Judul Cerpen Cinta Ibrahim
Jika dulu kamu pernah berkata “Aisyah, kamu adalah orang yang menuntunku pada cahaya”, jangan kau sangka Aisyahmu ini adalah cahaya yang tak pernah salah. Dulu pun kau adalah Ibrahim bagiku, yang telah memecah berhala ketakberdayaanku pada takdir yang mengambil alih hidup ayah.
Ayah memercayakanmu sebagai sandaran kedua bagiku setelah kepergiannya, apalagi saat kau berkata akan menyempurnakan separuh agamamu dengan aku sebagai pelengkap jiwa.
Tapi, ternyata jembatan yang kita lalui bersama dua tahun lamanya adalah jalan yang tak diridhai-Nya. Hubungan ini salah, dia tak berjalan sesuai kompasNya, kita putus Dirga.
Aku belum mengerti maksudmu Aisyah, sungguh aku tak pernah bermain kata saat mengatakan kau akan menjadi pelengkap jiwa saat aku telah siap menyempurnakan separuh agama, bukankah ayahmu memercayakanku sebagai sandaran kedua untukmu, apa kau tak lagi memerlukan sandaran itu?, apa kau menjumpai Ibrahim yang lain selain diriku?
Dirga, tidaklah kujumpai Ibrahim yang lain, bukan pula tak ingin bersamamu menjalani biduk rumah tangga, aku hanya tak bisa menunggu siapmu menyempurnakan separuh agama, aku tak ingin kita terikat pada cinta yang salah, hubungan ini kita akhiri saja.
Betapa terheran-heran Dirga atas keputusan Aisyah mengakhiri hubungan dengannya, apa yang sudah membuat perempuannya tak lagi ingin menjadi cahaya di hati Ibrahimnya?
Dua hari setelah pertemuan itu, Dirga memutuskan mencari tau, dia tidak akan terima jika ada laki-laki lain yang berusaha menggantikan posisinya sebagai Ibrahim di hati Aisyah. Baginya, pasti ada sebab perempuan cerdas itu memutuskan statusnya.
Cinta yang salah, tak bisa menunggu siap, apa maksudnya? Adakah yang mendahuluiku melamar Aisyah?
Sebulan lebih Dirga mencari tau, dia kini paham mengapa Aisyah berubah. Tidak hanya dari pola pikirnya, tapi hampir seluruh sisi dari hidupnya, cara berbicara, dia kini tak banyak bercanda, berbicara hanya yang mendatangkan manfaat bagi sesama dan juga dirinya sendiri. Dari cara memandang, kini Aisyah lebih banyak menundukkan pandangan, terlebih dari sisi berpakaian, Dirga tak lagi menemui jeans yang melingkar di betis Aisyah, kini berganti dengan baju yang seperti jubah, sempurna menutupi hingga mata kaki dan bahkan menyentuh tanah. Dan kerudung, kini lebih lebar dari yang pernah dikenakan Aisyah ketika masih bersama Dirga, bahkan kerudung itu sampai menutupi paha. Kini betul-betul tak ada lagi postur tubuh yang nampak dari diri Aisyah. Dalam hati Dirga mengakui “Aku tak salah mencintaimu Aisyah”.
Dua tahun berlalu, Dirga begitu menikmati kesendiriannya, dan dari diri Dirga selama dua tahun nyaris tak ada berubah, begitu juga dengan perasaannya pada Aisyah, kadang Dirga dalam hati bertanya-tanya “bagaimana keadaan Aisyahku sekarang?, dia pasti terlihat lebih cerdas dari sebelumnya”. Bukan karena Dirga tak pernah melihat Aisyah, sebab keduanya berada dalam satu kampus yang sama. Namun, Dirga makin dipenuhi rasa kagum di dada untuk Aisyah, bagaimana tidak, perempuan cerdas itu sekarang bahkan menjadi pembicara di seminar-seminar keislaman kampus. Bangga, Dirga makin yakin tak pernah salah jika selalu menyimpan cinta untuk Aisyah.
Hingga datang kabar yang begitu mengejutkan, seperti air laut yang tiba-tiba menguap, kesedihan Dirga seakan memenuhi rongga dada, sesak rasanya, empat tahun aku mencintainya, cinta yang kubiarkan tumbuh sejak SMA, kini harus pergi terbawa arus samudra, Aisyah akan menikah.
“Hai Dir, ternyata mantanmu itu sudah mau nikah, kamu kapan nyusulnya? Gak bagus loh berlama-lama!, jangan tunggu sampai dapat kerja, jangan takut miskin setelah nikah, Allah akan membuat kaya jika miskin, kamu keduluan sama Muhammad Ilyas, toga belum di kepala, dia berani mengambil langkah menikahi Aisyah”.
Aku hanya diam di bungkam seribu tanya mendengar Martin berbicara, Muhammad Ilyas, laki-laki yang menggeser posisiku sebagai Ibrahim bagi Aisyah. Aku baru sadar Allah, bertahun-tahun aku hanya menghabiskan waktu mencintai wanita shalihah tanpa sibuk memperbaiki diri menjadi imam yang shalih pula, aku tak pernah memperhatikan kalau kau pernah mengatakan “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” [An-Nur:26]
Dan hatiku keji karena hanya berani mencintai tanpa berani menghalalkan, takut tak dapat menafkahi padahal Kaulah yang Maha Pemberi, aku takut miskin, padahal aku adalah hamba dari yang Maha Kaya.
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [An-Nur:32]
Kini aku sadar, bahwa Ibrahim ini memang tidak dicipta untuk Aisyah…
Muhammad lah yang pantas bersamanya…
Cerpen Karangan: Rafia Munawwara Ashar
Facebook: Rafia Munawwara Ashar
Jika dulu kamu pernah berkata “Aisyah, kamu adalah orang yang menuntunku pada cahaya”, jangan kau sangka Aisyahmu ini adalah cahaya yang tak pernah salah. Dulu pun kau adalah Ibrahim bagiku, yang telah memecah berhala ketakberdayaanku pada takdir yang mengambil alih hidup ayah.
Ayah memercayakanmu sebagai sandaran kedua bagiku setelah kepergiannya, apalagi saat kau berkata akan menyempurnakan separuh agamamu dengan aku sebagai pelengkap jiwa.
Tapi, ternyata jembatan yang kita lalui bersama dua tahun lamanya adalah jalan yang tak diridhai-Nya. Hubungan ini salah, dia tak berjalan sesuai kompasNya, kita putus Dirga.
Aku belum mengerti maksudmu Aisyah, sungguh aku tak pernah bermain kata saat mengatakan kau akan menjadi pelengkap jiwa saat aku telah siap menyempurnakan separuh agama, bukankah ayahmu memercayakanku sebagai sandaran kedua untukmu, apa kau tak lagi memerlukan sandaran itu?, apa kau menjumpai Ibrahim yang lain selain diriku?
Dirga, tidaklah kujumpai Ibrahim yang lain, bukan pula tak ingin bersamamu menjalani biduk rumah tangga, aku hanya tak bisa menunggu siapmu menyempurnakan separuh agama, aku tak ingin kita terikat pada cinta yang salah, hubungan ini kita akhiri saja.
Betapa terheran-heran Dirga atas keputusan Aisyah mengakhiri hubungan dengannya, apa yang sudah membuat perempuannya tak lagi ingin menjadi cahaya di hati Ibrahimnya?
Dua hari setelah pertemuan itu, Dirga memutuskan mencari tau, dia tidak akan terima jika ada laki-laki lain yang berusaha menggantikan posisinya sebagai Ibrahim di hati Aisyah. Baginya, pasti ada sebab perempuan cerdas itu memutuskan statusnya.
Cinta yang salah, tak bisa menunggu siap, apa maksudnya? Adakah yang mendahuluiku melamar Aisyah?
Sebulan lebih Dirga mencari tau, dia kini paham mengapa Aisyah berubah. Tidak hanya dari pola pikirnya, tapi hampir seluruh sisi dari hidupnya, cara berbicara, dia kini tak banyak bercanda, berbicara hanya yang mendatangkan manfaat bagi sesama dan juga dirinya sendiri. Dari cara memandang, kini Aisyah lebih banyak menundukkan pandangan, terlebih dari sisi berpakaian, Dirga tak lagi menemui jeans yang melingkar di betis Aisyah, kini berganti dengan baju yang seperti jubah, sempurna menutupi hingga mata kaki dan bahkan menyentuh tanah. Dan kerudung, kini lebih lebar dari yang pernah dikenakan Aisyah ketika masih bersama Dirga, bahkan kerudung itu sampai menutupi paha. Kini betul-betul tak ada lagi postur tubuh yang nampak dari diri Aisyah. Dalam hati Dirga mengakui “Aku tak salah mencintaimu Aisyah”.
Dua tahun berlalu, Dirga begitu menikmati kesendiriannya, dan dari diri Dirga selama dua tahun nyaris tak ada berubah, begitu juga dengan perasaannya pada Aisyah, kadang Dirga dalam hati bertanya-tanya “bagaimana keadaan Aisyahku sekarang?, dia pasti terlihat lebih cerdas dari sebelumnya”. Bukan karena Dirga tak pernah melihat Aisyah, sebab keduanya berada dalam satu kampus yang sama. Namun, Dirga makin dipenuhi rasa kagum di dada untuk Aisyah, bagaimana tidak, perempuan cerdas itu sekarang bahkan menjadi pembicara di seminar-seminar keislaman kampus. Bangga, Dirga makin yakin tak pernah salah jika selalu menyimpan cinta untuk Aisyah.
Hingga datang kabar yang begitu mengejutkan, seperti air laut yang tiba-tiba menguap, kesedihan Dirga seakan memenuhi rongga dada, sesak rasanya, empat tahun aku mencintainya, cinta yang kubiarkan tumbuh sejak SMA, kini harus pergi terbawa arus samudra, Aisyah akan menikah.
“Hai Dir, ternyata mantanmu itu sudah mau nikah, kamu kapan nyusulnya? Gak bagus loh berlama-lama!, jangan tunggu sampai dapat kerja, jangan takut miskin setelah nikah, Allah akan membuat kaya jika miskin, kamu keduluan sama Muhammad Ilyas, toga belum di kepala, dia berani mengambil langkah menikahi Aisyah”.
Aku hanya diam di bungkam seribu tanya mendengar Martin berbicara, Muhammad Ilyas, laki-laki yang menggeser posisiku sebagai Ibrahim bagi Aisyah. Aku baru sadar Allah, bertahun-tahun aku hanya menghabiskan waktu mencintai wanita shalihah tanpa sibuk memperbaiki diri menjadi imam yang shalih pula, aku tak pernah memperhatikan kalau kau pernah mengatakan “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” [An-Nur:26]
Dan hatiku keji karena hanya berani mencintai tanpa berani menghalalkan, takut tak dapat menafkahi padahal Kaulah yang Maha Pemberi, aku takut miskin, padahal aku adalah hamba dari yang Maha Kaya.
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [An-Nur:32]
Kini aku sadar, bahwa Ibrahim ini memang tidak dicipta untuk Aisyah…
Muhammad lah yang pantas bersamanya…
Cerpen Karangan: Rafia Munawwara Ashar
Facebook: Rafia Munawwara Ashar
Cinta Ibrahim
4/
5
Oleh
Unknown
