Bebek Berbaju Korpri

Baca Juga :
    Judul Cerpen Bebek Berbaju Korpri

    Seekor bebek berbaju korpri, bernafas api dan bersayap kelelawar mengejarku di padang ilalang setinggi lutut. Aku ketakutan karena bebek itu bernafsu sekali ingin menjadikanku makan siangnya. Matahari di atasku berwarna tosca. Aku terus berlari meski nafasku tinggal satu-satu. Lalu sampai aku di pelataran sebuah gedung dengan pesta pernikahan. Di sana banyak orang berpakaian adat jawa dan minang. Di wajah mereka hanya ada rona bahagia. Aku penasaran sehingga masuklah aku ke dalam gedung itu. Di dalam kulihat ada sebuah pelaminan megah adat jawa. Bersanding dua mempelainya, pria sawo matang yang gagah dan wanitanya yang putih, manis dan berlesung pipit. Rasanya aku kenal. Namun, tiba-tiba bebek berbaju korpri tadi datang lagi. Kali ini dengan serdadunya. Bebek berkepala ular, bebek berkepala kambing, bebek berkepala kuda, bebek tanpa kepala dan bebek berkepala bebek. Jumlah mereka ribuan. Gedung yang telah didekor semegah mungkin itu dirusak oleh serdadu siluman bebek. Pun pelaminan itu sudah tak keruan bentuknya. Tamu undangan dan sanak famili berlarian melarikan diri. Semua orang di dalam gedung itu panik, termasuk aku. Mempelai wanitanya sudah terbirit-birit entah ke mana. Kemudian aku terjaga dari mimpi mengerikan tadi, yang sebenarnya sudah beberapa malam singgah di tidurku. Aku terengah-engah seperti benar-benar habis berlari mengelilingi lapangan bola. Aku beristighfar berkali-kali, seraya menekan dadaku untuk meredakan gemuruh di dalamnya.

    Paginya, kutemui Bang Rahman di markas pertemuan buruh. Kuceritakan tentang mimpi mengerikan itu, lengkap alur, tokoh, setting, dan sudut pandangnya. Namun, dengan entengnya, sambil menghembuskan asap rok*k, dia berkata.
    “Itulah kalau terlalu banyak menonton drama korea! Terlalu banyak mengkhayal! Jadi rusak alam bawah sadarmu! Bagus kau mandi, biar ada yang mau memperistrimu, biar tak jadi perawan tua! Atau bantu-bantu Rahmi mengajar di madrasah! Biar ada gunanya kau hidup!”

    Kalau sudah bicara, Bang Rahman merepet terus. Apalagi bicaranya tidak pakai saringan. Asal keluar dari mulut pecandu rok*knya itu. Memang apa hubungannya drama korea dengan mandi, bebek berbaju korpri dan Rahmi? Di mana korelasinya?! Sok pintar! Orang ini pasti sedang mabuk air legen, jadi bicara tanpa berpikir. Buat ribut saja!

    Di balik itu, beberapa detik setelah kumengumpat Bang Rahman dalam hati, bohlam menyala di atas kepalaku. Aku bermimpi aneh beberapa malam ini lantaran satu hal! Aku cemburu pada Rahmi. Dengar-dengar dari kabar burung dan biang gosip, katanya Rizky sedang dekat dengan Rahmi, guru ngaji di madrasah sore di kampung. Dan kabar paling KAMPRETnya lagi, bahwa mereka akan menikah bulan depan! Secepat itukah? Jka dihitung-hitung lamanya aku memperjuangkan perasaanku pada Rizky adalah 6 tahun dan lamanya dia dekat dengan Rahmi adalah satu bulan, maka itu tidak adil! Secepat itukah harapanku hancur seperti bubur terinjak-injak jerapah?

    Namun, jika ditinjau dari fisik, perempuan itu jauh lebih tinggi dariku. Berkulit terang, manis, berlesung pipit, bibir merah muda dan beralis tebal. Semua berkebalikan dariku. Jika ditinjau dari kepribadian, ia penuh simpati, ramah, easy going, ceria, berdedikasi, dan penuh kasih sayang. Semua bertolak belakang dariku. Aku kalah dari segi apapun. Aku mafhum jika Rizky lebih memilih Rahmi sebagai mempelai wanitanya. Seperti dalam mimpiku.

    Akhir-akhir ini yang digosipkan malah sulit ditemukan keberadaannya. Kata Ayahnya ia bekerja di tambang, kata kuli tambang ia sudah pindah ke pelabuhan, kata syahbandar ia kerja di kelurahan. Mana yang betul?!
    Berlembar-lembar puisi kuciptakan, untuk sekedar mengutarakan aku merindukannya dan kini aku diliputi cemburu yang absurd. Bahkan aku sulit bersyukur bila teringat akan hal itu.

    Kaukah embun? Yang lembut tak tersentuh?
    Kaukah piano? Yang merayuku lewat dentingmu?
    Kaukah belati? Yang menusuk tepat di ulu hatiku?
    Kaukah opi*m? Yang membuatku candu?
    Rinduku warna biru
    Rindu adalah salju
    Semakin rindu, semakin pedih membekukku
    Semakin dekat dengan bulan di depanku, hari terasa terlalu cepat berganti. Aku semakin dicekik cemburu. Maka kuputuskan untuk mengonsumsi obat peninggi badan super cepat, 2 x 1 hari, bisa dibeli di kedai Baba Liong. Namun cemburu membuatku minum 6 butir sekaligus. Aku merasakan nyawaku tersangkut di kerongkongan. Luar biasa sakit tak berbilang. Lalu aku tak ingat apa yang terjadi setelah itu.

    Tiba-tiba aku menemukan diriku di atas dipan yang tinggi, di ruang rawat. Orang-orang yang kukenal merubungku. Bang Rahman menampar pipi kananku agar cepat sadar.
    “Rupanaya cemburu bisa membuat orang buta huruf, ya? Untung kau tak jadi mati! Merepotkan saja!” ujar Bang Rahman dengan nada kesal.
    Ternyata Bang Rahmanlah yang menemukanku tak sadarkan diri dengan mulut berbusa-busa mau meregang nyawa. Dan mataku menangkap sosok Rizky di samping kiriku, menatapku kesal, heran, iba, dan menyiratkan “betapa bodohnya perempuan ini. Memangnya burung siapa yang bilang aku mau menikahi Rahmi yang sudah dilamar Rizal? Kau jelek dan gila pun tak masalah”

    Cerpen Karangan: Amalia Aris Saraswati
    Facebook: Amalia Aris Saraswati

    Artikel Terkait

    Bebek Berbaju Korpri
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

    1 komentar:

    28 July, 2017 23:21 delete

    kok bisa nyampe sini bebek berbaju korpri nya wkwk

    Reply
    avatar