Marcen (Part 2)

Baca Juga :
    Judul Cerpen Marcen (Part 2)

    Seperti mimpi buruk yang datang dalam tidurku semalam. Aku terus memimpikan bagian buram dari masa lalu yang tidak pernah jelas ketika ingin kuingat. Aku bangun dengan tergegas memastikan ini adalah kamar yang sejak lahir aku tempati, tanpa mencoba merengangkan otot tangan, aku langsung bergerak ke luar dari selimut menyambar diary maroonku dan menarik pensil dari laci, menulis apa yang ingin aku ingat untuk hari esok. Tapi apa? Semua buram, seperti slide kosong yang rusak terkena alkohol. Mimpi yang berlari, mengejek dan menghujam duri kenangan yang tidak bisa kuingat. Ada apa ini? Mengapa akhir-akhir ini aku sering sekali bermimpi buram dengan sisa memori terbatas yang aku miliki aku ingin mencoba kembali mengingat kah? Atau kejenuhanku akan kehidupan yang sudah berjalan bertahun-tahun ini dengan ingatan seonggok debu yang bahkan tidak berarti?

    Aku terisak pelan merasakan frustasi untuk pertama kali. Entahlah, mungkin saja ini bukan pertama kali. Bisa saja aku selalu menangis namun enggan kutulis dalam buku harian ini. Satu perasaan yang perlahan membuatku membenci diriku yang sekarang, yang lemah, kecil dan terasingkan. Perasaan ini menghancurkan hati sendiri karena ketidakmampuan yang menyiksa otak.

    Aku menarik kedua tanganku menutup mulutku agar isakanku tak tersampaikan pada orang di luar kamarku. Entah siapa saja disana, aku tidak ingin dikasihani lagi.

    Tangisku bertambah pecah ketika membaca puisi yang kutuliskan di halaman utama diary maroonku.
    Rasanya dunia tidak mengundangku untuk sekali lagi merasakan ingatan yang dikandung bumi begitu lama. Mungkin aku adalah satu dari sederet orang kecil yang terkucilkan karena kemalangan dalam bernasib, atau mungkin saja hanya aku satu-satunya.

    “Ketika Hidup Mulai Membohongimu, Cobalah Untuk Meresapi Cinta Tulus Ketika Kamu Akan Beranjak Tidur. Kecupalah Malam Dan Peluk Lah Bintang Agar Malammu Tidak Bernasib Sama Dengan Dirimu.”
    20 Desember 2015



    Ada sekeranjang apel di atas meja makan, segelas susu dan pengalas piring. Aku duduk dengan tatapan kosong dan tidak mencoba menyantap makanan itu. Aku membaca lagi, aku harus memakan Buah Apel saat pagi hari dan mengomsumsi buah Ara saat istirahat siang dan hendak tidur. Aku Semakin Tidak tidak mempercayai Dokterku itu, sudah hampir 5 Tahun aku menjalani terapi, mengikuti semua sarannya tentang makanan, pola hidup dan bahkan segala sesuatu yang harus aku hindari. Tapi tidak sedetikpun aku bisa mengingat apa-apa. Apa Dia masih seorang Dokter?

    Wanita yang kutahu adalah ibuku memelukku dari belakang dan menciumi keningku hangat, lagi-lagi karena memo di kamar tidurkulah aku bisa tahu dia adalah ibuku. Wanita itu tampak kusut, baju tidur teddy bearnya Nampak kusut, matanya sembab dan rambutnya dibiarkan terurai tanpa dia ikat terlebih dahulu. Apakah dia menghabiskan malamnya dengan menangis sepertiku?

    Senyuman kupaksakan terukir di kedua sudut bibirku menyambut Mom yang sudah duduk di hadapaku. Kami menuggu Ayah datang dan akan memulai sarapan.

    “Ada teman Mom akan tiba pagi ini, kami sudah lama tidak bertemu jadi mam akan ke luar dan akan pulang sore hari. Kamu tidak apa mam tinggal?” Mom mencoba membuka percakapan sembari menghitung waktu sebelum kedatangan Ayah di meja makan.
    Aku mengangguk sembari berpura-pura tertarik. Maafkan aku mom, sepertinya aku merasa menyalahkanmu karena aku menjadi seperti ini.
    “Tiba dari mana? Pesawat pagi ini?”
    “Iya. Mereka akan tiba dari Arab, teman mama yang satu itu sudah lama tidak bertemu, kira-kira 5 tahun yang lalu.” Mama terdengar antusias menceritakan detail persahabatan antara dia dan Tante Arab yang entah pernah aku temui atau tidak.

    Ayah muncul dengan baju tidurnya yang sama kusutnya dengan mom. Mungkinkah ada masalah antara mereka? Mungkinkah ayah memukuli mom dan akhirnya mereka menangis berdua semalaman?

    Aku mencoba mencari jawaban dari raut wajah mom dan ayah namun mereka menunjukan senyuman bahagia yang tidak biasanya aku lihat sejak –ya, mungkin sejak aku kehilangan ingatan 5 tahun yang lalu.
    Mungkin ini pengaruh teman mom yang akan berkunjung itu? Orang arab itu seperti apa?
    “Kamu tidak ikut sayang? Sebagai perkenalan kamu yang pertama dengan teman ibumu itu.” Ayah menyerobot apel dan memakannya dengan lahap, aku rasa mengigit apel tepatnya atau aku sudah lupa lagi dengan bahasa yang tepat?

    Aku menggeleng. Tidak tahu kan mereka sudah berapa banyak teman mereka yang mereka kenalkan dan tak satupun diataran orang malang itu yang kuingat namanya atau bahkan dalam keadaan apa kita bertemu.
    “Tidak Mom, kasihan kalau aku tidak bisa menggingat mereka besok atau untuk waktu yang panjang.”

    Wajah mom dan ayah berubah muram, senyum mereka yang merekah seperti bunga di taman tenggelam ketika anak mereka menolak dengan halus.

    “Jangan berwajah seperti itu Mom, Ayah tersayang. Aku sendiri di rumah juga tidak apa-apa. Kalian sekalian kencan saja, pulang malam juga tidak masalah. Aku akan tinggal dengan Aunty Lana De kan? Dia jago masak dan tahu menu makananku, kalian tidak perlu khawatir dan merasa sedih seperti itu.” Aku mencoba menenangkan mereka, mecoba mencari solusi yang baik. Tapi entah mengapa aku merasa sedikit bimbang dengan keadaan kedua orantuaku pagi ini.

    Ada yang mereka sebunyikan?
    Apa itu?

    Cerpen Karangan: Bunga Salju

    Artikel Terkait

    Marcen (Part 2)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email