Si Sombong Edo (Part 1)

Baca Juga :
    Judul Cerpen Si Sombong Edo (Part 1)

    Sumitro widjodjo adalah seorang direktur dari sebuah perusahaan yang bernama Bobby Company, saat itu dia sedang duduk di ruangannya yang berukuran 7×8 dengan wajah yang serius sambil menatap laptopnya. Keringat deras mengucur dari wajahnya membuat wajahnya seperti tertutup oleh air. “Permisi pak..” seorang pria berbaju jas hitam memasuki ruangannya, pria itu kemudian mendekat padanya dan menyodorkan sebuah dokumen. Sumitro berwajah kesal, terlihat dia tidak senang dengan apa yang dilakukan pria berjas hitam, “Apa sih yang sebenarnya kau lakukan?” bentaknya, Pria berjas hitam itu menundukan kepalanya, “Mendadak muncul begitu saja.. lalu menambah pekerjaanku.. memang aku ini apa untukmu? aku bosmu!” pria berjas hitam itu terus menunduk tanpa berani berkata apapun.

    “Pergi sana!” usir Sumitro, pria berjas hitam itu langsung pergi, tetapi sebelum pergi dia menaruh dokumennya di atas meja Sumitro, Sumitro menggelengkan kepalanya, “Dasar edan.. anak buah edan!!”, kemudian dia melanjutkan fokus ke depan layar laptopnya. pria berjas hitam yang berjalan menjauh dari Sumitro itu memasang wajah kecewa “Dasar bos gendeng!” ujarnya, pria yang ternyata bernama Edo Barokah itu kemudian masuk ke dalam ruangannya yang berukuran 6×5 tak jauh dari ruangan Sumitro. “Duh aku ini manajer bagian personalia.. tapi kok diperlakukan seperti sampah ya..” ujar Edo sambil menahan air matanya keluar, dia tanpa sadar tidak tahan meneteskan sedikit. “Aku ini manejer lho.. manajer..” ujarnya lagi dengan terus diulang sampai tiga kali, dia kemudian mulai tenang dan mulai duduk di kursinya yang lumayan empuk, dan mulai menarik napas. Dia merasa sangat tersinggung, kemudian memandangi kantor Sumitro yang letaknya agak di seberang kantornya.

    Saat jam pulang kantor tiba, Edo berjalan dengan lega, seolah semua beban terlepas dari dirinya, dia kemudian memasuki lift. Tangannya dia lebarkan dan kemudian dia pukulkan, sebuah reaksi yang menunjukan bahwa dirinya terlepas dari semua beban yang ada. Setibanya di lantai dasar, dia kemudian berjalan dengan sangat cepat menuju ke tempat parkir, dan menuju ke tempat parkir motor, saat menuju ke sana itulah, dia melihat Sumitro juga sedang menuju ke tempat parkir, akan tetapi di bagian mobil. Edo mengamati Sumitro dari jauh, memandangi pria kurus yang berambut penuh uban tersebut, Sumitro lalu masuk ke mobilnya sebuah Hyundai trajet 2.0 keluaran 2001 berwarna hitam, Edo lalu melanjutkan jalannya. dia kemudian menuju ke sebuah motor honda tiger keluaran 2002 berwarna hijau, dan kemudian menyalakan mesin motor itu, dan mulai berjalan, dia membayar karcis parkir dan keluar dari tempat parkir itu. Sesampainya di jalan protokol, dia dihadang kemacetan yang luar biasa.

    Edo menggelengkan kepalanya melihat kemacetan yang sangat panjang tersebut, dia kemudian mengikuti kemacetan panjang tersebut, dan menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam hanya untuk keluar dari jalan protokol yang panjanganya hanya sekitar 2 kilometer tersebut. Edo kemudian sampai di jalan besar lainnya, dimana dia kemudian dihadang kemacetan lainnya, kemudian setelah keluar dari jalan besar itu, dia dihadang kemacetan lagi, lagi dan lagi, sebelum sampai di rumahnya.

    Di rumahnya yang berada di Kecamatan Citereup, Kabupaten Bogor yang luasnya hanya sekitar 96 meter persegi, dengan atap berwarna merah dan pagar berwarna putih itu, Edo kemudian bersantai.
    “Jadi saudara sekalian hari ini kemacetan parah kembali terjadi di Jakarta..” Kata suara dari televisi.
    “Ya.. macet lagi.. macet lagi..” Ujar Edo sambil memeluk bantalnya
    “Bagaimana menurut anda profesor Hadiwijaya mengenai fenomena kemacetan di Jakarta ini?” Tanya presenter di televisi.
    “Yah menurut saya, ini karena terlalu banyaknya jumlah kendaraan di Jakarta, terutama jumlah mobil yang tidak berimbang dengan jumlah jalan.” Jelas Profesor itu.
    “Mobil..” Ujar Edo dengan wajah agak melongo.
    “Jadi apakah harusnya ada pembatasan mobil di Jakarta?” tanya presenter itu lagi.

    “Tidak, kita bukan diktator, tapi setidaknya kita bisa membuat masyarakat untuk menyadari bahwa mobil itu bukanlah transportasi utama.” jawab si profesor.
    “Mobil.. enak kali ya kalo punya mobil..” ucap Edo sambil mengambil kacang di lemari.
    “Jadi saudara! Mobil itu seharusnya bukanlah transportasi utama..” Ujar presenter di televisi. Edo memasang wajah bengong, dia kemudian berkhayal seandainya dia punya mobil. Dia membayangkan mengendarai mobil itu dengan gagahnya, dan kemudian pamer ke depan teman-temannya. Setelah pamer ke teman-temannya dia kemudian pergi ke acara keluarga dengan mobil itu dan pamer lagi, membuat dia puas.

    Khayalannya buyar saat klakson mobil tetangganya menggema. Edo mengintip ke luar rumahnya, dan melihat sebuah Mercedes benz C 240 keluaran 2003 berwarna abu-abu sedang berada tepat di depan pagar rumah tetangganya, rumah tetangganya lebih kecil daripada rumahnya, hanya berukuran 72 meter persegi, namun dia punya mobil! Edo terkagum, lalu kembali duduk di depan televisi “Ah aku ini bodoh, masak manajer gak punya mobil, tetanggaku aja staff biasa punya mobil!” protes Edo pada dirinya sendiri. Edo terlihat kesal pada dirinya sendiri bahkan saking kesalnya dia sampai tidak fokus menonton televisi, udara dingin di rumahnya menambah kekesalannnya. “Aku harus pamer sama keluargaku, pamer mobil baru!” Edo mengepalkan tangan kanannya. “Jangan kayak sekarang! Gak punya mobil! Pecundang!” katanya dengan mata berapi-api, dia kemudian mematikan televisinya, dan menuju ke kamarnya.

    “Aku akan mulai mencari cara untuk mendapat mobil besok,” Sambil tiduran. “Mobil itu penting agar aku bisa dihargai keluargaku!” “Tanpa mobil mau apapun prestasi yang kubuat aku tak dihargai sama sekali!” Ujarnya dengan mata agak berair. “Pokoknya aku akan buktikan pada keluargaku terutama mas Ferdi, kalau aku bukan pecundang seperti yang dikatakannya, aku akan punya mobil!”

    “Ah.. ini dia, kredit mobil terjangkau nih, kredit bisa 5 tahun, dan perbulannya cuma 2 juta rupiah, gajiku kan 16 juta rupiah..” kata Edo sambil memperhatikan laptopnya dengan seksama. “Tapi mobil ini murah, ah ditambah DPnya cuma 140 juta rupiah saja..” “Mas Ferdi bisa ngetawain aku nih kalo mobil murah begini!” ujar Edo sambil tertunduk lesu. “Aku mau ah kredit mobil yang lebih mewah lagi!” Ujarnya dengan senyuman yang mengembang.

    Dia kemudian mencari dan terus mencari mobil yang harus dibelinya “Nah ini gimana nih, bisa kredit 5,5 tahun, uang cicilan perbulan 3.5 juta rupiah dengan uang muka 35 juta, nilai mobilnya jadi..” Edo terus dan terus mengetik laptopnya, sampai sore hari di kantornya, dan dia masih terus fokus pada laptopnya, saat rekannya mulai pulang satu persatu, Edo tetap di depan laptopnya. Wajahnya menatap sangat serius, sampai dia kemudian tersenyum dan mengatakan “Dapat!!” dia kemudian berdiri dari kursinya dan mengangkat kedua tangannya ke atas, seolah dia baru saja menemukan rumus yang akan mengubah peradaban.

    “Jadi mobil ini bisa dikredit 6 tahun?” Edo bertanya pada pria yang memakai kemeja biru dengan dasi berwarna merah yang ada di sebelahnya.
    “Ya pak.. Uang mukanya 32 juta rupiah..” Ucap pria itu sambil agak menundukan badan, lalu menyerahkan sebuah brosur kepada Edo.
    “Hmmm dan bayaran per bulannya 4,2 juta rupiah?” Ucap Edo sambil melihat brosur, Pak Muksin mengangguk.
    “Ditambah biaya asuransi dan semuanya, maka pembayaran pertamanya jadi 41 juta rupiah saja..” Ucap Pak Muksin sambil membetulkan dasinya.
    “Dan ditambah bunga, pembayaran perbulannya jadi 5 juta rupiah?” ujar Edo sambil memegang dagunya.
    “Betul sekali pak..” Ujar Pak Muksin, Edo terlihat tertarik, pak Muksin menunggu dengan wajah penuh harap.

    “Baiklah..” Ucap Edo sambil terus memegang dagunya.
    “Ya, pak?” Jawab pak Muksin dengan wajah penuh harap.
    “Aku setuju!” Ujar Edo dengan wajah ceria, pak Muksin juga berwajah ceria, Edo kemudian mendatangi Mercedes Benz E 200 Kompressor keluaran 2009 berwarna hitam tersebut, dia memandangi mobil mewah itu dengan pandangan puas, kemudian memegang sedikit demi sedikit bodi mobil itu, lalu mengelus seluruh bodinya “Ini mobil anda sekarang pak..”

    “Haha hanya dengan tabungan simpananku yang jumlahnya 50 juta rupiah dan gajiku yang 16 juta rupiah per bulan aku sudah bisa mendapatkan mobil mewah itu..” ucap Edo sambil bekerja di kantornya. “Aku sekarang bukan pecundang lagi!” Ucap Edo dengan wajah sombong. “Kalian sekarang melihat Edo yang baru!!” Ucap Edo sambil terkekeh, dilanjutkan dengan meminum kopinya, lalu kembali terkekeh.

    “Besok siang mobil itu akan diantarkan ke rumahku!” Ucap edo sambil meletakan kedua tangannya di belakang kepala. “Aku akan pamer.. pamer dan pamer..”, dia tertawa sendiri, lalu tersenyum geli sendiri, “Pak anda memanggil saya?” Ujar seorang pria berambut agak cepak dan memakai kemeja merah dengan dasi warna hitam. “Ya Reihard, masuk!”, Reihard lalu masuk ke ruangan Edo, “Duduklah..”, “Ya pak!” Reihard kemudian duduk tepat di depan meja Edo. “Langsung aja ya Reihard.. lu kredit mobil juga kan?” Reihard bengong, lalu beberapa saat kemudian tertawa “Ya betul itu pak.. kredit mobil donk!!”, “Sama donk..”, “Wah bapak juga baru kredit mobil ya? wuakakaka..” “Mobil lu apa sih Rei?” “Ah gak mewah.. cuma mercedes Benz S350 keluaran 2011..” “Wah sama donk.. gue juga kredit merci wkwkwkwk”, “Iya pak.. kredit mboil biar keren gitu loh wuakakaka..”, “Gimana tanggapan keluarga lu?!” “Keluarga gue apa babu gue? wkwkwkwk mereka mirip kayak penjilat semua begitu tau saya punya mobil mewah kayak gitu, ngerubung kayak lalat wkwkwkw”

    “Besok mobil gue dateng ke rumah Rei..” ujar Edo sambil berjalan menuju ke tempat parkir, “Bagus itu pak, jadi gak ngarah ke tempat parkir motor lagi kayak sekarang wuakakaka..” “Iya ya bener juga..” “Coba kita pikir pak.. masak atasan mobilnya kalah mewah sama anak buah?” “Iya bro.. besok gue “selevel” deh sama lu wkwkwkw”, mereka berdua lalu berpisah, Edo menuju ke tempat parkir motor, sementara Reihard ke tempat parkir mobil.

    Esoknya mobil “baru” Edo datang ke rumahnya, Edo menyambutnya dengan mengelus dan mengelus mobil itu, karena hari itu hari sabtu, dia bisa mengelus mobil itu sepanjang hari, saat itu juga keluar tetangga dari Edo, yang memiliki Mercedes Benz C240 keluaran 2003 di rumahnya, yaitu Fiki Baruno, “Wah mobil baru neh bos..”, “Iya mobil baru..” “Beli berapa bos?”, “Ah gak jauh beda dari punya lu..” “Wah ini mah keren banget bos..” “Tumben lu manggil gue bos, biasanya negur aja kagak..” Kata Edo dalam hatinya. “Oke deh gue mau coba dulu ini mobil keliling Jabodetabek!” Ujar Edo, yang kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan mulai berjalan.

    Edo mulai menggeber mobilnya ke arah tol, dia lalu memacu kecepatan mobil mewah itu hingga kecepatan 180 kilometer per jam, dan dari wajahnya terlihat kepuasan yang sangat besar, dia lalu mengarahkan mobilnya ke arah selatan, tepatnya ke arah Ciawi, Bogor. Dia kemudian mampir ke sebuah rumah yang betuknya mirip Villa dari era 80’an, kemudian memarkir mobil hitam itu tepat di depan tempat parkir mobil rumah itu.

    Edo kemudian mengklakson rumah yang di tempat parkirnya terdapat sebuah mobil Honda CR-V keluaran 2016 berwarna putih, seorang pria mengenakan peci dan baju hijau, dan tampak setengah baya, keluar dari rumah itu. “Eh Edo apa kabar?” “Apa kabar Mang Harto?” “Baik aja wah kamu sekarang udah jadi bos.. ayo masuk..” Mang Harto melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam rumahnya.

    Mang Harto dan Edo tampak berbincang akrab selama beberapa lama, mang harto kemudian menyuguhkan teh dan kue coklat, mereka lalu melanjutkan perbincangan mereka, dan tampak sangat akrab sekali, beberapa kali mereka tertawa bersama. Edo pertama kali mendatangi mang harto karena dia orang yang juga sering melecehkan Edo. Meski tahu Edo adalah seorang manajer, tetapi melihat Edo hanya membawa motor, mang Harto sering tidak menegur Edo, tetapi sekarang setelah Edo membawa merci E 200 Kompressornya, kelakuan mang harto berubah total.

    Setelah dari rumah Mang Harto, Edo kemudian meluncur lagi ke arah utara, tepatnya ke arah DKI Jakarta, dan dia mampir ke kawasan rawamangun, mampir ke sebuah rumah yang luasnya sekitar 200 meter persegi, terletak di dalam kompleks dengan jalan yang sempit, rumah itu memiliki pagar berwarna oranye, dan memiliki arsitektur khas 90’an. “Hoi buka..” Kata Edo sambil membunyikan klaskon mobilnya, seorang gadis berpakaian kasual keluar dari rumah itu, “Ya? cari siapa pak?” “Antonya ada?” “Dari siapa pak?” “Edo..” Katanya dengan posisi sok keren. Lalu gadis itu masuk ke rumah tersebut, dan kemudian beberapa saat kemudian keluar lagi “Tunggu sebentar pak..” lalu masuk lagi ke dalam. sekitar 7 menit kemudian, keluar seorang pria berkumis berambut agak jabrik memakai kaoas putih dan celana pendek keluar dari rumah itu, “Eh Ed.. apa kabar?” tanpa sengaja Anto melihat mobil baru Edo, “Silakan masuk bos..” katanya, Edo kemudian masuk ke dalam rumahnya, melewati garasi Anto, yang dimana terdapat sebuah mobil Toyota Alphard keluaran 2004 berwarna abu-abu.

    “Habis darimana nih?” tanya Anto.
    “Biasalah abis jalan-jalan..”
    “Gimana kerjaan? Lancar?”
    “Lancar.”
    “Kalo ada proyek bagi donk..” kata pria berkumis itu dengan tatapan memohon.

    Anto adalah seorang Staff dari sebuah perusahaan swasta, dan seperti halnya saudara Edo yang lain, dia juga kredit mobil, dia juga salah satu yang sering melecehkan Edo, walau tahu Edo mempunyai jabatan yang lebih tinggi darinya, tetapi Edo seringkali dianggap tidak ada saat dia bertemu dirinya di pesta, kondangan atau acara keluarga. “Wah Ed lu kan udah jadi bos sekarang bagi proyek donk..” “Nah lu kan kerja di perusahaan masak mau gua bagi proyek?” “Gampang bos, semua bisa diatur!”, “Ya boleh deh kapan-kapan..”, Edo dan Anto kemudian berbincang sampai sekitar 15 menit sebelum Edo mohon diri.

    Selanjutnya Edo menancap gas mobilnya menuju ke arah timur, tepatnya ke arah Karawang Barat, di sana dia datang ke sebuah perumahan yang cukup mewah, lalu dia menuju ke sebuah rumah bewarna kuning, yang berlantai 2, dan memiliki pagar yang tinggi berwarna hijau, yang di dalamnya terdapat 5 buah mobil di tempat parkir mobilnya.

    Cerpen Karangan: Ananda Syahendar
    Facebook: Ananda Syahendar

    Artikel Terkait

    Si Sombong Edo (Part 1)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email