I’m Always Here With You (Part 1)

Baca Juga :
    Judul Cerpen I’m Always Here With You (Part 1)

    Seperti biasa alexa berangkat kesekolah dengan berjalan kaki. Bukan karena dia orang tidak mampu, dia adalah anak dari seorang miliyarder tekenal di Indonesia. Merupakan keturunan campuran, ayah dari inggris dan bundanya batak toba. Jarak rumah ke sekolahnya hanya 15 menit berjalan kaki. Hari ini dia memilih berjalan hanya untuk menikmati udara pagi yang masih segar. Alexa merupakan gadis yang cantik, baik, ramah, sopan, dan disukai oleh teman temannya di sekolah. Dia juga merupakan anak yang populer dan pandai di sekolahnya. Sehingga tidak sedikit orang yang menyukainya. Namun dari semuanya itu, dia adalah gadis yang tomboy. Memang penampilannya tidak urakan, namun kelakuan, cara berjalan, dan cara bicaranya memperlihatkan bahwa dia adalah gadis yang tomboy.

    Saat dalam perjalanan ke sekolah, tanpa sengaja seorang laki laki dengan motor sport birunya melaju dengan cukup kencang saat lexa akan menyeberang jalan. Laki laki tersebut harus mengerem mendadak dan tanpa bisa dihindari lexa tertabrak walaupun hanya menyerempet kakinya. Lexa terjatuh ke aspal, tangan dan lututnya tergores aspal sehingga mengeluarkan darah. Tidak terlalu lebar memang, namun lexa merasakan perih pada tangan dan lututnya. Laki laki tersebut menghampiri lexa yang terduduk di aspal sambil memegangi lengannya yang berdarah. Laki laki tersebut hanya berdiri dan melihat keadaan lexa, kemudian dia bersuara “berdiri” katanya dengan nada memerintah. Lexa kesal mendengarnya lalu dia langsung berdiri. Sesaat kemudian dia terpaku melihat laki laki di depannya. Dia tampan dengan rahang yang tegas, mata dan tatapan yang tajam, alis yang hitam tebal, bibir yang penuh dan lesung pipit di pipi sebelah kananya saat menunjukkan senyum miringnya melihat lexa, namun misa segera menghilangkan ekspresi terkejutnya dan memasang raut wajah datar dan dinginnya melihat laki laki itu.

    “makanya, kalau jalan itu lihat jalanmu. Dasar gadis bodoh.” Laki laki tersebut berbicara ketus. Lexa naik darah mendengarnya dan ingin melayangkan tinjunya ke hidung mancung lelaki itu jika saja tangannya tidak sakit sekarang.” Apa maksudmu? jelas jelas kau yang salah. Mengendarai motormu dengan kencang, kau pikir ini jalan nenek moyangmu apa?! awas kalau sampai aku bertemu lagi denganmu, akan kuhajar wajahmu hingga tak berbentuk lagi. Ingat itu!!” kata lexa sambil mengacungkan kepalan tangannya tepat di wajah laki laki itu. Kemudian lexa melangkah dengan kaki pincang karena lututnya berdarah tergores aspal tadi. Laki laki itu tersenyum tipis melihat lexa. Sebenarnya dia juga tadi terpaku saat melihat lexa. Dia melihat lexa dan jantungnya bergedup kencang karena melihat wajah cantik lexa. Awalnya dia mengira bahwa lexa seorang gadis feminin, namun saat dia mendengar perkataan lexa pemikirannya seketika berubah, lexa tomboy dan unik. Kemudian dia pun beranjak dan melajukan motornya menuju sekolah barunya.

    Sesampainya di sekolah misa langsung memasuki ruang kelasnya. Sahabatnya yaitu Andrew yang juga keturunan campuran yaitu belanda dan jawa, langsung menghampirinya dan menyemburnya dengan banyak pertanyaan seperti apa yang terjadi padanya, kenapa dia bisa terluka, kenapa datangnya lama sekali dan apa tugasnya sudah siap. Misa hanya mendesah panjang dan berkata “hahh.. dungu, dari pada aku menjawab pertanyaanmu yang seperti kereta api itu, sebaiknya kau bantu aku berjalan. Ini sakit dan perih. Ahhkk..” lexa mengulurkan tangannya. Andrew nyengir kuda dan membantu lexa berjalan. Kemudian dia mendudukkan lexa di kursinya dan kemudian berlari ke uks. Sesampainya di kelas dia berjongkok di depan lexa dan segera membasuh luka lexa dengan alkhohol. Lexa meringis “ahk.. isshh.. perlahan. Itu sakit tau” katanya sambil memukul bahu Andrew. Andrew mendongak “bahuku juga sakit. Kau mengajakku bertengkar! Hah!?” katanya dengan sedikit meninggikan suaranya. “Ok. Mungkin sekarang kau sedang beruntung. Lihat saja nanti kalau lukaku sudah sembuh, akan kuhajar kau hingga babak belur.” “ternyata darah batak mengalir deras dalam dirimu yah. Hingga sifat ibumu yang agak keras itu menurun kepadamu.” Kata Andrew. “Memang. Apa masalahnya denganmu?” “ya tentu saja itu termasuk masalah. Kau selalu mengahajarku setiap hari. Dan setiap malam aku harus melihat wajah tampanku dengan bibir lebam akibat perbuatanmu.” Lexa mencibir. Memang Andrew tampan, juga tubuh yang tinggi dan dia juga kapten team basket di sekolah itu.

    Bel pun berbunyi dan Andrew kembali ke tempat duduknya. Pelajaran pertama matematika. Lexa sedang tidak mood untuk mengikuti pelajaran karena kejadian tadi. Kemudian guru killerpun masuk dan berkata “selamat pagi anak anak.” “pagi bu.” Jawab mereka semua serempak. “Anak anak, sebelum kita memulai pelajaran pagi ini, ibu ingin memperkenalkan murid baru. Silahkan kamu masuk dan perkenalkan dirimu.” Setelah mengatakannya laki laki itu pun masuk. Misa tidak peduli dan hanya menunduk. Semua perempuan di kelas itu berbisik bisik genit melihat murid baru itu. Lexa mencibir. Kemudian murid baru itu memperkenalkan diri, “hi.. perkenalkan nama saya Alexander Mario Ricci. Saya pindahan dari sma INGGRIS. Saya pindah ke sekolah ini untuk tinggal bersama dengan ibu saya. Saya keturunan inggris dan sunda. Jika teman teman ada yang ingin bertanya silahkan.” Lexa terkejut mendengar suara alex. Ternyata laki laki gila tadi satu sekolah dengannya, tepatnya satu kelas.

    Kemudian salah satu perempun di kelas itu bertanya dengaan suara ganjen “alexander, kau sudah memiliki pacar?” “belum” jawabnya dengan ekspresi datar. Semua perempuan di kelas itu semakin riuh berbisik bisik. “sudah sudah. Alexander silahkan kamu duduk di sebelah Alexandra. Karena hanya di sampingnya bangku yang tersisa.” Lalu alex berjalan menuju kemeja alexa. “hi..” sapanya pada lexa. Lexa hanya tersenyum kecut dan kembali melamun. Dan hari ini memang hari yang menyebalkan. Terlebih lagi harus setiap hari berdekatan dengan laki laki yang sangat menyebalkan ini.

    Bel istirahat kemudian berbunyi. Lexa sulit untuk beranjak ke luar dari tempat duduknya selain karena kaki dan tangannya masih sakit, laki laki itu juga tidak mau beranjak dari tempat duduknya dan hanya diam memandangi papan tulis di depannya. “ssshhh.” Lexa meringis saat lututnya tak sengaja bersentuhan dengan meja. Alex mengernyit melihatnya. “kenapa?” “dungu. Kau bertanya lagi kenapa. Kau tidak ingat kejadian tadi pagi. Dasar pikun.” Alex hanya tersenyum tipis lalu berkata “ahk.. itu belum seberapa. Lihat saja hari hari berikutnya, kau akan sering menghadapi hal hal seperti ini. Oh ya.. bukannya kau ingin menghajarku saat melihatku lagi. Mana janjimu?” lexa kesal mendengarnya dia pun berdiri walaupun kakinya masih sakit. Kemudian dia berkata “kau serius sekarang? Hah.. baiklah. jangan menyesal kalau nanti wajahmu berubah bentuk.” Saat lexa akan melayangkan tinjunya ke wajah alex, laki laki itu menangkap kepalan tangannya dan menggenggamnya. Dia pun memelintir tangan lexa dan membalikkan tangannya ke punggung lexa. “ahhkk…!” Lexa menjerit tertahan saat luka di tangannya bersentuhan dengan seragamnya sehingga darahnya kembali mengalir. Alex memperhatikan luka di tangan lexa dan “itu pasti sangat perih.” Batinnya. Kemudian dia mengembalikan posisi tangan lexa dengan menggenggam tangan lexa. Mata lexa menyipit saat perih di tangannya bertambah perih. “le..lepaskan aku. Sakit..” suaranya tertahan. Saat alex sudah melepaskan tangan lexa, lexa langsung begegas pergi, namun tangannya kembali ditarik saat akan berbalik Lexa tersandung kakinya sendiri sehingga mereka berdua jatuh dengan tubuh Lexa tepat berada di atas tubuh alex. Lexa terkejut dan akan segera berdiri, namun suara alex menghentikannya “diam dulu. Aku tahu tangan dan kakimu masih sakit. Jadi tidak usah bergerak dulu. Tenanglah sebebentar.” Lexa akhirnya menyerah dan berhenti berontak. Kemudian.. “maaf.” kata alex singkat. Lexa hanya diam. Kemudian alex mendudukan lexa dan dia pun ikut duduk berdua saja di lantai. Lexa meneteskan air mata saat luka pada tangannya menegeluarkan darah. Spontan alex menarik tangan lexa “aisshh.. sa.. sakit..” tanpa banyak bicara alex langsung mengangkat badan lexa dan membawanya ke UKS. Lexa diam dan hanya menurut saat alex mengobati lengannya dan menutup lukanya dengan perban. Setelah alex selesai membalut lukanya dengan perban, lexa langsung beranjak dari uks tanpa mengucapkan sepatah katapun.

    Saat akan kembali ke kelas, lexa berubah pikiran dan merubah arahnya ke arah taman belakang sekolah. Lexa duduk termenung disana dan berpikir “ternyata walaupun menyebalkan dia juga perhatian. Tapi.. hey.. apa yang kupikirkan!?” batin lexa. Kemudian alex menghampirinya dan duduk di samping lexa. Lexa terkejut namun tatapan dingin dari alex membuatnya memasang raut wajah seolah tidak peduli. “Masih sakit?” “tidak. Itu belum seberapa.” Kemudian alex menatapnya dengan senyuman miring “tidak seberapa yah..? lalu kenapa tadi kau menangis?” “aku ti..tidak mengangis!” Kata lexa gugup. Kenapa dia bisa mengetahuinya? batin lexa. “Sudahlah. Itu wajar saat seorang wanita menangis. Memangnya kau apa? laki laki? Oh iya.. kau kan wanita jadi jadian. Ya kan?” “terserahlah. Itu bukan urusanmu” “tentu itu akan jadi urusanku. Kau akan jadi milikku mulai sekarang. Tidak ada penolakan. Oh iya.. sepertinya kita berjodoh yah? tadi pagi kita bertemu, kita satu sekolah, satu kelas bahkan satu meja. Dan oh iya nama kita mirip. Aku Alexander dan kau Alexandra. Bukankah itu membuktikan kalau kita berjodoh.” Katanya panjang lebar. Bagiku itu bukan kebaikan, namun suatu kesialan. Batin lexa menjawab. Lexa kemudian beranjak ke kelas. Tanpa berniat mengajak alex pergi.

    Alex sebenarnya menyukai sifat lexa yang dingin, entah mengapa sikap dinginnya itu dapat membuat hatinya menghangat. Alex dingin terhadap semua wanita dikarenakan Pacar yang sangat disayanginya selingkuh tepat di depan matanya. Padahal mereka sudah berjanji akan tunangan saat lulus sekolah nanti. Namun semua harapannya harus hilang ditelan kenyataan. Hal tulah yang membuatnya jadi seorang lady killer.

    Pulang sekolah…
    “lexa sayang.. mama dan papa akan pergi selama 1 bulan ke singapura. Kamu gak apa apakan ditinggal?” “hah..? kenapa bilangnya baru sekarang? jadi mama sama papa akan pergi hari ini. Kan sudah sore ma? memangnya pesawatnya take off jam brapa? terus lexa sama siapa?” lexa bertanya dengan wajah polos seperti seorang anak kecil yang tidak tahu apa apa. Kemudian mamanya tersenyum lembut “lexa.. kamu kan udah gede. Kamu harus coba hidup mandiri mulai sekarang. Ya sudah mama sama papa pergi dulu yah. Pesawatnya 1 jam lagi take off. Oh iya.. kamu gak usah takut tinggal sendiri. Anak temen mama udah nunggu di bawah. Kebetulan mamanya dia juga lagi ada tugas ke luar negeri. Jadi kalian akan tinggal berdua selama sebulan. Dia di ruang tamu sama papa kamu.” Kemudian lexa berjalan mengikuti mamanya dari belakang sambil memasang wajah cemberut. Dan betapa terkejutnya lexa saat tau kalau anak yang harus tinggal bersamanya selama sebulan ini adalah laki laki. Dan lebih parahnya laki laki itu adalah alexander. Lexa langsung protes dengan menarik tangan mamanya ke arah dapur. “mah.. mama apa apaan sih!? mama yakin mau ninggalin anak perempuan mama sama seorang laki laki? aku kan gak terlalu kenal ma sama dia..” “lexa sayang. Kamu gak usah khawatir.. alex itu anak yang baik kok. Lagian kan kalian satu sekolah dan satu kelas.. gak papa kok. Ya udah yah mama sama papa berangkat. Bye sayang.” Kemudian mama dan papanya memeluk dan mencium kening lexa.

    Selepas orangtuanya pergi lexa langsung beranjak ke kamar. Namun ditahan oleh alex. “Mau kemana?” “mau ke kamarku. Supaya gak lihat dan harus berhadapan sama kamu.” Saat lexa akan melanjutkan langkahnya suara alex menahannya. “diam di situ.!!” Perintah alex. Entah mengapa lexa langsung diam dan mematung. “duduk di sini.” Kata alex lagi. Lexa hanya menurut. Suara tegas alex membuat lexa harus menurutinya. Lexa terpaksa duduk. “ada apa?” ketusnya pada alex. “tidak ada. Hanya saja.. aku senang akan tinggal bersamamu selama 1 bulan ini. Kau akan lihat apa saja yang dapat kulakukan selama 1 bulan ini terhadapmu. Lexa tiba tiba saja jadi gugup dan takut saat mendengar perkataan alex.
    Sudah 1 minggu mereka tinggal bersama namun belum ada hal hal aneh yang diperbuat alex terhadapnya. Bahkan di sekolah mereka pun seperti tidak saling menyapa.

    Namun saat di rumah hari ini… Lexa sedang duduk di sofa depan tv sambil memakan snack. Tiba tiba alex menghampirinya dan langsung duduk di sampingnya. Mengambil snack dan mengganti saluran televisi. Lexa kemudian protes “jangan menggangguku. Dan jangan pernah mencuri makananku!” Lexa kemudian merampas snack yang ada di tangan Alex. Alex kemudian menggenggam erat pergelangan tangan lexa hingga snacknya terjatuh. Kemudian berbalik posisi hingga alex menindih tubuh lexa di sofa. Kemudian tanpa aba aba, alex langsung mendaraatkan ciuman di tepat di bibir lexa. Lexa terkejut. Dia ingin berontak namun dia tetaplah seorang perempuan. Kuatnya cengkraman alex di tangannya serta tubuhnya tidak mampu membuat lexa bergerak. Kemudian alex menghentikan ciumannya dan menatap lexa dengan tajam dan dalam. “lepaskan aku. Dasar mes*m.. lepaskan.!!” Kemudian alex menunjukkan seringai mengejek. Dan menarik tangan lexa untuk duduk dengan sekali hentakan. Lexa kemudian berontak dan akan segera pergi, namun baru beberapa langkah, lexa measa kepalanya pusing dan tubuhnya tiba tiba saja limbung. Alex yang melihat itu segera menahan tubuh lexa agar tidak terjatuh. Lexa semakin lemas dan keluar darah segar dari hidungnya. Alex segera membopong lexa ke kamarnya dan membaringkannya di tempat tidur. Kemudian mengambil tissue dan menghapus darah dari hidung lexa. Dia segera menghubungi dokter.

    Beberapa saat kemudian dokter datangdan segera memeriksa keadaan lexa. Dokter itu keluar dengan raut wajah yang sulit ditebak, kenudian berkata “sudah sejak kapan dia seperti ini?” “entahlah dok. Aku baru melihatnya begini hari ini. Memangnya bagaimana keadaannya dok?” “dia terkena gejala tifus. Seharusnya dia memeriksakan keadaannya ke dokter. Baiklah, ini obatnya dan baca aturan penggunaannya. Makan obat yang rutin. agar kesehatannya segera pulih.” “baik.. terimakasih dokter.” Kemudian alex memasuki kamar lexa. Lexa sudah duduk di kasurnya dan memandang ke arah balkon kamarnya. Dia kemudian menoleh melihat ke arah alex.
    “apa yang kau lakukan disini?” alex tidak menjawab dan hanya berjalan mendekat ke kasur lexa. Kemudian berkata “dasar gadis bodoh. Kau sakit dan tidak pergi ke dokter.” Katanya dengan suara agak khawatir. Lexa bingung. “Sakit..? sakit apa?” “kau tidak tahu kalau kau sedang sakit? kau tidak merasakan tubuhmu lemas?”
    Lexa heran. Sangat heran. Memang akhir akhir ini dia merasakan tubuhnya lemas. Namun dia tidak berpikir bahwa dia akan sakit. “Emm.. hehe.. sakit apa yah..?” tanyanya dengan nyengir kuda. Antara gugup dan malu. Alex terkesima melihat senyum yang dipamerkan oleh lexa. Sudah sangat lama tinggal bersama lexa namun baru kali ini dia melihat lexa tersenyum, walaupun itu hanya senyum canggung namun manis sekali. Lexa membuyarkan lamunan alex “alex.. sakit apa?” rengeknya manja. Alex kembali terbang dengan pikirannya sampai lexa mencubit pipi alex dengan wajah polos.. “aduh duh.. aduh.. sakit!” “kau dari tadi aku bertanya dan kau hanya bengong. Jawab!” “kau terkena gejala tifus. Makanya perhatikan kesehatanmu.” “oh.. hanya gejala tifus. Itu belum seberapa. Sebentar lagi sembuh kok. Aku pergi ke dapur dulu yah.” Kemudian dia segera berdiri. Namun kembali terjatuh. Alex yang melihatnya hanya geleng geleng kepala. Lexa tertawa dengan lepas diikuti alex akibat kebodohan lexa. Kemudian alex mengangkat tubuh lexa dan membawanya ke ruang makan dan mendudukkannya di kursi. Dan mulai hari itu mereka semakin dekat. Tidak ada lagi sikap dingin dan bermusuhan. Lexa juga semakin lama menyukai alex demikian juga alex.

    Malam hari saat lexa dipaksa makan obat oleh alex. “tidak mau. Kau saja yang memakannya. Aku benci obat. Itu pahit sekali tahu.” “kau ini keras kepala sekali. Bagaimana kau bisa sembuh. Cepat makanlah!” Lexa memasang raut wajah memelas dan puppy eyesnya menatap ke arah alex. Alex sedikit goyah namun tersadar lagi. “Tidak merubah keputusanku, kau harus tetap makan obat ini walaupun kau memasang wajahmu seperti itu.” Lexa mendecak kesal. Karena biasanya saat dia dipaksa oleh mamanya makan obat, dia akan seperti sekarang ini. Pada mamanya hal itu berhasil namun tidak dengan alex. “alex.. aku mohon..” “tidak. Telan ini sekarang, atau kau mau kucium lagi.!?” Misa terhenyak dan wajahnya memerah. Alex yang melihat hal itu tersenyum. “Sudahlah makan saja obat ini. Kumohon kali ini jangan menolak. Aku ingin Kau cepat sembuh.” Lexa menyerah dan menelan obatnya walaupun harus menahan rasa pahit. Setelah obatnya habis dia segera bernapas lega. Alex yang melihat hal itu, dengan gerakan cepat menempelkan bibirnya di bibir lexa. Lexa terkejut tapi hanya diam. Ini adalah ciumannya yang kedua yang dicuri oleh alex. Karena yang pertama sewaktu dia sakit. Alex menghentikan ciumannya dan mencium kening lexa dengan lembut. “tidak pahit lagi kan? aku tahu bibirku itu sangat manis, jadi tidak usah sungkan. Ok?” katanya dengan percaya diri. Lexa hanya memalingkan wajahnya agar alex tidak melihat wajahnya yang sedang bersemu kemerahan.

    Hari ini kakak lelaki lexa akan berkunjung ke rumah untuk melihat keadaan lexa. Kakaknya yang bernama marco itu tinggal di apartemen seorang diri dan jarang berkunjung ke rumahnya.

    Cerpen Karangan: Derisma Paulina
    Facebook: Derisma Paulina Haloho

    Artikel Terkait

    I’m Always Here With You (Part 1)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email