Judul Cerpen Hadiah Dari Sang Mantan
Ketika sedang belanja di sebuah mall, saat Sindy mau pulang, tiba-tiba hujan deras, waktu itu pertengahan bulan Desember, jadi musim dingin pun menyelimuti kota Semarang, tak dapat berbuat apa, Sindy yang sedang belanja di CitraLand Semarang, harus terpaksa menunggu hujan reda terlebih dahulu, sambil menunggu hujan reda, Sindy nongkrong di sebuah resto yang berada di dalam mall tersebut sambil menikmati suasana di sekelilingnya.
“ibu, Sindy kayaknya telat pulang, soalnya hujannya lebat sekali, tak mungkin Sindy naik motor dengan kondisi cuaca yang seperti ini”. Kata Sindy kepada ibunya lewat telepon selular.
Sindy adalah salah satu mahasiswa di sebuah universitas swasta di Semarang, dia mengambil jurusan ekonomi perbankan, dia baru menginjak semester lima, dia termasuk dari golongan keluarga yang sangat sederhana, di samping kuliah, kesibukannya dia diisi kerja di sebuah tempat karaokean, jangan salah, Sindy orangnya baik, bisa jaga diri, dan cewek yang benar-benar tau bagaimana yang harus dilakukan dan harus ditinggalkan. Beberapa jam kemudian tiba-tiba hujan berhenti, cepat-cepat Sindy bergegas untuk pulang ke rumah, karena cuaca masih terlihat mendung, takutnya hujan akan turun lagi. Ketika Sindy hendak ke luar dari lift, tiba-tiba ada seorang cowok yang buru-buru masuk ke dalam lift, Sindy yang sudah berada di luar tersenggol cowok itu sehingga dia terjatuh.
“aduh, kurang ajar tu cowok”. Teriak Sindy.
“maaf… maaf mbak gak sengaja, aku buru-buru soalnya”. Kata cowok tersebut.
Cepat-cepat Sindy bergegas mengambil motornya dan pulang ke rumah. Ketika sedang di jalan menuju rumah, tiba-tiba Sindy kena siraman air yang mobil yang sedang lewat, baju Sindy basah kuyup. Sesampai di rumah Sindy menangis terisak-isak.
“kenapa kamu sayang? Baju kamu kok basah kuyup, katanya tadi berteduh dulu nunggu hujan reda?”. Kata ibu Sindy.
“hari ini Sindy benar-benar sial bu, sudah ditabrak cowok sampai jatuh di mall, di jalan keguyur air yang sedang dilewati mobil deh”. Jawab Sindy.
“kak Sindy harus mandi air laut itu biar tidak sial!”. Ledek Vino adik laki-laki Sindy.
“udah, sudah mandi dulu sana, gak usah kamu dengerin kata-kata adikmu itu yang sedang bercanda”. Kata ibu Sindy.
Bergegas Sindy masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya itu. Setelah mandi Sindy duduk-duduk di ruang tengah sambil membantu ibunya menyiapkan pesenan catering pesanan tetangganya, tak lama kemudian terdengar suara ketokan pintu, cepat-cepat Sindy menghampirinya, ternyata itu adalah Vina teman sekampus Sindy.
“Sin, mau pinjam catatan pak Darmo kemarin, aku kan kemarin lagi ada acara, jadi gak bisa masuk”. Kata Vina.
“iya tunggu sebentar Vin, masuk dulu, kamu gak buru-buru kan? Itu dicari ibu sekalian bantu nyiapin catering buat tetangga sebelah, hehehe”. Pinta Sindy ke Vina dengan nada bercandaan.
Vina dan Sindy sudah seperti saudara, jadi setiap Vina main ke rumah Sindy sudah biasa, tinggal main masuk ke luar rumah saja, sudah seperti rumahnya sendiri, Ibu Sindy pun sudah menganggap Vina seperti anaknya sendiri, sebalinya dengan keluarga Vina terhadap Sindy. Sindy menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi kepada Vina sambil mereka berdua membantu ibunya membungkus kue.
“sudahlah Sin, gak usah kamu fikirkan, namanya juga sudah nasib”. Ledek Vina.
“nasib gimana, salah cowok itu sama mobil itu, udah tau hujan banyak kubangan berisi air masih saja kencang-kencang naik mobilnya”. Kata Sindy dengan nada agak acuh.
“oh ya, gimana kabar David di Denpasar? Masih baik-baik saja dan lancar kan kominikasi kalian berdua, sayang lo baru kenal 1 bulan masa-masa anget-angetnya malah dia kuliah di Denpasar”. Tanya Vina ke Sindy.
“sudahlah Vin, gak usah dibahas lagi masalah dia, orangnya aneh, masa kangen tapi aku suruh telepon duluan? Harusnya kalau dia kangen dia telepon kek, bilangnya gak ada pulsa, kalau suruh isi bbmnya bisa, selagi telepon gak bisa? Sadar dirilah dia jadi cowok, sayang sih aku sama dia, tapi eneg dengan tingkah dan kelakuan dia lama-lama”. Jawab Sindy dengan jengkel.
Sebenarnya Sindy punya cowok namanya David, anak Semarang juga, yang baru dia kenal beberapa bulan kemarin, dan mereka jadian baru satu bulan, setelah itu David meneruskan kuliahnya di Denpasar, cukup keren orangnya, tajir, tapi aneh, tiap kali dia bilang kangen, pasti Sindy yang disuruh telepon duluan, belum lama-lama ini David juga meminta Sindy untuk mengirimkan sesuatu ke David, padahal tidak hari ulang tahunnya tapi baru kenal saja sudah seperti itu, alasan David tak harus nunggu moment ulang tahunnya mengirim sebuah bingkisan, tapi kapan-kapan pun bisa, herannya lagi, Sindy tak pernah diijinkan David untuk mengenal keluarganya, Cuma satu kali Sindy main ke rumah David, itu pun pas semua keluarganya tak ada di rumah, bahkan pernah David jatuh sakit, Sindy mau menengoknya David tak mengijinkannya, kadang Sindy berfikir, dianggap apakah Sindy selama ini ke David, seharusnya kalau David dewasa, pasti dia juga bisa sadar diri buat semuanya, hubungan tak hanya dilandasi rasa kangen-kangenan saja, panggil dengan nama kesayangan, tapi satu sama lain harus tau seluk beluk keluarganya masing-masing, rasa sayang Sindy ke David sangatlah besar, tapi David tak pernah menyadari itu semua, bahkan akhir-akhir ini, Sindy pasrah dengan hubungannya dengan David, dia hanya bisa menjalani apa adanya. Setelah mereka selesai membungkus kue pesanan dan menata cateringnya Sindy dan Vina bergegas untuk mengantarnya.
“Vin setelah ini kamu pulang saja, aku juga masuk kerja dapat sift malam kok, kamu tak usah antar aku, biar aku naik motor sendiri, kamu hati-hati ya”. Kata Sindy ke Vina.
Setelah semuanya selesai, Sindy langsung bergegas menuju ke tempat kerjanya. Sindy bekerja pada waktu 19:00 malam sampai pukul 23:00 malam. Dia bekerja seperti karyawan-karyawan biasa, kadang dia disuruh menemani untuk menyanyi karena suara Sindy bagus sekali, tapi tak pernah dia mau jika disuruh menemani minum atau diajak cek out ke hotel.
Pagi harinya waktu Sindy mau berangkat ke kampus tiba-tiba di tengah jalan dia melihat cowok yang pernah menabak dia kemarin di sebuah mall, Sindy mendekatinya.
“kenapa mas? Mogok ya sepeda motornya?”. Tanya Sindy ke cowok itu sambil menuntun sepeda motornya.
“iya ni mbak, gak tau kenapa, padahal ada jam kuliah pagi, presentasi pula”. Jawab cowok itu.
Ternyata cowok itu tak sadar dengan wajah Sindy yang pernah dia tabrak kemarin, karena Sindy merasa kasihan, akhirnya Sindy menderek motor cowok ke bengkel dan mengantarnya sampai ke kampusnya, ternyata lebih herannya dia juga kuliah di universitas sama dengan Sindy, tapi beda jurusan. Setelah selesai perkuliahannya, Sindy langsung pulang, tak sengaja di depan gerbang kampusnya dia melihat cowok tadi, Sindy menghampirinya ternyata cowok itu menunggu angkot buat menghampiri motornya yang sedang diperbaiki di bengkel tadi, tak tanggung-tanggung Sindy mengantarnya sampai ke bengkel tersebut, sambil menunggu motor dari cowok itu diservice, Sindy ikut menemani cowok itu menunggu motornya.
“nama kamu siapa?”. Tanya Sindy kepada cowok tersebut.
“aku Rian, maaf ngrepotin kamu ya mbak, mbak juga kuliah di kampus itu ya? Ngomong-ngomong Jurusan apa?”. Kata cowok itu.
“aku ekonomi, iya gak papa, namanya juga manusia kan harus saling tolong menolong juga, terus kamu sendiri jurusan apa?”. Jawab Sindy.
Mereka berdua dengan asiknya ngobrol, seperti sudah kenal lama, tiba-tiba Sindy menceritakan kejadian yang dialaminya kemarin.
“maaf ya mbak, maaf sekali, aku gak sengaja, aku cepat-cepat, soalnya aku sudah terlambat kerja, takutnya nanti bos aku marah lagi, soalnya akhir-akhir ini kan hujan, jadi aku ya sering terlambat dan bos sering marah-marah”. Kata Rian sambil memperlihatkan muka sedih.
“sudah tak papa, sudah aku lupain kok”.
Akhirnya mereka berdua lama-lama makin akrab dan akhirnya mereka berdua menjadi teman yang seperti sudah lama dikenal, padahal baru tadi pagi Sindy bertemu Rian.
Hampir setiap hari Sindy berangkat kerja dan kuliah dijemput oleh Rian, weekend pun Rian sering mengajak Sindy ke luar, jalan, bahkan dinner juga, tak lupa setiap Rian mengajak Sindy dinner, Sindy selalu mengajak Vina menemaninya, lama-lama Sindy senang dengan kedatangan Rian yang tiba-tiba muncul di kehidupannya. Suatu saat Rian bermaksud mengajak Sindy diner hanya berdua saja, Sindy pun menyanggupinya.
“tahun baru besok mau kemana kamu Sin?”. Tanya Rian sambil menatap mata Sindy di meja makan hanya ditemani lampu neon yang remang-remang dan dua buah lilin serta dua gelas orange juice dan dua piring tiramishu.
Walaupun Sindy setiap jalan bersama Rian, dia tidak pernah menceritakan tentang keberadaan David di hadapan Rian, karena bagi Sindy David itu cowok yang yang bernah bertanggung jawab.
“paling di rumah nonton Tv saja Rian, gak harus kan moment tahun baru kita gunakan buat berhura-hura, atau kumpul bersenang-senang bahkan clubbing? Cukup kumpul dengan keluarga saja, kebetulan dapat cuti dari bos, disyukuri saja Rian, menoleh ke bawah, masih banyak dari kita yang kurang beruntung buat merayakan tahun baru bersama keluarganya kan? Mending ditabung uangnya!”. Jawab Sindy.
“ada benarnya kamu Sin, tapi kalau tidak keberatan, aku ajak kamu lihat kembang api di simpang lima, pasti rame”. Pinta Rian.
Sindy menananggapi kata-kata Rian hanya dengan senyuman. Tiba-tiba tangan Rian menngenggam tangan Sindy dengan erat, Sindy kaget dan memandang Rian tanpa kedip.
“aku sayang sama kamu Sindy, apa kamu mau jadi pacarku?” kata Rian.
Seakan-akan jantung Sindy berhenti berdetak sesaat mendengar kata-kata tersebut yang dilontarkan Rian barusan, tiba-tiba Sindy melepaskan tanggan yang digenggam Rian dan cepat-cepat dia lari pulang, kebetulan malam itu hujan gerimis menyelimuti semua kota Semarang.
“Sindy tunggu!!!”. Teriak Rian.
Tak tau arah dan tujuan Sindy melangkah, tiba-tiba dia menuju rumah Vina dengan basah kuyup dan kedinginan.
Tok… tok… tok…
Cepat-cepat Vina menuju pintu dan membukakan pintunya, dia kaget melihat Sindy basah kuyup dan menggigil kedinginan, wajah pucat seperti baru melihat setan, cepat-cepat Vina memapas Sindy menuju kamarnya, menyelimuti handuk yang sangat tebal dan menyuruh Sindy ganti baju Vina, segelas susu coklat yang hangat disuruh Vina meminum Sindy.
“tenangkan dulu pikiranmu Sin, kamu kenapa? Cerita sama aku? Bukannya kamu tadi diner bersama Rian?”. Tanya vina.
Sindy menyandarkan kepalanya ke bahu Vina dan menceritakan semuanya ke Vina tentang kejadian tersebut.
“bukannya malah bagus Sin kamu jadian sama Rian? Kenapa kamu harapkan David yang benar-benar tak jelas orangnya? Sudah tau aneh kayak gitu masih saja kamu pertahankan, tapi itu terserah kamu saja Sin, semua keputusan sekarang aku kembalikan ke kamu”. Saran Vina ke Sindy.
“apa aku pantas Vin pacaran dengan Rian? Aku bodoh Vin, dari awal kenapa aku tak menceritakan tentang keberadaan David ke Rian, pantaskah aku lalui hitam putih ini bersama dia? Kenapa disaat aku meninggalkan Rian tadi, serasa hatiku ini telah dibawa Rian semua, dia sudah benar-benar mematikan nama David di hatiku dan mencuri cinta David dari dalam hatiku Vin”. Kata Sindy sambil mengigil kedinginan.
Pada saat itu Sindy sudah benar-benar tak dapat memutuskan mana yang akan dipilih. Rian yang baru datang beberapa hari di kehidupan Sindy bagaikan sebuah malaikat yang datang tiba-tiba menyinari kegelapan hati Sindy.
Pagi harinya di kampus, Sindy dan Vina yang sedang berjalan menuju ke ruangannya tiba-tiba Rian menghampirinya, Rian mencoba bertanya kepada Sindy tentang kejadian semalam yang dialaminya, tapi Sindy dengan acuh tak memperhatikan omongan Rian, tiba-tiba Vina menjelaskan dengan sendirinya terhadap Rian tentang David yang berada di kehidupan Sindy. Sindy berjalan sendirian menuju ke ruangannya, sedangkan Vina menjelaskan semua masalah David kepada Rian, belum ada lima meter tiba-tiba Rian berteriak sangat keras.
“sebelum janur kuning melengkung, kamu masih belum milik siapa-siapa Sin, jadi wajar kalau aku bisa merebutmu dari hati David”.
Sindy kaget mendengar kata-kata Rian seperti itu dengan keras dan lantang, semua mahasiswa juga kaget mendengar teriakan Rian yang keras itu, tiba-tiba Sindy berlari menuju ke ruangannya. Terdiam lesu bahkan dosen menerangkan pun Sindy tak memperhatikan dari mulai sampai jam selesai. Terdengar handphone Sindy berbunyi, tanda sms masuk, setelah dibaca ternyata sms dari David kalau minggu besok dia pulang ke Semarang, pikiran Sindy makin bingung membaca sms tersebut, Vina pun mencoba menenangkan hati dan pikiran Sindy.
“ya sudah, pertemukan mereka bertiga Sin, besok aku temani kamu, tapi sebelum kamu memilih, pikirkan terlebih dahulu secara matang-matang, mana yang bisa buat kamu nyaman selama ini, buat kamu selalu ada dan perhatian tulus mencintaimu, kamu pasti bisa menentukannya, kamu sudah dewasa kan?”. Kata Vina terhadap Sindy.
Minggu ini, minggu yang dinanti-nanti Sindy, David pulang ke Semarang, akhirnya David menemui Sindy di rumahnya, David memeluk sindy dengan sangat erat, seakan-akan rasa kangennya yang sudah lam dipendam dilampiaskan dengan cara itu.
“malam nanti kamu aku tunggu dinner di warung steak dekat simpang lima”. Kata Sindy.
Malam harinya di warung steak, Sindy, Vina dan David sudah berada di situ, tak lama kemudian Rian datang.
“makasih ya Rian sudah mau datang, perkenalkan ini David, David ini teman kau Rian, sebelumnya aku meminta maaf kekamu David setiap aku pergi tak pernah kasih kabar ke kamu, aku merasa tak pernah nyaman saja berhubungan bersama kamu akir-akhir ini, walaupun rasa sayangku besar ke kamu, tapi kamu tak pernah membalasnya”. Kata Sindy di depan mereka berdua ditemani Vina di samping Sindy.
Tiba-tiba David mencekram kerah dada Rian, seakan-akan david mau menghajar Rian. Tiba-tiba sindy dan vina melerainya.
“David, harusnya kamu sadar sebagai cowok, jangan ego saja yang dibesar-besarin, kamu pernah memperhatiin Sindy lebih? Gak kan? Yang kamu tanyakan pasti, kangen, kangen dan kangen saja kan? Aku juga bisa cuma sms bilang seperti itu saja, tapi alhasil mana? Sadar David, cewek punya hati yang lembut, tak hanya seperti itu saja caramu memperlakukannya”. Kata Vina sambil marah-marah.
Tiba-tiba David mencela pembicaraan Vina
“aku sadar Vin, tapi seharusnya Sindy sadar aku disana juga si….”.
Sindy memotong perkataan David.
“sibuk? Seperti itukah kesibukanmu? Tak punya pulsa buat tanyain aku lagi apa, tapi punya tiga smartphone? Seperti itu kan kamu sibuk dengan gadgetmu sendiri? Ok sudah aku putuskan David, maaf dengan seribu maaf kali ini aku sudah benar-benar hilang kesabaranku, rasa sayangku ke kamu sudah kamu balas dengan rasa kekecewaan, beribu-ribu kekecewaan, tak pernah sadar kamu tentang keberadaanku selama ini di kehidupanmu, mulai sekarang kita jalani kehidupan masing-masing”. Kata Sindy sambil menangis menuju pintu ke luar.
Vina, David, dan Rian cepat-cepat menyusul Sindy.
“sudah David cukup sampai disini, kamu membuat hati sindy semakin tersiksa akan keberadaanmu, biar aku yang nenangin dia, kamu pulang saja”. Pinta Vina kepada David.
“ya sudah, aku minta maaf Vin, memang aku yang salah, berikan teddy bear ini kepada Sindy ya, sebagai tanda maafku kedia, suruh jaga baik-baik ini boneka, aku balik dulu Vin, titip Sindy ya”. Kata David dengan wajah yang sangat menyesal.
Sedangkan Rian mengejar Sindy di jalan sambil berteriak.
“Sin, berhenti”.
Tiba-tiba Sindy berhenti, isakan air mata Sindy yang membuat Rian merasa tak berdaya melihat orang yang dia sayangi rapuh dan mengeluarkan air mata, uluran tangan Rian dengan membawa sehelai sapu tangan.
“aku gak mau melihat orang yang aku sayangi meneteskan air mata Cuma buat orang yang gak penting, usaplah air matamu itu dengan sapu tangan ini”. Kata Rian sambil tersenyum sipu.
Tiba-tiba Sindy memeluk Rian erat-erat, seakan-akan tak mau melepaskan pelukan itu.
“makasih Rian makasih, tolong Rian jangan tinggalin aku, jangan kecewain aku, jaga aku Rian”.
“pasti Sin, bidadari sepertimu tak pantas disakit, harusnya dijaga”.
Pagi harinya, Vina ke rumah Sinta dan memberikan tedy bear pink yang sangat besar itu dari David.
“simpan saja Sin, sebagai tanda persahabatan dan tanda kalau kamu menghargainya sebagai teman, teman terindah”. Kata Vina kepada Sindy.
Cerpen Karangan: Aris Munandar
Facebook: Tiramitshu Thaiank Bunda
Ketika sedang belanja di sebuah mall, saat Sindy mau pulang, tiba-tiba hujan deras, waktu itu pertengahan bulan Desember, jadi musim dingin pun menyelimuti kota Semarang, tak dapat berbuat apa, Sindy yang sedang belanja di CitraLand Semarang, harus terpaksa menunggu hujan reda terlebih dahulu, sambil menunggu hujan reda, Sindy nongkrong di sebuah resto yang berada di dalam mall tersebut sambil menikmati suasana di sekelilingnya.
“ibu, Sindy kayaknya telat pulang, soalnya hujannya lebat sekali, tak mungkin Sindy naik motor dengan kondisi cuaca yang seperti ini”. Kata Sindy kepada ibunya lewat telepon selular.
Sindy adalah salah satu mahasiswa di sebuah universitas swasta di Semarang, dia mengambil jurusan ekonomi perbankan, dia baru menginjak semester lima, dia termasuk dari golongan keluarga yang sangat sederhana, di samping kuliah, kesibukannya dia diisi kerja di sebuah tempat karaokean, jangan salah, Sindy orangnya baik, bisa jaga diri, dan cewek yang benar-benar tau bagaimana yang harus dilakukan dan harus ditinggalkan. Beberapa jam kemudian tiba-tiba hujan berhenti, cepat-cepat Sindy bergegas untuk pulang ke rumah, karena cuaca masih terlihat mendung, takutnya hujan akan turun lagi. Ketika Sindy hendak ke luar dari lift, tiba-tiba ada seorang cowok yang buru-buru masuk ke dalam lift, Sindy yang sudah berada di luar tersenggol cowok itu sehingga dia terjatuh.
“aduh, kurang ajar tu cowok”. Teriak Sindy.
“maaf… maaf mbak gak sengaja, aku buru-buru soalnya”. Kata cowok tersebut.
Cepat-cepat Sindy bergegas mengambil motornya dan pulang ke rumah. Ketika sedang di jalan menuju rumah, tiba-tiba Sindy kena siraman air yang mobil yang sedang lewat, baju Sindy basah kuyup. Sesampai di rumah Sindy menangis terisak-isak.
“kenapa kamu sayang? Baju kamu kok basah kuyup, katanya tadi berteduh dulu nunggu hujan reda?”. Kata ibu Sindy.
“hari ini Sindy benar-benar sial bu, sudah ditabrak cowok sampai jatuh di mall, di jalan keguyur air yang sedang dilewati mobil deh”. Jawab Sindy.
“kak Sindy harus mandi air laut itu biar tidak sial!”. Ledek Vino adik laki-laki Sindy.
“udah, sudah mandi dulu sana, gak usah kamu dengerin kata-kata adikmu itu yang sedang bercanda”. Kata ibu Sindy.
Bergegas Sindy masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya itu. Setelah mandi Sindy duduk-duduk di ruang tengah sambil membantu ibunya menyiapkan pesenan catering pesanan tetangganya, tak lama kemudian terdengar suara ketokan pintu, cepat-cepat Sindy menghampirinya, ternyata itu adalah Vina teman sekampus Sindy.
“Sin, mau pinjam catatan pak Darmo kemarin, aku kan kemarin lagi ada acara, jadi gak bisa masuk”. Kata Vina.
“iya tunggu sebentar Vin, masuk dulu, kamu gak buru-buru kan? Itu dicari ibu sekalian bantu nyiapin catering buat tetangga sebelah, hehehe”. Pinta Sindy ke Vina dengan nada bercandaan.
Vina dan Sindy sudah seperti saudara, jadi setiap Vina main ke rumah Sindy sudah biasa, tinggal main masuk ke luar rumah saja, sudah seperti rumahnya sendiri, Ibu Sindy pun sudah menganggap Vina seperti anaknya sendiri, sebalinya dengan keluarga Vina terhadap Sindy. Sindy menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi kepada Vina sambil mereka berdua membantu ibunya membungkus kue.
“sudahlah Sin, gak usah kamu fikirkan, namanya juga sudah nasib”. Ledek Vina.
“nasib gimana, salah cowok itu sama mobil itu, udah tau hujan banyak kubangan berisi air masih saja kencang-kencang naik mobilnya”. Kata Sindy dengan nada agak acuh.
“oh ya, gimana kabar David di Denpasar? Masih baik-baik saja dan lancar kan kominikasi kalian berdua, sayang lo baru kenal 1 bulan masa-masa anget-angetnya malah dia kuliah di Denpasar”. Tanya Vina ke Sindy.
“sudahlah Vin, gak usah dibahas lagi masalah dia, orangnya aneh, masa kangen tapi aku suruh telepon duluan? Harusnya kalau dia kangen dia telepon kek, bilangnya gak ada pulsa, kalau suruh isi bbmnya bisa, selagi telepon gak bisa? Sadar dirilah dia jadi cowok, sayang sih aku sama dia, tapi eneg dengan tingkah dan kelakuan dia lama-lama”. Jawab Sindy dengan jengkel.
Sebenarnya Sindy punya cowok namanya David, anak Semarang juga, yang baru dia kenal beberapa bulan kemarin, dan mereka jadian baru satu bulan, setelah itu David meneruskan kuliahnya di Denpasar, cukup keren orangnya, tajir, tapi aneh, tiap kali dia bilang kangen, pasti Sindy yang disuruh telepon duluan, belum lama-lama ini David juga meminta Sindy untuk mengirimkan sesuatu ke David, padahal tidak hari ulang tahunnya tapi baru kenal saja sudah seperti itu, alasan David tak harus nunggu moment ulang tahunnya mengirim sebuah bingkisan, tapi kapan-kapan pun bisa, herannya lagi, Sindy tak pernah diijinkan David untuk mengenal keluarganya, Cuma satu kali Sindy main ke rumah David, itu pun pas semua keluarganya tak ada di rumah, bahkan pernah David jatuh sakit, Sindy mau menengoknya David tak mengijinkannya, kadang Sindy berfikir, dianggap apakah Sindy selama ini ke David, seharusnya kalau David dewasa, pasti dia juga bisa sadar diri buat semuanya, hubungan tak hanya dilandasi rasa kangen-kangenan saja, panggil dengan nama kesayangan, tapi satu sama lain harus tau seluk beluk keluarganya masing-masing, rasa sayang Sindy ke David sangatlah besar, tapi David tak pernah menyadari itu semua, bahkan akhir-akhir ini, Sindy pasrah dengan hubungannya dengan David, dia hanya bisa menjalani apa adanya. Setelah mereka selesai membungkus kue pesanan dan menata cateringnya Sindy dan Vina bergegas untuk mengantarnya.
“Vin setelah ini kamu pulang saja, aku juga masuk kerja dapat sift malam kok, kamu tak usah antar aku, biar aku naik motor sendiri, kamu hati-hati ya”. Kata Sindy ke Vina.
Setelah semuanya selesai, Sindy langsung bergegas menuju ke tempat kerjanya. Sindy bekerja pada waktu 19:00 malam sampai pukul 23:00 malam. Dia bekerja seperti karyawan-karyawan biasa, kadang dia disuruh menemani untuk menyanyi karena suara Sindy bagus sekali, tapi tak pernah dia mau jika disuruh menemani minum atau diajak cek out ke hotel.
Pagi harinya waktu Sindy mau berangkat ke kampus tiba-tiba di tengah jalan dia melihat cowok yang pernah menabak dia kemarin di sebuah mall, Sindy mendekatinya.
“kenapa mas? Mogok ya sepeda motornya?”. Tanya Sindy ke cowok itu sambil menuntun sepeda motornya.
“iya ni mbak, gak tau kenapa, padahal ada jam kuliah pagi, presentasi pula”. Jawab cowok itu.
Ternyata cowok itu tak sadar dengan wajah Sindy yang pernah dia tabrak kemarin, karena Sindy merasa kasihan, akhirnya Sindy menderek motor cowok ke bengkel dan mengantarnya sampai ke kampusnya, ternyata lebih herannya dia juga kuliah di universitas sama dengan Sindy, tapi beda jurusan. Setelah selesai perkuliahannya, Sindy langsung pulang, tak sengaja di depan gerbang kampusnya dia melihat cowok tadi, Sindy menghampirinya ternyata cowok itu menunggu angkot buat menghampiri motornya yang sedang diperbaiki di bengkel tadi, tak tanggung-tanggung Sindy mengantarnya sampai ke bengkel tersebut, sambil menunggu motor dari cowok itu diservice, Sindy ikut menemani cowok itu menunggu motornya.
“nama kamu siapa?”. Tanya Sindy kepada cowok tersebut.
“aku Rian, maaf ngrepotin kamu ya mbak, mbak juga kuliah di kampus itu ya? Ngomong-ngomong Jurusan apa?”. Kata cowok itu.
“aku ekonomi, iya gak papa, namanya juga manusia kan harus saling tolong menolong juga, terus kamu sendiri jurusan apa?”. Jawab Sindy.
Mereka berdua dengan asiknya ngobrol, seperti sudah kenal lama, tiba-tiba Sindy menceritakan kejadian yang dialaminya kemarin.
“maaf ya mbak, maaf sekali, aku gak sengaja, aku cepat-cepat, soalnya aku sudah terlambat kerja, takutnya nanti bos aku marah lagi, soalnya akhir-akhir ini kan hujan, jadi aku ya sering terlambat dan bos sering marah-marah”. Kata Rian sambil memperlihatkan muka sedih.
“sudah tak papa, sudah aku lupain kok”.
Akhirnya mereka berdua lama-lama makin akrab dan akhirnya mereka berdua menjadi teman yang seperti sudah lama dikenal, padahal baru tadi pagi Sindy bertemu Rian.
Hampir setiap hari Sindy berangkat kerja dan kuliah dijemput oleh Rian, weekend pun Rian sering mengajak Sindy ke luar, jalan, bahkan dinner juga, tak lupa setiap Rian mengajak Sindy dinner, Sindy selalu mengajak Vina menemaninya, lama-lama Sindy senang dengan kedatangan Rian yang tiba-tiba muncul di kehidupannya. Suatu saat Rian bermaksud mengajak Sindy diner hanya berdua saja, Sindy pun menyanggupinya.
“tahun baru besok mau kemana kamu Sin?”. Tanya Rian sambil menatap mata Sindy di meja makan hanya ditemani lampu neon yang remang-remang dan dua buah lilin serta dua gelas orange juice dan dua piring tiramishu.
Walaupun Sindy setiap jalan bersama Rian, dia tidak pernah menceritakan tentang keberadaan David di hadapan Rian, karena bagi Sindy David itu cowok yang yang bernah bertanggung jawab.
“paling di rumah nonton Tv saja Rian, gak harus kan moment tahun baru kita gunakan buat berhura-hura, atau kumpul bersenang-senang bahkan clubbing? Cukup kumpul dengan keluarga saja, kebetulan dapat cuti dari bos, disyukuri saja Rian, menoleh ke bawah, masih banyak dari kita yang kurang beruntung buat merayakan tahun baru bersama keluarganya kan? Mending ditabung uangnya!”. Jawab Sindy.
“ada benarnya kamu Sin, tapi kalau tidak keberatan, aku ajak kamu lihat kembang api di simpang lima, pasti rame”. Pinta Rian.
Sindy menananggapi kata-kata Rian hanya dengan senyuman. Tiba-tiba tangan Rian menngenggam tangan Sindy dengan erat, Sindy kaget dan memandang Rian tanpa kedip.
“aku sayang sama kamu Sindy, apa kamu mau jadi pacarku?” kata Rian.
Seakan-akan jantung Sindy berhenti berdetak sesaat mendengar kata-kata tersebut yang dilontarkan Rian barusan, tiba-tiba Sindy melepaskan tanggan yang digenggam Rian dan cepat-cepat dia lari pulang, kebetulan malam itu hujan gerimis menyelimuti semua kota Semarang.
“Sindy tunggu!!!”. Teriak Rian.
Tak tau arah dan tujuan Sindy melangkah, tiba-tiba dia menuju rumah Vina dengan basah kuyup dan kedinginan.
Tok… tok… tok…
Cepat-cepat Vina menuju pintu dan membukakan pintunya, dia kaget melihat Sindy basah kuyup dan menggigil kedinginan, wajah pucat seperti baru melihat setan, cepat-cepat Vina memapas Sindy menuju kamarnya, menyelimuti handuk yang sangat tebal dan menyuruh Sindy ganti baju Vina, segelas susu coklat yang hangat disuruh Vina meminum Sindy.
“tenangkan dulu pikiranmu Sin, kamu kenapa? Cerita sama aku? Bukannya kamu tadi diner bersama Rian?”. Tanya vina.
Sindy menyandarkan kepalanya ke bahu Vina dan menceritakan semuanya ke Vina tentang kejadian tersebut.
“bukannya malah bagus Sin kamu jadian sama Rian? Kenapa kamu harapkan David yang benar-benar tak jelas orangnya? Sudah tau aneh kayak gitu masih saja kamu pertahankan, tapi itu terserah kamu saja Sin, semua keputusan sekarang aku kembalikan ke kamu”. Saran Vina ke Sindy.
“apa aku pantas Vin pacaran dengan Rian? Aku bodoh Vin, dari awal kenapa aku tak menceritakan tentang keberadaan David ke Rian, pantaskah aku lalui hitam putih ini bersama dia? Kenapa disaat aku meninggalkan Rian tadi, serasa hatiku ini telah dibawa Rian semua, dia sudah benar-benar mematikan nama David di hatiku dan mencuri cinta David dari dalam hatiku Vin”. Kata Sindy sambil mengigil kedinginan.
Pada saat itu Sindy sudah benar-benar tak dapat memutuskan mana yang akan dipilih. Rian yang baru datang beberapa hari di kehidupan Sindy bagaikan sebuah malaikat yang datang tiba-tiba menyinari kegelapan hati Sindy.
Pagi harinya di kampus, Sindy dan Vina yang sedang berjalan menuju ke ruangannya tiba-tiba Rian menghampirinya, Rian mencoba bertanya kepada Sindy tentang kejadian semalam yang dialaminya, tapi Sindy dengan acuh tak memperhatikan omongan Rian, tiba-tiba Vina menjelaskan dengan sendirinya terhadap Rian tentang David yang berada di kehidupan Sindy. Sindy berjalan sendirian menuju ke ruangannya, sedangkan Vina menjelaskan semua masalah David kepada Rian, belum ada lima meter tiba-tiba Rian berteriak sangat keras.
“sebelum janur kuning melengkung, kamu masih belum milik siapa-siapa Sin, jadi wajar kalau aku bisa merebutmu dari hati David”.
Sindy kaget mendengar kata-kata Rian seperti itu dengan keras dan lantang, semua mahasiswa juga kaget mendengar teriakan Rian yang keras itu, tiba-tiba Sindy berlari menuju ke ruangannya. Terdiam lesu bahkan dosen menerangkan pun Sindy tak memperhatikan dari mulai sampai jam selesai. Terdengar handphone Sindy berbunyi, tanda sms masuk, setelah dibaca ternyata sms dari David kalau minggu besok dia pulang ke Semarang, pikiran Sindy makin bingung membaca sms tersebut, Vina pun mencoba menenangkan hati dan pikiran Sindy.
“ya sudah, pertemukan mereka bertiga Sin, besok aku temani kamu, tapi sebelum kamu memilih, pikirkan terlebih dahulu secara matang-matang, mana yang bisa buat kamu nyaman selama ini, buat kamu selalu ada dan perhatian tulus mencintaimu, kamu pasti bisa menentukannya, kamu sudah dewasa kan?”. Kata Vina terhadap Sindy.
Minggu ini, minggu yang dinanti-nanti Sindy, David pulang ke Semarang, akhirnya David menemui Sindy di rumahnya, David memeluk sindy dengan sangat erat, seakan-akan rasa kangennya yang sudah lam dipendam dilampiaskan dengan cara itu.
“malam nanti kamu aku tunggu dinner di warung steak dekat simpang lima”. Kata Sindy.
Malam harinya di warung steak, Sindy, Vina dan David sudah berada di situ, tak lama kemudian Rian datang.
“makasih ya Rian sudah mau datang, perkenalkan ini David, David ini teman kau Rian, sebelumnya aku meminta maaf kekamu David setiap aku pergi tak pernah kasih kabar ke kamu, aku merasa tak pernah nyaman saja berhubungan bersama kamu akir-akhir ini, walaupun rasa sayangku besar ke kamu, tapi kamu tak pernah membalasnya”. Kata Sindy di depan mereka berdua ditemani Vina di samping Sindy.
Tiba-tiba David mencekram kerah dada Rian, seakan-akan david mau menghajar Rian. Tiba-tiba sindy dan vina melerainya.
“David, harusnya kamu sadar sebagai cowok, jangan ego saja yang dibesar-besarin, kamu pernah memperhatiin Sindy lebih? Gak kan? Yang kamu tanyakan pasti, kangen, kangen dan kangen saja kan? Aku juga bisa cuma sms bilang seperti itu saja, tapi alhasil mana? Sadar David, cewek punya hati yang lembut, tak hanya seperti itu saja caramu memperlakukannya”. Kata Vina sambil marah-marah.
Tiba-tiba David mencela pembicaraan Vina
“aku sadar Vin, tapi seharusnya Sindy sadar aku disana juga si….”.
Sindy memotong perkataan David.
“sibuk? Seperti itukah kesibukanmu? Tak punya pulsa buat tanyain aku lagi apa, tapi punya tiga smartphone? Seperti itu kan kamu sibuk dengan gadgetmu sendiri? Ok sudah aku putuskan David, maaf dengan seribu maaf kali ini aku sudah benar-benar hilang kesabaranku, rasa sayangku ke kamu sudah kamu balas dengan rasa kekecewaan, beribu-ribu kekecewaan, tak pernah sadar kamu tentang keberadaanku selama ini di kehidupanmu, mulai sekarang kita jalani kehidupan masing-masing”. Kata Sindy sambil menangis menuju pintu ke luar.
Vina, David, dan Rian cepat-cepat menyusul Sindy.
“sudah David cukup sampai disini, kamu membuat hati sindy semakin tersiksa akan keberadaanmu, biar aku yang nenangin dia, kamu pulang saja”. Pinta Vina kepada David.
“ya sudah, aku minta maaf Vin, memang aku yang salah, berikan teddy bear ini kepada Sindy ya, sebagai tanda maafku kedia, suruh jaga baik-baik ini boneka, aku balik dulu Vin, titip Sindy ya”. Kata David dengan wajah yang sangat menyesal.
Sedangkan Rian mengejar Sindy di jalan sambil berteriak.
“Sin, berhenti”.
Tiba-tiba Sindy berhenti, isakan air mata Sindy yang membuat Rian merasa tak berdaya melihat orang yang dia sayangi rapuh dan mengeluarkan air mata, uluran tangan Rian dengan membawa sehelai sapu tangan.
“aku gak mau melihat orang yang aku sayangi meneteskan air mata Cuma buat orang yang gak penting, usaplah air matamu itu dengan sapu tangan ini”. Kata Rian sambil tersenyum sipu.
Tiba-tiba Sindy memeluk Rian erat-erat, seakan-akan tak mau melepaskan pelukan itu.
“makasih Rian makasih, tolong Rian jangan tinggalin aku, jangan kecewain aku, jaga aku Rian”.
“pasti Sin, bidadari sepertimu tak pantas disakit, harusnya dijaga”.
Pagi harinya, Vina ke rumah Sinta dan memberikan tedy bear pink yang sangat besar itu dari David.
“simpan saja Sin, sebagai tanda persahabatan dan tanda kalau kamu menghargainya sebagai teman, teman terindah”. Kata Vina kepada Sindy.
Cerpen Karangan: Aris Munandar
Facebook: Tiramitshu Thaiank Bunda
Hadiah Dari Sang Mantan
4/
5
Oleh
Unknown
