Judul Cerpen Sampai Ujung Penantianku
Perjalananku terkesan rumit, kebanyakan orang selalu memanggilku si ratu bahagia. Sebab aku tidak pernah bersedih, akan tetapi sebenarnya mereka selalu salah disetiap senyumanku terselip luka yang terasa perih. Aku tidak ingin orang lain selalu mengkhawatirkanku. Namaku As-syifa Putri Salsabila. Orang-orang biasa memanggilku Syifa. Aku nampak lugu dan polos di mata teman-temanku. Namun aku anaknya pelupa dan ceroboh.
“Syif, nanti pulang bareng yuk, ada hal yang ingin aku kasih tahu ke kamu” kejut Nadia di belakangku.
“Boleh, memangnya kamu mau ngomongin apa kok terlihat serius?” jawabku penasaran
“Emm, udah ada pokoknya.” sahut Nadia lagi
Nadia memang sahabatku sejak kecil dan aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Rumah kita juga kebetulan berdekatan. Dialah yang selalu membuatku lebih bahagia. Dia juga selalu saja baik denganku. Kami selalu berbagi masalah bersama, hanya kami berdua.
Aku masih heran apa yang akan Nadia katakan. Terlihat begitu serius, hal ini membuatku agak sedikit grogi. Setelah bel pulang berbunyi Nadia langsung menarik tanganku untuk segera pulang.
“Eh, Syifa kemarin aku lihat Raka seperti mengikuti kamu, apa kalian ada hubungan spesial?” kata Nadia sambil melihatku serius
“Ah mana mungkin, mungkin kamu hanya salah lihat saja Nad,” jawabku agak ragu
“Eh kamu Syif, nggak percayaan sama aku, aku sering kok lihat Raka mengikuti kamu bahkan hampir setiap hari, apa jangan-jangan?” terus Nadia
“Jangan-jangan apa, Ah sudah lupakan,” jawabku ketus
Memang Raka adalah teman sekelasku. Dia memang baik padaku. Tapi mana mungkin dia menyukaiku. Dia kan orangnya tidak pernah yang namanya berhubungan dengan cinta. Dia selalu baik pada orang lain juga. Memang tidak aneh itu. Aku masih merenungkan perkataan Nadia tadi padaku.
Memang dia pernah menolongku ketika hampir saja aku terkena runtuhan fondasi rumah seminggu yang lalu. Untung saja ada dia, kalau tidak mana mungkin sekarang aku bisa bernafas bebas disini. Aku pikir itu hanya kebetulan, memang akhir-akhir ini hatiku masih nampak kagum padanya. Tapi itu hanya perasaan saja, mana mungkin dia mempunyai perasaan yang sama terhadapku.
Siang itu suasana kelas masihlah ricuh, aku yang baru saja kembali dari kantin merasa sedikit terganggu oleh tingkah teman-temanku itu. Aku pandangi Raka di sudut kelas, dia nampak sedang tidak bersemangat dan lesu tidak seperti biasa yang selalu ceria. Lalu aku duduk di kursiku bersama Nadia yang duduk di sampingku.
Lalu aku tidak menyangka jika ada surat di mejaku. Dengan cepat aku memasukkannya ke dalam tasku. Nadia nampak memandangi keanehanku ini, namun dengan segera aku mengajaknya bicara agar cepat-cepat ia melupakan hal itu.
Sesampainya di rumah aku membaca dengan cermat surat itu. Jantungku seketika berdegup kencang. Aku mulai penasaran surat apa ini, dan dari siapa surat ini berasal. Akhirnya aku buka dan ternyata itu dari Raka.
“Mungkin akan nampak memalukan bagiku, namun aku tak menghiraukannya. Selama ini aku memendam perasaan terhadapmu. Aku selalu mengikutimu untuk memastikan kamu aman sampai di rumah. Mungkin ini semua nampak aneh bagimu, aku mengagumimu semenjak pertama kita bertemu. Kamu mungkin nampak berbeda dari teman yang lain. Hal itu yang membuatmu unik.
Surat ini mungkin terlambat kuberikan untukmu. Sebab mungkin besok aku sudah tidak bisa melihatmu lagi. Sebab aku harus pindah sekolah mengikuti ayahku yang dipindahkan tugas ke luar kota. Semoga dengan surat ini kamu tahu semua apa yang aku rasakan selama ini. Jika kamu memiliki perasaan yang sama dan kita ditakdirkan untuk bersama mungkin aku akan kembali. Kembali untuk melihatmu lagi.
Raka
Tercengang aku membaca surat dari Raka itu. Nampaknya dia juga memendam perasaaan yang sama denganku. Aku tidak menyangka itu. Memang benar keesokan hari Raka sudah tidak ada di sekolah lagi dan benar-benar pindah. Mungkin jika aku dan Raka ditakdirkan utuk bersama mungkin kita bisa dipertemukan lagi. Dan aku berharap memanglah dia orangnya. Aku akan menunggu sampai tiba waktu itu.
Cerpen Karangan: Amanda Novitasari
Blog / Facebook: amandanov.blogspot / amanda novitasari
Perjalananku terkesan rumit, kebanyakan orang selalu memanggilku si ratu bahagia. Sebab aku tidak pernah bersedih, akan tetapi sebenarnya mereka selalu salah disetiap senyumanku terselip luka yang terasa perih. Aku tidak ingin orang lain selalu mengkhawatirkanku. Namaku As-syifa Putri Salsabila. Orang-orang biasa memanggilku Syifa. Aku nampak lugu dan polos di mata teman-temanku. Namun aku anaknya pelupa dan ceroboh.
“Syif, nanti pulang bareng yuk, ada hal yang ingin aku kasih tahu ke kamu” kejut Nadia di belakangku.
“Boleh, memangnya kamu mau ngomongin apa kok terlihat serius?” jawabku penasaran
“Emm, udah ada pokoknya.” sahut Nadia lagi
Nadia memang sahabatku sejak kecil dan aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Rumah kita juga kebetulan berdekatan. Dialah yang selalu membuatku lebih bahagia. Dia juga selalu saja baik denganku. Kami selalu berbagi masalah bersama, hanya kami berdua.
Aku masih heran apa yang akan Nadia katakan. Terlihat begitu serius, hal ini membuatku agak sedikit grogi. Setelah bel pulang berbunyi Nadia langsung menarik tanganku untuk segera pulang.
“Eh, Syifa kemarin aku lihat Raka seperti mengikuti kamu, apa kalian ada hubungan spesial?” kata Nadia sambil melihatku serius
“Ah mana mungkin, mungkin kamu hanya salah lihat saja Nad,” jawabku agak ragu
“Eh kamu Syif, nggak percayaan sama aku, aku sering kok lihat Raka mengikuti kamu bahkan hampir setiap hari, apa jangan-jangan?” terus Nadia
“Jangan-jangan apa, Ah sudah lupakan,” jawabku ketus
Memang Raka adalah teman sekelasku. Dia memang baik padaku. Tapi mana mungkin dia menyukaiku. Dia kan orangnya tidak pernah yang namanya berhubungan dengan cinta. Dia selalu baik pada orang lain juga. Memang tidak aneh itu. Aku masih merenungkan perkataan Nadia tadi padaku.
Memang dia pernah menolongku ketika hampir saja aku terkena runtuhan fondasi rumah seminggu yang lalu. Untung saja ada dia, kalau tidak mana mungkin sekarang aku bisa bernafas bebas disini. Aku pikir itu hanya kebetulan, memang akhir-akhir ini hatiku masih nampak kagum padanya. Tapi itu hanya perasaan saja, mana mungkin dia mempunyai perasaan yang sama terhadapku.
Siang itu suasana kelas masihlah ricuh, aku yang baru saja kembali dari kantin merasa sedikit terganggu oleh tingkah teman-temanku itu. Aku pandangi Raka di sudut kelas, dia nampak sedang tidak bersemangat dan lesu tidak seperti biasa yang selalu ceria. Lalu aku duduk di kursiku bersama Nadia yang duduk di sampingku.
Lalu aku tidak menyangka jika ada surat di mejaku. Dengan cepat aku memasukkannya ke dalam tasku. Nadia nampak memandangi keanehanku ini, namun dengan segera aku mengajaknya bicara agar cepat-cepat ia melupakan hal itu.
Sesampainya di rumah aku membaca dengan cermat surat itu. Jantungku seketika berdegup kencang. Aku mulai penasaran surat apa ini, dan dari siapa surat ini berasal. Akhirnya aku buka dan ternyata itu dari Raka.
“Mungkin akan nampak memalukan bagiku, namun aku tak menghiraukannya. Selama ini aku memendam perasaan terhadapmu. Aku selalu mengikutimu untuk memastikan kamu aman sampai di rumah. Mungkin ini semua nampak aneh bagimu, aku mengagumimu semenjak pertama kita bertemu. Kamu mungkin nampak berbeda dari teman yang lain. Hal itu yang membuatmu unik.
Surat ini mungkin terlambat kuberikan untukmu. Sebab mungkin besok aku sudah tidak bisa melihatmu lagi. Sebab aku harus pindah sekolah mengikuti ayahku yang dipindahkan tugas ke luar kota. Semoga dengan surat ini kamu tahu semua apa yang aku rasakan selama ini. Jika kamu memiliki perasaan yang sama dan kita ditakdirkan untuk bersama mungkin aku akan kembali. Kembali untuk melihatmu lagi.
Raka
Tercengang aku membaca surat dari Raka itu. Nampaknya dia juga memendam perasaaan yang sama denganku. Aku tidak menyangka itu. Memang benar keesokan hari Raka sudah tidak ada di sekolah lagi dan benar-benar pindah. Mungkin jika aku dan Raka ditakdirkan utuk bersama mungkin kita bisa dipertemukan lagi. Dan aku berharap memanglah dia orangnya. Aku akan menunggu sampai tiba waktu itu.
Cerpen Karangan: Amanda Novitasari
Blog / Facebook: amandanov.blogspot / amanda novitasari
Sampai Ujung Penantianku
4/
5
Oleh
Unknown
