Ares Kuat Kan?

Baca Juga :
    Judul Cerpen Ares Kuat Kan?

    Ares benar benar anak tengil. Temanku yang satu itu memang sudah gila. Dia mengintip rok cewek setiap pagi. Menggoda guru di koridor dan menjahili adik perempuannya sendiri. Tapi satu yang aku tahu. Ares sangat setia kawan. Dia bahkan rela mati kalau kau tau. Seperti sekarang ini.

    “maju! Ayo kalo belum puas! Bah!” Ares mengacungkan tangan kurusnya ke udara. Badannya sudah babak belur. Bahkan mulutnya mengeluarkan darah. Lawan kami tertawa melengking dengan cara merendahkan. Tidak Ares, cukup. Aku ingin mengatakannya tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku sendiri sudah tak mampu bergerak dan mencium tanah.
    “oke, rasakan ini anak sok jagoan!”
    “Aresi…!”



    “Kau seharusnya mendengarkanku kawan!” Don kalang kabut di samping kasur berjalan di koridor rumah sakit. Ares dengan bentuknya yang sudah tak karuan terbaring di atasnya. Aku mengikuti kasur berjalan itu seperti orang tolol. Semua ini tentu saja kesalahanku. Aku meludahi Rei, pentolan gank di SMA ku. Tapi apa lagi yang harus kulakukan? Dia memalaki setiap cewek-cewek yang akan antre kamar mandi. Mungkin lain ceritanya jika ia melakukannya pada cowok. Kami bisa mengatasinya. Tapi kepada cewek… Seseorang memang butuh pelajaran. Masih terbayang di benakku kengerian saat Rei mengusap ludahku dari wajahnya dan mulai membabi buta memukulku dengan sorak sorai anak buahnya di belakang. Aku berteriak minta tolong dengan putus asa. Terkadang memang aku tak memakai otakku. Ares datang. Aku tak tau dia ternyata masih menungguku. Ia menyerang Rei dan dua anak buahnya. Walau tubuh Ares kecil dan kurus dia cukup gesit juga. Mereka sempat kewalahan sampai kemudian rei menumbangkannya dan Don, kawan kami yang lain datang dan membereskan sisanya. Seharusnya aku memang mendengarkan Don. Dia tidak naik kelas satu kali karena terlalu sibuk membantu ibunya berdagang sayur tapi dia paling bijak diantara kami. Dia memakai otaknya. Dia tau orang seperti Rei tak perlu dilayani.

    “Rok*k?” Don menawarkan sebatang. Aku menggeleng. Kakak lelakiku berkata: kau boleh berteman dengan Don tapi jangan dengan kebiasaan buruknya. Aku selalu patuh dengan kakakku. Dia di universitas, pintar dan dewasa. Tak ada alasan untuk membantahnya. Lagipula aku tak ingin menjadi perok*k. Aku tak mengatakan perok*k orang yang buruk. Aku hanya memilih untuk tidak melakukannya.
    “Bagaimana keadaannya?” Don bergegas menghampiri suster yang keluar dari ruang rawat Ares. Suster mengatakan keadaan Ares tak terlalu parah. Dia hanya harus cukup istirahat.
    “Makasih Sus,” Kami berjalan ke luar dan menyusuri trotoar.
    “Siapa yang bakal mengabarkan orangtuanya?”
    “Kau saja,” ujarku. Gemetar.
    Don menghela napas. Dia selalu begitu. Mengalah karena aku paling muda diantara semuanya. Walau aku sudah kelas dua sma umurku masih lima belas tahun karena loncat kelas. Jangan salahkan aku. Aku diberi kelebihan pada otakku. Bahkan kak bil terkadang iri.

    “Aku kasihan pada Ares” Don membuka pembicaraan saat kami berada dalam bus menuju rumah. “ibunya mengerikan, aku ketakutan setiap lewat rumahnya, dia sering memukul Ares seperti Ares anak yang tidak diinginkan”
    Aku mengangguk. Ares yang malang.
    “Dan ayahnya…,” Don melanjutkan. “Aku tak bisa sebutkan lelaki yang lebih buruk darinya, dia mabuk mabukan dan memaksa anaknya sendiri merok*k”
    “Tapi kau sendiri merok*k”. Tentu itu hanya di pikiranku. Seseorang harus membawakan Don cermin atau menyadarkannya.

    Bus sampai di depan rumahku. Aku melambai pada Don. Dia menyeringai. Bus kembali melaju.

    “Aku pulang!”
    “Arka! Apa yang terjadi?”
    “Ceritanya panjang,” kuselonjorkan kakiku di sofa. Gila. Rasa sakit di rahangku mulai terasa. Kak Bil cepat cepat membawakan es.
    “Kak, jika orangtua buruk apa anaknya juga akan buruk?”
    Kak bil berpikir. “Tidak selalu, terkadang dalam diri seseorang ada jiwa baik yang begitu kuatnya sampai tak ada apapun yang mampu mengusik”
    Kakakku memang bijak. Aku harus mencontohnya.
    Setelah Kak Bil pergi ke luar rumah aku mulai berpikir. Jadi jiwa baik dalam diri Rei lemah. Sebaliknya Ares, walau dia tengil tapi aku tahu dia anak yang baik. Dia melakukan apa saja untuk temannya. Mungkin alasannya tak ada yang berbuat baik padanya di rumah. Satu-satunya keluarga yang disayanginya adalah adik perempuannya. Gadis itu masih kelas tiga SD dan sering mengekori Ares.

    Sore harinya, Don meneleponku kalau dia akan melewatkan acara nongkrong kita malam ini. Dia ada janji dengan pacarnya. Jadi aku hanya tinggal berdua di rumah dengan kak bill. Kak bil sibuk lagi pula. Jadi aku menelepon Ares apa dia mau main game denganku malamnya walau tak nongkrong di luar.

    “Kau sudah pulang?”
    “Ya…”
    “Kau baik?”
    “Ya, lukaku sedikit gatal, tapi yeah aku baik, ada apa?”
    Kukatakan padanya rencanaku.

    “Maaf kawan, aku harus mengajari adikku,” Ares benar benar kakak yang baik. Jika aku punya adik perempuan aku membiarkannya main boneka daripada duduk berjam-jam mengajarinya rumus matematika.
    “Kau akan mengerti kalau punya adik,” Ares berkata. “Dia tanggung jawabku”
    Ok, aku kurang memahami tapi mungkin saja dia benar.
    “Aku tunggu kau, astaga aku bosan sekali,” ayahku sedang dinas di luar kota. Aku benar benar kesepian.
    “Oke, tunggu ya”

    Hampir tengah malam, Ares benar benar datang. “Kau menginap saja”
    “Memang itu rencanaku”
    Setelah main game beberapa lama, kami menghabiskan malam dengan tertawa tawa dan meratapi masa depan. Terutama Ares. Dia khawatir dengan adiknya karena sepertinya orangtuanya tak ada yang peduli pada mereka.
    “Rasanya lelah sekali?, kau tau punya orangtua yang eh… ”
    “Entahlah Arka, kadang aku takut jika aku harus melakukan segala sesuatunya sendiri… kadang aku ingin kabur dari semua ini…”
    Kurasa aku tau perasaannya. Jika aku jadi dia mungkin aku tak akan sekuat itu.
    “Tapi kau masih punya ibu,” Aku berkata sambil merenung, “Aku harus ke makam seminggu sekali untuk bertemu ibuku”
    “Maaf kawan, kau pasti merindukannya,” dia menepuk bahuku. Tiba tiba saja pandanganku kabur. Tapi aku bisa menahannya.
    “Kalian mau pesan makanan? Aku traktir!” Kak Bil menyembulkan kepalanya dari kamar.
    “Yeah!” kami berdua tak menyia-nyiakan kesempatan itu.

    Selanjutnya, setelah perut kami penuh, aku dan Ares memutuskan untuk berbaring sebentar di taman. Setiap aku melihat bintang aku merasa dipenuhi harapan. Kak Bil mengejekku dengan berkata aku terlalu melankolis dan sebaiknya ambil jurusan sastra saja nanti. Tapi Ares berbeda. Dia menganggapku berhati halus dan perasa. Dia berkata aku orang yang peduli dengan orang lain.
    “Makannya kamu membantu cewek-cewek itu. Arka, jangan pernah berubah”
    Aku mengangguk.
    “Apa yang dikatakan orangtuamu tentang kondisimu?”
    “Ibu berkata jauhi masalah, beliau berkata aku merepotkannya” Ares memperlihatkan senyum getir. “Dia bahkan tak bertanya apa aku baik-baik saja”
    “Aku tak percaya itu,” aku berkata lebih ditujukan pada ibu Ares. “Dia pasti punya hati, tidak ada ibu yang tak sayang pada anaknya, ibuku menyayangiku, kau tahu…, sebelum beliau meninggal”
    “Tapi itulah keadannya arka”
    Kami segera menghentikan percakapan ini karena kami terdengar seperi cewek. Laki laki harus kuat. Kami tidak duduk dan mengeluhkan kasih sayang orangtua yang kurang. Kami seharusnya bermain game dan bersenda gurau.
    “Tak apa Arka” dia membaca pikiranku. Dipukulnya pundakku. “teman selamanya eh?”
    “Teman selamanya” kubalas senyum Ares.



    “Dia benar benar cantik Ben!” aku tersenyum lebar pada Ares.
    “Hah? Siapa?”
    “Citra! Aku bicara tentang citra! gadis itu…” aku berdecak kagum.
    “Yeah…, dia hot juga…” Ares memandang gadis incaranku dengan pandangan berbahaya.
    “Hei, tunggu dulu! Dia milikku oke? Terima itu!”
    “Hahaha…, oke kawan, aku hanya menggodamu” Ares menggelengkan kepalanya.
    “Kau seharusnya mencari incaran juga Ben…, kita bisa double date…” aku terkekeh.
    “Hei, yang benar saja…, cewek cewek itu mana mau denganku”
    Aku tertawa. Ares memang terlalu sering mengganggu mereka.
    “Anak SD libur sekarang…”
    Aku mengangguk. Ares pasti berpikir tentang adiknya.
    “Hei!” Don berteriak dan menghampiri kami.
    “Ada apa Don?” aku menyahutnya. Don menghampiri Ares.
    “Adikmu kecelakaan!”
    Wajah Ares memucat. Kita bertiga tahu siapa yang dimaksud Don. Ares berhambur ke luar gerbang sekolah mengikuti Don. Aku berlari tepat di belakangnya. Tak jauh dari tempat kami berdiri terlihat kerumunan.
    “Sania!”



    “Dia mencoba untuk bertemu denganmu, aku melihatnya hendak menyeberang” Don berdiri bersandar di ruang tunggu ICU. Dia terlihat sungguh bersalah. “Maafkan aku Ben”
    Ares tak mengatakan apapun. Pandangannya kosong. Lalu dia tersenyum. Si baik dan si setia kawan Ben tersenyum. “Bukan salahmu, jangan berkata begitu”. Tapi aku tahu wajahnya terlihat terluka. Dia pasti terpukul sekali. Adiknya yang paling ia sayangi… satu satunya keluarga yang menyayanginya di rumah. Penghiburnya…
    Dokter bertanya siapa keluarga dari Sania. Ares bergegas menuju dokter itu. Mereka bercakap-cakap beberapa saat. Setelahnya, Ares terlihat murung. Dia berjalan perlahan menuju ke sampingku.
    “Dia harus segera dioperasi…” Ares terlihat berpikir keras. “dari mana aku dapat uangnya? Sementara ini mereka menundanya… adikku hanya bisa bertahan enam bulan sampai aku memutuskan sanggup membayar”
    “Sebaiknya kau hubungi orangtuamu Ben, mereka tau yang terbaik”
    Don seharusnya tak perlu mengatakan hal itu. Ayah Ares tampak menyeruak di antara suster suster yang menenangkannya.
    “Dokter busuk!” telingaku memerah atas sederetan sumpah serapah yang keluar selanjutnya. Kita semua tau dia sedang mabuk. Mana ibu Ares?
    “Ares…”
    Ares menoleh. Ibunya tampak babak belur. Sepertinya Sania hendak melaporkan pada Ares bahwa orangtua mereka bertengkar hebat. Makannya dia tak fokus saat hendak menyeberang. Dugaanku benar. Ares menjelaskannya padaku setelah sang ibu memberitahunya.
    “Lelaki…” sumpah serapah keluar dari mulut ibu Ares. aku penasaran darimana Ares dan sania masih bisa menjaga sikap mereka.
    “Aku akan cari uangnya bagimanapun juga,” tangan Ares terkepal. Rahangnya mengeras. Aku tak tahu, tapi rasanya ini pertama kalinya aku melihat Ares benar benar bertekad dengan raut menakutkan.
    “Kau punya uang?”
    “Aku bisa meminta ayahku, tapi…”
    “Tak apa, aku tak berniat menginginkan ayahmu melunasi biaya operasi, kalian juga dalam posisi sulit”
    Aku menunduk malu. Ternyata Ares tau kami juga kesulitan uang. Kami berusaha keras membiayai kuliah Kak Bil. Kak Bil bahkan kerja paruh waktu. Tapi tentu saja tak cukup sehingga ayah sampai mau menerima saat ditugaskan ke luar kota.
    “Ares, aku akan bantu kau” Don berkata.
    “Makasih kawan”
    Ares mengatakan ia ingin meminjam uang dariku untuk modal kerjanya. Dia akan berjualan tiket bola. Calo. Dia pernah mendengar ada orang yang rela membayar tinggi untuk pekerjaan ini.
    “Oke, aku bisa membantumu”



    “Dia pasti sangat kesulitan” Kak Bil terlihat syok saat kuceritakan kemalangan yang menimpa Ares. Kak Bil tau nilai uang. Sedang aku tidak. Tentu karena dia telah merasakan bagaimana seseorang bekerja. Walau hanya paruh waktu.
    “Aku akan membantunya,” Kak Bil memutuskan. “Aku jual sepeda kayuhku”
    Kak Bil yang berhati malaikat. Dia menabung berbulan bulan untuk mendapatkan sepeda federal itu.
    “Kak mengapa tuhan memberi cobaan begitu berat pada Ares?”
    “Itu karena dia kuat”
    “Tapi orang bisa tak tahan jika selalu dirundung masalah”
    “Tenang saja, Ares sekuat baja, aku yakin ia bisa mengatasinya”
    Ares jarang terlihat semenjak kecelakaan yang menimpa Sania. Dia sibuk bekerja. Bahkan tak jarang dia tak masuk sekolah karena tuntutan pekerjaan-pekerjaannya. Ares bekerja apa saja asal menghasilkan uang selama waku enam bulan ini. Aku kasihan padanya. Kadang sepulang sekolah aku membantunya. Dia tambah kurus dari hari ke hari. Tapi wajahnya makin cerah karena yakin adiknya akan selamat.
    “Kau mau membantunya lagi?” Don bertanya padaku sepulang nongkrong malam. Aku mengiyakannya. Malam ini Ares bekerja sebagai buruh konstruksi. Ada pembangunan mall besar di dekat rumah kami. Ares segera melamar dan di terima. Mungkin dia setengah memaksa mereka, melihat badannya yang lumayan kecil.
    “Kau ikut?”
    “Maaf kali ini aku tak bisa”
    Aku mengangguk mengerti. Don juga bekerja membantu ibunya.

    Kami berpisah di perempatan. Aku segera memanggil Ares yang telah menungguku.
    “Aku benar benar tak tau apa yang harus kulakukan”
    “Pindahkan saja batu batu bata ini ke sana, aku menyelesaikan sisanya”
    Aku mulai bekerja. Pekerjaan kasar ini tidak biasa untukku.
    “Kau merusak tangan pelajarmu eh?” Ares tertawa. Aku ikut tertawa, tanganku memang hanya dibuat untuk memegang pensil dan buku selama ini.
    “Bagaimana adikmu?”
    “Sementara ini dia masih bisa kubiayai dengan uang yang kumiliki, tapi aku butuh lebih banyak lagi, beberapa tetangga juga ikut menyumbang”
    “Dan orangtuamu?”
    Ares terdiam. Aku merasa tak enak.
    “Ayah tak mau bertanggung jawab”
    “bagaimana bisa??” aku merasa kaget.
    “Dia menikah lagi,” aku terbelalak. Masalahnya tak seringan yang kuduga.
    “Ibumu pasti dalam posisi sulit”. Aku merasa simpati padanya. Dia teman baikku.

    Besoknya aku kembali tidak melihat Ares di sekolah. Aku khawatir nilai raportnya merah semua. Guru guru mulai mempertanyakannya. Aku jelaskan situasinya pada mereka. Akhirnya guru-guru itu tak bisa berbuat apa-apa.
    Yang kutahu, Ares tipe orang ambisius. Saat bermain bola dia main sampai kakinya berdarah. Saat belajar bermain gitar dengan Kak Bil dia bermain sampai jarinya melepuh. Aku takut apa yang akan dilakukannya kali ini. Itu memang dirinya.
    Aku masih membantu Ares di siang hari jika tak ada les. Ujian sebentar lagi. Kak Bil menyarankanku untuk mengikuti belajar tambahan. Aku menurut saja. Dia yang berhasil masuk universitas ternama.

    Aku masih memikirkan Citra. Kau tau aku sudah naksir dia sejak pertama masuk SMA. Tapi dia hanya menganggapku angin lalu. Sampai suatu hari…
    “Aku tau lagu itu…” suara paling mendayu yang pernah kudengar menyahutku. Aku terkejut. Dia mendengarku beraresndung. Aku makin terkejut saat dia mulai menyelesaikan bait lagunya. Dia punya suara yang indah.
    “Aku tak tau kau kenal lagu ini” tak banyak yang tau lagu indie yang baru saja kunyanyikan.
    Citra tersenyum. “Citra!” diulurkan tangannya. Aku menyeringai. Ini bisa jadi awal yang baik.
    Aku baru tau Citra dan aku punya selera musik yang sama. Kenyataannya, kami punya banyak kesamaan. Dia suka memakan sayurnya pada saat terakhir. Dia menaruh bukunya berdasarkan abjad. Aku menyayangkan mengapa aku tak memberanikan diri berkenalan dengannya sejak lama. Dia gadis yang menyenangkan.

    “Selamat” Ares menyeringai mengetahui aku dapat pacar baru. Ya, akhirnya Citra mau kencan denganku. Kami sudah jalan dua minggu.
    “Bagaimana adikmu?”
    “Dia masih koma, aku…” Ares tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

    Semakin sering aku menghabiskan waktuku bersama Citra semakin jarang aku membantu Ares dengan pekerjaannya. Aku merasa bersalah. Seakan melupakan sahabatku sendiri. Tapi citra butuh waktuku. Aku tak bisa mengabaikannya begitu saja.
    Ares tahu aku sibuk. Jadi, dia membiarkannya. Tapi sesuatu menggangguku. Dia jadi dekat dengan Rei. Mereka sepertinya melupakan perkelahian itu.
    “Dia tak cocok denganmu, dia nakal”
    “Apa kamu buta? Aku juga”
    Tapi Rei cenderung berbahaya. Aku rasa Ares menyembunyikan sesuatu.
    “Katakan padaku”
    “Apa?”
    “Alasan kamu main sama Rei akhir akhir ini”
    “Tak ada, dia drumer yang keren”
    Aku mencoba mempercayainya. Tapi Ares berubah. Dia tak sama seperti dulu. Dia berbicara lambat dengan nada monoton.
    “Ares, rei melakukan sesuatu padamu ya? Apa dia mengancammu? Memperalatmu? Kau terlihat sedikit aneh akhir akhir ini”
    Ares menunduk. Kulihat matanya melebar lalu dia berkata. “aku tak bisa keluar dari lingkaran ini”
    “Apa maksudmu?” aku tau sesuatu yang tak beres terjadi pada Ares. dia butuh bantuanku. Aku sahabatnya. Kalau saja dia masih menganggapku. Dia bertingkah seperti tak butuh pertolonganku.
    “Arka, aku takut…”
    Mataku melebar. Aku tak pernah melihat Ares seperti ini. Sesuatu yang buruk terjadi padanya. Dia seperti…
    “Rei memberiku sedikit…, aku tak tau jika itu mempengaruhiku…”
    “Memberimu apa?”
    “Sabu”.
    Aku terkejut. “Ares kau tak serius kan?”
    “Aku menyesal!”
    “Kenapa kau melakukannya?”
    Mulut Ares bergetar. “dia bilang harganya mahal… aku akan untung… dia mau menolongku…, aku juga ditawarinya…”
    “Oh, sialan Ares! lihat apa yang dia lakukan padamu!”

    Sania berhasil ares operasi. Ares yang membiayainya. Hanya aku dan Kak Bil yang tau darimana Ares mendapatkan uang itu. Tapi Ares kecanduan. Dia harus menjual lebih banyak untuk memuaskan nafsunya. Baru saja aku melihat temanku yang begitu baik. Sekarang dia rusak. Aku bertanya tanya apa orangtuanya tau soal ini. Ayahnya pasti tak peduli. Tapi seorang ibu, pasti ia memikirkan anaknya walau sedikit.

    Ares tidak pantas mengalami takdir seperti ini. Teman baikku sudah hilang, yang ada Ares pecandu narkotika. Semenjak itu, semakin hari aku semakin jarang bertemu dengannya. Kami hanya sesekali berkata “hai” di koridor. Hingga lulus pun aku sudah tak lagi bermain dengannya. Aku ingat Ares pernah berkata kami adalah teman selamanya. Dia benar. Sosoknya akan selalu kukenang. Ares, semoga tuhan membimbingmu kembali ke jalan yang benar.

    Cerpen Karangan: Nadia Amalia
    Facebook: nadiaunyu[-at-]gmail.com

    Artikel Terkait

    Ares Kuat Kan?
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email