deodoran. Pamit cium Ibundanya dan langsung berangkat, atau cekcok dahulu dengan Ayahnya karena perbincangan masalah akademis. Memanaskan mesin mobil hitam semi-jeepnya yang masih menggunakan perseneling manual. Lewati jalan tol, yang sekedar namanya saja bebas hambatan namun aslinya penuh hambatan, yang sama setiap hari. Dengan diiringi musik classic rock tahun 70an yang terdengar jarang untuk telinga remaja zaman itu, dan perjalanan pun berakhir di parkiran menumpang sebuah kampus negeri sebelah SMA tempat ia menempuh pendidikan.
“Mending jalan dikit daripada gua susah desek-desekan di parkiran sekolah”
Kelas pun masih sepi. Terlalu dini, mungkin. Petugas kebersihan masih menyapu lantai, membersihkan sampah-sampah laci yang ditinggalkan murid-murid jorok nan malas, tanpa ia mengeluh tentang hidupnya. Sabiq pun lalu mengaitkan tas selempang ala paperboy di kursi kayu meja pojok paling belakang yang masih kosong. Chairmatenya belum datang, Ilham Si Lemas. Tiba-tiba rasa kantuk sisa semalam muncul kembali di kelopak mata. Kacamata lensa minus Rodenstock dengan model aviator lama miliknya dipinggirkan ke tepian meja dan gundukan jaket denim hitam yang tak pernah ia cuci itu pun menjadi bantalan yang dipaksakan empuk untuk menemani si pria lawas tertidur singkat di meja kayu.
Belum sempat bermimpi, Sabiq terbangun oleh dentuman tas Ilham yang dijatuhkan tepat di atas meja.
“Woi bangun, as* tenan. Bentar lagi apel lari pagi. Gua mau ganti baju olahraga di WC, mau ikut gak? Keburu Pak Dudun dateng. Lu inget ini hari Jumat kan? Udah mandi junub belom lu?”
“Duluan aja, masih mager”
Sabiq termenung sebentar dengan mata yang masih sipit kantuk dan wajah yang bergaris-garis karena tercetak lipatan jaket saat tertidur barusan.
“Sialan, gua pikir gak jadi lari gegara tadi Subuh mendung mau ujan”
Di benaknya tak sengaja tertekan tombol play pada short movie tentang ingatan betapa letih dan tidak menyenangkannya beramai-ramai lari pagi keliling wilayah Rawamangun bersama angkatan yang tidak kompak, kakak kelas yang gila hormat, dan adik kelas yang culun dan botak-botak bekas perploncoan. Benar saja, anak itu akhirnya memantapkan hati untuk mangkir dari kegiatan itu. Namun sekarang bukan waktu yang tepat. Karena para siswi kelas itu akan berganti baju bersama di dalam kelas, yang artinya Sabiq wajib berpura-pura kembali tertidur di meja agar bisa menyaksikan tontonan vulgar kegemaran anak laki-laki yang masih dalam tahap pubertas secara gratis. Namun para wanita tidaklah bodoh, Sabiq dihardik habis-habisan dan tetap terusir dari kelas.
Ia pun duduk berpangku tangan di atas tembok koridor depan kelasnya, yang berlokasi di lantai 3 gedung kelas 11. Disana, manusia lain berlalu lalang tanpa menyapanya, atau bahkan sekedar melihatnya. Serasa pas sekali dengan Baim ft. Gugun And The Blues Shelter –Me, Myself, And I bila dimainkan. Sedikit yang mengenal dirinya. Hanya mengetahui nama, tapi terlalu gengsi untuk berteman dengannya. Mereka lebih memilih berbincang dengan anak-anak yang ‘gaul’, goodlooking, atau yang memiliki dompet tebal dan ATM gendut pemberian orangtua, untuk sekedar menaikkan status pribadi, untuk menambah follower di media sosial, mungkin. Yang jelas, bukan pertemanan yang sejati. Sedangkan si pria lawas tidak masuk level manapun dari ketiga kriteria tersebut. Jadi bagi mereka, Sabiq hanyalah sampah. Tak sedikit yang memiliki persepsi bahwa Sabiq terlalu badung untuk dijadikan teman. Tak sedikit pula yang mencibir dan menghujat keganjilannya. Atau bahkan membencinya tanpa sebab yang jelas.
Tapi tak apa, Sabiq memilih untuk diam, karena ia tahu, dalam urusan berkelahi para pencemooh itu tidaklah sebanding dengan kemampuannya, hanya bermulut besar, malah kasihan nantinya. Dan juga Sabiq terlalu gengsi untuk memulai percakapan dengan mereka, karena ia juga memandang anak-anak manusia macam itu adalah t*hi, lebih rendah kastanya dari sampah, yang artinya, cara Sabiq memandang mereka: lebih rendah dari cara mereka memandang Sabiq. Bahkan, andai sepasukan pimpinan dewa Romawi kuno dengan senjata petir mistiknya memerintahkan Sabiq untuk bergaul dengan anak-anak manusia itu, dijamin, responnya hanyalah menggelengkan kepala dengan angkuh. Hingar-bingar dunia gemerlap penuh hedonisme yang sering digeluti anak-anak manusia untuk sosialisasi itu terlalu hina untuk sekedar melintas di benak Sabiq. Ia lebih suka membaca buku sastra karya Chairil Anwar, Eka Kurniawan, Cak Nun, dan pujangga lainnya, atau minum alkohol murah di bar live music bersama komunitas, atau melukis di kamar kecil apartemennya di bilangan Tanjung Barat, atau bermain band dengan aliran uniknya, atau bahkan hanya sekedar mendiskusikan apakah g*nja sepatutnya legal atau tidak, dibanding ikut anak-anak manusia itu.
Kebodoamatannya akan dunia sekitar itu buyar saat para siswi selesai ganti pakaian dan kocar-kacir keluar dari kelas untuk siap berolahraga. Bukan buyar karena semua wanita memakai pakaian olahraga ketat yang menonjolkan bagian-bagian indah dari tubuh mereka, namun lebih karena satu wanita. Hanya satu. Wajah tersenyum manis, kulit eksotis, rambut indah sebahu lebih, bibir merah menawan dan badan yang aduhai. Sophie, namanya. Sekilas momen pengelihatan itu seperti diberi efek bunga-bunga berjatuhan pada frame di filmnya, dan aneh adalah ketika aroma parfum vanilla Sophie tercium sungguh tajam pada hidungnya yang ‘mampet’ akibat flu. Terbesit pula lagu Joe Cocker –You Are So Beautiful pada part manapun karena liriknya memang itu-itu saja, diulang-ulang. Lamunannya pada wanita itu seketika berubah jadi panik karena yang lain sudah meninggalkan gedung kelas mengenakan baju olahraga menuju gimnasium, dan ia masih berbusana seragam muslim lengkap dengan celana abu-abu, sungguh mencolok. Sedangkan suara hentakan langkah guru olahraga kejam yang ingin memeriksa kelas sudah merasuki telinganya.
Sabiq tak bosan-bosannya kembali ke tempat pelariannya selama ini, atap di samping gedung kelas 12. Agak riskan memang, namun disana sepi, hening, damai. Hanya beratapkan langit dan beralaskan ubin semen dan puing-puing bangunan. Sebatang rok*k pun ia nyalakan dengan pemantik zippo miliknya. Mata yang diselimuti kacamata ‘jadul’ lensa lebar frame tipis, ala vokalis band hardrock era lawas The Budgie, yang merefleksikan awan dan langit cerah itu, sedang menerawang. Baginya, kejadian tadi seperti efek ekstasi dalam satu kedipan mata. Sungguh indah namun mengherankan. Tak terhitung berapa jumlah kepulan asap yang ia keluarkan dari mulut dan hidungnya. Yang jelas, asap yang sekalinya benda mati pun tahu, bahwa ia sedang jatuh cinta.
“Cara yang nomer 7 gimana dah? gak ngerti gua”
“Iye njir nyontek dong, gua kasih BJ dah”
Sabiq tegak dari tundukan kepalanya dan lantas melihat dua pria yang bertanya, yang duduk di meja persis depannya itu, sambil menggigit-gigit pulpen hasil pinjaman dari Ilham hingga ujungnya bengkok. Otaknya sedang menganalisa siapa yang bisa ia mintai informasi tentang pujaan hatinya. Fajar Si Kekar, pria gundul tinggi besar dengan badan berotot itu pasti bisa memberi banyak nasehat karena pengalamannya dengan berbagai wanita. Namun Sabiq bukanlah tipe manusia yang suka digurui, ia ngeyel dan mempunyai kepala sekeras batu. Arogansinya terhadap teori semesta dan filsafat amatir menyebabkan ia tak memilih Fajar. Tetapi Kris si Gemuk. Pria pendek dengan mata sipit perawakan oriental dan tubuh gempal itu terkenal sebagai tempat curhat banyak wanita di kelas. Sepertinya banyak yang tertipu hingga percaya pada wajah childish dengan pipi yang menggemaskan, tanpa ingat bahwa ia pemilik mulut terember sejagad.
“Gua aja dari tadi nyorat-nyoret gambar di buku doang, lu ngerti Ham?”
“Kagak, gak begitu merhatiin gua, lemes banget abis lari tadi”
Merasa tak mendapat solusi, si pria lawas kembali bosan dan memainkan lubang sobekan di celana seragamnya yang sengaja tak ia tambal, dan tentunya kembali menggigit-gigit pulpen yang bukan miliknya itu. Ilham si pemilik pulpen bukannya tak tahu, tapi pasrah.
Ilmu yang diterangkan guru silih berganti tak ada yang masuk ke benak Sabiq. Pasti karena ia sedang salah fokus. Bukan. Tapi memang setiap hari seperti itu. Pikirannya selalu carut-marut. Ditambah sekarang ada seseorang dari kaum Hawa yang meracuni pikiran dengan indahnya. Karena lokasi duduk yang agak dekat, sayup-sayup ia dapat menguping pembicaraan Sophie dengan chairmatenya, Janet Si Centil. Bukan mendengar hal yang baik, malah perbincangan tentang seorang lelaki yang sepertinya sudah lebih dulu mendekati Sophie. Sabiq agaknya sedikit geram mengetahui hal ini, namun siapa gerangan yang bisa disalahkan. Jika melihat isi handphonenya, progres Sabiq masih 0% karena chatnya dengan Sophie masih sekedar minta foto contekan PR. Mungkin perasaan yang begitu telat inilah yang lebih disesalinya. Namun tak apa, pikirnya, mungkin hanya anak kampung dari SMA lain yang kedepannya akan sulit bertemu dan bisa ia tikung dengan mudah.
Di sela penjelasan mengenai kromosom manusia, muncul tangan yang membawa majalah mingguan karya jurnalis sekolah dari balik pintu kelas seperti biasa. Semuanya mendapat satu dari hasil oper sana-sini, tak terkecuali Sabiq. Bersiulanlah ia sambil melihat-lihat kolom seni dan musik. Meski setelah membaca ia selalu bergumam bahwa musik zaman sekarang tak mempunyai nilai seni sama sekali, hanya mementingkan profit. Ditutuplah majalah tersebut dan tak sengaja matanya tertuju pada sebuah iklan di sampul depan. Sophie Paris. Tak ada yang aneh baginya. Benar. Hanya iklan belaka.
Konyolnya, sedetik setelah Sabiq berpikir demikian, terjadi percakapan berbau flirting antara sang pujaan dan manusia berjakun yang duduk persis depan meja Fajar dan Kris, yakni Faridz Si Genit. Bagai tersambar geledek, si pria lawas pun geram mengingat nama dagang di iklan majalah barusan. Sophie Faridz. Kenapa bisa sangat pas. Ingin sekali ia tusuk mata genit Faridz yang sedang berpandang ria pada Sophie dengan pulpen pinjaman yang ia pegang, lalu mengg*rok lehernya tanpa belas kasih atau mengk*liti kulit dagunya yang heroic ala Buzz Lightyear, masih dengan pulpen pinjaman itu. Atau melakukan hal-hal sadis lain seperti yang ia saksikan di Texas Chainsaw: Massacre. Tak ingin mendengar lebih lanjut dan kehabisan fantasi, Sabiq lantas menyumpal telinganya dengan earphone dan mendengarkan Cannibal Corpse – F*cking With A Knife hingga akhir kelas.
“Bangs*t”
Hanya itu yang bisa Sabiq katakan dalam hati.
Fadil Si Psycho tertawa tak karuan ketika Fajar memasukan nasi dan beberapa bulir sayur serta lauk tak jelas yang ada di piring, alias sisa makanannya, ke dalam celah pantat Kris yang celananya terbuka sedikit di kantin, begitupun Ilham. Raizi Si Pembalap cekikikan sambil menyeruput minuman botolan dan Ali Si Jerawat hanya terlihat diam, begitupun Sabiq. Hanya saja Sabiq tak bersuara seribu bahasa karena masih terpukul peristiwa di kelas biologi, sedangkan Ali karena sibuk menyaksikan anime dari situs tak berbayar di handphonenya.
“Yang gua tau sih kalau kata Janet, si Faridz emang lagi deketin, tapi gak jelas Sophienya ngerespon atau enggak. Yang jelas sih Sophie emang lagi gak ada pacar kalo sekarang”
Demikianlah informasi singkat yang didapat Sabiq dari Kris dikala yang lain pergi shalat sehabis makan, sedangkan dua manusia ini keluar sekolah bersama Fajar untuk merok*k dengan alibi fotokopi di kampus samping. Ia tahu kedua sobatnya bisa diandalkan dan menjaga rahasia. Dan berbekal wawasan dari teman negeri tirai bambunya itu, Sabiq tahu, ia masih bisa maju ke depan.
Ternyata, rasa percaya dirinya berjungkir balik 180 derajat saat ia dan Fajar masuk kelas lebih dulu, meninggalkan Kris yang sedang buang air besar di toilet akibat makan siang dengan porsi berlebih. Pemandangan yang tak terelakkan pun tak sengaja terekam indera pengelihatan Sabiq: Sophie dan Faridz sedang duduk berdua berbincang mesra dengan kuku tangan Sophie sedang dipotong halus oleh Faridz yang tentu sengaja memanfaatkan momen ini untuk memegang tangannya. Sedangkan persis di belakang dua sejoli itu, tampak tersenyum sorak gembira tanda dukungan bak cheerleader yang sedang menjadi supporter lomba dari Janet dan dua teman anehnya, Rizky Si Gemulai dan Andi Si Bengong. Si pria lawas bagai terkena tendangan telak pada testisnya. Sungguh, ‘ngilu’nya sampai perut. Fajar menghela nafas menepuk bahu temannya yang pendek dan kurus dengan nasib menyedihkan itu dengan penuh arti sambil berlalu dan duduk berbincang dengan temannya yang lain, layaknya tak mengetahui satu perkara pun.
Tercekat dan tak tahu harus apa, Sabiq lenyap tandang ke luar kelas. Tanpa suara. Tanpa bayangan. Kris yang sedang membetulkan baju yang keluar tak rapi, sempat berpapasan. Tentu wajahnya mengeluarkan ekspresi penuh tanya. Namun Sabiq bungkam. Hanya mata memerah tajam menatap. Kacamata kebesarannya merosot kendor karena wajah berkeringat dingin. Alis tebalnya menukik curam, tanda kesal. Diusaplah wajahnya dengan air cucuran wastafel kamar mandi agar sedikit lega. Tak ada di dunia akhirat yang bisa mengganggu kemuramdurjaannya. Kecuali aroma tak sedap dari WC bekas pakai Kris. Segeranya ditutup penutup kloset dan ia duduk di atasnya. rok*k ia bakar di bilik toilet dengan desain ventilasi menghadap luar gedung. Asap mengebul di antara kumis dan janggutnya yang masih mengkilap karena basuhan air tadi. Terdengar lantunan Evanescence -Hello yang ‘melow’ di kepalanya. Pening dia.
Sumpah serapah dalam hatinya terhenti saat getaran handphone terasa di kantung celana.
“Jangan-jangan dari Sophie”
Sabiq mulai ‘ngawur’. Tak ada yang tak mungkin, mungkin. Kotak optimis di sudut kepalanya masih bekerja.
Benar saja, hanya chat dari Ilham yang menunjukkan kepanikan atas bangku kosong di samping tempat duduknya yang mulai ditanyai guru. Sabiq bergegas mematikan rok*k, berkumur, dan mencuci tangan agar hilang lah si aroma tembakau. Terkena masalah akibat ‘cabut’ kelas bukanlah opsi yang baik dikala masalah hidup yang lain sedang menghampiri. Untungnya ia memiliki senjata pamungkas paling mutahir untuk urusan ditegur guru karena menghilang dari kelas: ke UKS karena sakit ‘mencret’.
Lolos atas tuduhan, si pria lawas kembali ke mejanya atas perintah sang pahlawan tanpa tanda jasa, untuk melanjutkan belajar. Ia lantas merenung. Tarikan nafasnya dalam. Kelopak matanya terpejam. Indera lainnya berjalan saling menguatkan. Seolah sebuah wangsit mengilhami dirinya, suatu pencerahan pun turun. Sabiq tiba-tiba masuk ke dalam perjalanan menjelajahi ruang-waktu. Digambarkanlah jutaan penduduk negara miskin di benua Afrika sedang mencari air, kelaparan dan kehausan. Serta anak jalanan di ibukota yang masih terbengkalai, dekil, bodoh, kumuh, menyusuri lika-liku rel kereta untuk mencari rejeki dari pungutan limbah orang kaya. Dan lagi saudara seagamanya di Timur Tengah berkutat, setiap hari, setiap malam, antara hidup dan mati di negeri sendiri, tak ada penolong, tak ada pahlawan, malah dihujani tuduhan-tuduhan tanpa bukti dari dunia barat yang mengisyaratkan kepada si pemasok senjata terbesar, sang negara adidaya, untuk membunuh mereka seolah semua penjahat, seolah agama yang salah. Atau bahkan orangutan, yang bukan manusia, pun banyak yang mati hangus terbakar karena pembalakan liar di hutan-hutan negeri yang katanya raksasa nan kuat ini, ‘katanya’.
“Jadi berhentilah Sabiq, stop. Berhentilah mengkasihani diri sendiri. Masalahmu amatlah ringan dibanding mereka di luar sana. Berhentilah menjadi orang bodoh karena emosi belaka. Jangan norak. Hidup ini bukanlah seperti sinetron murahan khas televisi lokal yang memuat adegan cerita yang seolah tak ada hal yang lebih penting saja selain cinta. Atau cerita-cerita di novel-novel roman yang plotnya klise. Isinya tentang cinta semua. Begitu pula musik. Lagu di negeri ini isinya tentang cinta semua. Coba saja kau download Efek Rumah Kaca –Cinta Melulu. Pahami liriknya. Semua sudah tak seperti lagu-lagu Iwan Fals era lama. Tentang para penguasa bajingan dan politik tahi babi. Semuanya t*hi, lebih hina dari sampah. Kau ingin ikutan jadi tahi, Sabiq? Tentu tidak. Berubahlah sebelum dunia yang penuh komersil dan tipu daya media serta politik ini merubahmu. Bahkan, Ozzy Osbourne pun akan percaya kau pasti bisa”
Lagu Sigmun –Long Haul yang aneh bagai berputar-putar di benaknya. Tak ada yang tahu persis siapa yang berbicara itu. Apakah itu Tuhan atau Morgan Freeman, tak ada yang tahu persis. Namun yang pasti, lamunan aneh Sabiq terhenti karena sebuah tepukan halus pada rambut pompadour semi pendeknya itu.
“Hmmm Biq, bisa ajarin gue ini gak?”
Sabiq siuman. Sebuah lembar kertas cokelat khas buku LKS bertuliskan ‘Matematika’ disodorkan oleh yang tak lain adalah seseorang yang indah. Pandangannya tertuju pada buku tersebut. Lalu naik ke tangan halus dengan kuku yang dicat merah jambu. Lalu naik ke baju seragam putih yang kekecilan khas siswi SMA dengan logo OSIS di kantung yang menyembul akibat tonjolan organ untuk menyusui. Lalu naik lagi ke sebuah wajah yang bersinar. Bukan malaikat. Bukan buraq kendaraan sang Nabi. Bukan pula lailatul qadr. Tapi seorang wanita yang akhirnya membuat hari ini menjadi lebih berkesan dibanding hari-hari lain dalam hidup si pria lawas. Janet tersenyum tanda pengetahuan ‘gosip’ barunya dari kejauhan, dan Kris tentu ada di sampingnya.
“Anj*ng, dasar ember”
Tapi kata-kata yang tertuju pada Kris itu hanya terucap dalam hati. Seolah jutaan kosakata kotor yang biasa terlontar dari bibir Sabiq hilang begitu saja dihadapan Sophie.
Matematika adalah satu-satunya pelajaran yang dikuasainya, kebetulan. Dimulailah kegiatan guru-menggurui dalam bidang angka tersebut. Terkadang penuh canda tawa, terkadang penuh cerita. Tak sedikit pula yang diluar konteks: tambah kurang kali bagi kuadrat epsilon integral pangkat akar, sehingga Sabiq benar-benar menikmati setiap huruf dalam percakapan yang ia impikan ini. Queen –Crazy Little Thing Called Love mengiringi percakapan mereka. Bukan ‘mereka’ mungkin, lebih tepatnya Sabiq pribadi. Sampai akhirnya bel sekolah pun berbunyi, dan ia senantiasa mengantar Sophie hingga gerbang sekolah yang diakhiri dengan dijemputnya sang ratu dengan kereta kuda kencana putihnya, alias ibunya dengan mobil putih jenis MPV.
Sabiq dengan cepat mencoba melihat plat nomornya, namun terhalang bajaj-bajaj yang ‘ngetem’. Dan selagi mobilnya pergi berlalu, yang ia lihat malah Kris yang mengacungkan jempol sembari masih tersungging senyuman seolah minta diberi jabatan terimakasih. Dari kejauhan, Sabiq membalas ibu jari Kris dengan jari tengah karena kesal telah membocorkan rahasianya, dan pergi menuju mobilnya yang berdebu, menyelempangi tasnya, sambil sedikit tersenyum dan berterimakasih dalam hati pada bocah gendut itu.
“Begitu cewek tu tau kalo kita suka sama dia, kadang dia emang suka ngasih harapan ny*t, tapi cuman buat becandaan doang! Kan kont*l”
“Iya sih Biq kadang emang begitu. Ntar kasusnya sama aja kayak gebetan lu sebelom ini, yang anak mana tuh, yang SMA di Pasar Minggu yang arah pertigaan? Lupa gua”
Seruputan pahitnya kopi hitam ditemani hisapan asap pada cangklong kayu yang dibakar rok*k kretek manis di ujungnya menghiasi percakapan hampir semua orang di warung kopi kumuh daerah Cijantung itu. Sabiq menyisir poninya belah pinggir, menambahkan sedikit pomade yang mulai luntur karena hari, sambil mendengarkan celotehan teman-teman ‘tongkrongan’nya yang kebetulan hanya segelintir yang hadir pada malam itu. Bot Si Pendek memainkan Led Zeppelin –Since I’ve Been Loving You di pengeras suara handphonenya, Pare Si Keji menyantap mie instan ketiganya, Agit Si Kekinian mencari parfum di tas olahraganya yang berisi pakaian dan sepatu basket bekas latihan, dan Fauji Si Bloon yang merespon kisah Sabiq hari ini dengan membuatnya jadi bahan lelucon yang sedikit membuat kesal karena tak lucu, namun Pare segera memukul kepalanya untuk mengingatkan.
Agaknya, si pria lawas sedikit termakan ucapan teman-temannya. Dia pun menghela nafas, dan membuka jaket hitamnya tanda udara sekeliling mulai panas. Mengingat tiap detail kejadian di akhir jam sekolah hari ini, namun juga sedikit menghapus harapan agar tidak berfantasi terlalu jauh untuk dapat bersama Sophie. Kejadian sekali tak akan berarti apapun bagi wanita cantik seperti dia, pikirnya.
Sabiq pun kembali masuk ke percakapan dan mulai tertawa lepas kembali dengan teman-teman akrabnya. Tak peduli jam tangan kulit besar berwarna cokelat di tangan kirinya menunjukan pukul berapa. Sampai akhirnya handphone di celananya kembali bergetar seperti tadi siang. Ada chat masuk. Sophie. Tak mungkin, pikirnya. Benar saja, notifikasi di layar menunjukan chat yang masuk hanyalah dari official account yang sedang mempromosikan sebuah produk online, atau semacamnya. Sabiq tersenyum menandakan adanya perasaan antara kecewa dan memaklumi kenyataan, dan ia pun menghela nafas lagi. Tangan kurus itu hampir mengembalikan benda elektronik tersebut ke kantung celana, sebelum mata tajamnya melihat tanda panah yang berarti ada chat lain di layar sentuh tersebut. Jari kurusnya segera menekan tanda panah tersebut. Benar. Ada chat dari seorang manusia yang merubah senyuman putus asa Sabiq menjadi mulut yang terbuka lebar khas orang terkejut, perasaan hati yang tak bisa diungkapkan namun meledak-ledak, dan yang jelas, chat dari seorang manusia yang akan merubah hari-hari kelamnya menjadi lebih cerah, layaknya malam yang gelap mendung berganti menjadi riangnya pagi.
Cerpen Karangan: Syabikancut
Pelangi Sehari
4/
5
Oleh
Unknown
