Judul Cerpen Lamunan Rani
Minggu pagi itu. Keceriaan yang penuh dengan canda dan tawa berubah seketika ketika salah seorang anak perempuan hilang dari rombongan kunjungan TK Pelangi ke Kebun Binatang Bandung. Sontak, hal ini membuat guru pendamping kebingungan dan membuat anak yang lain panik dan cemas. Hari semakin sore, dan jam sudah menunjukan pukul 17.00. Anak itu belum juga kembali. Akhirnya, pihak pengurus TK melaporkan hal ini ke kepolisian dan mengakhiri pencariannya hari ini.
Pancarani Sarasvati. Seorang perempuan yang hilang di kebun bintang bintang itu kini sudah berusia 17 tahun. Kejadian 13 tahun lalu itu masih terngiang di pikiran Rani (Nama Panggilan Pancarani), dimana ketika ia pergi ke kamar mandi tiba-tiba ada tangan perempuan yang menarik ia lalu pergi entah kemana. Kejadian begitu cepat, sehingga Rani lupa akan detail kejadian itu. Kini, Rani tinggal di panti asuhan Kasih Bunda, Jakarta. Konon, Rani ditemukan di depan panti asuhan.
“Rani.. Oh.. Rani. Kenapa engkau melamun.”
Suara nyanyian dari Radit itu membangunkan Rani dari lamunanya.
“Apa’an sih. Suara kamu itu fales, saya dengar suara kamu aja serasa mau pingsan.” Respon Rani mendengar nyanyian Radit yang membangunkan ia dari lamunannya.
“Lebay kamu Ran. Lagian jam istirahat gini biasanya kamu ke katin malah ngelamun sendirian di kelas gini. Untung gak kesambet.”
Tanpa menggubris omongan Radit. Rani tiba-tiba berlari ke depan kelas lalu memanggil sesosok perempuan tua berkepala 4 mengenakan seragam guru. Ia adalah Bu Iren, Guru Matematika sekaligus Ibu Panti Rani.
“Bunda…!” Panggil Rani kepada Bu Iren. Rani memang selalu memanggil Bu Iren dengan panggilan Bunda.
“Hey, Rani. Kamu kenapa? Kok seperti sedih. Hah, Bunda tahu pasti kamau memikirkan hal-hal itu lagi kan?”
“Iya, Bunda”. Jawab Rani.
“Bunda pernah bilang kepadamu kan, Nak? Bahwasannya masa lalu manusia itu tak ada yang sempurna, kamu punya kenangan yang pahit akan masa lalu. Tetapi, masa depan akan menjadi jawaban, bahwasannya setiap manusia bisa berubah untuk lebih baik. Dan kamu Rani yang cantik, kamu bisa merubah masa lalu kamu yang kelam dengan cara merubah masa yang pahit dengan masa yang manis dan dipenuhi senyuman. Kamu paham kan, Nak?”.
“Hehehe. Iya, BuNda. Terimakasih Bunda atas nasehatnya.”
“Iya, Nak. Pulang sekolah nanti Rani jangan langsung ke panti ya. Main ke rumah Bunda dulu. Temani Gito.”
“Oke, Bunda.”
Gito merupakan anak dari Bu Iren, dan ia merupakan sahabat dekat Rani dari kecil. Umur Rani dan Gito itu sama, hal ini membuat keduanya amat akrab. Kadang dikala waktu senggang Rani selalu mengunjungi rumah Bu Iren untuk sekedar menonton film dengan Gito.
Sore itu Rani datang telat ke Rumah Bu Iren. Rapat Osis mendadak membuat Rani tiba di Rumah Bu Iren Jam 4 Sore.
“Assalamualaiku. Gito.”
“Walaikumsalma. Eh, kamu Ran. Jam segini baru pulang?”
“Iya, Git. Biasa orang peting, rapat osis dulu”
“Penting bagimu tak penting bagiku.” Goda Gito kepada Rani.
“Ishhhh. Nyebelin”
“Udah ayo masuk. Kita nonton film horor baru.”
Rani memang selalu menemani Gito ketika Bu Iren sedang pergi ke luar kota untuk urusan pribadinya dan biasanya Bu Iren akan pulang keesokkan harinya. Rani selalau menginap di rumah Gito, bersama 2 pembantu Rumahnya.
“Git. Kayaknya untuk hari ini mending kita ngerjain PR Fisika deh. Kamu ada PR juga kan?” ajak Rani kepada Gito.
“Oke deh. Ambilin buku PR saya di kamar ya, Ren”
“Manja” respon Rani sambil menjulurkan lidah.
Di kamar Gito.
Rani langsung mencari buku PR fisika Gito di meja belajar. Tetapi, ada satu buku yang menarik perhatian Rani. Buku bersampul putih dengan tinta merah di atas buku tersebut, bertuliskan “Puisi ini untukmu”. Namun, ketika hendak membuka buku tersebut Rani enggan dan merasa tak enak kepada Gito. Hal itu berubah ketika rasa ingin tahunya memuncak dan akhirnya Rani membuka buku tersebut.
“Izin buka buku kamu ya, Git.” Rani meminta izin dengan suara pelan agar tak diketahui oleh Gito. Karena Rani tahu, pasti Gito tak akan memberi izin.. Rani lalu membuka buku tersebut, selembar kertas ia sibak dan di lembar pertama terdapat puisi yang membuat Rani kembali melamun.
“Panccarani Sarasvati.
Kita dekat, hanya sebatas sahabat.
Dan, ketika kau jauh, rasanya ada yang hilang dari hudpku.
Rani, kuharap kau tahu. Aku cinta kamu, untuk sekarang dan lain waktu.
Jangan jauh-jauh dariku. Ada setengah hidupku, di hidupmu.”
Puisi tersebut membuat Rani melamun untuk beberapa lama. Sebelum lamunan Rani itu buyar oleh suara Gito yang sudah ada di sampingnya.
“Jadi kamu sudah baca puisi itu, Ran?.”
“Eh, Gito.” Rani kaget dan seketika langsung menutup buku puisi itu.
“Tak perlu kaget. Aku bersyukur kamu sudah tahu akan hal itu. Jadi, aku tak perlu susah payah untuk mengungkapkan rasa ini kepadamu. Kuharap kau mau untuk sekarang dan selamanya kau ada di sampingku, di dekatku, dan selalu bersamaku, sebagai teman hidup bukan lagi teman dekat. Bersediakah Rani?”
Ungkapan rasa Gito kepada Rani membuat Rani menitihkan air matanya. Sontak, Gito langsung memberikan sapu tangan kepada Rani.
“Kenapa kamu menangis?. Ini sapu tangan untukmu.” Tanya Gito kepada Rani.
“Jujur. Ketika aku kenal dengan kamu dan Bunda. Serasa, aku memiliki keluarga kembali. Tetapi, hal itu berubah ketika aku tahu bahwa kamu Gito, menyimpan rasa yang lebih kepadaku. Aku tak bisa terima kenyataan ini. Aku menganggpmu sudah sebagai kakak pengganti kakakku di bandung sana. Aku nyaman bersamamu. Tapi, tidak untuk menjadi seorang kekasih. Maaf.”
“Tak apa, Ran. Akau terima keputusanmu. Kita tetap bersahabat kan?”
“Iya.” Jawab singkat Rani.
Keduanya memutuskan untuk tetap menjadi sahabat sejati. Walaupun, Gito masih menyimpan rasa kepada Rani. Gito bepikir dia tak bisa memaksakan seseorang untuk memiliki rasa yang sama kepadanya. Akan tetapi, suatu saat nanti Gito bisa merubah hal tesebut. Karena cinta yang sempurna sejatinya bermula dari teman, lalu menjadi sahabat dan berakhir dengan ikatan cinta selamanya.
Cerpen Karangan: Adityo C.Y.
Facebook: Adit Ycy
Minggu pagi itu. Keceriaan yang penuh dengan canda dan tawa berubah seketika ketika salah seorang anak perempuan hilang dari rombongan kunjungan TK Pelangi ke Kebun Binatang Bandung. Sontak, hal ini membuat guru pendamping kebingungan dan membuat anak yang lain panik dan cemas. Hari semakin sore, dan jam sudah menunjukan pukul 17.00. Anak itu belum juga kembali. Akhirnya, pihak pengurus TK melaporkan hal ini ke kepolisian dan mengakhiri pencariannya hari ini.
Pancarani Sarasvati. Seorang perempuan yang hilang di kebun bintang bintang itu kini sudah berusia 17 tahun. Kejadian 13 tahun lalu itu masih terngiang di pikiran Rani (Nama Panggilan Pancarani), dimana ketika ia pergi ke kamar mandi tiba-tiba ada tangan perempuan yang menarik ia lalu pergi entah kemana. Kejadian begitu cepat, sehingga Rani lupa akan detail kejadian itu. Kini, Rani tinggal di panti asuhan Kasih Bunda, Jakarta. Konon, Rani ditemukan di depan panti asuhan.
“Rani.. Oh.. Rani. Kenapa engkau melamun.”
Suara nyanyian dari Radit itu membangunkan Rani dari lamunanya.
“Apa’an sih. Suara kamu itu fales, saya dengar suara kamu aja serasa mau pingsan.” Respon Rani mendengar nyanyian Radit yang membangunkan ia dari lamunannya.
“Lebay kamu Ran. Lagian jam istirahat gini biasanya kamu ke katin malah ngelamun sendirian di kelas gini. Untung gak kesambet.”
Tanpa menggubris omongan Radit. Rani tiba-tiba berlari ke depan kelas lalu memanggil sesosok perempuan tua berkepala 4 mengenakan seragam guru. Ia adalah Bu Iren, Guru Matematika sekaligus Ibu Panti Rani.
“Bunda…!” Panggil Rani kepada Bu Iren. Rani memang selalu memanggil Bu Iren dengan panggilan Bunda.
“Hey, Rani. Kamu kenapa? Kok seperti sedih. Hah, Bunda tahu pasti kamau memikirkan hal-hal itu lagi kan?”
“Iya, Bunda”. Jawab Rani.
“Bunda pernah bilang kepadamu kan, Nak? Bahwasannya masa lalu manusia itu tak ada yang sempurna, kamu punya kenangan yang pahit akan masa lalu. Tetapi, masa depan akan menjadi jawaban, bahwasannya setiap manusia bisa berubah untuk lebih baik. Dan kamu Rani yang cantik, kamu bisa merubah masa lalu kamu yang kelam dengan cara merubah masa yang pahit dengan masa yang manis dan dipenuhi senyuman. Kamu paham kan, Nak?”.
“Hehehe. Iya, BuNda. Terimakasih Bunda atas nasehatnya.”
“Iya, Nak. Pulang sekolah nanti Rani jangan langsung ke panti ya. Main ke rumah Bunda dulu. Temani Gito.”
“Oke, Bunda.”
Gito merupakan anak dari Bu Iren, dan ia merupakan sahabat dekat Rani dari kecil. Umur Rani dan Gito itu sama, hal ini membuat keduanya amat akrab. Kadang dikala waktu senggang Rani selalu mengunjungi rumah Bu Iren untuk sekedar menonton film dengan Gito.
Sore itu Rani datang telat ke Rumah Bu Iren. Rapat Osis mendadak membuat Rani tiba di Rumah Bu Iren Jam 4 Sore.
“Assalamualaiku. Gito.”
“Walaikumsalma. Eh, kamu Ran. Jam segini baru pulang?”
“Iya, Git. Biasa orang peting, rapat osis dulu”
“Penting bagimu tak penting bagiku.” Goda Gito kepada Rani.
“Ishhhh. Nyebelin”
“Udah ayo masuk. Kita nonton film horor baru.”
Rani memang selalu menemani Gito ketika Bu Iren sedang pergi ke luar kota untuk urusan pribadinya dan biasanya Bu Iren akan pulang keesokkan harinya. Rani selalau menginap di rumah Gito, bersama 2 pembantu Rumahnya.
“Git. Kayaknya untuk hari ini mending kita ngerjain PR Fisika deh. Kamu ada PR juga kan?” ajak Rani kepada Gito.
“Oke deh. Ambilin buku PR saya di kamar ya, Ren”
“Manja” respon Rani sambil menjulurkan lidah.
Di kamar Gito.
Rani langsung mencari buku PR fisika Gito di meja belajar. Tetapi, ada satu buku yang menarik perhatian Rani. Buku bersampul putih dengan tinta merah di atas buku tersebut, bertuliskan “Puisi ini untukmu”. Namun, ketika hendak membuka buku tersebut Rani enggan dan merasa tak enak kepada Gito. Hal itu berubah ketika rasa ingin tahunya memuncak dan akhirnya Rani membuka buku tersebut.
“Izin buka buku kamu ya, Git.” Rani meminta izin dengan suara pelan agar tak diketahui oleh Gito. Karena Rani tahu, pasti Gito tak akan memberi izin.. Rani lalu membuka buku tersebut, selembar kertas ia sibak dan di lembar pertama terdapat puisi yang membuat Rani kembali melamun.
“Panccarani Sarasvati.
Kita dekat, hanya sebatas sahabat.
Dan, ketika kau jauh, rasanya ada yang hilang dari hudpku.
Rani, kuharap kau tahu. Aku cinta kamu, untuk sekarang dan lain waktu.
Jangan jauh-jauh dariku. Ada setengah hidupku, di hidupmu.”
Puisi tersebut membuat Rani melamun untuk beberapa lama. Sebelum lamunan Rani itu buyar oleh suara Gito yang sudah ada di sampingnya.
“Jadi kamu sudah baca puisi itu, Ran?.”
“Eh, Gito.” Rani kaget dan seketika langsung menutup buku puisi itu.
“Tak perlu kaget. Aku bersyukur kamu sudah tahu akan hal itu. Jadi, aku tak perlu susah payah untuk mengungkapkan rasa ini kepadamu. Kuharap kau mau untuk sekarang dan selamanya kau ada di sampingku, di dekatku, dan selalu bersamaku, sebagai teman hidup bukan lagi teman dekat. Bersediakah Rani?”
Ungkapan rasa Gito kepada Rani membuat Rani menitihkan air matanya. Sontak, Gito langsung memberikan sapu tangan kepada Rani.
“Kenapa kamu menangis?. Ini sapu tangan untukmu.” Tanya Gito kepada Rani.
“Jujur. Ketika aku kenal dengan kamu dan Bunda. Serasa, aku memiliki keluarga kembali. Tetapi, hal itu berubah ketika aku tahu bahwa kamu Gito, menyimpan rasa yang lebih kepadaku. Aku tak bisa terima kenyataan ini. Aku menganggpmu sudah sebagai kakak pengganti kakakku di bandung sana. Aku nyaman bersamamu. Tapi, tidak untuk menjadi seorang kekasih. Maaf.”
“Tak apa, Ran. Akau terima keputusanmu. Kita tetap bersahabat kan?”
“Iya.” Jawab singkat Rani.
Keduanya memutuskan untuk tetap menjadi sahabat sejati. Walaupun, Gito masih menyimpan rasa kepada Rani. Gito bepikir dia tak bisa memaksakan seseorang untuk memiliki rasa yang sama kepadanya. Akan tetapi, suatu saat nanti Gito bisa merubah hal tesebut. Karena cinta yang sempurna sejatinya bermula dari teman, lalu menjadi sahabat dan berakhir dengan ikatan cinta selamanya.
Cerpen Karangan: Adityo C.Y.
Facebook: Adit Ycy
Lamunan Rani
4/
5
Oleh
Unknown
