I’m Always Here With You (Part 2)

Baca Juga :
    Judul Cerpen I’m Always Here With You (Part 2)

    Setibanya di rumah…
    “lexa.. lexa.. kakak datang.” Teriak kakaknya dari ruang tengah. Tidak ada yang menyahut. Dia kembali memanggil. Namun bukan jawaban yang ada melainkan suara tertawa yang sangat lepas. Dia mengenali tawa itu sebagai tawa milik lexa adik perempuannya. Dia bingung apa yang membuat adiknya dapat tertawa sedemikian lepas. Saat akan menyusuri asal suara tawa itu, ternyata lexa sudah berlarian dengan wajah berbinar yang di belakangnya diikuti oleh seorang lelaki yang dia kenal sebagai alex. Ya, dia mengenal alex, karena alex adalah salah satu pewaris perusahaan terbesar di kota ini. Dan sudah kerap kali mereka bertemu dalam rapat penting. Kemudian lexa menyadari bahwa kakaknya datang, dia segera berlari seperti anak kecil dan langsung memeluk kakaknya dengan sangat erat.. “kakak… kangen.. aku kangen banget sama kakak. Kakak kok gak pernah datang sih liatin lexa. Lexa kangen banget tahu…” alex hanya tersenyum melihat lexa. Ternyata dia anak yang sangat manis, batin alex. “Ya ampun lexa.. kakak sesak nih.. masag kakak baru nyampe udah mau kamu bunuh aja. Gak kangen nih?” lexa tersadar telah memeluk kakanya dengan sangat erat. Dia kemudian tertawa kecil. “hi lex… lama kita gak jumpa ternyata kamu lagi pacaran ya sama adikku yang manis ini.” Lexa tersenyum malu. Tapi dia bingung, dari mana mereka saling mengenal. “kami tidak pacaran.” Katanya membuat lexa sedikit sedih. Tapi apa daya. Memang mereka tidak menjalin suatu hubungan apapun. Dia tersenyum kecut.” Tapi sebentar lagi kami akan pacaran” sambung alex membuat jantung lexa berdetak dengan sangat cepat. “ahahaha. Sudah sudah. Kau membuatnya malu. Lihat wajahnya memerah. Oh iya. aku kesini ingin melihat keadaanmu lexa. Kata alex kau sakit. Bagaimana? sudah sembuh?” “sudah. Aku bahkan terlalu sehat. Dia menjagaku melebihi mama kak. Dia terlalu memaksa.” Celetuk lexa. “hey.. hey.. kau sangat sulit untuk makan obat. Obat sekecil itu kau sangat sulit menelannya. Dasar payah.” “apa kau bilang. Payah? kau yang payah.” Alex langsung menjitak pelan kepala lexa. Lexa pun membalas dengan meninju lengan kiri alex. Marco tersenyum melihat mereka berdua. Alex adalah orang yang tepat untuk lexa. Batin marco.

    Sore harinya marco pun pulang. Dan tinggallah lexa dan alex berdua di rumah. Lexa duduk termenung di balkon kamarnya. Dia memikirkan perkataan alex tadi siang kepada marco. Tiba tiba saja alex masuk ke kamar lexa tanpa permisi. Lexa tersentak “apa yang kau lakukan di kamarku malam malam begini? ketuk pintu dulu baru masuk!!” “dari tadi sudah kuketuk bahkan aku sampai berteriak seperti orang gila memanggil manggil namamu. Namun tidak ada yang menyahut. Aku heran kupikir kau sedang mencoba melompat dari balkon kamarmu. Teryata sedang enak melamun.” Jelasnya panjang lebar. Lexa memiringkan kepalanya kebingungan. “benarkah?” tanyanya dengan wajah polos. Seperti orang bodoh. Alex gemas dengan tingkah lexa sampai sampai dia mencubit hidung lexa hingga memerah. “Adu duh.. sakit. alex lepaskan. ahhhkk.. kan jadi merah. aku jadi terlihat aneh karena perbuatanmu.” alex hanya tertawa melihat tingkah lucu lexa. Ternyata aku memang jatuh hati pada gadis aneh ini. Batin alex. Aku ternyata memang sudah jatuh cinta sama laki laki gila satu ini. Batin lexa. mereka berpandangan sejenak lalu kata kata itu keluar dari bibir alex “lexa, aku cinta sama kamu.” Lexa terperanjat atas pengakuan cinta alex. “Kau tidak bercanda kan?” “apa kau tidak melihat wajah tampanku ini sedang serius. Jawab sajalah. Aku menunggu” “aku.. aku juga mencintaimu. Entah kapan rasa ini hadir namun aku memang mencintaimu.” Jawab lexa. Alex begitu girang mendengarnya hingga tanpa pikir panjang dia memeluk tubuh lexa dengan erat dan mengangkatnya lalu berputar putar. Lexa tertawa dengan girang.

    Keesokan harinya di sekolah…
    “sayang ayo kita pergi ke kantin.” Rengek alex dengan manja sambil menggoyang goyangkan lengan kanan lexa yang sedang fokus menulis. “tunggu sebentar. Nanti catatannya ketinggalan.” “kau lihat punyaku saja nanti” lexa tetap tidak mau beranjak. Alex kesal dibuatnya sehingga dia mengangkat lexa dan menggendong tubuh lexa di pundaknya ke taman. Lexa berontak namun alex tidak bergeming. Akhirnya mereka tiba di taman. Lexa bingung. “kenapa ke taman? bukannya tadi kau mengajakku ke kantin?” huft… alex menghela nafas. “Tadi aku lapar. Sekarang tidak lagi. Sudahlah. Aku hanya ingin berduaan denganmu.” alex memandangi wajah lexa. Lexa hanya tersenyum manis. Sampai moment mereka berdua terganggu oleh suara ribut dari laki laki di belakang mereka. Ternyata ada murid baru.

    Tiba tiba saja murid baru itu menghampiri alex dan langsung memeluk alex dari belakang sambil berkata “I miss you so bad alex. Why you go out from school? And… who is she?” katanya dengan pandangan mencemooh ke arah lexa. Lexa memperhatikan gaya perempuan itu. Rok yang terlalu pendek, dandanan seperti orang yang akan pergi berpesta, dan rambut pirangnya. Ya. Dia adalah orang asing. “lepaskan aku kathrine. Dia pacarku. Kami saling mencintai.” Kata alex sambil menggenggam erat tangan lexa. Lexa terhenyak mendengar perkataan alex. Ternyata dia memang benar benar mencintai lexa. “ahh.. kau pasti hanya bercanda kan baby? mana mungkin seleramu turun kepada gadis kampungan seperti dia.” “jaga perkataanmu kathrine. Dia ini gadis baik baik. Tidak seperti dirimu yang hanya bisa merendahkan orang lain. Sudah. ayo kita pergi lexa” kata alex sambil menarik tangan lexa pergi dari taman.
    Kathrine mendesis. Awas kau gadis kampung, akan kubuat perhitungan kepadamu, batinnya dengan geram.

    Sesampainya di rumah lexa hanya duduk diam di sofa memperhatikan alex. Wajahnya polos namun terlihat lucu. Alex mendekat dan mencubit pipi lexa. “aduh… itu sakit alex!” “kau yang salah kenapa memasang wajah lucu seperti itu. Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mencubit pipimu. Hahaha…” tawa alex menggema di seluruh ruangan. Lexa cemberut memajukan bibirnya sehingga membuat alex merasa gemas dengan tingkah lucu lexa.

    Malam harinya…
    “lexa aku mau ke minimarket di ujung jalan ini dulu yah kau tinggal di rumah saja. Jangan kemana mana.” “aku mau titip soft drink yah. Yah yah yah…” “ok. Pintunya kau kunci saja. Aku akan membawa kunci cadangan” setelah alex pergi lexa kemudian menutup pintu. Namun baru beberapa langkah pintu diketuk. Cepat sekali dia. Batin lexa. Namun saat membuka pintu bukan alex yang mengetuk melainkan kathrine dengan 2 orang pria berbadan besar berdiri di belakangnya.
    “untuk apa kau kesini?” “oh.. ternyata ini kediaman keluarga Orlando.” lexa heran melihat tingkah laku wanita aneh dan ganjen ini. Tidak tahu sopan santun.
    “tangkap dia ikat dan bawa ke sofa ke hadapanku” perintah kathrine kepada dua pengawalnya tadi. Lexa berontak namun dia hanya seorang perempuan. Setelah kedua tangannya sukses terikat dia kemudian di jatuhkan di sofa.
    “maumu apa sih?” “aku mau kau menjauhi alex. He is mine” “gampang sekali kau mengaturku. Memangnya kau siapa. Aku tidak peduli mau kau anak presiden sekalipun.” plak… satu tamparan mendarat sempurna di pipi mulus lexa hingga membuat sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah.
    Kemudian kathrine menjambak kasar rambut lexa hingga membuatnya mendongak. Lexa meringis. Rasanya sakit sampai ke akar akarnya. “jangan kau berani menentangku. Atau aku bisa membunuhmu sekarang juga disini.” “coba saja kalau kau berani. Alex akan segera datang dan menolongku.” Kali ini kathrine sangat marah dibuatnya hingga kembali menampar pipi mulus alexa.

    Sedangkan alex…
    “kenapa aku gelisah yah..? lexa sendiri di rumah. Apa yang terjadi degannya?” batinnya gelisah. Dalam perjalanan pulang tanpa sengaja dia bertemu dengan marco kakak lexa. “hy lex… kau baru dari mana?” “hay.. marc.. dari minimarket di depan sana. Tapi aku sedikit gelisah meninggalkan lexa sendiri di rumah. Perasaanku tidak enak.” “coba kau telepon saja dia.” Kata marco. Alex segera mengangguk dan mengambil smartphonenya dari saku celana.

    Di rumah…
    Lexa merasakan smartphonenya bergetar di saku celananya. Dia bersyukur kedua pengawal tadi berjaga di pintu depan. Dia mengangkatnya diam diam.. tidak berbicara pada si penelepon. Entah siapa yang meneleponnya. Kemudian dia berkata kepada kathrine “kathrine.. kenapa kau berbuat gila seperti ini hah? Kau pikir jika aku mati alex akan jatuh cinta sama kamu? pikiranmu salah. Alex akan semakin membencimu dan mungkin akan memburumu untuk dipenjarakan.” Kathrine mengepalkan tangannya hingga buku buku jarinya memutih. Tanpa pikir panjang dia kembali menampar lexa dengan cukup keras lexa hanya diam merasakan pipinya panas akibat tamparan dari kathrine.
    Sementara di seberang telepon…
    “lexa.. halo.. lexa..” panggil alex dengan suara agak keras. Marco yang melihatnyapun bertanya “ada apa?” “sepertinya kathrine berada di rumah sekarang. Wanita itu gila marc. Dia bisa melakukan apa saja bahkan membunuh agar keinginannya tercapai. Kita harus segera ke rumah sekarang.” Dan tanpa pikir panjang marco segera mengajak alex menaiki mobilnya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

    Sesampainya di rumah mereka dihadang oleh dua orang berbadan kekar. Namun hal itu tidak membuat mereka takut. Merka berdua adalah laki laki yang sama sama mengikuti ilmu bela diri. Sehingga tak membutuhkan waktu lama pengawal yang berbadan besar tadi sudah tumbang. Mereka berdua kemudian membuka pintu secara paksa dan mendapati lexa dijambak oleh kathrine dengan pisau ditodongkan keperutnya. Alex dan marco sangat terkejut melihat keadaan lexa. Mereka bingung harus berbuat apa “bagaimana alex sayang? kamu masih ingin menolakku?” Tanya dengan suara ala penggoda. Alex bingung harus berbuat apa.
    Kemudian marco berkata sangat pelan hingga hanya mereka berdua yang mendengarnya. “alex, kau harus mengulur waktu agar aku menyelinap ke luar untuk berpura pura menelpon polisi. Aku akan ke luar dan masuk melalui pintu yang ada di belakang mereka. Kau tenang saja. Aku akan menahan perempuan gila itu.” “ok. Akan kucoba.” sahut alex. Kemudian marco berkata. “heehh.. gadis gila. Lihat saja. Aku kan segera menelepon polisi agar mereka segera menangkapmu.” “coba saja kalau kau berani. Dia akan segera kubunuh.” “aku tidak peduli. Kalau kau membunuhnya tidak ada untung ruginya buatku. Aku hanya kesal melihat rumahku yang berantakan akibat ulahmu” setelah mengatakannya marco segera ke luar. Dia tidak berpura pura menelepon polisi. Dia memang menghubunginya. setelah selesai memberi tahu alamatnya pada polisi. Dia pun masuk secara diam diam lewat pintu belakang.

    Sementara di dalam…
    “kathrine! Jangan berbuat gila. Jangan sekalipun kau menyakitinya. Aku tidak akan segan segan membunuhmu. Awas saja kalau sampai dia terluka.” Kata alex. “Apa sih yang kau lihat dari perempuan ini?. Jelas jelas aku lebih cantik, kaya raya, seksi dan aku lebih segala galanya dari dia.” Alex mendengus kesal mendengarnya. “Kau hanya tidak punya sopan santun dan hati nurani. Kau sudah puas? hanya itu kekuranganmu” kathrine semakin marah. Saat dia kan berkata kata lagi dia merasakan ada seseorang di belakangnya. Dia terkejut hingga tak sengaja menusukkan pisau itu tepat di perut lexa. Lexa terjatuh dengan tangannya yang berlumuran darah karena menekan luka di perutnya. Marco terkejut dan marah. Dia segera memukul bahu kathrine hingga membuatnya pingsan. Alex lebih terkejut lagi hingga tanpa sadar berlari dan menopang tubuh lexa di tangannya. Polisi pun sampai dengan ambulan karena sudah dihubungi oleh marco. Kathrine yang sudah bangun dari pingsannya meronta ronta saat diringkus polisi. Marco menaiki mobilnya menuju rumah sakit. Sementara alex ikut mobil ambulan.

    Di dalam ambulan…
    “lexa… please.. jangan tinggalin aku” kata alex sambil sedikit terisak ” yang mau ninggalin kamu siapa?” katanya sambil sedikit tertawa “ahhk.. sssshhh” lexa meringis. “kau ini sulit sekali diperintah. Jangan tertawa dulu. Perutmu nanti semakin sakit.” kata alex sambil mengelus kepala lexa dengan lembut. Lexa hanya tersenyum.
    Sesampainya di rumah sakit. Lexa langsung dibawa ke ruang operasi. Alex mengantar sampai pintu depan operasi sedangkan marco mengurus administrasi. Setelah hampir 3 jam akhirnya lampu ruang operasi mati dan dokter pun ke luar. Alex dan marco langsung menghampirinya. “Bagaimana keadaan adik saya dok?” kata marco. Alex juga sama cemasnya dengan marco. “dia sudah tidak apa apa. Operasinya berjalan lancar. Pisau itu tepat menusuk di lambungnya hingga kami harus melakukan operasi untuk menutup luka di lambungnya dan juga menjahit perutnya. Bekas lukanya tidak akan berbekas jika nanti diberi obat secara rutin dan sesuai aturan.” “baiklah terimakasih dok. Jadi kapan kami bisa melihat keadaan lexa dok?” Tanya alex. “nanti setelah dia dipindahkan ke ruang rawat sekitar satu jam kemudian kalian sudah bisa menjenguknya. Efek dari obat biusnya juga tidak akan lama. Kalau begitu saya permisi.” “terimakasih dok. Silahkan.” Sahut marco.

    Kemudian setelah dirasa cukup mereka berdua pun memasuki kamar rawat lexa. Lexa sudah sadar dan memberikan senyum termanisnya kepada dua laki laki yang dicintanya. Alex dan marco membalas senyum lexa. “kamu udah gak apa apa kan lex?” Tanya marco. “iya kak. Aku gak apa apa kok. Itu belum seberapa. Buktinya aku masih hidup kan?” “lexa kamu sudah membuat kami berdua khawatir setengah mati. Dan sekarang kau masih sempat bercanda. Oh god..!!?” alex sampai mencubit pipi pucat lexa karena gemas dengan tingkah lakunya. “kau tega mencubit pipiku. Ini masih sakit karena tamparan perempuan gila itu. Bibirku saja masih sakit.” Rengeknya manja. Alex diam untuk beberapa saat, dia berpikir jika saja dia terlambat untuk menelepon lexa mungkin sekarang dia tidak dapat melihat lexa lagi. “alex.. ada apa?” Tanya lexa dengan wajah yang lagi lagi polos. Alex tersenyum dan mengelus elus pipi lexa dengan jempolnya “tidak ada apa apa. Aku hanya menyadari sesuatu.” “menyadari apa?” Tanya lexa penasaran. “aku ternyata sangat sangat mencintaimu.” Kata alex sambil tersenyum lembut. Wajah lexa memerah. Dia tidak menyangka bahwa itu yang akan diutarakan oleh alex. Tiba tiba saja marco dengan jahilnya mengganggu moment mereka berdua “suit.. suit.. sepertinya aku mulai terabaikan.” Kata marco dengan senyum jahilnya. Lexa hanya diam sambil menutupi wajahnya dengan selimut. Sedangkan marco dan alex tertawa melihat tingkah lexa.

    5 hari kemudian. Di pagi hari.
    “lexa… bangun. Saatnya makan obat. Ayo bangun.” bujuk alex kepada lexa. Lexa sangat tersiksa selama di rumah sakit. Harus memakan bubur yang menjijikkan di tambah obat yang sangat pahit. Lexa hanya senang saat diberi makan buah oleh alex. “c’mon babe.. makan obat. Ini obat terakhir.” Bujuk alex lagi. “gak mau. Aku gak suka obatnya alex. Pahit.!?” Rengeknya manja. Alex menghela nafas. Susah juga menghadapi gadis ini saat akan makan obat. Akhirnya setelah melalui berbagai macam bujukan lexa pun memakan obatnya. Sesudah menelan obatnya lexa memejamkan matanya karena rasa pahit yang masih menempel pada lidahnya. Dia juga merasa bahwa bibirnya juga sangat pahit. Alex pun tersenyum dan mencium lexa tepat di bibirnya. Hanya ciuman ringan seringan kapas. Lexa tersenyum manis kepada alex setelah mereka berhenti berciuman. Dia masih ingat ketika hal ini juga dilakukan alex padanya saat memakan obat tempo hari.

    Setelah 10 hari di rumah sakit lexapun diperbolehkan pulang. Dan esok harinya merupakan kepulangan orangtuanya dari singapura. Lexa bahagia menjalani hidupnya yang sekarang. Hidupnya jadi lebih berwarna sejak hadirnya cinta untuk pertama kali dalam hidupnya. Ya. Alex merupakan cinta pertama sekaligus pacar pertamanya. Walaupun alex sempat jujur bahwa dia merupakan lady killer namun lexa tidak marah dan hanya berkata. “itu kan hanya masa lalu. Masa depanmu sekarang adalah aku.” Kata kata itu yang membuat alex menyadari betapa beruntungnya dia memiliki lexa. Akhirnya kisah cinta mereka berlanjut sampai mereka meraih kebahagiaan bersama sama.

    Kathrine akhirnya sadar bahwa alex memang bukan untuknya. Dan dia pun mendekam dalam penjara sambil menyesali perbuatannya.

    Marco kakak dari lexa tidak terlalu memikirkan kisah cintanya. Padahal usianya sudah mencapai 25 tahun. Usia yang cukup ideal. Tidak sedikit wanita yang jatuh cinta pada padangan pertama saat melihatnya. Namun dia cuek. Dia sudah menjalin hubungan cinta lebih dari 7 kali. Namun semuanya gagal dikarenakan marco yang sepertinya tidak ambil pusing saat bertengkar dengan pasangannya. Sehingga pasangannya jenuh dan lebih memilih bubar. Bukan dia seorang lady killer, namun dia hanya terlalu santai dalam menjalani hubungan.

    Dan untuk kisah cinta Andrew…
    Tunggu kelanjutannya.

    Cerpen Karangan: Derisma Paulina
    Facebook: Derisma Paulina Haloho

    Artikel Terkait

    I’m Always Here With You (Part 2)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email