Judul Cerpen Sahabat Sewinduku
Sudah sewindu aku menyimpan rasa kepada teman kecilku dulu yang kini aku tau dia sudah sukses untuk mengabdikan dirinya kepada negara. Iya sudah sewindu aku memikirkannya tak pernah lewat sedetikpun. Penyesalan datang bertubi-tubi menghantui fikiran dan juga hatiku. Pertanyaan bodoh setiap kali terlintas di otakku “apakah dia akan kembali seperti saat kita masih bocah dulu?”, hanya satu jawaban yang tepat “hanya si waktu dan tuan takdirlah yang tau jawabannya”
Hari-hariku selalu seperti ini kuliah, belajar, kuliah, belajar jujur saja hampir tak pernah terbersit keinginan untuk mengisi kekosongan hati ini sejak “kisah sewinduku” pergi tanpa aku tau sekarang dia sedang bertugas di daerah mana, dengan siapa, apakah dia sudah ada pasangan dan lain sebagainya. Aku iri padanya, karena dia sanggup menjalankan hidupnya tanpa perlu mengabarkanku walau hanya beberapa saat saja, dia tidak tau disini aku menyimpan rindu yang amat dalam kepadanya, rindu yang tidak sanggup tuk diobati dengan obat yang telah diresepkan oleh dokter.
Dulu kami bertemu di satu sekolah dan pada akhirnya kami harus berpisah, aku merasa kehilangan, hidupku sepi dan hampa tanpa ada canda serta tawa yang kami buat. Pada akhirnya “si waktu” mempertemukan kita kembali jujur pada saat itu aku bahagia bukan main, tetapi kebahagianku ini yang membuatku gengsi untuk bertegur sapa dengannya. Aku bingung, aku tak tau apa yang harus aku utarakan kepadanya, aku tak tau harus memulainya dari mana. Aku terus menunggunya untuk memulai menyapaku terlebih dahulu, aku dengan sengaja membuat momment dimana aku bertemu dengannya seperti aku menunggunya di depan pintu, menghampiri temanku yang sekelas dengannya, bolos dari kelas untuk sekedar melihatnya di kantin sekolah. Sekiranya itulah beberapa hal kecil yang aku lakukan untuk mendapat perhatiannya, tetapi itu semua sia-sia. Aku tak mengerti apa salahku, kenapa aku begini dan kenapa kamu menghindariku?
Hingga suatu ketika di suatu momment yang bukan aku ciptakan sendiri, kamu datang kepadaku sambil memegang pundakku “Ma, kamu apa kabar?” aku kaget sangat amat kaget jika saat itu kamu tak di sampingku mungkin aku akan teriak sekencang yang aku bisaaa!!!
“a..aaku baik Ndra, kamu sendiri apa kabar?”
“iya Ma, aku baik kaya yang kamu lihat sekarang ini hehehe”
“oh.. ya kamu sudah makan?”
“ini sekarang aku mau makan, ya udah aku tinggal ya kamu lanjut makan aja dulu”
“oh i.. iya Ndra”
Hanya sekilas namun itu berarti untukku, setiap satu sapaan yang dia lakukan itu membuatku tersenyum sendiri sungguh itu sangat membuatku bahagia.
Hari terus berganti tak terasa sudah 3 tahun aku melewati waktu bersamanya di satu sekolah yang sama. Begitupun dengan kisah ini, tidak setiap hari kami bertegur sapa, sebenarnya itu cukup membuatku tersiksa. Aku harus menahan sakit hati karena dia memiliki pacar yang juga temanku sendiri. Hingga hari kelulusan tiba aku sama sekali tidak melihatnya di kerumunan siswa yang sedang mencorat-coret seragam putih abu sebagai tanda kegembiraan. Setelah lulus SMA, kami telah memilih jalan masing-masing dan memulai kehidupan baru.
Ya, ini kehidupan baruku. Walaupun jarakku dan dia telah berjauhan tetapi bayang-bayangnya masih saja menghuni isi otakku. Jujur aku belum bisa berpaling walau aku sudah sempat berpacaran dengan orang lain dan pendekatan dengan orang lain lagi walau tidak sampai pacaran. Hingga akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang bernama “Danny”
“Ma, mending kamu tidur gak usah ke kampus sekarang. Kamu tidur sekarang istirahat aja deh”
“tapi Dan, ini urusanku lagi penting banget. Ini harus banget buat ketemu sama dosen”
“yakali Ma, kamu sendiri belum dapet istirahat gini. Kalau capek tanggung sendiri”
“yaiyalah Dan, emang kamu mau gitu aku bagiin capek. Ya paling enggak mau!!”
Danny pergi begitu saja meninggalkanku.
Danny itu teman kuliahku orangnya baik, terkadang cerewet, dia senang mengacaukan segala tugas yang telah aku selesaikan, dan dia orang yang perhatian namun dia tipikal orang yang tidak mengerti perasaan, tapi aku selalu mengeluhkan semua rutinitasku kepadanya. Kami bertemu di awal perkuliahan dimulai, ya emang temanku bukan dia aja tapi dia salah satunya yang dekat denganku. Di antara teman-teman cowok yang ada di kampus aku paling akrab dengan Danny. Semua cerita pribadiku dia tau, karena aku yakin dia bukan tipikal orang “mulut ember” jadi dia akan menjaga rahasia-rahasiaku. Danny selalu menggangguku dengan pertanyaan
“eh sewindu mu apa kabar sekarang, udah berapa tahun dia berpacaran sama temen kamu, udah sewindu ya? hahahaha”
“Dannnyyy!!! Tolong mulutnya dikontrrooolll”
“udah deh Ma, kamu tuh move on. Kamu sama dia tuh bagaikan langit dan bumi hahahaha”
“Dan, kamu ngomong lagi sekali kita udahan temenannya”
“Yeeee ngambek, duhh ngambek gini dibeliin es krim dimaafin kali yahh”
“Eskrim nenek lo, gue capek denger lo ngomong gituan tiap kali kita ketemu. Gue kesiksa Dan, kesiksa tolong stop”
“Ma, Ma, ma.. maafin gue Ma, gue gak maksud buat ngehina lo. Tujuan gue Cuma mau lo bisa buka hati lo buat orang lain dan ngelupain kisah sewindu lo itu Ma, gue gak mau liat lo kesiksa gini”
“udahlah Dan, aku mau sendiri dulu. Tinggalin aku”
“t..tapi Ma”
“Dan please…”
Jujur fikiranku kalut setiap kali Danny mengejekku seperti itu, kenapa aku sampai sekarang belum bisa membuka hati untuk orang lain karena rasa sayang ku masih sepenuhnya milik Hendra Kisah Sewinduku. Aku tau maksud Danny itu baik dengan membujukku untuk melupakan Hendra tapi cara yang dia lakukan itu justru membuatku semakin ingat tentang Hendra. Entah sampai kapan aku akan terus mempertahankan kisah sewindu ini.
Aku duduk di taman tempat dimana aku biasa kunjungi bersama Hendra dulu. Hanya di tempat ini aku merasakan kenyamanan yang hening sunyi dan sepi.
Tiba-tiba…
“Maya ya?”
“i..iya, Hendra?”
“iya aku Hendra, kamu apa kabar?”
“aku baik Ndra, kamu sendiri gimana?”
“aku baik seperti yang kamu lihat, gak nyangka kamu masih suka datang ke taman ini”
“ya masihlah. Taman ini sampai kapan gak akan pernah aku tinggalin sendirian hehe”
“udah lama banget ya kita gak main kesini. Terakhir kapan yaa?”
“kelas 6 SD” tanpa disengaja kita bersamaan menjawab pertanyaan Hendra
“hahahaa, kamu masih inget sih. Terakhir waktu itu kita perpisahan disini ya gak sih hehee”
“iya waktu itu kamu ngambek kan sama aku gara-gara aku ngejek kamu gajah. Hahaha gajah gajah”
“ihh kamu kok masih inget. Aku kirain kamu lupa sama taman ini dan lupa sama aku”
“ya enggak lah. Sampai kapanpun kamu bakal tetep jadi gajah aku dan taman ini tetep jadi tempat rahasia kita”
Kita asyik mengobrol tanpa mengenal waktu. Tak terasa sudah malam, Hendra mengantarku pulang ke rumah, lalu kami bertukar nomor telepon. Aku senang sekali, hari ini seakan sangat lengkap. Aku menangis karena Danny dan aku bahagia karena Hendra.
Hari selanjutnya setiap kali berangkat kuliah aku selalu dikawal oleh polisi ganteng, ya Hendra selalu menghantar dan menjemputku. Sesekali kita jalan-jalan pada malam minggu atau hari minggu. Tetapi tidak sepenuhnya dalam seminggu aku bersama Hendra, karena dia harus tetap menjalankan abdi negara. Pada suatu malam ketika itu aku dan Hendra jalan-jalan ke taman milik kita, pada awalnya kami mengobrol santai menceritakan rutinitas masing-masing. Hingga Hendra memegang tanganku erat dan menatap mataku tajam.
“Ma, maafin aku karena dulu aku sempet pergi ninggalin kamu tanpa jejak. Aku tau aku salah, sebenernya aku punya perasaan lebih ke kamu dari dulu waktu kita perpisahan disini. Aku senang kita ketemu kembali di SMA, tapi maafkan aku karena aku gak bisa memanfaatkan waktu SMA dengan baik, aku justru mengacuhkanmu. Itu karena aku tidak tau harus memulai semua darimana”
“Ndra, kamu gak perlu minta maaf. Ini bukan kesalahan siapa-siapa kok”
“tapi Ma, asal kamu tau aku senang kita ketemu lagi. Disini di tempat kita dipisahkan dulu. Dan di tempat ini aku ingin mempersatukan kita lagi Ma”
“maksudmu Ndra?”
“Ma, apa kamu mau pacaran sama aku?”
“Ndra…”
“Ma, maaf aku telat mengutarakannya”
“Ndraaaa, iya aku mau” aku berbisik di telinganya lembut
“makasi Ma, makasi. Aku sayang kamu”
Saat itu kita resmi menjadi sepasang kekasih di tempat kita berpisah yang sekarang menjadi tempat kita bersatu. Aku senang, senang sekali. Penantianku selama sewindu kini terjawab sudah, si waktu dan tuan takdir memang tidak pernah berbohong kepadaku, merekalah yang sebenarnya pembuat ekspresi di wajahku. Betapa sempurna rencana mereka mempertemukan kami kembali. Tentunya kebahagaian ini akan aku bagi untuk sahabatku Danny. Tetapi akhir-akhir ini aku jarang melihat Danny, atau aku yang terlalu sibuk dengan urusan kampus dan Hendra. Aku tak tau.
Aku menjumpai Danny di tempat makan biasa yang kita datangi bersama,
“Dan, are you okay?”
“eh Maya, sok-sokan bahasa inggris kamu. Jijik deh. Hahaha”
“Daan, please. Eh gak penting, Dan aku ada cerita buat kamu, dengerin. Tapi janji jangan ketawa, jangan memotong pembicaraanku”
“males ah, apa yang bisa aku simak dari cerita seorang jomblo yang ditinggal sewindu yang lalu?”
“nah, yang macam begini aku gak suka asli deh. Mau denger gak?”
“apa sih cantik? Mau cerita apa, ayo aa udah siap nih denger cerita neng geulis mah. Sok atuh”
Aku menunjukkan fotoku berdua dengan Hendra kepada Danny
“Haaaahhh, Hendra kamu? kapan? dimana?”
“kemarin baru sehari. Gak usah kaget deh, biasa aja. Ayo sekarang kamu mau makan apa aku traktir”
“enggak deh, gue udah makan. Lo aja makan.”
“lho kok gitu sih, tapi kan aku mau nraktir kamu makan”
“kalo gue bilang enggak ya enggak. Jangan dipaksa dong”
“Dann, gak usah ngebentak aku bisa! Kamu kenapa sih kok tiba-tiba aneh gini?”
“gak, gua gak apa-apa. Anggep gue gak ngomong apa-apa hari ini”
“tapi Dan,”
“Ma, gue pergi dulu ya ada kelas nih”
Sejak kejadian hari itu hubungan kami renggang, jujur aku tidak tau apa yang terjadi pada Danny, aku tidak berani bertanya kepada Danny apa yang dialamai. Aku menceritakan ini kepada Hendra, pacarku. Sebelumnya aku menjelaskan tentang Danny itu siapa di hidup aku.
Saran dari Hendra aku harus berani menanyakan kepada Danny apa yang terjadi padanya. Karena kita tidak tau apa yang difikrikan seseorang tentang diri kita. Kalaupun aku punya salah aku harus berani meminta maaf duluan.
Aku menerima saran dari Hendra, aku akan bertanya langsung kepada Danny. Aku merasakan kehilangan sosok Danny yang begitu baik, jahil, dan selalu ada di dekatku.
“Dan, aku mau ngomong bisa?”
“ngomong aja Ma,”
“Dan, salah aku apa? Kenapa kamu menghindar dari aku?”
“kamu gak salah kok Ma, aku aja yang mungkin lagi sibuk sama kampus”
“tapi Dan, gak biasanya kamu begini. Cerita Dan kamu kenapa?”
“Ma, apa perlu aku bentak kamu kayak waktu itu?”
“Dan, kamu itu emang bener-bener ya. Aku nanya ke kamu baik-baik Dan”
Aku pergi meninggalkan Danny, aku kecewa. Aku mengetahui sifat Danny yang begitu keras dan suka membentak.
“MAAAAAA… aku saaayyyaaannng sama kamuuu… aku Cuma gak mau kamu sama Hendra.”
Aku langsung terdiam kaku tak bisa berkutik
“MAAAA, aku sayang sama kamu dari pertama kita ketemu. Tapi kenapa kamu gak bisa melupakan Hendra dan membuka hatimu kenapa?”
Aku berlari memeluk Danny, aku menangis di pelukannya..
“Danny enggak gitu maksudku Dan, aku sayang sama Hendra melebihi sayang diriku sendiri dan kamu tau itu. Aku juga sayang sama kamu karena kamu berhasil membuat aku tersenyum dan menjaga aku sebisamu. Tapi aku gak bisa jadi orang yang berjalan bergandengan tangan bersamamu Dan, aku sudah punya Hendra”
“Tapi Ma, aku menyesal melepasmu bersama Hendra”
“Dan, please stop. Jangan ada kata menyesal Dan. Aku tetap milikmu, dan aku tetap milik Hendra. Bukan berarti aku mau menduakan Hendra dan pergi bersamamu Dan, tapi tetaplah kamu di sampingku untuk mendampingiku, mengisi hari-hariku dan kembali mengacaukan semua tugas-tugasku Dan”
“tapi Ma, aku menyanyangimu tulus”
“iya Dan, aku tau. Aku pun sama. Tapi mungkin ini sudah menjadi jalan kita berdua Dan”
“Ma, ijinkan aku untuk tetap menjagamu semampu aku bisa. Membuatmu tersenyum sampai kamu menangis, dan membahagiakanmu sampai kamu lupa cara untuk menangis”
“Dan, tidak usah terlalu berlebihan seperti itu. Aku sudah punya Hendra. Kamu cukup ada di sisiku saja itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih Dan”
“Ma, aku sayang sama kamu”
Si waktu dan tuan takdir memang aneh. Mereka mempertemukanku kembali dengan Kisah Sewindu tetapi mereka menunjukkan sahabatku itu siapa. Aku tak ingin menyakiti kedua lelaki itu. Aku menyayangi mereka dengan tulus. Aku bisa membagi waktuku untuk kegiatan kuliah dan juga mereka. Terkadang ada saja hal yang menjengkelkan atau membahagiakan bersama mereka berdua. Tetapi mereka berdua milikku. Aku sangat menyayangi mereka “Sahabat Sewinduku”
Cerpen Karangan: Ayu Sukmawathi
Sudah sewindu aku menyimpan rasa kepada teman kecilku dulu yang kini aku tau dia sudah sukses untuk mengabdikan dirinya kepada negara. Iya sudah sewindu aku memikirkannya tak pernah lewat sedetikpun. Penyesalan datang bertubi-tubi menghantui fikiran dan juga hatiku. Pertanyaan bodoh setiap kali terlintas di otakku “apakah dia akan kembali seperti saat kita masih bocah dulu?”, hanya satu jawaban yang tepat “hanya si waktu dan tuan takdirlah yang tau jawabannya”
Hari-hariku selalu seperti ini kuliah, belajar, kuliah, belajar jujur saja hampir tak pernah terbersit keinginan untuk mengisi kekosongan hati ini sejak “kisah sewinduku” pergi tanpa aku tau sekarang dia sedang bertugas di daerah mana, dengan siapa, apakah dia sudah ada pasangan dan lain sebagainya. Aku iri padanya, karena dia sanggup menjalankan hidupnya tanpa perlu mengabarkanku walau hanya beberapa saat saja, dia tidak tau disini aku menyimpan rindu yang amat dalam kepadanya, rindu yang tidak sanggup tuk diobati dengan obat yang telah diresepkan oleh dokter.
Dulu kami bertemu di satu sekolah dan pada akhirnya kami harus berpisah, aku merasa kehilangan, hidupku sepi dan hampa tanpa ada canda serta tawa yang kami buat. Pada akhirnya “si waktu” mempertemukan kita kembali jujur pada saat itu aku bahagia bukan main, tetapi kebahagianku ini yang membuatku gengsi untuk bertegur sapa dengannya. Aku bingung, aku tak tau apa yang harus aku utarakan kepadanya, aku tak tau harus memulainya dari mana. Aku terus menunggunya untuk memulai menyapaku terlebih dahulu, aku dengan sengaja membuat momment dimana aku bertemu dengannya seperti aku menunggunya di depan pintu, menghampiri temanku yang sekelas dengannya, bolos dari kelas untuk sekedar melihatnya di kantin sekolah. Sekiranya itulah beberapa hal kecil yang aku lakukan untuk mendapat perhatiannya, tetapi itu semua sia-sia. Aku tak mengerti apa salahku, kenapa aku begini dan kenapa kamu menghindariku?
Hingga suatu ketika di suatu momment yang bukan aku ciptakan sendiri, kamu datang kepadaku sambil memegang pundakku “Ma, kamu apa kabar?” aku kaget sangat amat kaget jika saat itu kamu tak di sampingku mungkin aku akan teriak sekencang yang aku bisaaa!!!
“a..aaku baik Ndra, kamu sendiri apa kabar?”
“iya Ma, aku baik kaya yang kamu lihat sekarang ini hehehe”
“oh.. ya kamu sudah makan?”
“ini sekarang aku mau makan, ya udah aku tinggal ya kamu lanjut makan aja dulu”
“oh i.. iya Ndra”
Hanya sekilas namun itu berarti untukku, setiap satu sapaan yang dia lakukan itu membuatku tersenyum sendiri sungguh itu sangat membuatku bahagia.
Hari terus berganti tak terasa sudah 3 tahun aku melewati waktu bersamanya di satu sekolah yang sama. Begitupun dengan kisah ini, tidak setiap hari kami bertegur sapa, sebenarnya itu cukup membuatku tersiksa. Aku harus menahan sakit hati karena dia memiliki pacar yang juga temanku sendiri. Hingga hari kelulusan tiba aku sama sekali tidak melihatnya di kerumunan siswa yang sedang mencorat-coret seragam putih abu sebagai tanda kegembiraan. Setelah lulus SMA, kami telah memilih jalan masing-masing dan memulai kehidupan baru.
Ya, ini kehidupan baruku. Walaupun jarakku dan dia telah berjauhan tetapi bayang-bayangnya masih saja menghuni isi otakku. Jujur aku belum bisa berpaling walau aku sudah sempat berpacaran dengan orang lain dan pendekatan dengan orang lain lagi walau tidak sampai pacaran. Hingga akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang bernama “Danny”
“Ma, mending kamu tidur gak usah ke kampus sekarang. Kamu tidur sekarang istirahat aja deh”
“tapi Dan, ini urusanku lagi penting banget. Ini harus banget buat ketemu sama dosen”
“yakali Ma, kamu sendiri belum dapet istirahat gini. Kalau capek tanggung sendiri”
“yaiyalah Dan, emang kamu mau gitu aku bagiin capek. Ya paling enggak mau!!”
Danny pergi begitu saja meninggalkanku.
Danny itu teman kuliahku orangnya baik, terkadang cerewet, dia senang mengacaukan segala tugas yang telah aku selesaikan, dan dia orang yang perhatian namun dia tipikal orang yang tidak mengerti perasaan, tapi aku selalu mengeluhkan semua rutinitasku kepadanya. Kami bertemu di awal perkuliahan dimulai, ya emang temanku bukan dia aja tapi dia salah satunya yang dekat denganku. Di antara teman-teman cowok yang ada di kampus aku paling akrab dengan Danny. Semua cerita pribadiku dia tau, karena aku yakin dia bukan tipikal orang “mulut ember” jadi dia akan menjaga rahasia-rahasiaku. Danny selalu menggangguku dengan pertanyaan
“eh sewindu mu apa kabar sekarang, udah berapa tahun dia berpacaran sama temen kamu, udah sewindu ya? hahahaha”
“Dannnyyy!!! Tolong mulutnya dikontrrooolll”
“udah deh Ma, kamu tuh move on. Kamu sama dia tuh bagaikan langit dan bumi hahahaha”
“Dan, kamu ngomong lagi sekali kita udahan temenannya”
“Yeeee ngambek, duhh ngambek gini dibeliin es krim dimaafin kali yahh”
“Eskrim nenek lo, gue capek denger lo ngomong gituan tiap kali kita ketemu. Gue kesiksa Dan, kesiksa tolong stop”
“Ma, Ma, ma.. maafin gue Ma, gue gak maksud buat ngehina lo. Tujuan gue Cuma mau lo bisa buka hati lo buat orang lain dan ngelupain kisah sewindu lo itu Ma, gue gak mau liat lo kesiksa gini”
“udahlah Dan, aku mau sendiri dulu. Tinggalin aku”
“t..tapi Ma”
“Dan please…”
Jujur fikiranku kalut setiap kali Danny mengejekku seperti itu, kenapa aku sampai sekarang belum bisa membuka hati untuk orang lain karena rasa sayang ku masih sepenuhnya milik Hendra Kisah Sewinduku. Aku tau maksud Danny itu baik dengan membujukku untuk melupakan Hendra tapi cara yang dia lakukan itu justru membuatku semakin ingat tentang Hendra. Entah sampai kapan aku akan terus mempertahankan kisah sewindu ini.
Aku duduk di taman tempat dimana aku biasa kunjungi bersama Hendra dulu. Hanya di tempat ini aku merasakan kenyamanan yang hening sunyi dan sepi.
Tiba-tiba…
“Maya ya?”
“i..iya, Hendra?”
“iya aku Hendra, kamu apa kabar?”
“aku baik Ndra, kamu sendiri gimana?”
“aku baik seperti yang kamu lihat, gak nyangka kamu masih suka datang ke taman ini”
“ya masihlah. Taman ini sampai kapan gak akan pernah aku tinggalin sendirian hehe”
“udah lama banget ya kita gak main kesini. Terakhir kapan yaa?”
“kelas 6 SD” tanpa disengaja kita bersamaan menjawab pertanyaan Hendra
“hahahaa, kamu masih inget sih. Terakhir waktu itu kita perpisahan disini ya gak sih hehee”
“iya waktu itu kamu ngambek kan sama aku gara-gara aku ngejek kamu gajah. Hahaha gajah gajah”
“ihh kamu kok masih inget. Aku kirain kamu lupa sama taman ini dan lupa sama aku”
“ya enggak lah. Sampai kapanpun kamu bakal tetep jadi gajah aku dan taman ini tetep jadi tempat rahasia kita”
Kita asyik mengobrol tanpa mengenal waktu. Tak terasa sudah malam, Hendra mengantarku pulang ke rumah, lalu kami bertukar nomor telepon. Aku senang sekali, hari ini seakan sangat lengkap. Aku menangis karena Danny dan aku bahagia karena Hendra.
Hari selanjutnya setiap kali berangkat kuliah aku selalu dikawal oleh polisi ganteng, ya Hendra selalu menghantar dan menjemputku. Sesekali kita jalan-jalan pada malam minggu atau hari minggu. Tetapi tidak sepenuhnya dalam seminggu aku bersama Hendra, karena dia harus tetap menjalankan abdi negara. Pada suatu malam ketika itu aku dan Hendra jalan-jalan ke taman milik kita, pada awalnya kami mengobrol santai menceritakan rutinitas masing-masing. Hingga Hendra memegang tanganku erat dan menatap mataku tajam.
“Ma, maafin aku karena dulu aku sempet pergi ninggalin kamu tanpa jejak. Aku tau aku salah, sebenernya aku punya perasaan lebih ke kamu dari dulu waktu kita perpisahan disini. Aku senang kita ketemu kembali di SMA, tapi maafkan aku karena aku gak bisa memanfaatkan waktu SMA dengan baik, aku justru mengacuhkanmu. Itu karena aku tidak tau harus memulai semua darimana”
“Ndra, kamu gak perlu minta maaf. Ini bukan kesalahan siapa-siapa kok”
“tapi Ma, asal kamu tau aku senang kita ketemu lagi. Disini di tempat kita dipisahkan dulu. Dan di tempat ini aku ingin mempersatukan kita lagi Ma”
“maksudmu Ndra?”
“Ma, apa kamu mau pacaran sama aku?”
“Ndra…”
“Ma, maaf aku telat mengutarakannya”
“Ndraaaa, iya aku mau” aku berbisik di telinganya lembut
“makasi Ma, makasi. Aku sayang kamu”
Saat itu kita resmi menjadi sepasang kekasih di tempat kita berpisah yang sekarang menjadi tempat kita bersatu. Aku senang, senang sekali. Penantianku selama sewindu kini terjawab sudah, si waktu dan tuan takdir memang tidak pernah berbohong kepadaku, merekalah yang sebenarnya pembuat ekspresi di wajahku. Betapa sempurna rencana mereka mempertemukan kami kembali. Tentunya kebahagaian ini akan aku bagi untuk sahabatku Danny. Tetapi akhir-akhir ini aku jarang melihat Danny, atau aku yang terlalu sibuk dengan urusan kampus dan Hendra. Aku tak tau.
Aku menjumpai Danny di tempat makan biasa yang kita datangi bersama,
“Dan, are you okay?”
“eh Maya, sok-sokan bahasa inggris kamu. Jijik deh. Hahaha”
“Daan, please. Eh gak penting, Dan aku ada cerita buat kamu, dengerin. Tapi janji jangan ketawa, jangan memotong pembicaraanku”
“males ah, apa yang bisa aku simak dari cerita seorang jomblo yang ditinggal sewindu yang lalu?”
“nah, yang macam begini aku gak suka asli deh. Mau denger gak?”
“apa sih cantik? Mau cerita apa, ayo aa udah siap nih denger cerita neng geulis mah. Sok atuh”
Aku menunjukkan fotoku berdua dengan Hendra kepada Danny
“Haaaahhh, Hendra kamu? kapan? dimana?”
“kemarin baru sehari. Gak usah kaget deh, biasa aja. Ayo sekarang kamu mau makan apa aku traktir”
“enggak deh, gue udah makan. Lo aja makan.”
“lho kok gitu sih, tapi kan aku mau nraktir kamu makan”
“kalo gue bilang enggak ya enggak. Jangan dipaksa dong”
“Dann, gak usah ngebentak aku bisa! Kamu kenapa sih kok tiba-tiba aneh gini?”
“gak, gua gak apa-apa. Anggep gue gak ngomong apa-apa hari ini”
“tapi Dan,”
“Ma, gue pergi dulu ya ada kelas nih”
Sejak kejadian hari itu hubungan kami renggang, jujur aku tidak tau apa yang terjadi pada Danny, aku tidak berani bertanya kepada Danny apa yang dialamai. Aku menceritakan ini kepada Hendra, pacarku. Sebelumnya aku menjelaskan tentang Danny itu siapa di hidup aku.
Saran dari Hendra aku harus berani menanyakan kepada Danny apa yang terjadi padanya. Karena kita tidak tau apa yang difikrikan seseorang tentang diri kita. Kalaupun aku punya salah aku harus berani meminta maaf duluan.
Aku menerima saran dari Hendra, aku akan bertanya langsung kepada Danny. Aku merasakan kehilangan sosok Danny yang begitu baik, jahil, dan selalu ada di dekatku.
“Dan, aku mau ngomong bisa?”
“ngomong aja Ma,”
“Dan, salah aku apa? Kenapa kamu menghindar dari aku?”
“kamu gak salah kok Ma, aku aja yang mungkin lagi sibuk sama kampus”
“tapi Dan, gak biasanya kamu begini. Cerita Dan kamu kenapa?”
“Ma, apa perlu aku bentak kamu kayak waktu itu?”
“Dan, kamu itu emang bener-bener ya. Aku nanya ke kamu baik-baik Dan”
Aku pergi meninggalkan Danny, aku kecewa. Aku mengetahui sifat Danny yang begitu keras dan suka membentak.
“MAAAAAA… aku saaayyyaaannng sama kamuuu… aku Cuma gak mau kamu sama Hendra.”
Aku langsung terdiam kaku tak bisa berkutik
“MAAAA, aku sayang sama kamu dari pertama kita ketemu. Tapi kenapa kamu gak bisa melupakan Hendra dan membuka hatimu kenapa?”
Aku berlari memeluk Danny, aku menangis di pelukannya..
“Danny enggak gitu maksudku Dan, aku sayang sama Hendra melebihi sayang diriku sendiri dan kamu tau itu. Aku juga sayang sama kamu karena kamu berhasil membuat aku tersenyum dan menjaga aku sebisamu. Tapi aku gak bisa jadi orang yang berjalan bergandengan tangan bersamamu Dan, aku sudah punya Hendra”
“Tapi Ma, aku menyesal melepasmu bersama Hendra”
“Dan, please stop. Jangan ada kata menyesal Dan. Aku tetap milikmu, dan aku tetap milik Hendra. Bukan berarti aku mau menduakan Hendra dan pergi bersamamu Dan, tapi tetaplah kamu di sampingku untuk mendampingiku, mengisi hari-hariku dan kembali mengacaukan semua tugas-tugasku Dan”
“tapi Ma, aku menyanyangimu tulus”
“iya Dan, aku tau. Aku pun sama. Tapi mungkin ini sudah menjadi jalan kita berdua Dan”
“Ma, ijinkan aku untuk tetap menjagamu semampu aku bisa. Membuatmu tersenyum sampai kamu menangis, dan membahagiakanmu sampai kamu lupa cara untuk menangis”
“Dan, tidak usah terlalu berlebihan seperti itu. Aku sudah punya Hendra. Kamu cukup ada di sisiku saja itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih Dan”
“Ma, aku sayang sama kamu”
Si waktu dan tuan takdir memang aneh. Mereka mempertemukanku kembali dengan Kisah Sewindu tetapi mereka menunjukkan sahabatku itu siapa. Aku tak ingin menyakiti kedua lelaki itu. Aku menyayangi mereka dengan tulus. Aku bisa membagi waktuku untuk kegiatan kuliah dan juga mereka. Terkadang ada saja hal yang menjengkelkan atau membahagiakan bersama mereka berdua. Tetapi mereka berdua milikku. Aku sangat menyayangi mereka “Sahabat Sewinduku”
Cerpen Karangan: Ayu Sukmawathi
Sahabat Sewinduku
4/
5
Oleh
Unknown
