Hai Namaku Aline (Hal Buruk yang Indah) Part 3

Baca Juga :
    Judul Cerpen Hai Namaku Aline (Hal Buruk yang Indah) Part 3

    Kami berdua berjalan memasuki gerbang pemakaman, musim semi adalah musim yang hangat dan tak terlalu panas. Kami melihat segerombol sesuatu hitam melingkari sesuatu berwarna coklat tua yang masih basah. Aku mencoba menenangkan diriku untuk tidak menaruh prasangka buruk seperti yang pernah kulakukan pada Ethan sebelumnya. Orang-orang berpakaian hitam itu pun pergi dan kami mendekati sebuah makam.Aneh, aku tak lagi merasa risih gara-gara Ethan memegang erat bahuku seakan jaga-jaga bila sewaktu-waktu aku terjatuh.

    Aku berlutut, Ethan berlutut. Di antara kami, kelihatannya akulah yang justru lebih tegar.

    Ethan menangis tanpa suara, sementara aku mencoba mengosongkan seluruh pikiranku demi mengulang semua memori-memori sebelum hari ini di mana ada nama Aline di dalamnya. Baik Ethan maupun aku kini posisi kami sama. Kehilangan. Aku sempat terlihat seperti orang gila. Melongo, membaca tulisan jelek di atas batu nisan yang menancap kuat berkali-kali yang kadang kuiramakan dan tak ada gunanya bagiku sekalipun bila aku mencoba mengerahkan seluruh kekuatanku untuk mencabutnya dari gundukan tanah itu. Tak akan mudah bagiku membalut luka yang diukir Aline untuk hari ini. Bagaimana mungkin sore ini kami sudah tidak bisa lagi menyaksikan matahari tenggelam di puncak bukit bersama, bercerita tentang film terbaru, merencanakan waktu yang tepat untuk bolos belajar demi menonton Barbie sambil mengubur diri di balik kain wol tebal dan super hangat milik pamanku hingga larut malam, esok ketika fajar tiba aku dapat mendengar bibi mengomel karena mendapati kami malas-malasan tidur tanpa selembar pekerjaan rumah pun yang terselesaikan atau buku-buku pelajaran yang kemungkinan telah kami buka semalaman. Mimpi, ini mimpi. Barusan, aku ingin memutar lagu kesukaan kami, makanya sengaja kubawakan earphone untuknya biar kami dapat mendengarkannya bersebelahan persis seperti yang sering kami lakukan.Semua itu normal. Tapi, apa ini? Kau pembohong bejat!

    “Ethan, antarkan aku pulang,” bisikku sambil mengumpulkan tenaga untuk berdiri.Sampai di sini aku masih ingin tetap terbangun.

    “Apa tak ada kalimat yang ingin kausampaikan untuknya?” sela Ethan tak mengindahkan ajakanku.

    “Aku akan katakan itu padanya di rumah. Tak apa, katanya semuanya akan baik-baik saja, semua.. akan baik-baik saja, iya kan Al?” gumamku tak tahan menahan luka di dasar hatiku. Teiris-iris, lebih ironis daripada ditetapkan tidak naik kelas selamanya. Aku tak kuat, dia tega! Ethan memelukku dan mencoba menenangkanku. “Ethan, aku membencimu! Aku membencimu!” aku mengamuk dan memukulinya segila mungkin namun Ethan malah semakin erat meraih diriku, ia mencoba membantuku meredam suaraku yang sudah tak karuan kerasnya karena emosi yang tak dapat kukontrol lagi.

    Tiga minggu setelah kepergian Aline Brunella.
    Cahaya terang terasa menyoroti kedua mataku, namun tak cukup terang untuk menembus tulang rusukku. Tampak tiga orang yang kukenal mengelilingiku dan beberapa yang lain aku tak kenal tapi kurasa mereka baik-baik. Beberapa detik pertama aku sempat membatin bahwa aku ini sekarat dan bisakah kaubayangkan betapa bahagianya diriku ketika diumumkan bahwa Chavali Saralee telah meninggal? Aku sendiri akan langsung membayangkan bahwa setelah ini aku akan bertemu Aline cantik.

    “Nak, katakan apa yang ingin kau makan? Ingin boneka Barbie? Stok film Walt Disney? Mau nonton bareng kami?” paman mencoba menghiburku dan aku mengetahuinya.Aku hanya tersenyum seakan tahu bahwa aku telah bisa tabah. Tak berapa lama kemudian bibi mengajak para dokter yang ikut mengelilingiku keluar dari kamar. Mungkin mereka membicarakan hal-hal penting terpaut keadaanku yang baru benar-benar pulih dari depresi berat. Disusul paman yang mencium dahiku lalu keluar kamar. Sekarang hanya ada aku dan Ethan. Dia jauh lebih tampan dan dewasa, apa yang terjadi? Aku tersenyum padanya, begitu pun sebaliknya. Dia memelukku dan menceritakanku beberapa baris fairytale kesukaanku dan dia amatir banget, namun yang terpenting adalah aku dapat tersenyum.

    Hari-hari bergantian, melanjutkan detik ke menit, menit ke jam. Menemani siang yang berganti malam. Semua berjalan secara normal kembali. ‘Meskipun tak sepenuhnya begitu’. Ethan adalah obat yang datang dalam bentuk yang berbeda.Keberadaannya sedikit banyak menegarkanku.Dia mustahil dapat benar-benar menggantikan posisi Aline untuk beberapa alasan logis. Kami tak bisa tidur bersama larut malam atau pura-pura menghilang dan ternyata kami sedang mandi bersama. Dia pandai bicara, mungkin merayu. Walaupun sedikit sekali bercanda dan kalau pun bercanda itu pun tidak lucu, menurutku. Kecerdasannya juga mengingatkanku pada sosok Aline, meskipun dia lebih tua dariku. Namun setidaknya ada alasan kuat satu lagi mengapa kami tak pernah bolos belajar bersama, yaitu karena selain kami adalah sepasang kekasih, kami berada di tingkatan yang berbeda. Dia kakak kelasku dua tahun lebih senior dan jenjang kami pun berbeda. Selama setahun pertama kepergian Aline, dia mengunci mulutnya untuk apapun yang telah dirahasiakan Aline. Namun di lain pihak, memang aku tak ingin membahasnya. Aku hanya tak ingin sakit lagi, jadi yang kami lakukan berkaitan dengan Aline hanyalah mengunjungi makam dan merawatnya. Satu hal yang harus kucamkan kini bahwa manusia tak peduli sebesar apapun bencana menyapa, mereka butuh kedewasan untuk membantu memecahkan permasalahan bagaimanapun juga. Setahun berikutnya saat aku memasuki semester kedua di jenjang pendidikan menengah atas, barulah Ethan bercerita mengenai segalanya.

    Akhirnya impianku tercapai juga. Di atas sini aku dapat membebaskan pandanganku terhadap ladang bunga tulip warna-warni dengan jelas. Ada bau wangi juga, tapi aku yakin bukan dari lembah tulip. Bau itu tak lain adalah parfum yang dipakai Ethan. April yang cukup menyenangkan bersama Ethan di Istana Topkapi. Ethan yang sesungguhnya bukan orang yang kuinginkan untuk dapat berdiri bersamaku hari ini.

    “Jadi, harus dari mana kita memulainya?” Ethan memulai percakapan dengan alis sedikit terangkat dan senyuman khasnya yang dia buang ke arahku.

    “Mulai dari, ‘bagaimana kau bisa jatuh hati padaku saja’ bagaimana?” ujarku mengakalinya.

    “Oh, itu pertanyaan yang cukup sulit, lagipula tidak menarik juga untuk diketahui,” celetus Ethan. Walau demikian, sedikitpun aku tak tersinggung ataupun kecewa karena memang bukan itu yang ingin kupertanyakan. Aku bukanlah orang yang merengek mengenai masalah cinta. Lagipula dia kan yang mulai duluan. Jadi seharusnya, dia lah yang akan merasakan kepedihan lebih dulu bila sesuatu terjadi di antara kami.

    “Mengapa dia sebodoh itu untuk mau mendonorkan kedua matanya yang cantik kepadaku? Kau tak akan percaya bila kukatakan bahwa mataku yang sebenarnya tak pernah seindah ini bukan?”

    “Oh ya? Mana coba kulihat?” Ethan menatapku serius dan memegang kedua bahuku sesuai style sok romantisnya, aku malu tapi setiap kali dia begitu aku tak dapat melakukan sesuatu. “Ya, mungkin sekali-kali kau harus menolak pemberian orang lain ya supaya hari ini tak bisa melihat indahnya festival tulip di musim semi, bagaimana kalau begitu saja?” lanjutnya. Aku tak dapat berasumsi dia sedang marah, hanya jengkel atau bercanda.

    “Maafkan aku,” maafku polos.

    “Kau tahu penyakit apa yang diderita Aline selama ini?”

    “Asma, asma akut?”

    “Itu adalah kebohongan pertama yang diperbuatnya,” ujarnya memulai rasa penasaranku.Namun karena dia mengetahui kebingungan di wajahku, sehingga dia melanjutkan penjelasannya.

    “Aline menderita TBC, dan semakin parah ketika usianya memasuki masa remaja. Mungkin yang sering diceritakannya adalah bahwa asma yang dideritanya disebabkan faktor keturunan, namun yang sebenarnya adalah dia memiliki kelainan paru-paru semenjak lahir, ditambah perhatian yang kurang dari kedua orangtuanya semakin memberikan peluang terserang bakteri penyebab penyakit ini. Yang lebih bodohnya lagi teman karibnya begitu saja percaya akan penyakit yang dideritanya. Kuakui kau memang bodoh dan tak lebih pintar dari Aline. Mungkin itulah mengapa aku lebih tertarik pada Aline daripada dirimu saat sore di mana kalian berdua berada di festival kembang api bulan Mei. Bagiku kau hanyalah gadis ceroboh yang membutuhkan Aline untuk menguatkanmu. Dan asal kautahu bahwa sebenarnya Aline sendiri telah memprediksi di umur berapa dia tidak akan kuat bertahan karena pertahanannya nol. TBC tidak hanya menyerang paru-parunya saja, tapi telah menjalar ke sistem pertahanan tubuhnya. Jika kau mengaku sebagai teman dekatnya atau bahkan adiknya seharusnya kau mengerti bahwa setiap malam dia akan mimisan karena tidak tahan udara dingin. Semua itu tak berhenti hanya di situ, aku pun kecewa akan alasan mengapa dia tak pernah menyetujui permintaanku untuk menikahinya suatu saat nanti, namun hal itu pun juga menjadi sebuah alasan mengapa dia berani mendonorkan matanya padamu.” Aku tertegun mendengarkan kenyataan itu. Aku terombang-ambing di atas perasaan antara bersalah atau bersyukur. Keduanya mungkin.

    “Sebenarnya masih ada dua hal yang dia larang untuk kuceritakan padamu, namun jika kau mau akan kubuatkan surat izin untukmu?” tawarnya menggoda.

    “Ceritakan!” sahutku singkat. Mengapa harus begitu, langsung saja ceritakan dan aku akan lebih senang.

    “Pertama, seharusnya dia mati di bulan Januari karena dia tidak ingin hidup melalui cuci darah setiap harinya. Namun, demi melihat kau tumbuh dewasa hingga memasuki usia ke 15, dengan segala cara dia usahakan supaya bisa hidup hingga tiga bulan setelahnya. Kedua, maka dari itu dia memberimu sebuah kado. Apa kau masih menyimpannya?”

    “Masih, dan tak pernah berani kubuka.”

    “Bagus. Memang kurasa kau tak memerlukannya. Itu hanyalah buku harian Aline yang akan membantumu membuatku mencintaimu dengan melakukan semua yang kusuka. Dia adalah penulis yang canggih. Belum pernah kutemui penulis seajaib dia. Mampu merencanakan skenario hidupnya sendiri dengan rapi. Dia bercerita padaku bahwa rasa syukurnya datang sebanyak dua kali yaitu pertama, saat dia mengenalku dan yang kedua, adalah karena kecelakaan main ski itu. Katanya, kecelakaan itu malah mendekatkan raganya kepadamu, dan tambahnya pula dia tak perlu susah payah mempertemukan diriku denganmu..”

    “Tunggu, memang ada apa denganmu? Kalian berpacaran namun apa maksudmu bahwa tidak perlu susah-susah mempertemukan kita?” aku memotong penjelasan Ethan karena saking penasarannya.

    “Lihatlah, betapa polosnya dirimu. Apa kau masih belum juga sadar bahwa ‘kado yang lebih baik dibandingkan berkunjung ke Istana Topkapi di musim semi’ tidak lain adalah aku sendiri? Sudah kubilang dia lah penulis terhebat, aku pun juga tidak bodoh. Aku mengetahui semua jalan ceritanya, namun yang kulakukan hanya berjalan begitu saja menuruti alur yang ditulisnya. Aku sangat bersyukur karena pada akhirnya aku dapat berdiri di sampingmu, bukan lagi karena permintaan terakhir Aline, tapi karena aku telah mendapatkan hal itu darimu,” dia mengakhiri ceritanya dengan sangat manis, karena aku akhirnya sadar bahwa selama ini aku benar-benar hidup bersama orang-orang yang menyayangiku. Sore itu, kami sama-sama menatap satu sama lain. Mendekatkan kedua ujung hidung kami dan aku setengah jinjit sementara dia merendahkan tubuhnya.Tak kusangka selama ini aku berpura-pura menjadi putri hanya dalam sekardus kaset CD dan kini pangeranku benar-benar berdiri tepat di hadapanku. Aku hanyut dalam dekapan Ethan. Rasanya begitu hangat dan lembut. Rasa cinta yang pada akhirnya kudapatkan dari hal yang paling kutakutkan seumur hidupku. Kehilangan Aline.

    Di depan makam dan masih berlutut.
    Aku berdoa untuknya, tak pernah bisa kubalas kebaikannya.Semoga kau tetap mendapatkan kebahagiaanmu karena kemuliaan semasa hidupmu. Aku mendengar langkah-langkah lain mendekati.

    “Sudah lama menunggu?” tanya lelaki itu, aku membalasnya dengan senyum versi baruku. Dia meletakkan seikat bunga tulip, lalu kami berpegangan tangan keluar dari areal pemakaman.

    “Apa sudah pernah kuceritakan ini?” tanyaku mengusik ketenangan Ethan sambil berjalan bersama.

    “Katakan saja.” Jawabnya singkat tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.

    “Di halaman terakhir buku harian itu, dia berpesan bahwa ‘because life can do terrible things’. Dia bilang aku tak boleh menyalahkan hidup karena dengan kematiannya, aku bisa menemukanmu. Menurutmu itu buruk atau tidak?” ujarku polos tapi sungguh aku telah berubah.

    “Aku tak bisa menilai itu buruk atau indah, sejauh ini yang kuketahui hanyalah, kau adalah sesuatu yang indah untukku. Kau bukanlah hadiah dari Aline ataupun Tuhan. Perasaan ini datang begitu saja. Aku percaya bahwa semua bukan lagi skenario, karena kau hanya dapat menemukan sebuah kehidupan hanya setelah mampu mengikhlaskan sebuah kehilangan.” jawabnya sambil terus memegang erat tanganku, kami berjalan sambil mendengarkan lagu favorit kami ‘Terrible Things dari Mayday’.

    Al, sesuatu telah merubahku. Aku tak akan pernah dapat mengungkapkannya dalam karangan seindah buku harianmu. Kadomu telah membuat tahun ke-17 ku begitu berharga.Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya Al.

    Sekian.

    Cerpen Karangan: Nur Ma’izzatul Akmal
    Facebook: Nur Maizza

    Artikel Terkait

    Hai Namaku Aline (Hal Buruk yang Indah) Part 3
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email