Harapan Palsu

Baca Juga :
    Judul Cerpen Harapan Palsu

    Pagi itu aku melangkahkan kakiku untuk menuju ke sekolah. Aku Aqilah seorang gadis yang duduk di bangku kelas 8 SMP. Memang masih terlalu dini untuk merasakan Cinta. Tapi mau dibilang apa? Jika nyatanya cinta itu sendiri yang datang dalam kehidupanku.

    Seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Saat jam Istirahat tiba aku dan Zahra, teman sebangkuku segera pergi ke kantin untuk mengisi perut. Saat aku ke luar kelas ternyata Rangga telah menungguku. Rangga adalah kekasihku. Kami memang baru sekitar 1 bulan menjalin hubungan, tapi hubungan kami sudah banyak diketahui siswa siswi di sekolah, termasuk Kakak kelas.
    “Qil, ke kantin bareng yuk!” Ajak Rangga.
    “Emm, gimana ya? Bukannya gak mau tapi gue udah sama Zahra.” Jawabku.

    Kami memang sudah berpacaran, tapi aku tidak mau mengubah gaya bahasaku padanya. Aku bilang padanya kalau aku tidak suka berbicara dengan laki laki menggunakan “AKU KAMU”. Dia pun mengerti.

    “Eh Qil? Kenapa lo gak mau bareng sama Rangga?” Tanya Zahra saat kita sudah duduk di bangku kantin.
    “Emm, gak papa. Gue cuma lagi males aja sama dia.” Jawabku.
    “Lo lagi berantem ya sama Rangga?” Tanya Zahra.
    “Ya gitu deh.” Jawabku santai.

    Saat kami sedang makan di kantin Zahra merasa ada yang memperhatikan kami.
    “Qil, lo ngerasa gak sih?” Tanya Zahra.
    “Ngerasa apa?” Kataku berbalik nanya.
    “Kayanya ada yang ngeliatin kita deh.” Jawabnya.
    “Siapa?” Tanyaku.
    “Itu yang lagi duduk di seberang.” Jawab Zahra sambil melirik ke arah meja seberang.
    Ternyata di meja seberang ada segerombolan kakak kelas laki laki. Sepertinya mereka memang sedang memperhatikan kami sambil berbisik bisik.
    “Masuk kelas aja yuk! Gue risi nih diliatin.” Kataku yang mulai Risi diperhatikan oleh mereka.
    “Ayo.” Jawab Zahra.

    Kami berdua pun masuk kelas. Saat kami sedang berjalan menuju kelas, 3 orang kakak kelas menghampiri kami.
    “Dek?” Tanya seorang kakak kelas.
    “Lo manggil gue?” Tanyaku.
    “Iya, gue boleh minta nomer HP lo gak?” Tanyanya.
    “Buat apa?” Tanyaku.
    “Buat daftar PENSI.” Jawabnya.
    Aku memang salah satu panitia acara Pensi yang akan diselenggarakan bulan depan.
    “Ya udah.” Kataku.
    Aku pun memberi nomer handphoneku kepadanya.

    Aku dan Zahra kembali berjalan menuju kelas. Saat di depan kelas lagi lagi Rangga menungguku.
    “Qil!” Panggilnya.
    “Kenapa?” Tanyaku.
    “Tadi siapa?” Tanyanya.
    “Yang mana?” Tanyaku.
    “Yang tadi ngobrol sama lo.” Ucap Rangga.
    “Anak yang mau daftar pensi.” Jawabku enteng.
    Aku segera masuk ke dalam kelas tanpa menunggu respon dari Rangga.

    Hari sudah malam, aku sudah pulang dari sekolah sejak sore. Saat aku sedang santai di kamarku sambil mendengar musik, tiba tiba HP ku bergetar menandakan ada telepon masuk. Aku mengangkatnya terdengar suara yang tidak asing bagiku, tapi aku tak tahu siapa itu.
    “Halo?” Ucapku.
    “Halo ini gue Fikri yang tadi minta nomor lo.” Ucapnya di seberang sana.
    “Oh, mau daftar pensi ya?” Jawabku.
    “Enggak kok. Tadi temen gue udah daftar ke ketua panitianya.” Jawabnya.
    “Terus?” Tanyaku.
    “Emm, nama lo siapa?” Tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.
    “Aqilah.” Jawabku.
    “Boleh minta pin BBM?” Tanyanya.
    “Buat apa?” Tanyaku.
    “Biar lebih kenal aja.” Jawabnya.
    “Ya udah.” Jawabku.

    Entah kenapa aku begitu mudah memberikan PIN ku kepada orang yang baru saja kukenal. Setelah Hari itu aku mulai dekat dengan Fikri. Bahkan aku pun hampir melupakan kekasihku sendiri. Aku mulai merasa nyaman dengan Fikri, dia selalu perhatian denganku tidak seperti pacarku yang tidak perhatian padaku.

    Suatu hari aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Rangga, karena sikapnya yang tidak seperti kekasih pada umumnya. Aku pikir setelah aku putus dengan Rangga aku bisa lebih dekat dengan Fikri. Tapi nyatanya Fikri malah menjauh dariku. Aku tak tahu mengapa itu terjadi. Banyak yang bilang kalau Fikri telah jadian dengan teman sekelasnya. Hatiku teras sesak. Ternyata selama ini Fikri hanya memberiku harapan palsu.

    Sejak Hari itu aku sadar bahwa tak seharusnya kita melepas seseorang untuk seseuatu yang belum pasti.

    Cerpen Karangan: Frilly Afriska
    Facebook: Frilly Alharith Jung

    Artikel Terkait

    Harapan Palsu
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email