Teman Baru

Baca Juga :
    Judul Cerpen Teman Baru

    Tahun ajaran baru dimulai dan aku mendapati namaku terletak di kelas XI ipa 2. Ada 36 murid di dalamnya dan tak satupun dari mereka yang benar benar kukenal.

    Aku mengembuskan nafas, membayangkan diriku berada di antara orang orang asing selalu berhasil membuatku sesak nafas. Aku hanya seorang pendiam yang tersangkut di antara riuhnya kelas baruku.

    Seusai upacara, aku mengaitkan lengan tas ke pundak dan meninggalkan kumpulan murid lain yang terlambat. Aku memasuki ruangan itu dan mencari bangku kosong. Hanya tersisa bagian paling belakang. Di sebelahku masih ada satu bangku yang kosong. Mustahil saja ada yang mau berteman denganku dan duduk di situ, aku memalingkan muka dari bangku itu. Tatapan dari penghuni ruang kelas mulai berganti menjadi bisikan kecil yang kuabaikan.

    Dalam beberapa hari, walikelas akhirnya melakukan perubahan kecil di kelas kami. Tempat duduk yang sebelmnya dirasa tak adil karena murid yang bertubuh besar duduk di depan menghalangi murid yang mungil, akhirnya dirubah. Aku duduk berdua dengan seorang yang bernama Dina, itu pun kuketahui selang dua hari kemudian.

    Tak banyak komunikasi yang bisa kujalan denagn Dina. Walaupun kadang aku mencoba mengajak untuk mengobrol topik tertentu, dia merespon secara singkat, kadang hanya senyuman. Dia tak banyak bicara padaku, tapi lebih ke teman dekatnya yang duduk tepat di depannya. Selain itu dia termasuk kecanduan gadget, sangat cocok berpacaran dengan Iphonenya itu.

    Aku sedikit risih melihat kedekatannya dengan Iphonenya itu. Bukan karena cemburu bila setiap harinya ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Iphone dibanding mengobrol denganku. Bayangkan saja, setiap guru yang masuk juga ikut tidak dihiraukannya, juga dengan pelajarannya. Semua catatan ketinggalan, PR tak pernah dibuatnya.

    Suatu hari, aku sedang sangat bahagia, teman sekelasku waktu kelas 10 mengajak pergi makan rame rame. Setelah obrolan menyenangkan dengan teman lama, akhirnya bel berbunyi nyaring. Di sebelahku, Dina masih saja sibuk dengan pacar tak bernyawanya itu, Iphone di tangan kanan sambil tertawa entah karena apa.
    Timbul sebuah ide untuk mengerjainya. Diam diam aku sudah berada di belakangnya dan tiba tiba,
    “Dooor!! Hahahahah” seruku dari belakang sambil memegang pundaknya. Responnya sungguh diluar dugaan.
    “AAAAaaah” teriaknya terkejut dan menoleh ke belakang. Saking terkejutnya, benda kesayangan di tangannya terlepas dan jatuh meluncur ke bawah ketika sebelumnya terlempar dan menimbulkan bunyi gedebuk yang keras.
    Sunggguh, aku panik luar biasa. Dengan sisa keberanian, aku memungut benda itu dan langsung dirampas secara kasar oleh Dina. Sangat kusesali, layarnya sedikit retak di bagian kiri.
    “Tessa, LO APA APAAN SIH? LO GAK TAU GUA PALING ANTI DIKEJUTIN?” raungnya marah dengan tatapan membunuh.
    “Lo liat gimana perbuatan lo ngancurin hape gue separah ini! Gak mau tau pokoknya lo harus ganti secepatnya!” kemarahan Dina sampai ke ubun ubun dan mendorongku keras sampai aku terjerembab ke lantai.
    “aa.ku m.minta maaf Din. Aku cuma mau bercanda doang sama kamu, aku gak tau bakal begini jadinya” ucapku terbata bata menahan tangis. Semua yang di kelas menyaksikan kejadian dan beramai ramai mendekati kami berdua.
    “Gu enggak akan maafin sebelum lo ganti rugi ini semua” tunjuknya padaku dan memperlihatkan Iphonenya dengan tatapan mengancam.

    Setelah kejadian itu, sikap Dina mulai berubah padaku. Ia benar benar memusuhiku di kelas. Bangku di sebelah kiriku kosong setiap harinya, Dina tidak sudi duduk denganku. Setiap hari kulewati dengan aura permusuhan yang semakin jelas di antara kami berdua.
    Aku sungguh tidak enak hati, rasanya suasana kelas tidak lagi menyenangkan bagiku, aku bahkan tidak semangat belajar. Maka siang itu setelah jam istirahat berbunyi aku mendekatinya. Kukeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di atas meja.
    “Din, aku tau kamu marah. Aku tau akulah yang salah. Aku pengen minta maaf, semoga kamu mau maafin aku. Aku baru punya uang sekarang untuk memperbaiki hape kamu, semoga gak terlalu terlambat” kataku pelan.
    Tangannya berhenti menulis dan menoleh kepadaku. Tanpa kuduga sama sekali, ia berdiri dan menghambur ke arahku. Aku tak bereaksi apa apa, terlalu terkejut dan tidak membalas pelukan itu. Sampai pelukan itu terlepas dan Dina mundur beberapa langkah di hadapanku.
    “Gak Tess, lo nggak perlu minta maaf juga udah gue maafin. Kemarin itu gue gak bisa ngontrol emosi dan marah besar ke elo”
    Sedikit jeda, Dina lantas tersenyum padaku.
    “Hape gue udah baik kok. Dan tau nggak, selama hape gue diservice, gue baru sadar kalau gue hampir kehilangan tujuan gue yang sebenarnya datang ke sekolah. Selama ini, gue datang ke sekolah Cuma sekadar ngabsen, bukan untuk belajar.”
    “Sekarang gue bisa berhenti main hape, membagi waktu untuk belajar lebih fokus. Untung aja gue nggak ketinggalan banyak pelajaran ya”
    Aku terdiam. Pantas saja beberapa hari ini Dina terlihat berubah. Ia terlihat lebih rajin akhir akhir ini. Semua catatan disalinnya, Pr dikumpul tepat waktu. Benar benar berbeda dengan Dina yang kulihat pada awal sekolah dulu.
    “Wah, aku senang kamu berubah kayak gini Din.”
    “Aku juga, ternyata semua ini ada hikmahnya juga. Hmm, gimana kalau uang ini kita pake untuk makan bareng di kantin. Yuuk Tess!” ucap Dina dengan semangat dan menggeret lenganku ke kantin, padahal aku sudah membawa bekal dari rumah. Ya sudahlah, kali ini aja.

    Cerpen Karangan: Ruby Nonna Yolanda
    Facebook: Ruby Nonna Yolanda

    Artikel Terkait

    Teman Baru
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email