I’m Not Believe I’m Not Death

Baca Juga :
    Judul Cerpen I’m Not Believe I’m Not Death

    Hai namaku Addisonavery Andrealief, kalian cukup panggil aku Addison, Avery, Alief, Sona, Very atau Andrea.

    “Sayang bangun, ayo solat dulu!” seru mama.
    “Iya, ma” jawabku singkat.
    Setelah shalat aku langsung mandi, pakai seragam, sarapan lalu berangkat sekolah.

    Sesampainya di sekolah, aku langsung menaruh tasku di bangkuku dan pergi menemui Zidan.
    “Zidaaan, Zidaaaaan!!!” teriakku setelah aku menemukan Zidan.
    “Ada apa?” tanyanya.
    “Itu kelas apa sih? heh heh heh” balik tanya sambil ngos-ngosan.
    “Oh, itu, itu kelas sebenarnya kelas 5 dulu, tapi karena peristiwa yang terjadi 15 tahun yang lalu, akhirnya ditutup deh” jawabnya.
    “Oh, gitu rupanya, nanti jam istirahat ke satu pokoknya kamu ceritain tentang apa yang terjadi 15 tahun lalu di kelas itu, titik nggak ada tapi-tapian!” ucapku sembari melambaikan tanganku berlari menjauh darinya.

    Jam istirahat ke satu
    “Jadi nggak Addison?” tanya Zidan.
    “Jadi, jadi” jawabku.
    Diapun menceritakan semua tentang kelas itu. Awal mulanya semua anak di kelas itu baik, tapi mereka diubah menjadi jahat karena anak baru namanya Hendro. Mereka berencana akan mengguyur guru kelas mereka dengan air kencing babi. Mereka akan melaksanakanya pada jam istirahat ke satu. Jam istirahat kes atu tiba, mereka segera melaksanakannya saat guru mereka tidur siang di kantor, mereka mengendap-endap masuk kantor dan sudah ketemu mereka langsung mengguyur gurunya itu. Dan guru itu langsung bangun dan berteriak “Hendrooooo, awas kau ya!!!”. Guru itu langsung menuju ke kelas dan melihat semua anak di dalam kelas. Guru itu pun langsung mengambil kunci kelas itu dan menguncinya. Seminggu kemudian anak-anak di dalam kelas itu ditemukan tewas termasuk Hendro. Dan setelah itu kelas itu ditutup karena sudah ada yang pernah memasukinya dan tewas.

    Kami berdua takut karena saat di jam istirahat kami bermain bola dan bola itu memecah kaca kelas itu dan masuk ke dalamnya.
    “Ah, lagian kamu sih dan, kenapa nendangnya banter banget, tu kan, jadi masuk, kamu yang ngambil ah” marahku pada Zidan.
    “I i iya, tapi temenin” rengeknya.
    “ya, udah”

    Tanpa basa basi kami masuk ke dalam kelas itu. Kami merinding ketika memasuki kelas itu. Kami menemukan bola itu dan langsung berlari ke luar kelas itu. “Huuh untung aja nggak papa” kata Zidan. “Yeee, kita nggak jadi mati” ucapku kegirangan.

    Tamat

    Cerpen Karangan: Sabila Salwa Putri Wahyuhadi

    Artikel Terkait

    I’m Not Believe I’m Not Death
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email