Judul Cerpen Manusia di Persimpangan
“Hey, apa yang kau lakukan disini?” Tanya sang malaikat kepadaku yang telah berjalan hingga persimpangan ini
“Aku hanya mencari apa tujuanku hidup” balasku dan malaikat itu memegang dagunya dengan tatapan seolah-olah meragukanku. “Kalau boleh aku tau, kemana persimpangan ini akan bermuara?” imbuhku.
“Jujur saja aku yang menjaga persimpangan ini, tetapi hingga saat ini aku tak tau kemana berakhirnya persimpangan ini” jawabnya dengan sayapnya yang terlihat menurun itu.
“Baiklah, aku akan kembali ke arah semula” ucapku sembari membalikkan badan dan mulai meninggalkan malaikat yang berwajah tampan dengan pakaian serba berwarna putih tulang, tanpa alas kaki, rambut putih acak-acakan, dan dengan sayap yang terlihat seperti sayap burung merpati yang sangat putih. Desau angin pun menuntun kepergianku ini.
“Tunggu dulu. Jika kau berbalik ke arah semula, maka kau akan mendapatkan apa yang telah kau dapatkan” kata si malaikat kepadaku. Aku bingung terhadap kata-katanya, “kau tau, sebelum kau mencapai persimpangan ini, kau telah jatuh ke dalam jurang. Jika kau berhasil sampai disini, itu menandakan kau telah berhasil bangkit dari jurang itu. Jika kau akan kembali ke arah semula, kau akan jatuh ke jurang yang sama sebanyak dua kali” jelasnya yang membuatku ingat semuanya.
“Jadi aku harus bagaimana?” tanyaku kepadanya.
“Aku tak bisa memberitahumu, aku hanya bisa menuntunmu. Karena semua pilihan ada di tanganmu” jawabannya yang tak memberikanku jawaban sama sekali.
“Tapi aku bingung”
“Pikirkanlah matang-matang sebelum mengambil sebuah tindakan”
“Aku tak tau apa yang harus aku pilih”
“Kau sudah tau, tapi kau hanya perlu mendengarkan apa yang hati kecilmu katakan, Anggaranata Dwijaya”
Laki-laki itu terbangun dari mimpi yang membuatnya bingung. Melihat jam yang ada di dinding kamarnya, dan jam tersebut menunjukan pukul 5 pagi. Ia mendesah pelan sembari mengangkat tubuhnya dari gravitasi kasur yang seolah-olah menariknya agar tak bangun di pagi ini. Anggaranata Dwijaya namanya, semua orang yang akrab memanggilnya Raga.
Ia beranjak dari kasur dan mulai mempersiapkan dirinya untuk hari yang baru di bulan ini, dan kakinya melangkah ke arah kamar mandi yang tak jauh dari kamar tidurnya. Cermin yang ada di kamar mandi menunjukan wajahnya yang terlihat kelelahan seperti orang yang kurang istirahat, bagaimana ia tak kurang istirahat jika dalam sehari ia tidur jam 1 pagi, dan bangun jam 5 pagi. Dan siangnya ia isi dengan kegiatan-kegiatan yang ia ikuti.
“Apa yang akan terjadi nanti di sekolah?” pertanyaan yang muncul pertama kali saat ia mengenakan seragam sekolahnya.
“Raga, sarapan dulu nak” panggil mamanya.
“Iya, ma. Lagi sebentar Raga turun kok” beberapa saat kemudian, ia turun dengan seragam serta tas yang telah berada di gendongannya.
“Masak apa hari ini, ma?”
“Nasi goreng, nak”
“Haaaa, Raga suka” dan laki-laki itu pun memakan masakan mamanya dengan lahap. Saat ia makan ia ingat satu hal “kemana kak Revan, ma?” tanya Raga.
“Ia belum pulang, mungkin dari kemarin dia mendapatkan double shift”
“Hooo, oke oke. Raga udah selesai makan, ma. Raga berangkat dulu ya” ucapnya sembari mencium kening mamanya.
—
“Raga, woee!” Teriak Ferly kepada Raga yang sudah berada di depan kelasnya.
“Hm, apa?”
“Elo dicari sama Layla. Ga, lo putus sama dia ya?” tanya Ferly yang membuat Raga makin malas untuk hari pertama di bulan ini.
“Urus urusan elo sendiri!” bentaknya kepada Ferly. Namun Ferly mencegat Raga agar tak masuk ke kelas.
“Layla masih sayang sama elo, dan elo ninggalin dia! Tega!”
“Kalau dia masih sayang sama gue, dia gak akan nerima Nanda jadi pacarnya dia! Berhentilah mengusik hidup gue!” Gertak Raga kepada Ferly.
“Oke, ga. Gue pergi, yang perlu elo inget adalah Layla masih sayang sama elo!”
“Ga peduli, makasi!” Raga langsung melesat meninggalkan Ferly yang mulai marah dengan balasan Raga barusan. Namun ia mengerti perasaan temannya itu.
—
“Selamat pagi, kak” sapanya kepada seniornya di OSIS saat ia menuju ke kantin dan bertemu secara tak disengaja.
“Eh iya, pagi dik” Balas gadis itu. Dan ada orang yang mengikutinya seniornya, dan dia adalah ketua umum OSIS di sekolahnya, dan tentu saja semua siswa yang ada di sekolah sangat memujanya sebagai ketua dari para siswa untuk saat ini.
“Pagi, kak Yulan” sapa Raga kepadanya, seketika pandangan mereka pun bertemu. Untuk pertama kalinya semenjak ia masuk ke kepengurusan OSIS, ia menatap secara langsung ketuanya itu.
“Oh iya, pagi dik” balasnya dengan senyuman yang membuat Raga tak berkedip sedikitpun. “Yuk dik, kita duluan ya” imbuhnya sembari menarik kawannya.
Raga berkedip sejenak lalu melihat punggung yang telah menjauh itu. “Ternyata kak Yulan luar biasa” serunya dalam hati.
Akhirnya ia pun memulai percakapan dengan Yulan lewat chat yang ia mulai dengan basa-basi yang ada kaitannya dengan OSIS, lalu semakin lama apa yang mereka bicarakan mulai mengait pada pribadi masing-masing.
Yulan yang merasa aneh dengan adik OSISnya itu bingung, “Nad, kamu tau Raga kan?” Nada yang merupakan teman Nada di OSIS mengangguk tanda tau.
“Anggaranata kan? Adik OSIS kan? Tau. Kenapa?”
“Dia ngechat aku, Nad”
“Ya terus masalahnya dimana kalau dia ngechat kamu? Palingan Cuma nanya kerjaan OSIS doing. Gak lebih”
“Masalahnya itu, dia kayak ngasih perhatian lebih ke aku”
“Dan.. kamu suka dia?”
“Enghh.. bukan gitu maks..”
“Udahlah, gak usah mengelak. Aku udah temenan dari SMP sama kamu, dan kalau udah kayak begini biasanya tampang lagi jatuh cinta” Yulan hanya menunduk pasrah akan pernyataan yang dilontarkan Nada barusan. Benar saja, Yulan terlanjur menyukai semua sikap yang Raga berikan kepadanya.
—
“Hei, Raga!” panggil seseorang yang membuat Raga menoleh. Dan saat ia menoleh
Plaaak
Bunyi wajah tertampar menggema di lorong yang sepi itu. “Kamu tega, kamu sekarang dekat sama Kak Yulan kan!”
Raga membuang wajahnya ke samping tak ingin melihat Layla yang mulai mendrama. “Raga, liat aku! Kok kamu tega ninggalin aku kayak gini!” seketika Raga menatap tajam kepada Layla.
“Dengar, yang memutuskan hubungan ini siapa? Karena apa? Jawabannya adalah KAMU dan karena Nanda lah kita berpisah. Tetaplah bersama Nanda, jauhi aku. Aku sudah muak melihat kalian berdua” Ucapnya sembari meninggalkan Layla. Namun gadis itu memeluk Raga dari belakang.
“Aku masih menyayangimu”
“Aku tak peduli akan hal itu”
“Aku ingin kita bersama lagi”
“Kuharap kau dan Nanda berbahagia” ucapan Raga yang diiringinya dengan melepas tangan Layla yang memeluknya. “Kau terlalu murah”
—
“Bagaimana? Sudah bisa menentukan mau ke arah mana, Raga?” tanya malaikat itu kepadaku. Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi.
“Mungkin sudah”
“Apa kau sudah paham dengan maksud dari persimpangan ini?” aku mengangguk tanda setuju.
“Aku harus memilih, untuk berbelok ke arah kanan atau kiri, ataupun berbalik arah dan akan jatuh ke jurang yang sama. Itu sama seperti kasusku saat ini, aku harus memilih Kak Yulan yang merupakan jalur yang baru bagiku, atau Layla yang merupakan jurang di jalurku yang lama. Dan tentu saja aku memilih jalur yang baru, walaupun aku tak tau kemana akan akhirnya, tapi setidaknya aku tau aku tak akan jatuh di jurang yang sama” jelasku padanya. Ia mengangguk sembari tersenyum, dan sayap merpati yang ada di punggungnya itu melebar seolah-olah ingin terbang.
“Tak rugi aku menuntunmu hingga persimpangan ini. Jalani jalur yang baru, karena ini adalah sebuah awal dari perjalanan yang mungkin akan banyak rintangan. Dan tetaplah pada prinsip, bahwa kau tak boleh jatuh ke jurang yang sama. Mungkin tugasku untuk menuntunmu telah berakhir, jadi aku akan pergi dan jika kau butuh pertolonganku, aku akan datang kepadamu”
“Terima kasih atas tawarannya, semasih aku bisa melakukannya sendiri, aku akan melakukannya. Terima kasih telah menuntunku”
“Sama-sama, Raga. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya” kata terakhir yang ia ucapkan sebelum sayapnya mengepak dan membawa tubuhnya ke angkasa hingga aku tak dapat melihatnya lagi.
Cerpen Karangan: Dea Pradnya Dewi
“Hey, apa yang kau lakukan disini?” Tanya sang malaikat kepadaku yang telah berjalan hingga persimpangan ini
“Aku hanya mencari apa tujuanku hidup” balasku dan malaikat itu memegang dagunya dengan tatapan seolah-olah meragukanku. “Kalau boleh aku tau, kemana persimpangan ini akan bermuara?” imbuhku.
“Jujur saja aku yang menjaga persimpangan ini, tetapi hingga saat ini aku tak tau kemana berakhirnya persimpangan ini” jawabnya dengan sayapnya yang terlihat menurun itu.
“Baiklah, aku akan kembali ke arah semula” ucapku sembari membalikkan badan dan mulai meninggalkan malaikat yang berwajah tampan dengan pakaian serba berwarna putih tulang, tanpa alas kaki, rambut putih acak-acakan, dan dengan sayap yang terlihat seperti sayap burung merpati yang sangat putih. Desau angin pun menuntun kepergianku ini.
“Tunggu dulu. Jika kau berbalik ke arah semula, maka kau akan mendapatkan apa yang telah kau dapatkan” kata si malaikat kepadaku. Aku bingung terhadap kata-katanya, “kau tau, sebelum kau mencapai persimpangan ini, kau telah jatuh ke dalam jurang. Jika kau berhasil sampai disini, itu menandakan kau telah berhasil bangkit dari jurang itu. Jika kau akan kembali ke arah semula, kau akan jatuh ke jurang yang sama sebanyak dua kali” jelasnya yang membuatku ingat semuanya.
“Jadi aku harus bagaimana?” tanyaku kepadanya.
“Aku tak bisa memberitahumu, aku hanya bisa menuntunmu. Karena semua pilihan ada di tanganmu” jawabannya yang tak memberikanku jawaban sama sekali.
“Tapi aku bingung”
“Pikirkanlah matang-matang sebelum mengambil sebuah tindakan”
“Aku tak tau apa yang harus aku pilih”
“Kau sudah tau, tapi kau hanya perlu mendengarkan apa yang hati kecilmu katakan, Anggaranata Dwijaya”
Laki-laki itu terbangun dari mimpi yang membuatnya bingung. Melihat jam yang ada di dinding kamarnya, dan jam tersebut menunjukan pukul 5 pagi. Ia mendesah pelan sembari mengangkat tubuhnya dari gravitasi kasur yang seolah-olah menariknya agar tak bangun di pagi ini. Anggaranata Dwijaya namanya, semua orang yang akrab memanggilnya Raga.
Ia beranjak dari kasur dan mulai mempersiapkan dirinya untuk hari yang baru di bulan ini, dan kakinya melangkah ke arah kamar mandi yang tak jauh dari kamar tidurnya. Cermin yang ada di kamar mandi menunjukan wajahnya yang terlihat kelelahan seperti orang yang kurang istirahat, bagaimana ia tak kurang istirahat jika dalam sehari ia tidur jam 1 pagi, dan bangun jam 5 pagi. Dan siangnya ia isi dengan kegiatan-kegiatan yang ia ikuti.
“Apa yang akan terjadi nanti di sekolah?” pertanyaan yang muncul pertama kali saat ia mengenakan seragam sekolahnya.
“Raga, sarapan dulu nak” panggil mamanya.
“Iya, ma. Lagi sebentar Raga turun kok” beberapa saat kemudian, ia turun dengan seragam serta tas yang telah berada di gendongannya.
“Masak apa hari ini, ma?”
“Nasi goreng, nak”
“Haaaa, Raga suka” dan laki-laki itu pun memakan masakan mamanya dengan lahap. Saat ia makan ia ingat satu hal “kemana kak Revan, ma?” tanya Raga.
“Ia belum pulang, mungkin dari kemarin dia mendapatkan double shift”
“Hooo, oke oke. Raga udah selesai makan, ma. Raga berangkat dulu ya” ucapnya sembari mencium kening mamanya.
—
“Raga, woee!” Teriak Ferly kepada Raga yang sudah berada di depan kelasnya.
“Hm, apa?”
“Elo dicari sama Layla. Ga, lo putus sama dia ya?” tanya Ferly yang membuat Raga makin malas untuk hari pertama di bulan ini.
“Urus urusan elo sendiri!” bentaknya kepada Ferly. Namun Ferly mencegat Raga agar tak masuk ke kelas.
“Layla masih sayang sama elo, dan elo ninggalin dia! Tega!”
“Kalau dia masih sayang sama gue, dia gak akan nerima Nanda jadi pacarnya dia! Berhentilah mengusik hidup gue!” Gertak Raga kepada Ferly.
“Oke, ga. Gue pergi, yang perlu elo inget adalah Layla masih sayang sama elo!”
“Ga peduli, makasi!” Raga langsung melesat meninggalkan Ferly yang mulai marah dengan balasan Raga barusan. Namun ia mengerti perasaan temannya itu.
—
“Selamat pagi, kak” sapanya kepada seniornya di OSIS saat ia menuju ke kantin dan bertemu secara tak disengaja.
“Eh iya, pagi dik” Balas gadis itu. Dan ada orang yang mengikutinya seniornya, dan dia adalah ketua umum OSIS di sekolahnya, dan tentu saja semua siswa yang ada di sekolah sangat memujanya sebagai ketua dari para siswa untuk saat ini.
“Pagi, kak Yulan” sapa Raga kepadanya, seketika pandangan mereka pun bertemu. Untuk pertama kalinya semenjak ia masuk ke kepengurusan OSIS, ia menatap secara langsung ketuanya itu.
“Oh iya, pagi dik” balasnya dengan senyuman yang membuat Raga tak berkedip sedikitpun. “Yuk dik, kita duluan ya” imbuhnya sembari menarik kawannya.
Raga berkedip sejenak lalu melihat punggung yang telah menjauh itu. “Ternyata kak Yulan luar biasa” serunya dalam hati.
Akhirnya ia pun memulai percakapan dengan Yulan lewat chat yang ia mulai dengan basa-basi yang ada kaitannya dengan OSIS, lalu semakin lama apa yang mereka bicarakan mulai mengait pada pribadi masing-masing.
Yulan yang merasa aneh dengan adik OSISnya itu bingung, “Nad, kamu tau Raga kan?” Nada yang merupakan teman Nada di OSIS mengangguk tanda tau.
“Anggaranata kan? Adik OSIS kan? Tau. Kenapa?”
“Dia ngechat aku, Nad”
“Ya terus masalahnya dimana kalau dia ngechat kamu? Palingan Cuma nanya kerjaan OSIS doing. Gak lebih”
“Masalahnya itu, dia kayak ngasih perhatian lebih ke aku”
“Dan.. kamu suka dia?”
“Enghh.. bukan gitu maks..”
“Udahlah, gak usah mengelak. Aku udah temenan dari SMP sama kamu, dan kalau udah kayak begini biasanya tampang lagi jatuh cinta” Yulan hanya menunduk pasrah akan pernyataan yang dilontarkan Nada barusan. Benar saja, Yulan terlanjur menyukai semua sikap yang Raga berikan kepadanya.
—
“Hei, Raga!” panggil seseorang yang membuat Raga menoleh. Dan saat ia menoleh
Plaaak
Bunyi wajah tertampar menggema di lorong yang sepi itu. “Kamu tega, kamu sekarang dekat sama Kak Yulan kan!”
Raga membuang wajahnya ke samping tak ingin melihat Layla yang mulai mendrama. “Raga, liat aku! Kok kamu tega ninggalin aku kayak gini!” seketika Raga menatap tajam kepada Layla.
“Dengar, yang memutuskan hubungan ini siapa? Karena apa? Jawabannya adalah KAMU dan karena Nanda lah kita berpisah. Tetaplah bersama Nanda, jauhi aku. Aku sudah muak melihat kalian berdua” Ucapnya sembari meninggalkan Layla. Namun gadis itu memeluk Raga dari belakang.
“Aku masih menyayangimu”
“Aku tak peduli akan hal itu”
“Aku ingin kita bersama lagi”
“Kuharap kau dan Nanda berbahagia” ucapan Raga yang diiringinya dengan melepas tangan Layla yang memeluknya. “Kau terlalu murah”
—
“Bagaimana? Sudah bisa menentukan mau ke arah mana, Raga?” tanya malaikat itu kepadaku. Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi.
“Mungkin sudah”
“Apa kau sudah paham dengan maksud dari persimpangan ini?” aku mengangguk tanda setuju.
“Aku harus memilih, untuk berbelok ke arah kanan atau kiri, ataupun berbalik arah dan akan jatuh ke jurang yang sama. Itu sama seperti kasusku saat ini, aku harus memilih Kak Yulan yang merupakan jalur yang baru bagiku, atau Layla yang merupakan jurang di jalurku yang lama. Dan tentu saja aku memilih jalur yang baru, walaupun aku tak tau kemana akan akhirnya, tapi setidaknya aku tau aku tak akan jatuh di jurang yang sama” jelasku padanya. Ia mengangguk sembari tersenyum, dan sayap merpati yang ada di punggungnya itu melebar seolah-olah ingin terbang.
“Tak rugi aku menuntunmu hingga persimpangan ini. Jalani jalur yang baru, karena ini adalah sebuah awal dari perjalanan yang mungkin akan banyak rintangan. Dan tetaplah pada prinsip, bahwa kau tak boleh jatuh ke jurang yang sama. Mungkin tugasku untuk menuntunmu telah berakhir, jadi aku akan pergi dan jika kau butuh pertolonganku, aku akan datang kepadamu”
“Terima kasih atas tawarannya, semasih aku bisa melakukannya sendiri, aku akan melakukannya. Terima kasih telah menuntunku”
“Sama-sama, Raga. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya” kata terakhir yang ia ucapkan sebelum sayapnya mengepak dan membawa tubuhnya ke angkasa hingga aku tak dapat melihatnya lagi.
Cerpen Karangan: Dea Pradnya Dewi
Manusia di Persimpangan
4/
5
Oleh
Unknown
