Judul Cerpen Sang Pria
Awalnya aku kira, seseorang datang untuk menetap. Namun faktanya, seseorang datang memang untuk pergi, tidak harus mempercayainya tapi dengan menjalani hidup para manusia itu mengerti bahwa kehidupan memang tidak kekal, tidak abadi dan tidak seindah yang diimajinasikan.
Individu itu terus berpikir, kenapa datang kalau akhirnya harus pergi.
Kenapa harus kembali, kalau akhirnya kita akan hidup, sama dengan yang dirasakan sekarang. Mungkin memang bukan di dunia, tapi di satu tempat yang diberi nama akhirat. Dan kenapa… Semua serba tidak bisa diduga?
Seseorang itu datang, lalu pergi, kembali lagi dan pergi lagi. Saat dia datang untuk pertama kalinya semua terasa dengan sempurna, tidak ada kekurangan di dalamnya yang ada hanya rasa kurang bersyukur atas apa yang sudah diterimanya. Lalu dia pergi, bersama dengan segala pengalaman dan kenangan di dalamnya, pergi dengan hembusan nafas yang terhenti, jantung yang sudah tidak berdetak dan mata yang tertutup rapat. Tidak ada kebahagian, tidak ada kedamian di dalamnya. Yang ada hanya kepedihan, kesedihan, air mata yang tidak berhenti keluar, rasa sesak yang teramat dalam, bibir bergetar, kaki yang tidak sanggup untuk melangkah dan jantung yang seakan berhenti berdetak namun nafas terus berhembus..
Dia pergi bersama kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan, aku tidak tau prosesnya hingga pada tahap seperti ini, tapi yang pasti semua sudah terencana bahkan jauh dari perkiraan nalar seorang manusia.
Beberapa hari berlalu, dia kembali namun dengan orang yang berbeda. Semua sama, namun berbeda. Pertemuan kedua itu membuatku terkejut. Sejak kapan waktu bisa putar kembali, kalau ternyata semua tidak dapat dilakukan. Dia berdiri di hadapanku, dengan wajah yang asing, yang tidak aku kenali, namu rasanya sama. Sama saat melihatnya untuk pertama kali tapi dengan wajah yang berbeda.
Semenit kemudian, dia memalingkan muka dari hadapanku, seakan kita tidak kenal atau mungkin kita memang tidak pernah saling mengenal. Perlahan, dia menjauh, bergerak, dan berjalan berbelok arah dari hadapanku. Postur badan itu sangat mirip seperti dulu, dilihat dari belakang semua pemikiranku kembali pada saat kita bersama, dan muncul pertanyaan yang tak mempunyai jawaban. Dia siapa? Kenapa begitu mirip? Bukan hanya fisik, namun tatapan matanya yang begitu ramah.
Akhirnya, aku putuskan untuk mengejar sosok itu. Sosok yang selama ini aku cari dalam kehidupanku. Seseorang yang menghilang namun kini telah kembali.
Aku terus berlari, sampai pada akhirnya aku menarik lengan orang itu. Sekarang, dia tepat berada di hadapanku. Masih dengan tatapanan bingung, aku mencoba mencari sosok yang aku kenal dulu dalam dirinya. Namun naasnya, semua tidak ditemukan, bahkan sentuhan lengannya pun terasa berbeda. Mata itu, memang ramah, namun dia memang bukan orang yang sama.
Lalu, aku melepas genggaman tangan itu dan berharap aku akan menemukan jawaban dari mulut si pria itu. Namun lagi-lagi, semua memang tidak mempunyai jawaban. Akhirnya, aku mulai melangkahkan kakiku untuk menjauhi si pria itu. Masih dengan tatapan bingung, pria itu mengantarku pergi dengan tatapan ramahnya. Dia tidak mengerjarku, tidak juga memanggilku. Dan semua berakhir sampai aku berbelok di simpangan jalan.
Sepanjang jalan, aku terus berpikir. Bodoh! Mana bisa seseorang yang sudah pergi lalu kembali dengan sosok lain. Aku terus berjalan, dan tanpa sadar aku sudah berada di sini, di tempat ini. Tempat yang membuatku menangis, bersedih dan memutar kembali memori-memori saat bersama dia.
Tempat itu sedikit berantakan, dengan ilalangan yang sudah nyaris satu meter tingginya, dengan lahan yang sudah penuh dengan penghuni lain. Aku menatap tanah yang sudah mulai tidak berbentuk. Wangi bunga yang sangat menyengat. Semua memberikan penjelasan padaku, bahwa saat ini aku sedang berada di pemakaman umum, tempat baru bagi seseorang yang memulai kehidupan baru.
Aku terus menatap makam itu, batu nisan yang sudah mulai kotor dengan terpaan hujan yang terus menerus, angin yang membawa debu, dan hewan-hewan yang memang sengaja memakan rumput-rumput liar itu.
Hatiku bergetar, mulutku terus terkunci, mata yang sudah mengeluarkan air beningnya. Hatiku terus berbicara, namun tidak pernah ada jawaban. Sekarang, aku terduduk dengan hanya beralaskan tanah. Aku menatap nisan itu, nisan yang tertulis nama seseorang yang sangat tidak bisa aku lupakan. Air mata ini terus mengalir, sampai sesak menghampiriku. Semua memori itu kembali. Dengan hembusan angin yang mengarah kepadaku dan membawa semua kenangan itu. aku tidak punya pilihan lain, selain terus mengingat masa-masa itu.
Masa-masa dimana, aku dan dia merasakan bahagia tentang hidup kita, hidup yang membawaku mengenal sosok pria itu. kehidupan sempurna, yang pada akhirnya tidak berjalan dengan baik.
Dia pergi, sangat cepat. Sampai aku kehabisan kata-kata untuk berbicara kepadanya. Aku tau, kehidupan memang menuntut kita untuk bertahan, namun dasarnya aku tidak bisa bertahan dengan rasa yang terus menggangguku. Dengan pemikiran rumit tentangnya. Dalam tangis, aku ber’doa dan berharap dia akan datang kepadaku saat ini juga. Aku memanggil namanya dalam hati, tidak ada jawaban. Aku memanggilnya dengan mulut tidak ada juga jawaban. Yang ada, hanya suara gesekan daun yang menyaut.
Dalam tangis pula, aku mulai berbicara dengannya. Dengan sosok yang tidak mungkin menjawab semua pertanyaan atau memotong pembicaraanku. Aku berbicara dalam hati. Aku ceritakan semua kehidupanku setelah dia pergi, susah yaa, karena aku belum terbiasa dan mungkin aku memang tidak akan pernah terbiasa dengan itu.
Kemudian, aku diam dan berharap dia yang memonopoli percakapannya. Aku terdiam, dengan harapan dia akan menjawab pertanyaanku.
“bagaimana setelah ini?” ucapku dalam hati
“apa aku bisa melupakanmu? Bukan, bukan melupakanmu tapi menyimpan semua dalam hati, yang tidak akan pernah hilang. Aku harus bagaimana? Aku sudah mengikhlaskanmu, tapi aku tidak bisa tidak memikirkanmu. Semua berubah setelah kamu pergi. Kamu tau, saat seseorang kehilangan seseorang yang sangat amat ia sayangi apa yang dirasakannya? Kamu dimana? Sedang apa? Dengan siapa? Sudah makan? Kenapa tidak pernah datang dalam mimpiku? Kenapa setiap kali aku panggil kamu tidak menyaut? padahal dulu kamu selalu melakukan itu, kenapa tidak pernah mengunjungiku? Dan kenapa kamu tidak menjawab semua pertanyaanku?” lanjutku dalam hati
Jam terus berputar, siang pun berganti sore. Supernova itu sudah akan sampai pada peradabannya di barat bumi. Dan aku pun memutuskan untuk melangkah dari makam itu. walaupun rasanya berat, tapi untuk kehidupan yang baik semua pasti akan ada jalan.
Aku sudah sampai rumah, dan tanpa sadar aku tertidur di ruang tamu. Dalam mimipiku, aku bertemu dengannya sosok yang selama ini aku cari dalam mimpi. Dalam mimpi itu, dia datang dengan hanya memakai pakaian putih, dia tersenyum padaku, dia memanggil namaku. Dia sedang berada di sebuah alam dengan dimensi yang berbeda, dia bersama banyak orang entah mereka siapa, dalam mimpi itu, dia tidak berbicara banyak hanya tersenyum, memanggilku, dan menatap ke arahku. Dia terus melakukan itu, sampai akhirnya dia memutuskan untuk berpaling dan melangkah ke sebuah pintu yang mungkin mengantarnya pulang.
Aku terbangun, saat dia memasuki pintu itu. Aku berpikir, apa itu semua jawaban yang dia berikan kepadaku. Pertanda apa itu? tidak lama, ada seorang kurir yang mengantarkan surat untuku. Perlahan aku membuka amplop surat itu, dan mulai membacanya…
“Haii… Ini aku. Aku tau, kamu pasti sedih dengan semua kejadian ini. Tapi, kamu harus percaya kalau aku tidak pernah sepenuhnya pergi, aku selalu bersamamu, aku di dalam hatimu. Aku percaya kamu menyimpan namaku di dalamnya kan?
Aku minta maaf, maaf karena sudah membutmu menangis, maaf karena sudah membuatmu susah, maaf karena sudah mengkhawatirkanku, maaf karena sudah menyusahkanmu dan maaf atas semua perasaan ini. Dan terimaksih atas semua waktu dan tenaga yang telah kamu berikan kepadaku, terimakasih karena telah bersamaku, terimakasih karena sudah mau menerimaku masuk dalam kehidupanmu, terimakasih atas perasaan yang membalas rasaku.
Aku bingung, bagaimana cara menyampaikannya. Tapi yang pasti, aku gak sepunuhnya pergi, aku selalu bersamamu, mungkin tidak jiwaku namun ragaku akan selalu bersamamu kemanapun dan kapanpun. Setelah aku pergi, kamu harus janji kalau kamu akan terus melanjutkan hidup dengan semangat baru.
Sekarang aku di sini, di suatu tempat. Aku belum tau nama tempat ini apa, tapi di sini ramai. Aku memang penghuni baru, mereka ramah terhadapku. Di sini, aku tidak perlu meminum obat-obat itu, makan pun tidak usah dan aku tidak kesulitan lagi untuk bernafas karena disini semua tidak dibutuhkan.
Suatu saat nanti, kamu pasti akan datang kesini. Tidak sekarang, jangan marah yaa karena aku duluan yang pergi kesini. Disini nyaman, semua orang ramah dan aku terbebas dari rasa sakit yang terus membuatku muak.
Udah-udah jangan nangis, aku janji kalau kamu datang ke sini aku akan bawa kamu kemana yang kamu mau. Tapi jangan datang buru-buru yaa soalnya kalau kamu datang cepat mungkin aku belum sepenuhnya memahami planet ini. Datanglah saat kamu merasa pantas untuk menetap disini.
Aku pamit yaa, jangan nangis. Mungkin ini surat terakhir dariku. Jangan cari-cari aku lagi yaa, karena aku gak pergi. Kalau kamu butuh aku, kamu tutup mata kamu dan panggil aku dalam hati kamu. Dan aku akan melakukan hal yang sama.
Kamu, harus baik-baik walaupun tanpa aku. Intinya kamu harus jaga semua orang, semua hal yang menurut kamu pantas untuk kamu jaga. Salamin aku sama keluargamu yaa…
Selamat tinggal…
Love”
Dan sekarang, dia berar-benar pergi bersama dengan rasa sedih yang teramat dalam. Malam itu, aku berpikir. Bahwa tuhan tidak akan pernah rela melihat hambanya terus bersedih. Aku sudah bertekad, untuk melanjutkan hidupku dengan dia yang selalu berada di dalam hatiku.
Cerpen Karangan: Dinda Zuliyanti
Facebook: Dinda Zuliyanti
Awalnya aku kira, seseorang datang untuk menetap. Namun faktanya, seseorang datang memang untuk pergi, tidak harus mempercayainya tapi dengan menjalani hidup para manusia itu mengerti bahwa kehidupan memang tidak kekal, tidak abadi dan tidak seindah yang diimajinasikan.
Individu itu terus berpikir, kenapa datang kalau akhirnya harus pergi.
Kenapa harus kembali, kalau akhirnya kita akan hidup, sama dengan yang dirasakan sekarang. Mungkin memang bukan di dunia, tapi di satu tempat yang diberi nama akhirat. Dan kenapa… Semua serba tidak bisa diduga?
Seseorang itu datang, lalu pergi, kembali lagi dan pergi lagi. Saat dia datang untuk pertama kalinya semua terasa dengan sempurna, tidak ada kekurangan di dalamnya yang ada hanya rasa kurang bersyukur atas apa yang sudah diterimanya. Lalu dia pergi, bersama dengan segala pengalaman dan kenangan di dalamnya, pergi dengan hembusan nafas yang terhenti, jantung yang sudah tidak berdetak dan mata yang tertutup rapat. Tidak ada kebahagian, tidak ada kedamian di dalamnya. Yang ada hanya kepedihan, kesedihan, air mata yang tidak berhenti keluar, rasa sesak yang teramat dalam, bibir bergetar, kaki yang tidak sanggup untuk melangkah dan jantung yang seakan berhenti berdetak namun nafas terus berhembus..
Dia pergi bersama kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan, aku tidak tau prosesnya hingga pada tahap seperti ini, tapi yang pasti semua sudah terencana bahkan jauh dari perkiraan nalar seorang manusia.
Beberapa hari berlalu, dia kembali namun dengan orang yang berbeda. Semua sama, namun berbeda. Pertemuan kedua itu membuatku terkejut. Sejak kapan waktu bisa putar kembali, kalau ternyata semua tidak dapat dilakukan. Dia berdiri di hadapanku, dengan wajah yang asing, yang tidak aku kenali, namu rasanya sama. Sama saat melihatnya untuk pertama kali tapi dengan wajah yang berbeda.
Semenit kemudian, dia memalingkan muka dari hadapanku, seakan kita tidak kenal atau mungkin kita memang tidak pernah saling mengenal. Perlahan, dia menjauh, bergerak, dan berjalan berbelok arah dari hadapanku. Postur badan itu sangat mirip seperti dulu, dilihat dari belakang semua pemikiranku kembali pada saat kita bersama, dan muncul pertanyaan yang tak mempunyai jawaban. Dia siapa? Kenapa begitu mirip? Bukan hanya fisik, namun tatapan matanya yang begitu ramah.
Akhirnya, aku putuskan untuk mengejar sosok itu. Sosok yang selama ini aku cari dalam kehidupanku. Seseorang yang menghilang namun kini telah kembali.
Aku terus berlari, sampai pada akhirnya aku menarik lengan orang itu. Sekarang, dia tepat berada di hadapanku. Masih dengan tatapanan bingung, aku mencoba mencari sosok yang aku kenal dulu dalam dirinya. Namun naasnya, semua tidak ditemukan, bahkan sentuhan lengannya pun terasa berbeda. Mata itu, memang ramah, namun dia memang bukan orang yang sama.
Lalu, aku melepas genggaman tangan itu dan berharap aku akan menemukan jawaban dari mulut si pria itu. Namun lagi-lagi, semua memang tidak mempunyai jawaban. Akhirnya, aku mulai melangkahkan kakiku untuk menjauhi si pria itu. Masih dengan tatapan bingung, pria itu mengantarku pergi dengan tatapan ramahnya. Dia tidak mengerjarku, tidak juga memanggilku. Dan semua berakhir sampai aku berbelok di simpangan jalan.
Sepanjang jalan, aku terus berpikir. Bodoh! Mana bisa seseorang yang sudah pergi lalu kembali dengan sosok lain. Aku terus berjalan, dan tanpa sadar aku sudah berada di sini, di tempat ini. Tempat yang membuatku menangis, bersedih dan memutar kembali memori-memori saat bersama dia.
Tempat itu sedikit berantakan, dengan ilalangan yang sudah nyaris satu meter tingginya, dengan lahan yang sudah penuh dengan penghuni lain. Aku menatap tanah yang sudah mulai tidak berbentuk. Wangi bunga yang sangat menyengat. Semua memberikan penjelasan padaku, bahwa saat ini aku sedang berada di pemakaman umum, tempat baru bagi seseorang yang memulai kehidupan baru.
Aku terus menatap makam itu, batu nisan yang sudah mulai kotor dengan terpaan hujan yang terus menerus, angin yang membawa debu, dan hewan-hewan yang memang sengaja memakan rumput-rumput liar itu.
Hatiku bergetar, mulutku terus terkunci, mata yang sudah mengeluarkan air beningnya. Hatiku terus berbicara, namun tidak pernah ada jawaban. Sekarang, aku terduduk dengan hanya beralaskan tanah. Aku menatap nisan itu, nisan yang tertulis nama seseorang yang sangat tidak bisa aku lupakan. Air mata ini terus mengalir, sampai sesak menghampiriku. Semua memori itu kembali. Dengan hembusan angin yang mengarah kepadaku dan membawa semua kenangan itu. aku tidak punya pilihan lain, selain terus mengingat masa-masa itu.
Masa-masa dimana, aku dan dia merasakan bahagia tentang hidup kita, hidup yang membawaku mengenal sosok pria itu. kehidupan sempurna, yang pada akhirnya tidak berjalan dengan baik.
Dia pergi, sangat cepat. Sampai aku kehabisan kata-kata untuk berbicara kepadanya. Aku tau, kehidupan memang menuntut kita untuk bertahan, namun dasarnya aku tidak bisa bertahan dengan rasa yang terus menggangguku. Dengan pemikiran rumit tentangnya. Dalam tangis, aku ber’doa dan berharap dia akan datang kepadaku saat ini juga. Aku memanggil namanya dalam hati, tidak ada jawaban. Aku memanggilnya dengan mulut tidak ada juga jawaban. Yang ada, hanya suara gesekan daun yang menyaut.
Dalam tangis pula, aku mulai berbicara dengannya. Dengan sosok yang tidak mungkin menjawab semua pertanyaan atau memotong pembicaraanku. Aku berbicara dalam hati. Aku ceritakan semua kehidupanku setelah dia pergi, susah yaa, karena aku belum terbiasa dan mungkin aku memang tidak akan pernah terbiasa dengan itu.
Kemudian, aku diam dan berharap dia yang memonopoli percakapannya. Aku terdiam, dengan harapan dia akan menjawab pertanyaanku.
“bagaimana setelah ini?” ucapku dalam hati
“apa aku bisa melupakanmu? Bukan, bukan melupakanmu tapi menyimpan semua dalam hati, yang tidak akan pernah hilang. Aku harus bagaimana? Aku sudah mengikhlaskanmu, tapi aku tidak bisa tidak memikirkanmu. Semua berubah setelah kamu pergi. Kamu tau, saat seseorang kehilangan seseorang yang sangat amat ia sayangi apa yang dirasakannya? Kamu dimana? Sedang apa? Dengan siapa? Sudah makan? Kenapa tidak pernah datang dalam mimpiku? Kenapa setiap kali aku panggil kamu tidak menyaut? padahal dulu kamu selalu melakukan itu, kenapa tidak pernah mengunjungiku? Dan kenapa kamu tidak menjawab semua pertanyaanku?” lanjutku dalam hati
Jam terus berputar, siang pun berganti sore. Supernova itu sudah akan sampai pada peradabannya di barat bumi. Dan aku pun memutuskan untuk melangkah dari makam itu. walaupun rasanya berat, tapi untuk kehidupan yang baik semua pasti akan ada jalan.
Aku sudah sampai rumah, dan tanpa sadar aku tertidur di ruang tamu. Dalam mimipiku, aku bertemu dengannya sosok yang selama ini aku cari dalam mimpi. Dalam mimpi itu, dia datang dengan hanya memakai pakaian putih, dia tersenyum padaku, dia memanggil namaku. Dia sedang berada di sebuah alam dengan dimensi yang berbeda, dia bersama banyak orang entah mereka siapa, dalam mimpi itu, dia tidak berbicara banyak hanya tersenyum, memanggilku, dan menatap ke arahku. Dia terus melakukan itu, sampai akhirnya dia memutuskan untuk berpaling dan melangkah ke sebuah pintu yang mungkin mengantarnya pulang.
Aku terbangun, saat dia memasuki pintu itu. Aku berpikir, apa itu semua jawaban yang dia berikan kepadaku. Pertanda apa itu? tidak lama, ada seorang kurir yang mengantarkan surat untuku. Perlahan aku membuka amplop surat itu, dan mulai membacanya…
“Haii… Ini aku. Aku tau, kamu pasti sedih dengan semua kejadian ini. Tapi, kamu harus percaya kalau aku tidak pernah sepenuhnya pergi, aku selalu bersamamu, aku di dalam hatimu. Aku percaya kamu menyimpan namaku di dalamnya kan?
Aku minta maaf, maaf karena sudah membutmu menangis, maaf karena sudah membuatmu susah, maaf karena sudah mengkhawatirkanku, maaf karena sudah menyusahkanmu dan maaf atas semua perasaan ini. Dan terimaksih atas semua waktu dan tenaga yang telah kamu berikan kepadaku, terimakasih karena telah bersamaku, terimakasih karena sudah mau menerimaku masuk dalam kehidupanmu, terimakasih atas perasaan yang membalas rasaku.
Aku bingung, bagaimana cara menyampaikannya. Tapi yang pasti, aku gak sepunuhnya pergi, aku selalu bersamamu, mungkin tidak jiwaku namun ragaku akan selalu bersamamu kemanapun dan kapanpun. Setelah aku pergi, kamu harus janji kalau kamu akan terus melanjutkan hidup dengan semangat baru.
Sekarang aku di sini, di suatu tempat. Aku belum tau nama tempat ini apa, tapi di sini ramai. Aku memang penghuni baru, mereka ramah terhadapku. Di sini, aku tidak perlu meminum obat-obat itu, makan pun tidak usah dan aku tidak kesulitan lagi untuk bernafas karena disini semua tidak dibutuhkan.
Suatu saat nanti, kamu pasti akan datang kesini. Tidak sekarang, jangan marah yaa karena aku duluan yang pergi kesini. Disini nyaman, semua orang ramah dan aku terbebas dari rasa sakit yang terus membuatku muak.
Udah-udah jangan nangis, aku janji kalau kamu datang ke sini aku akan bawa kamu kemana yang kamu mau. Tapi jangan datang buru-buru yaa soalnya kalau kamu datang cepat mungkin aku belum sepenuhnya memahami planet ini. Datanglah saat kamu merasa pantas untuk menetap disini.
Aku pamit yaa, jangan nangis. Mungkin ini surat terakhir dariku. Jangan cari-cari aku lagi yaa, karena aku gak pergi. Kalau kamu butuh aku, kamu tutup mata kamu dan panggil aku dalam hati kamu. Dan aku akan melakukan hal yang sama.
Kamu, harus baik-baik walaupun tanpa aku. Intinya kamu harus jaga semua orang, semua hal yang menurut kamu pantas untuk kamu jaga. Salamin aku sama keluargamu yaa…
Selamat tinggal…
Love”
Dan sekarang, dia berar-benar pergi bersama dengan rasa sedih yang teramat dalam. Malam itu, aku berpikir. Bahwa tuhan tidak akan pernah rela melihat hambanya terus bersedih. Aku sudah bertekad, untuk melanjutkan hidupku dengan dia yang selalu berada di dalam hatiku.
Cerpen Karangan: Dinda Zuliyanti
Facebook: Dinda Zuliyanti
Sang Pria
4/
5
Oleh
Unknown
