Judul Cerpen Marcen (Part 1)
Ada ketukan di pintu kamarku. Aku mencoba bergerak dan keluar dari selimut, kucoba merengangkan otot dan merapikan baju. Langkahku gontai menapaki ubin dingin kamarku. Ya, aku ingat ini kamarku, ada lemari yang besar dan di dindingnya tertempel banyak memo serta kertas, ada foto dengan figura yang cantik dan unik, ada kulkas kecil dan sebuah kotak obat di sampingnya, Benar, Ini kamarku. Aku tidak ingat siapa yang akan membangunkan aku pagi-pagi tapi aku cukup bergerak cepat lalu membuka pintu dan melihat siapa yang mengetuk untuk membangunkanku.
Seorang wanita berusia 40an sedang berdiri dengan baju tidur beruang yang agak lusuh, aku tahu gambar itu beruang karena ada tertulis “bear honey”, rambutnya terikat naik ke atas dan beberapa anak rambutnya mencuat ke luar di balik telinga. Wanita itu memelukku dan berbisik “selamat pagi, sayang”, baiklah, aku mesti berbalik dan melihat foto di dinding serta membaca keterangan foto itu agar aku tahu siapa wanita ini.
“Tidak perlu melihat itu, honey, aku ini Ibumu. Hari ini kita akan pergi ke perbatasan untuk memancing, kau hebat kalau sedang memancing, kau pasti akan dapat banyak ikan. Cepat siap, Ayah dan Ibu akan menunggu kamu di bawah.” Wanita itu Ibuku. Baiklah ibu, aku agak bingung tapi aku tidak ingin itu membuat aku lupa caranya menjalani hari ini.
“Mom, aku harus menyiapkan apa?”
“Tidak perlu. Paman King sudah menyiapkan semuanya untuk perjalanan hari ini. Jangan bertanya siapa itu paman King, kamu hanya perlu mandi sebentar dan memilih baju santai untuk perjalanan kita hari ini.” Mama mendorongku masuk dan menutup pintu.
Aku menatap jauh ke luar jendela. Ada sesak ketika aku berusaha menjalani hariku dengan ingatan yang terkoyak, seperti aku hidup namun tanpa darah. Kejadian yang menimpaku dan menyebabkan aku harus bertahan hidup tanpa ingatan setiap hari, aku tak ingat lagi, entahlah, jika aku berusaha mengingat maka kepalaku akan sakit seperti hendak pecah. Kadang aku sampai membenturkan kepala ke dinding agar dapat mengingat namun usahaku sia-sia.
Aku menulis semua kejadian yang terjadi kemarin di dalam buku diary berwarna maroon, untuk mengenali wajah orang yang akan kutemui hari ini aku akan membawa album foto yang sebelumnya sudah kuberi keterangan seperti nama, tempat kejadian foto itu, tanggal foto itu diambil sampai siapa yang mencetak. Aku menuliskan rencanaku besok di dalam kertas notes kecil dan menempelkan di dinding atau menuliskan di papan tulis kecil yang berada tak jauh dari tempat tidurku. Kata Dokterku semua itu membantuku untuk tetap menjalani hari-hari seperti orang normal lainnya. Kadang jika aku menyadari semua itu, aku ingin terjun dari kamarku dan jatuh di taman depan rumah kami, baiklah, rasanya pasti sakit tapi itulah yang ingin aku lakukan.
Aku mengalami Amnesia Disosiatif, begitu kata Mom dan Dokter, Demi Tuhan, aku lupa bagaimana wajah Dokterku itu.
Aku tidak banyak menggingat tentang penyakitku itu, Mom juga kadang malas membahasnya, karena menurut Mom aku sudah cukup sehat dengan menjalani hidup seperti ini, setiap hari menulis memo, membaca foto, dan menghindar dari bertemu orang baru.
Semua ini tidak aku pahami tapi aku berusaha tetap menjalani hidup seperti apa yang aku mampu.
Di dalam kamar ini banyak piagam atas namaku, banyak sertifikat yang menampilakn fotoku dan tandatanganku tapi aku sama sekali melupakan moment-moment yang berharga seperti itu. Kadang aku hanya berdiri kaku menatap piagam-piagam itu tanpa mencoba meraihnya, kadang untuk meraih itu aku merasa tak mampu.
Sesekali teman-teman sekolahku datang sekedar menengok dan menanyakan perkembangan namun dari mereka semua tak ada yang kuingat nama dan juga kejadian bersama mereka. Aku merasa seperti orang yang paling berdosa lalu setelah mereka pulang, aku berlari ke kamar dan menangis di balik bantal, menyesal karena tidak menggingat mereka.
Aku duduk di dekat jendela, menatap ke arah taman rumah. Hari ini taman tampak dipenuhi kedaraan, Mom mengadakan acara makan bersama teman semasa SMAnya, dan itu membuat aku harus bersembunyi lagi, aku bukan takut bertemu orang lain tapi aku capek harus berusaha menggingat nama mereka hanya selama 10 menit dan 10 menit berikutnya aku sudah melupakannya. Gawat kalau mereka datang dan menepuk pundakku serta bertanya “apa kau ingat siapa aku?” maka aku sebaiknya berlari menaiki tangga dan bersembunyi di balik selimut, pertanyaan-pertanyaan membuat otakku melemah, seperti halnya aku berusaha menggingat.
Hari ini aku mau melakukan apa ya?
Aku berjalan gontai ke arah papan tulis untuk melihat aktivitasku hari ini. Papan tulis itu sudah kotor dan dipenuhi banyak tulisan yang hamper tindih-menindih. Mataku tertarik ketika membaca ‘Marcen’, apa itu nama? Atau istilah? Atau sebutan? Entahlah, namun aku merasa itu bukanlah sesuatu yang jauh dariku, mungkin saja itu nama boneka beruang yang selalu aku peluk saat pagi aku bangun. Cepat-cepat aku bergegas menghampiri ranjang, tanganku mencoba meraih boneka beruang berwarna maroon, Nampak jelas tulisan ‘Marcen’. Jadi Marcen itu benar-benar nama boneka beruang itu.
Siapa yang membelikan beruang ini ya? Aku harus mencari memo yang menuliskan tentang beruang ini. Tapi segitu banyaknya memo dan tulisan di papan apa bisa aku mendapatkan tulisan tentang Marcen? Hanya membuat aku kecapean saja. Namun ada baiknya juga aku mengisi waktu luangku dengan mencari-cari memo atau tulisan tentang Marcen, sebelum Mom mengetuk pintu dan mengajakku berjalan santai ke taman kompleks.
Aku menarik kotak berisi memo lama dari bawah ranjang, kotak memo itu terbuat dari kayu dan sudah tampak rapuh mungkin saja kotak ini sudah berusia 4 atau 5 tahun, entahlah, aku tidak bisa menggingat, aku tahu keberadaan kotak ini dari arah panah yang tertempel di samping pintu dengan tulisan besar “KOTAK MEMO BERADA DI BAWAH RANJANG”. Kamarku ini memang penuh dengan huruf dan aku memang tak bisa jauh dari kamarku.
Penutup kotak itu ditutupi debu tebal, aku berusaha meniup dan mengibas tanganku di atas penutup kotak itu untuk menghilangkan debu tebal yang menutupi kotak itu. Setelah penutup kotak itu terbuka Nampak bertumpuk-tumpuk memo lama berwarna biru tua, memo-memo itu tertulis dengan tulisan tanganku, ada isi memo dan juga tanggal memo.
Debu menutupi kaca jendela kamarku, aku mencoba menghapus debu itu dan ketika itu aku melihat kamu sedang berjalan di jalan raya
Rabu, 22/05/2016
Ini tentang siapa? Aku kebingungan dan mendapati di bawah memo itu ada memo yang bertuliskan tanggal yang sama.
Aku buru-buru menuruni tangga dan berlari ke luar, melihat jalan raya. Disana aku melihat kamu, dengan rambut diikat dan kemeja putih bersih kau berjalan seperti tak memiliki tempat tinggal. Saat aku ingin memanggilmu, sebuah van hitam berhenti di dekatmu, entah apa yang kau bicarakan dengan si sopir, lalu kau membuka pintu samping kemudi dan masuk. Aku kehilangan kau untuk kesekian kalinya.
Minggu 22/05/2016
Lalu aku mencoba mencari memo sesudah tanggal 22, tapi tidak ada setelah tanggal itu. Dan aku mencoba mencari sebelum tanggal 22. Aku mendapati sebuah memo, kertas itu seperti habis diremukan.
Aku menulis lagi karena hamper kehilangan sesuatu yang berharga lagi. Pria yang memberiku burger itu punya rambut panjang sebahu, matanya berwarna coklat muda, dia punya sebuah gigi gingsul dan dia sangat tampan. Aku harap akan bertemu dengan dia lagi. Semoga aku tidak melupakannya.
Senin, 16/05/2016
Gigi gingsul?
Aku ingin sekali mencoba menggingat semua yang berkaitan dengan memo-memo ini tapi seperti biasa aku sama sekali tak bisa menggingat apapun. Kedua bahuku terasa lemas, aku mencoba bersandar pada pinggiran ranjang. Kepalaku sakit lagi, sama seperti ketika aku ingin mengingat semuanya, seperti bertahun-tahun yang telah berlalu.
Pintu kamarku diketuk. Tapi kepalaku terlalu berat untuk kuangkat sekedar melihat pintu jadi aku memutuskan memusatkan perhatian pada sakit kepalaku.
“Jesus! Ada apa denganmu, Noa? Ya Tuhan, Argya…, Lihat Putri kita,” Mom masuk dengan heboh dan langsung memanggil Ayah, sepertinya mom lupa kalau hari ini ada teman-temannya di bawah.
“Aku tidak apa-apa, Mom.”
“Sudah, diam saja. Ibu akan membantu kamu berdiri,” mom menyelipkan tangannya ke tanganku dan siap untuk mengangkatku namun aku mencegat tangannya.
“Tidak, mom. Aku masih ingin melihat memo-memo ini.”
“Tidak, baby. Sudah cukup untuk hari ini, kamu harus bersiap untuk makan siang bersama teman-teman ibu di bawah.”
Pintu kamarku bergeser lagi, ternyata tadi mom tidak langsung menutup pintunya. Ayah masuk dengan buru-buru dan wajahnya Nampak pucat, sepertinya dia menghawatirkan aku, ayah langsung duduk di hadapanku sembari meraih pipiku ke dalam gengamannya.
“Ada apa ini, Deeria?,” ayah bertanya pada mom dan kembali memandangku, tangannya masih mengelus pipiku. “kenapa, Noa? Kamu pasti mencoba menggingat lagi?”
Aku mencoba berbohong dengan menggeleng kepala namun yang aku dapati dari kedua orangtuaku adalah pandangan tak cukup pandai berbohong kau, putriku.
“Sudahlah, kami tahu ini berat untuk kamu, tapi begitu pula dengan kami. Tapi kita hidup dengan saling mengingat dan memo bertebaran dimana-mana ini sudah bertahun-tahun, ayah dan ibu sudah terbiasa, kamu juga pasti mulai terbiasa,”
Aku mencegat mom agar tidak melanjutkan ucapannya. “iya, mom. Aku Cuma mau cari tentang boneka beruang aku itu. Siapa yang kasih sih?” aku menunjuk boneka beruang yang kutaruh di atas meja di dekat papan tulis, mom dan ayah saling pandang dan ibu menyuruh ayah yang pertama bercerita.
“Kami tidak tahu siapa yang memberimu itu, nak. Hari itu kami mencari kamu karena kamu pergi dari rumah selama lebih 4 jam, awalnya kami tidak berniat mencari namun saat kami menunggu, kok kamu belum tiba saja pada hal ini sudah sore,”
“Akhirnya ayah mencari kamu di sekitar kompleks, ayah bertanya pada tetangga tapi tidak ada yang melihat kamu, ayah memutuskan balik ke rumah,”
“Dan kamu sudah duduk manis dengan ibu kamu sambil memeluk boneka itu. Kamu harus tahu betapa leganya ayah saat itu, ayah langsung saja memeluk kamu yang saat itu masih dipeluk ibu.”
“Kamu hanya bilang, bermain bersama teman baru kamu dan dia memberi boneka itu padamu.” Ujar mom melanjutkan penjelasan ayah.
“Tanggal berapa mom? Maksud aku hari itu tanggal berapa?”
“Tanggal 7 Juni 2016. Ada apa sayang?”
“Kamu menemukan sesuatu?”
Aku menggeleng dan tertawa kecil.
“Mom acaranya?”
Perkataanku membuat mom menepuk jidatnya lalu ia menatap ayah sembari meringis.
“Oh, Honey, Raja dan Ratu acaranya sedang asik bersama Putri mereka.”
Aku dan ayah tertawa mendengar ucapan Mom. Mom dan ayah menciup keningku dan berkata mereka akan datang lagi setelah acara mereka selesai dan kita akan makan siang bersama. Aku tertawa dan bersyukur karena tidak jadi makan siang bersama mereka dan teman-teman Mom.
Sepeninggal mereka aku mencari kalender 3 tahun lalu dan untungnya aku menemukan satu buah kalender 2016 lusuh di bawah meja belajar. Segera aku membalik lembar per lembar mencari bulan Mei dan Juni serta mencoba untuk menganalisa segala sesuatu.
Hanya ada 3 memo bercerita tentang sesuatu yang misterius, memo pertama pada tanggal 16 Mei 2016, memo kedua pada tanggal 22 Mei 2016, antara dua memo itu ada tenggang waktu 5 hari. Lalu aku menghilang pada tanggal 7 Juni 2016, kalau mengambil petunjuk dari tanggal 22 ada tenggang waktu 15 hari. Jadi hasil analisanya, aku bertemu dengan orang itu mungkin saja sudah terjadi 3 atau 4 kali tapi itu hanya sekedar melihatnya berjalan pulang atau mungkin saja pergi di jalanan kompleks, dan bertemu secara face to face hanya sekali pada tanggal 7.
Lalu apa yang aku dapatkan dari analisa ini? Malah kepalaku semakin sakit.
Aku meletakkan kembali kalender pada tempat awalnya setalah itu berusaha mendorong masuk kotak memo kembali ke bawah ranjang.
Baiklah, cukup bermain teka-tekinya, aku ingin tidur sebentar setelah bangun aku akan minum obat dan makan siang bersama mom juga ayah.
Makan siang bersama Mom dan Ayah
Mencari tahu tentang Marcen
Mencari memo tahun 2016
Jumat, 15 Maret 2019
Sebelum tidur aku menyelipkan memo itu di buku Diary Maroonku.
Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id
Ada ketukan di pintu kamarku. Aku mencoba bergerak dan keluar dari selimut, kucoba merengangkan otot dan merapikan baju. Langkahku gontai menapaki ubin dingin kamarku. Ya, aku ingat ini kamarku, ada lemari yang besar dan di dindingnya tertempel banyak memo serta kertas, ada foto dengan figura yang cantik dan unik, ada kulkas kecil dan sebuah kotak obat di sampingnya, Benar, Ini kamarku. Aku tidak ingat siapa yang akan membangunkan aku pagi-pagi tapi aku cukup bergerak cepat lalu membuka pintu dan melihat siapa yang mengetuk untuk membangunkanku.
Seorang wanita berusia 40an sedang berdiri dengan baju tidur beruang yang agak lusuh, aku tahu gambar itu beruang karena ada tertulis “bear honey”, rambutnya terikat naik ke atas dan beberapa anak rambutnya mencuat ke luar di balik telinga. Wanita itu memelukku dan berbisik “selamat pagi, sayang”, baiklah, aku mesti berbalik dan melihat foto di dinding serta membaca keterangan foto itu agar aku tahu siapa wanita ini.
“Tidak perlu melihat itu, honey, aku ini Ibumu. Hari ini kita akan pergi ke perbatasan untuk memancing, kau hebat kalau sedang memancing, kau pasti akan dapat banyak ikan. Cepat siap, Ayah dan Ibu akan menunggu kamu di bawah.” Wanita itu Ibuku. Baiklah ibu, aku agak bingung tapi aku tidak ingin itu membuat aku lupa caranya menjalani hari ini.
“Mom, aku harus menyiapkan apa?”
“Tidak perlu. Paman King sudah menyiapkan semuanya untuk perjalanan hari ini. Jangan bertanya siapa itu paman King, kamu hanya perlu mandi sebentar dan memilih baju santai untuk perjalanan kita hari ini.” Mama mendorongku masuk dan menutup pintu.
Aku menatap jauh ke luar jendela. Ada sesak ketika aku berusaha menjalani hariku dengan ingatan yang terkoyak, seperti aku hidup namun tanpa darah. Kejadian yang menimpaku dan menyebabkan aku harus bertahan hidup tanpa ingatan setiap hari, aku tak ingat lagi, entahlah, jika aku berusaha mengingat maka kepalaku akan sakit seperti hendak pecah. Kadang aku sampai membenturkan kepala ke dinding agar dapat mengingat namun usahaku sia-sia.
Aku menulis semua kejadian yang terjadi kemarin di dalam buku diary berwarna maroon, untuk mengenali wajah orang yang akan kutemui hari ini aku akan membawa album foto yang sebelumnya sudah kuberi keterangan seperti nama, tempat kejadian foto itu, tanggal foto itu diambil sampai siapa yang mencetak. Aku menuliskan rencanaku besok di dalam kertas notes kecil dan menempelkan di dinding atau menuliskan di papan tulis kecil yang berada tak jauh dari tempat tidurku. Kata Dokterku semua itu membantuku untuk tetap menjalani hari-hari seperti orang normal lainnya. Kadang jika aku menyadari semua itu, aku ingin terjun dari kamarku dan jatuh di taman depan rumah kami, baiklah, rasanya pasti sakit tapi itulah yang ingin aku lakukan.
Aku mengalami Amnesia Disosiatif, begitu kata Mom dan Dokter, Demi Tuhan, aku lupa bagaimana wajah Dokterku itu.
Aku tidak banyak menggingat tentang penyakitku itu, Mom juga kadang malas membahasnya, karena menurut Mom aku sudah cukup sehat dengan menjalani hidup seperti ini, setiap hari menulis memo, membaca foto, dan menghindar dari bertemu orang baru.
Semua ini tidak aku pahami tapi aku berusaha tetap menjalani hidup seperti apa yang aku mampu.
Di dalam kamar ini banyak piagam atas namaku, banyak sertifikat yang menampilakn fotoku dan tandatanganku tapi aku sama sekali melupakan moment-moment yang berharga seperti itu. Kadang aku hanya berdiri kaku menatap piagam-piagam itu tanpa mencoba meraihnya, kadang untuk meraih itu aku merasa tak mampu.
Sesekali teman-teman sekolahku datang sekedar menengok dan menanyakan perkembangan namun dari mereka semua tak ada yang kuingat nama dan juga kejadian bersama mereka. Aku merasa seperti orang yang paling berdosa lalu setelah mereka pulang, aku berlari ke kamar dan menangis di balik bantal, menyesal karena tidak menggingat mereka.
Aku duduk di dekat jendela, menatap ke arah taman rumah. Hari ini taman tampak dipenuhi kedaraan, Mom mengadakan acara makan bersama teman semasa SMAnya, dan itu membuat aku harus bersembunyi lagi, aku bukan takut bertemu orang lain tapi aku capek harus berusaha menggingat nama mereka hanya selama 10 menit dan 10 menit berikutnya aku sudah melupakannya. Gawat kalau mereka datang dan menepuk pundakku serta bertanya “apa kau ingat siapa aku?” maka aku sebaiknya berlari menaiki tangga dan bersembunyi di balik selimut, pertanyaan-pertanyaan membuat otakku melemah, seperti halnya aku berusaha menggingat.
Hari ini aku mau melakukan apa ya?
Aku berjalan gontai ke arah papan tulis untuk melihat aktivitasku hari ini. Papan tulis itu sudah kotor dan dipenuhi banyak tulisan yang hamper tindih-menindih. Mataku tertarik ketika membaca ‘Marcen’, apa itu nama? Atau istilah? Atau sebutan? Entahlah, namun aku merasa itu bukanlah sesuatu yang jauh dariku, mungkin saja itu nama boneka beruang yang selalu aku peluk saat pagi aku bangun. Cepat-cepat aku bergegas menghampiri ranjang, tanganku mencoba meraih boneka beruang berwarna maroon, Nampak jelas tulisan ‘Marcen’. Jadi Marcen itu benar-benar nama boneka beruang itu.
Siapa yang membelikan beruang ini ya? Aku harus mencari memo yang menuliskan tentang beruang ini. Tapi segitu banyaknya memo dan tulisan di papan apa bisa aku mendapatkan tulisan tentang Marcen? Hanya membuat aku kecapean saja. Namun ada baiknya juga aku mengisi waktu luangku dengan mencari-cari memo atau tulisan tentang Marcen, sebelum Mom mengetuk pintu dan mengajakku berjalan santai ke taman kompleks.
Aku menarik kotak berisi memo lama dari bawah ranjang, kotak memo itu terbuat dari kayu dan sudah tampak rapuh mungkin saja kotak ini sudah berusia 4 atau 5 tahun, entahlah, aku tidak bisa menggingat, aku tahu keberadaan kotak ini dari arah panah yang tertempel di samping pintu dengan tulisan besar “KOTAK MEMO BERADA DI BAWAH RANJANG”. Kamarku ini memang penuh dengan huruf dan aku memang tak bisa jauh dari kamarku.
Penutup kotak itu ditutupi debu tebal, aku berusaha meniup dan mengibas tanganku di atas penutup kotak itu untuk menghilangkan debu tebal yang menutupi kotak itu. Setelah penutup kotak itu terbuka Nampak bertumpuk-tumpuk memo lama berwarna biru tua, memo-memo itu tertulis dengan tulisan tanganku, ada isi memo dan juga tanggal memo.
Debu menutupi kaca jendela kamarku, aku mencoba menghapus debu itu dan ketika itu aku melihat kamu sedang berjalan di jalan raya
Rabu, 22/05/2016
Ini tentang siapa? Aku kebingungan dan mendapati di bawah memo itu ada memo yang bertuliskan tanggal yang sama.
Aku buru-buru menuruni tangga dan berlari ke luar, melihat jalan raya. Disana aku melihat kamu, dengan rambut diikat dan kemeja putih bersih kau berjalan seperti tak memiliki tempat tinggal. Saat aku ingin memanggilmu, sebuah van hitam berhenti di dekatmu, entah apa yang kau bicarakan dengan si sopir, lalu kau membuka pintu samping kemudi dan masuk. Aku kehilangan kau untuk kesekian kalinya.
Minggu 22/05/2016
Lalu aku mencoba mencari memo sesudah tanggal 22, tapi tidak ada setelah tanggal itu. Dan aku mencoba mencari sebelum tanggal 22. Aku mendapati sebuah memo, kertas itu seperti habis diremukan.
Aku menulis lagi karena hamper kehilangan sesuatu yang berharga lagi. Pria yang memberiku burger itu punya rambut panjang sebahu, matanya berwarna coklat muda, dia punya sebuah gigi gingsul dan dia sangat tampan. Aku harap akan bertemu dengan dia lagi. Semoga aku tidak melupakannya.
Senin, 16/05/2016
Gigi gingsul?
Aku ingin sekali mencoba menggingat semua yang berkaitan dengan memo-memo ini tapi seperti biasa aku sama sekali tak bisa menggingat apapun. Kedua bahuku terasa lemas, aku mencoba bersandar pada pinggiran ranjang. Kepalaku sakit lagi, sama seperti ketika aku ingin mengingat semuanya, seperti bertahun-tahun yang telah berlalu.
Pintu kamarku diketuk. Tapi kepalaku terlalu berat untuk kuangkat sekedar melihat pintu jadi aku memutuskan memusatkan perhatian pada sakit kepalaku.
“Jesus! Ada apa denganmu, Noa? Ya Tuhan, Argya…, Lihat Putri kita,” Mom masuk dengan heboh dan langsung memanggil Ayah, sepertinya mom lupa kalau hari ini ada teman-temannya di bawah.
“Aku tidak apa-apa, Mom.”
“Sudah, diam saja. Ibu akan membantu kamu berdiri,” mom menyelipkan tangannya ke tanganku dan siap untuk mengangkatku namun aku mencegat tangannya.
“Tidak, mom. Aku masih ingin melihat memo-memo ini.”
“Tidak, baby. Sudah cukup untuk hari ini, kamu harus bersiap untuk makan siang bersama teman-teman ibu di bawah.”
Pintu kamarku bergeser lagi, ternyata tadi mom tidak langsung menutup pintunya. Ayah masuk dengan buru-buru dan wajahnya Nampak pucat, sepertinya dia menghawatirkan aku, ayah langsung duduk di hadapanku sembari meraih pipiku ke dalam gengamannya.
“Ada apa ini, Deeria?,” ayah bertanya pada mom dan kembali memandangku, tangannya masih mengelus pipiku. “kenapa, Noa? Kamu pasti mencoba menggingat lagi?”
Aku mencoba berbohong dengan menggeleng kepala namun yang aku dapati dari kedua orangtuaku adalah pandangan tak cukup pandai berbohong kau, putriku.
“Sudahlah, kami tahu ini berat untuk kamu, tapi begitu pula dengan kami. Tapi kita hidup dengan saling mengingat dan memo bertebaran dimana-mana ini sudah bertahun-tahun, ayah dan ibu sudah terbiasa, kamu juga pasti mulai terbiasa,”
Aku mencegat mom agar tidak melanjutkan ucapannya. “iya, mom. Aku Cuma mau cari tentang boneka beruang aku itu. Siapa yang kasih sih?” aku menunjuk boneka beruang yang kutaruh di atas meja di dekat papan tulis, mom dan ayah saling pandang dan ibu menyuruh ayah yang pertama bercerita.
“Kami tidak tahu siapa yang memberimu itu, nak. Hari itu kami mencari kamu karena kamu pergi dari rumah selama lebih 4 jam, awalnya kami tidak berniat mencari namun saat kami menunggu, kok kamu belum tiba saja pada hal ini sudah sore,”
“Akhirnya ayah mencari kamu di sekitar kompleks, ayah bertanya pada tetangga tapi tidak ada yang melihat kamu, ayah memutuskan balik ke rumah,”
“Dan kamu sudah duduk manis dengan ibu kamu sambil memeluk boneka itu. Kamu harus tahu betapa leganya ayah saat itu, ayah langsung saja memeluk kamu yang saat itu masih dipeluk ibu.”
“Kamu hanya bilang, bermain bersama teman baru kamu dan dia memberi boneka itu padamu.” Ujar mom melanjutkan penjelasan ayah.
“Tanggal berapa mom? Maksud aku hari itu tanggal berapa?”
“Tanggal 7 Juni 2016. Ada apa sayang?”
“Kamu menemukan sesuatu?”
Aku menggeleng dan tertawa kecil.
“Mom acaranya?”
Perkataanku membuat mom menepuk jidatnya lalu ia menatap ayah sembari meringis.
“Oh, Honey, Raja dan Ratu acaranya sedang asik bersama Putri mereka.”
Aku dan ayah tertawa mendengar ucapan Mom. Mom dan ayah menciup keningku dan berkata mereka akan datang lagi setelah acara mereka selesai dan kita akan makan siang bersama. Aku tertawa dan bersyukur karena tidak jadi makan siang bersama mereka dan teman-teman Mom.
Sepeninggal mereka aku mencari kalender 3 tahun lalu dan untungnya aku menemukan satu buah kalender 2016 lusuh di bawah meja belajar. Segera aku membalik lembar per lembar mencari bulan Mei dan Juni serta mencoba untuk menganalisa segala sesuatu.
Hanya ada 3 memo bercerita tentang sesuatu yang misterius, memo pertama pada tanggal 16 Mei 2016, memo kedua pada tanggal 22 Mei 2016, antara dua memo itu ada tenggang waktu 5 hari. Lalu aku menghilang pada tanggal 7 Juni 2016, kalau mengambil petunjuk dari tanggal 22 ada tenggang waktu 15 hari. Jadi hasil analisanya, aku bertemu dengan orang itu mungkin saja sudah terjadi 3 atau 4 kali tapi itu hanya sekedar melihatnya berjalan pulang atau mungkin saja pergi di jalanan kompleks, dan bertemu secara face to face hanya sekali pada tanggal 7.
Lalu apa yang aku dapatkan dari analisa ini? Malah kepalaku semakin sakit.
Aku meletakkan kembali kalender pada tempat awalnya setalah itu berusaha mendorong masuk kotak memo kembali ke bawah ranjang.
Baiklah, cukup bermain teka-tekinya, aku ingin tidur sebentar setelah bangun aku akan minum obat dan makan siang bersama mom juga ayah.
Makan siang bersama Mom dan Ayah
Mencari tahu tentang Marcen
Mencari memo tahun 2016
Jumat, 15 Maret 2019
Sebelum tidur aku menyelipkan memo itu di buku Diary Maroonku.
Cerpen Karangan: Bunga Salju
Blog: velerianarahayaan.blogspot.co.id
Marcen (Part 1)
4/
5
Oleh
Unknown
