Teman Tak Sejahat Cinta

Baca Juga :
    Judul Cerpen Teman Tak Sejahat Cinta

    Gradak… suara keras yang membangunkan keheningan alam bawah sadarku untuk beralih kembali seperti semula. Seketika kubuka mata yang beberapa jam tertutup karena letih yang membawaku untuk menelentangkan badan di benda empuk favoritku. Segar rasanya badan yang telah lama tak bisa nyaman karena alas tidur yang keras tak lagi kurasakan. Kuangkat badanku dan langsung membuka pintu kamar mungil ini untuk kemudian berjalan menuju kamar mandi. Kubasuh wajah yang masih beraroma mimpi, lalu kulakukan rutinitas setiap pagi untuk membersihkan diri. Terasa begitu segar badan yang beberapa saat lalu berhawa letih ini. Kemudian kubuka pintu kamar mandi dan beranjak ke luar. Tiba-tiba terdengar suara yang bertaya kepadaku.

    “kamu mau kemana kok pagi-pagi udah bangun?” tanya ibu kepadaku
    “lha kan emang aku selalu bangun pagi bu, hehe.” Jawabku dengan sedikit bercanda
    “biasanya kamu juga bangun siang setiap hari, kok tumben sekarang bangun pagi, mau kemana kamu?” tanya Ibu kepadaku
    “ini bu, ada acara maen sama temen-temen kelas. Kan mumpung sekarang lagi liburan bu.” Jawabku
    “kamu ini, kalo disuruh ibu bangun pagi aja gak mau. Nah ini giliran mau maen aja semangat banget.” Kata Ibu dengan nada sewot
    “heheee, namanya juga anak muda bu.” Jawab aku dengan sedikit bercanda
    “ya sudah, nanti sebelum berangkat jangan lupa makan dulu. Minum susu jangan lupa.” Jawab Ibu sambil berjalan menuju dapur
    “siaappp ndan.” Jawabku sambil berjalan menuju kamar mungilku

    Hari itu bertepat dengan hari libur sekolah. Dan pada hari itu aku dan teman-teman sekelas berencana untuk liburan bareng di sebuah tempat wisata yang ada di daerah kabupaten tempat rumahku berada. Semangat rasanya, hingga hal yang terasa berat untuk kulakukan sekarang dapat terlaksana, yaitu bangun pagi.

    Pingg.. piing suara dering handphoneku berbunyi. Seketika kuambil handphonku dan kubuka pesan singkat via bbm itu. Dan ternyata itu adalah pesan dari Sinta. Sinta adalah temen cewek satu kelas denganku. Sinta merupakan idaman semua lelaki yang pasti terkesima melihatnya, karena ia memiliki paras yang cantik, dan termasuk golongan siswi pintar di sekolah tempatku menuntut ilmu ini. Tak heran jika banyak sekali cowok di sekolahku yang ingin mendapatkan hati Sinta, begitu juga dengan aku. Namun mungkin memang takdirku yang benar-benar beruntung karena di antara banyak cowok yang ingin mendapatkan hati Sinta, hanya aku yang dapat dekat sekali dengannya. Namun ada satu penghalang yang membuatku bingung tentang hal ini. Akan tetapi hal ini tak membuatku gentar untuk terus mengejar hati Sinta. Dino namanya, dia adalah teman satu kelasku yang juga ingin mendapatkan hati sinta. Aku dan Dino berteman biasa saja, tak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh, mungkin hanya sebatas teman yang bertemu di kelas saja. Terkadang sering aku lihat, Dino mencoba berbincang-bincang dengan Sinta di depanku, namun aku anggap itu hal biasa saja, karena memang aku dengan Sinta juga tidak ada hubungan apa-apa. Kembali kepada pesan singkat Sinta kepadaku, dalam pesannya Sinta ingin mengajakku untuk berangkat bareng.

    “Rio, kamu berangkat maen sama siapa?” tanya sinta kepadaku via pesan singkat yang dikirim kepadaku
    “emmm sendirian sin. Kenapa hayoo?” jawabku dengan sedikit menggoda Sinta
    “hehehe ini aku mau bareng ya. Soalnya aku gak boleh sama mama kalo berangkat sendirian.” Jawab Sinta
    “ohhh, ayuuuk, tapi kalo aku sama kamu berangkatnya, apa gak ada yang marah nih?” Jawabku dengan sedikit basa-basi
    “yaa gak ada lah, siapa juga yang arah coba. Gimana mau gak?” Jawab Sinta
    “okee daah siap. Aku jemput ke rumahmu habis ini. Sudah siapkah non?” jawabku pada Sinta
    “sudah siap kok pak. Kalo udah nyampe rumah langsung ketok pintu saja ya.” Jawab Sinta
    “oke siap Sinta..” Jawab Sinta

    Setelah membalas bbm dari Sinta, aku langsung bergegas menyiapkan segala hal yang akan aku bawa. Dengan rasa penuh semangat aku berdandan mencoba memberikan style terbaik yang aku miliki, ya meskipun pada akhirnya style dandananku tetap kalah dengan anak cowok zaman sekarang. Setelah semuanya siap, aku ke luar dari kamarku dan berpamitan dengan ibu.
    “ibuuu, aku berangkat dulu yaaa.” Kataku pada Ibu
    “iya nak, lho ini susunya diminum dulu.” Jawab Ibu kepadaku
    “oh iya lupa bu.” Jawabku sambil berjalan menuju meja untuk mengambi susu dan kuminum
    “gak sarapan dulu?” tanya Ibu kepadaku,
    “enggak bu, masih belum laper.” Jawabu pada Ibu,
    “Iya sudah, hati-hati lho ya, jangan pulang sore-sore.” Kata Ibu kepadaku,
    “siap bu, ya sudah aku berangkat ya. Assalamualaikum.” Kataku pada Ibu sambil mencium tangannya dan beranjak ke luar rumah
    “Iya nak, waalaikumsalam.” Jawabku pada Ibu,

    Kuhidupakan sepeda tuaku yang aku punya ini, dan siap meluncur menuju rumah Sinta. Di jalan rasa senang bercampur bahagia senantiasa menyelimuti pikiranku. Sedikit tidak percaya kalau aku sekarang akan berboncengan dengan Sinta. 15 menit pun berlalu, dan aku telah sampai di depan rumah Sinta. Langsung kujagang sepedaku dan kemudian berjalan menuju pintu rumah Sinta.

    “tok… tok.. tok.. Assalamualikum.” Kataku sambil mengetok pintu rumah Sinta
    “Waalaikumsalam.” Jawab seseorang sambil berjalan menuju pintu dan yang aku pikir itu adalah suara Sinta
    “hey, Rio. Ayo masuk dulu.” Kata Sinta kepadaku

    Terkagum melihat cewek cantik berada di depanku. Dengan memakai kerudung berwara pink dan memakai baju modern ala hijab zaman sekarang, Sinta terlihat begitu sangat cantik. Sambil aku bersalaman dengannya, mataku tak lelah untuk terus melihat kilauan indah berlian dalam indra penglihatannya itu. Kemudian aku beranjak masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi yang berada di ruang tamu rumah istananya itu.

    “ayo masuk dulu. Aku tak ambil tas bentar ya” Kata sinta padaku
    “Iya sin.” Jawabku pendek pada Sinta

    Selang beberapa menit, kulihat Sinta ke luar dari kamarnya dan telah siap untuk berangkat.
    “ayo berangkat.” Ajak Sinta kepadaku
    “sudah siap kah non?” tanyaku pada Sinta
    “sudah pak, ayooo berangkat.” Jawab Sinta

    Setelah semuanya siap aku dan Sinta siap untuk berangkat menuju ke tempat wisata yang kami dan teman-teman kelas tuju. Di dalam perjalanan aku dan Sinta tak henti-hentinya mengobrol entah apa saja yang jadi bahan obrolan. Hingga salah satu dari teman kami yang sudah berada di tempat meneleponku saat aku sedang berada di jalan dengan Sinta.
    “kamu sama Sinta ya?” Tanya temanku
    “iya brooo, hehehe, kenapa?” Jawabku
    “pantesan lama banget, ayo cepetan, anak-anak sudah pada nunggu semua ini.” Kata temanku
    “Iya ndan, 15 menit lagi nyampe kok.” Jawabku
    “okeee, jangan belok belok ya hahaha” Kata temanku dengan sedikit bercanda
    “ya pasti enggak lah.” Jawabku

    Setelah telepon dari temanku telah mati, sinta bertanya kepadaku
    “siapa yang telepon?” tanya Sinta kepadaku
    “ini lho Toni, katanya kita suruh cepetan, soalnya anak-anak sudah pada ngumpul disana semua.” Jawabku
    “hahahaha ya sudah ayo cepetan. Entar kita malah dimarahin.” Kata Sinta
    “iya neng, pegangan biar gak jatuh hehehe.” Jawabku dengan sedikit bercanda
    “halah kamu ini modus mulu ihh.” Jawab Sinta dengan sedikit senyuman muncul di wajahnya

    Kembali kutancap gas motorku, terkadang ketika kita sedang melewati jalanan yang sedikit rusak, Sinta berteriak dan tangannya berpegangan pada pingganggku, sering kutengok wajah cantiknya pada spion sepedaku dan tak sedikit juga aku ketahuan bahwa aku sedang memperhatikannya melalui spion motor. Perasaanku benar-benar bahagia hari ini, dan kemudian muncul pada pikiranku untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya nanti. Tapi aku takut untuk melakukannya, namun Sinta selalu memberikan sinyal positif kepadaku yang aku yakini bahwa dia juga suka padaku.

    Selang beberapa menit aku mengendarai motor dengan Sinta, akhirnya kami sampai di tempat yang kami tuju, kulihat dari jauh disana telah banyak temen-teman kelasku yang sudah datang dan menunggu aku dan Sinta. Sesampainya di tempat parir, aku dan Sinta berjaan menuju sebuah warung dimana disana teman-temanku sedang duduk-duduk dan menunggu kami.

    “cie cieeee, lama baget ya jalannya.” Goda salah satu teman cewekku kepada kami
    “iya nih, Rio sama Sinta lama banget. Sampe kering tau kami nunggu disini.” Kata salah satu teman cowokku
    “maaf temn-teman, tadi aku soalnya agak bangun kesiangan.” Jawabku
    “ah sudah-sudah, ayo kita mulai acaranya.” Kata Dino dengan nada yang kesal

    Aku, Sinta, Dino dan semua teman kelasku berjalan menuju ke tempat utama yang ada di tempat wisata itu. Saat berjalan pun, aku tetap berdekatan dengan Sinta. Tatkala sedang melewati jalan yang rusak dan licin, tanganku dan tangan Sinta saling berpegangan. Hari itu kami dan Sinta benar-benar seperti orang pacaran. Dan yang tak aku habis pikir, ternyata Dino saat aku berjalan dengan Sinta, selalu berada di belakangku dan memperhatikan kami. Sediit tidak enak rasanya, namun bagaimanapun aku harus melakukan ini, karena aku ingin Sinta menjadi milikku.

    Kami telah sampi di tempat yang kami tuju, kemudian kami melakukan beberapa acara pada hari itu. Ada beberapa teman yang sedang bermain-main gitar, kemudian ada yang sedang mandi di pantai, ada juga yang sedang membaka ikan yang mereka beli di depan tadi. Kemudian dengan aku, aku hanya mengobrol asyik dengan beberapa teman cowokku. Tak kulihat Sinta waktu itu, yang aku tahu setelah sampai di tempat yang kami tuju, Sinta berbicara kepadaku bahwa ia akan gabung dengan teman-teman ceweknya. Kutengokki seluruh isi tempat itu dari tempat aku duduk sekarang, namun tak melihat wajah cantik Sinta, hinngga aku tajamkan pandanganku pada bebatuan di samping pantai yang kira-kira berjarak 30 meter dari tempatku duduk. Sedikit kaget, karena yang aku lihat, Sinta dan Dino yang sedang mengobrol berdua disana. Panas rasanya perasaan ini, bercampur sedikit rasa cemburu yang terasa. Namun aku harus memiliki pikiran positif, bahwa aku dan Dino memang sedang berjuang untuk mendapatkan Sinta, kemudian aku pun melanjutkan obrolan asyik dengan beberapa temanku dengan perasaan yang tidak mengenakkan ini.

    Tiba-tiba terdengar suara cowok yang berjalan dan memanggilku.
    “Rio, aku mau ngobrol sama kamu sebentar, boleh?” kata dia kepadaku, yang aku lihat dia adalah Dino,
    “iya Din, ada apa?” jawabku sambil berjalan beberapa meter menjauh dari beberapa temanku yang sedang mengobrol denganku tadi,
    “gini, kamu sekarang lagi deket ya sama Sinta?” tanya Dino kepadaku,
    “Iya emang, kenapa?” Jawabku pendek,
    “aku tau kamu lagi deket sama Sinta sekarang, dan aku mau bilang sama kamu mending jauhin dia deh.” Kata Dino,
    “lho emang kenapa? Kamu takut kalo aku jadian sama dia, mankanya kamu bilang kayak gini.” Jawabku dengan nada kesal,
    “bukan begitu Rio, aku Cuma ngingetin ke kamu. Ketimbang nanti kamu terlalu dalem dan hatimu sakit karena dia.” Kata Dino menjelaskan,
    “alah, ini Cuma akal-akalan kamu aja. Kamu kalo emang juga suka sama Sinta gak maen pake cara licik kayak gini, banci lo.” Jawabku dengan nada marah dan membentaknya,
    Mendengar aku dan Dino seperti orang bertengkar, teman-temanku menghampiri kami dan melerai
    “ada apa ada apa?” kata salah satu temanku sambil menengahi antara aku dan Dino,
    “Gak usah ikut campur, ini bukan masalahmu.” Jawabku dengan emosi
    Kemudian karena emosi telah menyelubungi tubuhku, aku mendorong Dino hingga ia terjatuh ke tanah. Kemudian Dino bangun dan hendak membalas apa yang aku lakukan, namun salah satu temanku telah memegangi Dino yang membuat Dino tak bisa melakukannya. Aku ditarik oleh temanku menuju pinggir pantai, begitu juga dengan Dino namun jaraknya agak berjauhan denganku.

    Beberapa jam berlalu di hari itu, hingga sang fajar tiba tiba berada di pucuk barat bumi, teramat indah rasanya, dan aku berpikir momen ini adalah momen yang pas untuk mengungkapkan perasaanku kepada Sinta. Kemudian pada saat itu juga, kuhampiri Sinta yang sedang sendirian berdiri di pinggir pantai menikmati sunset yang indah itu.
    “Hay Sin.” Sapaku kepada Sinta,
    “eh Rio, kenapa? Ngajakin pulang?” jawab Sinta,
    “Enggak kok, aku cuma mau nemenin kamu aja. Boleh kan?” kataku,
    “iya pasti boleh lah. Gitu aja pake tanya kamu ini.” Jawab Sinta
    “hehe ya takut aja Sin. Eh bagus ya Sunsetnya.” Kataku sambil kupandang mata indah itu
    “iya, tenang banget rasanya kalau lihat hal indah seperti ini.” Jawab Sinta
    “bener banget, apalagi kalau bareng sama orang yang pas, kayak kita ini.” Kataku sambil sedkit tersenyum,
    “hah maksudnya?” Jawab Sinta dengan nada yang sedikit kaget,

    Kemudian perlahan tanganku menuju meraih tangan Sinta, kupegang kedua tangannya. Seketika Sinta menolehkan seluruh badan dan pandangannya kepadaku. Kutatap kedua mutiara indah pada bagian cantik dalam tubuhnya itu.
    “Sinta, aku sayang sama kamu Sin. Dari dulu aku sering merhatiin kamu, dan sekarang karena ada kesempatan aku bisa jauh lebih deket sama kamu, aku ungkapkan semua ini. Kamu mau gak jadi pacarku?” kataku pada Sinta dengan nada gugup dan perasaan takut akan hal ini,
    “maaf Rio, aku gak bisa jawab sekarang. Aku perlu beberapa hal untuk bisa jawab pertanyaan kamu yang berat ini. Jika kamu mau nunggu aku silahkan, namun jika tidak, aku Cuma bisa bilang terimakasih.” Jawab Sinta yang mengagetkan aku,
    “iya tidak apa Sinta, aku bakan nunggu jawaban kamu hari ini, dan intinya aku sayang sama kamu.” Jawabku dengan tenang

    Hari itu pun telah berubah menjadi gelap, rasa capek pada diriku telah menyinggahi badan ini. Benar-benar hari yang penuh warna, senang, bahagia, sedih dan amarah bercampur mewarnai hari ini. Aku dan Sinta tetap seperti hari-hari kemarin, namun aku lebih sering menghubungiya via telepon, bahkan hampir tidak ketinggalan suara ucapanku kepadanya sebelum ia memejamkan mata cantik itu. Saat di sekolah pun, kami lebih sering berdua, mengobrol berdua, makan di kantin berdua, bahkan hampir tak ada waktu buatku untuk mngobrol asyik dengan teman cowok di kelasku. lalu dengan Dino, ia sangat berbeda. Dino tidak pernah sama sekali mengobrol dengan Sinta semenjak kejadian itu, entah kenapa aku jadi tidak enak dengannya. Aku dan Dino pun tidak sama sekali pernah bersapa kata. Kemudian kisahku dengan Sinta sampai hari ini pun tetap tergantung. Setiap kali aku bertanya masalah hubungan ini, Sinta hanya menjawab belum waktunya. Hingga suatu hari saat itu adalah ulang tahun Sinta, kupersiapkan semua yang terbaik di hari itu demi memberikan surprise pada Sinta. Berharap hari itu Sinta akan menjawab pertanyaanku selama ini.

    Bel sekolah pun berbunyi, aku pun segera bergegas ke luar untuk melaksanakan rencanaku hari ini. Aku tidak sendirian, aku dibantu oleh beberapa temanku. Kuambil kue yang akan aku berikan pada Sinta, dan beberapa bingkisan. Kubawa beberapa benda bahagia itu menuju ke kelas. Dan tak kusangka, Sinta sudah tidak berada di kelas.

    “lho Sinta kemana?” Tanya pada teman yang masih berada di kelas,
    “dia sudah jalan pulang tadi, coba liat di parkiran sepeda.” Jawab Tyas teman satu kelasku
    “ya sudah maksih ya, ayo ikut semua temen temen.” Kataku pada mereka sekalian mengajak untuk mengikutiku

    Aku berjalan dengan cepat dan semangat menuju tempat parkir di sekolahku dengan beberapa teman yang mengikuti dari belakang. Setelah sampai di tempat parkir, kulihat ada seorang cewek yang aku kenal sangat jelas sedang bergandeng tangan dengan seorang cowok yang tak aku kenal. Kutajamkan pandanganku pada suatu objek yang menarik perhatian itu. Kemudian dia yang kulihat menoleh ke belakang menuju ke arahku. Tak tahu rasanya, entah bagaimana caraku mengungkapkannya kejadian hari itu. Aku ingin menangis, tapi tidak mungkin aku lakukan, aku ingin meronta tapi aku sadar aku ini siapa. Ia yang selalu aku harapkan, selalu aku selipkan dalam setiap doaku, selalu menghampiri dalam setiap mimpi tidurku, bahkan ucapan selamat tidurku pun tak pernah telat kuutarakan kepadaya, sekarang sedang bergandengan tangan dan keningnya tercium oleh pria yang tak aku kenal namnaya. Begitu hancur hati rasanya, seperti sebuah kue yang kubawa berserakan karena tanganku tak kuat membawanya. Aku tertunduk, dan kemudian berjalan kembali mundur menuju kelas. Banyak ucapan-ucapan dari samping depan dan belakangku “Sabar ya Rio” sampai ucapan terakhir yang mengheningkanku
    “sabar ya teman, aku sudah pernah merasakannya.” Suara itu yang aku kenal,
    Seketika aku rangkul dia, dia adalah Dino, teman yang mengingatkanku agar tidak mendekati Sinta, karena ia telah merasakan terlebih dahulu rasa sakit yang Sinta buat kepadaku yang sama rasanya dengan yang aku rasakan saat ini.
    “terimaksih Din, maaf aku telah salah sangka kepadamu.” Kataku pada Dino,
    “tidak apa Rio, sekarang kamu telah mengetahui sendiri betapa munafiknya dia. Jadikan ini sebuah pengalaman untukmu.” Jawab Dino,

    Karena tak kuat menahan sakit, aku pun bergegas mengambi tas yang masih berada di kelas, dan beranjak pulang menuju rumah. Hari itu pun sangat kelabu, terasa sangat patah harapan. Hari demi hari pun terlalui dengan hati hancur ini, hanya diam, dan sedikit air mata yang ke luar karena tak kuasa kutahan. Hingga suatu hari, terdengar suara sepeda motor di depan rumahku, kutengok dari jendela kamarku, kulihat ia adalah Dino dan beberapa teman kelasku. Aku hampiri dia yang sudah dipersilahkan masuk ke dalam ruangan oleh ibuku.

    “halo kawan.” Sapaku sambil kujabat tangan mereka
    “kok galau mulu sih kamu? Ayo ikut kita.” Kata Dino sambil mengajakku
    “kemana Din?” tanyaku
    “Ayo sudah ikut saja.” Kata Dino meyakinkanku
    “oke tunggu ya, aku siap-siap dulu.” Jawabku

    Hari itu aku dan beberapa teman dekatku bermain di sebuah tempat. Aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan kepadaku, aku hanya diam dan ikut saja dengan meraka. Sampai akhirnya kami telah sampai di sebuah pantai yang indah.
    “ayo turun, kita luapkan semuanya disini.” Kata Dino, sambil mengajakku berjalan menuju pantai,
    Aku hanya menganggukkan kepala dan mengikutinya. Sesampainya di pantai kami berlima beberapa saat terdiam menikmati indahnya alam ini. Hingga salah satu dari kami yaitu Dino mengatakan sesuatu.

    “teman-teman, sore ini kita lakukan sesuatu hal unuk meluapkan apa yang terpendam dan mengganjal dalam perasaan kita, terutama buat kamu Rio.” Ucap Dino saat itu,
    “Thanks Din.” Jawabku pendek
    “ayo bareng-bareng kita semuanya berteriak sekeras mungkin, sampai apa yang mengganjal dalam perasaan kita hilang.” Ucap Dino dengan semangat
    “dalam hitungan ketiga tarik nafas dalam-dalam dan teriakkan sekencang kencangnya. 1.. 2.. 3.. Aaaaaaaaaa…”.

    Hari itu kita semua seperti telah menghempaskan segala hal yang mengganjal dalam perasaan. Setelah semua merasa nyaman dan rileks, kami duduk di pinggir pantai, saling curhat, bercanda gurau, hingga tak sadar matahari telah tenggelam oleh malam. Semenjak kejadian itu pun, aku semakin dekat dengan mereka, terutama Dino. Hampir setiap malam minggu akau selalu main ke rumahnya. Kami pun tidak menghiraukan lagi mengenai Sinta. Yang ada di pikiran kami, Sinta hanya makhluk indah ciptaan Tuhan yang tak pantas dimiliki karena rasa yang tulus pada sosok pria.

    Cerpen Karangan: Cahya Prana W.U
    Facebook: Cahya Prana

    Artikel Terkait

    Teman Tak Sejahat Cinta
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email