Judul Cerpen Jodoh Dari Bapak
“Hallo… Assalamu’alaikum, Nduk.” Terdengar suara dari handphoneku. Suara yang sangat aku kenal dari seorang lelaki paruh baya yang aku panggil Bapak. “Wa’alaikumsalam, nggih Pak, wonten dawuh punopo?” Jawabku. “Ini lho nduk, sebelumnya Bapak minta maaf kalau Bapak melakukan hal ini tanpa meminta persetujuan darimu.” Suara renta yang kurindukan itu menjawab. “Maksud Bapak apa, nggih?” Tanyaku penasaran.
“Tadi siang, teman lama Bapak, Pak Munir, datang dari Solo.” Sejenak Bapak menarik nafas. “Dulu kami pernah berjanji untuk menjodohkan anak kita kalau sudah dewasa kelak. Kebetulan putra Pak Munir ini hendak berangkat ke London juga untuk mengambil beasiswa S3 nya. Jadi…” Bapakku berhenti sejenak seperti mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan ucapannya.
“Jadi apa Pak?” Tanyaku dengan penuh keingin tahuan. “Jadi acara lamaran siang tadi berubah menjadi acara ijab kabul kamu dengan putra sahabat Bapak.” Ucapan Bapakku kali ini benar-benar bagai petir disiang bolong.
“Maksud Bapak, saya sudah menikah?” Kataku shock dan tetesan air mata mulai mengalir dari kedua mataku. “Bapak menikahkan saya dengan orang yang sama sekali tidak saya kenal?” Aku mulai panik. “Muhammad Raifan Nasrullah namanya, dia seorang dosen muda perguruan tinggi negeri di Bandung dan akan melanjutkan S3 Teknik Sipil di kampus yang sama denganmu, Nduk.” Bapak melanjutkan pembicaraannya seolah berusaha meyakinkan diriku.
“Terus terang Bapak sama Ibu menghawatirkan dirimu, Nduk. Kamu itu perempuan 25 tahun, sendirian di negeri orang tanpa ada pendamping. Semoga dengan keputusan Bapak ini, hidupmu disana menjadi lebih tenang dengan adanya pendamping hidup yang akan menjagamu di perantauan.” Kata-kata Bapak tampak tenang, namun tetap saja tidak bisa menghilangkkan keterkejutanku. “Ya sudah kalau gitu. Oh ya, Nak Raifan akan berangkat ke London lusa, dia yang akan menemuimu. Sambutlah dia ya, Nduk. Biar bagaimanapun dia telah menjadi suamimu. Assalamu’alaikum.” Bapak mengakhiri teleponnya.
Ya Allah… mimpi apa semalam, apakah seperti ini nasibku. Aku telah menikah? Dengan seseorang yang bernama Muhammad Raifan Nasrullah yang sama sekali tidak aku kenal. Melihat fotonya pun tidak. Haruskah aku menerimanya. Atau… haruskah aku marah kepada kedua orangtuaku atas perjodohan ini? Tidak … hati kecilku tak akan mampu berontak atas keputusan Bapak dan Ibu yang sangat aku hormati dan sayangi. Mereka adalah orangtuaku yang telah membesarkanku hingga aku bisa berdiri di sini. Berkat perjuangan mereka serta do’a-do’a panjang mereka yang senantiasa dipanjatkan ditengah malam nan sunyi, berhasil mengantarkanku memperoleh kesempatan menempuh beaisiswa S2 di London. Ya Allah… aku terima ketentuan-Mu ini.
Hari-hariku selanjutnya dipenuhi dengan kegelisahan. Setiap ada wajah lelaki Indonesia yang melintas di kampus atau di dekat apartemen tempatku tinggal bersama teman-temanku hati ini menjadi berdebar. Sudah dua hari ini aku tidak bisa konsentrasi dengan perkuliahan. Kata-kata Bapak terus terngiang-ngiang di telingaku. “Rania, would you please pay attention on me?” Mr. Anderson menegurku ketika aku terlihat tidak fokus di kelas.
Daun-daun pohon oak mulai berguguran dan angin dingin pun mulai bertiup menandakan musim gugur akan segera tiba. Jilbab panjangku melambai-lambai tertiup angin pelataran kampusku. “Are you alone, Rania? Sendirian?” Haliza salah satu teman dekatku dari negeri Jiran menghampiriku. “Awak ni terlihat bersedih, cakaplah… maybe I can help you.” Katanya sambil menyodorkan secangkir cokelat panas. “Thanks Haliza.” Kataku sambil menyeruput cokelat hangat itu.
“Saya… sudah menikah Haliza.” Kataku membuka percakapan. “Really? Congratulation.” Katanya dengan penuh semangat. “Tapi masalahnya saya tidak kenal lelaki itu. Aku dijodohkan, Haliza.” Haliza memelukku. “Hei sist, tak selamanye perjodohan itu buruk.” Haliza mulai berkomentar. “Adalah kewajiban orangtua, untuk membimbing putrinya agar senantiase berada di jalan Allah. I’m really sure, orang tua awak menginginkan yang terbaik untuk putrinye.” Inilah Haliza, selalu memberikan pandangan yang positif buatku. “Pray to Allah, Sist. I hope he is the best for you, and I’m no doubt about it.” Kata-katanya menguatkanku. Yah… Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. Possitively. Tak boleh ragu tentang hal itu. Optimis Rania. Bapak sama Ibu di kampung pasti menghendaki yang terbaik untukku.
Kulangkahkan kakiku dengan penuh semangat. Fokus Rania. Tesis sudah di depan mata. Masalah jodoh dari Bapak dikesampingkan dulu. Target lulus satu semester lagi harus terlaksana. Bruak!!! Bahan-bahan tesisku berantakan di lantai. “I’m sorry… I’m really sorry that I hit you.” Dengan panik ku meminta maaf pada lelaki yang aku tabrak tanpa sengaja di koridor kampus. “It’s okay, nevermind.” Kata lelaki itu tersenyum sambil membantu mengumpulkan kertas-kertas yang bertebaran di lantai. Dia tidak marah. Sungguh ajaib! Dia malah membantuku mengumpulkan berkas-berkas tesisku seolah-olah tanpa beban.
“This is yours.” Katanya sambil menyodorkan kertas-kertas yang telah tersusun rapi. “Are you from Indonesia?” Tanyaku penasaran. “Maaf saya terburu-buru harus menemui Mr. Dean.” Lelaki tinggi dengan senyum yang menawan itu berlalu dengan cepat. Astaghfirullah, apa yang kupikirkan. Sebaiknya aku segera menemui Mrs. Twain dosen pembimbingku.
Sudah satu minggu sejak kabar pernikahanku dari Bapak. Namun belum ada tanda-tanda lelaki yang katanya telah menjadi suamiku itu muncul. Mau telepon ke Bapak rasanya kok ya malu. Kesannya nanti aku terlalu penasaran dengan jodoh yang dipilihkan Bapakku itu.
“Going somewhere, pretty lady?” Astaghfirullah, karena melamun aku tidak melihat kalau aku melintasi gerombolan preman di tengah kota London. Mereka bertiga telah mengelilingiku. “So… what you have?” Salah satu preman itu mendekatiku. Refleks kupegang erat tas laptopku. Semua dokumen tesisku ada di situ. Tidak mungkin aku serahkan begitu saja. “Give me your bag!” Bentak preman itu menggertakku. Bagaimana ini, mereka terlalu besar untuk aku lawan.
Tiba-tiba seorang laki-laki mendorongku ke belakang. Dengan cepat dia melakukan perlawanan terhadap ketiga preman itu. Pertarungan pun tak dapat terhindarkan. Allah! Apa yang harus aku lakukan. Aku terpukau dengan pemandangan di hadapanku. Tunggu sebentar! Pria itu adalah lelaki yang pernah aku tabrak di koridor kampus! Subhanallah… dengan tangkas dia membuat ketiga preman itu tak berkutik dan akhirnya mereka lari.
“Kamu tidak apa-apa, Dik Rania?” Lelaki itu mengulurkan tangannya bermaksud membantuku berdiri. “Maaf, saya bisa sendiri.” Halus kutolak uluran tangannya karena kutahu bahwa lelaki itu bukan muhrimku. “Tidak apa-apa Dik Rania.” Senyumnya yang indah itu sama sekali tidak menunjukkan kelelahan setelah melawan tiga orang preman yang bertubuh besar tadi. “Kamu dan saya sudah halal.” Sahutnya menenangkan kekhawatiranku.
Sudah halal? Apa maksudnya dengan ucapan itu. “Apa maksud Anda?” Tanyaku penasaran. Duduklah Dik Rania. Laki-laki itu membimbingku menuju bangku taman tak jauh dari situ. “Perkenalkan, saya Muhammad Raifan Nasrullah. Putra dari Bapak Munir. Saya yakin Bapak Dik Rania sudah menceritakan tentang saya.” Ucapnya sambil mengeluarkan kota kecil dari kain beludru merah hati. “Saya suamimu Dik, dan ini adalah janji saya di hadapan Bapak, Ibu, orangtua saya serta penghulu.” Dalam keterkejutanku dia meraih tanganku dan menyematkan sebuah cincin emas putih ke jari manisku. “Ijinkan saya menjagamu sepanjang sisa hidup saya, bidadariku.” Ucapnya diiringi linangan air mataku penuh kesyukuran.
Haliza benar, tidak ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya. Bapak telah mengirimkan orang yang tepat untuk menjagaku mengarungi hidup ini. Terima kasih Bapak dan Ibu.
Cerpen Karangan: Arlina Safitri
Facebook: arleneisoasis[-at-]gmail.com
“Hallo… Assalamu’alaikum, Nduk.” Terdengar suara dari handphoneku. Suara yang sangat aku kenal dari seorang lelaki paruh baya yang aku panggil Bapak. “Wa’alaikumsalam, nggih Pak, wonten dawuh punopo?” Jawabku. “Ini lho nduk, sebelumnya Bapak minta maaf kalau Bapak melakukan hal ini tanpa meminta persetujuan darimu.” Suara renta yang kurindukan itu menjawab. “Maksud Bapak apa, nggih?” Tanyaku penasaran.
“Tadi siang, teman lama Bapak, Pak Munir, datang dari Solo.” Sejenak Bapak menarik nafas. “Dulu kami pernah berjanji untuk menjodohkan anak kita kalau sudah dewasa kelak. Kebetulan putra Pak Munir ini hendak berangkat ke London juga untuk mengambil beasiswa S3 nya. Jadi…” Bapakku berhenti sejenak seperti mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan ucapannya.
“Jadi apa Pak?” Tanyaku dengan penuh keingin tahuan. “Jadi acara lamaran siang tadi berubah menjadi acara ijab kabul kamu dengan putra sahabat Bapak.” Ucapan Bapakku kali ini benar-benar bagai petir disiang bolong.
“Maksud Bapak, saya sudah menikah?” Kataku shock dan tetesan air mata mulai mengalir dari kedua mataku. “Bapak menikahkan saya dengan orang yang sama sekali tidak saya kenal?” Aku mulai panik. “Muhammad Raifan Nasrullah namanya, dia seorang dosen muda perguruan tinggi negeri di Bandung dan akan melanjutkan S3 Teknik Sipil di kampus yang sama denganmu, Nduk.” Bapak melanjutkan pembicaraannya seolah berusaha meyakinkan diriku.
“Terus terang Bapak sama Ibu menghawatirkan dirimu, Nduk. Kamu itu perempuan 25 tahun, sendirian di negeri orang tanpa ada pendamping. Semoga dengan keputusan Bapak ini, hidupmu disana menjadi lebih tenang dengan adanya pendamping hidup yang akan menjagamu di perantauan.” Kata-kata Bapak tampak tenang, namun tetap saja tidak bisa menghilangkkan keterkejutanku. “Ya sudah kalau gitu. Oh ya, Nak Raifan akan berangkat ke London lusa, dia yang akan menemuimu. Sambutlah dia ya, Nduk. Biar bagaimanapun dia telah menjadi suamimu. Assalamu’alaikum.” Bapak mengakhiri teleponnya.
Ya Allah… mimpi apa semalam, apakah seperti ini nasibku. Aku telah menikah? Dengan seseorang yang bernama Muhammad Raifan Nasrullah yang sama sekali tidak aku kenal. Melihat fotonya pun tidak. Haruskah aku menerimanya. Atau… haruskah aku marah kepada kedua orangtuaku atas perjodohan ini? Tidak … hati kecilku tak akan mampu berontak atas keputusan Bapak dan Ibu yang sangat aku hormati dan sayangi. Mereka adalah orangtuaku yang telah membesarkanku hingga aku bisa berdiri di sini. Berkat perjuangan mereka serta do’a-do’a panjang mereka yang senantiasa dipanjatkan ditengah malam nan sunyi, berhasil mengantarkanku memperoleh kesempatan menempuh beaisiswa S2 di London. Ya Allah… aku terima ketentuan-Mu ini.
Hari-hariku selanjutnya dipenuhi dengan kegelisahan. Setiap ada wajah lelaki Indonesia yang melintas di kampus atau di dekat apartemen tempatku tinggal bersama teman-temanku hati ini menjadi berdebar. Sudah dua hari ini aku tidak bisa konsentrasi dengan perkuliahan. Kata-kata Bapak terus terngiang-ngiang di telingaku. “Rania, would you please pay attention on me?” Mr. Anderson menegurku ketika aku terlihat tidak fokus di kelas.
Daun-daun pohon oak mulai berguguran dan angin dingin pun mulai bertiup menandakan musim gugur akan segera tiba. Jilbab panjangku melambai-lambai tertiup angin pelataran kampusku. “Are you alone, Rania? Sendirian?” Haliza salah satu teman dekatku dari negeri Jiran menghampiriku. “Awak ni terlihat bersedih, cakaplah… maybe I can help you.” Katanya sambil menyodorkan secangkir cokelat panas. “Thanks Haliza.” Kataku sambil menyeruput cokelat hangat itu.
“Saya… sudah menikah Haliza.” Kataku membuka percakapan. “Really? Congratulation.” Katanya dengan penuh semangat. “Tapi masalahnya saya tidak kenal lelaki itu. Aku dijodohkan, Haliza.” Haliza memelukku. “Hei sist, tak selamanye perjodohan itu buruk.” Haliza mulai berkomentar. “Adalah kewajiban orangtua, untuk membimbing putrinya agar senantiase berada di jalan Allah. I’m really sure, orang tua awak menginginkan yang terbaik untuk putrinye.” Inilah Haliza, selalu memberikan pandangan yang positif buatku. “Pray to Allah, Sist. I hope he is the best for you, and I’m no doubt about it.” Kata-katanya menguatkanku. Yah… Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. Possitively. Tak boleh ragu tentang hal itu. Optimis Rania. Bapak sama Ibu di kampung pasti menghendaki yang terbaik untukku.
Kulangkahkan kakiku dengan penuh semangat. Fokus Rania. Tesis sudah di depan mata. Masalah jodoh dari Bapak dikesampingkan dulu. Target lulus satu semester lagi harus terlaksana. Bruak!!! Bahan-bahan tesisku berantakan di lantai. “I’m sorry… I’m really sorry that I hit you.” Dengan panik ku meminta maaf pada lelaki yang aku tabrak tanpa sengaja di koridor kampus. “It’s okay, nevermind.” Kata lelaki itu tersenyum sambil membantu mengumpulkan kertas-kertas yang bertebaran di lantai. Dia tidak marah. Sungguh ajaib! Dia malah membantuku mengumpulkan berkas-berkas tesisku seolah-olah tanpa beban.
“This is yours.” Katanya sambil menyodorkan kertas-kertas yang telah tersusun rapi. “Are you from Indonesia?” Tanyaku penasaran. “Maaf saya terburu-buru harus menemui Mr. Dean.” Lelaki tinggi dengan senyum yang menawan itu berlalu dengan cepat. Astaghfirullah, apa yang kupikirkan. Sebaiknya aku segera menemui Mrs. Twain dosen pembimbingku.
Sudah satu minggu sejak kabar pernikahanku dari Bapak. Namun belum ada tanda-tanda lelaki yang katanya telah menjadi suamiku itu muncul. Mau telepon ke Bapak rasanya kok ya malu. Kesannya nanti aku terlalu penasaran dengan jodoh yang dipilihkan Bapakku itu.
“Going somewhere, pretty lady?” Astaghfirullah, karena melamun aku tidak melihat kalau aku melintasi gerombolan preman di tengah kota London. Mereka bertiga telah mengelilingiku. “So… what you have?” Salah satu preman itu mendekatiku. Refleks kupegang erat tas laptopku. Semua dokumen tesisku ada di situ. Tidak mungkin aku serahkan begitu saja. “Give me your bag!” Bentak preman itu menggertakku. Bagaimana ini, mereka terlalu besar untuk aku lawan.
Tiba-tiba seorang laki-laki mendorongku ke belakang. Dengan cepat dia melakukan perlawanan terhadap ketiga preman itu. Pertarungan pun tak dapat terhindarkan. Allah! Apa yang harus aku lakukan. Aku terpukau dengan pemandangan di hadapanku. Tunggu sebentar! Pria itu adalah lelaki yang pernah aku tabrak di koridor kampus! Subhanallah… dengan tangkas dia membuat ketiga preman itu tak berkutik dan akhirnya mereka lari.
“Kamu tidak apa-apa, Dik Rania?” Lelaki itu mengulurkan tangannya bermaksud membantuku berdiri. “Maaf, saya bisa sendiri.” Halus kutolak uluran tangannya karena kutahu bahwa lelaki itu bukan muhrimku. “Tidak apa-apa Dik Rania.” Senyumnya yang indah itu sama sekali tidak menunjukkan kelelahan setelah melawan tiga orang preman yang bertubuh besar tadi. “Kamu dan saya sudah halal.” Sahutnya menenangkan kekhawatiranku.
Sudah halal? Apa maksudnya dengan ucapan itu. “Apa maksud Anda?” Tanyaku penasaran. Duduklah Dik Rania. Laki-laki itu membimbingku menuju bangku taman tak jauh dari situ. “Perkenalkan, saya Muhammad Raifan Nasrullah. Putra dari Bapak Munir. Saya yakin Bapak Dik Rania sudah menceritakan tentang saya.” Ucapnya sambil mengeluarkan kota kecil dari kain beludru merah hati. “Saya suamimu Dik, dan ini adalah janji saya di hadapan Bapak, Ibu, orangtua saya serta penghulu.” Dalam keterkejutanku dia meraih tanganku dan menyematkan sebuah cincin emas putih ke jari manisku. “Ijinkan saya menjagamu sepanjang sisa hidup saya, bidadariku.” Ucapnya diiringi linangan air mataku penuh kesyukuran.
Haliza benar, tidak ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya. Bapak telah mengirimkan orang yang tepat untuk menjagaku mengarungi hidup ini. Terima kasih Bapak dan Ibu.
Cerpen Karangan: Arlina Safitri
Facebook: arleneisoasis[-at-]gmail.com
Jodoh Dari Bapak
4/
5
Oleh
Unknown
