Judul Cerpen Nikmat Membawa Sengsara
Aku masih tersandar di kursi persegi panjang yang berada di samping kamar kos yang kutempati ini. Kursi ini kelihatan lembab terkena air, ya.. tak salah lagi air mata yang kuteteskan semalaman hingga pagi datang menjelang.
Entah apa yang tengah terjadi dengan diriku, bodoh sungguh bodoh perkataan ini sekali-kali tergiang di telingaku. Bukan karena ada seseorang yang berkata, tetapi itu bisikan sendiri dari hatiku yang tengah bersedih karena tak percaya dengan apa yang sedang kualami.
Tempat ini telah mempertemukanku dengan seseorang sahabat yang sebelumnya belum kukenal. Perbincangan di awal kita bertemu begitu menyenangkan, yang ternyata sahabat yang baru kukenal ini ternyata sekampung denganku. Hal inilah membuatku semakin bersemangat untuk meneruskan kuliahku. Karena, di tempat yang baru bagiku ini ada seorang teman tempatku bercerita suka dan duka yang akan kuhadapi di tempat aku akan menuntut ilmu untuk cita-citaku ini. Karena tempatku akan menuntut ilmu ini jauh dari keluargaku.
Rumah kos yang kutempati dengan sahabatku ini tidak terlalu jauh dari kampus. Kami sering berangkat bahkan pulang bareng usai perkuliahan. Memang jurusan yang kami ambil itu berbeda. Namun, hal ini bukan menjadi penghalang bagi kami untuk selalu bersama. Tidak hanya ke kampus, pulang kampung pun kami sering bareng, karena jarak rumahnya dengan rumahku tidak terlalu jauh. Setiap kami pulang kampung, dia selalu ke rumahku terlebih dahulu, setelah itu baru dia akan dijemput oleh ibu atau kakaknya.
Wajah yang oval, tinggi yang sedang untuk seorang perempuan, kulit yang sawo matang, dan berlesung pipi serta rambut hitam lurus hingga sepinggang, dan bahasanya yang santun. Itulah sosok sahabat yang tengah kumiliki saat sekarang ini. Vivin, panggilan yang kerap kuungkapkan kepadanya.
Kehidupan seorang anak kosan memang jauh dari kata mewah. Karena seorang anak kos harus pintar-pintar dalam mengatur keuangan. Awal bulan biasanya anak kosan memang banyak makanan atau uang. Tetapi pertengahan bulan anak kosan ini mesti beririt, karena jika tidak ia hanya akan makan nasi dengan garam atau kerupuk. Mesti makan nasi dengan garam atau kerupuk bukan menjadi masalah bagi aku dan vivin. Kami berdua tetap senang, apa yang aku makan itu juga yang vivin makan begitu juga sebaliknya. Kami selalu berbagi cerita tentang apa pun yang tengah kami alami. Bisa dikatakan tiada rahasia di antara kita. Kami berdua sudah seperti saudara yang tak bisa dipisahkan.
Sudah hampir tiga tahun kami bersama tanpa ada permasalahan yang timbul. Namun, sebelumnya saya telah lama mendengar kabar yang tak baik tentang vivin dari temanku waktu SMA. “Mi kamu aku dengar kamu satu kos ya dengan vivin”, “Iya, emangnya kenapa?”. “Kamu harus hati-hati dengan dia, jangan sampai kamu cerita masalah kamu dekat dengan siapa sama dia, takutnya hubunganmu akan kandas di tengah jalan”, “Kenapa kamu bisa berkata demikian?, vivin itu baik, aku dengan dia sudah seperti saudara, lagian dia kelihatan lugu, jadi tidak mungkin kalau dia melakukan hal yang demikian”. “Aku Cuma mengingatkan karena temanku telah mengalaminya”.
Mimi pun pergi meningalkan Diah, karena dia tidak suka dengan pernyataan Diah yang mengatakan kalau Vivin itu suka merusak hubungan seseorang. Namun, sejenak mimi terpikirkan apa yang dikatakan oleh Diah. “Apa mungkin Vivin yang kukenal baik itu melakukan hal yang serendah itu”. Pikiran ini segera ditampiknya, karena mimi bukanlah gadis yang mudah percaya dengan perkataan seseorang sebelum dia sendiri yang membuktikan kebenarannya. Mimi dapat dikatakan seorang gadis yang keras kepala.
Di kampusnya Mimi memiliki banyak teman, berbeda dengan Vivin yang terkadang hanya berdua saja dengan temannya. Hal itu bukan karena Vivin tidak disenangi oleh temannya. Tetapi karena Vivin memang susah bersosialisasi dengan teman-teman yang tidak sejalan atau tidak sependapat dengannya, ditambah lagi Vivin kalau di kampus kebanyakan diam, atau lebih suka bermain dengan hp nya. Hal ini membuat sejumlah laki-laki yang ada di kampusnya itu tertarik dengannya.
Saat itu ada seorang mahasiswa yang tertarik dengan Vivin. Vivin pun sering teleponan atau berkirim pesan dengannya. Ya, tidak salah lagi lelaki itu bernama Rio. Kedekatan Vivin dengan Rio ini dibantu oleh Ilham. Ilham adalah teman dekat Rio yang satu jurusan dengannya. Ilham selalu menyokong Rio untuk dekat dengan Vivin. Pada suatu ketika tibalah saatnya yang tepat bagi Rio untuk mengungkapkan perasaannya kepada Vivin, karena ia merasa pendekatan yang dilakukannya selama ini telah cukup untuk mengetahui sifat Vivin. Sejak mulai pendekatannya dengan Vivin, ia merasa Vivin adalah gadis yang selama ini ia cari, cantik, baik dan lemah lembut. Saat itu malam minggu, sebelum Rio mengungkapkan perasaannya kepada Vivin ia terlebih dahulu menelepon Ilham untuk minta pendapatnya. “Ham, malam ini aku akan mengungkapkan pereasaanku kepada Vivin, bagaimana menurutmu?”. “Lebih cepat, lebih baik yo, aku sangat mendukungmu, ungkap Ilham”. Saat itu juga Rio menelepon Vivin, “ Vin, malam ini ada yang ingin aku bicarakan denganmu”. “Ada apa yo?”, ungkap Vivin. “hmhm, Aku harap kamu tidak akan marah dengan pernyataanku ini, setelah lama kita kenal, aku ada perasaan denganmu, aku menyukaimu Vin sejak pertama kita bertemu, apakah kamu mau jadi kekasihku?”, Vivin pun terdiam sejenak tanpa ada berkata sepatah kata pun. “Vin apa kamu mendengarku?”. “i…i…ya, yo aku mendengarmu”. Saat itu juga Vivin menjawab dengan tegas. “Maaf ya yo, aku tidak bisa menerimamu karena aku belum mau pacaran”. “Baiklah jika itu keputusanmu aku terima” ungkap Rio dengan nada kecewa sambil menutup teleponnya.
Vivin pun terdiam sejenak di kamarnya, karena yang diharapkannya itu bukan Rio yang menyatakan perasaannya tetapi Ilham. Namun, yang diharapkannya tidak sesuai dengan yang terjadi.
Keesokan harinya, Vivin menemui Ilham yang tengah duduk di taman kampus. Tanpa ragu-ragu Vivin mendekati Ilham. “Hai Ham lagi apa?”. Ilham pun terkejut dengan kedatangan Vivin. “Lagi baca novel nii..” ungkap Ilham, dan kembali diam karena ia telah mengetahui kalau sahabatnya Rio baru saja ditolak oleh Vivin. Melihat reaksi Ilham yang biasa-biasa saja, Vivin pun mengatur srategi agar Ilham ada reaksi juga dengannya. Akhirnya Vivin pun bercerita dengan nada yang membuat orang prihatin dengannya. Sampai ia bercerita tentang Rio, ia tidak mau kalau Rio terlalu berharap dengannya. Hingga Ilham pun terpedaya dengan gaya lugu dan polos Vivin. Tanpa ia sadari ia juga mulai menyukai Vivin.
Semakin hari Vivin dan Ilham terlihat semakin dekat. Sering kali mimi dan Rio menyaksikan mereka pergi berdua. Melihat kejadian ini Rio pun merasa sakit hati dengan Ilham, teman yang telah dianggapnya sahabat ternyata menikamnya juga dari belakang. Melihat sahabatnya seperti ini Mimi merasa tidak enak dengan Rio. Akhirnya Mimi memanggil Ilham dan Vivin. “Ham, Vin kenapa kalian melakukan hal ini, apakah kaliaan pacaran?”. “Tidak”, jawab mereka berdua. “Terus kenapa kalian lakukan ini, kamu juga Ham, jelas–jelas Rio sahabatmu menyukai Vivin, kamu yang bantuin mereka dekat, tetapi malah kamu sekarang yang dekat dengan Vivin”. “Aku hanya ingin agar dia tidak terlalu berharap denganku”, ungkap Vivin. “Tetapi bukan begini caranya, sama saja kalian berdua menyakiti perasaan Rio”. Mereka berdua hanya tersenyum karena kesalahan yang telah mereka perbuat.
Sejak saat itu Ilham kembali tersadar dengan apa yang telah diperbuatnya itu salah. Ilham pun minta maaf kepada Rio. Sejak saat itu Vivin dan Ilham tidak sering lagi terlihat berdua. Melihat kejadian ini Mimi mulai teringat akan perkataan temannya yang dulu tentang kebiasaan buruk Vivin. Namun, Mimi kembali menampiknya karena hal itu tidak akan terjadi lagi.
Hal yang dikhwatirkannya itu memang terjadi. Arya adalah laki-laki yang saat ini dekat denganku, lebih dari seorang teman. Kami berdua pun telah membicarakan hal yang serius dengan hubungan kami ini. Namun, apa yang dapat kukatakan, akhir-akhir ini kami sering bertengkar dalam hal kecil sekalipun. Hingga satu bulan lamanya Arya tak menghubungiku. Setiap aku telepon dia tidak pernah mengangkat atau menelepon balik. Begitu juga dengan setiap aku mengirimi dia pesan tak pernah dibalas. Ataupun ada itu Cuma sekali-kali dengan jutek. Hingga aku tidak sanggup untuk berada dalam kondisi yang seperti ini. Sering kali aku meneteskan air mata dikala malam datang menjelma. “Apa yang sebenarnya terjadi?” pikirku dalam hati.
Belakangan ini memang aku lihat setiap malam Vivin menghubungi seseorang, namun aku tidak mengetahui itu siapa dan Vivin pun juga tidak menceritakan gerangan orang yang diteleponnya itu. Ibarat pepatah, bangkai yang disembunyikan sejauh apapun, lama-kelaman juga tercium juga. Ternyata selama belakangan ini Vivin sering menghubungi Arya tanpa sepengetahuanku. Memang Arya telah kukenalkan dengan Vivin, karena Vivin telah kuanggap sebaga saudaraku sendiri. Namun, tidak seperti yang kuduga, ia tega berbuat demikian. Bukan kehilangan seorang kekasih yang kusesali, tetapi perbuatan seorang sahabat yang tidak bisa kuterima. Hingga aku tertidur di atas kursi semalan yang ada di samping kamar kos.
Kejadian ini telah membuatku semakin dewasa dalam menanggapi segala permasalahan. Sekarang aku memutuskan untuk melupakan orang yang aku cintai tersebut dan menatap masa depan yang telah berada di depan mata. Aku pun memutuskan untuk menjauhi Vivin, karena tidak pernah kusangka sebelumnya, wajah yang kelihatan cantik, baik, dan lugu, ternyata di dalamnya terdapat sesuatu kebusukkan yang tak dapat diduga.
Setelah beberapa tahun kemudian aku telah diterima sebagai guru tetap di salah satu sekolah di daerahku. Namun, saat itu aku mendengar kabar yang tak sedap. Sahabatku Vivin yang dulu mengkhianatiku masuk rumah sakit jiwa. Ternyata dia mengalami ngangguan jiwa yang hebat setelah ditinggal kekasihnya menikah dengan orang lain.
Cerpen Karangan: Rita Sari
Facebook: Rita Sari
Aku masih tersandar di kursi persegi panjang yang berada di samping kamar kos yang kutempati ini. Kursi ini kelihatan lembab terkena air, ya.. tak salah lagi air mata yang kuteteskan semalaman hingga pagi datang menjelang.
Entah apa yang tengah terjadi dengan diriku, bodoh sungguh bodoh perkataan ini sekali-kali tergiang di telingaku. Bukan karena ada seseorang yang berkata, tetapi itu bisikan sendiri dari hatiku yang tengah bersedih karena tak percaya dengan apa yang sedang kualami.
Tempat ini telah mempertemukanku dengan seseorang sahabat yang sebelumnya belum kukenal. Perbincangan di awal kita bertemu begitu menyenangkan, yang ternyata sahabat yang baru kukenal ini ternyata sekampung denganku. Hal inilah membuatku semakin bersemangat untuk meneruskan kuliahku. Karena, di tempat yang baru bagiku ini ada seorang teman tempatku bercerita suka dan duka yang akan kuhadapi di tempat aku akan menuntut ilmu untuk cita-citaku ini. Karena tempatku akan menuntut ilmu ini jauh dari keluargaku.
Rumah kos yang kutempati dengan sahabatku ini tidak terlalu jauh dari kampus. Kami sering berangkat bahkan pulang bareng usai perkuliahan. Memang jurusan yang kami ambil itu berbeda. Namun, hal ini bukan menjadi penghalang bagi kami untuk selalu bersama. Tidak hanya ke kampus, pulang kampung pun kami sering bareng, karena jarak rumahnya dengan rumahku tidak terlalu jauh. Setiap kami pulang kampung, dia selalu ke rumahku terlebih dahulu, setelah itu baru dia akan dijemput oleh ibu atau kakaknya.
Wajah yang oval, tinggi yang sedang untuk seorang perempuan, kulit yang sawo matang, dan berlesung pipi serta rambut hitam lurus hingga sepinggang, dan bahasanya yang santun. Itulah sosok sahabat yang tengah kumiliki saat sekarang ini. Vivin, panggilan yang kerap kuungkapkan kepadanya.
Kehidupan seorang anak kosan memang jauh dari kata mewah. Karena seorang anak kos harus pintar-pintar dalam mengatur keuangan. Awal bulan biasanya anak kosan memang banyak makanan atau uang. Tetapi pertengahan bulan anak kosan ini mesti beririt, karena jika tidak ia hanya akan makan nasi dengan garam atau kerupuk. Mesti makan nasi dengan garam atau kerupuk bukan menjadi masalah bagi aku dan vivin. Kami berdua tetap senang, apa yang aku makan itu juga yang vivin makan begitu juga sebaliknya. Kami selalu berbagi cerita tentang apa pun yang tengah kami alami. Bisa dikatakan tiada rahasia di antara kita. Kami berdua sudah seperti saudara yang tak bisa dipisahkan.
Sudah hampir tiga tahun kami bersama tanpa ada permasalahan yang timbul. Namun, sebelumnya saya telah lama mendengar kabar yang tak baik tentang vivin dari temanku waktu SMA. “Mi kamu aku dengar kamu satu kos ya dengan vivin”, “Iya, emangnya kenapa?”. “Kamu harus hati-hati dengan dia, jangan sampai kamu cerita masalah kamu dekat dengan siapa sama dia, takutnya hubunganmu akan kandas di tengah jalan”, “Kenapa kamu bisa berkata demikian?, vivin itu baik, aku dengan dia sudah seperti saudara, lagian dia kelihatan lugu, jadi tidak mungkin kalau dia melakukan hal yang demikian”. “Aku Cuma mengingatkan karena temanku telah mengalaminya”.
Mimi pun pergi meningalkan Diah, karena dia tidak suka dengan pernyataan Diah yang mengatakan kalau Vivin itu suka merusak hubungan seseorang. Namun, sejenak mimi terpikirkan apa yang dikatakan oleh Diah. “Apa mungkin Vivin yang kukenal baik itu melakukan hal yang serendah itu”. Pikiran ini segera ditampiknya, karena mimi bukanlah gadis yang mudah percaya dengan perkataan seseorang sebelum dia sendiri yang membuktikan kebenarannya. Mimi dapat dikatakan seorang gadis yang keras kepala.
Di kampusnya Mimi memiliki banyak teman, berbeda dengan Vivin yang terkadang hanya berdua saja dengan temannya. Hal itu bukan karena Vivin tidak disenangi oleh temannya. Tetapi karena Vivin memang susah bersosialisasi dengan teman-teman yang tidak sejalan atau tidak sependapat dengannya, ditambah lagi Vivin kalau di kampus kebanyakan diam, atau lebih suka bermain dengan hp nya. Hal ini membuat sejumlah laki-laki yang ada di kampusnya itu tertarik dengannya.
Saat itu ada seorang mahasiswa yang tertarik dengan Vivin. Vivin pun sering teleponan atau berkirim pesan dengannya. Ya, tidak salah lagi lelaki itu bernama Rio. Kedekatan Vivin dengan Rio ini dibantu oleh Ilham. Ilham adalah teman dekat Rio yang satu jurusan dengannya. Ilham selalu menyokong Rio untuk dekat dengan Vivin. Pada suatu ketika tibalah saatnya yang tepat bagi Rio untuk mengungkapkan perasaannya kepada Vivin, karena ia merasa pendekatan yang dilakukannya selama ini telah cukup untuk mengetahui sifat Vivin. Sejak mulai pendekatannya dengan Vivin, ia merasa Vivin adalah gadis yang selama ini ia cari, cantik, baik dan lemah lembut. Saat itu malam minggu, sebelum Rio mengungkapkan perasaannya kepada Vivin ia terlebih dahulu menelepon Ilham untuk minta pendapatnya. “Ham, malam ini aku akan mengungkapkan pereasaanku kepada Vivin, bagaimana menurutmu?”. “Lebih cepat, lebih baik yo, aku sangat mendukungmu, ungkap Ilham”. Saat itu juga Rio menelepon Vivin, “ Vin, malam ini ada yang ingin aku bicarakan denganmu”. “Ada apa yo?”, ungkap Vivin. “hmhm, Aku harap kamu tidak akan marah dengan pernyataanku ini, setelah lama kita kenal, aku ada perasaan denganmu, aku menyukaimu Vin sejak pertama kita bertemu, apakah kamu mau jadi kekasihku?”, Vivin pun terdiam sejenak tanpa ada berkata sepatah kata pun. “Vin apa kamu mendengarku?”. “i…i…ya, yo aku mendengarmu”. Saat itu juga Vivin menjawab dengan tegas. “Maaf ya yo, aku tidak bisa menerimamu karena aku belum mau pacaran”. “Baiklah jika itu keputusanmu aku terima” ungkap Rio dengan nada kecewa sambil menutup teleponnya.
Vivin pun terdiam sejenak di kamarnya, karena yang diharapkannya itu bukan Rio yang menyatakan perasaannya tetapi Ilham. Namun, yang diharapkannya tidak sesuai dengan yang terjadi.
Keesokan harinya, Vivin menemui Ilham yang tengah duduk di taman kampus. Tanpa ragu-ragu Vivin mendekati Ilham. “Hai Ham lagi apa?”. Ilham pun terkejut dengan kedatangan Vivin. “Lagi baca novel nii..” ungkap Ilham, dan kembali diam karena ia telah mengetahui kalau sahabatnya Rio baru saja ditolak oleh Vivin. Melihat reaksi Ilham yang biasa-biasa saja, Vivin pun mengatur srategi agar Ilham ada reaksi juga dengannya. Akhirnya Vivin pun bercerita dengan nada yang membuat orang prihatin dengannya. Sampai ia bercerita tentang Rio, ia tidak mau kalau Rio terlalu berharap dengannya. Hingga Ilham pun terpedaya dengan gaya lugu dan polos Vivin. Tanpa ia sadari ia juga mulai menyukai Vivin.
Semakin hari Vivin dan Ilham terlihat semakin dekat. Sering kali mimi dan Rio menyaksikan mereka pergi berdua. Melihat kejadian ini Rio pun merasa sakit hati dengan Ilham, teman yang telah dianggapnya sahabat ternyata menikamnya juga dari belakang. Melihat sahabatnya seperti ini Mimi merasa tidak enak dengan Rio. Akhirnya Mimi memanggil Ilham dan Vivin. “Ham, Vin kenapa kalian melakukan hal ini, apakah kaliaan pacaran?”. “Tidak”, jawab mereka berdua. “Terus kenapa kalian lakukan ini, kamu juga Ham, jelas–jelas Rio sahabatmu menyukai Vivin, kamu yang bantuin mereka dekat, tetapi malah kamu sekarang yang dekat dengan Vivin”. “Aku hanya ingin agar dia tidak terlalu berharap denganku”, ungkap Vivin. “Tetapi bukan begini caranya, sama saja kalian berdua menyakiti perasaan Rio”. Mereka berdua hanya tersenyum karena kesalahan yang telah mereka perbuat.
Sejak saat itu Ilham kembali tersadar dengan apa yang telah diperbuatnya itu salah. Ilham pun minta maaf kepada Rio. Sejak saat itu Vivin dan Ilham tidak sering lagi terlihat berdua. Melihat kejadian ini Mimi mulai teringat akan perkataan temannya yang dulu tentang kebiasaan buruk Vivin. Namun, Mimi kembali menampiknya karena hal itu tidak akan terjadi lagi.
Hal yang dikhwatirkannya itu memang terjadi. Arya adalah laki-laki yang saat ini dekat denganku, lebih dari seorang teman. Kami berdua pun telah membicarakan hal yang serius dengan hubungan kami ini. Namun, apa yang dapat kukatakan, akhir-akhir ini kami sering bertengkar dalam hal kecil sekalipun. Hingga satu bulan lamanya Arya tak menghubungiku. Setiap aku telepon dia tidak pernah mengangkat atau menelepon balik. Begitu juga dengan setiap aku mengirimi dia pesan tak pernah dibalas. Ataupun ada itu Cuma sekali-kali dengan jutek. Hingga aku tidak sanggup untuk berada dalam kondisi yang seperti ini. Sering kali aku meneteskan air mata dikala malam datang menjelma. “Apa yang sebenarnya terjadi?” pikirku dalam hati.
Belakangan ini memang aku lihat setiap malam Vivin menghubungi seseorang, namun aku tidak mengetahui itu siapa dan Vivin pun juga tidak menceritakan gerangan orang yang diteleponnya itu. Ibarat pepatah, bangkai yang disembunyikan sejauh apapun, lama-kelaman juga tercium juga. Ternyata selama belakangan ini Vivin sering menghubungi Arya tanpa sepengetahuanku. Memang Arya telah kukenalkan dengan Vivin, karena Vivin telah kuanggap sebaga saudaraku sendiri. Namun, tidak seperti yang kuduga, ia tega berbuat demikian. Bukan kehilangan seorang kekasih yang kusesali, tetapi perbuatan seorang sahabat yang tidak bisa kuterima. Hingga aku tertidur di atas kursi semalan yang ada di samping kamar kos.
Kejadian ini telah membuatku semakin dewasa dalam menanggapi segala permasalahan. Sekarang aku memutuskan untuk melupakan orang yang aku cintai tersebut dan menatap masa depan yang telah berada di depan mata. Aku pun memutuskan untuk menjauhi Vivin, karena tidak pernah kusangka sebelumnya, wajah yang kelihatan cantik, baik, dan lugu, ternyata di dalamnya terdapat sesuatu kebusukkan yang tak dapat diduga.
Setelah beberapa tahun kemudian aku telah diterima sebagai guru tetap di salah satu sekolah di daerahku. Namun, saat itu aku mendengar kabar yang tak sedap. Sahabatku Vivin yang dulu mengkhianatiku masuk rumah sakit jiwa. Ternyata dia mengalami ngangguan jiwa yang hebat setelah ditinggal kekasihnya menikah dengan orang lain.
Cerpen Karangan: Rita Sari
Facebook: Rita Sari
Nikmat Membawa Sengsara
4/
5
Oleh
Unknown
