Showing posts with label Cerpen Fantasi (Fiksi). Show all posts
Showing posts with label Cerpen Fantasi (Fiksi). Show all posts
Me and Rava

Me and Rava

Judul Cerpen Me and Rava

Cuaca di pagi hari ini sangat tidak mendukung. Awan mendung menandakan hujan akan turun, angin semilir mengenai tubuhku, matahari yang biasanya muncul dari arah timur kini tertutup awan yang sangat gelap dan sekarang hari yang sangat membosankan bagiku. Andai saja sekarang aku pergi ke sekolah. Mungkin sekarang aku sedang bercanda dan tertawa ria bersama dengan teman-temanku. “Krrringgg” terdengar suara bunyi handphoneku menandakan sebuah pesan masuk.

Dear Afwa
Wa!mumpung sekarang hari minggu. main dong! ke rumahku. aku bosan gak ada teman nih!

Itulah isi pesan dari Rava, sahabat laki-laki yang sebaya denganku. dulu ia pernah menyelamatkanku dari pembullyan yang dilakukan oleh teman sekelasku, Dhera dan antek-anteknya. Akhirnya kita jadi bersahabat.
Aku membalas pesan Rava dan menekan tombol send tanda mengirim pesan.

Dear Rava
Baiklah, aku akan main ke rumahmu. jangan kemana-mana, ok!

Begitulah kira-kira isi pesanku untuk Rava.
Aku segera berkemas dan mengganti bajuku dengan dress selutut warna biru cerah polkadot putih. Setelah itu, aku bergegas menuju ke luar rumah dan berlalu menuju rumah Rava yang tidak jauh dari rumahku.

Kutekan bel rumahnya dan muncul sosok yang tak asing lagi bagiku. Ia tersenyum ramah padaku dan mempersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya yang seperti istana di buku-buku dongeng. Entah kenapa aku sudah lama mengenal Rava namun, aku selalu merasa canggung saat aku bersamanya.

“Kamu mau minum apa?” tawar Rava ramah. aku yang menyadar itu langsung menggeleng dan tersenyum simpul padanya.
“Kenapa tidak mau Afwa? apa kau malu? oh, ya ampun. kita ini sudah bersahabat lama sekali dan kenapa kau masih sungkan berbicara banyak padaku.” sahutnya kecewa. Ia pun ikut duduk di sampingku dan menatapku lekat-lekat. Aku yang menyadari hal itu langsung memalingkan wajahku ke arah lain. namun sebuah tangan langsung memutar kepalaku dan sekarang aku dengannya saling bertatapan. hidungku bersentuhan dengan hidungnya. Aku terkejut dan beranjak dari sofa yang tadi kududuki.

“Afwa, aku sudah lama mencintaimu dan kau harus jadi milikku. Sekarang juga.” ucapnya seraya tersenyum miring padaku. aku terperanjat karena dia semakin mendekatiku. Oh my god! apa yang akan kulakukan sekarang? keluar dari rumah ini. yaps! itu pilihan bagus untukku. Aku segera bergegas menuju pintu utama. Tetapi … terkunci!

“Sudah kuduga kau akan lari dariku. Tenanglah Afwa. Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar dan aku sangat tak suka dengan sifatmu yang satu ini. lari dan lari. ck.. sungguh menyebalkan!” desah Rava sambil menyilangkan tangan pada dadanya.

“jika kau memang kesal denganku. kenapa kau suka denganku? buka pintu ini! aku mau pulang, Rava.” perintahku sedikit kesal. ia malah tersenyum dan berjalan mendekatiku.
Kedua tangannya bersentuhan pada tembok sehingga aku terkurung dalam tangannya.

“aku mohon Afwa. sekali saja kau dengarkan aku. jangan keras kepala seperti batu.” mohonnya membuatku jijik untuk melihatnya lagi. Tapi tunggu, ini bukan sifat Rava. Ia selalu jaga jarak dengan wanita apalagi denganku dan apa yang ia gunakan di lehernya, pikirku sambil melihat sebuah kalung yang dikenakan Rava dilehernya.

“aku tau sekarang. kenapa aku sebodoh ini? kalung itu keramat milik ayah Rava dan Rava sudah lama ingin memakainya. namun, tak diizinkan ayahnya sebab ini resikonya. Kenapa aku jadi korbannya? dan sekarang hanya tinggal melenyapkan kalung itu karena sebagian kekuatan dari kalung itu sudah terserap oleh penggunanya. teka-teki ini sudah berakhir.” batinku senang. Aku segera menarik kalung Rava dan menginjaknya sampai berkeping-keping. terlihat asap hitam keluar dari tubuh Rava dan kalungnya. Hilang.

Rava tergeletak lemas di lantai. Aku segera menelepon ambulan untuk cepat datang ke rumahnya. Tak lama kemudian, ambulans datang dan segera menaikkan Rava kedalam mobil ambulans. Leganya semua teka-teki ini terpecahkan. Namun sebelum aku pergi dari rumah megah nan mewah ini. Aku sempat mendengar suara orang berterima kasih padaku dari arah ruang keluarga. Ah, bodo amat. Paling itu hanya imajinasiku.

TAMAT

Cerpen Karangan: Elirika Aliyah
Facebook: Elirika Aliyah
Dunia di Balik Dinding

Dunia di Balik Dinding

Judul Cerpen Dunia di Balik Dinding

Karena setiap malam aku selalu mendengar suara orang yang sedang berpesta di balik dinding kamarku, aku mengajak sahabatku untuk menginap di rumahku malam ini. Kebetulan Ibu dan Ayahku sedang keluar kota untuk urusan pekerjaan. Bagiku, berada di rumah sendirian sudah seperti uji nyali.

“Dengar tidak?”, bisikku. Terdengar suara orang tertawa, bernyanyi dan dentingan piano yang mengalun indah.
“Apa yang harus kita lakukan?”, Tasya merengkuh tanganku.
“Sepertinya memang ada sesuatu di balik dinding ini, Sya. Hampir setiap malam aku mendengarnya.”, bisikku.
Aku mengusap keringat dingin yang ada di dahi. Ini sungguh mengerikan.
“Aku mau pulang saja kalau tahu begini”, rengek Tasya padaku.
“Enak saja! Kalau kau pulang, aku tidur dengan siapa malam ini?”, aku melotot ke arahnya.
“Aku takut! Bagaimana kalau kau tidur di rumahku saja? Biarkan saja rumahmu kosong satu malam ini”, Tasya mengajukan saran dan berharap aku akan mengabulkannya.
Aku menggelengkan kepala. Tasya yang dari tadi masih memegangi lenganku semakin manyun.
“Sudahlah, kalau kau takut kita tidur di kamar tamu saja. Yang penting malam ini kau di sini bersamaku.”, ucapku akhirnya memberikan solusi.

Kami akhirnya keluar dari kamarku dan memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Bukannya aku tidak mau menginap di rumah Tasya, hanya saja aku tidak bisa tidur di rumah orang lain. Aku bisa terjaga sepanjang malam dan esoknya aku akan mengantuk sejadi-jadinya. Jadi, daripada besok aku ketiduran saat jam pelajaran, lebih baik aku bertahan di rumahku.

Aku memang terbilang masih baru di lingkungan ini. Kami baru sebulan menempati rumah ini. Rumah ini juga pemberian dari perusahaan karena Ayah ditugaskan untuk mengurus beberapa aset perusahaan yang berada di sini. Aku tidak menyukai tempat ini karena jauh dari peradaban manusia. Jauh dari sekolahku, jauh dari tempat perbelanjaan, jauh dari tempat nongkrong dengan teman-temanku. Aku selalu mengeluh kepada Ibu untuk membiarkanku tinggal bersama Nenek di kota. Tapi Ibu bukanlah Ibu yang gampang dibujuk. Sekali ia menggelengkan kepalanya, jangan coba-coba bertanya lagi, atau aku akan merasakan sakitnya uang jajan tak keluar sepeser pun berhari-hari.

Sejak pindah ke tempat ini, aku selalu mendengar suara-suara aneh. Kadang seperti suara orang yang sedang mengadakan pesta, kadang seperti orang yang sedang berdiskusi, kadang suara anak-anak yang sedang belajar bernyayi. Aku sempat mengira itu adalah suara dari tetangga sebelah, ternyata semakin jelas terdengar ketika aku merapatkan telingaku ke dinding kamarku. Aku sampai melompat ketika mendengar suara itu berasal dari balik dinding kamarku. Bagaimana mungkin?

Dinding kamarku menyatu dengan dinding toilet di kamarku. Aku mengira suara itu berasal dari toilet, ketika kuperiksa ternyata tidak ada apa-apa. Bahkan suara itu hanya bisa didengar ketika berada di kamar saja. Dan suara itu hanya bisa didengar saat kita sedang benar-benar berkonsentrasi. Aku selalu mencari kesempatan untuk menghancurkan dinding itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya ada di balik dinding itu.

Hari ini adalah hari yang tepat, karena Ayah dan Ibuku tidak berada di rumah. Tapi sahabatku yang penakut ini semakin membuatku takut dengan teriakan-teriakannya. Tasya bisa berteriak kuat sekali saking takutnya. Teriakannya bisa memecahkan gendang telinga kita. Dan aku tidak akan sudi jika gendang telingaku harus pecah hanya karena teriakannya itu.

“Sya, aku mau melakukan sesuatu malam ini di kamarku. Sebagai sahabatku satu-satunya, kau harus membantuku.”, ucapku pada Tasya yang sedang mengurung dirinya di dalam selimut.
“Aku tidak mau membantumu jika itu menyangkut suara-suara aneh tadi!”, teriaknya.
“Ayolah, sekali ini saja. Kau hanya perlu menemaniku di dalam kamar. Kau tak perlu melakukan apapun. Hanya menemaniku saja.”, bujukku dengan nada memelas.
Kepala Tasya menyembul dari balik selimut, matanya seolah mengancamku, Awas kau kalau menyuruhku yang tidak-tidak. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali sambil tersenyum dan mengacungkan dua ibu jariku. Tasya keluar dari selimutnya dan mendorongku untuk keluar menuju kamarku. Yes! Akhirnya malam ini aku bisa memecahkan misteri ini.

“Kau mau melakukan apa?”, tanya Tasya.
Aku membuka lemari pakaianku dan mengambil dua palu besi besar dari sana.
“Kau mau membunuhku?!”, teriaknya.
Aku tidak bisa menahan tawa melihat wajah pucat sahabatku ini. Aku semakin menakut-nakutinya dengan berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Ia hampir pingsan kalau saja aku tidak tertawa terbahak-bahak saat itu. Tasya memukul kepalaku dengan tangannya.
“Sialan kau!”

Kuberikan satu palu besi itu padanya. “Bantu aku menghancurkan dinding ini.”
“Kau gila? Bagaimana kalau Ibumu marah? Lagipula tadi kau yang mengatakan padaku untuk tidak melakukan apapun selain menemanimu.”, Tasya memalingkan wajahnya sambil berkacak pinggang.
“Ayolah, kau tega melihatku menghancurkan dinding ini sendirian? Kalau kau ikut membantu kan semuanya bisa cepat selesai.”, aku membujuknya.

Akhirnya Tasya mengalah. Ia mau membantuku mengancurkan dinding ini. Sebelum mulai menghancurkan dinding ini, kami mencoba mendengar kembali suara-suara aneh itu. Suara itu semakin jelas ketika kami benar-benar berkonsentrasi. Kami mulai memecahkan dinding kamarku, tidak butuh waktu lama, kami sudah membuat lubang di dinding itu.

Ternyata antara dinding kamar dengan dinding toiletku ada semacam jarak sekitar 50 sentimeter. Dan betapa kagetnya kami ketika mendapati ratusan jamur berwarna-warni seukuran jari manis sedang lalu lalang. Tasya yang dari tadi sibuk mengomel sekarang diam seribu bahasa. Aku yang dari tadi harap-harap cemas dengan apa yang akan kami temui dibalik dinding ini juga tidak bisa mengeluarkan kalimat sepatah katapun.
Sungguh ini seperti dongeng anak-anak yang penuh dengan imajinasi. Bagaimana mungkin ada jamur berwarna-warni dan bahkan beberapa dari jamur itu mengeluarkan cahaya yang menakjubkan. Aku benar-benar kagum melihat keindahan ini. Kalian pernah melihat film Disney yang berjudul Smurf? Kalian pasti tahu kan kota mereka seperti apa? Seperti itulah yang kulihat saat ini. Benar-benar tidak masuk akal. Tasya bahkan berulang kali menyuruhku mencubit lengannya.

Jamur-jamur cantik itu bergerak kesana kemari. Ada yang melakukan paduan suara, ada yang bermain piano, ada yang berdiskusi di sebuah meja kecil, entah mendiskusikan apa. Kulihat di leher jamur itu tergantung benda kecil seperti pengeras suara, entah apa gunanya aku tak tahu. Mungkin seperti alat pengenal atau alat komunikasi antar jamur itu. Aku mencoba mendengarkan bahasa yang mereka gunakan. Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka ucapkan. Mereka terdengar seperti orang yang sedang beradu mulut, cepat sekali ketika berbicara.

Tasya mencoba untuk menyentuh jamur-jamur itu. Tiba-tiba saja ia menjerit kesakitan.
“Kau kenapa?”, aku bertanya panik.
“Jamur itu menyetrumku. Dia punya sengatan listrik di tubuh cantiknya”, Tasya meringis kesakitan.
Sengatan listrik? Aku tak mempercayai perkataan Tasya. Kucoba untuk menyentuh jamur berwarna polkadot pink. Aku tidak merasakan apapun. Tapi tidak berapa lama kemudian, tanganku terasa sangat gatal dan panas. Aku mulai menyadari sesuatu, mungkin setiap jamur ajaib ini memiliki kekuatan yang berbeda-beda untuk melindungi diri mereka dari dunia luar.

Aku masih penasaran, aku mencoba menyentuh jamur berwarna pelangi. Hanya ada satu jamur yang berwarna pelangi dan ia sangat mencolok karena memiliki warna yang berbeda dari jamur lainnya. Aku beranggapan bahwa ia adalah leadernya. Ketika aku mulai menyentuhnya, “AAARGGHHH!!”.
Jamur itu menggigit tanganku. Aku kaget sekali. Aku dan Tasya menjauh beberapa saat dari lubang itu. Sial! Jamur ini memiliki potensi melukai manusia. Setelah mengumpulkan keberanian untuk mendekatinya lagi, aku melihat jamur pelangi itu berdiri menatap ke arahku dan Tasya.

“Sya, kau lihat itu? Dia menatap kita. Apakah dia marah karena kita telah mengetahui tempat tinggalnya?”, bisikku pada Tasya sepelan mungkin.
“Aku rasa dia tidak marah. Lihat matanya, sepertinya dia ingin berkomunikasi dengan kita, Sel.”
Aku mendekati jamur pelangi itu. Jamur itu tersenyum, ia mengulurkan tangannya yang kecil ke arahku, seperti mengajakku untuk bersalaman. Sebenarnya aku tidak tahu apakah itu tangannya atau bukan, karena kalau kusebut itu tangan bentuknya tidak seperti tangan dan tidak mempunyai jari seperti kita. Aku mengarahkan jari telunjukku untuk menyentuh tangannya. Jamur pelangi itu tiba-tiba berubah warna menjadi ungu. Aku pun mengerti satu hal, jamur cantik ini tidak akan menyakitiku jika aku tidak menyentuhnya secara tiba-tiba.

Setelah beberapa detik, jamur-jamur yang lain datang berkerumun melihat ke arah kami membentuk formasi. Sungguh, ini pemandangan yang sangat indah. Dan mereka semua mengulurkan tangannya ke arah kami untuk disentuh. Karena setiap sentuhan akan mengubah warna mereka. Tasya sangat bersemangat untuk menyentuh mereka semua. Ia bahkan lupa bahwa beberapa saat lalu ia disetrum oleh salah satu jamur itu.

“Ini pengalaman pertamaku melihat jamur berwarna-warni dan bergerak seperti layaknya manusia, Sel.”, ucap Tasya dengan nada terharu.
“Kita harus merahasiakan ini dari Ibuku maupun dari teman-teman kita. Hanya kita berdua saja yang tahu, kau setuju?”, tanyaku pada Tasya.
Tasya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Tapi, bagaimana bisa merahasiakannya dari Ibumu? Sementara kita sudah membuat lubang besar di dinding kamarmu.”
“Itu gampang, kita tutup saja dinding ini dengan poster besar yang baru kau beli tadi siang, Sya.”, jawabku seenaknya.
Tasya memang baru saja membeli poster EXO berukuran besar. Kalian tahukan EXO? Boyband asal Korea yang ganteng-ganteng itu. Tasya sangat menggilai segala hal yang berbau Korea. Mulai dari penyanyinya, filmnya, makananannya, bahkan Tasya les Bahasa Korea untuk melengkapi kecintaannya terhadap negara itu.
“Enak saja!”, Tasya lagi-lagi memukul kepalaku dengan tangan mungilnya.
“Ayolah, nanti kubelikan lagi yang baru, yang lebih besar.”, ucapku mengarang jawaban.

Aku bergegas mengambil posternya dari dalam tas Tasya tanpa menunggu persetujuannya. Kupasang perekat di masing-masing ujung poster itu dan dengan hitungan menit lubang itu sudah tertutup oleh poster EXO kesayangan Tasya. Aku menarik napas lega. Ternyata selama ini suara-suara aneh itu berasal dari jamur-jamur cantik yang tinggal di balik dinding kamarku. Aku baru menyadari ternyata ada dunia di balik dinding itu. Dunia para jamur cantik dan ramah. Kalau sudah begini, aku tidak akan mengeluh pada Ibu untuk dipindahkan ke kota bersama Nenek. Aku bersedia tinggal di sini lebih lama lagi. Aku tersenyum, sementara Tasya masih memasang wajah super manyun karena poster EXO-nya nangkring dengan anggun di kamarku.

Cerpen Karangan: Devian Amilla
Blog / Facebook: Devian Amilla
Wanita Yang Terjebak Dalam Drama

Wanita Yang Terjebak Dalam Drama

Judul Cerpen Wanita Yang Terjebak Dalam Drama

Siang itu mendadak saja gelap menyelimuti bilik kamarnya, hanya sekilas, sebelum ia berada di dalam pendopo keagungan istana. Adalah bisa juga disebut ritual rutinitasnya. Kegelapan itu digunakannya memanggil keharmonisan hidup yang hampir dari setiap unsurnya telah direngkuh oleh nestapa.

Ia berputar-putar sambil meninjau baik-baik penampilan dirinya,
“Glamour… and classical” Ungkapnya dengan hati yang penuh akan rasa takjub. Sepatunya bukan sepatu kaca, tapi barangkali yang ini tampak lebih mewah, terlebih lagi yang ini sangatlah awet, dan boleh tahan di segala medan. sepasang terompah yang masing-masingnya berukir gambar-gambar bunga teratai.

“Sembah yang mulia Putri” Seseorang dayang bersembah, kemudian duduk berdeku, dan tentu maksud Dayang itu hendak persembahkan suatu berita padanya.
“Ada apa engkau kemari?”
“Hamba hendak sampaikan perintah ibunda ratu”
Ia membuang muka, sejenak, kemudian dialihkannya lagi mukanya pada Dayang itu.
“Katakan bi…”
“Ibunda ratu memanggil yang mulia!…”
Dayang itu pergi, berlalu begitu cepat, begabung bersama dayang-dayang lainnya di istana.

Didapatinya ibunnya sedang berbincang-bincang dengan romonya, dan dari air muka mereka menunjukkan bahwa mereka berdua sedang bersungguh-sungguh. Beberapa bentar suara dengan nada sayu keluar dari bibir keduanya. Mereka tak tau, sama sekali belum menyadari akan adanya sosok putri mereka di sisi lain mereka berdiri.

Perbincangan itu berakhir. Sebenarnya -tidak juga, hanya rehat sesaat, saling membelakangi dengan muka merunduk, berjalan hilir mudik seakan-akan ada koin yang hilang di lantai. Ibu itu tiba-tiba mengangkat kepalanya, senyum tipis tertempel di bibirnya sementara waktu, menarik nafas panjang, ia hendak katakan sesuatu, dan andaikata pandangnya tak mendapati wajah putrinya, maka perbincangan pribadi itu bakal kembali berlanjut.

“Sembah Ibunda Rau Drupada, Ayahanda”
“Putriku… Engkau sudah lama berada di sana?”
“Tidak ibu, katakanlah apa yang hendak Ibu sampaikan padaku”
“Putriku Dewi Wara Srikandi, ada kabar menggembirakan untukmu,. Raja dari Negeri Paranggubarja melamarmu, ia hendak mempersuntingmu sebagai istri, engkau setuju bukan”

Ia berlari menuju bilik kamarnya. Kabar demikian tidaklah menggembirakan baginya. Dan Ibunya membututi dari belakangnya sembari memanggil merayu…
“Kau tak tau apa yang bakal terjadi jika kau berani menolak lamaran dari Raja Negeri Paranggubarja”
“Dia raja yang congkak! Adakah Bunda sampai hati menyerahkan putri bunda sendiri pada raja yang tak tau diri itu!, dan apabila bunda bersedia maka tandanya sahaya bukan berasal dari darah biru yang mengalir dalam nadi ibunda” Drupada merunduk, ia sadar ia tak dapat memaksakan kehendaknya, hanya demi kekuasaan ia tak boleh korbankan putrinya.

“Baca putriku…” Diserahkannya surat dari raja negeri seberang itu. Dewi Wara Srikandi membacanya dengan baik-baik. Dan Seketika saja dirasainya hatinya menggertak-retak, untuk kemudian luruh menjadi butiran-butiran kecil yang tak mudah disatukan kembali. Ia terkungkung oleh dilema. Sejak ia mulai merasakan cinta, cintanya tertuju hanya pada satu orang saja -Raden Janaka. Dan cintanya pada Raden Janaka itu tak dapat dileraikan begitu saja dari struktur kehidupannya. Namum ada permasalahan lain lagi yang tak kalah meradangnya daripada kehilangan cinta.

“Maaf bunda, kini sahaya paham benar dengan maksud Ibunda” Ia telah mengerti bagaimana konsekuensi perasaan ibunda dan romonya jika mereka mengetahuinya mentah mentah menolak lamaran dari raja yang congkak itu.

Setelah sepucuk surat itu terkirim, Raja Paraggubarja sudah mulai melakukan perjalanannya menuju Negeri Cempalareja. Tak tanggung-tanggung, dan agar perjalanannya tak sia-sia, Ia datang dengan tidak membawa satu tujuan saja yaitu menikahi putri dari Negeri Cempala Reja. Melainkan dengan maksudnya yang lain: menaklukan seluruh kerajaan di Pulau Jawa andaikata Dewi wara Srikandi menolak lamarannya. Maka untuk itu dibawanya serta ribuan bala tentaranya dalam perjalanan. Bahkan bala tentara raksasa pun juga tak lupa turut.

“Demi menjaga kehormatan Ibunda dan Romoku, juga demi ketentraman negeri ini, sahaya bersedia menikah dengan raja yang congkak itu”
“Tidak, sebetulnya ibunda juga tidak berkenan menyerahkan engkau pada Jangkungmerdea, raja yang sombong itu, ibunda lebih memilih menjadi rakyat biasa daripada hidup dibalik bayang-bayang derita putrinya. tapi nasib penduduk Cempala Reja itu terlanjur telah aku pertimbangkan”

Ia, sebagai putri yang tentunya akan menjadi pewaris kerajaan, tentu pula cara berfikirnya tidaklah bodoh. Masih ada berbagai cara untuk menghindarkan terjadinya perkawinan itu, juga tak lupa mengindahkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.

Dan ketika hari dimana Raja Paranggubarja itu sampai di Pulau Jawa, tepatnya di dalam kerajaan Negeri Cempala Reja untuk meminta restu dan persetujuan, tiba tiba saja keadaan menjadi mencekik dengan kabar: Putri Dewi Waraa Srikandi tidak sedang berada di kamarnya, sebelumnya ia telah berpesan kepada seorang dayang agar jangan dulu diganggu sebelum menyelesaikan puasa tarak bratanya.

“Engkau sengaja menyembunyikan putrimu?”
“Tidak benar!” Raden Jungkung Merdea menjatuhkan titah pada pada
Patih Jayasudarga untuk mencari ke segala penjuru istana, barangkali Dewi Wara Srikandi masih berada di dalam istana. Selang beberapa waktu Patih Jayasudarga kembali padanya dengan membawa laporan kesia-siaan. Mendengar itu Raden Jungkung Merdea terangsang kemarahan. Ia perintahkan Patih Jayasudarga untuk menyuruh seluruh prajurit ikut mencari Dewi wara srikandi. Putri itu tak mungkin bisa berlari lebih jauh karena kemampuannya yang bertajuk seorang putri -seorang putri tak pernah peroleh pekerjaan keras.

Di tengah-tengah hutan lebat itu Dewi Wara srikandi berlari menghadapi pengejaran beberapa bala tentara Raja Paraggubarja yang hendak menangkapnya. Ia hendak menuju istana Raden Janaka, dan untuk itu ia memerlukan melewati hutan oleh tempatnya yang berada jauh di seberang sana. Bertepatan seusai menjalani tatak bratanya, ia telah putuskan untuk melarikan diri, dan menjemput cintanya -tanpa sepengetahuan siapapun. Termasuk juga Nyi Emban, pengasuhnya itu. Dengan demikian tidak terasai terdapat sama sekali unsur penolakan yang konkret. Sebab bisa saja ada kemungkinan orang menduga penyebab hilangnya Dewi Wara Srikandi adalah diluar faktor kemauannya sendiri, bukan karena tidak bersedia menerima pinangan. Seperti diculik, atau diajak melarikan diri oleh orang yang mencintainya karena dia telah tau dalam tempo dekat Dewi wara srikandi akan dipinang seorang ksatria tangguh yang telah banyak menaklukkan kerajaan-kerajaan. Dia tahu kalau Srikandi bakal tak bisa perbuat apapun untuk menolak pinangannya.

Di dalam hutan itu mata Dewi Wara Srikandi tajam menelisik celah celah batas pohonan, sebagai jalan yang hendak dilaluinya. Ranting-ranting bersimpang siuran itu tak boleh menggurat wajah atau bagian tubuhnya yang lain. Ia gesit dan cekatan dalam bertindak. Prajurit-prajurit Paranggubarja kewalahan menghadapi, hanya apa boleh perbuat jika mendadak saja sesuatu yang melampaui batas kemampuannya menghadang langkahnya.

“Berhentiii…” Suara sosok itu menggema meski tidak sedang berada di samping jurang, atau di dalam ruang yang kosong. Memaksa Dewi Wara Srikandi untuk tunduk pada ketidakmampuannya. Sosok itu meggetarkan bola matanya. Dan seperti di film-film, kedua bola mata Dewi wara Srikandi bergerak menggelalar.
“Apa maumu?”
“Kemarilah akan aku bawa engkau keluar dari sini, Raden Jungkungmerdea sudah lama menanti kesanggupanmu menjadi istrinya” Dewi Wara Srikandi nanar dengan apa yang hendak ia perbuat. Sebelum bisa menemui Raden Janaka, ia tak boleh tertangkap. Dari belakang menyusul suara derap kaki, dan dari bunyinya nampak berasal dari banyak orang. Berselang sebentar, Prajurit-prajurit Jungkung Merdea telah mengepungnya. Dan entah dari mana datangnya anak panah melesat menusuk pergelangan kakinya. Dewi Wara Srikandi tergolek ke tanah. Lalu satu persatu bala tentara Jungkung merdea itu pergi meninggalkannya sendiri di dalam hutan setelah mendapatinya sudah tak bernyawa lagi.

“Banguuunnnnn Vina, bangun!!” Pekik ibu tua itu tepat di depan lubang telinga putrinya yang sedang tertidur. Sudah beberapa kali ia lakukan yang demikian akan tetapi putrinya sama sekali tak mendapat rangsangan untuk bangun. Ia telah periksa dinamika nafas putrinya baik-baik saja. Selebihnya juga baik-baik saja. Namun ia tak tau mengapa putrinya tak dapat dibangunkan.

Melalui pemahamannya mengenai teknik membangunkan seseorang yang ia peroleh dari drama-drama di televisi, ia percikkan air dingin ke muka putrinya, juga ke bagian tubuh lainnya. Dan setelah itu ia mendapat pengetahuan baru bahwa drama di televisi itu adalah dusta semuanya, termasuk juga membangunkan dengan air. Terbukti dengan cara itu putrinya juga tak kunjung bangun dan tentu masih saja merebah tenang di ranjang.

Ia mulai gelisah setelah beberapa lamanya waktu telah berlalu tak memberi perubahan terhadap keadaan putrinya. Ia beritahukan hal ini kepada suaminya. Namun suaminya tak juga dapat berbuat sesuatu apa yang bisa membangunkan putrinya.
Dipanggilnya para tetangga dan para tetangga juga gagal mengenyam tugasnya. Malah hanya membuat suara gaduh, saling berebut suasana hening untuk dapat ungkapkan tafsirannya dengan jelas mengenai mengapa Vina tak bisa bangun, sementara kondisi kesehatannya baik-baik saja. Ada yang bilang Vina kerasukan makhluk halus, ada juga yang bilang jiwa Vina dibawa makhluk halus, juga ada lagi yang lebih nyeleneh dan sangat bertentangan dengan rasionalitas ilmiah: Vina mati suri bilangnya. Meski keadaan sudah menyakinkan dengan darah kejujurannya bahwa Vina sehat-sehat saja dan bisa bernafas. Maka tak bisa lain, setelah itu ia dihujat akibat salah berpendapat di muka khalayak.

Petang telah mengambil tempat duduknya, dan kini saat baginya untuk menjalankan rutinitas. Diwaktu yang demikian seseorang bersorak-sorai ramai. Suara tepuk tangan bersaut-sautan. Memberi support pilihannya masing-masing. Malam gegap-gempita. begitulah yang mungkin tertulis di benak mereka. Sayembara diadakan. Siapa yang bisa membangunkan Vina, jika ia laki-laki maka akan dijadikan bininya dan jika ia perempuan maka akan dihadiahi dengan giring-giring emas.

Arini adalah orang yang pertama kali memulai unjuk kebolehan. Karena ia adalah pengamen ulung, maka media yang dipergunakannya tentu tak mungkin jauh dari alat alat musik. Disamping Vina yang tertidur, Arini memainkan gitarnya, juga dinyanyikannya lagu bergenre underground. Dan Mungkin disaat-saat seperti itu orang-orang bakal mengira Arini pengamen kampung sudah gila, karena sebagian di mata mereka, aksi Arini teramat tak wajar. Suaranya yang menjadi parau, kepalanya digeleng-anggukkan mengikuti irama yang tinggi, maka selepas unjuk aksi rambut Arini jadi berantakan semua. Dan orang-orang tak peduli, karena Vina masih juga belum terbangun dari tidur lelapnya.

Siapa menduga kalau pak Joko bakal ikut-ikutan ajang sayembara? Umurnya yang sudah tambun tentu membuat orang tua Vina mengigir ketakutan apabila pak Joko dapat menaklukkan pantangannya. Maka berbeda dengan yang lain, untuk yang satu itu mereka berharap agar Vina malah tak bangun. Jikapun bangun, di tangan pak Joko nanti Vina pasti akan tidur lagi lebih lama, oleh pekerjaan pak Joko yang hanya kuli batu tentu membuat Vina menghindari alam nyata dan lebih memilih hidup di alam mimpi.

Beruntung, rahmat yang Maha Kuasa turun dimalam itu, Pak Joko tak dapat membuat Vina terbangun, betapa senangnya orang-orang yang peduli pada masa depan Vina, bersorak-sorak oleh keselamatan Vina. Namun begitu tak ada sebulir dari hati Pak Joko yang terangsang, karena kiranya sorak-sorai orang-orang itu tertuju pada usahanya yang manis. Hanya saja entah kenapa bisa gagal: Ia bisikkan ke telinga Vina dengan suaranya yang serak khas pekerja kasaran beberapa kalimat magis yang konon katanya bisa membuat wanita takjub terkesimah. -aku cinta padamu. Dan masih banyak lagi, hingga pada akhirnya ia kehabisan kata-kata ingatannya.

Malam semakin ranum, dan ibarat buah yang matang ia bersama kegelapannya yang pekat akan segera terjatuh.
Dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, peserta terakhir itu tampak memancarkan cahaya dari mukanya. Berseri seri tak sedikitpun ia menginjak keputusasaan sebagai tumpuan kakinya meski sudah tau semua peserta yang berjumlah 20 orang telah gagal dan tersisa dirinya saja.

Ia melangkah gontai dengan mengagguk-anggukkan kepalanya, seolah ia benar-benar tau titik permasalahan masalah yang dialami Vina. Tak ada sorak-sorai ketika ia menghampiri Vina. warga sudah banyak yang pulang lantaran tau apa yang akan terjadi di penghabisan kali nanti -kesia-siaan.

Lelaki itu berputar-putar mengisari ranjang Vina sambil dibacanya sebuah buku tua yang telah ia rengkuh di samping Vina terlelap. Hanya butuh beberapa waktu baginya menyelesaikan buku yang tak seberapa tebalnya itu. Kemudian ditutupnya lagi. Didekatinya Vina, ia merunduk sampai letak kepalanya sejajar dengan kepala Vina. Ia ulurkan wajahnya ke wajah Vina, dan berhenti ketika jarak menyisahkan 1 inchi untuk dapat berciuman. Tidak…! Dia tidak mencium Vina, hanya berucap lirih di dekat wajah Vina seperti halnya yang dilakukan pak Joko sebelumnya. Namun yang ini terlampau dekat dan lirih. Karena suara yang terlampau lirih, maka tak dapat didengar oleh siapapun kecuali hanya mereka berdua. Apa yang diucapkan tentu membuat Bapak dan ibu Vina merasa penasaran, dan mereka lebih penasaran lagi ketika di akhir kisah sayembara putrinya terbangun.

Tiba tiba dari bangunnya Vina memeluk lelaki itu. Sejenak terjadilah percakapan di antara mereka berdua:
“bagaimana kau tahu?”
“Jangan bertanya begitu, aku tau kau kesepian, bukankah demikian yang terjadi?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku mencintaimu Vina, ketiadaanmu dalam hidupku telah membuatku banyak mengerti mengenai segala hal yang terkandung dalam sepi.”

Vina -Ia teringat sebagaimana terumbu, semenjak ia putus dari kekasihnya, hidupnya mulai tertimbun oleh duka. Begitu banyak cara telah dilakukannya untuk menutupi kegelisahan hatinya. Salah satunya yang paling efektif ialah bermimpi. Dari itu ia pun tahu, bahwa hal yang demikian bisa membuatnya bersenang hati -ia ciptakan dunia sendiri, diisaat dunianya perlahan mulai runtuh dan meninggalkan nya sebagai Gadis kesepian. Sejak itu ia suka sekali berlarut-larut di dalam dunianya itu. Membuat alur ceritanya sendiri di dalamnya. Dan untuk kepuasan, ia tidak akan meninggalkan dunianya sebelum ceritanya telah Rampung. Namun yang kali itu, ia terjebak dalam dunianya sendiri sebagai Dewi Wara Srikandi yang pura pura mati dan menunggu Raden Janaka untuk membuatnya tersadar. Ia telah ciptakan alur cerita yang begitu dramatis. Ia merubah alur cerita dari buku yang telah dibacanya.

“Kenapa kau membuat semuanya begitu pelik, bukankah di dalam mimipi kau juga bisa mendatangkan Raden Janaka, tanpa harus aku berbisik bahwa Raden Janaka mu telah tiba?”
“aku tak peduli, aku hanya mencoba membuat cerita yang sedikit berbeda, aku ingin Raden Janaka itu datang sendiri tanpa aku perlu memanggil, karena aku juga ingin dicintai olehnya -meski hanya di dalam mimpi, dan kau tau? Dan kau tahu, Suaramu telah menjadi wujud dari seorang yang kucintai di dalam mimpi.”
“Kalau seandainya aku tak datang, apakah kau akan terus tertidur menunggu datangnya akhir dari kisahmu yang kau pikir dapat dengan mudahnya terselesaikan?”
“Aku tak peduli, jika kau tak datang, mungkin aku masih berada didalam dunia mimpi, aku tak akan terbangun dari mimpi sebelum ceritaku berakhir dengan keindahan dramatis yang penuh estetika.

Mengetahui anaknya yang hampir mendekati bercumbu, Ibu dan Bapak itu lekas pergi meninggalkan mereka berdua. Tentunya juga sudah saling mengingatkan agar jangan sampai meninggalkan kewaspadaan terhadap putrinya andaikata sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan.

Di dalam bilik kamar yang tenang dan teduh, mereka berdua saling bercerita. Diwaktu itu pula mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri sepi yang selama ini membelenggu dengan cara hidup bersama. Keluar dari itu, Ibu dan Bapak Vina menelik pandang melalui lubang kunci. Melihat anaknya yang akan kawin disatukan keheningan. Luput dari janji yang terucap untuk pemenang sayembara.

END

Cerpen Karangan: Syahrul Irfan
Facebook: https://m.facebook.com/syahrul.irfan.
Dialog Pikiran

Dialog Pikiran

Hawa panas mulai memasuki kamarku. Gorden jendela kamar kubiarkan tetap menutup. Suasana kamar terasa sedikit pengap, tapi kubiarkan saja. Keadaan di sekitar sudah tidak berpengaruh banyak. Aku sudah tenggelam dalam pikiranku. Pikiranku melayang kesana-kemari, seolah isi kepalaku ini adalah kapas yang mudah ditiup angin. Melamum sudah menjadi kebiasaan bagiku, ketika menghadapi suatu masalah. Melamun menjadi pekerjaan yang menyenangkan, karena aku bisa menggapai apapun yang kuinginkan, meskipun hanya sebatas khayalan.

Hari ini tidak seperti biasanya, karena lamunanku sore ini terasa hidup dan nyata. Sore ini lamunanku seperti bukan lamunan melainkan suatu realitas nyata, bahkan diriku sendiri seolah kalah nyata dari lamunanku. Aku merasa heran dan bertanya pada diriku sendiri, “Perasaan macam apa ini? Kenapa lamunan ini begitu nyata?” Aku berusaha mencari penyebabnya, tapi hasilnya nihil. Aku tidak menemukan apapun.

“Sial, jadi pusing kepalaku.”

Lamunanku pada sore itu, seolah merangkum semua lamunan-lamunanku sebelumnya. Begini kira-kira isi lamunanku.

“Sial kenapa semua ini selalu terjadi dan menimpaku. Semua yang sudah aku lakukan, seolah hanya berujung kesia-siaan. Apapun yang aku usahakan selalu gagal.”
“Kenapa lagi kamu Pesimis, kerjamu hanya mengeluh saja setiap hari.”
“Sudah jangan ganggu aku lagi, Optimis. Biarkan aku sendiri kali ini. Tolong berikan aku sedikit privasi. Kamu dan aku sudah hidup lama dalam pikiran Andi, meski begitu kamu sudah mendapat jatah ruangan dalam pikiran anak ini, jadi jangan ganggu aku lagi dan kembali ke kamarmu!!!!”
“Justru itu aku bertanya kepadamu. Aku bukan bermaksud menggagumu. Sebagai sosok imajinasi yang sudah lama tinggal bersama di kepala Andi, aku ingin membantumu.”
“Aku tidak perlu dibantu. Sudah, urusi saja urusanmu sendiri!!!”

Sore itu Andi melamunkan dua sosok yang sedang berdebat dalam pikiranya. Sosok itu bernama Optimis dan Pesimis. Entah kenapa, Andi merasa kedua sosok begitu hidup dalam pikiranya. Sosok itu berdebat dan saling beradu argumen satu sama lain. Andi hanya menjadi penonton yang pasif melihat keduanya. Andi tidak ingin memisahkan keduanya, baginya pertarungan kedua sosok itu menjadi dialektika yang bisa membuat pikiranya semakin matang.

“Aku tidak akan pergi sampai kau menceritakan masalahmu.”
“Dasar pengganggu! Hai optimis dengarkan baik-baik. Sifatmu yang terlalu percaya diri akan mencelakakan dirimu suatu hari nanti. Jadi aku ingatkan sekali lagi, jangan kau merasa bahwa hidup ini hanya lurus seperti jalan tol, jadi ubahlah sifatmu itu walau hanya sedikit.”
“Tapi aku banyak menolongmu, ketika kau menghadapi banyak masalah. Lagipula jika aku ingin merubah sifat percaya diriku, maaf aku tidak akan bisa. Itu sudah menjadi kodratku. Sejak pertama kali aku dilahirkan, aku sudah dianugerahi sifat ini. ini sudah bawaan sejak lahir.”
“Baiklah kalau kau memaksa, tapi ingat jangan mendebatku. Aku sedang malas berdebat denganmu hari ini.”
“Baiklah akan aku usahakan.”

Ditariknya nafas panjang dari mulutnya, “Tadi siang kau pasti ingat pertemuan Andi dengan Indro.”
Optimis mengangguk pelan.
“Aku masih ingat betul dengan ucapanya mengenai pekerjaan. Kau tahu kan, bahwa Tuan kita, Andi sedang dirundung kesusahan mencari kerja, tapi dengan seenaknya Indro justru mengatakan hal-hal yang menyakiti hatinya. Kata-kata Indro yang masih terngiang-ngiang dalam benaku ketika dia bicara seperti ini, ‘Kamu seharusnya tidak usah mendatangi jobfair. Kamu sudah tahu kan pengalaman kakak-kakak kelasmu yang sudah tahu sistem jobfair sebenarnya. Perusahaan-perusahaan itu sebenarnya tidak membuka lowongan, mereka terpaksa membuka lowongan itu atas dasar desakan pemerintah untuk membuka lapangan pekerjaan. Aku yakin surat lamaran yang kau berikan itu hanya menjadi tumpukan kertas yang tidak dihiraukan, bahkan dibuang ke tempat sampah.’ Jujur aku sungguh tersinggung mendengar perkataan itu, tapi aku menangkap sebuah kebenaran dari ucapan itu. Kau ingat sudah berapa kali tuan kita mendatangi acara jobfair. Aku yakin kau pasti sudah tidak ingat, karena saking banyaknya. Realitas sebenarnya dalam dunia kerja sungguh kejam. Isinya hanya kebohongan saja.”
Mendengar itu Optimis seolah tidak tahan untuk membantahnya, tapi dia berusaha bungkam, sesuai dengan janjinya.

“Kau ingat sudah berapa kali kau membisikan semangat dalam kepala Tuan kita. Sudah berapa kali hah? Aku yakin kau pasti sudah lupa, karena sking banyaknya. Dan sebanyak itu pula kau telah dengan keji menipu tuan kita. Buka matamu lebar-lebar Optimis, realitas tidak selalu sejalan dengan apa yang kau harapkan.“
“Tapi kan,” Optimis berusaha menyela perkataan Pesimis.
“Sudah diam dulu sejenak. Aku masih belum selesai!”

Pesmisi yang sejak tadi berbicara tanpa henti merasa lelah. Segala ucapanya seperti peluru yang dimuntahkan senapan mesin, tidak ada jeda sampai amunisinya benar-benar habis. Setelah berfikir sejenak, Pesimis kembali melanjutkan. Unek-unek lain siap dilontarkanya kepada Optimis.
“Apakah kau juga masih ingat dengan kejadian beberapa minggu lalu? Ingat tidak !!!”
Optimis hanya terdiam beku, seperti murid sekolah yang dibentak gurunya karena tidak mengerjakan tugas rumah.
“Tidak ingat juga rupanya. Baiklah akan aku ingatkan lagi, supaya kau bertambah sadar dengan semua omong kosong yang kau sampaikan ke Andi. Apakah kau ingat dengan perempuan bernama Laila?”
Dengan muka tertunduk lesu, Optimis berusaha mengingat. Pesimis memberikan waktu untuk Optimis berfikir. “Biarkan aku beri dia waktu untuk mengingat, jika memang masih belum ingat juga, maka sudah bisa dipastikan, Optimis memang tidak punya otak dan hal ini jutru membenarkan hipotesaku selama ini, bahwa Optimis hanya bertindak dengan perasaan tanpa melibatkan akal,” ujar Pesimis dalam hati.

Air muka Optimis tampak sedikit lebih cerah, terlihat ia mulai ingat dengan gadis yang bernama Laila yang disebutkan Pesimis. Seolah mendapatkan sedikit kemenangan, Optimis berani sedikit menatap Pesimis dan menganggukan kepala, sebagai tanda bahwa ia ingat dengan gadis yang bernama Laila.

“Dari sekian banyak kesalahan, sungguh kesalahanmu yang berhubungan dengan gadis bernama Laila, tidak bisa dimaafkan. Selama tiga tahun, kau dengan lidahmu yang manis telah membohongi Andi.”
Optimis seolah menjadi paku yang tertancap di batang kayu, diam dan tidak melawan ketika dipukul. Sikap diam yang diambil Optimis, bukan menujukan bahwa Optimis takut pada Pesimis. Optimis hanya menunggu kesempatan yang tepat untuk membantah semua peryataan Pesimis.

“Kau membisikan, bahwa Laila menyukai Andi, saat bertemu pertama kalinya, ketika Andi kelas satu SMA. Kau kobarkan api semangat, agar Andi mengejar Laila. Api itu selalu kau tiupkan berulang kali, hingga yang awalnya hanya berupa api kecil kemudian menjadi kobaran api yang membesar. Dampaknya yang ada di isi kepala Andi hanya Laila, hingga sekolahnya terbengkalai. Jika ada laki-laki lain yang mendeati Laila, Andi seolah menjadi gila. Yang terburuk dari itu semua, ketika Andi meminta sejumlah uang kepada orangtuanya, uang itu dibilangnya untuk keperluan sekolah, tapi nyatanya uang itu digunakan untuk membeli telepon genggam untuk Laila, karena Andi tahu telepon genggam Laila rusak pada saat itu. Kau sudah mengajari Andi untuk berbohong kepada orangtuanya!!!”
Nafas Pesimis mulai tersengal-sengal, setelah melontarkan semua kekesalanya. Melihat Pesimis sudah mulai lelah berbicara, Optimis mulai angkat bicara, “Sudah? Sekarang, bolehkah aku berbicara?”
Dengan wajah kesal, Pesimis menjawab, “Terserah”

“Sebelumnya aku minta maaf kepadamu, jika beberapa tahun ini, aku membatmu kesal. Jujur aku juga tidak mengharapkan semua itu terjadi kepada Andi. Mungkin kau benar, aku memang jarang bertindak dengan akalku dan itulah salah satu kelemahanku, tapi itu memang sudah kodratkku dan aku tidak bisa mengubahnya.”
Pesimis mendengar acuh tak acuh, tapi nampak jelas raut kemenangan terpancar di muka Pesimis.
“Jujur, aku tersinggung mendengar semua tuduhanmu kepadaku, terutama soal Andi yang sudah berbohong kepada orangtuanya. Tapi bolehkah aku sedikit membela diri? Pembelaanku ini jangan kau anggap sebagai bentuk tindakan menutupi kesalahan. Aku memang merasa turut andil, jika Andi melakukan kesalahan, tapi apakah hanya aku penyebab semua itu?”
Pesimis mulai melihat ada perlawanan yang diberikan Optimis.

“Aku yakin, kau masih tetap menuduhku sebagai penyebab kemalangan yang menimpa Andi, tapi mari kita luruskan dulu kedua persoalan ini, agar matamu bisa terbuka lebar. Mari kita bahas soal pekerjaan dan Laila, untuk masalah lainnya, kita bicarakan lain waktu.”
“Baiklah, meskipun aku sangat membencimu, tapi aku berikan kau kesempatan untuk bicara.”
“Terima Kasih. Pertama soal pekerjaan. Tadi kau sudah bicara panjang lebar. Kau mengatakan bahwa aku membisikan kesia-siaan kepada Andi yang selalu datang ke jobfair. Sudah aku jelaskan sebelumnya, bahwa aku bertindak dengan perasaan, bukan dengan akal. Dan untuk masalah ini kau sudah melihat dengan mata-kepalamu sendiri bahwa Andi sudah mengirimkan banyak lamaran pekerjaan, tapi tetap saja belum ada panggilan.”
Seolah belum mau menyerah, Optimis melanjutkan ucapanya yang terpuutus sejenak, “Kau lihat sendiri kan, dengan reaksi Andi setelah itu? Dia putus asa. Api semangat yang dulu ada untuk mendapat pekerjaaan selepas kuliah, seolah padam. Bahkan dari rasa putus asa itu timbulah pemikiranya untuk bunuh diri. Sadarkah kau akan hal itu Pesimis?”
Optimis berhasil mendapat perhatian dari Pesimis. Dia mulai merasa perkataan Optimis ada benarnya juga.
“Jadi yang ingin aku tekankan di sini, aku hanya ingin menghindarkan Andi dari perbuatan yang tercela.“

“Terus, bagaimana kau menjelaskan soal Laila?”
“Soal laila, hmmm. Sebenarnya, Aku tidak ingin menjeaskanya lebih detail soal ini, tapi untuk menjernihkan masalah, baiklah, akan aku jelaskan. Andi terlahir sebagai seorang introvert, aku dan kamu sudah tahu itu. Sifat introvertnya membuat Andi sering dibully di kelas. Andi dianggap oleh temanya sebagai orang yang aneh, karena tidak mau bergaul. Akibat dari perlakuan dari teman-temanya itu, Andi merasa tertekan dan ingin berhenti sekolah. Untuk mencegah niat itu, aku membisikan ke Andi rasa percaya diri untuk mengejar cinta Laila, teman satu sekolah Andi. Tujuanku agar Andi merasa betah di sekolah.”
“Aku tahu niatmu baik, tapi aku masih belum menerima segala akibat yang ditimbulkan, karena tindakanmu itu.”
Optimis yang mendengar itu, mulai terpancing emosinya, tapi dia berusaha untuk menahanya. Menurutnya, Pesimis tidak lebih baik dari dirinya. Sesungguhnya dia juga ingin melontarkan unek-uneknya kepada Pesimis, tapi dia sadar hal itu justru akan membuat keadaan semakin kacau.

“Sekarang apa yang kau inginkan dariku, Pesimis?”
“Aku ingin kau pergi dari kehidupan Andi. Aku ingin kau menyingkir, kau sudah membuat Andi terbuai dengan semua omong kosongmu!!!”
Perkataan itu sudah tidak bisa diterima oleh Optimis. Amarah yang selama ini ditahanya, agar harmoni tetap terjaga sudah mulai goyah. Harga dirinya sudah merasa diinjak.
Deangan nada tinggi Optimis berkata, “Dasar bodoh, kau sadar dengan ucapanmu hah? Jika salah satu kita hilang atau mati, maka Andi akan menjadi pribadi yang tidak lengkap. Andi bisa mengalami guncangan dalam jiwanya, bahkan yang lebih parah andi bisa sakit jiwa.”
“Hahahahaha, dasar Optimis, lihat siapa yang bodoh sekarang. Kau dengan sifatmu itu, sudah berani berkata bahwa Andi akan menjadi gila. Sombong sekali kau, seolah yang kau katakan itu akan menjadi kenyataan. Kau sudah lupa atau pura-pura lupa hah!!! Semua prediksimu, sebelum-sebelumnya jarang terbukti, bahkan cenderung mencelakakan Andi. Sudah pergilah dari diri Andi, jika kau masih menyayanginya.”
“Tidak akan!!!”
Pertengaran keduanya berlangsung sengit, bahkan sampai melibatkan adu fisik. Andi yang hanya menjadi penonton mulai pusing dan mual, melihat keduanya bertengkar.



Rani sedang sibuk memasak di dapur. Adik andi itu sudah berumur 15 tahun. Selain sekolah, membantu orangtua di dapur sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. Sore itu Rani sedang memasak sayur asam dan ikan asin. Ibu sudah biasa meninggalkan Rani memasak sendiri, karena Rani sudah dibiasakan untuk membantu ibunya di dapur sejak umur sepuluh tahun. Bumbu-bumbu dan resep memasak sudah ada di luar kepalanya.

“Alhamdulillah, akhirnya matang juga. Bu ini sayur sama ikan asinya sudah matang,” Teriak Rani dari dapur.
Ibu yang sedang asyik menonton sinetron, berteriak dari ruang keluarga, “Iya, taruh saja di meja makan. Ran, panggil kakakmu di kamar, suruh makan. Sejak pagi, kerjanya cuman di kamar terus anak itu.”
“Iya Bu.”

Tok, tok, tok. Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Andi. Tidak ada jawaban dari dalam. “Mungkin kakak sedang tidur, ya sudahlah aku masuk saja,” pikir rani.
Pintu kamar Andi tidak dikunci. Pintu kamar dibuka Rani, dan seketika itu pula hawa pengap dalam kamar Andi mulai menyeruak keluar dari dalam kamar. Rani terkejut melihat Andi.
“Kakak!!!”
Rani keget melihat kondisi Andi yang sedang kejang. Mata Andi melotot dan mulutnya menganga. Rani bingung sekaligus takut melihat kakaknya.

Ibunya yang sedang asyik menonton sinetron terkejut dengan teriakan Rani dari dalam kamar Andi.
“Ada apa Ran !!!?”
“Ini Bu, Kakak kejang-kejang.”
“Cepat Panggil Pak Joni, dokter yang ditinggal di RT sebelah !!!”
“iy-iya Bu.”
“Rani!!!! Tunggu sebentar. Nanti setelah kamu panggil Pak Joni, kamu cari info tempat rehabilitasi yang ada di dekat sini. Jangan sampai orang lain tahu, kalau kamu cari tempat rehabilitasi, cari infonya di internet saja!!!”
“Iya Bu, tapi tempat rehabilitasi buat apa Bu?”
“Sudah jangan banyak tanya, cepat kamu ke rumah Pak Joni. Sekarang !!!”

Di samping tubuh Andi yang sedang mengejang, nampak oleh Ibunya jarum suntik dan bungkusan plastik kecil. Dugaan ibunya selama ini benar. Air mata mengucur deras dari mata Ibu Andi.

“Maafkan Ibumu ini Nak. Ibu memang bukan Ibu yang baik, tapi kenapa kau sampai hati meniru tingkah laku Ayahmu yang sekarang sudah masuk kurungan penjara.”

Cerpen Karangan: Achmad Soefandi
Blog: siand1k.wordpress.com
Facebook: @Achmad Soefandi
Dejavu

Dejavu

Sungguh. Mungkin aku adalah satu-satunya anak di negara bagian ini yang membenci hujan. Aroma rumput yang diterpa hujan seolah menjadi latar belakang kenanganku yang kini tervisualisasi dalam butir hujan. Aku mengernyitkan dahiku dan merangkul kedua lututku sampai celana panjang yang kupakai menutupi kedua mata kakiku.

“Kau kenapa Jean?”, ujar anak yang sedang duduk bersandar pada mainan kuda kayu di sebelahku. Aroma wangi bunga dari badannya yang sangat kusuka tiba-tiba menyadarkan lamunanku tentang hujan ini. “Kau tampak seperti nenek tua daripada seorang anak perempuan” ucapnya kali ini disertai dengan senyuman yang terkesan menjengkelkan tetapi entah kenapa aku sangat menyukainya. Anak itu sekarang menegakkan badannya dan duduk di sebelahku dengan memeluk kedua lututnya.
“Kau tahu apa yang paling aku benci Tom?”
“Ya, hujan” ucapnya dengan diiringi desahan nafas yang berat seraya tersenyum kecil, “Menghilangkan tempat bermain kita bukan?” lanjutnya.
Hujan yang terus-menerus mengguyur di luar disertai beberapa kali hentakan petir seolah ingin aku berhenti menatap ke luar. Di kamar ini hanya ada aku dan Tomi yang dari tadi meringkuk memeluk lutut masing-masing di balik jendela ini.

“Tapi aku senang masih bisa bermain bersamamu Tom” ucapku dengan senyum lebar memamerkan gigiku yang putih pada anak berbaju putih lusuh di sebelahku. “Kukira aku tidak akan bisa melihatmu lagi setelah kau pindah tempat tinggal”.
“Ha-ha kau tenang saja, aku tidak akan berhenti bermain bersamamu” jawabnya riang, “Memangnya kau bisa apa tanpaku?” ucapnya licik. Baiklah, mungkin itu ada benarnya. Aku tidak memiliki lagi teman di sekitar tempat tinggalku untuk kuajak bermain. Gelar anak tunggal yang melekat padaku memaksaku harus menemukan caraku sendiri untuk bermain agar tidak mengganggu orangtuaku dengan urusan mereka masing-masing.

“Ngomong-ngomong apakah mereka tahu kau ada di sini?” tanyaku.
“Siapa?”
“Siapa katamu? Tentu saja orangtuamu Tom” Ucapku tegas.
“Entahlah” jawabnya, “Mungkin mereka tahu, mungkin juga tidak, mungkin mereka sudah melupakanku” ucapnya seraya beranjak dari sebelahku menuju tempat tidurku. Boneka porselen yang sedari tadi dipegangnya ia seret hingga gaun yang dikenakan oleh boneka itu terjuntai di lantai.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dari luar dan seorang perempuan dengan wajah yang masih cantik untuk perempuan seusianya masuk tanpa aba-aba ke kamarku.
“Hei Sayang, kau mau sepotong kue dan segelah susu cokelat” ucapnya dengan senyum lembut.
“Tentu saja ma, aku suka itu” jawabku tegas seraya menyengir kepadanya. “Bawakan untuk Tomi juga ya” jawabku lagi pada ibuku. Perempuan itu tersenyum lembut dan menutup pintu kamarku meninggkalkan kami berdua lagi.
“Ibumu memang selalu tampak cantik dan baik sepertimu Jean” gumamnya sambil melempar-lempar bola baseball yang ada di atas tempat tidurku ke udara
“Bukankah seorang ibu harusnya seperti itu?” ucapku pada pada Tomi, “Mereka semua pasti baik pada anaknya”. Aku memalingkan wajahku pada Tomi. Kulihat kini wajahnya yang berpipi tirus tampak bereskpresi sangat datar dan dingin.
“Ibuku sekarang sudah tidak terlalu memikirkanku dan orang itu karena kejadian tempo hari” ujarnya, “Padahal itu semua adalah salah orang itu sehingga ibu sangat membencinya”.

Aku turun dari bilik jendela dan menyeret selimut panjang berwarnakan biru yang dari tadi menutupi badanku dari dinginnya hari. Melihat wajah Tomi yang tampak sangat sedih begitu menyayat hatiku. Ibu Tomi memang bukanlah orang yang buruk, tetapi tidak seharusnya ia bersikap demikian terhadap Tomi.

“Apa kau masih mengingat apa yang terjadi tempo hari itu, Tom?”
“TIdak, tidak sama sekali”
Jawaban itu membuatku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Memberi semangat untuknya bagiku malah akan tambah membebani hidupnya. Tomi yang aku kenal bukanlah Tomi yang dulu biasa bermain bersamaku dengan wajah yang selalu riang dan menyenangkan. Tetapi paling tidak Tomi masih mau bermain bersamaku sekarang.

“Hei apa itu bunga Daffodil?” tanyanya sambil menunjukkan jarinya pada seikat bunga yang aku letakkan pada sisi meja di samping tempat tidurku.
“Iya”
“Apa itu untukku”
“Tentu saja”, kulihat senyum diwajahnya melebar dan menampakkan wajah yang tampan.

Tomi memang menyukai bunga Daffodil, ia berkata bahwa bunga itu adalah lambang kebahagiaan dan keceriaan. Sudah dari 3 hari yang lalu aku menyiapkan bunga itu untuk kuberikan pada Tomi sebagai balasan karena dulu ia juga pernah memberiku bunga Tulip yang ia petik di halaman rumahnya. Hari itu adalah hari dimana aku pertama kali bertemu dengan Tomi. Anak dengan rambut kecoklatan dengan mata berwarna biru itu tiba-tiba datang menghampiriku yang sedang bermain sendirian di teras rumah dan memberiku bunga Tulip dengan senyuman merekah di wajahnya.

Hujan yang mengguyur di daerah tempat tinggalku tidak dihiraukannya sehingga ia datang dengan leher kaos yang ia angkat dan dijadikan penutup kepalanya sambil memegang seikat bunga Tulip. Melihat keceriannya kala itu seolah memberikan keceriaan padaku juga yang sedang kesepian dan bermain sendirian. Hampir setiap hari aku bermain bersama Tomi, jika dia tidak datang ke rumahku, maka aku yang akan datang ke rumahnya. Sampai kapanpun tidak akan pernah kulupakan tentang pertemuanku dengan Tomi. Sikapnya yang ceria dan ramah membuatku merasa tidak lagi kesepian sejak hari itu.

“Lihat Jean!” teriak Tomi seketika membuyarkan lamunanku, “Hujannya sudah berhenti di luar sana”.
Aku memalingkan wajahku ke arah jendela dan kulihat hujan yang mengguyur sedari tadi berangsur-angsur reda dan digantikan oleh cahaya matahari yang perlahan namun pasti menampakkan kehangatannya. Kulihat Tomi langsung berlari ke arah jendela dan berdiri tegak di sana.
“Baiklah, tunggu ya, Tom” ucapku.

Aku beranjak dari tempat tidurku mengambil jaket di belakang pintu kamar dan langsung kupakai seraya menggenggam bunga Daffodil yang kuambil di atas meja. Saat aku membuka pintu sekilas aku melihat wajah Tomi tersenyum memandangi langit dari jendela kamarku. Akupun turun ke bawah dan melewati ruang tengah untuk menuju ke pintu depan rumah. Kulihat ayahku yang sedang membaca koran dengan sepuntung rok*k di jemarinya duduk di depan televisi.

“Kau mau ke mana dengan bunga itu, sayang?” tanyanya yang sedang melihatku berlari ke arah pintu depan dan membukanya.
“Ke makam Tomi” jawabku singkat.
Aku pun langsung menutup pintu dan pergi.

Cerpen Karangan: M Sony Dwi Putra
Blog / Facebook: reviewgrafis.blogspot.com / sonydwiputra
Endorfin

Endorfin

Judul Cerpen Endorfin

“Sebenarnya Kebahagiaan yang indah itu berasal dari kesedihan yang tulus”

Malam ini aku tengah bersandar di atas kursi berwarna biru susu. Pemandangan ingar bingar kota terlihat jelas dari balik kaca transparan. Aku menatapnya dengan tatapan sedih, uh bukan. Sepetinya bukan rasa sedih yang sedang kurasakan saat ini. Bahagia? Tentu saja bukan. Tidak!! Aku tak merasakan apapun!! Hufft, maksudku aku bisa merasakan namun sulit tuk dijelaskan. Ini sungguh membingungkan, sampai-sampai wajahku memucat, bibirku memutih. Anak-anak rambut bergelantungan dengan bebasnya menutupi keningku. Aku begitu kacau, terlebih orang-orang di sekitarku tak sedikitpun mereka melirikku walau sedetik. Mereka terlalu sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Seharian lelah beraktifitas menikmati makan malam jauh lebih baik dibandingkan melihat kesedihanku yang kurang bermanfaat. Aku termenung, sampai beberapa butir air mata terjun bebas dari kelopak mataku. Ia menguap dan muncul cahaya putih yang cukup menyilaukan mata.

“Malam Kuggy?” sapa pria yang muncul dari pancaran cahaya putih. Ia muncul tepat di depan kursiku, membawa tubuhnya yang sempurna. Tanpa dosa.
Aku tidak melirik. Tatapanku masih tepaku akan hiruk piruk kota hujan saat malam hari. ribuan mobil padat merayap, Trotoar jalan yang disesaki commuter semua terlihat tenang dari sini. Bak menonton tayangan tv monoton, membosankan.
“kenapa lama sekali sih? Apakah Nathan terlalu sibuk berkencan dengan bidadari lain di dunia sana dan lupa ini hari apa?” aku melotot, sekarang aku memicingkan wajah tepat di hadapan wajah nathan yang Tampan. Lesung pipit, hidung mancung dan kornea mata berwarna biru. Terlihat sempurna bagi seorang Nathan.
“maafkan aku” jawabnya singkat. Nathan membetulkan posisi duduknya. agar jubah putih yang ia kenakan tidak merusak sayapnya. Sayap? Ya kau bisa menebak siapa Nathan.

“Nathan?” Ujarku, mukaku merah padam. Sejujurnya aku ingin sekali memeluk Nathan. Namun aku terlalu gengsi tuk melakukannya.
“Baiklah Kuggy cantik, ada masalah apa?” Nathan mengangkat kedua alisnya yang simetris.

Ngomong-ngomong, sebenarnya namaku adalah Alya. Nama Kuggy dan Nathan terinspirasi saat pertama kali kita bertemu. Waktu itu aku pernah bermimpi kalau kami saling melihat satu sama lain di tengah taman yang cukup luas. Di sana terdapat pohon yang bernama Nathan dan buah bernama Kuggy.

“Kuggy cantik, ada masalah apa sayang?” Nathan mengulangi pertanyaannya. Dan kali ini berhasil membuat jantungku berdegup kencang.
“Nathan, hari ini!! Sudah tiba saatnya Nath. Harusnya Kuggy sadar kalau cepat atau lambat, Nath pasti akan pergi. Sekarang aja entah kenapa kepalaku selalu pusing tatkala ingin menulis. Sehingga cerita-ceritamu yang ingin kuabadikan di atas secarik kertas tidak pernah sampai selesai” jelasku. Linangan air mata sudah membanjiri pipi. Saat ini aku tidak berani menatap mata indah Nathan. Karena itu akan semakin menyakitkan.

“udah kuggy jangan nangis. Bagus dong kamu kan bisa menikmati kehidupan yang realistis. Bahkan itu sudah ada di genggaman kamu kuggy”
“Bagus apanya. Aku akan kesepian. Waktu saat masa-masa bersamamu pun aku merasa kesepian. Enggak Nath, Kuggy gak mau kehilangan Nathan, Kuggy sayang Nathan!!” rengekku. Tak peduli aku menjadi viral perhatian. Nathan jauh lebih penting.

Tiba-tiba Nathan berdiri. Tubuh tegapnya masih terbentuk jelas walaupun ia memakai jubah. Ia menghampiriku dan tangannya melingkar di sekitar pundak. Aku tenggelam dalam dekapannya. Begitu hangat dan semakin hangat karena Hormon Dopamine dan endorfin berkalaborasi menjadi satu. Kenangan mengemas itu semua dengan rapi tanpa ada yang terlewat ataupun tertinggal.
Orang-orang menyebutnya sebagai kenangan terakhir.

“Kuggy yang sabar ya, kuggy harus kuat. Nathan yakin cepat atau lambat Kuggy pasti bisa ngelupain Nathan. inget Gy. Kuggy masih punya yang maha penyayang. Yang maha penyayang bisa kok ngirim jutaan Malaikat seperti Nathan ke hidup Kuggy. Kuncinya sederhana. Berdo’a, melaksanakan semua perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Nathan yakin Kuggy bisa!!” Ucap Nathan yang sekaligus menjadi ucapan terakhirnya. Hormon dopamine dan endorfin mereda, selaras dengan kehangatan yang seperti debu ditiup angin. Hilang menyisakan jejak. jejak yang indah.

Nathan, aku sayang kamu aku berjanji kepada diriku sendiri. Nathan akan menjadi malaikatku lagi. I’m, Promise

Cerpen Karangan: Imam Nur Hidayat
Blog: inurhidayat123.blogspot.com
Wattpad.com: https://www.wattpad.com/user/ImamHidayat5
Andai

Andai

Judul Cerpen Andai

Di malam yang berakabut tebal, tubuhku terbujur kaku di atas kasur apak. Tidak ada lagi kehidupan yang bisa aku perjuangkan. Hanya lentera kecil di sudut kamar yang setiap kali mengingatkanku pada sebuah penyesalan, penyesalan yang mungkin tak terlupakan hingga ku di alam baka. Sahut marut celoteh keluarga dan kerabat yang biasa melebarkan sejengkal rasa gembira, kini pupus ditelan tuli kegelapan hati.

Andai detik ini tak tertulis sebuah takdir di laul mahfud, akan kupinjam pena dari genggaman malaikat tak bersayap. Tintanya yang hitam berkilau bagai mutiara papua menetes kental di atas kertas kosong. kertas kosong yang terbang tak memiliki arah tujuan untuk berhenti di suatu tempat.

Tubuhku semakin melemah karena penyakit yang tak jelas dari mana asal dan penyebabnya, hanya bisa menuding layaknya lalat hijau yang menebar penyakit di setiap lingkungan yang ia hinggapi.

Dari perjalanan kisah aku dipaksa marantau hingga tak kenal lelah. tapi, semua telah hilang menjadi harapan fatamorgana. kini penguasa alam telah memanggil salah satu kelengkapan jasadku. ia memberi pena yang lebih istimewa. pena yang bertintakan jutaan warna. Ia perintahkan diriku yang tiba-tiba segar bugar, layaknya waktu ia rubah seperti sekian masa. masa dimana bujang priangan masih meraja lela di atas gelapnya dunia karena perpecahan negara. ia perintahkan aku tuk tulis “Andai” di kertas yang kotor dan penuh coretan tangan mungil.

Cerpen Karangan: J. Rasta
Facebook: Keceng Da Costa