Judul Cerpen Goodbye Hikkikomori
Hanya dengan sebuah joystick dan beberapa cemilan, remaja tampan ini rela seharian tidak keluar kamar. Dengan headset yang masih terpasang di telinganya, Shirou terus larut dalam aktivitasnya bermain game. Tanpa rasa berdosa lelaki berkaus putih langsung merampas cemilan milik Shirou. Sayangnya, Shirou tak merespon. “KRESS! KRESS! Berubahlah dan mulailah bersikap sedikit dewasa” kata Jason sambil menikmati hasil rampasannya. “Cerewet!” jawab Shirou ketus. “Pantas saja jadi jones akut. Tak ada wanita yang betah dengan sifat kekanak-kanakanmu”. Jason menjulurkan lidahnya tanda mengejek Shirou. DEG! Shirou diam sejenak, ekspresi wajahnya sulit dimengerti. Mengetahui temannya bersikap aneh seperti itu, Jason melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Shirou.
Seorang lelaki berkacamata masuk tanpa izin dan, “uappa?!”. Datang lagi orang dengan wajah masam. “Shirou” batinnya. Jason pun menyadari keberadaan kedua temannya. “Hei! Kenapa diam saja disitu?” katanya. “Eh! Ngomong-ngomong dia kenapa?” sahut Yamada. Willy mendekati Shirou dan tanpa basa-basi langsung mengguncangkan tubuh Shirou. Alhasil Shirou sadar dan terkejut, “Sejak kapan kalian ada disini, hah?!” bentaknya tiba-tiba. Setelah melihat layar PC, barulah ia menyadari tulisan “game over!”. Kemudian Shirou menjitak, tepatnya menghajar temannya satu per satu. Mereka bertiga pun langsung terkapar di lantai.
Masih dengan keadaan kepala yang sakit, Yamada berkata “sampai matahari padam pun kamu akan terus begini kalau tak mau melihat ke luar lagi”. Dia merampas joystick milik Shirou. “Kamu tak perlu mengaturku, paham!” jawab Shirou kesal. Dia bangkit dari duduknya dan pindah mengambil handphonenya. Dengan posisi berkacak pinggang Willy menghampiri Shirou dan berkata, “Ayolah jalan-jalan ke luar, sebentar saja”. Tetapi Shirou tak merespon. Dengan sigap Jason dan Yamada menahan kedua tangan Shirou sambil berdiri. Dan, “ciatt, hyaaa!”. “Apa ap-” belum selesai Shirou bicara, Willy memukul leher Shirou dengan keras.
“Ugh! Berat sekali” keluh Willy. “Aku sudah menyetir, kenapa aku yang disuruh membawanya?!” katanya lagi. “Diam. Selalu saja mengeluh” sahut Jason. Yamada mulai sedikit emosi. “Berisik” katanya kesal. Dari atas lapangan wanita dengan kuncir ekor kuda berteriak. “Hei kalian! Kalian sedang apa?!” katanya bagai petir menyambar. Dia dan temannya pun turun. “Yasichi!” seru Willy. Dia membenarkan kacamatanya, dan tanpa disadari Willy melepaskan tepatnya membanting Shirou yang tengah pingsan. Shirou sadar, “silau sekali” kata Shirou, dia mencoba bangun. “Anu” Jason memegang tangan Shirou. “Apa apaan ini?!” Shirou menepis tangan Jason dan langsung kabur. “Hei, jangan marah dulu!” teriak Yamada. “Dia kenapa?” tanya Jenny.
Di atas jembatan Shirou duduk memeluk lututnya, rambut hitamnya tertiup angin. Tiba-tiba Hana datang dan berdiri sedikit jauh darinya. Lelaki tampan itu memejamkan kedua matanya dan bersandar pada pagar jembatan. “Kenapa murung begitu?” tanya Hana memecah keheningan. “Untuk apa tanya-tanya?” jawab Shirou lirih. Ditanya malah balas bertanya, dasar. Hana duduk di dekat Shirou. “Hari ini ada festival otaku days, senpai tidak ikut?” tanyanya lagi. Benar juga, batin Shirou. Dia mengacak acak rambutnya sendiri. “Malas” katanya. Hana berdiri berkacak pinggang, “ayolah”. Hana langsung menarik tangan Shirou dan berlari.
“Jangan diam saja” kata Hana. Shirou tampak dingin. “Sebenarnya apa yang menyebabkan senpai sampai mengurung diri begitu?” tanya Hana pada Shirou. “Malas. Aku benci dengan sikap orang yang tak menganggapku, datang padaku saat butuh saja lalu mengacuhkanku begitu saja. Jadi aku tak mau peduli dengan orang lain lagi” jawab Shirou santai. Ia meneguk minumannya sampai habis. “Aneh” kata Hana. Lalu ia menghela napas panjang. Namun Shirou hanya diam saja, suasana antara mereka kembali hening.
Kamu ini tak mengerti Hana, kata Shirou dalam hati. “Senpai melamun?” Hana mengguncangkan tubuh Shirou. “Tidak” jawab Shirou singkat, padat dan jelas. Hana menghentikan aktivitasnya, “Ayolah. Masih ada kok orang peduli dengan senpai”. DEG! DEG! Benar juga, batin Shirou. Kenapa jadi deg degan gini sih?, batin Shirou lagi. “Memangnya kenapa?” tanya Shirou angkat bicara. Hana menghela napas dan berkata, “hidup ini bukan untuk menuntut orang lain tentang apa yang mereka lakukan untuk senpai. Tapi, apa yang sudah senpai lakukan untuk orang lain. Menurutku sih” jelas Hana panjang x lebar x tinggi.
Kata katanya barusan membuat jantungku berdetak lebih cepat, darahku serasa berhenti mengalir. Ditambah lagi kencangnya angin seperti menembus urat dan tulang tubuhku. Pikiranku benar-benar kacau. “Aku mengerti, terima kasih Hana” Shirou menepuk pundak Hana sambil tersenyum tipis. Hana terlihat senang dan membalas senyuman Shirou. “Lalu, sekarang apa?” tanya Hana. “Entahlah”. Shirou bangkit dari duduknya dan BRUAKK!!
“Hat-chii!” Jason terjatuh dari atas pohon. Kemudian Yamada turun dari atas pohon. Shirou dan Hana terkejut. “Cuma bulu burung kok” kata Yamada pada Jason. Jason mengusap hidungnya “diam!” katanya ketus. “Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Hana. Jason dan Yamada hanya nyengir tidak jelas. “Jangan aneh-aneh!” kata Shirou mengeluarkan death glarenya. Merasakan aura aneh Yamada angkat bicara, “M-masih ada yang lain kok” katanya terbata bata. “Hey, keluar dong!” teriak Jason. Satu laki-laki ditambah dua perempuan, mereka keluar dari semak-semak.
“Shirou belum mandi ya?” kata Yasichi asbun. Shirou hanya diam saja tak peduli. Namun yang lainnya tertawa jahat. “Sudah. Aku mau pulang” Shirou langsung ngacir. Yang lainnya pun mengekor.
Shirou membawa ember menuju teras depan. “Kainnya mana? Lama sih!”. “Pelnya mana?”. “Oi, pewangi-” Shirou mulai panas, “Berisik! Cari sendiri!” katanya kesal. Yasichi, Hana dan Jenny hanya tertawa. Semuanya membantu Shirou membersihkan rumahnya. Aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. ‘Goodbye Hikkikomori’.
Cerpen Karangan: Annisa’ul Insyirah
Facebook: Annisa Insyirah II
Hanya dengan sebuah joystick dan beberapa cemilan, remaja tampan ini rela seharian tidak keluar kamar. Dengan headset yang masih terpasang di telinganya, Shirou terus larut dalam aktivitasnya bermain game. Tanpa rasa berdosa lelaki berkaus putih langsung merampas cemilan milik Shirou. Sayangnya, Shirou tak merespon. “KRESS! KRESS! Berubahlah dan mulailah bersikap sedikit dewasa” kata Jason sambil menikmati hasil rampasannya. “Cerewet!” jawab Shirou ketus. “Pantas saja jadi jones akut. Tak ada wanita yang betah dengan sifat kekanak-kanakanmu”. Jason menjulurkan lidahnya tanda mengejek Shirou. DEG! Shirou diam sejenak, ekspresi wajahnya sulit dimengerti. Mengetahui temannya bersikap aneh seperti itu, Jason melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Shirou.
Seorang lelaki berkacamata masuk tanpa izin dan, “uappa?!”. Datang lagi orang dengan wajah masam. “Shirou” batinnya. Jason pun menyadari keberadaan kedua temannya. “Hei! Kenapa diam saja disitu?” katanya. “Eh! Ngomong-ngomong dia kenapa?” sahut Yamada. Willy mendekati Shirou dan tanpa basa-basi langsung mengguncangkan tubuh Shirou. Alhasil Shirou sadar dan terkejut, “Sejak kapan kalian ada disini, hah?!” bentaknya tiba-tiba. Setelah melihat layar PC, barulah ia menyadari tulisan “game over!”. Kemudian Shirou menjitak, tepatnya menghajar temannya satu per satu. Mereka bertiga pun langsung terkapar di lantai.
Masih dengan keadaan kepala yang sakit, Yamada berkata “sampai matahari padam pun kamu akan terus begini kalau tak mau melihat ke luar lagi”. Dia merampas joystick milik Shirou. “Kamu tak perlu mengaturku, paham!” jawab Shirou kesal. Dia bangkit dari duduknya dan pindah mengambil handphonenya. Dengan posisi berkacak pinggang Willy menghampiri Shirou dan berkata, “Ayolah jalan-jalan ke luar, sebentar saja”. Tetapi Shirou tak merespon. Dengan sigap Jason dan Yamada menahan kedua tangan Shirou sambil berdiri. Dan, “ciatt, hyaaa!”. “Apa ap-” belum selesai Shirou bicara, Willy memukul leher Shirou dengan keras.
“Ugh! Berat sekali” keluh Willy. “Aku sudah menyetir, kenapa aku yang disuruh membawanya?!” katanya lagi. “Diam. Selalu saja mengeluh” sahut Jason. Yamada mulai sedikit emosi. “Berisik” katanya kesal. Dari atas lapangan wanita dengan kuncir ekor kuda berteriak. “Hei kalian! Kalian sedang apa?!” katanya bagai petir menyambar. Dia dan temannya pun turun. “Yasichi!” seru Willy. Dia membenarkan kacamatanya, dan tanpa disadari Willy melepaskan tepatnya membanting Shirou yang tengah pingsan. Shirou sadar, “silau sekali” kata Shirou, dia mencoba bangun. “Anu” Jason memegang tangan Shirou. “Apa apaan ini?!” Shirou menepis tangan Jason dan langsung kabur. “Hei, jangan marah dulu!” teriak Yamada. “Dia kenapa?” tanya Jenny.
Di atas jembatan Shirou duduk memeluk lututnya, rambut hitamnya tertiup angin. Tiba-tiba Hana datang dan berdiri sedikit jauh darinya. Lelaki tampan itu memejamkan kedua matanya dan bersandar pada pagar jembatan. “Kenapa murung begitu?” tanya Hana memecah keheningan. “Untuk apa tanya-tanya?” jawab Shirou lirih. Ditanya malah balas bertanya, dasar. Hana duduk di dekat Shirou. “Hari ini ada festival otaku days, senpai tidak ikut?” tanyanya lagi. Benar juga, batin Shirou. Dia mengacak acak rambutnya sendiri. “Malas” katanya. Hana berdiri berkacak pinggang, “ayolah”. Hana langsung menarik tangan Shirou dan berlari.
“Jangan diam saja” kata Hana. Shirou tampak dingin. “Sebenarnya apa yang menyebabkan senpai sampai mengurung diri begitu?” tanya Hana pada Shirou. “Malas. Aku benci dengan sikap orang yang tak menganggapku, datang padaku saat butuh saja lalu mengacuhkanku begitu saja. Jadi aku tak mau peduli dengan orang lain lagi” jawab Shirou santai. Ia meneguk minumannya sampai habis. “Aneh” kata Hana. Lalu ia menghela napas panjang. Namun Shirou hanya diam saja, suasana antara mereka kembali hening.
Kamu ini tak mengerti Hana, kata Shirou dalam hati. “Senpai melamun?” Hana mengguncangkan tubuh Shirou. “Tidak” jawab Shirou singkat, padat dan jelas. Hana menghentikan aktivitasnya, “Ayolah. Masih ada kok orang peduli dengan senpai”. DEG! DEG! Benar juga, batin Shirou. Kenapa jadi deg degan gini sih?, batin Shirou lagi. “Memangnya kenapa?” tanya Shirou angkat bicara. Hana menghela napas dan berkata, “hidup ini bukan untuk menuntut orang lain tentang apa yang mereka lakukan untuk senpai. Tapi, apa yang sudah senpai lakukan untuk orang lain. Menurutku sih” jelas Hana panjang x lebar x tinggi.
Kata katanya barusan membuat jantungku berdetak lebih cepat, darahku serasa berhenti mengalir. Ditambah lagi kencangnya angin seperti menembus urat dan tulang tubuhku. Pikiranku benar-benar kacau. “Aku mengerti, terima kasih Hana” Shirou menepuk pundak Hana sambil tersenyum tipis. Hana terlihat senang dan membalas senyuman Shirou. “Lalu, sekarang apa?” tanya Hana. “Entahlah”. Shirou bangkit dari duduknya dan BRUAKK!!
“Hat-chii!” Jason terjatuh dari atas pohon. Kemudian Yamada turun dari atas pohon. Shirou dan Hana terkejut. “Cuma bulu burung kok” kata Yamada pada Jason. Jason mengusap hidungnya “diam!” katanya ketus. “Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Hana. Jason dan Yamada hanya nyengir tidak jelas. “Jangan aneh-aneh!” kata Shirou mengeluarkan death glarenya. Merasakan aura aneh Yamada angkat bicara, “M-masih ada yang lain kok” katanya terbata bata. “Hey, keluar dong!” teriak Jason. Satu laki-laki ditambah dua perempuan, mereka keluar dari semak-semak.
“Shirou belum mandi ya?” kata Yasichi asbun. Shirou hanya diam saja tak peduli. Namun yang lainnya tertawa jahat. “Sudah. Aku mau pulang” Shirou langsung ngacir. Yang lainnya pun mengekor.
Shirou membawa ember menuju teras depan. “Kainnya mana? Lama sih!”. “Pelnya mana?”. “Oi, pewangi-” Shirou mulai panas, “Berisik! Cari sendiri!” katanya kesal. Yasichi, Hana dan Jenny hanya tertawa. Semuanya membantu Shirou membersihkan rumahnya. Aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. ‘Goodbye Hikkikomori’.
Cerpen Karangan: Annisa’ul Insyirah
Facebook: Annisa Insyirah II
Goodbye Hikkikomori
4/
5
Oleh
Unknown
