Sebelum Janur Melengkung

Baca Juga :
    Judul Cerpen Sebelum Janur Melengkung

    “Felly! Lo kenapa, sih dari tadi bengong mulu?,” tanya Riska dengan berbisik.
    “Hah?,” tanya Felly tak mengerti.
    “Lo tuh kenapa, hah? Dari tadi bengooong, mulu?,” ulang Riska dengan pertanyaannya.
    “Emmmh, enggak kok. Gue nggak papa.”
    “Kalau lo nggak papa, pandangan lo bakalan fokus ke briefing. Nggak ngelantur begitu.”
    “Iya, sorry kalau beberapa menit yang lalu gue nggak fokus mengenai ini.”
    “Bukannya apa, Fel. Masalahnya, kali ini bakalan ada proyek pemotretan besar-besaran. Kalau kita nggak becus, kita bakalan dikeluarin dari proyek ini, Fel. Lo nggak sayang sama karir lo yang selama ini lo dambakan, hilang begitu saja karena masalah yang terus mengganjal di hati lo sendiri?,” ujar Riska.

    Felly tak mampu menjawab, melainkan ia hanya menganggukkan kepalanya dan berusaha fokus ke depan untuk mendengarkan briefing yang diberikan. Walaupun, masalah itu terus menghantuinya. Dan, terus muncul di hadapannya.

    Saat brefieng telah usai, semua model diharuskan kembali ke ruang make-up untuk memulai pemotretan sesuai dengan job list mereka masing-masing. Salam satunya, Felly. Yah… model termuda dengan karir paling melejit di bagian muslim clothing menjadi nama tersendiri baginya. Tidak ada yang tidak mengenali gadis itu. Felly Anggi Wiraatmaja. Namanya, ada di setiap sudut dunia.
    Banyak lelaki yang menginginkannya. Bagaimana tidak? Selain dia cantik seperti berbie, dia juga memiliki karir yang begitu gemilang di usianya yang sangat muda. Selain itu, Felly juga memiliki pribadi yang baik. Ia juga kerap menolak beberapa pemotretan jika memang itu memaksanya untuk melepaskan hijabnya. Baginya, hijab adalah mahkotanya. Aset berharganya.

    “Felly! Lo udah hafal nggak sama isi naskahnya?,” tanya Riska.
    “Iya,” kata Felly.
    “Tuh anak kenapa, sih? Nggak biasa-biasanya dia diem kayak patung begitu?,” tanya Bram yang masih menikmati make-upnya.
    “Tahu tuh! Giliran serius begini, Felly bisa ngancurin tim kita lagi, ntar!,” sambung Billy yang tengah menunggu ketiga temannya selesai make-up.
    Riska yang terus berkicau dan yang lain terus menyahutinya, Felly hanya terdiam memandang cermin dengan seluruh pertanyaan yang ada di benak dan juga pikirannya. Sampai akhirnya, waktu make-up mereka bertiga telah habis. Saatnya untuk pemotretan tiba.

    “Felly, lo nggak papa, kan?,” tanya Riska antusias.
    Felly menggelengkan kepalanya. Kemudian, ia tersenyum tipis. Karena, Felly berharap, Riska tidak terlalu khawatir dengan keadaannya hari itu. Mereka pun berjalan ke studio pemotretan dan menunggu giliran mereka masih-masing.
    “Felly!,” panggil fotografer dengan menunggu Felly di depan beground.
    “Bang! Biar gue dulu, deh!,” kata Billy.
    “Bil…,” kata Bram terputus saat tangan Riska memegang pundak Bram. Tanpa mengatakan apapun, Bram sudah mengerti dengan sorotan mata yang diberikan oleh Riska. Dan semua itu, mengena pada Felly yang melamun di kursi tanpa menghafalkan teksnya. Memang benar, mata Felly tertuju pada teksnya. Berbeda dengan pikirannya yang telah berjalan-jalan dengan senangnya.

    Saat Billy sudah berada di depan kamera, Riska berjalan ke arah Felly. Ia berusaha mendekati Felly agar ia mengetahui apa yang tengah mengganggu pikiran Felly. Dengan duduk di samping Felly, Riska memandang sahabat karibnya.
    “Kalau lo emang nggak sanggup kerja hari ini, bilang aja sakit. Jangan sampai lo melakukan hal bodoh karena masalah lo yang nggak gue dan anak-anak ketahui,” kata Riska.
    “Apa gue harus ya kasih tahu lo?,” tanya Felly.
    “Selama lo nggak keberatan.”
    “Kalau lo jadi gue, apa yang bakalan lo lakuin saat pasangan lo selingkuh?,” tanya Felly.
    “Gue bakalan lepas hijab gue.”
    “Maksudnya?,” tanya Felly heran.
    “Kalau lo emang seorang muslim, ngapain lo pacaran? Bukannya muslim dilarang pacaran? Terus, kalau emang lengan lo terus tertutupi dengan baju muslim, kenapa telapak tangan lo nggak lo tutupin segala? Dan kenapa tangan lo, lo biarin dipegang Arka begitu aja?”
    “Bukan itu…”
    “Gue tahu masalahnya apa? Gue akui, gue emang kristiani. Tapi setahu gue, kalau emang lo berniat ada di jalan Tuhan lo, kenapa nggak lo lakuin seluruhnya, hah? Gue juga pernah denger masalah karma dari agama lo. Jadi, anggep aja itu karma dari agama lo.”
    “Ris, lo kok bukannya dukung gue atau kasih semangat gue, sih? Malah ngejatuhin lagi.”
    “Gue bukan jatuhin lo, Fel. Sejelek apapun gue ke lo, gue nggak akan tega nyakitin sahabat gue sendiri. Tapi gue cuma mau ngingetin aja sama lo. Apa lo yakin dengan hijab yang lo pakai sekarang? Gue berharap, lo nggak menjadikan mahkota lo itu cuman sebagai tudung saji aja.”
    “Ok. Gue emang salah masalah ini. Tapi yang gue permasalahkan sekarang, Arka selingkuh di belakang gue dan..”
    “Semua itu terjadi karena lo terlalu murah ke cowok. Harga cewek akan menjadi pertimbangan untuk cowok. Sejelek apapun cowok, dia bakalan cari cewek yang bisa menjadi ibu baik untuk anak-anaknya kelak.”
    “Apa gue kurang baik?,” tanya Riska.
    “Jangan tanya ke gue. Tanya aja ke diri lo sendiri. Bukannya gue menggurui. Tapi, gue bilang sesuai dengan pengetahuan gue.”
    “Kalau lo tah banyak tentang islam, kenapa lo nggak masuk Islam, Ris?,” tanya Felly.
    “Karena gue masih belum siap dengan seluruh aturan kaidah Islam.”
    Felly kembali terdiam. Ia tak mampu mengatakan apapun. Felly hanya bisa tertunduk malu pada Riska. Bagaimana tidak? Riska yang kristiani lebih mengerti Islam ketimbang Felly yang mengerti Islam tapi tidak menerapkannya dalam kehidupan diri sendiri.

    “Nggak usah dipikir, Fel. Percintaan memang sebuah masalah dalam kehidupan yang akan menjadi warna di sana. Karena hasilnya adalah sebuah peristiwa yang menjadi pengalaman hidup sebagai pelajaran.”
    Felly menghembuskan nafas beratnya. Kemudian, ia menatap mata Riska yang indah karena polesan make-up.
    “Apa maksud lo, gue harus tetaap berjuang meski janur belum melengkung?,” tanya Felly.
    “Ya. Tapi bukan berjuang untuk mendapatkan Arka lagi. Berjuang untuk kemenangan hidup lo sendiri. Entah itu berhijrah di jalan Tuhan lo dengan seluruh keyakinan dan berusaha menuntut ilmu serta ngejar karir lo sebelum lo nikah dan sesudah nikah. Selama, suam lo ngizinin lo kerja, sih.”
    “Ris, jangan-jangan, lo mualaf lagi.”
    “Belom. Gue belum ngucapin syahadat. Buru-buru amat, sih lo! Udah sana! Giliran lo tuh! Bram udah selesai!,” kata Riska dengan menepuk lengan Felly.
    “Iya-iya!,” kata Felly dengan beranjak dari kursinya.

    Sebelum namanya dipanggil, Felly sudah ada di depan kamera dan siap untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai model. Meskipun, di matanya masih ada sisa-sisa masalah yang ikut dengan sorotan matanya di depan kamera. Billy dan Bram yang khawatir dengan kondisi Felly mulai bisa menenangkan diri mereka masing-masing saat Felly bisa mengatasi masalahnya di depan kamera meski sedikit kentara kalau dia memiliki masalah tersebut. Billy dan Bram bangga dengan Felly. Ia dapat mengatasi dirinya dengan seluruh ketegaran yang ada di sana meski sessungguhnya, hatinya saat itu terluka.

    Waktu terus berjalan seiring terkumpulnya wajah cantik Felly dengan berbagai model pakaian. Di sana, mulai terlihat ketenangan Felly yang perlahan-lahan mulai terlihat dari sorotan matanya yang menggambarkan penyelesaian masalahnya.
    Di dunia ini, tidak ada yang tidak terluka apabila pasangannya selingkuh. Padahal, janur masih belum melengkung, dan pernikahan belum dilangsungkan. Yah.. memang wajar hal itu terjadi sebagai tanda cinta. Tapi ketauhilah, bahwa kecemburuan seseorang terhadap seseorang yang belum pasti miliknya, dapat menjadi bukti bagaimana orang itu berpikir dan memandang realita berdasarkan dengan moralnya.

    Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
    Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)

    Artikel Terkait

    Sebelum Janur Melengkung
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email